Anda di halaman 1dari 7

1.

Tektonik Maluku Utara

Secara geologi dan tektonik Halmahera cukup unik, karena pulau ini
terbentuk dari pertemuan 3 lempeng, yaitu Eurasia, Pasifik dan Indo-
Australia yang terjadi sejak zaman kapur. Di selatan Halmahera
pergerakan miring sesar Sorong ke arah barat bersamaan dengan Indo-
Australia struktur lipatan berupa sinklin dan antiklin terlihat jelas pada
formasi Weda yang berumur Miosen Tengah-Pliosen Awal. Sumbu lipatan
berarah Utara-Selatan, Timur Laut - Barat Daya, dan Barat Laut-Tenggara.

Struktur sesar terdiri dari sesar normal dan sesar naik umumnya berarah
Utara-Selatan dan Barat Laut-Tenggara. Kegiatan tektonik dimulai pada
Kapur Awal dan Awal Tersier, ketidakselarasan antara batuan berumur
Paleosen-Eosen dengan batuan berumur Eosen-oligosen Awal,
mencerminkan kegiatan tektonik sedang berlangsung kemudian diikuti
kegiatan gunung api. Sesar naik akibat tektonik terjadi pada jaman Eosen-
Oligosen. Tektonik terakhir terjadi pada jaman Holosen berupa
pengangkatan terumbu dan adanya sesar normal yang memotong
batugamping.

Gambar 1. Tektonil Regional Halmahera


Perkembangan tektonik pada lengan timur diperkirakan terjadi pada akhir
Kapur dan awal Tersier. Mandala lengan timur terdiri atas batuan tua
ultrabasa dan serpih merah yang diduga berumur Kapur terdapat dalam
batuan sedimen Formasi Dorosagu yang berumur Paleosen-Eosen.
Kegiatan tektonik lanjutan terjadi pada awal Eosen Oligosen. Ini
diketahui dari ketidak selarasan antara Formasi Dorosagu dan Formasi
Bacan (batuan vulkanik berumur akhir Oligosen Miosen Awal (Oligo-
Miosen). Mandala Timur terdiri dari hampir seluruhnya relatif batuan tua
dibanding Mandala Barat.

Pada Miosen Tengah, Plio-Plistosen dan akhir Holosen terjadi kegiatan


tektonik berupa perlipatan, sesar naik secara intensif dengan arah utama
UUT SSB. Sesar normal berarah BUB TUT dan ini terjadi pada fase
tektonik akhir, memotong semua sesar naik.

Pada Mandala Geologi Barat karakteristiknya jauh berbeda dari yang di


jelaskan diatas. Batuan tertua di daerah ini adalah Formasi Bacan berumur
Oligo-Miosen, tersingkap di ujung utara P. Halmahera dan sebagian P. Doi.
Sesar yang dapat teramati adalah sesar Normal. Menurut Katili (1980)
dalam Bukunya Geotectonic of Indonesia membagi kawasan Halmahera
bagian utara menjadi dua zona yaitu : Lengan Mandala Timur dinamakan
zona subduksi dan Lengan Mandala Barat (utara) sebagai zona busur
magmatic.

2. Double Suduction Sulawesi dan Halmahera

Di antara Sulawesi dan Halmahera/Maluku ada fenomena tektonik yang


sangat unik yang terjadi di Laut Maluku. Di sini terjadi subduksi ganda
(double subduction), satu lempeng di bagian barat menunjam ke arah
barat (di bawah Sulawesi), dan satu lempeng lain di bagian timur
menunjam ke arah timur (di bawah Halmahera). Di Laut Maluku sendiri
terjadi benturan dua sistem prisma akresi akibat subduksi ini, yang isinya
semuanya merupakan batuan bancuh/ mlange. Pulau Talaud di utara
Sulawesi dan Mayu di Laut Maluku adalah dua pulau terangkat yang
seluruhnya dibentuk benturan mlange ini. Fenomena seperti ini hanya
ada di Indonesia.
Gambar 2. Lokasi double subduksi antara utarapulau sulawesi dan pulau
halmahera.

Diketahui subduksi kembar ini terbentuk oleh pergerakan dari lempeng


laut Philipina di timur, pada zona Halmahera dengan kecepatan laju
penunjamannya 6.7 cm/tahun. Sementara di sebelah barat lempeng
eurasia menekan ke timur dengan laju 1.7 cm/tahun pada zona Sangihe.
Akibat dari penunjaman ganda tersebut menghasilkan kompresi arah
barat timut di bagian tengah.
Gambar 3. Penampang double subduksi

Double subduksi ini beberapa kejadian gempa dengan mekanisme


fokusnya naik yang merupakan ciri kejadian gempa hasil dari tumbukan
lempeng. Seismisitas diantara Sangihe dan Halmahera sangat dominan
dan terjadi pada kedalaman yang kurang dari 50 km, dan gempa-gempa
ini tergolong gempa dangkal.

3. Perkembangan Zona Tumbukan

Silver & Moore (1981) menjelaskan bahwa perkembangan struktur zona


tumbukan di Laut Maluku diasumsikan bahwa masing - masing system
busur sebelum terjadi tumbukan terdiri atas busur gunung api aktif,
kompleks tunjaman, serta cekungan busur muka (fore arc basin). Diduga
tunjaman kearah barat dibawah Kepulauan Sangihe aktif lebih lama
dibandingkan tunjaman yang kearah timur dibawah Pulau Halmahera. Hal
ini didasarkan dari zona Benioff di Kepulauan Sangihe lebih dalam
dibanding dengan kemiringan penujaman di Pulau Halmahera. Hal ini pula
didasarkan dari data yang ditemukan bahwa laju penunjaman dibawah
Sangihe lebih cepat.

Gambar 4. Double Subduksi Halmahera

Zona tumbukan laut Maluku sebelah utara busur Banda merupakan zona
tumbukan antara busur kepulauan yaitu busur Sangihe di sebelah barat
dan busur Halmahera di sebelah timur. Di bawah zona tumbukan Laut
Maluku yang memanjang dalam arah utara-selatan ini telah diamati
adanya suatu penunjaman slab dari lempeng laut Maluku dengan
konfigurasi penunjaman yang sangat unik, dimana slabdari lempeng yang
sama menunjam ke dua arah yaitu barat dan timur berbentuk seperti U
terbalik (Widiyantoro, 2007).

Sementara yang lebih kompleks dan rumit adalah penunjaman pada


pertemuan antara beberapa lempeng yang terjadi dibagian utara pulau
Sulawesi dan kawasan Laut Maluku. Di kawasan ini terdapat subduksi
ganda, akibat subduksi (penunjaman) lempeng Pasifik terhadap lempeng
Eurasia menimbulkan dua busur melengkung yang arahnya berbeda, yaitu
busur Halmahera dan Busur Mayu-Sangihe. Busur Mayu sejajar dengan
Halmahera, menunjam ke arah timur. Sedang Busur Halmahera menunjam
ke barat mengarah ke Filipina dan Perairan Maluku.

Subduksi ganda tersebut terbentuk akibat tekanan dari lempeng laut


Filipina di sebelah timur, pada zona Halmahera, dengan laju penunjaman
6,7 cm per tahun. Di barat, lempeng Eurasia menekan ke timur dengan
laju 1,7 cm per tahun pada zona Sangihe.

Proses krasi kedua kompleks tunjaman ditafsirkan berhenti ketika mulai


bertumbukan. Selanjutnya, proses konvergen sitersebut mengakibatkan
zona tumbukan terangkat dan terjadi penebalan di zona ini, disertai
pelipatan dan dan sesar naik.

4. Struktur Zona Tumbukan

Zona tumbukan Laut Maluku memiliki kesetangkupan struktur yang


menonjol. Punggungan Mayu Talaud adalah bagian dari punggungan
besar yang terdeformasi dan terdiri atas batuan sedimen klastik.
Punggungan tersebut di bagian sisi timur maupun baratnya dibatasi oleh
palung yang juga ditandai oleh adanya kontak sesar naik terhadap bagian
depan kedua busur. Singkapan punggungan tersebut dijumpai di Pulau
Mayu, Pulau Talaud dan Pulau Tifore, berupa batuan sedimen Tersier yang
terdeformasi, serta bancuh yang mengandung bongkab bongkah aneka
ragam batuan, seperti peridotit, serpentinit, gabro, serta batuan gunung
api dan sedimen Tersier dalam matriks yang tergeruskan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. Geologi Regional Halmahera


(http://mentarigeologi.blogspot.co.id/2015/1 0/ geologi-regional-
halmahera.html. Diakses pada 23 januari 2017

Awang Harum Satyana.2014.INDONESIA: DIBANGUN 400 JUTA TAHUN )


https://www. facebook.com/permalink.php?
story_fbid=508800922599867&id=100004098920754). Diakses pada 23
Januari 2017.

B. Hermanto. 2014. PERKEMBANGAN KERANGKA TEKTONIK LAUT MALUKU,


KEPULAUAN BANGGAI-SULA DAN LAJUR OFIOLIT SULAWESI TIMUR. Pusat
survey Geologi.

Jay Patton.2014. Earthquake along the Halmahera Arc (earthjay.com/?


p=2040.). Diakses pada 23 januari 2017

Rovicky.2014.Laut Maluku Digoyang Dua Subduksi


(https://rovicky.wordpress.com /2014/11/16/laut-maluku-digoyang-dua-
subduksi/). Diakses pada 23 Januri 2017.

Anda mungkin juga menyukai