Anda di halaman 1dari 12

I.

Thermogravimetric Analysis (TGA)


Definisi

Thermogravimetric Analysis (TGA) adalah teknik untuk mengukur perubahan jumlah dan
laju dalam satuan massa atau berat dari material sebagai fungsi dari temperatur atau waktu
dalam atmosfer yang terkontrol. Komposisi dan prediksi kestabilan termal hingga suhu
1200C dari material menjadi hasil pengukuran yang utama. Teknik ini dapat menunjukkan
karakteristik material yang kehilangan ataupun bertambah beratnya seiring dengan peristiwa
dekomposisi, oksidasi, atau dehidrasi yang dialami material. Teknik ini dapat digunakan
untuk menganalisa berbagai macam material padat, termasuk organik maupun inorganik.

Prinsip Kerja

Mekanisme perubahan berat pada TGA


A. Kehilangan berat
1. Dekomposisi : Pemutusan ikatan kimia
2. Evaporasi : Menguapnya bahan volatile dengan naiknya temperatur
3. Reduksi : Interaksi dari sampel untuk mengurangi atmosfer
4. Desorpsi
B. Penambahan berat
1. Oksidasi : Interaksi sempel dengan atmosfer oksidasi
2. Absorpsi
Semuanya adalah proses kinetik.
Preparasi sampel TGA
Memaksimalkan luas permukaan dari sampel untuk meningkatkan resolusi
kehilangan berat dan reprodusibilitas temperatur. Berat sampel : 10-20 mg untuk
aplikasi pada umumnya, 50-100 mg untuk pengukuran zat-zat mudah menguap.
Kebanyakan TGA memiliki baseline drift 0.25% dari 10 mg sampel.

Gambar 1.1 Tampilan kuantifikasi TGA


TGA terdiri dari sebuah sample pan yang didukung oleh sebuah precision
balance. Pan tersebut ditempatkan dalam suatu furnace yang dipanaskan atau
didinginkan selama eksperimen. Massa dari sampel dipantau selama eksperimen.
Sampel dialiri oleh suatu gas untuk mengontrol lingkungan sampelnya. Gas yang
digunakan dapat berupa gas inert atau gas reaktif yang mengalir melalui sampel dan
keluar melalui exhaust.
Timbangan bekerja pada 3 prinsip :
1. Null-balance: pada posisi nol sama dengan jumlah sinar yang memancar
pada dua photodiode. Bila timbangan bergerak tidak sama dengan nol,
maka terjadi ketidakseimbangan jumlah cahaya yang memancar pada dua
photodiode. Arus dialirkan ke meter movement untuk mengembalikan
timbangan pada posisi nol. Jumlah arus yang dialirkan sama dengan nilai
kehilangan berat atau pertambahan berat.
2. Deflection balance: Perpindahan dari sistem mekanik itu sendiri melawan
perubahan berat dan menetapkan posisi kesetimbangan yang baru.
3. Pseudo-null balance: Gabungan kedua sistem. Perubahan berat sebagian
dinetralkan dengan gaya pemulih, kemudian defleksi sisa dari posisi null
(posisi 0) ditentukan. Perubahan berat total adalah jumlah dari dua efek.

Berikut adalah mekanisme timbangan pada GTA:

Gambar 1.2 Berbagai mekanisme timbangan pada GTA


Data TGA menunjukan sejumlah urutan dari lengkungan panas, kehilangan berat
bahan di dalam setiap tahapan, suhu awal penurunan, dan lain-lain (Mc Neill, 1989).
Termogravimetri dan analisis differensial termal termogravimetri (DTG) akan menghasilkan
informasi keadaan alamiah dan pemanjangan penurunan suhu bahan. TGA dapat memberikan
informasi berupa stabilitas termal bahan, stabilitas oksidatif bahan, komposisi sistem multi-
komponen, perkiraan umur produk, dekomposisi kinetika bahan, pengaruh reaktif atau
korosifnya atomosfer terhadap material, kelembapan dan komponen yang mudah menguap
dari bahan.

Kebanyakan pengujian TGA menggunakan sampel yang dialiri gas inert. Hal tersebut
dilakukan agar sampel hanya bereaksi terhadap suhu selama dekomposisi. Saat sampel
dipanaskan pada atmosfer inert proses terjadi suatu proses yang biasanya disebut pirolisis.
Pirolisis merupakan dekomposisi kimia dari material organik dengan pemanasan saat tidak
adanya oksigen atau reagen lainnya

Aplikasi

Analisa TGA banyak digunakan untuk mengkarakterisasi dan menentukan material.


TGA dapat digunakan pada banyak industri seperti pada lingkungan, makanan, farmasi,
petrokimia dan biasanya dengan evolved gas analysis. Berikut ini merupakan beberapa
aplikasi penggunaan TGA:

a. Menentukan perubahan temperatur dan berat karena adanya reaksi dekomposisi


yang biasanya memungkinkan untuk menentukan analisa komposisi kuantitatif.
b. Menentukan kelembaban, kandungan solvent atau filler.
c. Mengetahui peristiwa reduksi atau oksidasi.
d. Memungkinkan menganalisa reaksi dengan air, oksigen, atau gas reaktif lain.
e. Dapat digunakan untuk mengukur laju penguapan, seperti pengukuran emisi yang
mudah menguap pada campuran liquid.
f. Memungkinkan penentuan temperatur curie pada transisi magnetik dengan
mengukur temperatur dimana kekuatan yang diberikan oleh sebuah magnet
didekatnya akan menghilang pada saat dipanaskan dan akan muncul kembali saat
didinginkan.
g. Membantu mengidentifikasi material plastik dan organik dengan menentukan
temperatur dari bond scissions pada atmosfer inert atau oksidasi di udara atau
oksigen
h. Mengukur berat dari fiberglass dan isi material inorganik di plastik, laminat, cat
,primer dan material komposit dengan membakar resin dari polimer. Kemudian isi
dari material tersebut dapat diidentifikasi dengan XPS dan atau mikroskop. Isi
material tersebut dapat berupa carbon black, TiO2, CaCO3, MgCO3, Al2O3,
Al(OH)3, Mg(OH)2, bubuk, tanah liat kaolin, silika, dan lain lain.

II. Differential Thermal Analysis (DTA)


Definisi Differential Thermal Analysis

Merupakan alat yang digunakan dalam penentuan kualitatif dari suatu material dengan
menggunakan prinsip perbedaan temperatur dengan material referensi yang telah diketahui.
Material referensi merupakan material yang bersifat inert terhadap dekomposisi sehingga
dapat menunjukan perbedaan antara sampel dan referensi secara signifikan. Sampel yang
dapat dianalisis dengan DTA dapat berupa material yang mudah terdekomposisi dengan
perubahan suhu. Sehingga DTA tidak hanya digunakan untuk analisis material keramik
namun juga dapat digunakan untuk material berupa logam maupun polimer.
Salah satu kelemahan dari DTA adalah nilai sensitifitas terhadap perbedaan suhu yang
relatif rendah dibanding alat analisis termal lainnya. Sehingga untuk perubahan temperatur
yang kecil tidak dapat terlihat pada kurva DTA terhadap perubahan suhu. Namun dari kurva
DTA dapat dianalisis perubahan sifat termal yang terjadi pada sampel seperti dekarbonasi dan
dehidrogenasi. Akan tetapi kelebihan dari DTA adalah fleksibilitas terhadap tekanan operasi
(dalam tekanan tinggi ataupun vakum). Selain itu DTA dapat menunjukan perubahan termal
secara kontinu walaupun terjadi pengurangan masa sampel, dengan demikian DTA dapat
menganalisis secara kuantitatif nilai entalpi dari sampel berdasarkan data perubahan
temperatur, sehingga DTA dapat membantu melengkapi data yang dihasilkan oleh X-RD
dalam hal sifat termal bahan. Dalam operasinya DTA dapat digunakan untuk rentang
temperatur -150 - 24000C dalam berbagai nilai tekanan operasi.

Aplikasi DTA dalam pengukuran termal pada :

ANALISIS SIFAT TERMAL POLIURETAN BERBASIS MINYAK JARAK DAN


TOLUENA DIISOSIANAT DENGAN TEKNIK DTA DAN TGA

oleh Eli Rohaeti dan Suyanta, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri
Yogyakarta

Sifat termal dikarakterisasi dengan teknik Differential Thermal Analysis dan


Thermogravimetric Analysis dengan cara sebagai berikut setiap sampel poliuretan
dimasukkan ke dalam krus tempat sampel dan diletakkan di dalam alat DTA-TGA. Kondisi
alat diukur dan dioperasikan pada suhu 300C-4000C dengan kecepatan pemanasan
100C/menit. Termogram yang dihasilkan dicetak pada kertas. Termogram DTA yang
diperoleh yaitu berupa perbedaan suhu (T) antara sampel dan bahan pembanding diplot
terhadap temperatur sampel selama pemanasan. Berdasarkan termogram DTA yang diperoleh
dapat digunakan untuk mengetahui transisi gelas (Tg), temperatur leleh (Tm), serta
temperatur dekomposisi (Td) produk polimer. Selanjutnya termogram TGA menunjukkan
massa versus temperatur. Berdasarkan termogram TGA dapat diketahui kehilangan massa
poliuretan pada berbagai temperatur.

Salah satu karakteristik yang penting dari keadaan amorf adalah sifat polimer selama
transisinya dari glassy ke rubber. Ketika suatu gelas amorf dipanaskan, maka energi
kinetiknya akan bertambah, namun gerakannya hanya dibatasi sampai vibrasi dan rotasi
daerah pendek sepanjang polimer tersebut. Namun demikian jika temperatur dinaikkan
kembali akan muncul satu batas terjadi perubahan yang jelas dan polimer melepaskan sifat-
sifat gelasnya (keras, kuat, dan kaku) untuk berubah sifat-sifatnya menjadi karet (lunak).
Temperatur pada saat polimer melepaskan sifat-sifat gelasnya disebut temperatur gelas (Tg)
(Stevens, 2001: 90). Berdasarkan percobaan didapat data sebagai berikut :

Berdasarkan analisis termogram DTA dan TGA, pada temperatur 400 0C, massa
poliuretan yang hilang di bawah 45% ( baru 14% untuk poliuretan dari minyak jarak-
etilenadiamin-TDI). Dengan demikian pada temperatur tersebut belum terjadi dekomposisi
molekul polimer secara total. Terjadinya peningkatan kehilangan massa dengan
meningkatnya temperatur (Tabel 9) menunjukkan semakin banyak bagian molekul yang
terdekomposisi akibat meningkatnya temperatur atau terjadi proses depolimerisasi. Namun
untuk poliuretan dari minyak jarak-PEG400- TDI menunjukkan bahwa mulai 100 0C sampai
250 0C polimer mengalami penurunan kehilangan massa, hal tersebut dapat disebabkan
terjadi proses polimerisasi.
III. Differential Scanning Calorimetry
Pada proses pembakaran suatu keramik, dilakukan Pre-Sintering Stage, yaitu pembakaran zat
organik dan pemisahan spesi volatile pada keramik. Pada tahap ini, dapat dilakukan dengan
tiga teknik berbeda, salah satunya adalah teknik Differential Scanning Calorimetry.
Definisi
Differential Scanning Calorimetry (Kalorimeter Pemindaian) adalah suatu teknik analisis
termal untuk menentukan kejadian termal (seperti dekomposisi, dehidrasi, atau pirolisis) pada
suatu temperatur.
Pada Differential Scanning Calorimetry, akan diukur laju energy, atau kalor yang terlibat
pada suatu sampel untuk menentukan dimana terjadinya kejadian termal tersebut secara
langsung.
Prinsip Kerja
Pada calorimeter DSC, akan digunakan dalah teknik untuk mengukur energi yang diperlukan
untuk membuat perbedaan suhu yang hamper nol antara sampel dan bahan referensi inert.
Prinsip dasar yang mendasari teknik ini adalah, bila sampel mengalami transformasi fisik
seperti transisi fase, lebih (atau kurang) panas harus mengalir ke referensi untuk
mempertahankan keduanya pada temperatur yang sama.
Lebih atau kurangnya panas yang harus mengalir ke sampel tergantung pada apakah proses
ini eksotermik atau endotermik. Misalnya, sebagai sampel padat meleleh cairan itu akan
memerlukan lebih banyak panas mengalir ke sampel untuk meningkatkan suhu pada tingkat
yang sama sebagai acuan.
Hal ini disebabkan penyerapan panas oleh sampel karena mengalami transisi fase endotermik
dari padat menjadi cair. Demikian juga, sampel ini mengalami proses eksotermik (seperti
kristalisasi), panas yang lebih sedikit diperlukan untuk menaikkan suhu sampel. Dengan
mengamati perbedaan aliran panas antara sampel dan referensi, diferensial scanning
kalorimeter mampu mengukur jumlah panas yang diserap atau dilepaskan selama transisi
tersebut.
Ada dua macam calorimeter DSC yang biasa digunakan, yaitu Heat Flux DSC dan Power
Compensation DSC.
Pada Heat Flux DSC, , sampel dan referensi terhubung dengan aliran panas ber resistensi
rendah (Disc logam). Perakitan dibuat dalam suatu tungku tunggal. Perubahan kapasitas
entalpi atau panas dalam sampel menyebabkan perbedaan suhu yang relatif terhadap
referensi.
Pada Power Compensation DSC, suhu dari sampel dan referensi dikendalikan pada tungku
yang identic namun terpisah. Suhu sampel dan referensi dibuat identik dengan
memvariasikan daya input ke dua tungku. Energi yang dibutuhkan untuk melakukan hal ini
adalah perubahan entalpi atau perubahan kapasitas panas dalam sampel relatif terhadap
referensi.

Gambar 3.1 Dua macam Kalorimeter DSC


Gambar 3.2 Desain Kalorimeter DSC

Hasil dari analisis termal DSC ini adalah adalah hubungan fluks panas terhadap suhu atau
terhadap waktu. Ada dua konvensi yang berbeda: reaksi eksotermis dalam sampel
ditunjukkan dengan puncak positif atau negatif. Kurva ini dapat digunakan untuk menghitung
entalpi transisi. Hal ini dilakukan dengan mengintegrasikan puncak yang berhubungan
dengan transisi yang diberikan. Hal ini dapat menunjukkan bahwa entalpi transisi dapat
dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:
H=KA

Dimana:
H = Entalpi; K = Konstanta Kalorimetri, dan A = Area di bawah kurva

Gambar 3.3 Hasil yang terbaca pada DSC


DAFTAR PUSTAKA

Bhadeshia, H. K. D. H. 2002. Differential Scanning Calorimetry. University of Cambridge,


Materials Science & Metallurgy

Klannik, Grega, Joef Medved, dan Primo Mrvar. (2009). Differential Thermal Analysis
(DTA) And Differential Scanning Calorimetry (DSC) As A Method Of Material
Investigation. University of Ljubljana.

Mielenz, Schielz,King.(1999)Thermogravimetric Analysis of' Clay and Clay-Like Minerals.


Petrographic Laboratory, Bureau of Reclamation, Denver Federal Center, Denver,
Colorado.

Mohomed, Kadine.Thermogravimetric Analysis Theory, Operation, Calibration, and Data


Interpretation.Thermal Application Chemist, TA Instrument.
Rohaeti, Eli dan Suyanta. (2011). Analisis Sifat Termal Poliuretan Berbasis Minyak Jarak
Dan Toluena Diisosianat Dengan Teknik DTA Dan TGA . FMIPA UNY. Yogyakarta

Rostek, Biernat. (2013). Thermogravimetry as a Research Method in the Transformation


Processes of Waste Rubber and Plastic Products for Energy Carriers (WtE and
WtL Processes). Department of Fuels and Renewable Energy, Automotive
Industry Institute, Warsaw, Poland.

Tarasov, Andrey. 2012. Lecture on Thermal Analysis: Thermal Analysis: Methods,


Principles, and Application. Fritz Haber Institute of the Max Planck Society.

Tugas Teknik Analisis Termal


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dari Mata Kuliah Dasar-Dasar
Keramik
Dosen: Tjokorde Walmiki Samadhi, ST, MT., Ph.D.

Oleh:
Aridhiena Nurbanie (13015065)
Slamet Setya Aji (13015085)
M Zakky Winahyu (13015096)
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2017