Anda di halaman 1dari 4

A.

PENGANTAR KONSEP PUBLIC PRIVATE PARTNERSHIP


1. Pengertian Public Private Partnership
Public private partnersip (PPP) adalah perjanjian antara pihak pemerintah dan
swasta untuk bisa mencapai tujuan dari pemerintah dan memberikan keuntungan pula
pada pihak swasta, dan tentu saja terdapat pembagian risiko antara keduanya. PPP
memiliki ciri-ciri antara lain:
a. dilakukan kerjasama/perjanjian antara pihak pemerintah dan pihak swasta;
b. menghasilkan suatu tujuan, baik berupa barang atau jasa;
c. pihak swasta mendapatkan keuntungan atas kerjasama tersebut;
d. pembagian risiko antara pihak yang berkerjasama.
Manfaat yang didapat oleh pihak pemerintah dalam pelaksanaan skema PPP
menurut Farquharson (2011, 4) antara lain:
a. menciptakan efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya yang dimiliki, dengan
pengelolaan risiko yang optimal antara pihak pemerintah dan privat, mulai dari
perencanaan sampai dengan proses lelang dapat menciptakan efisiensi penggunaan
sumber daya dari pemanfaatan aset, seperti pihak privat yang memiliki kualitas
konstruksi dan efisiensi biaya yang lebih baik;
b. pembagian risiko, modal yang digunakan dalam jangka panjang memberikan pihak
privat insentif untuk merancang dan membangun aset dengan tepat waktu dan sesuai
dengan anggaran dengan tetap memperhitungkan biaya pemeliharaan;
c. jaminan atas kualitas dan pengawasan, PPP biasanya melibatkan banyak quality
assurance dari pada proses pengadaan biasa di mana Pemerintah akan mendapat
pengawasan oleh pihak luar pemerintah, seperti pemberi pinjaman dan juga investor;
d. pengawasan yang lebih terbuka dan komitmen jangka panjang dari pelaksanaan PPP
biasanya membutuhkan informasi tentang risiko jangka panjang yang sesuai, maka
dalam pelaksanaanya dibutuhkan tambahan quality assurance dan juga pengawasan
yang lebih dari pada pengadaan biasa.

2. Konsep Pelaksanaan Public Private Partnership


Konsep awal PPP merupakan skema penyediaan barang/jasa yang merupakan
perpaduan dari pihak publik dan pihak privat. Jika biasanya dalam penyediaan
barang/jasa pihak publik dan privat masing-masing menyediakan barang sendiri, yang
disebutkan sebagai pure public dan pure private, dalam skema ini kerjasama dan
perjanjian antar kedua sektor tersebut sangat dibutuhkan. PPP memiliki banyak bentuk
kerjasama yang dikembangkan, dimana ini didasarkan atas modal dan juga risiko dalam
pelaksanaan proyek. Bentuk ini merupakan perkembangan dari pengadaan yang
dilakukan oleh sektor publik. Penyediaan barang/jasa biasanya bekerja sama dengan
pihak swasta, tetapi hanya sebatas untuk menyediakan barang/jasa sesuai spesifikasi
pemerintah, dan pemerintah yang mengeluarkan belanja untuk membayarnya.
Beberapa tipe perjanjian yang biasa digunakan dalam pelaksanaan skema PPP
antara lain:
a. Buy-Build-Operate (BBO): pengalihan aset pada pihak privat dilakukan atas
kontrak bahwa aset harus ditingkatkan dan dioperasikan untuk jangka waktu
tertentu. Pemerintah dapat melakukan kontrol atas aset setelah selesai kontrak
dan diikuti transfer atas aset;
b. Build-Own-Operate (BOO): pihak privat membiayai, membangun, memiliki dan
mengoperasikan fasilitas dalam masa konsesi di mana pihak privat dapat
mengenakan biaya dengan persetujuan pemerintah dari pemakai jasa
infrastruktur yang dibangunnya;
c. Build-Own-Operate-Transfer (BOOT): pihak privat menerima hak atas
pembiayaan, mendesain, membangun dan mengoperasikan dan dapat
mengenakan biaya atas penggunaan dalam waktu tertentu dan kepemilikan
akan ditransfer kepada pihak pemerintah;
d. Build-Operate-Transfer (BOT): pihak privat mendesain, membiayai dan
membangun fasilitas baru dalam kontrak konsesi jangka panjang, dan
mengoperasikannya dalam waktu konsesi di mana setelah selesai waktu
konsesi selesai, fasilitas tersebut diserahkan kembali kepada pemerintah sesuai
dengan perjanjian yang sudah disepakati;
e. Build-Lease-Operate-Transfer (BLOT): pihak privat menerima hak untuk
membiayai, mendesain, membangun dan mengoperasikan fasilitas tersebut
dengan mengenakan biaya pada pengguna leasing tersebut;
f. Design-Build-Finance-Operate (DBFO): pihak swasta mendesain, membiayai
dan membangun fasilitas baru dalam kontrak jangka panjang dan
mengoperasikan dengan sistem leasing, kemudian mentransfer kepada pihak
pemerintah setelah masa kontrak;
g. Finance Only: pihak privat, yang biasanya perusahaan jasa keuangan
membiayai secara langsung proyek dengan mekanisme leasing atau dengan
penerbitan obligasi;
h. Operation & Maintenance Contract (O & M): pihak privat mempunyai kontrak
mengoperasikan aset pemerintah, dengan kepemilikan aset tetap pada
pemerintah;
i. Design-Build (DB): pihak privat mendesain dan membangun infrastruktur sesuai
spesifikasi dengan harga tetap, sehingga risiko atas biaya yang lebih tinggi
ditanggung pihak privat;
j. Operation License: pihak privat menerima lisensi atau hak untuk
mengoperasikan layanan umum, dengan jangka waktu tertentu di mana
biasanya dilakukan pada proyek teknologi informasi.

3. Kerangka Pelaksanaan Public Private Partnership


Kerangka dalam pelaksanaan PPP diperlukan untuk memberikan kepastian hukum
dan pelaksanaan yang lebih baik bagi pihak publik ataupun pihak privat. Kerangka
tersebut disesuaikan dengan masing-masing negara yang menggunakan skema PPP
tersebut.
a. Kebijakan PPP, kebijakan merupakan suatu niat pemerintah untuk
melaksanakan PPP untuk memberikan barang/jasa bagi masyarakat. Kebijakan
meliputi tujuan, ruang lingkup, dan prinsip-prinsip pelaksanaan program.
b. Proses PPP dan kelembagaan yang bertanggung jawab, dimana pada tahap ini
dilakukan identifikasi, pengembangan, penilaian, penerapan, dan pengelolaan
dari PPP, serta peran entitas yang berbeda dalam proses tersebut.
c. Tata kelola program PPP, dimana entitas lain seperti legislatif, auditor, dan
masyarakat berpartisipasi dalam program PPP, mereka yang bertanggung
jawab agar pelaksanaan PPP dapat akuntabel.
d. Pengelolaan keuangan publik, dimana komitmen fiskal dalam pelaksanaan PPP
dapat dikendalikan, dilaporkan, dan dianggarkan, untuk memastikan PPP
memberikan value for money, tanpa menempatkan beban yang tidak
semestinya untuk generasi mendatang, dan untuk mengelola risiko fiskal.
e. Kerangka hukum dan peraturan perundang-undangan, dimana peraturan yang
ada diharapkan dapat mendukung program PPP, mulai dari landasan
pelaksanaan PPP, aturan dan batas-batas pelaksanaan PPP.

4. Proses Pelaksanaan Public Private Partnership


a. Identifikasi proyek.
Tahap ini dilakukan dengan mengidentifikasi proyek-proyek yang berpotensi
untuk menggunakan skema PPP. Tahap ini merupakan tahap awal, dimana
dilakukan pengembangan konsep dan analisis awal untuk menilai potensi value
for money dari proyek PPP tersebut, selanjutnya diperlukan pula persetujuan,
agar proyek tersebut dapat dilaksanakan dengan skema PPP.
b. Penataan dan penilaian proyek.
Usulan-usulan proyek yang ada diidentifikasi untuk mempelajari kelayakannya
secara teknis, ekonomi, keuangan, hukum, dan lingkungan. Ketika studi
kelayakan telah dilaksanakan, dikembangkan usulan kontrak, alokasi risiko, dan
mekanisme pembayaran.
c. Perancangan kontrak PPP.
Merupakan langkah akhir dalam menyiapkan pengadaan dari proses PPP. Pada
tahap ini menyusun kontrak dari pelaksanaan PPP dan perjanjian lain yang
diperlukan.
d. Pelaksanaan PPP.
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan transaksi dimana pemerintah akan
memilih pihak swasta yang akan melaksanakan PPP. Hal ini biasanya
melibatkan mempersiapkan dan melakukan proses pengadaan yang kompetitif.
e. Pengelolaan PPP.
Kontrak PPP yang telah mencapai financial close, maka pemerintah harus
mengelola kontrak PPP selama masa pakainya. Hal ini melibatkan pemantauan
dan menegakkan persyaratan kontrak PPP, dan mengelola hubungan antara
pemerintah dan swasta.