Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN TETAP

SATUAN PROSES-2
PENYABUNAN/REAKSI SAPONIFIKASI

Disusun oleh Kelompok 2 (2 KI B) :

Adhe Julian Pertananda 061540421929


Andhika Sandi Panorama 061540421931
Dewanda Irawan 061540421935
Dinna Khoiruummah 061540421936
Dita Indah Sari 061540421937
Dwi Ayu Pratiwi 061540421939
Dwi Okta Larassakti 061540421940
Ester Necessary 061540421941
Tasya Athira Makaminan 061540422264
Dosen Pembimbing : Ir. M. Zaman, M.Si, M.T

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


PALEMBANG
2017
PENYABUNAN / REAKSI SAPONIFIKASI
I. Tujuan Percobaan
I.1 Mempelajari proses pembuatan sabun dari Minyak.
I.2 Untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada proses pembuatan sabun dari Minyak.

II. Alat dan Bahan yang digunakan


Alat
1. Tabung reaksi 6. Gelas ukur
2. Pipet 7. Gelas Kimia 250 ml dan 400 ml
3. Tabung benzana 8. Cawan pengucapan
4. Kaki tiga 9. Rak tabung reaksi
5. Cawan petri 10. Kertas saring

Bahan
1. Kalsium Klorida
2. Timbal Asetat
3. Aquades
4. Alkohol

III. Dasar teori


Saponifikasi pada dasarnya adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan mereaksikan
asam lemak khususnya trigliserida dengan alkali yang menghasilkan gliserol dan garam karboksilat
(sejenis sabun). Sabun merupakan garam (natrium) yang mempunyai rangkaian karbon yang panjang.
Reaksi dibawah ini merupakan reaksi saponifikasi tripalmitin / trigliserida.

Selain dari reaksi diatas sabun juga bisa dihasilkan dari reaksi netralisasi Fatty Acid (FA), namun
disini hanya didapat sabun tanpa adanya Gliserin (Glycerol), karena saat proses pembuatan Fatty Acid,
glycerol sudah dipisahkan tersendiri.

Selain dari minyak atau lemak dan NaOH pada pembuatan sabun dipergunakan bahan-bahan
tambahan sebagai berikut:
a Cairan pengisi seperti tepung tapioka, gapleh dan lain-lain.
b Zat pewarna
c Parfum, agar baunya wangi.
d Zat pemutih, misal natrium sulfat
Bahan baku pembuatan sabun, antara lain:
a. Minyak kelapa sawit
Mengandung asam palmitat, asam oleat, asam stearat, dan asam myfistat.
b. Minyak Zaitun
Mengandung asam palmitat, asam oleat dan asam stearat.
c. Minyak Kelapa
d. Mengandung asam palmitat, asam oleat dan asam stearat.

Minyak

Lemak dan minyak merupakan senyawa organik yang penting bagi kehidupan makhluk
hidup.Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk golongan lipida. Salah satu
sifat yang khas dan mencirikan golongan lipida adalah daya larutnya dalam pelarut organik (misalnya
ether, benzene, chloroform) atau sebaliknya ketidak-larutannya dalam pelarut air. Kelompok lipida
dapat dibedakan berdasarkan polaritasnya atau berdasarkan struktur kimia tertentu :

a. Kelompok Trigliserida ( lemak,minyak,asam lemak dan lain-lain ).

b. Kelomok turunan asam lemak ( lilin,aldehid asam lemak dan lain-lain ).

c. Fosfolipida dan serebrosida ( termasuk glikolipida ).

d. Sterol-sterol dan steroida.

e. Karotenoida.

f. Kelompok lipida lain.

Lemak dan minyak atau secara kimiawi adalah trigliserida merupakan bagian terbesar dari
kelompok lipida. Trigliserida ini merupakan senyawa hasil kondensasi satu molekul gliserol dengan
tiga molekul asam lemak.
Secara umum lemak diartikan sebagai trigliserida yang dalam kondisi suhu ruang berada dalam
keadaan padat. Sedangkan minyak adalah trigliserida yang dalam suhu ruang berbentuk cair. Secara
lebih pasti tidak ada batasan yang jelas untuk membedakan minyak dan lemak. Reaksi dan sifat kimia
pada minyak atau lemak:

1. Esterifikasi
Proses Esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari trigliserida, menjadi bentuk ester.
Reaksi esterifikasi dapat dilakukan melalui reaksi kimia yang disebut interifikasi atau penukaran
estar yang didasarkan pada prinsip trans-esterifikasi Fiedel-Craft.
2. Hidrolisa
Dalam reaksi hidrolisa, lemak dan minyak akan diubah menjadi asam-asam lemak bebas dan
gliserol, proses ini dibantu adanya asam, alkali, uap air, panas, dan eznim lipolitik seperti lipase.
Reaksi hidrolisis mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak yaitu hydrolytic rancidity yaitu
terjadi flavor dan rasa tengik pada lemak atau minyak. Hal ini terjadi karena terdapat sejumlah air
dalam lemak dan minyak tersebut.

3. Penyabunan
Reaksi ini dilakukan dengan penambahan sejumlah larutan basa kepada trigliserida. Bila
penyabunan telah lengkap, lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan dan kemudian gliserol
dipulihkan dengan penyulingan.
4. Enzimatis
Enzim yang dapat menguraikan lemak atau minyak dan akan menyebabkan minyak tersebut
menjadi tengik, ketengikan itu disebut Enzimatic rancidity Lipase yang bekerja memecah lemak
menjadi gliserol dan asam lemak serta menyebabkan minyak berwarna gelap. Enzim peroksida
membantu proses oksidasi minyak sehingga menghasilkan keton.

5. Oksidasi
Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan lemak atau minyak.
Terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik kepada minyak atau lemak
Oxidative rancidity.
6. Hidrogenasi
Proses Hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai dari karbon asam lemak pada
lemak atau minyak. Setelah proses Hidrogenasi selesai, minyak didinginkan dan katalisator
dipisahkan dengan penyaringan. Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras,
tergantung pada derajat kejenuhan.

Sifat fisika lemak dan minyak :


1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil- amin dari lecitin
2. Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatur kamar
3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia dan untuk pengujian
kemurnian minyak.
4. Minyak atau lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (Coaster oil), sedikit larut dalam
alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter, karbon disulfide dan pelarut halogen.
5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang rantai karbon.
6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami juga terjadi karena asam-asam yang
berantai sangat pendek sebagai hasil penguraian pada kerusakan minyak atau lemak
7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak atau minyak dengan
pelarut lemak
8. Titik lunak dari lemak atau minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan minyak atau lemak
9. Shot Melting point adalah temperatur pertama saat terjadi tetesan pertama dari minyak/lemak.
10. Slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta pengaruh kehadiran
komponen-komponennya.

Senyawa lemak dan minyak merupakan senyawa alam penting yang dapat dipelajari secara lebih dalam
dan relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan senyawa makro nutrien lain. Kemudahan tersebut
diakibatkan oleh:
1. molekul lemak relatif lebih kecil dan kurang kompleks dibandingkan karbohidrat atau protein.
2. molekul lemak dapat disintesis di laboratorium menurut kebutuhan.
Analisis lemak dan minyak yang umum dilakukan ,dapat digolongkan dalam tiga kelompok tujuan
berikut:
1. Penentuan kuantitatif atau penentuan kadar lemak yang terdapat dalam bahan makanan atau
pertanian.
2. Penentuan kualitas minyak (murni) sebagai bahan makanan yang berkaitan dengan proses
ekstraksinya, atau ada tidaknya perlakuan pemurnian lanjutan misalnya penjernihan, penghilangan
bau, penghilangan warna dan sebagainya.
3. Penentuan sifat fisis maupun kimiawi yang khas atau mencirikan sifat minyak tertentu.
IV. Prosedur Kerja
1. Sedikit sabun dilarutkan dalam air suling
a. Pada sebagian larutan ini ditambahkan larutan kalsium klorida. Garam kalsium dari asam
lemak tinggi mengendap.
b. Bagian lain dari larutan sabun diendapkan dengan timbale asetat.
2. Sisa sabun dimasukkan ke dalam labu destilasi, diasamkan dengan asam sulfat 10% sampai kertas
kongo berwarna biru. Kemudian destilasi. Destilasi bereaksi asam dan berbau asam butirat. Untuk
mengidentifikasi asam butirat: sedikit destilat dicampur dengan alcohol dan asam sulfat pekat,
mengocok baik-baik sambil dipanaskan dengan api kecil (hati-hati, jangan mulut tabung
diarahkan ke mata !). memindahkan isi tabung lain, maka bau etil butirat tercium.
3. Setelah destilasi, biarkan isinya menjadi dingin. Lapisan yang padat diambil, kemudian dicuci
dengan air dan alcohol. Sisa (residu) ini adalah asam lemak tinggi yang tidak menguap.
Memanaskan dengan tabung reaksi dengan sedikit alcohol sampai larut. Larutan ini dituangkan
pada cawan penguap, dimana terjadi pendinginan cepat. Asam lemak segera mengkristal. Kristal-
kristal jarum yang terbentuk dikeringkan diatas kertas saring dan ditentukan titik lelehnya (50-
60C). asam stearat meleleh pada suhu 69C, asam palmitat 62C.
V. Data Pengamatan
Pengujian sabun dengan kalsium klorida (CaCl2)

No
Perlakuan Pengamatan
.
Air sabun yang berwarna hijau ketika
1. Sampel 1 (air sabun) + CaCl2 3 gram ditambahkan CaCl2, warnanya menjadi hijau
keputihan
Sampel 2 (air sabun yang kental) + CaCl2 5 Larutan menjadi larutan berwarna hijau putih
2.
gram susu dan membentuk lapisan putih diatasnya
Sampel 1 : endapan putih berupa serbuk putih,
air sabun agak keruh
3. Sampel diaduk dan didiamkan
Sampel 2 : endapan putih dan terdapat kolid
putih dipermukaan
VI. Analisa Data
Percobaan kali ini dilakukan pengujian sabun menggunakan kalsium klorida. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui suatu produk sabun tersebut adalah benar sabun atau bukan. Sabun didapatkan dari
reaksi saponifikasi adalah reaksi hidrolisis antara basa kuat yaitu NaOH, KOH dengan asam-asam lemak
menghasilkan gliserol dan garam yang disebut dengan sabun. Sabun menjadi produk yang berasal dari
garam asam karboksilat yang tinggi.
Kemudian dilakukan pengujian sabun, sabun dilarutkan dalam air dan menghasilkan busa. Hal ini
terjadi karena air merupakan senyawa polar dan sabun, alkalinya bersifat non polar sehingga ada gaya
tarik menarik yang membentuk gumpalan-gumpalan berbentuk busa.
Pada penambahan kalsium klorida kedalam air sabun maka larutan menjadi keruh dan membentuk
endapan. Hal ini dikarenakan sabun mengendap dalam air sadah. Air sadah adalah air yang mengandung
logam-logam Ca2+ , Mg2+ , Fe2+ sehingga kalsium klorida meningkatkan kesadahan air. Reaksi air sadah
mengendapkan sabun (garam kalsium mengendap):
Ca2+ + 2(H2(CH2)16COO- (ag) Ca(CH3(CH2)16COO2) (s)
.
VII. Kesimpulan
Dari analisa percobaan yang didapat, dapat disimpulkan bahwa :
1. Sabun diperoleh dari saponifikasi yang merupakan reaksi hidrolisis antara asam lemak dan basa kuat
natrium dan kalium dan menghasilkan gliserol dan garam (sabun)
2. Sabun sukar berbusa dan menghasilkan endapan bila bereaksi dengan air sadah. Pada pengujian
ditambahkan CaCl2 dan menghasilkan endapan ion Ca2+ pada CaCl2 merupakan kandungan air sadah
yang membuat sabun menghasilkan endapan

VIII. Daftar Pustaka


Laboratorium, Kasie. 2016. Penuntun Praktikum Satuan Proses 2. Politeknik Negegeri Sriwijaya:.
Palembang
LAMPIRAN

Gelas Kimia Pipet Tetes


Erlenmeyer

Pipet Ukur Labu Takar Termometer

Penyaring
Gelas Ukur