Anda di halaman 1dari 10

UNCONVENTIONAL ENERGY

COAL BED METHANE

Choiriah (1301090), Detfis Richard P. (1301370), Melky Pratama S. (1301342)


Reza Jumadil Pratama (1301044), Yosy Andy Yonatan (1301036)
Farid Al Hasani (1301378)
Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi Balikpapan

Unconventional Energy
Energi tak konvensional adalah energi yang tersedia dalam bentuk non-
ready-form yang berarti tidak mudah untuk diekstrak. Diperlukan trik-trik dan
metode-metode khusus untuk mengekstrak energi tak konvensional ini. Contoh-
contoh energi tak konvensional adalah seperti: Natural Gas Hydrates (NGH),
Shale Gas (SG), Coal Bed Methane (CBM), dan sebagainya. Dalam klasifikasi
energi, CBM termasuk unconventional energy (peringkat 3), bersama-sama
dengan tight sand gas, shale gas, dan gas hydrate. High quality gas (peringkat 1)
dan low quality gas (peringkat 2) dianggap sebagai conventional gas.

Coal Bed Methane


Coalbed Methane (CBM) adalah salah satu jenis non-konvensional gas
yang komposisi utamanya adalah metana. CBM diproduksikan dari lapisan
batubara, tidak seperti reservoir konvensional yang umumnya diproduksi dari
reservoir batu pasir dan batu gamping. Reservoir CBM, secara sekaligus dapat
bertindak sebagai source rock dan storage reservoir.

Unsur Penyusun Utama


Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil yang terbentuk dari endapan,
batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara
memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah yang banyak, karena
permukaannya mempunyai kemampuan mengadsorpsi gas.
Meskipun batubara berupa benda padat dan terlihat seperti batu yang
keras, tapi di dalamnya banyak sekali terdapat pori-pori yang berukuran lebih
kecil dari skala mikron, sehingga batubara ibarat sebuah spon. Kondisi inilah yang
menyebabkan permukaan batubara menjadi sedemikian luas sehingga mampu
menyerap gas dalam jumlah yang besar.
Jika tekanan gas semakin tinggi, maka kemampuan batubara untuk
mengadsorpsi gas juga semakin besar. Apabila kita dapat mengurangi tekanan
reservoir ini, maka memungkinkan gas yang terperangkap akan dapat keluar dari
micropore pada batubara ini. CBM bisa terdapat pada antiklin maupun sinklin.
Secara mudahnya dapat dikatakan bahwa ada batubara ada CBM.

Gambar 1. Ilustrating Coalbed Matrix

Proses Pembentukan
Sebagian besar CBM adalah gas yang terbentuk ketika terjadi perubahan
kimia pada batubara akibat pengaruh panas, yang berlangsung di kedalaman
tanah. Ini disebut dengan proses thermogenesis.
Sedangkan untuk CBM pada lapisan brown coal (lignit) yang terdapat di
kedalaman kurang dari 200m, gas metana terbentuk oleh aktivitas
mikroorganisme yang berada di lingkungan anaerob. Ini disebut dengan proses
biogenesis. Tentu saja kuantitas gas akan semakin banyak jika lapisan batubaranya
semakin tebal.
Gambar 2. Proses Pembentukan CBM

Proses Pemboran
Teknologi CBM telah mengalami banyak perkembangan dalam 2 dekade
terakhir, akan tetapi apapun yang telah didapatkan dan dipelajari pada masa
eksplorasi, karakteristik dan management reservoir dalam konteks sumber
cadangan tetap harus menjadi pertimbangan utama. Lapangan CBM memiliki
karakter yang berbeda-beda dan begitu pula pengelolaannya.
Teknik pemboran konvensional untuk gas alam umumnya bisa
diaplikasikan untuk hampir semua CBM. Sebelum pada tahap komersial, CBM
dapat diproduksikan dimana pengetesan sumur dapat dilakukan pada 4 atau 5
sumur pertama. Pemboran CBM umumnya hampir sama dengan pemboran untuk
minyak dan gas. Bahkan dalam beberapa daerah, peralatan pemboran yang
dipakai hampir sama dengan pemboran untuk sumur air.
Selain itu, dibeberapa tempat pemboran berarah (directional drilling) dan
pemboran horizontal diterapkan untuk mengoptimalkan produksi dan juga
tergantung daerah atau lapangan CBM-nya. Pemboran horizontal sekarang ini
sedang dirintis untuk pemboran CBM. Pemboran horizontal ini dilakukan dengan
cara mengebor beberapa ratus kaki secara vertical kemudian dibelokkan secara
horizontal sampai kurang lebih 4000 ft.
Gambar 3. Pemboran CBM

Teknik ini juga memungkinkan produksi gas secara ekonomis pada suatu
lokasi yang selama ini tidak dapat diusahakan, terkait permeabilitas lapisan
batubaranya yang jelek. Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan di Australia
dan beberapa negara lain, dimana produksi gas yang efisien dilakukan dengan
sistem produksi yang mengkombinasikan sumur vertikal dan horizontal, seperti
terlihat pada gambar di bawah.

Gambar 4. Produksi CBM dengan Sumur Kombinasi

Lebih jauh lagi, telah muncul pula ide berupa sistem produksi multilateral,
yakni sistem produksi yang mengoptimalkan teknik pengontrolan arah bor. Lateral
yang dimaksud disini adalah sumur (lubang bor) yang digali arah horizontal,
sedangkan multilateral adalah sumur horizontal yang terbagi-bagi menjadi banyak
cabang.

Teknik pengontrolan arah bor menggunakan down hole motor (pada


mekanisme ini, hanya bit yang terpasang di ujung down hole motor saja yang
berputar, melalui kerja fluida bertekanan yang dikirim dari permukaan) dan bukan
mesin bor rotary (pada mekanisme ini, perputaran bit disebabkan oleh perputaran
batang bor atau rod) yang selama ini lazim digunakan, untuk melakukan
pengeboran sumur horizontal dll dari permukaan. Pada teknik ini, alat yang
disebut MWD (Measurement While Drilling) terpasang di bagian belakang down
hole motor, berfungsi untuk memonitor arah lubang bor dan melakukan koreksi
arah sambil terus mengebor.

Gambar 5. Pengontrolan arah bor

Proses Produksi
Produksi CBM dilakukan dengan proses dewatering, yaitu
memproduksikan air yang mengisi rekahan untuk menurunkan tekanan reservoir
hingga mencapai tekanan desorpsi.
Setelah mencapai tekanan desorpsi, gas metana terlepas dari permukaan
matriks batubara dan mengalir sepanjang mikropori menuju rekahan lalu ke
lubang bor. Tekanan desorpsi adalah peristiwa pelepasan molekul, ion, dan
sebagainya dari permukaan zat padat sehingga molekul atau ion itu menjadi gas
Lamanya waktu produksi air atau disebut dewatering bergantung pada
sifat-sifat fisik reservoir dan batubara serta tekanan bottomhole. Prediksi lamanya
waktu dewatering sangat penting dalam perencanaan produksi dari reservoir CBM
karena periode ini akan mempengaruhi nilai dari suatu reservoir CBM. Untuk
memprediksi lamanya periode dewatering, seorang reservoir engineer biasa
menggunakan simulasi reservoir. Akan tetapi, simulasi reservoir membutuhkan
waktu yang cukup lama dan biaya yang relatif tinggi.
Gambar 6. Proses Produksi

Pada produksi yang lokasi permukaannya terkendala oleh keterbatasan


instalasi fasilitas akibat berada di pegunungan misalnya, maka biaya produksi
memungkinkan untuk ditekan bila menggunakan metode ini. Secara praktikal,
misalnya dengan melakukan integrasi fasilitas permukaan.

Proses Stimulasi

Beberapa metode stimulasi (e-CBM) yang sering dilakukan yaitu dengan


menyuntikkan sejumlah gas (N atau CO2) ke dalam reservoir batubara, hingga
keberadaan gas tersebut akan mengubah kesetimbangan reaksi kimia senyawa
organic kompleks dengan melepas molekul gas metana dari senyawa tersebut.
Gambar di bawah ini menunjukkan produksi CBM dengan menggunakan gas
injeksi N dan CO2.
Gambar 6. E-CBM dengan N dan CO2

Bila N yang digunakan, hasilnya segera muncul sehingga volume produksi


juga meningkat. Akan tetapi, karena N dapat mencapai sumur produksi dengan
cepat, maka volume produksi secara keseluruhan justru menjadi berkurang.
Ketika N diinjeksikan ke dalam rekahan (cleat), maka kadar N di dalamnya akan
meningkat. Dan karena konsentrasi N di dalam matriks adalah rendah, maka N
akan mengalir masuk ke matriks tersebut. Sebagian N yang masuk ke dalam
matriks akan menempel pada pori-pori.

Namun tidak demikian dengan CO2. Gas ini lebih mudah menempel bila
dibandingkan dengan gas metana, sehingga CO2 akan menghalau gas metana
yang menempel pada pori-pori. CO2 kemudian segera saja banyak menempel di
tempat tersebut. Dengan demikian, di dalam matriks akan banyak terdapat CO2
sehingga volume gas itu yang mengalir melalui cleat lebih sedikit bila
dibandingkan dengan N. Akibatnya, CO2 memerlukan waktu yang lebih lama
untuk mencapai sumur produksi.

Metode lain yang dapat dilakukan adalah secara biokimia, Upaya stimulasi
biokimia dengan memanfaatkan sumber mikroba dari media/ cairan rumen ternak
ruminansia, seperti sapi dibahas dalam paper ini. Media/cairan rumen yang
merupakan limbah rumah potong hewan yang berpotensi dapat mencemari
lingkungan. Mikroba dalam media/cairan rumen diyakini memiliki kemampuan
mencerna lignin dari tanaman karena terdiri dari bakteri, protozoa yang potensial
untuk mendegradasi batubara. Tanaman itu sendiri merupakan materi utama
terbentuknya batubara.

Kelebihan
Salah satu keunggulan CBM dibandingkan dengan batubara adalah
sifatnya yang lebih ramah lingkungan. Produksi CBM tidak memerlukan
pembukaan area yang luas seperti tambang batubara. Pembakaran CBM juga tidak
menghasilkan toksin, serta tidak mengeluarkan abu dan hanya melepaskan sedikit
CO2 per unit energi dibandingkan dengan batubara, minyak, ataupun kayu.
Disamping itu, batubara dapat menyimpan gas 6-7 kali lebih banyak dari reservoir
gas konvensional, sehingga sumberdaya CBM sangat besar dan menjanjikan
untuk dikembangkan.
CBM umumnya ditemukan pada lapisan batubara yang tidak begitu dalam
sehingga biaya eksplorasi menjadi lebih murah. Keuntungan lainnya, batubara
yang telah diekstrasi gas metannya, masih tetap bisa ditambang dan digunakan
sebagai sumber energi konvensional.

Kekurangan
Mantan Wakil ESDM, Susilo Siswoutomo, mengatakan bahwa kelangkaan
pada peralatan penunjang operasi merupakan hambatan utama pengembangan
CBM. Contohnya rig sederhana yang dilakukan dalam pengeboran CBM langka.
Tumpang tindih lahan masih menjadi kendala utama pengembangan CBM,
terutama tumpang tindih pemakaian lahan dengan PKP2B/ KP Batu Bara.
Menurut Pedoman Pengembangan CBM yaitu dalam hal PKP2B/KP Batu Bara
terlebih dulu melakukan eksploitasi di lahan tersebut, maka KKKS CBM dapat
menggunakan sebagian lahan eksploitasi tersebut untuk lokasi lokasi pemboran
eksplorasi, atau fase pilot percontohan CBM dengan luas sesuai kebutuhan standar
teknis, keselamatan dan lingkungan.
Harga jual CBM yang masih terlalu rendah. Dibandingkan dengan gas
alam, CBM memiliki periode produksi yang lebih lambat. Umumnya produksi
terbesar terjadi pada periode tahun produksi ke 2 hingga ke 7. Sedangkan lama
periode produksi pada kisaran 10 hingga 20 tahun. Lebih pendek jika
dibandingkan dengan gas alam yang bisa mencapai 30 hingga 40 tahun.
Kurangnya tenaga kerja handal Pemanfaatan lapangan CBM memerlukan
keahlian khusus yang lebih tinggi dibandingkan lapangan migas konvensional.
Saat ini tenaga kerja dalam negeri masih kurang untuk memenuhi kebutuhan
kegiatan pemanfaatan. Kementrian ESDM sudah memberikan pelatihan-pelatihan
mengenai hal tersebut. Terakhir yaitu membutuhkan ilmu dan teknologi yang
lebih tinggi.

Lokasi Pengembangan di Indonesia


Indonesia memiliki potensi CBM yang cukup besar, menurut konsultan
energy Advance Resources International pada 2003 bahwa Indonesia memiliki 11
cekungan CBM. Berikut ini adalah persebaran potensi CBM di Indonesia dalam
satuan TSCF (trillion standard cubic feet). Berdasarkan evaluasi yang dilakukan
oleh Advances Resources International pada tahun 2003 cadangan CBM Indonesia
merupakan yang terbesar ke 6 di dunia.

Gambar 7. Lokasi Pengembangan CBM di Indonesia

Perhitungan Ekonomi
Perhitungannya, biaya eksplorasi satu sumur CBM sekitar US$ 400 ribu,
lebih rendah dari minyak atau gas yang rata-rata US$ 1 juta. Namun karena
jumlah sumurnya lebih banyak, sehingga total investasinya tetap tinggi. Soal
insentif, memang salah satunya bisa melalui bagi hasil. Paling tidak, bagi hasil
CBM sama dengan bagi hasil minyak di daerah pedalaman atau frontier. Di daerah
pedalaman, bagi hasilnya selama ini 65 persen untuk pemerintah, sedangkan 45
persen bagian kontraktor. Padahal bagi hasil biasanya, 85 persen bagian
pemerintah, sedangkan kontraktor hanya 15 persen.
Permintaan bagi hasil tinggi kepada investor dikarenakan kegiatan
ekplorasi CBM memiliki resiko tinggi. Apalagi pada tahun awal produksi yang
dihasilkan hanya air, yang secara bertahap baru menghasilkan CBM. Juga sumur
yang dibutuhkan untuk memproduksi CBM lebih banyak.

Sumber :
1. CBM Business Development - Team Samudra Energy Cheap Offers
2. Coal Bed Methane From Resource to Reserves by Bruce Atkin (GCA)
3. Sekitan No Hon, sub bab 45, 47, dan 48 (editor Kazuo Fujita, penerbit
Nikkan Kogyo Shinbunsha, April 2009)
4. Hamdi Halim, S1 PE Institut Teknologi Bandung, Undergraduate Theses
Persamaan Waktu Dewatering sebagai Fungsi Sifat Sifat Reservoir dan
Batubara serta Tekanan Bottomhole, 2013
5. Kamus Besar Bahasa Indonesia
6. Yanni Kusuryani dan Kosasih, M&E, Vol. 13, No. 1, Media Rumen untuk
Meningkatkan Produksi Gas Metana Batubara, 2015
7. https://imambudiraharjo.wordpress.com/2010/01/19/mengenal-cbm-coal-
bed-methane/
8. http://www.kompasiana.com/yusuf.pradana/pemanfaatan-coal-bed
methane-untuk-pemenuhan-
energi_indonesia_564c7cdf307a61b815b33689
9. https://id.wikipedia.org