Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Kebudayaan Islam

Disusun oleh :
Kelompok 11 :
1. SYAFRI
2. UMAIRAH
3. WULANDA TRI EMILYA
4. YENNI NOFITA SARI
5. YUNITA SYAFITRI

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana telah
memberikan kami semua kekuatan serta kelancaran dalam menyelesaikan
makalah mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berjudul Sistem
Kebudayaan Islam dapat selesai seperti waktu yang telah penulis rencanakan.
Tersusunnya makalah ini tentunya tidak lepas dari peran serta berbagai
pihak yang telah memberikan bantuan secara materil dan spiritual, baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu dosen pengasuh mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI).
2. Teman-teman yang telah membantu dan memberikan dorongan
semangat agar makalah ini dapat kelompok kami selesaikan.

Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang membalas budi baik
yang tulus dan ikhlas kepada semua pihak yang penulis sebutkan di atas.
Tak ada gading yang tak retak, untuk itu penulispun menyadari bahwa
makalah yang telah penulis susun dan kami kemas masih memiliki banyak
kelemahan serta kekurangan-kekurangan baik dari segi teknis maupun non-
teknis. Untuk itu penulis membuka pintu yang selebar-lebarnya kepada semua
pihak agar dapat memberikan saran dan kritik yang membangun demi
penyempurnaan penulisan-penulisan mendatang. Dan apabila di dalam makalah
ini terdapat hal-hal yang dianggap tidak berkenan di hati pembaca mohon
dimaafkan.

Padang, 06 Maret 2016

Kelompok 11

BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Dan mengenai asal kebudayaan dalam Sejarah Islam, para ahli juga
berbeda pendapat, ada beranggapan bahwa Kebudayaan Arab adalah
Kebudayaan Islam, ada pula yang berkeyakinan bahwa Kebudayaan
Islam adalah semua kebudayaan yang berasal dari umat Islam.
Bahkan ada pula yang membedakannya dengan kebudayaan islami.
Pada umumnya, orang banyak yang beranggapan bahwa Kebudayaan
Islam adalah Kebudayaan Arab, dan Kebudayaan Arab identik dengan
Kebudayaan Islam. Padahal ada titik beda dan titik sama antara
keduanya. Demikian juga halnya dengan Kebudayaan Islam, dan
kebudayaan islami. Antara kedua keduanya ada unsur persamaan, dan
ada pula perbedaannya.
Dalam perspektif sejarah, ketiga jenis kebudayaan tersebut
memang berasal dari jazirah Arab, namun teritorial yang sama, bukan
berarti pasti melahirkan sesuatu yang homogen. Dari ketiganya ada
aspek yang bisa kita pilih dan pilah. Dan selanjutnya menjadi
pedoman dalam perilaku kehidupan harian.
Dan dengan segala kerendahan hati, penulis mencoba
menyampaikan tulisan sederhana ini dengan tujuan untuk
memberikan sedikit penyegaran pemahaman tentang kebudayaan
Arab, Islam, dan Islami. Untuk lebih jelasnya, sebaiknya kita
membahas masalah kebudayaan mulai dari pengertiannya baik
denotatif maupun konotatif.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam makalah ini kami mengambil beberapa permasalahan, antara
lain :
1. Bagaimana Konsep Kebudayaan dalam Islam?
2. Apa Prinsip prinsip kebudayaan dalam islam?
3. Apa Perbedaan kebudayaan islam dan kebudayaaan non islam?
4. Bagaimana budaya ilmiah dan budaya kerja dalam islam?

BAB II
PEMBAHASAN
SISTEM KEBUDAYAAN ISLAM

2.1 Konsep kebudayaan dalam islam


2.1.1 Pengertian kebudayaan
Dari segi etimologis, kata kebudayaan adalah kata dalam bahasa
Indonesia yang berasal dari bahasa Sansekerta buddhi yang berarti intelek
(pengertian). Kata buddhi berubah menjadi budaya yang berarti yang diketahui
atau akal pikiran. Budaya berarti pula pikiran, akal budi, kebudayaan, yang
mengenai kebudayaan yang sudah berkembang, beradab, maju. Istilah culture
sama artinya dengan kebudayaan, berasal dari bahasa latin colore yang diartikan
sebagai daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, budaya berarti pikiran, atau akal budi,
sedangkan kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi)
manusia, seperti kepercayaan, kesenian, adat, dan lain-lain.
Realitas (kenyataan) apapun di alam semesta, termasuk realitas sosial,
cara beragama maupun kebudayaan senantiasa berubah. Dalam hal ini
Rasulullah bersabda:
...
(Zaman itu senantiasa berubah seperti keadaan ketika Allah mencipta
langit-langit dan bumi....HR. Bukhori dari abi Mukroh)
Keberubahan kebudayaan itu pada hakikatnya, adalah keberubahan ide,
pikiran, dan gagasan manusia dalam eksisitensinya hendak melestarikan,
memperbaiki, dan menggantinya berbagai produk agar manusia dapat
menyempurnakan diri dalam kehidupanya yang senantiasa tidak lepas dari
perubahan.
Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang
kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat
seseorang sebagai bagian dari anggota masyarakat.
Kata kebudayaan sebagai padanan culture dalam bahasa Inggris tidak
pernah akan ditemukan dalam bahasa Arab. Padanan kebudayaan dalam bahasa
Arab adalah as-Saqafah atau al-hadarah . Kedua kata ini tidak ditemukan dalam
Al-Quran. Al-Quran lebih mementingkan amal dari pada gagasan , atau
terminal terakhir agama adalah amal - yaitu kesatuan antara gagasan dan
perbuatan . dalam pengertian demikian amal identik dengan kebudayaan dalam
arti proses. Pendek kata, berawal dari gagasan hingga berakhirnya yaitu
perbuatan.
2.1.2 Bentuk/wujud kebudayaan
Bentuk / wujud kebudayaan menurut J.J. Hoenigman, ada tiga macam,
yaitu:
1. Gagasan/ide
Gagasan atau ide merupakan wujud kebudayaan yang berbentuk
kumpulan proses, atau hasil pikiran berupa ide, gagasan, nilai, norma, peraturan,
dan sebagainya yang sifatnya abstrak misalnya pemikiran di bidang ilmu
sejarah, filsafat, matematika, fisika, kedokteran, dan lain-lain.
2. Aktivitas (Tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan berupa suatu perbuatan seseorang,
atau komunitas. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem
sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi,
mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola
tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Misalnya, acara lamaran, dan
perayaan pesta perkawinan.
3. Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil atau cipta dari
aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-
benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya
konkret. Misalnya, rumah tinggal, tempat beribadah, dan lain-lain.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan
yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai
contoh: wujud kebudayaan ide mengatur dan memberi arah kepada tindakan
(aktivitas) untuk menghasilkan karya (artefak).

Berdasarkan wujudnya tersebut, menurut para ahli, budaya memiliki dua


sifat yaitu:
1. Kebudayaan material
Kebudayaan material adalah semua ciptaan masyarakat yang nyata, dan
konkret. Misalnya, televisi, stadion olahraga, dan lain-lain.
2. Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan
dari generasi ke generasi, misalnya, cerita rakyat, lagu, dan lain-lain.
2.2 Prinsip prinsip kebudayaan islam
Islam, datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju
kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah
datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan
tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini
jauh dan terhindar dari hal-hal yang yang tidak bermanfaat dan membawa
madlarat di dalam kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan
membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan
yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.
Prinsip semacam ini, sebenarnya telah menjiwai isi Undang-undang
Dasar Negara Indonesia, pasal 32, walaupun secara praktik dan perinciannya
terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat menyolok. Dalam penjelasan UUD
pasal 32, disebutkan : Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan
adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari
kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya
kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa
Idonesia .
Dari situ, Islam telah membagi budaya menjadi tiga macam :
1. Pertama : Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam. seperti ; kadar
besar kecilnya mahar dalam pernikahan, di dalam masyarakat Aceh,
umpamanya, keluarga wanita biasanya, menentukan jumlah mas kawin sekitar
50-100 gram emas.
2. Kedua : Kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam,
Contoh yang paling jelas, adalah tradisi Jahiliyah yang melakukan ibadah haji
dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam , seperti lafadh
talbiyah yang sarat dengan kesyirikan, thowaf di Kabah dengan telanjang.
3. Ketiga : Kebudayaan yang bertentangan dengan Islam. Seperti, budaya
ngaben yang dilakukan oleh masyarakat Bali.
2.2.2 Prinsip-prinsip kebudayaan dalam Islam merujuk pada sumber ajaran
Islam yaitu:
1. Menghormati akal. Manusia dengan akalnya bisa membangun kebudayaan
baru. Kebudayaan Islam tidak akan menampilkan hal-hal yang dapat merusak
manusia. dijelaskan dalam Qs, Ali-Imran, 3:190 yang artinya: Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat
tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal.
2. Memotivasi untuk menuntut dan mengembangkan ilmu. Firman Allah
Swt :Allah akan mengangkat (derajad) orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang berilmu beberapa derajad (Qs, aL-Mujadalah, 58:11).
3. Menghindari taklid buta. Kebudayaan Islam hendaknya mengantarkan umat
manusia untuk tidak menerima sesuatu sebelum diteliti. Sebagaimana telah
difirmankan Allah Swt: Dan janganlah kamu mengikuti dari sesuatu yang tidak
kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani semua itu akan
dimintai pertanggungjawaban (QS, al-Isra, 17:36).
4. Tidak membuat pengrusakan. Firman Allah Swt: Janganlah kamu berbuat
kerusakan di bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat
kerusakan (Qs, al-Qhasash, 28:77).

2.2.3 Contoh Kebudayaan islam


Agama Islam mendorong umatnya berkebudayaan dalam semua aspek
kehidupan termasuk dalam bidang ibadah. Contohnya dalam ibadah yang asas
yaitu sembahyang. Dalam Al-Qur'an ada perintah :
Terjemahnya : Dirikanlah sembahyang (Al-Baqarah: 43)
Perintah itu bukan kebudayaan karena ia adalah wahyu daripada Allah
SWT. Tetapi apabila kita hendak melaksanakan perintah "dirikanlah
sembahyang" maka timbullah daya pemikiran kita, bagaimana hendak
bersembahyang, dimana tempat untuk melaksanakannya dan lain-lain. Secara
ringkas, kitapun bersembahyanglah setelah mengkaji Sunnah Rasulullah yang
menguraikan kehendak wahyu itu tadi. Firman Allah :
Terjemahnya: Tiadalah Rasul itu berkata-kata melainkan wahyu yang
diwahyukan padanya (An Najm: 3-4)
Umpamanya kalau sembahyang berjemaah, kita berbaris, dalam saf-saf
yang lurus dan rapat. Jadi dalam kita melaksanakan barisan saf yanglurus dan
rapat itu adalah budaya, karena ia hasil usaha tenaga lahir kita yang terdorong
dari perintah wahyu.
Dan kalau dilihat dalam ajaran Islam, kita dikehendaki bersembahyang di
tempat yang bersih. Jadi perlu tempat atau bangunan yang bersih bukan saja
bersih dari najis tetapi bersih daripada segala pemandangan yang bisa
menganggu kekhusyukan kita pada saat kita bersembahyang. Maka terpaksalah
kita umat Islam menggunakan pikiran, memikirkan perlunya tempat-tempat
sembahyang yaitu mushalla, surau ataupun mesjid. Apabila kita membangun
surau atau mesjid hasil dari dorongan wahyu "Dirikanlah sembahyang" itu maka
lahirlah kemajuan, lahirlah kebudayaan.
Jadi agama Islam mendorong manusia berkebudayaan dalam beribadah
padahal ia didorong oleh perintah wahyu "Dirikanlah sembahyang" yang bukan
kebudayaan. Tapi karena hendak mengamalkan tuntutan perintah wahyu ini,
maka muncullah bangunan-bangunan mesjid dan surau-surau yang beraneka
bentuk dan didalamnya umat Islam sembahyang berbaris dalam saf-saf yang
lurus dan rapat. Ini semua merupakan kebudayaan hasil tuntutan wahyu.
Begitu juga dengan kebudayaan dalam bergaul dalam masyarakat dalam Al-
Qur'an ada perintah:
Terjemahnya: Hendaklah kamu bertolong bantu dalam berbuat kebajikan dan
ketaqwaan. Dan jangan kamu bertolong bantu dalam membuat dosa dan
permusuhan (Al Maidah: 2)
Perintah ini bukan kebudayaan. Tapi apabila kita hendak mengamalkan
tuntutan dan kehendak perintah maka terbentuklah kebudayaan. Dalam
bermasyarakat dan bergaul serta bergotong royong untuk membuat kebajikan
dan kebaikan serta bergotong royong juga memberantas perkara dosa dan
persengketaan tentulah perlu menggunakan pikiran. Setelah dipikirakan untuk
bergotong royong di tengah-tengah masyarakat, tentulah kita hendak melahirkan
dalam bentuk tindakan dan sikap juga. maka terbentuklah kebudayaan dalam
masyarakat.
Demikian juga dalam Al-Qur'an ada larangan:
Terjemahnya: Jangan kamu dekati zina(Al Isra': 32)
Larangan itu datang dari Allah SWT. Ia adalah wahyu bukannya
kebudayaan karena ia bukan ciptaan akal manusia. Tapi apabila kita hendak
mengamalkan tuntutan perintah ini maka terpaksa kita menggunakan akal
pikiran dan melaksanakannya dalam perbuatan dan sikap. Lalu apa saja unsur
dalam pergaulan yang bisa membawa kepada zina akan kita pikirkan, dan fisik
kita segera mengelakkannya, seperti bergaul bebas antara lelaki dan perempuan,
pandang-memandang dan pembukaan aurat, semuanya akan kita hindari.
Dengan itu nanti akan lahirlah budaya setelah dipikirkan dan dilaksanakan
dalam bentuk sikap dan perbuatan hasil daripada dorongan wahyu "janganlah
kamu dekati zina."
Seterusnya ada hadits yang berbunyi:
Terjemahnya: Hendaklah kamu berniaga karena sembilan persen daripada
rezeki itu adalah di dalam perniagaan
Ini adalah perintah (dorongan) daripada Rasulullah SAW yang hakikatnya
daripada Allah juga, supaya umat Islam berniaga. Atas dasar ini lahirlah fikiran
dan perahan tenaga akal dan fisik lainnya ke arah itu. Dengan itu lahirlah
kebudayaan Islam dalam bidang perniagaan. Labih kuat penghayatan terhadap
hadits ini, lebih banyaklah kebudayaan di bidang perniagaan yang dapt
dicetuskan. Ini berarti umat Islam akan semakin maju. Dalam perniagaan Allah
melarang riba, tipu daya, suap dan lan-lain. Ini adalah dasar-dasar kebudayaan
Islam dalam bidang perniagaan.
Satu hadits lain berbunyi:
Terjemahnya: Tidaklah percuma seorang Islam atau menenam tanaman, lalu
dimakan daripadanya oleh burung dan manusia atau binatang, bahkan mendapat
pahala sedekah (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hasil daripada dorongan hadits ini akan lahirlah kebudayaan Islam di


bidang pertanian. pikiran dan tenaga lahir umat Islam diperah sungguh-sungguh
untuk mengusahakan, memajukan dan memodernkan teknik-teknik dan hasil
pertanian. Hasilnya terbentuklah kebudayaan Islam dibidang pertanian. jelaslah
disini bahwa Islam bukanlah ajaran yang beku. Ia menetapkan prinsip-prinsip
asa dan mengatur beberapa peraturan tertentu dan menyerahkannya sepenuhnya
pada kebebasan akal dan tenaga manusia untuk membina kemajuan di bidang
pertanian
Rasulullah SAW bersabda:
Terjemahnya: Yang halal jelas dan yang haram pun jelas, dan diantara kedua-
duanya adalah kesamaran (syubhat), inilah yang bayak manusia tidak
mengetahuinya, siapa yang takut syubhat akan selamatlah agama dan
kehormatannya dan siapa yang terjebak di dlam syubhat dikhawatirkan terlibat
dengan yang haram. (Riwarat Bukhari dan muslim)
Dalam hadits yang lain Rasulullah ada menyebut yang artinya : hati ditempa
oleh makanan minum
Umat Islam yang sensitif terhadap hadits ini akan berusaha semaksimal
mungkin untuk mengahsilkan barang makanan yang bersih lagi suci di sisi
syariat. Makanan mesti diproses secara Islam. Dengan ini timbullah daya usaha
ke arah melahirkan pabrik-pabrik yang memproses makanan secara Islam,
dimana penyediaan, pengemasan makanan dan penyimpanan makanan yang
suci dan dijamin halal dilakukan. Oleh karena itu, kebudayaan Islam dibidang
perusahaan dan perindustrian makanan akan timbul dengan sendirinya.
Kemajuan akan bangun dengan pesatnya. Jadi, kemajuan di bidang
perindustiran makanan sewajarnya telah lama wujud dalam masyarakt Islam
jika mereka benar-benar menghayati perintah Allah dan Rasul-Nya.
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
Terjemahnya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka (dengan) kekuatn apa
saja yang kamu sanggupi daripada kuda-kuda yang ditambat untuk berpasang
(yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan
orang-orang selain mereka yang tidak kamu ketahui, sedangkan Allah
mengetahuinya (Al Anfal: 60)
Ayat Al-Qur'an ini adalah dorongan secara langsung daripada Allah
supaya umat Islam membangun kekuatan ketentaraan untuk tujuan
mempertahankan agama, kedaulatan negara dan bangsa. Jika umat Islam benar-
benar memahami tuntutan ayat ini, mereka akan muncul sebagai satu kuasa
yang gagah dan tidak bisa diperkotak-katikkan oleh musuh, karena disamping
mempunyai kekuatan taqwa mereka juga mempunyai kekuatan senjata.
Kita akan jadi umat yang dapat melengkapkan diri dengan senjata modern
yang sophisticated dan modern. Dengannya umat Islam akan dapat
mempertahankan diri dan dapat menentang setiap gangguan dan penzaliman
dari pihak komunis dan kapitalis seperti yang terjadi hari ini. Tidak timbul soal
negara-negara yang terpaksa "minta sedekah" dan dapat dipermainkan oleh
negara-negara penjual senjata seperti apa yang terjadi di Timur Tengah pada
saat ini. Inilah keindahan Islam bukan saja dapat mendorong manusia
berkebudayaan dalam bidang kemasyarakatan atau perniagaan, malah Islam
telah mendorong penganutnya mempunyai kebudayaan dalam bidang
ketentaraan.
Begitu juga halnya dengan arahan-arahan lain dalam agama Islam ini,
kalau dapat kita laksanakan akan lahirlah kebudayaan dan kemajuan dalam
kehidupan kita. Jadi Islam itu mendorong orang berkebudayaan, Sebarang
kehendak dalam ajaran Islam apabila difikir dan dilaksanakan dengan tenaga
lahir akan melahirkan kemajuan. Kemajuan yang kita cetuskan hasil daripada
dorongan agama Islam itulah yang dikatakan kebudayaan.
Seandainya satu bangsa itu berpikir dan bertindak dengan tenaga lahirnya
sehingga mencetuskan sesuatu yang tidak ditirunya dari mana-mana pihak,
maka hasil itulah yang dinamakan kebudayaan bangsa itu. Asalkan apa saja
yang dipikirkannya adalah tulen, tidak mengambil dari mana-mana pikiran
bangsa-bangsa lain dan apa-apa yang dicetuskannya itu tidak meniru apa yang
telah dibuat oleh orang lain, yaitu segala-galanya betul dari apa-apa yang
dihasilkan oleh bangsa itu sendiri, ia bisa dikatakan kebudayaan bangsa itu.
Tetapi kalau satu bangsa itu memikirkan dan membuat sesuatu perkara
yang sudah sedia dibuat atau dipikirkan orang lain, maka bangsa itu adalah
bangsa yang berkebudayaan bangsa lain namanya. karena ia memikirkan
sesuatu yang memang telah dipikirkan oleh bangsa lain. Ini namanya bangsa
yang berkebudayaan bangsa lain bukan berkebudayaan sendiri.
Sebagai contoh, umat Islam hari ini memakai pakaian yang terbuka
seperti shirt, gaun dan sebagainya. Ini adalah orang Islam yang berkebudayaan
orang lain (Barat). apa yang dilakukan ini bukan kebudayaan Islam, tetapi
kebudayaan orang lain yang diamalkan atau dilaksanakan oleh orang Islam.
jadilah ia orang Islam yang berkebudayaan orang lain. Artinya kalau kita meniru
Jepang, maka jadilah kita orang Islam yang berkebudayaan Jepang.

Tapi jikalau orang Melayu umpamanya, mencetuskan sesuatu dan apa


yang dipikirkan dan dibuat itu tidak pernah terpikir atau dicetuskan oleh
sembarang bangsa lain di dunia ini, maka barulah apa yang dicetuskan itu
dikatakan kebudayaan bangsanya, kebudayaan Melayu.
Kenapa ia bisa dikatakan sebagai kebudayaan Melayu? Sebab disudut
pikiran, ia tidak diambil dari mana-mana bangsa, dan apa yang difikirkan itu
belum pernah dicetuskan oleh sebarang pun diatas muka bumi ini. Sebagai
contoh, katalah silau pulut, yang mana orang Jepang, orang Amerika dan lain-
lain tidak pernah dibuat dan difikirkan.
Kalau begitu tentulah terlalu banyak perkara yang telah dilakukan oleh
masyarakat Islam sejak ratusan tahun dulu, hingga zaman ini bukan dari
kebudayaan Islam tetapi dikaitkan dengan kebudayaan Islam. Contohnya ada
patung-patung yang pernah dibuat oleh orang-orang Islam ratusan tahun dahulu
yang sudah dikaitkan orang dengan kebudayaan Islam. Mana ada dalam ajaran
Islam yang membenarkan membuat patung? Itu sebenarnya adalah perbuatan
orang Islam yang berkebudayaan orang lain.
Perbuatan seperti ini terjadi juga dalam urusan membuat mesjid.
Contohnya dapat dilihat pada mesjid Cordova Spanyol, yang tempat
sembahyangnya dibuat sudah tidak mengikut cara Islam. Ia disalut dengan
emas. Ini tidak dibenarkan sama sekali oleh ajaran Islam. Maka ini bukan
kebudayaan Islam tetapi kebudayaan orang Islam. Begitu juga dengan pancutan
air untuk mengambil wudhuk yang keluar dari mulut singa atau rusa, itu bukan
daripada ajaran Islam. Itu adalah kebudayaan orang Islam yang berkebudayaan
orang lain.
Jadi apa sebenarnya kebudayaan Islam? Umumnya suatu yang dicetuskan
itu bersih dengan ajaran Islam baik dalam bentuk pemikiran ataupun sudah
berupa bentuk, sikap atau perbuatan, dan ia didorong oleh perintah wahyu.
Itulah yang benar-benar dinamakan kebudayaan Islam.
Sebab itu sembarang usaha lahir maupun batin yang bersih (tulen) yang
dicetuskan oleh umat Islam itu hasil dari dorongan ajaran Islam (wahyu) yang
tidak bertentangan dengan apa juga yang ada dalam ajaran Islam, maka barulah
ia dinamakan kebudayaan (tamadun) Islam.
Oleh karena itu kalau kita tinjau, sebenarnya sangat sedikit kebudayaan
Islam yang dapat kita lihat hari ini. Apa muncul ditengah-tengah masyarakat
Islam di seluruh dunia sebenarnya adalah kemajuan dan kebudayaan hasil
tajaan/ciptaan orang lain yang kita tiru, bukan kebuadayaan Islam. Maka jadilah
kita orang Islam yang berkebudayaan orang lain.

Kesimpulannya, jelaslah Islam bukan kebudayaan sebab ia bukan hasil


ciptaan manusia. Walau bagaimanapun agama Islam itu mendorong orang
berkebudayaan. manakala agama-agama di luar Islam memang kebudayaan
sebab ia hasil kerja akal, khayalan dan angan-angan manusia itu sendiri.
2.3 Perbedaan kebudayaan islam dan kebudayaan non islam
Ciri-ciri yang membedakan antara kebudayaan Islam dengan budaya lain,
diungkapkan oleh Sibai bahwa ciri-ciri kebudayaan Islam adalah yang
ditegakkan atas dasar aqidah dan tauhid, berdimensi kemanusiaan murni,
diletakkan pada pilar-pilar akhlak mulia, dijiwai oleh semangat ilmu
Dari paparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudyaan Islam
dapat dipahami sebagai hasil olah akal, budi, cipta, karya, karsa, dan rasa
manusia yang bernafaskan wahyu ilahi dan sunnah Rasul. Yakni suatu
kebudayaan akhlak karimah yang muncul sebagai implementasi Al-Quran dan
Al-Hadist dimana keduanya merupakan sumber ajaran agama Islam, sumber
norma dan sumber hukum Islam yang pertama dan utama. Dengan demikian
kebudayaan Islam dapat dipilah menjadi tiga unsur prinsipil, yaitu kebudayaan
Islam sebagai hasil cipta karya orang Islam, kebudayaan tersebut didasarkan
pada ajaran Islam, dan merupakan pencerminan dari ajaran Islam.
Ketiga unsur tersebut merupakan kesatuan yang utuh dan tidak dapat
terpisah satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, sebagus apapun
kebudayaannya, jika itu bukan merupakan produk kaum Mslimin tidak bisa
dikatakan dan diklaim sebagai budaya Islam. Demikian pula sebaliknya,
meskipun budaya tersebut merupakan produk orang-orang Islam, tetapi
substansinya sama sekali tidak mencerminkan norma-norma ajaran Islam.
Dengan kata lain, Al-Faruqi (2001) menegaskan bahwa sesungguhnya
kebudayaan Islam adalah Kebudayaan Al-Quran, karena semuanya berasal
dari rangkaian wahyu Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW pada abad
ketujuh. Tanpa wahyu kebudayaan Islami Islam, filsafat Islam, hukum Islam,
masyarakat Islam maupun organisasi politik atau ekonomi Islam.
2.4 Budaya ilmiah, budaya kerja
2.4.1 Budaya ilmiah
Jika menilik kemajuan Eropa dalam bidang keilmuan dan teknologi di
dunia moderen, hal ini tidak lepas dari munculnya budaya imiah mereka yang
mengembangkan metode-metode ilmiah keilmuan dan inspirasi-inspirasi filsafat
alam yang didapat dari alam pikiran budaya Yunani pada masa pencerahan
atau renaissance. Selama ini, jamak pendapat bahwa ilmuwan Eropa
memperoleh dasar dari metode ilmiah dari filsuf-filsuf Yunani. Roger Bacon
yang disebut-sebut sebagai advokat bagi metode ilmiah moderen di Eropa
dikatakan terinspirasi oleh Aristoteles dan Plato. Akan tetapi patut diketahui
bahwa sifat dan semangat dari folosofi alam Yunani adalah bersifat spekulatif,
lebih mengutamakan teori dan tidak mengindahkan kenyataan atau pengalaman
konkret.
Ilmu pengetahuan moderen amat mengedepankan aspek pengamatan
langung dan bukan sekedar teori belaka yang bersifat spekulatif. Hal ini
terutama terlihat dalam ilmu-ilmu alam fisik seperti fisika, dimana suatu teori
harus mendapatkan konfirmasi melalui eksperimen untuk membuktikan
kebenarannya. Kebudayaan Yunani tidak mengenal penyelidikan dan
pengumpulan secara sabar terhadap pengetahuan, serta metode-metode
keilmuan yang begitu cermat, dan observasi serta penyelidikan eksperimantal
yang rinci dan panjang. Roger Bacon sendiri sebenarnya mempelajari metode
ilmiah dari Universitas Islam Spanyol. Karyanya Opus Majus yang berisi
penjelasan ilmiah tentang matematika, optik, kimia, dan mekanika sebenarnya
berisi metode-metode yang berasal dari ilmuwan-ilmuwan muslim seperti Al-
Kindi dan Ibn Al-Haytham. Antropolog Robert Briffault dalam bukunyaThe
Making of Humanity menuliskan;

Baik Roger Bacon maupun kawan sejawatnya yang kemudian, tidak berhak
disebut sebagai orang yang telah memperkenalkan metode eksperimen. Roger
Bacon tak lebih hanya salah seorang utusan saja dari ilmu pengetahuan dan
metode Islam kepada dunia Kristen di Eropa, dan dia pun tak kenal letih
mengumumkan, bahwa pengetahuan bahasa dan ilmu pengetahuan Arab bagi
mereka yang sezaman adalah satu-satunya jalan ke arah pengetahuan yang
sebenarnya. Perdebatan-perdebatan seperti misalnya tentang siapa pencipta
pertama metode eksperimen ialah sebagian dari penafsiran yang besar sekali
tentang asal-usul peradaban Eropa. Metode eksperimen Islam itu pada masa
Bacon secara luas dan bersungguh-sungguh disebarkan ke seluruh Eropa. (The
Making of Humanity, pagel. 202)
Budaya Islam melalui semangat Al-Quran yang mendasarkan sumber
pengetahuan pada tiga sumber, yaitu pengalaman batin, alam, dan sejarah tentu
bertentangan dengan semangat filsafat alam Yunani. Hal ini tidak lain karena
budaya Islam yang berfokus pada pengalaman konkret (kenyataan) dan
menuntut adanya observasi secara langsung terhadap alam guna memahami
hakikat alam dan terutama demi memahami sifat ketuhanan. Hal ini juga tidak
lepas dari perintah yang ada dalam kitab Al-Quran agar memerhatikan
pergantian siang-malam, peredaran bulan dan matahari serta peredaran planet
karena Tuhan menampakkan tanda-tandanya melalui alam. Walaupun harus
diakui bahwa ilmuwan-ilmuwan muslim banyak yang memperoleh wawasan
ilmu dari alam pikir Yunani, akan tetapi ilmuwan-ilmuwan muslim menyadari
bahwa apabila terus menyandarkan diri pada alam pikiran Yunani yang tida
mendasarkan pemikirannya pada kenyataan maka akan terjadi kegagalan yang
besar terhadap ilmu pengetahuan.
Metode observasi dan eksperiman lahir dalam kebudayaan Islam bukan
karena suatu kompromi dengan pemikiran Yunani, tetapi karena ada pergulatan
yang lama sekali dengan pemikiran itu. Pengaruh Yunani yang pada umumnya
menyukai teori, bukan kenyataan, malah lebih mengaburkan pandangan orang
Islam terhadap Al-Quran. Maka dengan semangat Al-Quran sebagai pedoman,
ilmuwan-ilmuwan muslim melakukan revolusi terhadap alam pikiran Yunani,
sebuah revolusi ilmiah.
Menurut kebudayaan Islam bahwa ilmu harus dinilai dengan yang
konkret, hanya kekuatan intelektual yang menguasai yang konkret-lah yang
akan memberi kemungkinan kecerdasan manusia untuk dapat melampaui yang
konkret, seperti dalam Al-Quran;

Artinya:
Wahai masyarakat jin dan manusia, kalau kalian dapat menembus perbatasan-
perbatasan langit dan bumi, tembuslah. Tapi hanya dengan kekuasaan sajalah
kalian dapat menembusnya. (QS. 55:33)
2.4.2 Budaya kerja
1. Etos Kerja
Telah disebutkan terdahulu hakikat manusia terletak pada eksistensinya.
Eksistensinya berarti berpikir untuk mencipta yang menghasilkan produk atau
ciptaan. Dengan kata lain hakikat manusia adalah kerja. Konsekuensi logisnya
adalah berhenti bekerja hilang hakikatnya sebagai manusia. Telah disebutkan
pula bahwa Islam lebih mementingkan amal dari pada gagasan atau terminal
terakhir adalah amal. Amal identik dengan kerja dan sekali lagi hakikat manusia
adalah kerja.
Alquran sendiri memandang amal itu begitu penting. Kata amal dan berbagai
kata yang seakar kata dengannya seperti yamalun, tamalun, amila, imalu dan
yang sejenisnya disebut dalam Al-Quran sebanyak 192 kali. Kata amal shalih
yang dirangkai dengan kata iman sebanyak 46 kali. Ini berarti hakikat manusia
atas dasar pendekatan kebudayaan maupun agama adalah sama yaitu terletak
pada kerja atau amal. Kesimpulan ini didukung oleh pepatah:

(ilmu tanpa amal bagaikan lebah tanpa madu)atau

(ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah).
Dengan demikian manusia yang tidak beramal atau tidak bekerja hakikat
kemanusiaannya tidak utuh, atau bahkan hilang hakikat kemanusiaannya.
Supaya manusia tidak hilang hakikat kemanusiaannya, Rasulullah mengajarkan
kepada umatnya supaya terjauh dari sifat pemalas. Demikian doa Rasul:
( )
(ya Allah sesungguhnya aku mohon perlindungan Engakau dari kemalasan,
kelemahan, dan kebakhilan. H.R at-Turmuzi dari ibn Arqam (at-Turmuzi,
V:226)).
Malas, lemah kepribadian dan bakhil adalah penghalang utama dalam
menumbuhkan etos apapun termasuk etos kerja. Sebaliknya Islam memotifasi
demikian bersemangat supaya setiap pemeluknya rajin beramal atau bekerja.
Allah berfirman:

Artinya :
Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali
lipat amalnya; dan Barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka Dia tidak
diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka
sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan) .( QS Al Anam : 160 ).
Dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa siapa yang beramal baik pahalanya
dilipatgandakan 10 kali lipat. Sebelas kali Allah berfirman bahwa orang yang
beramal baik itu berakhir dengan keberuntungan (Abd al-Baqi, [t.th.]:668). Satu
diantara:

Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah
Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan .
( QS Al Hajj : 77 ).
Kata kemenangan dalam ayat itu sama dengan keberuntungan, dapat
diperhatikan dalam ayat berikut:

Artinya :
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman .(QS. Al Muminun:
1)
Keberuntungan atau kemenangan dalam ayat tersebut dan ke 11 yang lain dalam
Al-Quran selalu berarti sebagai akibat dari amal baik. Keberuntungan sebagai
amal atau kerja bisa berupa pahala yang dinikmati besok di hari akhirat kelak,
bisa di kehidupan dunia sekarang. Bahkan sesungguhnya, karena Islam tidak
mengenal paham sekularisme, yaitu pemisahan urusan dunia dan urusan akhirat
(agama), justru setiap urusan apapun dalam Islam selalu mengandung dimensi
dunia dan akhirat. Karena itu di dalam Islam dianjurkan mencari kebahagiaan
dunia dan kehidupan akhirat sekaligus. Allah berfirman:

Artinya :
dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa
neraka. ( QS. Al Baqarah : 201 ).
Kebahagiaan (hasanah) tidak pernah datang begitu saja kepada seseorang yang
berpangku tangan. Hanya kerja keras kebahagiaan juga takkan didapat. Tetapi
kebahagiaan selalu merupakan perpaduan antara kerja keras dan anugerah
Allah. Karena itu Allah juga memerintahkan supaya di dalam mencari
kehidupan itu tidak setengah-setengah, dunia saja atau akhirat saja, melainkan
keduannya.

Artinya :
dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan)
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah
berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan
. ( QS. Al Qashash : 77 ).
Kemudian, di dalam kerja keras mencari kebahagiaan baik dunia maupun
akhirat itu ada kode etiknya, yaitu tidak boleh berbuat kerusakan, kerusakan
apapun (diri sendiri, hubungannya dengan orang lain, terhadap tetumbuhan,
binatang, maupun alam semesta).
2. Sikap Terbuka
Inti sikap terbuka adalah jujur, dan ini merupakan ajaran akhlak yang penting di
dalam Islam. Lawan dari jujur adalah tidak jujur. Bentuk-bentuk tidak jujur
antara lain adalah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Sebagai bangsa, kita
amat prihatin, di satu sisi, kita (bangsa Indonesia) merupakan pemeluk Islam
terbesar di dunia, dan di sisi lain sebagai bangsa amat korup. Dengan demikian
terjadi fenomena antiklimak. Mestinya yang haq itu menghancurkan yang
bathil, justru dalam tataran praktis seolah-olah yang haq bercampur dengan
yang bathil. Tampilan praktisnya, salat ya, korupsi ya. Ini adalah cara beragama
yang salah.
Cara beragama yang benar harus ada koherensi antara ajaran, keimanan
terhadap ajaran, dan pelaksanaan atas ajaran. Dapat dicontohkan di sini, ajaran
berbunyi:
Artinya :
.Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan
mungkar.. ( QS. Al Ankabut : 45 ).
Manusia merespon terhadap ajaran (wahyu) itu dengan iman. Setelah itu ia
mewujudkan keimanannya dengan melakukan salat dan di luar pelaksanaan
salat mencegah diri untuk berbuat keji dan munkar.
Termasuk koherensi antara ajaran, iman, dan pelaksanaan ajaran adalah jika
terlanjur berbuat salah segera mengakui kesalahan dan memohon ampunan
kepada siapa ia bersalah (Allah atau sesama manusia). Jika berbuat salah kepada
Allah segera ingat kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.
Artinya :
dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau
Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka. ( QS. Ali Imron : 135 ).
Jika berbuat salah kepada manusia segera meminta maaf kepadanya tidak usah
menunggu lebaran tiba. Pengakuan kesalahan baik terhadap Allah maupun
kepada selain-Nya ini merupakan sikap jujur dan terbuka. Menurut Islam sikap
jujur dan terbuka termasuk baik. Nabi bersabda:

. . .
( )
(Sesungguhnya jujur itu menggiring ke arah kebajikan dan kebajikan itu
mengarah ke surga. Sesungguhnya lelaki yang senantiasa jujur, ia ditetapkan
sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya bohong itu menggiring ke arah dusta.
Dusta itu menggiring ke neraka. sesungguhnya lelaki yang senantiasa berbuat
bohong itu akan ditetapkan sebagai pembohong. Muttafaq alaih (an-Nawawi,
[t.th.]:42)).

3. Bersikap Adil
Secara leksikal adil dapat diaritikan tidak berat sebelah, tidak memihak,
berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, dan tidak sewenang-wenang (Kamus
Besar, l990 :6-7) Dari masing-masing arti dapat dicontohkan sebagai berikut:
(1) Cinta kasih seorang ibu terhadap putra-putrinya tidak berat sebelah. (2)
Dalam memutuskan perkara, seorang hakim tidak memihak kepada salah satu
yang bersengketa.(3) Di dalam menjalankan tugasnya sebagai hakim, Hamid
selalu berpegang kepada kebenaran. (4) Sudah sepatutnya jika akhlaqul-karimah
guru diteladani oleh murid.(5) Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak
berbuat sewenang-wenang terhadap yang dipimpin. Dari masing-masing contoh
ini dapat disimpulkan bahwa sikap adil amat positif secara moral.
Karena sifat yang positif, tentu sikap adil didambakan oleh banyak orang.
Dalam contoh-contoh di atas, sikap adil bersikap positif atau menguntungkan
orang lain. Adil juga dapat dartikan tingkah laku dan kekuatan jiwa yang
mendorong seseorang untuk mengendalikan amarah dan syahwat dan
menyalurkannya ke tujuan yang baik (al-Hufiy, 2000: 24). Dalam definisi ini
dapat dipahami bahwa adil adalah kondisi batiniah seseorang yang berbentuk
energi. Energi ini mendesak keluar untuk mengendalikan amarah dan kemauan-
kemauan hawa nafsu sehingga perbuatan yang keluar menjadi baik. Yang
mestinya orang itu menuruti hawa nafsu, karena kendali sikaprbuatannya
menjadi terarah, tidak merugikan diri sendiri dan orng lain.
Islam memandang sikap adil amat fundamental dalam struktur ajaran.
Kata adil dan berbagai turunannya seperti : yadilun, idilu, adlun, dan tadili
diulang sebanyak 28 kali di dalam Alquran. Karena itu Allah memerintah
kepada kita supaya berlaku adil dalam semua hal. Allah berfirman:
Artinya :
...Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa... (QS. Al Maidah:
8).
Kata adil sinonim dengan al-qish. Kata ini dan berbagai derivasinya,
umpama: iqshitu, al-muqshitun, dan al-qashitun terulaqng sebanyak 25 kali
dalam Alquran (Abd al-Baqiy, [t.th.] :P690). Kadang-kadang kata adil dan kata
al-qisht disebut secara besama-sama dan satu sama lain berarti sama. Contohnya
adalah:
Artinya :
dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang
hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar
Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu
perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut,
damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku
adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil . ( QS. Al
Hujurat : 9 ).
Karena baik secara rasional maupun syariah bahwa sikap adil itu adalah baik
dan positif, tetapi di sisi lain kita merupakan pemeluk agama Islam terbesar
dunia dan di saat yang sama dikenal sebagai bangsa dengan aneka predikat yang
tidak baik seperti KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), maka untuk merubah
citra buruk itu salah satu cara strategis adalah membudayakan sikap adil dalam
semua lapangan kehidupan.
Dalam Islam orang yang paling pantas untuk di dudukkan sebagai idola untuk
ditiru dan diteladani adalah Rasulullah SAW. Allah berfirman :
Artinya :
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah . ( QS. Al Ahzab : 21 ).
Selain itu Aisyah, istri Rasulullah, menyebutkan bahwa akhlak beliau
adalah Al-Quran kana khuluqulm Al-Quran (H.R Muslim dari Aisyah).
Kiranya terlalu pantas jika idola pertama seluruh umat Islam adalah Rasulullah.
Hingga sekarang Rasulullah adalah orang yang paling berpengaruh di dunia
(rangking pertama) dari seratus orang yang paling berpengaruh di dunia (Hart,
1982:4). Cukup banyak contoh-contoh sikap adil yang ditampakkan oleh
Rasulullah, antara lain:
An-Numan bin Basyir mengatakan, Ayahku memberi sesuatu pemberian
kepadaku. Lalu ibuku Amrah bin Rawahah berkata, Aku tidak rela sebelum
engkau persaksikan hadiah itu di hadapan Rasulullah SAW.
Ayahku lalu menghadap Rasulullah SAW dan berkata, Ya Rasulullah,
sesungguhnya aku telah membarikan suatu pemberian kepada anakku dari
Amrah bin Rawahah. Kemudian aku diperintahkannya supaya bersaksi kepada
Tuan!
Rasulullah SAW lalu berkata, Apakah engkau juga telah memberi kepada
semua anakmu pemberian seperti ini?
An-Numan menjawab, Tidak.
Beliau lalu bersabda, bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap
anak-anakmu!
Kemudian ayahku pulang dan menarik kembali pemberiannya.
Dan Ada orang perempuan Makhdzumiyyah mencuri. Kejadian itu sangat
orang-orang Quraisy. Mereka berkata, Siapakah yang akan membicarakan hal
ini kepada Rasulullah SAW?
Tidak ada seorangpun yang berani kecuali (kekasih wanita itu) Usman bin Zaid
r.a. Lalu ia membicarakan hal tersebut dengan Rasulullah SAW.
Beliau berkata, Apakah kamu akan bertindak sebagai pembela dalam
pelanggarana hukum Allah? Kemudian Rasulullah SAW berdiri serta
berkhotbah. Di antara isi khotbahnya beliau bersabda, Sesungguhnya yang
membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah apabila ada seorang dari
golongan bangsawan mencuri, mereka biarkan saja, tetapi bila yang mencuri itu
dari golongan bawah (lemah), dia dijatuhi hukuman. Demi Allah andaikata
Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti akan kupotong tangannya.(Al-hufiy,
2000:189).

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
kebudayaan adalah sesuatu yang dihasilkan dari akal pikiran, perasaan,
dan perbuatan manusia. Secara umum kebudayaan terbagi menjadi 2 kategori,
yaitu abstrak dan konkret.
Kebudayaan Islam adalah kebudayaan yang mutlak berasal dari ajaran
Islam, dicetuskan dan dilakukan oleh umat Islam. Kebudayaan Islam secara
khusus adalah sesuatu yang dihasilkan umat Islam baik dalam bentuk konkret
maupun abstrak, yang secara prinsip bersumber pada ajaran Islam. Misalnya
model baju penutup aurat, bersekolah, hidup bersih, dan sebagainya.
Bentuk atau wujud kebudayaan menurut J.J. Hoenigman, ada tiga macam, yaitu:
1. Gagasan/ide, misalnya pemikiran di bidang ilmu sejarah, filsafat,
matematika, fisika, kedokteran, dan lain-lain.
2. Aktivitas (Tindakan). Misalnya, acara lamaran, dan perayaan pesta
perkawinan.
4. Artefak (karya), misalnya, rumah tinggal, tempat beribadah, dan lain-lain.
Hasil perkembangan kebudayaan dilandasi oleh nilai-nilai ketuhanan
yang disebut dengan kebudayaan Islam, di mana fungsi agama akan berperan
semakin jelas. Kebudayaan tersebut berkembang menjadi sebuah peradaban
islam sampai sekarang.
Kesimpulannya, jelaslah Islam bukan kebudayaan sebab ia bukan hasil
ciptaan manusia. Walau bagaimanapun agama Islam itu mendorong orang
berkebudayaan. manakala agama-agama di luar Islam memang kebudayaan
sebab ia hasil kerja akal, khayalan dan angan-angan manusia itu sendiri.
Saran
Dengan pemahaman di atas, kita dapat memulai untuk meletakan Islam
dalam kehidupan keseharian kita. Kita pun dapat membangun kebudayaan Islam
dengan landasan konsep yang berasal dari Islam pula.
Untuk lebih memperkaya dan melengkapi serta meningkatkan kualitas
pengetahuan khususnya dalam bidang sejarah kebudayaan Islam, hendaknya
kita menambah waktu membacatentang kebudayaan Islam. Sehingga jika kita
senantiasa menambah wawasan kita untuk memahami dan memperdalam
pengetahuan tentang kebudayaan Islam.
DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta Pusat
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
Muhammad Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, Yogyakarta;
Jalasutra, 2008.
Tamim Ansary, Dari Puncak Bagdad; Sejarah Dunia Versi Islam, Jakarta;
Penerbit Zaman, 2009.
Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, PT. Gramedia,
Jakarta, 1974. hlm 19
Sudrajat, Ajat dkk. 2009. Din Al-Islam Pendidikan Agama Islam di Perguruan
Tinggi Umum. Yogyakarta: UNY Press.
Tim dosen pendidikan agama islam. 2014. Pendidikan agama islam untuk
perguruan tinggi umum. Padang: unp press