Anda di halaman 1dari 25

PENGAWASAN K3 KONSTRUKSI BANGUNAN

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pekerjaan jasa konstruksi bangunan dilaksanakan bertahap yaitu mulai dari tahapan

persiapan, tahapan pelaksanaan dan tahapan memelihara dan pembongkaran.


Pada tahapan pelaksanaan jasa konstruksi bangunan pada seluruh proyek di Indonesia

mempunyai ciri-ciri tempat kerja proyek :

1. Selalu berpindah-pindah dalam waktu yang relatif singkat.

2. Terbuka dan tertutup, mempunyai temperatur panas, dingin, lembab, kering, angin kencang serta

berdebu dan kotor.

3. Pekerjaan dilaksanakan secara komprehensif.

4. Menggunakan pesawat/peralatan manual dan modern sesuai dengan bekas proyek.

Pada tahapan pelaksanaan jasa konstruksi bangunan pada seluruh proyek di Indonesia

menggunakan tenaga kerja sebagai berikut : musiman atau tidak tetap, pendidikan rendah,

pengetahuan keselamatan kerja masih kurang, fasilitas yang sangat minim. Dari data kecelakaan

(Ref ILO) dibandingkan dengan kecelakaan kerja di tempat lain :

Konstruksi : 31,9%

Industri : 31,6%

Transport : 9,3%
Pertambangan : 2,6%

Kehutanan : 3,8%

Lain-lain : 20%

Sedangkan penyebab kecelakaan pada sektor konstruksi (Ref ILO) :

Jatuh : 26%

Terbentur : 12%

Tertimpa : 9%

Mesin dan alat : 8%

Alat kerja tangan : 7%

Transport : 7%

Lain-lain : 6%

Di dalam upaya mencegah kecelakaan kerja konstruksi bangunan diperlukan

pengawasan yang terus menerus dan terpadu, baik dari ahli K3 konstruksi maupun Departemen

Tenaga Kerja dan Transportasi.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan pembelajaran umum

Setelah mempelajari modul ini peserta dapat memahami dan mampu menjelaskan tentang

ketentuan peraturan perundangan konstruksi bangunan.

2. Tujuan pembelajaran khusus

Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan dapat :

2.1. Latar belakang K3 Kontruksi Bangunan

2.2. Dasar hukum K3 Kontruksi Bangunan

2.3. Pengertian K3 Kontruksi Bangunan

2.4. Ruang lingkup K3 Kontruksi Bangunan


2.5. K3 Kontruksi Bangunan

2.6. Pengawasan K3 Kontruksi Bangunan.

C. RUANG LINGKUP

Yang akan dipelajari dalam modul ini adalah :

1. Karakteristik kegiatan proyek konstruksi bangunan

2. Jenis-jenis bahaya pada kegiatan konstruksi bangunan

3. Unsur-unsur terkait pada kegiatan konstruksi bangunan

4. Strategi penerapan K3 pada proyek konstruksi bangunan

5. Elemen program K3 proyek konstruksi bangunan

6. Pengawasan pelaksanaan K3 proyek kontruksi bangunan

7. Sertifikasi

8. Inspeksi rutin internal.


BAB II

DASAR HUKUM DAN PENGERTIAN

A. DASAR HUKUM

Sebagai dasar hukum dari K3 Konstruksi bangunan adalah :

1. Undang-undang No. 1Tahun 1970 tentang keselamatan kerja

2. Undang-undang No. 13/2003 tentang ketenagakerjaan

3. Undang-undang No. 18/1999 tentang jasa kontruksi

4. Peraturan No. 01/Men/1980 tentang K3 Kontruksi

5. Instruksi Menaker No. 01/1992 tentang pemeriksaan, keberadaan unit organisasi K3.

6. SKB Menaker dan Men PU ke-174/1986 dan No. 104/KPTS/1986 tentang K3 pada tempat

kegiatan konstruksi beserta pedoman pelaksanaan K3 pada tempat kegiatan konstruksi.

7. Surat edaran Dirjen Binawas No. 13/BW/1998 tentang akte pengawasan proyek konstruksi

bangunan.

8. Surat Dirjen Binawas No. 147/BW/KK/IV/1997 tentang wajib lapor pekerjaan proyek konstruksi.

B. PENGERTIAN

1. Konstruksi bangunan ialah kegiatan yang berhubungan dengan seluruh tahapan yang dilakukan di

tempat kerja.
Tempat kerja kegiatan konstruksi bangunan ialah tempat kerja sebagaimana dimaksud pasal (1)

dan ayat (2) huruf c, k, l, Undang-undang No. 1 Tahun 1970.

2. Kontraktor ialah pelaksana kontruksi.

3. Sub-konstruktor ialah bagian dari pelaksanaan konstruksi yang mempunyai bidang khusus.

4. Pekerjaan konstruksi beton adalah tahapan pekerjaan konstruksi, yang menggunakan bahan-

bahan, semen, pasir, batu split, batu belah, batang belah, batang besi ulir.

5. Pekerjaan kontruksi baja

Tahapan pekerjaan konstruksi bangunan yang menggunakan bahan-bahan; konstruksi baja,

rangka, baut, mur, pengelasan baja.

6. Pekerjaan penggalian yaitu tahapan pekerjaan konstruksi bangunan pada tanah (soil), pekerjaan

tanah seperti galian, rembesan, parit timbunan.

7. Pekerjaan pondasi

Tahapan pekerjaan konstruksi bangunan untuk membuat bagian-bagian struktur yang memikul

beban struktur sampai ketanah.

8. Wajib lapor pekerjaan / proyek konstruksi bangunan : kewajiban administrasi K3 konstruksi

bangunan dari pelaksanaan konstruksi / kontraktor.

9. Kepala proyek : orang yang memimpin langsung tempat kerja konstruksi bangunan (pemimpin

pelaksana konstruksi).

1. Safety officer : petugas / pekerja dan pelaksana konstruksi untuk melaksanakan K3 di bidang

konstruksi.

1. Ahli K3 konstruksi ialah ahli / expert dari pelaksanaan konstruksi yang ditunjuk Menteri Tenaga

Kerja dan Transmigrasi untuk mengawasi ditaatinya Undang-undang Kedaulatan Kerja.


BAB III

POKOK BAHASAN

A. KARAKTERISTIK KEGIATAN PROYEK KONSTRUKSI


Kegiatan proyek konstruksi pada umumnya memiliki waktu / masa kerja yang terbatas

dalam hitungan bulan atau beberapa tahun saja, terkecuali proyek-proyek konstruksi besar yang

kadang-kadang memakan waktu belasan tahun.


Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan jumlahnya sangat besar dan melibatkan banyak

sekali tenaga kerja kasar yang memiliki pendidikan relatif rendah.


Proyek konstruksi bangunan memiliki intensitas kerja yang sangat tinggi karena sangat

dibatasi oleh waktu penyelesaian kegiatan proyek konstruksi. Di dalam suatu kegiatan proyek

konstruksi diperlukan berbagai disiplin ilmu dan multi crafts.


Peralatan kerja yang beragam dari alat / perkakas kerja tangan sampai berteknologi tinggi

serta penggunaan alat-alat berat, peralatan, materiil dan tenaga kerja memiliki mobilitas yang

tinggi.

B. JENIS-JENIS BAHAYA PADA KEGIATAN KONSTRUKSI

1. Physical Hazards

Atau faktor kimia yang berupa kekeringan, suhu, cahaya, getaran radiasi.

2. Chemical Hazards

Atau faktor kimia yang dapat berupa bentuk padat, cair dan gas.

3. Electrical Hazards

Atau bahaya sengatan listrik, kebakaran karena listrik karena banyaknya instalasi listrik yang

bersifat sementara dan kadang-kadang tidak terkendali.

4. Mechanical Hazards
Atau bahaya kecelakaan yang diakibatkan oleh peralatan kerja tangan, mesin / pesawat sampai

kepada alat berat.

5. Physiological Hazards

Atau organisasi yaitu cara kerja atau alat kerja yang tidak tepat, sehingga dapat menyebabkan

kecelakaan.

6. Physiological Hazards

Atau yang berkaitan dengan aspek kerja, pekerjaan yang monoton yang membuat kejenuhan,

lokasi tempat kerja yang sangat terpencil sehingga membuat kebosanan dll.

7. Biological Hazards

Yang disebabkan oleh serangga, bakteri, virus, parasit, dll.

C. UNSUR-UNSUR TERKAIT PADA KEGIATAN KONSTRUKSI BANGUNAN

1. Pemilik proyek

Pemilik proyek adalah penyandang dana sebagai pemilik yang memberikan kepercayaan kepada

kontraktor untuk melaksanakan kegiatan suatu proyek konstruksi.

2. Kontraktor adalah perusahaan jasa konstruksi yang diberi kepercayaan oleh pemilik proyek untuk

mengerjakan suatu kegiatan proyek konstruksi.

3. Sub-kontraktor adalah perusahaan jasa yang membantu berbagai macam tugas kontraktor dalam

kegiatan proyek konstruksi bangunan.

4. Pekerjaan proyek adalah para pekerja yang bekerja pada kegiatan proyek konstruksi.

5. Pekerja subkon adalah para pekerja dari penambahan subkon tertentu yang berada di proyek

konstruksi.

6. Pemasok adalah perusahaan yang bekerja di bidang jasa yang mensuplai barang-barang / alat-alat

kebutuhan proyek konstruksi bangunan.


7. Masyarakat adalah masyarakat atau yang dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan proyek

konstruksi dalam berbagai macam kegiatan.

8. Instruksi teknis adalah pemerintah yang terkait dengan kegiatan proyek konstruksi bangunan baik

dalam bentuk administratif maupun terkait.

D. STRATEGI PENERAPAN K3 PADA PROYEK KONSTRUKSI


Penerapan K3 pada kegiatan konstruksi dapat di lakukan dengan urutan sebagai berikut :

1. Identification

Setiap kegiatan proyek konstruksi memiliki karakteristik yang berbeda, misalnya proyek

bangunan tinggi, pembangunan bendungan, bangunan pabrik dan sebagainya. Lakukan

identifikasi polusi bahaya atau kegiatan konstruksi yang akan dilaksanakan. Buat mapping

potensi bahaya menurut area atau bidang kegiatan masing-masing.

2. Evaluation

Dari hasil identifikasi dilakukan evaluasi tentang potensi bahaya untuk menentukan skala

prioritas berdasarkan hazards rating.

3. Develops the plan

Berdasarkan hasil identifikasi dan evaluasi diatas susun rencana pengendalian dan pencegahan

kecelakaan :

Terapkan konsep manajemen keselamatan kerja yang baku (SMK3)

Susunlah pekerjaan implementasi dan program-program K3 yang akan dilakukan (buat dalam

bentuk elemen kegiatan).

4. Implementasi

Buat rencana kerja yang telah disusun untuk mengimplementasikan konsep pengendalian dengan

baik.
Untuk mencapai kegiatan yang optimal sediakan sumber daya yang diperlukan untuk

menjalankan program K3. Buatlah kebijakan K3 terpadu.

5. Monitoring

Buatlah program untuk memonitor pelaksanaan K3, untuk mengetahui apakah program-program

tersebut telah terlaksanan dengan baik atau tidak.

Susun lalu audit internal serta inspeksi yang baik sesuai dengan kondisi setempat.

E. ELEMEN PROGRAM K3 PROYEK KONSTRUKSI

Sebagai implementasi program K3 pada proyek konstruksi dapat kita laksanakan sebagai

berikut :

1. 1. Kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja.

Pihak manajemen harus membuat kebijakan K3 yang akan menjadi landasan keberhasilan K3

dalam kegiatan proyek konstruksi. Isi kebijakan merupakan komitmen dan dukungan dari

manajemen puncak terhadap pelaksanaan K3.


Kebijakan K3 tersebut harus direalisasikan kepada seluruh karyawan dan digunakan
sebagai kesadaran kebijakan proyek yang lain.

1. 2. Administratif dan prosedur

Menetapkan sistem organisasi pengelolaan K3 dalam proyek serta menetapkan personil dan

petugas yang menangani K3 dalam proyek.

Menetapkan prosedur dan sistem kerja K3 selama proyek berlangsung termasuk tugas dan

wewenang semua yang terkait.


Kontraktor harus memiliki :

- Organisasi yang mempunyai K3 yang besarnya sesuai dengan kebutuhan dan lingkup kegiatan.
- Akses kepada penanggung jawab proyek.
- Personal yang cukup yang bertanggung jawab mengelola kegiatan K3 dalam perusahaan yang

jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.


- Personil atau pekerja yang cakap dan kompeten dalam menangani setiap jenis pekerjaan serta

mengetahui sistem cara kerja aman untuk masing-masing kegiatan.


- Kelengkapan dokumen kerja dalam perizinan yang berlaku
- Manual K3 sebagai kebijakan K3 dalam perusahaan / proyek.
- Prosedur kerja akan sesuai dengan jenis pekerjaan dalam kontrak yang akan dikerjakan.

23. Identifikasi bahaya

Sebelum memulai sesuatu pekerjaan, harus dilakukan identifikasi bahaya, guna mengetahui

potensi bahaya dalam setiap pekerjaan.

Identifikasi bahaya dilakukan bersama pengadaan pekerjaan dan safety departemen atau P2P3.

Identifikasi bahaya menggunakan teknik yang sudah baru seperti check list, what If, hazards dan

sebagainya.

Semua hasil identifikasi bahaya harus didokumentasikan dengan baik dan dijadikan sebagai

pedoman dalam melakukan setiap kegiatan.

Identifikasi bahaya harus dilakukan pada setiap tahapan proyek yang meliputi :

- Design phase
- Pracurement
- Konstruksi
- Commissioning dan start up
- Penyerahan kepada pemilik.

34. Project safety review

Sesuai dengan perkembangan proyek, dilakukan kajian K3 yang mencakup kehandalan K3 dalam

rancangan dan pelaksanaan pembangunannya.


Kajian K3 dilaksanakan untuk meyakinkan bahwa proyek dibangun dengan standar keselamatan

yang baik sesuai dengan persyaratan.

Bila diperlukan kontraktor harus melakukan project safety review untuk setiap tahapan kegiatan

kerja, terutama bagi kontraktor EPC (Engineering, Pracurement, Construction).

Project safety review bertujuan untuk mengevaluasi potensi bahaya dalam setiap tahapan project

secara sistematis.

45. Pembinaan dan pelatihan

Pembinaan dan pelatihan K3 untuk semua karyawan dari level terendah sampai level tertinggi

dan dilakukan suatu proyek dimulai dan dilakukan secara berkala.

Materi pembinaan dan pelatihan antara lain :

- Kebijakan K3 proyek
- Cara bekerja dengan aman
- Cara penyelamatan dan penanggulangan dalam keadaan darurat.
- Dan lain-lain.

56. Safety Committee (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

P2K3 merupakan salah satu penyangga keberhasilan K3 dalam proyek konstruksi serta

merupakan saluran untuk membina keterlibatan dan kepedulian semua terhadap K3.

Kontraktor harus membentuk P2K3 yang beranggotakan wakil dari masing-masing fungsi yang

ada dalam kegiatan kerja P2K3 membahas permasalahan K3 dalam kegiatan proyek konstruksi

serta memberikan masukan dan pertimbangan kepada manajemen untuk meningkatkan K3.

67. Safety Promotion

Selama kegiatan proyek berlangsung di selenggarakan program-program promosi K3, yang

bertujuan untuk mengingatkan dan meningkatkan awareness para karyawan proyek.

Kegiatan promosi berupa poster, spanduk, bulletin, lomba K3 dan sebagainya yang sebanyak

mungkin melibatkan tenaga kerja.

78. Safe working practices


Harus disusun pedoman K3 untuk setiap pekerjaan berbahaya dilingkungan proyek, misalnya :

- Pekerjaan penjelasan
- Pemasangan scaffolding
- Bekerja di ketinggian
- Penggunaan bahan kimia berbahaya
- Bekerja di ruang tertutup
- Bekerja di peralatan mekanik
- Dan sebagainya.

89. Sistem izin kerja

Untuk mencegah kecelakaan dan berbagai kegiatan berbahaya, perlu dikembangkan izin kerja.

Semua pekerjaan berbahaya hanya boleh dimulai jika telah memiliki izin kerja yang dikeluarkan

oleh fungsi berwenang (pengawas proyek atau ahli K3)

Izin kerja memuat cara melakukan pekerjaan, safety precaution dan peralatan keselamatan yang

diperlukan.

910 Safety inspection

Safety inspection merupakan program penting dalam phase konstruksi untuk meyakinkan bahwa

tidak ada unsafe act maupun unsafe condition di lingkungan kegiatan proyek.

Inspeksi harus dilakukan secara berkala dan dapat dilakukan oleh petugas K3 atau dibentuk joint

inspection semua unsur dan sub kontraktor.

111. Equipment inspection

Semua peralatan (mekanis, proyek tools, alat berat, dsb) harus diperiksa oleh ahlinya sebelum

diizinkan digunakan dalam proyek.

Semua peralatan yang sudah diperlukan diberi sertifikat penggunaan dilengkapi dengan label.

Pemeriksaan harus dilakukan secara berkala.

112. Keselamatan Kontraktor (Contractor Safety)


Untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang meminta kontraktor maupun sub kontraktor harus

memenuhi standar keselamatan yang telah ditetapkan dan setiap sub kontraktor harus memiliki

petugas K3. Pelatihan K3 harus diberikan secara berkala kepada karyawan sub kontraktor.

113. Keselamatan Transportasi

Kegiatan proyek melibatkan aktivitas transportasi yang tinggi, sehingga diperlukan pembinaan

dan pengawasan transportasi baik diluar maupun di dalam lokasi proyek. Semua kendaraan

angkutan proyek harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

114. Pengelolaan Lingkungan

Selama proyek berlangsung harus dilakukan pengelolaan lingkungan dengan baik, mengacu

kepada dokumen amdal / UKL dan UPL.

Selama proyek berlangsung dampak negatif yang diakibatkan oleh kegiatan proyek harus ditekan

seminimal mungkin untuk menghindarkan kerusakan terhadap lingkungan.

115. Pengelolaan limbah dan K3.

Kegiatan proyek dapat menimbulkan limbah yang kemungkinan dalam jumlah yang cukup besar

dalam berbagai bentuk.

Limbah yang dihasilkan harus dikelola dengan baik sesuai dengan jenisnya pada waktu-waktu

tertentu . limbah harus dikeluarkan dari proyek dibuang ketempat yang sudah ditentukan.

116. Keadaan darurat

Apapun dapat terjadi selama kegiatan proyek berlangsung, misalnya; kebakaran, kecelakaan,

peledakan dan sebagainya. Oleh karena itu perlu diperoleh keadaan darurat dan direalisasikan

serta dilakukan pelatihan / simulasi yang diikuti semua karyawan proyek.

117. Accident Investigation and Reporting System


Semua kegiatan kecelakaan selama proyek berlangsung harus di selidiki oleh petugas yang telah

terlatih dengan tujuan untuk mencari penyebab utama agar kejadian / kecelakaan serupa tidak

terulang kembali.

Semua kejadian / kecelakaan harus dicatat serta dibuat sesuai statistik kecelakaan yang nantinya

dapat digunakan sebagai bahan rapat pada pertemuan rutin P2K3.

118. Audit K3

Proyek konstruksi secara berkala harus diaudit disesuaikan dengan jangka waktu kegiatan

proyek. Audit K3 berfungsi untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan pelaksanaan K3 dalam

proyek sebagai masukan pelaksanaan proyek berikutnya.

Hasil audit juga dapat sebagai masukan dalam memberikan penghargaan K3.

F. PENGAWASAN PELAKSANAAN K3 PROYEK KONSTRUKSI BANGUNAN

Setiap kegiatan proyek konstruksi bangunan harus dilaporkan ke kantor Depnaker

setempat dengan mengisi formulir wajib lapor yang benar data-data antara lain :

- Identitas perencana

- Penanggung jawab

- Perkembangan Jamsostek

- Jenis pekerjaan

- Waktu pelaksanaan

- Jumlah pekerja

- Pesawat / mesin / peralatan

- Bahan berbahaya

- Fasilitas K3
- Unit K3

- Usaha-usaha K3

Dari data-data yang tercantum pada wajib lapor pegawai pengawas spesialis konstruksi

akan melakukan pemeriksaan setempat untuk melakukan inspeksi.


Dari hasil inspeksi tersebut akan dituangkan kedalam buku Akte Pengawasan. Akte

Pengawasan inilah yang merupakan bentuk dari pengawasan preventif suatu tempat kerja. Isi

buku akte pengawasan adalah data-data yang diperlukan dari tempat kerja serta syarat-syarat

yang harus dipenuhi oleh pengurus tempat kerja.

G. SERTIFIKASI
Sertifikasi diberikan kepada personil setelah mengetahui pelatihan dan memenuhi

persyaratan panitia. Jenis kompetensi personil :

- Ahli K3

- Supervisor

- Teknisi

- Operator

- Pelaksana

Sedangkan jenis sertifikasi peralatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, misalnya :

Peralatan angkat-angkut

- Crane

- Forklift

- PH

- dll

Peralatan kerja sebelum dipergunakan harus diperiksa terlebih dahulu dengan

menggunakan lembar check list. Secara berkala peralatan tersebut harus diperiksa dan diuji oleh

pengawas K3 spesialis atau ahli K3 spesialis.


H. INSPEKSI RUTIN INTERNAL
Contoh check list

BAB IV

SOAL LATIHAN
1. Apakah yang menjadi dasar hukum pengawasan K3 konstruksi bangunan ?
2. Pengawasan K3 konstruksi bangunan dilakukan pada setiap tahapan pekerja, sebutkan !
3. Siapa yang bertanggung jawab terhadap kejadian kecelakaan di proyek konstruksi ?
4. Apa manfaat unit K3 di proyek konstruksi bangunan
5. Jelaskan tentang bahaya-bahaya yang ada di kegiatan proyek konstruksi bangunan !
6. Dalam bentuk apa pengawasan K3 proyek konstruksi bangunan ?
7. Apa tujuan pembuatan pedoman kerja di proyek konstruksi bangunan?
8. Mengapa pihak manajemen harus membuat komitmen K3 ?
9. Tanggap darurat pada konstruksi bangunan sangat diperlukan untuk kondisi seperti apa tanggap

darurat itu dibuat ?


10. Berikan contoh jenis-jenis pekerjaan yang memerlukan izin kerja !

BAB V
PENUTUP

Perkembangan dalam sektor konstruksi banyak menggunakan peralatan, pesawat, mesin,

bahan berbahaya cenderung mengundang sumber bahaya potensial yang sangat tinggi.

Sumber bahaya dengan potensi tinggi akan meningkatkan bahaya baik dari sifat cara dan

proses produksi serta lingkungan kerja dengan risiko kecelakaan yang lebih besar kalau tidak

diadakan upaya pengendaliannya.

Pengendalian ini dapat dilakukan dengan meningkatkan upaya keselamatan dan

kesehatan kerja yang mencakup antara lain upaya untuk mencegah dan mengendalikan

kecelakaan kerja, kebakaran, peledakan dan penyakit akibat kerja di tempat kerja konstruksi

bangunan.
Dalam kondisi yang demikian perlu tenaga kerja yang lebih terampil dan profesional di

dalam pengoperasiannya, sehingga risiko bahaya dapat lebih ditekan. Peranan K3 akan sangat

penting dan strategis guna mengantisipasi masalah tersebut diatas.


DAFTAR PUSTAKA

1. Menaker No. 01/Men/1981


2. Instruksi Menaker No. 01/1992
3. SKB Menaker dan Men PU No. 174/1986 dan No. 104/KPTS/1986
4. SE Dirjen Binawas No, 13/BW/1986
5. SE Dirjen Binawas No. 147/BW/KK/IV/1997
6. Pedoman K3 Konstruksi Bangunan oleh Depnaker 1981
Kumpulan Peraturan Perundangan K3 (Keselamatan dan
Kesehatan Kerja) Revisi Terbaru

AK3U.COM Peraturan Perundangan


K3 menjadi alat kerja yang sangat penting bagi para Ahli K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
yang berguna untuk menerapkan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dan berikut ini adalah
update Kumpulan Peraturan Perundangan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) revisi terbaru.

Undang-Undang K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) :

Undang-Undang Uap Tahun 1930 (Stoom Ordonnantie).

Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 203 tentang


Ketenagakerjaan.

Peraturan Pemerintah terkait K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) :

Peraturan Uap Tahun 1930 (Stoom Verordening).

Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran,


Penyimpanan dan Peredaran Pestisida.

peraturan Pemerintah No 19 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan


Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan.

Peraturan Pemerintah No 11 Tahun 1979 tentang keselamatan Kerja Pada


Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi.

Peraturan Menteri terkait K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) :

Permenakertranskop RI No 1 Tahun 1976 tentang Kewajiban Latihan Hiperkes


Bagi Dokter Perusahaan.
Permenakertrans RI No 1 Tahun 1978 tentang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja dalam Pengangkutan dan Penebangan Kayu.

Permenakertrans RI No 3 Tahun 1978 tentang Penunjukan dan Wewenang


Serta Kewajiban Pegawai Pengawas Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan
Ahli Keselamatan Kerja.

Permenakertrans RI No 1 Tahun 19879 tentang Kewajiban Latihan Hygienen


Perusahaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja bagi Tenaga Paramedis
Perusahaan.

Permenakertrans RI No 1 Tahun 1980 tentang Keselamatan Kerja pada


Konstruksi Bangunan.

Permenakertrans RI No 2 Tahun 1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga


Kerja Dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.

Permenakertrans RI No 4 Tahun 1980 tentang Syarat-syarat Pemasangan dan


Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan.

Permenakertrans RI No 1 Tahun 1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit


Akibat Kerja.

Permenakertrans RI No 1 Tahun 1982 tentang Bejana Tekan.

Permenakertrans RI No 2 Tahun 1982 tentang Kualifikasi Juru Las.

Permenakertrans RI No 3 Tahun 1982 tentang Pelayanan Kesehatan Tenaga


Kerja.

Permenaker RI No 2 Tahun 1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran Otomatis.

Permenaker RI No 3 Tahun 1985 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Pemakaian Asbes.

Permenaker RI No 4 Tahun 1985 tentang Pesawat Tenaga dan Produksi.

Permenaker RI No 5 Tahun 1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut.

Permenaker RI No 4 Tahun 1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan


Kesehatan Kerja Serta Tata Cara Penunjukan Ahli Keselamatan Kerja.

Permenaker RI No 1 Tahun 1988 tentang Kualifikasi dan Syarat-syarat


Operator Pesawat Uap.

Permenaker RI No 1 Tahun 1989 tentang Kualifikasi dan Syarat-syarat


Operator Keran Angkat.
Permenaker RI No 2 Tahun 1989 tentang Pengawasan Instalasi-instalasi
Penyalur Petir.

Permenaker RI No 2 Tahun 1992 tentang Tata Cara Penunjukan, Kewajiban


dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Permenaker RI No 4 Tahun 1995 tentang Perusahaan Jasa Keselamatan dan


Kesehatan Kerja.

Permenaker RI No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan


Kesehatan Kerja.

Permenaker RI No 1 Tahun 1998 tentang Penyelenggaraan Pemeliharaan


Kesehatan Bagi Tenaga Kerja dengan Manfaat Lebih Dari Paket Jaminan
Pemeliharaan Dasar Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

Permenaker RI No 3 Tahun 1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan


Pemeriksaan Kecelakaan.

Permenaker RI No 4 Tahun 1998 tentang Pengangkatan, Pemberhentian dan


tata Kerja Dokter Penasehat.

Permenaker RI No 3 Tahun 1999 tentang Syarat-syarat Keselamatan dan


Kesehatan Kerja Lift untuk Pengangkutan Orang dan Barang.

Keputusan Menteri terkait K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

Kepmenaker RI No 155 Tahun 1984 tentang Penyempurnaan keputusan


Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Kep 125/MEN/82 Tentang
Pembentukan, Susunan dan Tata Kerja Dewan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Nasional, Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Wilayah dan Panitia
Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum RI No


174 Tahun 1986 No 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja pada Tempat Kegiatan Konstruksi.

Kepmenaker RI No 1135 Tahun 1987 tentang Bendera keselamatan dan


Kesehatan Kerja.

Kepmenaker RI No 333 Tahun 1989 tentang Diagnosis dan Pelaporan Penyakit


Akibat Kerja.

Kepmenaker RI No 245 Tahun 1990 tentang Hari Keselamatan dan Kesehatan


Kerja Nasional.

Kepmenaker RI No 51 Tahun 1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di


Tempat Kerja.
Kepmenaker RI No 186 Tahun 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran
di Tempat Kerja.

Kepmenaker RI No 197 Thun 1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia


Berbahaya.

Kepmenakertrans RI No 75 Tahun 2002 tentang Pemberlakuan Standar


Nasional Indonesia (SNI) No SNI-04-0225-2000 Mengenai Persyaratan Umum
Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000) di Tempat Kerja.

Kepmenakertrans RI No 235 Tahun 2003 tentang Jenis-jenis Pekerjaan yang


Membahayakan Kesehatan, Keselamatan atau Moral Anak.

Kepmenakertrnas RI No 68 Tahun 2004 tentang Pencegahan dan


Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja.

Instruksi Menteri terkait K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja):

Instruksi Menteri Tenaga Kerja No 11 Tahun 1997 tentang Pengawasan Khusus


K3 Penanggulangan Kebakaran.

Surat Edaran dan Keputusan Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan
Ketenagakerjaan terkait K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja):

Surat keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan


Pengawasan Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja RI No 84 Tahun 1998
tentang Cara Pengisian Formulir Laporan dan Analisis Statistik Kecelakaan.

Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan


Ketenagakerjaan No 407 Tahun 1999 tentang Persyaratan, Penunjukan, Hak
dan Kewajiban Teknisi Lift.

Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan


Ketenagakerjaan No 311 Tahun 2002 tentang Sertifikasi Kompetensi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Teknisi Listrik.

Revisi :

Peraturan Menaker 33 Tahun 2015 Perubahan Atas Peraturan Menteri


Ketenagakerjaan Nomor 12 Tahun 2015 Tentang Keselamatan Dan Kesehatan
Kerja Listrik Di Tempat Kerja

Peraturan Menaker 32 Tahun 2015 Perubahan Atas Peraturan Menteri Tenaga


Kerja Nomor Per.03/men/1999 Tentang Syarat-syarat Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja Lift Untuk Pengangkutan Orang Dan Barang

Peraturan Menaker 31 Tahun 2015 Perubahan Atas Peraturan Menteri Tenaga


Kerja Nomor Per.02/men/1989 Tentang Pengawasan Instalasi Penyalur Petir
Download PDF tentang Kumpulan Peraturan Perundangan K3 (Keselamatan dan
Kesehatan Kerja) :

1. Peraturan Menaker 31 Tahun 2015

2. Peraturan Menaker 32 Tahun 2015

3. Peraturan Menaker 33 Tahun 2015

4. Himpunan Peraturan Perundangan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

Anda mungkin juga menyukai