Anda di halaman 1dari 8

METODOLOGI PENELITIAN AKUNTANSI

PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN DATA

Oleh :
KELOMPOK 5:
I Putu Dendy Pratama Yoga (1415351097)
I Made Gilang Hartana (1415351102)

PROGRAM EKSTENSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN DATA

Data mentah yang dikumpulkan oleh peneliti tidak akan ada gunanya jika
tidak dianalisis. Data mentah yang telah dikumpulkan perlu dipecahkan dalam
kelompok kelompok, diadakan kategorisasi, dilakukan manipulasi, serta diperas
sedemikian rupa sehingga data tersebut mempunyai makna untuk menjawab
masalah dan bermanfaat untuk menguji hipotesis. (Moh. Nazir,2014:304).

Semua jenis data yang telah dikumpulkan oleh tim pengumpul data
lapangan, kemudian dibawa ke laboratorium atau tempat pengolahan data
berlangsung untuk diperiksa dan dipelajari secara teliti oleh tim pengolah data.
Setelah data yang terkumpul dianggap layak untuk diproses, maka tim
memutuskan untuk melakukan pengolahannya lebih lanjut.

Pada penelitian kuantitatif, pengolahan data secara umum dilaksanakan


dengan melalui tahap memeriksa (editing), proses pemberian indentitas (coding),
proses pembeberan (tabulating) dan penyajian data.

10.1 Editing

Muhammad Teguh dalam bukunya Metodologi Penelitian Ekonomi Teori


dan Aplikasi menyatakan bahwa editing merupakan kegiatan untuk meneliti
kembali rekaman atau catatan data yang telah dikumpulkan oleh pencari data
dalam suatu penelitian, apakah hasil rekaman data tersebut cukup baik dan dapat
dipersiapkan untuk proses lebih lanjut ataukah rekaman tersebut perlu dilakukan
peninjauan kembali agar dapat dipakai untuk proses lebih lanjut.

Lalu kuncoro dalam bukunya yang berjudul Metode Riset Untuk Bisnis
dan Ekonomi juga menyatakan bahwa editing adalah proses yang bertujuan agar
data yang dikumpulkan memberikan kejelasan, dapat dibaca, konsisten, dan
komplet.

Burhan Bungin dalam bukunya yang berjudul Metodelogi Penelitian


Kuantitatif juga menjelaskan dalam editing adalah kegiatan yang dilaksanakan
setelah peneliti selesai menghimpun data dilapangan. Kegiatan itu menjadi
penting karena kenyataannya bahwa data yang terhimpun kadang kala belum
memenuhi harapan peneliti, ada di antaranya kurang atau melewatkan, tumpang
tindih, berlebihan bahkan terlupakan. Oleh karena itu keadaan tersebut harus
diperbaiki melalui editing ini. (Bungin, 2005:175).

Supranto J. Dalam bukunya Metode Riset: Aplikasinya Dalam


Pemasaran mengatakan bahwa editing diadakan terhadap quesioner yang telah
diisi, maksudnya ialah untuk mencari kesalahan kesalahan di quesioner tersebut.

Uma Sekaran dalam bukunya Research Methods for Business: A Skill


Building Approach menyatakan bahwa editing memiliki pengertian sebagai
berikut: ketika data berasal dari wawancara, observasi, dan quesioner yang berisi
pertanyaan pertanyaan terbuka, data sering akan diedit. Dengan kata lain,
informasi yang mungkin telah ditulis oleh pewawancara, pengamat, atau
responden secara terburu buru sekarang harus jelas diuraikan sehingga semua itu
dapat dikodekan secara sistematis. Kurangnya klarifikasi tersebut pada tahap ini
akan menghasilakan kebingungan ketika coding dimulai dan data harus
dikategorikan secara luas, dan kesalahan dalam kategorisasi mungkin akibat dari
salah tafsir. Juga, jika ada beberapa inkonsistensi dalam tanggapan yang dapat
secara logis diperbaiki, mereka harus diperbaiki dan diedit pada tahap ini
(Sekaran, 2006:276).

Menurut Muhammad Teguh (Teguh, 2001:173), beberapa hal yang perlu


diperiksa secara cermat dalam editing ini, yaitu:

1. Keadaan kelengkapan pengisian jawaban.


2. Keterbacaan tulisan.
3. Kejelasan makna jawaban.
4. Konsistensi jawaban.
5. Relevansi jawaban.
6. Keseragaman satuan data.

Burhan Bungin juga menyatakan bahwa apabila dalam proses editing


terdapat kejanggalan kejanggalan yang sangat mengganggu pada instrumen dan
data yang diperoleh, artinya ada beberapa kesalahan atau kekurangan informasi
yang sangat menggangu, maka peneliti atau field worker yang bersangkutan harus
melakukan (bungin, 2005:176):
1. Kembali ke lapangan untuk menemui sumber data yang bersangkutan.
2. Menyisihkan instrumen tersebut sebagai instrumen yang tak terpakai atau
rusak.
3. Melakukan cek silang atau berkomunikasi dengan penelitian lain untuk
mengecek kebenaran data yang terkumpul.

10.2 Coding

Coding adalah pemberian tanda, simbol, dan kode bagi tiap tiap data
yang termasuk dalam kategori yang sama. Tujuan coding adalah untuk
mengklasifikasikan jawaban kedalam kategori kategori yang penting. Ada dua
langkah penting untuk melakukan coding, yaitu:

1. Menentukan kategori kategori yang akan digunakan.


2. Mengalokasikan jawaban individual pada kategori kategori tersebut.

Kumpulan kategori kategori ini disebut dengan coding frame. Coding


frame ini perlu di-test terlebih dahulu oleh petugas coding. Hal ini dilakukan,
selain untuk melatih petugas coding juga untuk membuka kemungkinan
terciptanya coding frame yang lebih baik (Rahyuda, 2004:82).

Alokasi alokasi jawaban pada kategori kategori di dalam coding frame


dapat dilakukan responden, petugas wawancara, dan oleh petugas coding yang
dapat dilakukan oleh responden atau petugas wawancara hanya terbatas pada tipe
pertanyaan tertutup saja. Untuk dapat memberikan kode pada jawaban tersebut
perlu diperhatikan :

A. Kode dan jenis pertanyaan

Dalam hal ini perlu diperhatikan jenis pertanyaan, jawaban atau


pertanyaan yang dapat dibedakan. Jawaban yang berupa angka, jawaban dari
pertanyaan penutup, jawaban pertanyaan semi terbuka, dan jawaban pertanyaan
kombinasi.

1) Bila jawaban berupa angka maka kode yang digunakan adalah angka
sendiri.
2) Bila jawaban untuk pertanyaan tertutup jawabannya sudah disediakan
terlebih dahulu dan responden hanya mengecek jawaban tersebut sesuai
dengan instruksi.
3) Bila jawaban pertanyaan semi terbuka, selain dari jawaban yang telah
ditentukan maka jawaban lain yang dianggap cocok oleh responden masih
diperkenankan untuk dijawab.
4) Bila jawaban pertanyaan terbuka, jawaban yang diberikan sifatnya bebas.
Untuk memberikan jawaban jawaban tersebut harus dikategorikan
terlebih dahulu atau dikelompokkan sehingga tiap kelompok berisi
jawaban yang sejenis.
5) Bila jawaban kombinasi, hampir serupa dan jawaban pertanyaan tertutup.
Selain ada jawaban yang jelas, responden masih dapat menjawab
kombinasi dari beberapa jawaban.

B. Tempat kode

Kode dapat dibuat pada kartu tabulasi ataupun daftar pertanyaan itu
sendiri. Jika data diolah dengan komputer, kode-kode harus dibuat dalam coding
sheet. Pemberian kode pada data dapat dilakukan dengan melihat jawaban dari
jenis pertanyaan yang diajukan dalam quesioner (Moh. Nazir,2014:306).

Pengkodean data dapat dibedakan atas beberapa hal berikut ini yaitu:

1. Pengkodean terhadap jawaban yang berupa angka


2. Pengkodean terhadap jawaban dari pertanyaan tertutup
3. Pengkodean terhadap jawaban dari pertanyaan semi terbuka
4. Pengkodean terhadap jawaban dari pertanyaan terbuka

10.3 Tabulasyang Didahului Oleh Tahapan Entry Data

Data yang dikumpulkan setelah melewati proses editing dan coding


langkah selanjutnya adalah disusun dalam bentuk tabel. Jawaban yang serupa atau
sama dikelompokkan dengan cara diteliti, kemudian dihitung dan dijumlahkan
berapa banyak peristiwa atau gejala yang termasuk dalam suatu kategori. Kegiatan
ini dilakukan sampai terwujud tabel-tabel yang berguna, terutama penting pada
data kuantitatif. Dalam tabulasi angka angka akan dimasukkan dalam satu tabel
yang terdiri atas kolom-kolom, maka ada baiknya bila susunan kolom disusun
berdasarkan urutan - urutaan susunan yang logis dan tiap - tiap kepala kolom
diberi keterangan yang menyatakan isi kolom yang bersangkutan. Dengan
demikian, dapat dilakukan pencarian hubungan hubungan yang berarti antara
jawaban yang satu dengan jawaban yang lainya, hanya melihat kepala kolom
tersebut.

Peraturan data dapat bermacam macam seperti peraturan menurut


banyaknya peristiwa yang terjadi jumlah jawaban yang sama (tabel frekuensi)
menurut kelompok atau kelasnya (tabel frekuensi) menurut kelompok dan
kelasnya (tabel klasifikasi) atau secara korelatif (tabel kolerasi). Jika setelah
dibuat distribusi frekuensi ada kode variabel yang tidak cocok, maka harus
dilakukan pembersihan data.

Tabel dapat dibedakan beberapa jenis yaitu tabel induk, tabel teks, dan
tabel frekuensi. Tabel induk adalah tabel yang berisi semua data yang tersedia
secara terperinci untuk melihat kategor data secara keseluruhan. Tabel teks adalah
tabel diringkas sesuai dengan keperluan. Sedangakan tabel frekuensi adalah tabel
yang menyajikan berapa kali suatu hal terjadi.

10.4 Penyajian Data (Tabel dan Grafik)

Data setelah dikumpulkan dapat disajikan dengan menggunakan tabel


frekuensi baik frekuensi tunggal maupun tabulasi silang. Selain dalam bentuk
tabel, data juga dapat disajikan dalam bentuk gambar atau grafik. Dalam tabulasi
silang, setiap kesatuan data dipecah lebih lanjut menjadi dua atau tiga. Setiap
penambahan variabel baru ke dalam tabulasi silang akan memberikan keterangan
lebih baik terhadap data yang diolah.

1. Penyajian data tabel

Penyajian data menggunakan tabel adalah penyusunan data untuk memudahkan


membaca dan menganalisis data. Data mentah berserakan ditata dan diatur dalam
sebuah tabel. Berdasarkan cara penyajian, tabel dapat dibagi menjadi beberapa
jenis yaitu:

a. Tabel baris dan kolom


Tabel ini sebagaimana dengan namanya, memuat keterangan
mengenai baris dan kolom.
b. Tabel distribusi frekuensi

Tabel ini adalah tabel yang menyusun distribusi datanya dalam


bentuk frekuensi. Tabel ini dibagi menjadi dua, yaitu:

1) Tabel distribusi tunggal adalah tabel yang digunakan untuk


menysun distribusi data dalam frekuensi dengan distribusi
yang bersifat tunggal.

2) Table distribusi bergolong adalah table yang digunkana


untuk menyajikan data dalam frekuensi dengan distribusi
data bergolong.

c. Penyajian data grafik

Penyajian dalam bentuk grafik adalah menggambarkan data secara


visual dalam sebuah gambar. Penyajian dalam bentuk ini lebih
mudah dibaca daripada deretan data mentah (Purwanto, 2008:273)

Penggambaran data dalam sebuah grafik dapat dilakukan


dengan menggunakan berbagai jenis grafik tergantung sifat
datanya.

1) Grafik batang adalah grafik yang mengambarkan data


menggunakan batang. Batang menunjukkan data dan
ketinggian menggambarkan frekuensinya.

2) Grafik lambang adalah penyajian data dengan


menggambarkan data dengan menggunakan lambang dari
data yang dijelaskan.

3) Grafik garis merupakan bentuk penyajian yang paling


banyak dipakai dalam berbagai laporan perusahaan maupun
penelitian ilmiah.
4) Grafik lingkaranini menarik, tetapi memiliki sisi kelemahan
dalam hal tujuan untuk perbandingn antara sektor-sektor
yang terdapat dalam lingkarannya. Penyajian berbagai data
yang besarnya berbeda (ekstrim) dalam diagra yang sama,
merupakan suatu prosedur yang meragukan. Mengingat
lingkaraan terdiri atas 360derajat, maka 3,6 derajat berarti
menggambarkan presentase 1%.

DAFTAR PUSTAKA

Rahyuda,I Ketut. 2016. Metode Penelitian Bisnis. Denpasar: Udayana


University Press