Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN

PRODUKTIVITAS EKOSISTEM PERAIRAN

Binar Setiawan Jori

1111095000022

Dosen : Mardiansyah.M,Si

Dina Anggraini.S,Si

Asisten : Fadil

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2012
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perairan adalah lingkungan hidup bagi semua makhluk hidup didalamnya.


Terdapat mikroorganisme dan aktivitasnya sebagai produsen dan konsumen primer
pada ekosistem perairan yang mempungaruhi produktivitas ekosistem primer dan
sekunder. Produktivitas ekosistem primer terdiri dari banyak aktivitas, misalnya
respirasi dan fotosintesis makhluk hidup.

Mikroorganisme tersebut sebagian besar adalah organisme planton


mikroskopik yang tersuspensi didalam air. Dengan mengukur laju produksi dan
konsumsi karboksida pada sejumlah volume air tertentu, peneliti dapat
memperkirakan produktivitas ekosistem perairan pada situ gintung.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengukur besarnya produktivitas primer suatu


perairan dan mengetahui hubungan antara nilai produktivitas primer dengan faktor
fisik dan kimia dari perairan tersebut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Produktivitas Ekosistem

Produktivitas primer dari suatu ekosistem didefinisikan sebagai jumlah energi


cahaya yang diserap dan kemudian disimpan oleh organisme organisme
produsen melalui kegiatan fotosintesis dan kemosintesis dalam periode
waktu tertentu (Widianingsih, 2002). Cahaya disimpan dalam bentuk zat-
zat organik yang dapat digunakan sebagai bahan makanan oleh organisme
heterotrofik (Setiapermana, 1979).
Produktivitas primer adalah laju pembentukan senyawa-senyawa organik yang
kaya energi dari senyawa organik. Jumlah seluruh bahan organik yang terbentuk
dalam proses produktivitas dinamakan produktivitas perairan kotor, atau
produktivitas total.
Karena sebagian dari produktivitas total ini digunakan tumbuhan untuk
kelangsungan proses-proses hidup yang secara kolektif didebut respirasi, terdapat
sebagian dari produktivitas total yang tersedia bagi pemindahan atau pemanfatan oleh
organisme lain. Produktivitas sekunder yaitu laju penyimpanan energi pada tingkat
konsumen .

2.2` Produktivitas Primer Perairan

Produktivitas primer perairan didefinisikan sebagai laju pembentukan


senyawa-senyawa organik dari senyawa-senyawa anorganik. Jumlah seluruh bahan
organik yang terbentuk dalam proses produktivitas primer kotor atau produksi total ini
digunakan oleh tumbuh-tumbuhan untuk kelangsungan proses-proses hidup yang
secara kolektif disebut respirasi, tinggal sebagian dari produksi total yang tersedia
bagi pemindahan kalori atau pemanfaatan oleh organisme tersebut.

Produktivitas primer bersih merupakan selisih dari produktivitas primer kotor


dengan respirasi oleh tumbuhan (Nybakken,1992). Produktivitas primer dibedakan
atas dua macam, yaitu produktivitas primer kotor (Gross Primary Productivity) dan
produktivitas primer bersih (Net Primary Productivity). Produktivitas primer kotor
adalah laju produksi zat organik secara keseluruhan, sedangkan produktivitas primer
bersi adalah laju produksi primer zat organik dikurangi dengan yang digunakan untuk
respirasi.
2.3. Dissolved Oxygen (DO)

Dissolved Oxygen atau oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup di
perairan untuk respirasi dan juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan
anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal
dari proses difusi udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam
perairan tersebut (Salmin, 2000).
Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya
proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan
bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses
fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk
pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik (Wardoyo, 1978).
Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan,
karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan
anorganik. Proses oksidasi dan reduksi merupakan peranan oksigen terlarut yang
sangat penting untuk membantu mengurangi beban pencemaran pada perairan secara
alami maupun secara perlakuan aerobik yang ditujukan untuk memurnikan air
buangan industri dan rumah tangga.
Sumber oksigen terlarut dalam air berasal dari difusi oksigen yang terdapat di
atmosfer, arus atau aliran air melalui air hujan serta aktivitas fotosintesis oleh
tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty and Olem, 1994).
Tabel 1. Status kualitas air berdasarkan kandungan DO (Lee et al, 1978 dalam
Salmin,2005).
No Kadar oksigen terlarut (mg/L) Status kualitas air
.
1. > 6,5 Tidak tercemar sampai tercemar sangat
ringan
2. 4,5 6,4 Tercemar ringan
3. 2,0 4,4 Tercemar sedang
4. < 2,0 Tercemar berat
BAB III

METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Praktikum

Pada hari Jumat,5 April 2013 pada pukul 13.00 sampai 15.30 WIB. Praktikum
bertempat di Waduk Situ Gintung Ciputat, dan Pusat Laboratorium Terpadu UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah botol pencuplik air (water sampler bottle), kertas
indikator universal, DO meter (Dissolved Oxygen meter), ph meter, beaker plastik,
botol Winkler, kertas karbon, tissue, dan kertas label. Sedangkan bahannya adalah air
dari situ gintung dengan titik pengambilan kelompok yang berbeda, larutan NaOH
1/44 N, Indikator fenoftalien 0,5% dan aquades.

3.3 Cara Kerja

Ditentukan lokasi yang akan diamati produktivitas perairannya, lalu diambil


sample air pada lokasi pengamatan yaitu di Situ Gintung serta diamati faktor fisik dan
kimia pada lokasi tersebut. Masukan sample ke dalam botol kemudian dilakukan
oercobaan menggunakan metode botol gelap dan botol terang. Kemudian diamkan
selama 24 jam untuk proses respirasi dan fotosintesis serta diamati dan dicatat
produktivitas primer perairan di lokasi tersebut berdasarkan hasil dari pengamatan.

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengaruh Suhu Terhadap Produktivitas Primer


Berikut ini merupakan table serta grafik hasil pengamatan mengenai pengaruh
suhu terhadap produktivitas perairan pada plot pengamatan berdasarkan analisa data
sample.

32
30 Botol Gelap Awal
Suhu (OC) 28 Botol Gelap Akhir
26
Botol Terang Awal
24
1 2 3 4 5 Botol Terang Akhir
Plot Pengamatan

Grafik 1.1 Pengaruh Suhu Terhadap Produktivitas Primer Pada Masing- Masing Plot
Pengamatan Situ Gintung

Berdasarkan table pengamatan diketahui bahwa suhu tertinggi rata rata pada
botol awal baik terang maupun gelap pada plot pertama. Hal tersebut dikarenakan
pada botol pertama itu merupakan sample air yang diambil langsung dari lokasi
pengamatan,namun botol lain-lainnya itu sudah mendapat perlakuan lain yaitu
disimpan di dalam laboratorium. Pada botol pertama air yang langsung diambil dari
sumber perairan yang langsung terkena sinar matahari. Maka dari itu pada botol
pertama mengandung suhu tertinggi. Selain itu plot 1-3 berlokasi tempat di situ
gintung,dan plot ke 4-5 berlokasi di situ bungur. Pada lokasi plot 1-3 dilihat dari
lokasinya yang terbuka sedangkan pada plot ke 4-5 yang tertutup. Hal tersebut juga
yang menjadi alasan mengapa pada botol pertama khususnya pada plot ke 1 terdapat
suhu yang tinggi.
10
Botol Gelap Awal
pH 5 Botol Gelap Akhir
Botol Terang Awal
0 Botol Terang Akhir
1 2 3 4 5
Plot Pengamatan

4.2
Pengaruh PH Terhadap Produktivitas Primer Pada Masing- Masing Plot Pengamatan

Grafik 1.2 pengaruh pH Terhadap Produktivitas Primer Pada Masing- Masing Plot
Pengamatan Situ Gintung.

Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pH tertinggi(basa)


terdapat pada botol gelap awal dan botol terang awal pada plot ke 5. Hal tersebut
dikarenakan pada pada plot ke 5 kualitas airnya sudah tercemar. Dilihat dari tempat
yang berlokasi disitu bungur tepatnya lokasi tambak. Kemudian pada botol semua
kelompok menunjukkan bahwa dalam 24 jam terjadi pengaruh dari respirasi dan
fotosintesis yang berpengaruh juga pada pH tiap-tiap botol.

25
20
15
R (mg C/m3) 10
5
0
1 2 3 4 5
Plot Pengamatan

4.3
Laju Respirasi Pada Tiap Plot
Grafik 1.3 Laju Respirasi Pada Tiap Plot

Pada botol gelap dapat dilihat, pH pada hasil akhir menuju ke normal dan
turun menuju ke asam. DO awal menunjukkan bahwa status kualitas air tidak
tercemar. Kadar oksigen akhir pada semua kelompok menunjukkan bahwa dalam 24
jam di dalam botol winkler mengalami aktivitas biologis yaitu respirasi dan
fotosintesis. Tidak seimbangnya DO yang dihasilkan dengan DO yang diserap karena
botol winkler yang tebal dan tertutup menghambat masuknya oksigen sehingga
kualitas air menjadi menurun dan terhambatnya cahaya yang masuk karena ditutup
menggunakan kertas karbon. Terjadi penurunan suhu juga pada tiap botol winkler
karena cahaya yang terserap berkurang, tetapi ada kenaikan suhu juga pada kelompok
4 yang disebabkan penyimpanan intensitas cahaya yang baik.

20
10
PG (mg C/m3)
0
1 2 3 4 5
-10
Plot Pengamatan

4.4 Produktivitas Primer Kotor dan Bersih Perairan


0
1 2 3 4 5
-5
-10
PN (mg C/m3)
-15
-20
-25
Plot Pengamatan

Grafik 1.4 Produktivitas Primer Kotor Perairan

Grafik 1.5 Produktivitas Primer Besih Perairan

Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa Pada grafik 1.4 dan 1.5,
produktivitas primer bersih tertinggi adalah kelompok 1 dan produktivitas primer kotor
tertinggi adalah kelompok 5. Produktivitas primer bersih tertinggi disebabkan laju respirasi
dan produktivitas fotosintesis yang seimbang sehingga menimbulkan produktivitas yang
stabil dan tinggi. Sedangkan, pada produktivitas primer yang terendah, laju respirasi yang
lebih tinggi dibandingkan fotosintesis menyebabkan ketidakstabilan pada produktivitas
sehingga produktivitas primer rendah.

BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa suhu tertinggi rata rata pada botol
awal baik terang maupun gelap pada plot pertama, pH tertinggi(basa) terdapat pada botol
gelap awal dan botol terang awal pada plot ke 5, produktivitas primer bersih tertinggi adalah
kelompok 1 dan produktivitas primer kotor tertinggi adalah kelompok 5,produktivitas primer
bersih tertinggi disebabkan laju respirasi dan produktivitas fotosintesis yang seimbang
sehingga menimbulkan produktivitas yang stabil dan tinggi. Sedangkan, pada produktivitas
primer yang terendah, laju respirasi yang lebih tinggi dibandingkan fotosintesis menyebabkan
ketidakstabilan pada produktivitas sehingga produktivitas primer rendah,dan faktor fisik serta
kimia berpengaruh terhadap produktivitas primer perairan.

DAFTAR PUSTAKA

Novotny V. dan H. Olem. 1994. Water Quality, Prevention, Identification, and Management
of Diffuse Polution. Van Nostrands Reinhold. New York.
Nybakken, J.W. 1992. Biologi laut : Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia Pustaka
Utama . Jakarta.
Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang
dan Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai Bioindikator Pencemaran,
Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang (Djoko P. Praseno, Ricky
Rositasari dan S. Hadi Riyono, eds.) P3O LIPI. Jakarta.
Salmin. 2005. Oksigen Terlarut (Do) Dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah
Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan. Oseana. Jakarta.
Setiapermana, D. 1979. Produktivitas Primer dan Beberapa Cara Pengukurannya. Oseana.
Jakarta.
Wardoyo, S.T.H. 1978. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan
Perikanan. Dalam : Prosiding Seminar Pengendalian Pencemaran Air. (eds
Dirjen Pengairan Dep. PU). Jakarta.
Widianingsih, N. 2002. Produktivitas Primer Fitoplankton Tambak Udang (Penalis
monodon)di Desa Ayah Kabupaten Kebumen. Skripsi Fakultas Biologi, Purwokerto.