Anda di halaman 1dari 21

CHAPTER 8

UNREGULATED CORPORATE REPORTING DECISION

DISUSUN OLEH :

1. Asyariy
( 01022681620010 )

2. Garsih ( 010226816200
)

3. Astro Yudha Kertarajasa

( 010226816200 )

PROGRAM PASCA SARJANA ILMU EKONOMI


BIDANG KAJIAN UTAMA AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2016

1
1. PENDAHULUAN
Teori legitimasi, stakeholder teori dan teori kelembagaan berasal
dari teori ekonomi politik. Ekonomi politik adalah kerangka social, politik
dan ekonomi dimana kehidupan manusia berlangsung (gray, owen &
adams 1996, hal.47) masalah ekonomi tidak dapat diselidiki tanpa
adanya mempertimbangkan kerangka politik. Social dan kelembagaan
dimana kegiatan ekonomi berlangsung. Laporan perusahaan tidak
dianggap netral dan tidak bias, tetapi produk dari pertukaran antara
perusahaan dan lingkungannya.

2. PEMBAHASAN
Pekembangan di abad ke 20 tepatnya pada tahun 1960
menyebabkan orang mulai melihat kembali pada istilah ekonomi politik.
Meskipun pemahaman mengenai ekonomi politik klasik berbeda dengan
ekonomi politik modern, akan tetapi secara umum disepakati bahwa
pendekatan ekonomi politik sangat diperlukan, terutama dalam
menjelaskan fenomena ekonomi maupun fenomena politik yang secara
signifikan dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi dan faktor-faktor politik.
Dalam perkembangan berikutnya, terutama setelah diterbitkannya buku
yang berjudul Politics, Economics and Welfare pada tahun 1953
karya Charles Lindblom dan Robert Dahl, usaha untuk memahami
keterkaitan antara fenomena ekonomi dan politik yang saling berinteraksi
semakin menonjol. ada beberapa pemikiran yang dapat disimpulakan dari
buku tersebut, yaitu :
1) Terdapat perbedaan sudut pandang antara ekonomi politik dengan
ekonomi konvensional, terutama berkaitan dengan interaksi antara
ekonomi politik di zaman modern saat ini.
2) Terdapat perbedaan antara ekonomi politik modern dengan ekonomi
politik klasik, yang berkenaan dengan dinamika hubungan antara
pasar dengan kebijakan pemerintah, serta masyarakat yang terkena
dampak dari hubungan tersebut.
3) Terdapat kerancuan antara ekonomi politik dengan studi ekonomi
pembangunan.

2
4) Dikatakan bahwa ekonomi politik di dalam menganalisis berbagai
masalah, selain menggunakan pendekatan kuantitatif juga memakai
teori-teori atau alat analisis dari ilmu sosial lain.
5) Dikatakan bahwa ekonomi politik digunakan juga untuk membahas
masalah-masalah sosial lain sepanjang ada kaitannya dengan
kegiatan perekonomian.
6) Dikatakan bahwa ekonomi politik modern banyak membahas
ketidakadilan berkenaan dengan pemerataan pendapatan,
kemiskinan, pertumbuhan dan struktur lainnya, baik dalam sistem
ekonomi nasional maupun sistem ekonomi internasional.
Gray mendefinisikan ekonomi politik sebagai kerangka pikir
yang mengkaitkan masalah sosial, politik dan ekonomi. Masalah ekonomi
tidak dapat dipisahkan tanpa memperhatikan masalah sosial. Dengan
menggunakan ekonomi politik seorang peneliti dapat memperhatikan isu-
isu (sosial) yang lebih luas yang berdampak pada perusahaan, dan
informasi apa yang harus diungkapkan. Guthrie dan Parker (1990)
menyatakan bahwa perspektif ekonomi politik memandang pelaporan
akuntansi sebagai dokumen sosial, politik, dan ekonomi. Pelaporan
akuntansi digunakan sebagai alat untuk pembangunan, penjagaan, dan
legitimasi institusi-institusi ekonomi dan politik. Pengungkapan
mempunyai kapasitas untuk menyalurkan makna-makna sosial, politik,
dan ekonomi bagi pembaca laporan yang plural. Terdapat 2 aliran teori
ekonomi politik, yaitu :
1. Teori ekonomi politik klasik
Berkaitan dengan karya-karya marx yang mempertimbangkan
kepentingan kelas, konflik structural, ketidakadilan dan peran negara.
Laporan akuntansi dan pengungkapan adalah suatu cara
mempertahankan posisi disukai orang-orang yang mengendalikan
sumber daya yang langkah. Teori ini focus pada konflik structural dalam
masyarakat.
2. Teori ekonomi politik bourgeois
Tidak secara explicit mempertimbangkan konflik structural dan
perjuangan kelas namun prihatin dengan interaksi antara kelompok-
kelompok didunia yang pada dasarnya pluralistic. Legistimasi teori dan

3
stakeholder teori berasal dari cabang ini. Teori ini tidak
mempertanyakan atau mempelajarin struktur kelas dalam masyarakat.

Ekonomi Politik klasik/neoklasik berakar dari mazhab ekonomi


klasik yang menjadi sumber terpenting perumusan kebijakan ekonomi
abad 20 dan 21. Mazhab ini yang menjadi cikal bakal system ekonomi
kapitalis. Sistem ekonomi kapitalis tegak oleh 4 pilar dasar yaitu :
1) Kegiatan ekonomi dalam sistem kapitalis digerakkan dan dikoordinasi
oleh pasar (bebas) dengan instrument harga sebagai penanda
(sinyal).
2) Setiap individu mempunyai kebebasan untuk mempunyai hak
kepemilikan (property rights) sebagai dasar melakukan transaksi
(exchange).
3) Kegiatan ekonomi dipisahkan oleh tiga pemilik factor produksi, yakni
pemodal (capital), tenaga kerja (labor), dan pemilik lahan (land).
4) Tidak ada halangan bagi pelaku ekonomi untuk masuk dan keluar
pasar (free entry and exit barriers).
Dalam hal penguatan pasar, kegiatan ekonomi digerakkan oleh
sector swasta lewat pasar, sehingga bisa mendeskripsikan preferensi
setiap individu. Ekonomi kapitalis sangat tergantung dari kelembagaan
yang memapankan dan menjamin hak kepemilikan privat secara sukarela
berdasarkan kontrak. Ekonomi politik klasik dibangun dengan dua pokok
pikiran, yaitu pasar dapat meregulasi sendiri (self- regulating market) dan
eksistensi teori nilai dan distribusi (value and distribution). Premis self-
regulating market merupakan doktrin tentang ketangguhan pasar dalam
mengorganisasi kegiatan atau transaksi ekonomi yang dipandu oleh sinyal
harga dan perilaku mencari keuntungan (profit-seeking behavior).
Sedangkan teori value and distribution menyatakan bahwa nilai suatu
barang atau jasa diturunkan dari system pembagian kerja, disini harga
suatu barang atau jasa dihitung dari jumlah (jam kerja) tenaga kerja yang
digunakan.
Ekonomi politik dalam pendekatan klasik dimaknai sebagai
hubungan di antara dua kelembagaan, yaitu pasar dan Negara. Ekonomi
politik mempercayai bahwa seluruh kegiatan ekonomi seharusnya dapat

4
diorganisir oleh pasar. Hanya dalam aspek distribusi pendaatan saja
Negara diharapkan kehadirannya karena dalam realitas soal distribusi
pendapatan ini berkait dengan perjuangan kelas. Watak dasar dari
Ekonomi Politik Klasik adalah memberikan garansi sepenuhnya pada
pasar untuk menggerakkan dan mengartikulasikan kegiatan ekonomi.
Peran Negara dibatasi pada persoalan non-ekonomi. Disini soal distribusi
pendapatan pun dianggap sebagai masalah politik ketimbang ekonomi.
Ekonomi Politik Neoklasik sendiri tumbuh seiring dengan
munculnya marginalist pada era 1780-an. Pusat pemikiran neoklasik
adalah menempatkan individu sebagai constrained choice. Inti dari
pandangan ini adalah individu merupakan agen yang memilih, yaitu
seseorang yang memutuskan beberapa alternatif dari tindakannya
berdasarkan imajinasi tentang dampak dari keputusan tersebut terhadap
dirinya. Secara singkat, Ekonomi Politik Neoklasik sebetulnya bertumpu
pada pemahaman tentang keterbatasan pasar sebagai kelembagaan yang
dapat memfasilitasi kepuasan individu.
Pandangan Adam Smith atas konsep nilai dibedakan menjadi 2
yaitu nilai pemakaian dan nilai penukaran. Hal ini menimbulkan paradok
nilai, yaitu barang yang mempunyai nilai pemakaian (nilai guna_ yang
sangat tinggi, misalnya air dan udara, tetapi mempunyai nilai penukaran
yang sangat rendah. Malahan boleh dikatakan tidak mempunyai nilai
penukaran. Sedangkan di sisi lain barang yang nilai gunanya sedikit tetapi
dapat memiliki nilai penukaran yang tinggi, seperti berlian. Hal ini baru
diselesaikan oleh ajaran nilai subyektif.
David Ricardo (1772-1823) seorang tokoh aliran klasik menyatakan
bahwa nilai penukaran ada jikalau barang tersebut memiliki nilai
kegunaan. Dengan demikian sesuatu barang dapat ditukarkan bilamana
barang tersebut dapat digunakan. Seseorang akan membuat sesuatu
barang, karena barang itu memiliki nilai guna yang dibutuhkan oleh orang.
Selanjutnya David Ricardo (1772-1823) juga membuat perbedaan antara
barang yang dapat dibuat dan atau diperbanyak sesuai dengan kemauan
orang, di lain pihak ada barang yang sifatnya terbatas ataupun barang
monopoli (misalnya lukisan dari pelukis ternama, barang kuno, hasil buah

5
anggur yang hanya tumbuh di lereng gunung tertentu dan sebagainya).
Dalam hal ini untuk barang yang sifatnya terbatas tersebut nilainya sangat
subyektif dan relatif sesuai dengan kerelaan membayar dari para calon
pembeli. Sedangkan untuk barang yang dapat ditambah produksinya
sesuai dengan keinginan maka nilai penukarannya berdasarkan atas
pengorbanan yang diperlukan.
Perspektif ekonomi politik memandang laporan akuntansi sebagai
social politik dan dokumen ekonomi. Mereka berfungsi sebagai alat untuk
membangun, mempertahankan dan melegitimasi ekonomi dan politik
pengaturan, lembaga dan tema-tema ideologis yang berkontribusi untuk
kepentingan korporasi sendiri. Pengungkapan memiliki kapasitas untuk
mengirimkan makna social, politik dan pengungkapan memiliki kapasitas
untuk mengirimkan makna social, politik dan ekonomi untuk satu set
penerima laporan yang pluralistik. Guthrie dan Parker (1990, hal 166)
menyatakan lebih lanjut bahwa laporan perusahaan tidak dapat dianggap
sebagai dokumen netral, tidak memihak (atau mewakili), banyak badan
akuntansi professional mungkin menyarankan, tetapi lebih merupakan
sebuah produk dari pertukaran antara perusahaan dan lingkungannya dan
berusaha untuk menengahi dan mengakomodasi berbagai kepentingan
bagian.

2.1. Legitimasi Teori


Teori legitimasi berfokus pada interaksi antara perusahaan dengan
masyarakat. Teori ini menyatakan bahwa organisasi adalah bagian dari
masyarakat sehingga harus memperhatikan norma-norma social
masyarakat karena kesesuaian dengan norma social dapat membuat
perusahaan semakin legitimate. Menurut Dowling dan Pfeffer dalam
Ghozali dan Chairi (2007). Legitimasi adalah hal yang penting bagi
organisasi, batasan-batasan yang ditekankan oleh norma-norma dan nilai-
nilai social dan reaksi terhadap batasan tersebut mendorong pentingnya
analisis perilaku organisasi dengan memperhatikan lingkungan.
Teori Legitimasi menjadi landasan bagi perusahaan untuk
memperhatikan apa yang menjadi harapan masyarakat dan mampu

6
menyelaraskan nilai-nilai perusahaannya dengan norma-norma social
yang berlaku di tempat perusahaan tersebut melangsungkan kegiatannya.
Perusahaan dapat melakukan investasi lingkungan sebagai salah satu
bentuk perhatian masyarakat terhadap lingkungan dan masyarakat.
Menurut Dowling dan Pfeffer (1957), ketika ada perbedaan antara nilai-
nilai yang dianut perusahaan dengan nilai-nilai masyarakat, maka
perusahaan akan berada pada posisi terancam. Perbedaan ini dinamakan
Legitimacy Gap dan dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk
melanjutkan kegiatan usahanya. Perusahaan harus memantau dan
mengevaluasi ketika menemukan kemungkinan munculnya gap tersebut.

2.1.1. Legitimacy, public Expectations and The Social Contract


Teori legitimasi menyatakan organisasi secara kontinyu mencari
cara agar beroperasi dalam batas norma-norma masyarakat, artinya
bahwa operasi perusahaan dipandang oleh orang lain sebagai hal yang
legitimate. Norma yang ada selalu berubah, sehingga perusahaan harus
menyesuaikan. Lindblom (1994) membedakan legitimasi sebagai status
atau kondisi, dan legitimasi sebagai proses yang mengarah ke sebuah
organisasi yang divonis/diputuskan sah. Teori legitimasi didasarkan pada
ide bahwa ada kontrak sosial antara perusahaan dengan masyarakat.
Ghozali dan Chariri (2007) menyatakan bahwa hal yang mendasari
teori legitimasi adalah kontrak social antara perusahaan dengan
masyarakat dimana perusahaan beroperasi dan menggunakan sumber
ekonomi. Shooker dan Sethi dalam Ghozali dan Chariri (2007)
memberikan penjelasan tentang konsep kontrak sosial, yaitu : Semua
institusi sosial tidak terkecuali perusahaan beroperasi di masyarakat
melalui kontrak sosial, baik eksplisit maupun implicit, dimana
kelangsungan hidup pertumbuhannya didasarkan pada hasil akhir yang
secara sosial dapat diberikan kepada masyarakat luas dan distribusi
manfaat ekonomi, sosial atau politik kepada kelompok sesuai dengan
power yang dimiliki. Deegan, Robin dan Tobin (2002) menyatakan bahwa
legitimasi perusahaan akan diperoleh, jika terdapat kesamaan antara hasil
dengan yang diharapkan oleh masyarakat dari perusahaan, sehingga

7
tidak ada tuntutan dari masyarakat. Perusahaan dapat melakukan
pengorbanan sosial sebagai refleksi dari perhatian perusahaan terhadap
masyarakat.

2.1.2. Legitimacy and Changing Social Expectations


Teori legitimasi sangat bermanfaat dalam menganalisis perilaku
organisasi, karena teori legitimasi adalah hal yang paling penting bagi
organisasi. Batasan-batasan yang ditekankan oleh norma-norma dan nilai-
nilai sosial serta reaksi terhadap batasan tersebut mendorong pentingnya
analisis perilaku organisasi dengan memperhatikan lingkungan. Teori
legitimasi menekankan perusahaan untuk mempertimbangkan hak-hak
publik. Kegagalan untuk memenuhi harapan sosial (kontrak sosial) ini
akan menimbulkan sanksi dari masyarakat. Social contract merupakan
harapan implisit dan eksplisit bahwa dimilki masyarakat sekitar bagaimana
organisasi harus melakukan kegiatan operasional persyaratan hukum
yang mungkin memberikan persyaratan eksplisit kontrak, sementara yang
lain mewujudkan harapan masyarakat yang implisit. Ide kontrak sosial ini
bukanlah barang baru, tapi sudah lama didiskusikan oleh para filsuf
seperti Thomas Hobbes, John Locke, dan Rousseou.

2.1.3. Use of Accounting Reports in Legitimation Strategies


Cara atau alat perusahaan untuk melegetimasi menurut Dowling
dan Pfeffer adalah sebagai berikut:

1. Menyesuaikan output, tujuan dan metode operasinya sesuai norma


legitimasi masyarakat.
2. Menggunakan alat komunikasi untuk mengubah pandangan
masyarakat
3. Mengkomunikasikan maksudnya agar sesuai dengan symbol-simbol
legitimasi masyarakat.
4. Sesuai dengan Dowling dan Pfeffer, perusahaan dapat menggunakan
laporan tahunan perusahaan sebagai public disclosure. Misal,
perusahaan menyediakan informasi untuk menangkal berita negatif.

8
5. Hurst (1970) menyatakan bahwa salah satu fungsi akuntansi adalah
untuk melegitimasi eksistensi perusahaan. Perusahaan yang
beroperasi tidak sesuai dengan norma/harapan masyarakat akan
kena finalti. Istilah lisensi beroperasi merujuk ke pengertian kontrak
sosial Teori Legitimasi Organisasi dan CSR

2.1.4. Corporate Views On The Importance of The Social Contract


Teori legitimasi organisasional telah mendasari penelitian-penelitian
tentang tanggungjwab sosial perusahaan (CSR) dan telah terus menerus
diacu secara luas, dikembangkan dan diuji melalui sejumlah kajian empiris
(Cho, 2007). Tilling (2006), mengemukakan bahwa Teori Legitimasi
Organisasional merupakan sebuah proses, legitimasi dimana organisasi
berupaya mencari persetujuan atau menghindari sanksi dari kelompok
masyarakat. Sebuah insitusi harus terus menerus berupaya untuk
memenuhi legitimasi dan relevansinya dengan menunjukkan bahwa
masyarakat memerlukan keberadaan perusahaan dan kelompok-
kelompok yang berkepentingan memperoleh manfaat dari perusahaan
(Shocker and Sethi, 1973 dalam Dincer 2011). Branco & Rodigues (2006)
mengungkapkan bahwa teori legitimasi dapat menjelaskan pengungkapan
tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh bank-bank di Portugis. Rankin,
Winsor dan Wahyuni (2008) menemukan bahwa perusahaan-perusahaan
di Australia secara sukarela menyampaikan Greenhouse Gas (GHG)
disclosure.
Pendukung teori legitimasi mengatakan bahwa untuk mengurangi
biaya tekanan politik, maka perusahaan-perusahaan akan memenuhi
tuntutan tersebut supaya terhindar dari biaya politik yang lebih jauh (Cho,
Freedman, & Patten, 2009). Diterbitkannya Undang-undang No. 40 tahun
2007, merupakan salah satu bentuk tekanan dari luar, yang mau tidak
mau membuat perusahaan mematuhinya. Vourvachis (2008)
mengemukakan ketika legitimasi organisasi terancam maka organisasi
tersebut akan memenuhi tekanan dari luar, dengan demikian dapat
menyelamatkan reputasinya sehingga tetap memperoleh restu dari
stakeholder untuk meneruskan aktivitasnya (Deegan 2002).

9
Pada penelitian sebelumnya (Branco & Rodigues 2006; Rankin,
Winsor dan Wahyuni 2008; Cho 2007), teori legitimasi digunakan untuk
menjelaskan motivasi perusahaan mengimplementasikan CSR. Investor
diperkirakan akan merespon positif upaya manajemen untuk menerapkan
CSR, sesuai UU No. 40 tahun 2007. Hal ini mengingat, investor memiliki
kepentingan yang sama yaitu untuk memperoleh restu pemangku
kepentingan, sehingga dapat menghindarkan perusahaan dari biaya politik
lebih jauh (Tilling 2006; Shocker and Sethi, 1973 dalam Dincer 2011;
Deegan 2002; Cho et.al 2009). Untuk membuktikan hal tersebut, maka
hipotesis yang akan dibuktikan adalah Hipotesis pertama.
Hipotesis ke 1 : Menggunakan sudut pandang teori legitimasi
organisasional, maka investor merespon positif penerapan CSR.
Dalam pengambilan keputusan, Investor bertanggung jawab untuk
melakukan hal tersebut, salah satu dasar untuk pengambilan keputusan
adalah informasi tentang kinerja perusahaan. Pendekatan Decision
Usefulness mengasumsikan bahwa investor rasional dalam membuat
keputusan ketika dihadapkan pada kondisi ketidakpastian (Scott 2012).
Teori ini menjelaskan mengapa investor memilih untuk merespon negatif
implementasi CSR ketika investor melihat bahwa kinerja perusahaan tidak
menjadi lebih baik sebagaimana yang diharapkan, terlepas bahwa CSR
adalah bagian dari upaya untuk menjaga eksistensi perusahaan. Hasil
penelitian Becchetti & Ciciretti ( 2006) membuktikan bagaimana investor
merespon negative penerapan CSR, hal ini dapat dilihat dari rata-rata
return yang lebih rendah dari investasi yang socially responsible dan
tingkat pengembalian saham-saham yang ber-CSR tidak berbeda dengan
saham non-CSR. Dalam meta-studi yang dilakukan, Griffin & Mahon
(1997) memetakan kinerja tanggung jawab sosial dan kinerja keuangan
yang berkorelasi positif.
CSR disatu sisi diperlukan sebagai upaya meraih legitimasi dari
stakeholder sehingga perusahaan dapat melangsungkan kegiatannya,
investor disisi lain, akan bertindak rasional dalam menilai manfaat CSR,
melihat apakah perusahaan-perusahaan yang menerapkan CSR diikuti
dengan kinerja yang makin meningkat. Dincer (2011), dalam studinya

10
tentang respon pemegang saham terhadap CSR, mengemukakan temuan
yang agak ekstrim bahwa institusi keuangan,investor dan pemegang
saham yang menyebar (dispersed shareholders) hanya tertarik dengan
kinerja keuangan perusahaan dan bukan pada aktivitas keberlanjutan
yang strategis.
CSR dipandang tidak sejalan dengan tujuan untuk memaksimalkan
profitabiltas pemegang saham, dengan CSR akan ada tambahan beban
yang pada akhirnya mengurangi laba perusahaan (Utama 2008). Hamilton
(2003) dalam Jinghua (2008), juga mengingatkan bahwa aspek kinerja
penting untuk diperhatikan, karena seringkali perusahaan-perusahaan
yang mengalami tekanan dari luar (dalam kondisi di Indonesia, kewajiban
melaksanakan CSR sesuai UU No 40 tahun 2007), mengambil kebijakan-
kebijakan yang tidak efisien demi memenuhi tuntutan otoritas pemangku
kepentingan tertentu yang akhirnya mengorbankan kepentingan
sekelompok pihak lain termasuk investor. Ketika aktivitas-aktivitas yang
dilakukan perusahaan mengganggu kinerja perusahaan, maka investor
akan bertindak rasional. Tindakan rasional investor nampak dari harga
saham yang turun sehingga berakibat abnormal return perusahaan juga
turun, sebaliknya jika investasi dalam aktivitas tanggung jawab sosial
menghasilkan kinerja yang positif, maka investor akan memberikan
respon yang positif (Greoening & Kanuri 2012). Arya & Zang (2009)
menemukan bahwa inisiatif CSR yang high-value berasosiasi secara
signifikan dengan abnormal return yang lebih tinggi dibandingkan dengan
inisiatif CSR yang low-value. Menggunakan pendekatan decision
usefulness, maka hipotesis kedua yang diajukan.
Hipotesis ke 2 : Dengan mendasarkan pada decision usefulness theory,
maka investor akan merespon positif penerapan CSR bagi perusahaan-
perusahaan yang menunjukkan kinerja yang bagus, dan respon negatif
jika kinerja perusahaan buruk.
Perusahaan besar mengalami tekanan yang jauh lebih kuat untuk
memenuhi berbagai peraturan dan ketentuan dibanding dengan
perusahaan kecil karena itu perusahaan-perusahaan besar lebih
berkepentingan untuk memenuhi tuntutan stakeholder secara luas

11
dibanding dengan perusahaan kecil (Lang and Lundholm, 1993). Namun
menggeneralisasi hasil perusahaan besar untuk diterapkan pada
perusahaan kecil dan sebaliknya, sangat membahayakan (Adler and
Milne, 1997). Sejalan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan
pengujian untuk melihat perbedaan respon investor pada perusahaan
besar dan perusahaan kecil, dimana perusahaan besar adalah
perusahaan yang termasuk pada kelompok big cap, sedangkan
perusahaan kecil adalah perusahaan yang tidak termasuk pada kelompok
big cap atau diistilahkan non-big cap, sehingga hipotesis 3 adalah:
Hipotesis ke 3 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap respon
investor atas penerapan CSR

2.1.5. Empirical Test of Legitimacy Theory


Uji Empirik Terhadap Teori Legitimasi digunakan oleh banyak
peneliti meneliti praktek pelaporan sosial dan lingkungan. Uji Empirik
Terhadap Teori Legitimasi digunakan untuk mencoba untuk menjelaskan
pengungkapan. Pengungkapan merupakan bagian dari strategi portofolio
dilakukan untuk membawa legitimasi atau mempertahankan legitimasi
organisasi. Pada penelitian yang dilakukan oleh Hogner (1982)
meneliti corporate social reporting dalam laporan tahunan pada US
Steel Corporation selama 8 tahun menunjukkan bahwa luasnya social
disclosure dari tahun ke tahun bervariasi, dan variasi tsb mungkin karena
harapan masyarakat yang juga berubah. Bagaimana cara perusahaan
menentukan harapan-harapan masyarakat? Caranya dengan meneliti
melalui koran/media.
Teori legitimasi sangat mirip dengan political cost hypothesis yang
ada dalam positive accounting theory. Selain ada kemiripan, ada juga
perbedaanya yaitu teori legitimasi tidak berdasarkan pada asumsi
ekonomi bahwa semua tindakan didorong oleh kepentingan pribadi
(maksimisasi kesejahteraan). Juga tidak menggunakan asumsi efisiensi
pasar.

12
2.1.6. Distinguishing Legitimacy Theory From Positive Accounting
Theory
Legitimasi Teori vs Positif Teori Akuntansi Teori Legitimasi telah
dibandingkan dengan hipotesis biaya politik PAT dan bergantung pada
gagasan tentang kontrak sosial. Ini tidak bergantung pada asumsi
berbasis ekonomi bahwa semua tindakan didorong oleh kepentingan
pribadi dan maksimalisasi kekayaan atau membuat asumsi tentang
efisiensi pasar.

2.2. Stakeholder Theory


Perusahaan tidak hanya sekedar bertanggungjawab terhadap para
pemilik (Shareholder) sebagaimana terjadi selama ini, namun bergeser
menjadi lebih luas yaitu pada ranah sosial kemasyarakatan (stakeholder),
selanjutnya disebut tanggungjawab social (Social responsibility).
Fenomena seperti ini terjadi, karena adanya tuntutan dari masyarakat
akibat negative externalities yang timbul serta ketimpangan social yang
terjadi (Harahap, 2002) dalam buku Nor Hadi (2011,93).
Untuk itu, tanggungjawab perusahaan yang semula hanya di ukur
sebatas pada indicator ekonomi (economic focused) dalam laporan
keuangan, kini harus bergeser dengan memperhitungkan factor-faktor
social (social dimentions) terhadap stakeholder, baik internal maupun
external. Stakeholder adalah semua pihak baik internal maupun external
yang memiliki hubungan baik bersifat mempengaruhi maupun
dipengaruhi, bersifat langsung maupun tidak langsung oleh perusahaan.
Dengan demikian, stakeholder merupakan pihak internal maupun external,
seperti : pemerintah, perusahaan pesaing, masyarakat sekitar, lingkungan
internasional, lembaga di luar perusahaan (LSM dan sejenisnya ),
lembaga pemerhati lingkungan, para pekerja lingkungan perusahaan,
kaum minoritas dan lain sebagainya yang keberadaannya sangat
menpengaruhi dan dipengaruhi perusahaan.
Batasan stakeholder tersebut di atas mengisiaratkan bahwa
perusahaan hendaknya memperhatikan stakeholder, karna mereka adalah
pihak yang mempengaruhi dan dipengaruhi baik secara langsung maupun

13
tidak langsung atas aktivitas serta kebijakan yang diambil dan dilakukan
perusahaan. Jika perusahaan tidak memperhatikan stakeholder bukan
tidak mungkin akan menuai protes dan dapat mengeliminasi legitimasi
stakeholder. Berdasarkan pada asumsi dasar stakeholder theory tersebut,
perusahaan tidak dapat melepaskan diri dengan lingkungan social (social
setting) sekitarnya. Perusahaan perlu menjaga legitimasi stakeholder
serta mendudukkannya dalam kerangka kebijakan dan pengambilan
keputusan, sehingga dapat mendukung dalam pencapaian tujuan
perusahaan, yaitu usaha dan jaminan going concern (Adam.C.H, 2002)
dalam buku Nor Hadi (2011,95).
Esensi teori stakeholder tersebut di atas jika ditarik interkoneksi
dengan teori legitimasi yang mengisyaratkan bahwa perusahaan
hendaknya mengurangi expectation gap dengan masyarakat (pulik)
sekitar guna meningkatkan legitimasi (pengakuan) masyarakat, ternyata
terdapat benang merah. Untuk itu, perusahaan hendaknya menjaga
reputasinya yaitu dengan menggeser pola orientasi (tujuan) yang semula
semata-mata di ukur dengan economic measurement yang cenderung
shareholder orientation, kearah memperhitungkan faktor social (social
factors) sebagai wujud kepedulian dan keberpihakan terhadap masalah
social kemasyarakatan (stakeholder orientation).
Semua stakeholder memiliki hak untuk memperoleh informasi
mengenai aktivitas perusahaan yang memengaruhi mereka. Pada
awalnya, pemegang saham sebagai satu-satunya stakeholder
perusahaan. Pandangan ini di dasarkan pada argumen yang disampaikan
Friedman (1962) yang mengatakan bahwa tujuan utama perusahaan
adalah untuk memaksimumkan kemakmuran pemiliknya. Namun
demikian, Freeman (1983) tidak setuju dengan pandangan ini dan
memperluas definisi stakeholder dengan memasukkan konstituen yang
lebih banyak, termasuk kelompok yang tidak menguntungkan (adversarial
group) seperti pihak yeng memiliki kepentingan tertentu dan regulator
(Ghozali dan Chariri, 2007:409) Menurut Ghazali dan Chariri (2007:409),
Teori Stakeholder merupakan teori yang menyatakan bahwa perusahaan

14
bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingan sendiri, namun
harus memberikan manfaat kepada seluruh stakeholder-nya (pemegang
saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis, dan
pihak lain).
Meskipun stakeholder theory mampu memperluas perspektif
pengelolaan perusahaan dan menjelaskan dengan jelas hubungan antara
perusahaan dengan stakeholder, teori ini memiliki kelemahan. Gray et
al (1997) mengatakan bahwa kelemahan daristakeholder theory terletak
pada fokus teori tersebut yang hanya tertuju pada cara-cara yang
digunakan perusahaan dalam mengatur stakeholder-nya. Perusahaan
hanya diarahkan untuk mengidentifikasi stakeholder yang dianggap
penting dan berpengaruh dan perhatian perusahaan akan diarahkan
pada stakeholder yang dianggap bermanfaat bagi perusahaan. Mereka
yakin bahwa stakeholder theory mengabaikan pengaruh masyarakat luas
(society as a whole) terhadap penyediaan informasi dalam pelaporan
keuangan (Ghozali dan Chariri, 2007:411).
Asumsi teori stakeholder dibangun atas dasar pernyataan bahwa
perusahaan berkembang menjadi sangat besar dan menyebabkan
masyarakat menjadi sangat terkait dan memerhatikan perusahaan,
sehingga perusahaan perlu menunjukkan akuntabilitas maupun
responsibilitas secara lebih luas dan tidak terbatas hanya kepada
pemegang saham. Hal ini berarti, perusahaan dan stakeholder
membentuk hubungan yang saling memengaruhi.
Warsono dkk. (2009: 29-31) mengungkapkan bahwa terdapat tiga
argumen yang mendukung pengelolaan perusahaan berdasarkan
perspektif teori stakeholder, yakni, argumen deskriptif, argumen
instrumental, dan argumen normatif, berikut penjelasan singkat mengenai
ketiga argumen tersebut:
1. Argumen deskriptif menyatakan bahwa pandangan pemangku
kepentingan secara sederhana merupakan deskripsi yang realistis
mengenai bagaimana perusahaan sebenarnya beroperasi atau
bekerja. Manajer harus memberikan perhatian penuh pada kinerja
keuangan perusahaan, akan tetapi tugas manajemen lebih penting
dari itu. Untuk dapat memperoleh hasil yang konsisten, manajer harus

15
memberikan perhatian pada produksi produk-produk berkualitas tinggi
dan inovatif bagi para pelanggan mereka, menarik dan
mempertahankan karyawan-karyawan yang berkualitas tinggi, serta
mentaati semua regulasi pemerintah yang cukup kompleks. Secara
praktis, manajer mengarahkan energi mereka terhadap seluruh
pemangku kepentingan, tidak hanya terhadap pemilik saja.
2. Argumen instrumental menyatakan bahwa manajemen terhadap
pemangku kepentingan dinilai sebagai suatu strategi perusahaan.
Perusahaan-perusahaan yang mempertimbangkan hak dan memberi
perhatian pada berbagai kelompok pemangku kepentingannya akan
menghasilkan kinerja yang lebih baik.
3. Argumen normatif menyatakan bahwa manajemen terhadap
pemangku kepentingan merupakan hal yang benar untuk dilakukan.
Perusahaan mempunyai penguasaan dan kendali yang cukup besar
terhadap banyak sumber daya, dan hak istimewa ini menyebabkan
adanya kewajiban perusahaan terhadap semua pihak yang mendapat
efek dari tindakan-tindakan perusahaan.
Shareholder Theory menyatakan bahwa tanggung jawab yang paling
mendasar dari direksi adalah bertindak untuk kepentingan meningkatkan
nilai (value) dari pemegang saham. Jika perusahaan memperhatikan
kepentingan pemasok, pelanggan, karyawan, dan lingkungannya,
maka value yang didapatkan oleh pemegang saham semakin sedikit,
sehingga berjalannya pengurusan oleh direksi harus mempertimbangkan
kepentingan pemegang sahamnya untuk memastikan kesehatan
perusahaan dalam jangka panjang, termasuk
peningkatan value pemegang saham.
Teori yang menjelaskan hubungan antara manajemen perusahaan
dan pemegang saham ini, memiliki tujuan membantu manajemen
perusahaan dalam meningkatkan penciptaan nilai sebagai dampak dari
aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan dan meminimalkan kerugian yang
mungkin muncul bagi shareholder mereka. Dalam penciptaan nilai bagi
perusahaan, manajemen perusahaan harus dapat mengelola seluruh
sumber daya yang dimiliki perusahaan, baik karyawan (human capital),
aset fisik (physical capital) maupun structural capital. Apabila seluruh

16
sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat dikelola dandimanfaatkan
dengan baik maka akan menciptakan value added bagi perusahaan
sehingga dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Segala
tindakan tersebut dilakukan demi kepentingan pemegang saham.
Teori Stakeholder mempunyai 2 cabang yaitu cabang yang ethical
(moral atau normatif) dan cabang positif (manajerial). Kedua teori secara
eksplisit empertimbangkan berbagai kelompok (dari stakeholder) yang ada
dalam masyarakat, bagaimana harapan dari kelompok stakeholder
tertentu dapat mempunyai lebih (kurang) pengaruh pada strategi
perusahaan. hal ini dapat mempunyai implikasi bagaimana harapan
stakeholder dipertimbangkan dan dikelola oleh perusahaan.

2.2.1. The Ethical Branch Of Stakeholder Theory


Teori ini menyatakan semua stakeholder mempunyai hak untuk
diperlakukan secara fair atau adil oleh perusahaan. Siapapun
stakeholder harus diperlakukan dengan baik. Stakeholder
mempunyai hak instrisik yang tidak boleh dilanggar (seperti gaji yang
wajar). Definisi stakeholder (Freeman & Reed): grup atau
individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian
tujuan perusahaan. Clarkson membagi stakeholder menjadi 2 yaitu
stakeholder primer dan sekunder.
Stakeholder primer
Stakeholder primer adalah pihak yang mempunyai kontribusi nyata
terhadap perusahaan, tanpa pihak ini perusahaan tidak akan bisa
hidup sedangkan,
Stakeholder sekunder
Stakeholder sekunder adalah pihak yang tidak akan
mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan secara
langsung.
Menurut Clarkson stakeholder primer harus diperhatikan oleh
manajemen agar perusahaan bisa hidup. Namun pernyataan ini ditentang
oleh teori stakeholder cabang etika yang beragumentasi bahwa semua

17
stakeholder mempunyai hak yang sama untuk diperhatikan oleh
manajemen. Semua stakeholder mempunyai hak untuk mendapatkan
informasi mengenai bagaimana dampak perusahaan bagi mereka.
Berkaitan dengan hak informasi, Gray menyarankan menggunakan
perspektif model akuntabilitas.
Akuntabilitas adalah kewajiban untuk menyediakan laporan
atas tindakan mereka sebagai wujud tanggungjawabnya. Akuntabilitas
meliputi 2 kewajiban:
1) kewajiban/tanggungjawab melakukan tindakan tertentu,
2) tanggung jawab menyediakan laporan akibat tindakan tersebut.
Dengan model akuntabilitas tersebut, maka pelaporan dianggap dipicu
oleh tanggung jawab, bukan dipicu karena permintaan.

2.2.2. The Managerial Branch of Stakeholder Theory


Teori ini lebih terpusat pada organisasi (organization-
centered). Perusahaan harus mengidentifikasi perhatian para
stakeholder. Semakin penting stakeholder bagi perusahaan, semakin
banyak usaha yang harus dikeluarkan untuk mengelola
hubungannya dengan stakeholder ini. Informasi adalah elemen
penting yang dapat dipakai oleh perusahaan untuk mengelola
(memanipulasi) stakeholder agar supaya terus mendapatkan dukungan.
Perusahaan tidak akan memperhatikan semua kepentingan
stakeholder secara sama, tapi hanya kepada yang sangat
powerfull saja. Power stakeholder (kreditor, pemilik, dll) dipandang
sebagai fungsi tingkat kontrol stakeholder terhadap sumber daya
perusahaan. Semakin tinggi tingkat kontrol stakeholder terhadap sumber
daya perusahaan, maka semakin tinggi perhatian perusahaan
terhadap stakeholder ini. Perusahaan yang sukses adalah perusahaan
yang dapat memuaskan permintaan berbagai stakeholder.

2.2.3. Empirical Tests of Stakeholder Theory


Manfaat teori ini adalah digunakan untuk menguji kemampuan
stakeholder dalam mempengaruhi disclosure CSR (corporate social
responsibility). Roberts (1992) menemukan bahwa ukuran power

18
stakeholder dan kebutuhan informasi yang terkait dapat menjelaskan
mengenai level dan tipe disclosure CSR. Neu, Warsame, dan Pedwell
(1998) juga mendukung temuan bahwa sekelompok stakeholder tertentu
dapat menjadi lebih efektif dari pada kelompok yang lain dalam meminta
disclosure CSR. Hasil ini mengindikasikan bahwa perusahaan menjadi
lebih responsif terhadap permintaan stakehoder finansial dan regulator
(pemerintah) dibanding stakeholder pemerhati lingkungan. Ini
menunjukkan bahwa perusahaan menghadapi situasi dimana para
stakeholder saling bersaing kepentingannya, maka perusahaan akan
memilih stakeholder yang paling penting.
2.3. Institutional Theory
Institutional Theory atau Teori Institusional memberikan penjelasan
tentang mengapa organisasi cenderung untuk mengambil karakteristik
dan bentuk yang sama. Bentuk organisasi cenderung kearah beberapa
bentuk homogenitas menyimpang. Akan memiliki masalah mendapatkan
atau mempertahankan legitimasi. Memberikan perspektif garis untuk
kedua teori legistimasi dan teori stakeholder.
Terdapat 2 dimensi utama dari teori institusional, yaitu :

1. Isomorphism
Tiga perbedaan dalam proses isomorphism diantaranya:
Isomorfisme koersif (Paksaan)
Muncul di mana organisasi mengubah praktik kelembagaan
mereka karena tekanan dari para stakeholder di mana
organisasi bergantung. Terkait dengan cabang manajerial
teori stakeholder karena stakeholder yang kuat mungkin
memiliki harapan yang sama organisasi lain, akan
cenderung sesuai dalam praktek di seluruh organisasi.
Isomorfisme Mimetic ( yang meniru-niru)
Organisasi sering menyalin praktek organisasi lain untuk
keunggulan kompetitif dan untuk mengurangi ketidakpastian.
Organisasi dalam sector tertentu mengadopsi praktek-
praktek yang serupa dengan yang diadopsi oleh organisasi
terkemuka meningkatkan persepsi para pemangku
kepentingan eksternal dari legitimasi organisasi. Tanpa

19
tekanan koersif dari para stakeholder, itu akan menjadi tidak
mungkin bahwa aka nada tekanan untuk meniru orang lain.
Isomorfisme Normatif
Merupakan tekanan dari kelompok norma untuk mengadopsi
praktek-praktek kelembagaan tertentu. Kelompok-kelompok
tertentu dengan pelatihan tertentu akan cenderung untuk
mengadopsi praktek-praktek serupa ketidakpatuhan dapat
mengakibatkan sanksi yang dikenakan oleh kelompok.
Hasil dari isomorfisma, diantaranya :
Kecenderungan struktur perusahaan yang sama dan
proses.
Proses isomorfik tidak lantas membuat organisasi lebih
efisien.
Dalam prakteknya tidak mudah untuk membedakan
antara tiga jenis isomorfisma.
Strategi mungkin lebih lanjut tentang show atau bentuk,
bukan tentang substansi.
2. Decoupling
Meskipun manajer mungkin akan melihat perlu dilihat untuk
mengadopsi struktur dan praktek-praktek tertentu. Praktik
organisasi yang sebenarnya bisa sangat berbeda dari sanksi formal
dan diucapkan secara terbuka proses dan praktek.

20
DAFTAR PUSTAKA

Adler, Ralph W. and Milne, Markus J. 1997. Improving The Quality of


Accounting StudentsLearning Through Action-Oriented Learning
Tasks. Accounting Education. Vol. 6 No. 3: 191-215.
Deegan, C. 2002. Introduction: The Legitimising Effect of Social and
Environmental Disclosure A Theoritical Foundation. Accounting,
Auditing, and Accountability Journal, Vol.5 No.3: 282-311.
Deegan, C. 2004. Financial Accounting Theory. McGraw-Hill Book
Company: Sydney.
Dowling, J. and pfeffer, J.1957. Organizational Legitimacy: Social values
and organizational behavior. The Pacific Sociological Review. Vol. 18,
No.1. pp.122-136
Freeman, R.E. 1983. Strategic Management: A Stakeholder Approach.
Boston Pitmann
Friedman, M. 1962. The Social Responsibilityof Business is to Increase Its
Profit. New York Times Magazine, New York Times Corp, 13
September 1962
Ghozali, Imam dan Anis Chariri. 2007. Teori Akuntansi Edisi 4. Badan
Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang.
Gray R,Owen D and Adam C.1996. Charges ad challenge incorporate
social on enviromental reporting, Accounting and accountability, great
britain, practice hill international 1996
Guthrie, J. dan Parker, L.D. (1990), "Corporate social disclosure practice:
a comparative international analysis", Advances in Public Interest
Accounting, Vol. 3. Pp. 159-75.
Neu, D., Warsame and Pedwell. 1998. Managing Public Impressions :
Environmental Disclosure in Annual Reports. Accounting,
Organizations and Society, Vol.23 No.3, pp.265-82
Roberts, R.W. (1992), Determinants Of Corporate Social Responsibility
Disclosure: An Aplication Of Stakeholder Theory, Accounting,
Organisations and Society, Vol.17 No.6 : 595-612
Warsono, Sony dkk, 2009, Corporate Governance Concept and Model,
Yogyakarta: Center Of Good Corporate Governance.

21