Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH FARMAKOLOGI TOKSIOLOGI

ANALGESIK DAN ANTIPIRETIK

DISUSUN OLEH :
FARMASI E
KELOMPOK I

1. MAGFIRANI FAROH FAUZIA ( G 701 15 192)


2. RISKY DERMAWATI (G 701 15 010)
3. NURAFIANI (G 701 15 137)
4. ADLIAN ANGGARINI ( G 701 15 147)
5. MARDY REZHA M.TAEPO ( G 701 15 117)

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya yang memberi kesempatan kepada penyusun makalah ini, sehingga dapat
tersusun dengan baik sesuai dengan yang diharapkan nantinya.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui tentang analgesic dan
antipiretik. Makalah ini tersusun masih banyak kekurangan dari segi manapun, oleh
sebab itu penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan
teman-teman yang memberi sumber materi penyusun juga mengucapkan terima kasih
kepada dosen-dosen pengajar yang telah banyak memberi kesempatan dalam
penyelesaian makalah ini.
Demikianlah penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua yang ikut
berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat bagi
kita semua. Amiin.....

Penyusun

Kelompok I
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang ....
I.2 Rumusan Masalah
I.3 Tujuan..
BAB II PEMBAHASAN
II.1 Definisi analgesik ..
II.2 Penggolongan alangesik
II.3 Definisi antipiretik
BAB III PENUTUP
III.1 Kesimpulan .................................................................................................
III.2 Saran ............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Obat merupakan bahan kimia yang memungkinkan terjadinya interaksi


bila tercampur dengan bahan kimia lain baik yang berupa makanan, minuman
ataupun obat-obatan. Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat
pemakaian obat dengan bahan-bahan lain tersebut termasuk obat tradisional
dansenyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika duaatau
lebih obat sekaligus dalam satu periode (polifarmasi ) digunakanbersama-sama.
Interaksi obat berarti saling pengaruh antarobat sehingga terjadi perubahan efek.
Di dalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses hingga akhirnya obat di
keluarkan lagi dari tubuh. Proses-proses tersebut meliputi, absorpsi, distribusi,
metabolisme (biotransformasi), dan eliminasi. Dalam proses tersebut, bila
berbagai macam obat diberikan secara bersamaan dapat menimbulkan suatu
interaksi(widodo, 2001).
Obat-obat analgesik antipiretik serta obat anti-infla
masi nonsteroid (AINS) merupakan suatu kelompok obat yang heterogen,
bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia. Walaupun demikian obat-obat
ini ternyata memeliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek
samping. Protip obat gologan ini adalah aspirin, karena itu obat golongan ini
sering disebut juga sebagai obat mirip aspirin Sifat dasar obat antiinflamasi non-
steroid. Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi
asam arakidonat menjadfi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat
siklooksigenase dengan cara yang berbeda

I.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang di maksud dengan anlgesik?
2. Apa saja penggolongan analgesic?
3. Apa yang di maksud dengan antipiretik?

I.3 Tujuan Masalah


1. Bagaimana definisi anlgesik
2. Bagaimana penggolongan analgesic
3. Bagaiman antipiretik

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 ANALGESIK DAN ANTIPIRETIK
II.1.1 Definisi Analgesik
Definisi Obat analgetik adalah obat penghilang nyeri yang banyak digunakan
untuk mengatasi sakit kepala,demam, dan nyeri ringan tanpa menghilangkan
kesadaran(sarjono, 1995). Sedangan kan Nyeri merupakan suatu pengalaman
sensorik dan motorik yang tidak menyenangkan, berhubungan dengan adanya
potensi kerusakan jaringan atau kondisi yang menggambarkan kerusakan
tersebut . Rasa nyeri disebabkan rangsang mekanis atau kimiawi, kalor atau
listrik, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yang
disebut mediator nyeri (pengantara). Zat ini merangsang reseptor nyeri yang
letaknya pada ujung syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari
tempat ini rangang dialaihkan melalui syaraf sensoris ke susunan syaraf pusat
(SSP), melalui sumsum tulang belakang ke talamus (optikus) kemudian ke pusat
nyeri dalam otak besar, dimana rangsang terasa sebagai nyeri (latief, 2001).

II.1.2 penggolongan analgesik


a. Analgesik Non Narkotik
Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja
sentral. Obat- obat inidinamakan juga analgetika perifer, karena tidak
mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau
mengakibatkan ketagihan. Semua analgetika perifer juga memiliki kerja
antipiretik, yaitu menurunkan suhu badan pada keadaan demam, maka disebut
juga analgetik antipiretik. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap
pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer
(di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya
banyak keringat.
Efek analgetik timbul karena mempengaruhi baik hipotalamus atau di
tempat cedera. Respon terhadap cedera umumnya berupa inflamasi, udem,
serta pelepasan zat aktif seperti brandikinin, PG, dan histamine. PG dan
brankinin menstimulasi ujung staraf perifer dengan membawa implus nyeri ke
SSP. AINS dapat menghambat sintesis PG dan brankinin sehingga
menghambat terjadinya perangsangan reseptor nyeri. Obat-obat yang banyak
digunakan sebagai analgetik dan antipiretik adalah golongan salisilat dan
asetaminofen (parasetamol). Aspirin adalah penghambat sintesis PG paling
efektif dari golongan salisilat
Salisilat
Contoh obat :
1. Aspirin
Komposisi : tablet aspirin mengandung 0,5 gram asam asetilsalisilat.
Indikasi : untuk meringankan rasa sakit terutama sakit kepala dan
pusing, sakit gigi, dan nyeri otot serta menurunkan demam.

Dosis : dewasa : 1 tablet, 3 x sehari, anak 5 tahun keatas 3x sehari

Mekanisme : menghambat pengaruh an biosintesa dari pada zat-zat yang


menimbulkan rasa nyeri dan demam (prostaglandin). Daya
kerja analgesik aspirin diperkuat oleh pengaruh langsung
terhadap susunan saraf pusat , jangan digunakan untuk
penderita cacar air dan gejala flu dan penderita hipersensitif

Efek samping : gangguan lambung-usus , kerusakan darah , kerusakan hati


dan ginjal dan juuga reaksi-reaksi alergi kulit.

Para-aminofenol

contoh obat

1. Acethaminophen (paracetamol)

Komposisi :.

Indikasi : untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, sakit
waktu haid dan sakit pada otot menurunkan demam pada
influenza
Dosis : Untuk anak dibawah 1 tahun: 60 120 mg, tiap 4 6 jam.
Untuk anak usia 1 5 : 1 2 sdk teh atau 120 250 mg, tiap 4-
6jam.
Untuk anak usia 6 12 thn: 2 4 sdk teh atau 250 500mg,tiap 4
6 jam.

Untuk anak usia diatas 12 tahun: Sampai 1 g tiap 4 jam.

Mekanisme : menghambat sintesis prostaglandin di pusat otak (hipotalamus),tetap

tidak di perifer (jaringan),mampu meringankan/ menghilangkan rasa


nyeri tanpa mempengaruhi susunan syaraf pusat dan tidak
menimbulk ketagihan

Efek samping : mual. Jika alergi terhadap obat ini juga dapat mengakibatkan sakit
tenggorokan, bintik-bintik di mulut dan bibir, ruam pada kulit atau
gatal-gatal. munculnya gejala penyakit hati seperti infeksi perut
sehingga mengakibatkan urin dan tinja berdarah.

b. Analgesik opioid / analgesik narkotika


Merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium
atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau
menghilangkan rasa nyeri. Tetap semua analgesik opioid menimbulkan
adiksi/ketergantungan, maka usaha untuk mendapatkan suatu analgesik yang
ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama
kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.
Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti fraktur
dan kanker. Nyeri pada kanker umumnya diobati menurut suatu skema
bertingkat empat, yaitu : obat perifer (non Opioid) peroral atau rectal;
parasetamol, asetosal, obat perifer bersama kodein atau tramadol, obat sentral
(Opioid) peroral atau rectal, obat Opioid parenteral. Guna memperkuat
analgetik dapat dikombinasikan dengan co-analgetikum, seperti psikofarmaka
(amitriptilin, levopromazin atau prednisone). Zat-zat ini memiliki daya
menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja yang terletak di
Sistem Saraf Pusat. Dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi)
serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala
abstinensia bila pengobatan dihentikan.
Semua analgetik narkotik dapat mengurangi nyeri yang hebat, teteapi
potensi. Onzer, dan efek samping yang paling sering adalah mual, muntah,
konstipasi, dan mengantuk. Dosis yang besar dapat menyebabkan hipotansi
serta depresi pernafasan. contoh analgetik narkotik yang samapi sekarang
masih digunakan di Indonesia :
- Morfin HCL,
- Kodein (tunggal atau kombinasi dengan parasetamol),
- Fentanil HCL,
- Petinidin, dan
- Tramadol.

II.1.3 Definisi Antipiretik


Antipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi.
Jadi analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak
menurunkan suhu tubuh yang tinggi(sarjono,1995). Pada umumnya demam
adalah suatu gejala dan bukan merupakan suatu penyakit tersendiri. Oleh
sebab itu pembahasan antipiretik secara khusus jarang ada, pada umumnya
pembahasannya antipiretik ada pada pembahasan obat anti nyeri (analgetika).
Sebagai antipiretik, obat mirip aspirin akan menurunkan suhu badan
hanya dalam keadaan demam. Walaupun keadaan obat ini memperlihatkan
efek antipiretik in vitro, tidak semua berguna sebagai antipeiertik karena
bersifat toksik bila digunakan secara rutin atau terlalu lama. Ini berkaitan
dengan hipotesis bahwa COX yang ada disentral otak terutama COX-3
dimana hanya parasetamol dan obat AINS lainnya dapat menghambat.
Fenilbutazon dan antiruematik lainnya tidak dibenarkan untukdigunakan
sebagai antipiretik atas alasan tersebut (katzung,2002).
Bekerja dengan cara menghambat produksi prostaglandin di
hipotalamus anterior (yang meningkat sebagai respon adanya pirogen
endogen). Contoh obat antipiretik : parasetamol, panadol, paracetol,paraco,
praxion, primadol, santol, zacoldin, poldan mig, acetaminophen, asetosal atau
asam salisilat,salisilamida.

Ibuprofen
Komposisi : tiap tablet mengandung ibuprofen 200mg
Indikasi :meredakan demam, mengurani rasa neyri pada sakit
kepala, sakit gigi, nyeri otot, nyeri setelah operasi pada
gigi dan dimenore
Dosis : Dewasa : 200-400mg, 3-4x sehari
Mekanisme : Bekerja melalui [enghambatan enzim siklooksigenase
pada biosintesis prostaglandin sehingga konversi asam
arakidonat menjadi PG-G2 tergang
Efek Samping : efek ringan dan bersifat sementara berupa mual,
muntah, diare, konstipasi, nyeri lambung, ruam kulit,
pruritus, sakit kepala, pusing dan heart burn
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
1. Analgesik adalah obat yang mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri
tanpa
menghilangkan kesadaran.
2. Antipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Jadi
analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak
menurunkan suhu tubuh yang tinggi.
3. Umumnya cara kerja analgetik-antipiretik adalah dengan menghambat
sintesa
neurotransmitter tertentu yang dapat menimbulkan rasa nyeri & demam.
Dengan blokade sintesa neurotransmitter tersebut, maka otak tidak lagi
mendapatkan "sinyal" nyeri,sehingga rasa nyerinya berangsur-angsur
menghilang.
4. Macam-macam analgesik ada 2 macam, yaitu: Analgesik Narkotik dan
Analgesik Non-Narkotik. Analgesik Narkotik merupakan turunan poium yang
berasal dari tumbuhan Papaver somniferum atau dari senyawa sintetik.
Sedangkan Analgesik Non-Narkotik tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja
sentral. Obat- obat ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak
mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau
mengakibatkan ketagihan.

III. 2 Saran
Dengan selesainya makalah ini diharapkan agar pembaca dapat
mengambil manfaat dan pengetahuan dari makalah ini mengenai analgesic dan
antipiretik. Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih
lengkap tentanganalgesik dan antipiretik, pembaca dapat membaca dan
mempelajari buku buku yang berhubungan dengan analgesic dan antipiretik
DAFTAR PUSTAKA

Latief. S. A, Suryadi K. A, dan Dachlan M. R,2001, Petunjuk Praktis Anestesiologi,


FK-UI, Jakarta.
Sardjono, Santoso dan Hadi rosmiati D, 1995, Farmakologi dan Terapi, bagian
farmakologi FK-UI, Jakarta..
Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik buku 2. Jakarta : Salemba
Medika.
Widodo, Samekto dan Abdul Gofir . 2001. Farmakoterapi dalam Neurologi . Jakarta
Salemba Medika