Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK SINTESIS

SINTESIS ASETANILID

OLEH :

KELOMPOK II
TRANSFER B 2016

SARMAYANI 16.01.269
NOVIA TIRSA KANSIL 16.01.311
MARIA ANA FEBI 16.01.299
WAHYU M HASAN 16.01.317
MUHAMMAD SAID 16.01.323
JANUAR IBNU SUDRAJAT 16.01.305
CROLANT IMALTON PELOPOLIN 16.01.293
YOHANES D.P AGUNG EMBU 16.01.287
HINELIA PALABUAN 16.01.281
DESVINA PLAPIA SELITA PRATIWI 16.01.275

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI

MAKASSAR

2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dewasa ini dalam dunia pengobatan terus berkembang untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan senyawa kimia sebagai
bahan obat sintesis menjadi tantangan tersendiri bagi ahli farmasi untuk
mensintesis senyawa kimia tersebut ataupun mengetahui kemurnian
senyawa tersebut. Salah satu senyawa kimia yang disintesa adalah
asetanilid.
Asetanilin pertama kali ditemukan oleh friedel kfraft pada tahun
1872 dengan cara mereaksikan asethopenon dengan NH2OH sehingga
terbentuk asetophenon oxime yang kemudian dengan bantuan katalis dapat
diubah menjadi asetanilida.
Asetanilid merupakan turunan anilin pertama yang digunakan
dalam bidang farmasi (1986). Yang menarik secara historic adalah juga
asetanilida merupakan senyawa pertama pada mana dilakukan penelitian
tentang penguraiannya dalam organisme. Karena toksisitasnya ya g tinggi,
senyawa ini sekarang tidak digunakan lagi. Efek samping utama adalah
pembentukan methemoglobin (Shunack, W. 1990).
Asetanilid adalah senyawa turunan asetil amina aromatis yang
digolongkan sebagai amina primer, dimana satu atom hydrogen pada anilin
digantikan dengan satu gugus asetil. Asetanilid terbentuk butiran berwarna
putih tidak larut dalam minyak paraffin dan larut dalam air dengan bantuan
kloralhidrat.
Pada tahun 1899 bactmand menemukan asetanilida dan reaksi
antara benzyl sianida dan H2O dengan katalis HCl . pada 1905, Weaker
menemukan asetanilid dari anilin dan asam asetat.
Pada standar industri sediaan anilin di reproduksi dari pecahan
panas dan 30% hidroeklosida. Reaksi lengkap dan campuran dinetralkan
dengan soda dibersihkan melalui destilasi dengan perebusan yang sonan,
agar sukar melarut dalam air (39 dalam 100 g H 2O), penambahan sedikit
sodium destilasi untuk membuat kelarutan 20% (Harrap, 1982).
Produk asetanilid banyak digunakan sebagai bahan baku dalam
industry farmasi , yaitu untuk pembuatan analgesic (obat untuk
mengurangi rasa sakit) dan untuk pembuatan antipiretik (obat penurun
panas. Kegunaan utama lainnya adalah sebagai bahan pembantu dalam
proses pembuatan cat dan karet.
Reaksi yang terjadi dalam pembentukan asetanilid yakni reaksi
asetilasi. Istilah asetilasi berarti subtitusi gugusan asil. Asilasi neuklefilik
dari suatu amina, dimana aminanya kehilangan proton dan mendapatkan
gugusan asil menghasilkan amina (Fessenden, 1991).
Reaksi antara asam asetat anhidrat merupakan reaksi asetilasi yan
membentuk amina dalam hal ini asetanilida senyawa asetanilida
merupakan bahan baku yang dapat menunjang indusrti kimia. Kebutuhan
akan senyawa ini semakin meningkat sehingga dilakukan berbagai cara
dalam memperolehnya. Anilin merupakan senyawa kimia dengan rumus
C5H6NH2 yang digunakan sebagai bahan dasar dalam sintesis asetanilida
yang direaksikan dengan asam asetat. Pada sintesi asetanilida senyawa ini
biasa digunakan metode pemansan agar kedua senyawa ini dapat bereaksi
dalam keadaan transisi, kemudian diikuti dengan reduksi H2O membentuk
asetanilida (Fessenden, 1991).

1.2. Maksud dan Tujuan


1.2.1. Maksud percobaan
Adapun maksud percobaan ini yaitu untuk mengetahui cara mensintesis
asetanilid dan memperoleh persen rendemennya.
1.2.2. Tujuan Percobaan
Untuk mensintesis senyawa dari asam asetat anhidrat yang direaksikan
dengan anilin.
1.3. Prinsip Percobaan
Berdasarkan reaksi asetilasi antara gugus asetil pada asam asetat anhidrat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II. 1.Teori Umum

Amida merupakan derivate asam karboksilat yang paling stabil.


Amida dengan strukturbRC (O) NH2 disebut amida primer. Atom nitrogen
hanya terikat pada satu atom karbon. Atom nitrogen amida sekunder RC
(O) NHR, terikat pada dua atom karbon , atom nitrogen amida tersier RC
(O) NR2 terikat pada tiga atom karbon. Amida primer mengandung dua
atom hydrogen yang terikat pada atom nitrogen. Amida sekunder
mengandung satu atom hydrogen yang tidak terikat pada nitrogen. Atom-
atom hydrogen ini dapat memiliki ikatan hydrogen antar molekul dengan
molekul-molekul lain. Karena adanya ikatan hydrogen, amida memiliki
titik lebur dan titik didih lebih tinggi dari ester dengan bobot molekul yang
setara. Tidak seperti amina amida hanyalah basa lemah. Jika terdapat asam
kuat, atom oksigen karbonil amida , bukan atom nitrogen akan mengalami
protonasi (Blach, 2013).

Amida dibuat dari semua derivate asam lainnya. Reaksi primer


atau sekunder dengan klorida asam, anhidra asam atau ester akan
membentuk amida. Amina tersier yang tidak memiliki atom hydrogen
yang terikat pada atom nitrogen, tidak membentuk amida. (Blach, 2013)
Nama amida dengan gugus NH2 berasal dari asam karboksilat dengan
akhiran -at atau asam oat berubah menjadi amida.

Asetanilida merupakan senyawa turunan asetil amina aromatis


yang digolongkan sebagai amida primer, dimana satu atom hidrogen pada
anilin digantikan dengan satu gugus asetil. Asetinilida berbentuk butiran
berwarna putih (kristal) tidak larut dalam minyak parafin dan larut dalam
air dengan bantuan kloral anhidrat. Asetanilida atau sering disebut
phenilasetamida mempunyai rumus molekul C6H5NHCOCH3 dan berat
molekul 135,16 g/gmol. Contoh dari amina primer aromatic ialah aniline,
fenilamina, aminobenzena. Anilin berupa suatu cairan , menyerupai
minyak t.d 184,4 % bau dietilasi hamper tidak berwarna tetapi dapat
menjadi kuning atau merah cokelat karena ia sangat peka terhadap efek
dari oksidasi udara, mempunyai bau khas dan beracun. Sedikit larut dalam
air dan mudah larut dalam pelarut-pelarut organik (Shunack, 1990). \

Ada beberapa proses pembuatan asetanilida antara lain :

1. Pembuatan asetanilida dari asam asetat anhidrid dan anilin


2. Pembuatan asetanilida dari anilin dan asam asetat
3. Pembuatan asetanilida dari ketena dan anilin

Seperti dalam sesi alifatik asetilasi menghilangkan karakter dasar


amina aromatik. Asetanilid adalah senyawa yang netral dalam tidak lebih
asam klorida encer dari pada air. Turunan asetil dibuat dengan mudah ,
baik oleh aksi anhidrat asetat pada amina anhidrat atau dengan melarutkan
secara dengankuantitas asam klorida dalam air dan menambahkan anhidrat
asetat, lalu dengan natrium asetat untuk bereaksi dengan garam
hidroklorida dan membebaskan amina bebas (Fieser, 1953).

Anilin sedikit larut dalam air, tetapi dengan cukup natrium klorida,
maka anilin benar-benar larut. Anilin memiliki sifat dasaryang lemah
dibandingkan dengan metilamin (anilin pKb 3,4) (Fieser, 1953).

Asetanilid adalah turunan monoasetil anilin dibuat dengan


memanaskan anilin dan asam asetat selama beberapa jam. Dapat
dikristalisasi dengan air panas dan merupakan senyawa kristalin putih
yang stabil, sedikit larut dalam air (1:100) dan mudah larut dalam air
panas, aseton, kloroform, gliserin (1 : 5), alcohol (1 : 4) atau eter (1 : 17)
(Wilson dan Gisvold).

Menurut Kirk (1981) asetanilida banyak digunakan dalam industry


kimia, misalnya:

a. Sebagai bahan intermediate dalam sintesis obat-obatan


b. Sebagai zat awal dalam sintesa penicillin
c. Bahan pembantu pada industry cat, karet dan barus
d. Sebagai inhibitor hydrogen peroksida
e. Stabiliser untuk pernis dari ester selulosa

Bila pada suhu kamar tidak terbentuk Kristal maka dilakukan


langkah-langkah sebagai berikut:

a. Filtrat dipekatkan kemudian dibiarkan pada suhu kamar


b. Bila Kristal belum terbentuk maka dilakukan pengerusan
terhadap dinding gelas dengan batang pengaduk
c. Apabila dengan langkah kedua belum terbentuk Kristal maka
dilakukan rekristalisasi dengan pelarut yang tidak melarutkan
sama sekali.
d. Apabila Kristal belum juga terbentuk maka dilakukan
pengujianualng untuk mendapatkan pelarut yang sesuai (Ibrahim
dan Sitorus, 2012).

Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat dimana zat-
zat tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan kembali,
cara ini tergantung pada kelarutan zat dalam pelarut tertentu dikala suhu
diperbesar.

Rekristalisasi merupakan metode yang sangat penting untuk pemurnian


komponen larutan organic. Ada tuju metode dalam rekristalisasi yaitu:
memilih pelarut, melarutkan zat terlarut, menghilangkan warna larutan,
memindahkan zat padat, mengkristalkan larutan, mengumpul dan mencuci
Kristal serta mengeringkan produknya.

Ukuran partikel yang terbentuk selama pengendapan, tergantung pada dua


factor penting yaitu laju pembentukan inti (nukleasi) dan laju pertumbuhan
Kristal. Jika laju pembentukan inti tinggi, banyak sekali Kristal akan
terbentuk, tetapi tak satupun dari ini akan tumbuh menjadi terlalu besar,
jadi terbentuk endapan yang terdiri dari partikel-partikel kecil. Laju
pembentukan ini tergantung pada derajat lewat jenuh dari larutan. Makin
tinggi derajat lewat jenuh makin besarlah kemungkinan untuk membentuk
inti baru. Jadi makin besarlah laju pembentukan inti, lajunpembentukan
Kristal merupakan factor lain yang mempengaruhi ukuran Kristal yang
terbentuk selama pengendapan berkangsung. Jika laju ini tinggi, Kristal-
kristal yang besar akan terbentuk yang dipengaruhi oleh derajat lewat
jenuh (syehla, 1979).

Senyawa organik berbentuk kristal yang diperoleh dari suatu reaksi


biasanya tidak murni. Mereka masih terkontaminasi sejumlah kecil
senyawa yang terjadi selama reaksi. Senyawa ini dapat dimurnikan
dengan cara rekristalisasi
menggunakan pelarut yang sesuai. Pemurnian senyawa dengan cara
rekristalisasi didasarkan pada perbedaan kelarutan senyawa
dalam suatupelarut tunggal atau campuran. Ada dua kemungkina
keadaan dalam rekristalisasi yaitu pengotor lebih larut dari pada senyawa
yang dimurnikan atau sebaliknya.

Pada dasarnya proses rekristalisasi adalah :


1. Melarutkan senyawa yang akan dimurnikan kedalam pelarut
yang sesuaipada atau dekat titik didihnya
2. Menyaring larutan panas dari molekul atau partikel tidak larut
3. Biarkan larutan panas menjadi dingin hingga terbentuk Kristal
Memisahkan Kristal dari larutan berair. Kristal yang terjadi
dikeringkan dan ditentukan kemurniannya dengan penentuan titik lebur,
kromatografi dan metode spekstrokopiLangkah penentuan pelarut
dalam rekristalisasi merupakan langkan penentu keberhasilan pemisahan.
Jika senyawa larut dalam keadaan panas maka penyaring harus dilakukan
pada keadaan panas. Senyawa organik sering mengandung pengotor yang
berwarna. Senyawa tersebut dapat dimurniakn dengan penambahan
karbon aktif penghilang warna seperti norit. Setelah proses tersebut,
barulah kita akan mendapatkan asetanilida.
Asetanilida saat sekarang banyak digunakan dalam industri kimia , antara
lain:
1. Sebagai bahan baku pembuatan obat obatan
2. Sebagai zat awal penbuatan penicilium
3. Bahan pembantu dalam industri cat dan karet
4. Bahan intermediet pada sulfon dan asetilklorida
Senyawa anilid pada penggunaan yang sesuai dengan ketentuan
tergolong analgetika/antipiretika yang bekerja baik dengan derajat efek
sampang yang nisbi kecil. Bertentangan dengan analgetik yang
berikutpraktis tidak melibatkan sifat
antiflongistik sebagai mekanisme kerja, diperdebatkan penghambatan
prostaglandin sintetase otak (Schunak, 1990).

II. 2. Uraian Bahan


1. Anilin (FI Edisi IV hal, 646)
Nama resmi : ANILINA
Sinonim : Anilin
RM/BM : C6H2N/ 93,13
Rumus strukrur :

Pemerian : cairan seperti minyak, tidak berwarna atau


kuning pucat
Kelarutan : zat tak larut dalam asam
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : saku sebagai bahan baku sintesis asetanilid
2. Asam asetat (FI Edisi IV hal, 45-46)
Nama resmi : ACIDUM ACETICUM
Nama lain : Asam asetat
RM/BM : C6H4O2/ 60,05
Rumus struktur :

Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, bau khas,


menusuk rasa asam yang tajam
Kelarutan : dapat tercampur dengan air, dengan etanol 95% p
dan dengan gliserol p
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : sebagai katalisator asam lemah

3. Asam asetat anhidrat (FI Edisi IV hal, 647)


Nama resmi : ACIDUM ACETICUM ANHIDRAN
Nama lain : Asam asetat anhidrat
RM/BM : (CH3CO)2O/ 102,09
Rumus struktur :

Pemurnian : cairan jernih, tidak berwarna berbau tajam


mengandung tidak kurang dari 95 % C4H6O5
Kelarutan : dapat tercampur dengan air, etanol 96%
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan :sebagai pelarut anilin dalam sintesis asetanilid
4. Asam sulfat (FI Edisi IV hal 52)
Nama resmi : ACIDUM SULFURIDUM
Nama lain : Asam sulfat
RM/BM : H2SO4/ 98,07
Rumus struktur :

Pemerian : cairan jernih, seperti minyak tidak berwarna sangat


tajam dan korosif
Kelarutan : bercampur dengan air dan daya etanol
menimbulkan panas
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : sebagai katalisator

5. Etanol (FI Edisi IV hal, 63)


Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Etanol
RM/BM : C2H0O/ 46,07
Rumus struktur :
Pemerian : cairan mudah menguap jernih, tidak berwarna, bau
khas dan menyebabkan rasa terbakar pada lidah
Kelarutan : bercampur dengan air dan praktis bercampur
dengan semua pelarut organik
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : sebagai zat tambahan
6. Asam klorida (FI Edisi IV hal 49)
Nama resmi : ACIDUM HIDROCLORIDUM
Nama lain : Asam klorida
RM/BM : HCl/ 36,46
Rumus struktur :
Pemerian :cairan tidak berwarna, bau merangsang
Penyimpanan :dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan :sebagai zat tambahan
7. Aquadest (FI Edisi IV hal 96)
Nama resmi : AQUA DESTILATA
Nama lain :air suling
RM/BM :H2O/ 18,00
Rumus struktur :
Pemerian :cairan jernih, tidak bewarna dan tidak berbau
Penyimpanan :dalam wadah tertutup baik
Kegunaan :pembilas

BAB III

METODE KERJA

III. 1. Alat
Alat yang digunanakan pada praktikum ini yaitu neraca anlitik,
labu erlemeyer, sendok tanduk, gelas ukur, gelas kimia, pipet tetes,
corong buchner, batang pengaduk, wadah, botol semprot, batu didih,
hotplate, bunsen, lap kasar, dan lap halus.

III. 2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu anilin,
asam asetat anhidrat, asam asetat, asam sulfat (H 2SO4), HCl, etanol
90%, aquadest (H2O), es batu, alumunium foil, kertas saring, dan
masker.

III. 3. Cara Kerja


Metode I Tanpa katalisator
1) Disiapkan alat dan bahan.
2) Dimasukkan 5ml anilin ke dalam labu erlemeyer
3) Ditambahkan 5ml asam asetat anhidirat dan batu didih
4) Dipanaskan selama 3-5 menit sambil diaduk hingga homogen
5) Didinginkan dalam wadah berisi es batu hingga terbentuk
kristal asetanilida berwarna coklat muda
6) Diaring dan diambil filtrat
7) Dikeringkan dan dihitung % rendamen

Metode II menggunakan katalisator H2SO4/HCl

1) Disiapkan alat dan bahan


2) Dimasukkan 5 ml anilin ke dalam labu erlemeyer
3) Ditambahkan 5 ml asam asetat, 3-5 ml H2SO4/HCl, dan batu
didih
4) Dipanaskan 3-5 menit sambil diaduk sampai homogen
5)
6) Diaring dan diambil filtrat
7) Dikeringkan dan dihitung % rendamen

Cara Rekristalisasi
1) Dipanaskan 10 ml etanol menggunakan hot plate
2) Dimasukkan ke dalam labu erlemeyer berisi kristal
asetanilida
3) Ditambahkan Aquadest (H2O) sampai larutan menjadi
bening
4) Didinginkan dalam wadah berisi es batu sampai terbentuk
kristal asetanilida berwarna coklat muda
5) Disaring dan diambil filtrat
6) Dikeringkan hitung % rendamen
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. 1. Hasil Pengamatan

REAKSI HASIL
Anilin + Asam Asetat Anhidrat Tidak terbentuk kristal
Anilin + Asam Asetat + HCl Tidak terbentuk kristal
Anilin + Asam Asetat + H2SO4 Tidak terbentuk kristal

Reaksi :
1. Reaksi tanpa katalisator

2. Reaksi dengan katalisator HCL

HCL
H2O
Air
3. Reaksi dengan katalisator H2S04 pekat

H2S04
H3O

IV. 2. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan sintesis asetanilid
berdasarkan reaksi asetilasi menggunakan bahan baku anilin yang
direaksikan dengan asam asetat anhidrat tanpa katalisator dan anilin
yang direaksikan dengan asam asetat menggunakan dua katalisator
asam kuat yakni asam klorida (HCl) dan asam sulfat (H2SO4).
Tujuannya untuk membandingkan reaksi yang dihasilkan antara kedua
katalisator tersebut.
Metode pertama pada sintesis asetanilida yaitu tanpa katalisator
dimana anilin dimasukkan kedalam labu erlemeyer ditambahkan asam
asetat anhidrat dan batu didih lalu dipanaskan selama 3-5 menit.
Namun reaksi ini berlangsung sangat lama karena tidak adanya
katalisator yang berfungsi mempercepat reaksi.
Metode kedua yaitu menggunakan katalisator asam sulfat. Anilin
ditambahkan dengan asam asetat menghasilkan larutan coklat yang
dilanjutkan dengan pemansan 3-5 menit untuk mempercepat gaya
gerak molekul-molekul yang ada dalam larutan sehingga laju reaksi
akan semakin cepat dan reaksi asam berjalan cepat. Sama halnya
dengan metode ketiga menggunakan katalisator asam klorida (HCl)
dilakukan dengan perlakuan yang sama.
Kemudian dilanjutkan dengan proses rekristalisasi untuk menguji
kemurnian kristal asetanilid yaitu dengan melarutkan kristal
asetanilida dalam 10 ml etanol yang telah dipanaskan kemudian
ditambahkan aquadest (H2O) sampai larutan menjadi bening. Setelah
itu dimasukkan kedalam wadah berisi es batu sampai terbentuk kristal
asetanilida berwarna coklat.
Dari hasil yang diperoleh dari ketiga metode di atas yaitu tidak
terjadi pembentukan kristal asetanilida atau bisa dikatakan percobaan
ini gagal. Adapun kemungkinan faktor faktor penyebab tidak
terbentuknya kristal asetanilida antara lain yaitu karena anilin telah
berubah warna menjadi cokelat kemerahan yang artinya bahwa anilin
telah teroksidasi. Untuk mengatasinya dilakukan dengan cara
menambahkan sebuah zen kedalam labu destilasi dan 20 ml anilin
kemudian dipanaskan dalam kondisi vakum. Faktor lainnya yang
menjadi penyebab yaitu pemanasan tidak maksimal.

BAB V
PENUTUP

V. 1. Kesimpulan
Berdasrakan hasil percobaan yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa :
1) Sintesis asetanilida didasarkan pada reaksi antara anilin dan asam
asetat anhidrat tanpa katalisator dan reaksi antara anilin dan asam
asetat dengan katalisator H2SO4 dan HCl.
2) Pada praktikum yang telah dilakukan tidak menghasilkan kristal
asetanilida, dapat diartikan bahwa percobaan ini gagal karena
anilin telah teroksidasi.
V. 2. Saran
perlunya perhatian dalam proses penyimpanan dan pergantian
anilin agar tidak teroksidasi, agar praktikum dapat berjalan maksimal
sesuai dengan yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA.

Bloch, Daniel. 2013. Menyikap Tabir Kimia Organik. Penerbit Buku kedokteran:
Jakarta
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan RI.
Jakarta
Ditjen POM. 1994. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan RI.
Jakarta
Ebel Siegfried. 2010. Obat Sintetik. Fakultas Universitas Gadjah Mada:
Yogyakarta
Fessenden Ralph dan John Fessenden. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Bina
Rupa Aksara: Jakarta
Hardiana D. 2012. Polimerisasi Anilin The Horseradish Peroksidase dan
karakteristiknya. Tesis Fakultas MIPA. Depok
Harrap. G. G. 1993. Organic Chemistry: London
Hartanti, Ririn Dwi. 2007. Perancangan Pabrik Asetanilida dari Anilin dan Asam
Asetat Kapasitas 15.000 Ton/Tahun. Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta
Ibrahim Sanusi. Tehnik Laboratorium Kimia Organik. Graha Ilmu: Jakarta
Riawan, S. 2009. Kimia Organik. Bmarupa Aksara. Jakarta
Robert, F. D. Buku Teks Wilson dan Gisvold. Kimia Farmasi dan
Medisinal Organik Edisi VIII bagian II. J. B. Cippincort
Company,Philadelphia

Schunack, Walter dkk. 1983. Senyawa Obat. Gadjah Mada Press University:
Yogyakarta
Sivakumar, k. Prema, D. 2014. Inclusion Complexition F Acetanilide Into The
Cyclodextrin Handcavity a Computational Approach-Departement Of
Chemistry: India
Tjay, Tan dan Kirana, R. 2007. Obat-Obat Penting Edisi IV. Elex Media
Kompatindo : Jakarta
Wilson dan Gisvold. 1982. Kimia Farmasi dan Medisinal Organik. Lipincott
company. Toronto
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai