Anda di halaman 1dari 174

PENGARUH RASIO LIKUIDITAS, LEVERAGE, AKTIVITAS DAN

PROFITABILITAS TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN

MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PERIODE 2008-2011

DRAFT SKRIPSI

Untuk memenuhi Salah Satu Syarat Sidang Skripsi


Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:
Zaky Silemut Ate
084020202

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2012
PENGARUH RASIO LIKUIDITAS, LEVERAGE, AKTIVITAS DAN

PROFITABILITAS TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN

MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PERIODE 2008-2011

SKRIPSI

Untuk memenuhi Salah Satu Syarat Sidang Skripsi


Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan

Bandung, Mei 2012


Mengetahui,
Pembimbing

Ifa Ratifah, SE., M.Si.

Dekan Ketua Program Studi

Dr. H. R. Abdul Maqin, SE., M.P. Dr. H. Sasa S Suratman, SE., M.Sc.

PERNYATAAN
(Program Studi Strata 1)

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Karya tulis, skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk
mendapatkan gelar akademik sarjana, baik di Universitas Pasundan maupun di
perguruan tinggi lainnya.
2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri, tanpa ada
bantuan dari pihak lain, kecuali arahan tim pembimbing.
3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau
dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan
sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan
dicantumkan dalam daftar nama pusataka.
4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari
terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini maka saya
bersedia menerima sanksi berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh
karena karya tulis ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku
di perguruan tinggi.

Bandung, ..

Yang membuat pernyataa

(Zaky Silemut Ate)

NRP. 084020202

ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage, Aktivitas dan
Profitabilitas Terhadap Return Saham. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
bagaimana pengaruh antara rasio likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas
terhadap return saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI baik secara
parsial maupun simultan.

Sampel dalam penelitian ini didasarkan pada metode probability sampling.


Metode probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan
peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih
menjadi sampel. Dalam hal ini jumlah sampel yang diteliti sebanyak 21 perusahaan.

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif asosiatif.


Data yang dipergunakan dalam penelitian adalah data kuantitatif yaitu laporan
keuangan perusahaan manufaktur. Objek penelitian adalah rasio likuiditas, leverage,
aktivitas, profitabilitas dan return saham. Sedangkan subjek penelitian pada
penelitian ini adalah perusahaan manufaktur dengan menggunakan laporan keuangan
yang telah diaudit periode tahun 2008-2011. Analisis statistik yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analisis regresi, korelasi, pengujian hipotesis menggunakan uji t
dan uji F serta koefisien determinasinya.

Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh persamaan regresinya adalah Y=


0,306 + 0,067X1 - 0,190X2 + 0,113X3 + 0,167X4. Persamaan regresi tersebut memiliki
nilai a sebesar 0,306 artinya pada saat tingkat likuiditas, leverage, aktivitas dan
profitabilitas sebesar 0 satuan maka return saham adalah sebesar 0,576 satuan. Nilai
koefisien multipel antara variabel X1 terhadap Y positif sebesar 0,067, hal ini
menunjukkan bahwa pada kenaikan tingkat likuiditas sebesar 1%, hal tersebut akan
meningkatkan return saham 0,067, dengan asumsi bahwa variabel X2, X3, X4
dianggap konstan. Begitu juga dengan variabel-variabel yang lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat nilai korelasi yang diperoleh


sebesar 0,753 artinya bahwa keempat faktor tersebut yaitu likuiditas,
leverageaktivitas dan profitabilitas secara simultan memiliku hubungan yang kuat
terhadap return saham. Nilai determinasi secara simultan diperoleh sebesar 0,74,
yang artinya variabel X1,2,3,4 secara simultan memberikan kontribusi 74% terhadap
return saham. Hasil uji F sebesar 7,345 yang artinya bahwa X1,2,3,4 berpengaruh
terhadap return saham.

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

segala rahmat, anugerah dan karunia sehingga dengan ijin-Nya penulis dapat

menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini dengan baik dan tepat waktu.

Tidak lupa pula shalawat beriring salam juga penulis panjatkan kepada junjungan kita

Nabi Besar Muhammad SAW yang membawa rahmat bagi semesta alam (rahmatan

lil alamin). Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh

gelar Sarjana Ekonomi pada program studi Akuntansi fakultas Ekonomi Universitas

Pasundan Bandung. Skripsi ini berjudul PENGARUH RASIO LIKUIDITAS,

LEVERAGE, AKTIVITAS DAN PROFITABILITAS TERHADAP RETURN

SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERCANTUM DI

BURSA EFEK INDONESIA.

Selama penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak mendapatkan dorongan,

bimbingan, masukan dan kritik serta pendapat dari berbagai pihak sehingga skripsi ini

dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada Bapak dan Ibuku tercinta yang selalu memberikan

kasih sayang dan doa restunya. Terima kasih yang sebesar-besarnya juga penulis

ucapkan kepada yang terhormat Ibu H. Ifa Ratifah, SE., M.Si selaku pembimbing

yang telah meluangkan waktu, menyumbangkan fikiran dan tenaga serta memberikan

masukkan, saran dan pendapat yang berharga sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan baik, serta ayahanda dan ibunda yang senantiasa mendoakan
penulis. Semoga Allah SWT selalu melindungi, mencintai dan melimpahkan rahmat

dan hidayah-Nya kepada mereka serta menempatkan mereka dalam kedudukan yang

mulia (Amin). Penulis menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan dalam rangka

penyelesaian penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak.

Melalui kesempatan ini pula, dengan kerendahan hati penulis ingin

mengucapkan terima kasih yang yang terhingga kepada:

1. Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat, anugerah dan karunia-

Nya sehingga dengan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian

dan penyusunan skripsi ini dengan baik.


2. Rasulullah SAW yang menjadi teladan kita semua.
3. Prof. Dr. H. M. Didi Turdmidzi, Drs., M.Si. Rektor Universitas Pasundan.
4. Dr. H. R. Abdul Maqin, SE., M.Si., MP. Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Pasundan.
5. H. Sasa S Suratman, SE., M.Sc. Ketua Program Studi Akuntansi Fakultas

Ekonomi Universitas Pasundan.


6. Dadan Soekardan, SE., M.Si. Sekretaris Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan.


7. Justinia Catellani. SE., M.Si. Selaku Dosen Wali.
8. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan, terima kasih atas

ilmu yang telah diberikan kepada penulis selama menjadi mahasiswa

Universitas Pasundan.
9. Seluruh staf tata usaha Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan, terima

kasih atas bantuannya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.


10. Untuk bapak Kosim sebagai Staf Jurusan Akuntansi.
11. Kepada abangku Anhar Haris S.Si. dan adikku Muhammad Rizky Fauzi

serta seluruh keluarga besarku.


12. Teman-teman seluruh Universitas Pasundan khususnya angkatan 2008

kelas AK C, yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih untuk

semuanya.
13. Terima kasih juga sahabat-sahabatku: Putri Wulansiswi, Wulan, Indri,

Rahma, Nikeu martina, Fika Legita, Alex Wiyogo, Muhammad Ikhsan Al-

fiqri, Muhammad Nasrulloh, Ahmadi Punsu, Dwi Suhendri, Fajar Sys

Hidayat dan Jovi Muharam atas dukungan semangatnya kepada saya

selama mengerjakan skripsi ini hingga selesai.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis

khususnya dan bagi pihak-pihak yang berkepentingan pada umumnya. Semoga Allah

SWT membalas semua amal dan kebaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu

menyelesaikan skripsi ini. Amin.

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Bandung, 24 Mei 2012


Penulis,

Zaky Silemut Ate


DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

ABSTRAK.. i

KATA PENGANTAR .. ii

DAFTAR ISI . vi

DAFTAR TABEL.. xii


DAFTAR GAMBAR. xvi

DAFTAR LAMPIRAN. xvii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah.. 1


1.2 Identifikasi Masalah 9

1.3 Tujuan Penelitian .. 11

1.4 Kegunaan Penelitian... 12


1.4.1 Kegunaan Praktis. 12
1.4.1 Kegunaan Teoritis. 12

1.5 Lokasi Penelitian.. 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA. KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pusataka 14

2.1.1 Informasi Fundamental... 14

2.1.2 Analisis Laporan Keuangan... 16

2.1.2.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan.......... 16

2.1.2.2 Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan 17

2.1.2.3 Tahap-Tahap Analisis Laporan Keuangan.... 19


2.1.2.4 Metode dan Teknik Analisis Laporan Keuangan. 20

2.1.3 Analisis Rasio Keuangan. 22

2.1.3.1 Rasio Likuiditas (Current Ratio). 24

2.1.3.2 Rasio Leverage (Debt to Equity Ratio) 24

2.1.3.3 Rasio Aktivitas (Total Asset Turn Over)........ 26

2.1.3.4 Rasio Profitabilitas (Return On Asset). 26

2.1.4 Return Saham. 27


Faktor-faktor yang mempengaruhi return saham. 28
2.1.5 Pengaruh Rasio Likuiditas terhadap Return Saham.. 30
2.1.6 Pengaruh Rasio Leverage terhadap Return Saham 31
2.1.7 Pengaruh Rasio Aktivitas terhadap Return saham. 32
2.1.8 Pengaruh Rasio Profitabilitas Terhadap Return Saham.. 33
2.1.9 Pengaruh Current Ratio,
Debt to Equity Ratio, Total Asset Turn Over, dan
Return On Asset Terhadap Return Saham. 35

2.2 Kerangka Pemikiran 36

2.3 Hipotesis Penelitian 41

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian 42

3.2 Definisi Variabel dan Operasionalisasi Variabel.................. 43

3.2.1 Definisi Variabel dan Pengukurannya. 43

3.2.2 Operasionalisasi Variabel. 45

3.3 Populasi dan Sampel 46


3.3.1 Populasi Penelitian 46

3.3.2 Sampel Penelitian. 47

3.3.3 Teknik Sampling......................................................... 48

3.4 Teknik Pengumpulan Data.. 50

3.5 Model Penelitian.. 51

3.6 Analisa Data dan Rancangan Pengujian Hipotesis 52

3.6.1 Analisa Data. 52

3.6.2 Rancangan Pengujian Hipotesis.. 64

3.7 Proses Penelitian.. 67

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 69

4.1.1 Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia 69

4.1.2 Struktur Organisasi dan Uraian Tugas Bursa Efek

Indoenesia 71

4.1.3 Gambaran Umum Perusahaan 74

4.1.4 Tingkat Likuiditas Pada Perusahaan Manufaktur periode

2008-2011................................................................... 91
4.1.5 Tingkat Leverage Pada Perusahaan Manufaktur periode

2008-2011................................................................... 97

4.1.6 Tingkat Aktivitas Pada Perusahaan Manufaktur periode

2008-2011...................................................................102

4.1.7 Tingkat Profitabilitas Pada Perusahaan Manufaktur periode

2008-2011.................................................................. 107

4.1.8 Tingkat Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur periode

2008-2011................................................................... 113

4.2 Pembahasan Penelitian......................................................... 119

4.2.1 Uji Asumsi Klasik.............. 119

4.2.1.1 Uji Normalitas... 119

4.2.1.2 Uji Multikolinearitas. 124

4.2.1.3 Uji Autokeralasi 123

4.2.1.4 Uji Heteroskedastisitas. 124

4.2.2 Analisis Pengaruh Likuiditas Terhadap Return Saham 126

4.2.3 Analisis Pengaruh Leverage Terhadap Return Saham. 131

4.2.4 Analisis Pengaruh Aktivitas Terhadap Return Saham. 135


4.2.5 Analisis Pengaruh Profitabilitas Terhadap Return Saham. 141

4.2.6 Analisis Pengaruh Likuiditas, Leverage, Aktivitas

dan Profitabiltias Terhadap Return Saham.. 147

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan............................................................................ 153

5.2 Saran..................................................................................... 156

DAFTAR PUSTAKA.. 159

LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Operasionalisasi Variabel Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage,

Aktivitas dan Profitabilitas Terhadap Return Saham ................................ 45

3.2 Daftar Perusahaan Manufaktur yang Dijadikan Sampel. 49

3.3 Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi... 60

4.1 Profil Singkat Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI 74

4.2 Tingkat Rasio Likuiditas (Current Ratio) Perusahaan Manufaktur............. 93

4.3 Analisis Deskriptif Rasio Likuiditas (Current Ratio)................................. 96

4.4 Tingkat Rasio Leverage (Debt to Equity Ratio) Perusahaan

Manufaktur).............................................................................................. 98
4.5 Analisis Deskriptif Rasio Leverage (Debt to Equity Ratio)....................... 101

4.6 Tingkat Rasio Aktivitas (TATO) Perusahaan Manufaktur........................ 103

4.7 Analisis Deskriptif Rasio Aktivitas (TATO).............................................. 106

4.8 Tingkat Rasio Profitabilitas (Return On Asset) Perusahaan Manufaktur.....

108

4.9 Analisis Deskriptif Rasio Profitabilitas (Return On Asset).......................

112

4.10 Tingkat Return Saham Perusahaan Manufaktur..................................... 114

4.11 Analisis Deskriptif Return Saham.......................................................... 117

4.12 Uji Normalitas........................................................................................ 119

4.13 Uji Multikolonieritas............................................................................... 122

4.14 Uji Autokorelasi..................................................................................... 123

4.15 Analisis Regresi Sederhana Likuiditas Terhadap Return Saham.. 126

4.16 Analisis Korelasi Likuiditas Terhadap Return Saham.. 128

4.17 Analisis Korelasi Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi

Koefisien Korelasi.. 128

4.18 Hasil Perhitungan Uji t.. 129


4.19 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Secara Parsial 130

4.20 Analisis Regresi Sederhana Leverage Terhadap Return Saham.. .. 132

4.21 Analisis Korelasi Leverage Terhadap Return Saham.. 133

4.22 Analisis Korelasi Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi

Koefisien Korelasi.. 133

4.23 Hasil Perhitungan Uji t.. 135

4.24 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Secara Parsial 136

4.25. Analisis Regresi Sederhana Aktivitas Terhadap Return Saham.. 137

4.26 Analisis Korelasi Aktivitas Terhadap Return Saham.. 138

4.27 Analisis Korelasi Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi

Koefisien Korelasi.. 139

4.28 Hasil Perhitungan Uji t.. 140

4.29 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Secara Parsial 141

4.30 Analisis Regresi Sederhana Profitabilitas Terhadap Return Saham.. .. 142

4.31 Analisis Korelasi Profitabilitas Terhadap Return Saham. 143

4.32 Analisis Korelasi Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi

Koefisien Korelasi.. 144


4.33 Hasil Perhitungan Uji t.. 145

4.34 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Secara Parsial 146

4.35 Analisis Regresi Berganda Likuiditas, Leverage,

Aktivitas dan Profitabilitas Terhadap Return Saham 147

4.36 Analisis Korelasi Likuiditas, Leverage,

Aktivitas dan Profitabilitas Terhadap Return Saham 149

4.37 Analisis Korelasi Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi

Koefisien Korelasi.. 150

4.38 Hasil Perhitungan Uji F.. 151

4.39 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Secara Simultan 152


DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Konversi Data Menjadi Informasi 17

Gambar 2.2 Skema Kerangka Pemikiran. 40

Gambar 3.1 Model Penelitian.. 52

Gambar 3.2 Proses Penelitian.. 68

Gambar 4.1 Grafik P-Plot 121

Gambar 4.2 Grafik Scatterplot 125


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Tugas Bimbingan Skripsi

Lampiran 2 Kartu Perkembangan Bimbingan Skripsi

Lampiran 3 Hasil Output Statistika (Parsial dan Simultan)

Lampiran 4 Tabel Distribusi t dan F

Lampiran 5 Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan Manufaktur

Lampiran 6 Daftar Riwayat Hidup


BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang Masalah

Pada era sekarang ini para pemilik modal dapat memilih berbagai alternatif

untuk menginvestasikan modalnya. Dana yang tersedia dapat disimpan dalam bentuk

berbagai jenis tabungan di bank, digunakan untuk modal usaha sendiri maupun

diinvestasikan di pasar modal. Perkembangan pasar modal di Indonesia yang pesat

merupakan indikator bahwa pasar modal merupakan alternatif sumber dana

disamping perbankan, selain itu dengan semakin berkembangnya pasar modal juga

menunjukkan bahwa kepercayaan pemodal akan investasi di pasar modal Indonesia

cukup baik.

Investasi merupakan penundaan konsumsi pada saat ini dengan tujuan

mendapatkan tingkat pengembalian (return) yang akan diterima di masa yang akan

datang. Investasi pada saham dianggap mempunyai tingkat risiko yang lebih besar
dibandingkan dengan alternatif investasi lain, seperti obligasi, deposito, dan

tabungan.

Para investor selalu ingin memaksimalkan return yang diharapkan

bersadarkan tingkat toleransinya terhadap resiko. Sejalan dengan konsep investasi

High Risk-High Return, investor yang menyukai resiko (risk lover), mereka akan

memilih saham-saham yang mempunyai resiko yang tinggi, agar dikemudian hari

akan mendapatkan return yang tinggi pula. Sebaliknya investor yang tidak menyukai

resiko (risk avester) merencanakan keuntungan normal. Investasi selalu mengandung

unsur resiko, karena perolehan yang diharapkan baru akan diterima pada masa yang

akan datang, resiko itu juga timbul karena return yang diterima mungkin lebih besar

atau lebih kecil dari dana yang diinvestasikan.

Hubungan return dan risiko searah dan linier, artinya semakin besar return

yang diharapkan, maka semakin besar pula risiko yang harus ditanggung. Dengan

kata lain investor yang berharap memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi, berarti

bersedia menanggung risiko yang tinggi pula. Oleh karena itu, tidak relevan

mengharapkan keuntungan yang sebesar besarnya melalui investasi pada aset yang

menawarkan return paling tinggi, karena harus juga mempertimbangkan tingkat

risiko yang harus ditanggung

Investor maupun calon investor dapat memperkirakan berapa tingkat

pengembalian yang diharapkan (expected return) dan seberapa jauh kemungkinan

hasil yang sebenarnya nanti akan menyimpang dari hasil yang diharapkan. Apabila

kesempatan investasi mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi, maka investor akan
mengisyaratkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi pula. Dengan kata lain, semakin

tinggi risiko suatu kesempatan investasi maka akan semakin tinggi pula tingkat

keuntungan (return) yang diisyaratkan oleh investor (Jogiyanto, 2000).

Menurut Robert Ang (1997) ada dua faktor yang mempengaruhi return suatu

investasi yaitu pertama, faktor internal perusahaan seperti kualitas dan reputasi

manajemennya, struktur permodalannya, struktur hutang perusahaan dan sebagainya,

kedua adalah menyangkut faktor eksternal, misalnya pengaruh kebijakan moneter dan

fiskal, perkembangan sektor industrinya, faktor ekonomi misalnya terjadinya inflasi,

nilai tukar mata uang domestik terrhadap mata uang asing, tingkat suku bunga dan

sebagainya.

Dari sini sudah jelas bahwa, return (kembalian) merupakan hal terpenting di

dalam menentukan keputusan investasi. Pada dasarnya justifikasi atas return yang

diterima harus dianalisis, antara lain melalui analisis return historis yang terjadi pada

periode sebelumnya, dengan dasar analisis tersebut lalu menentukan tingkat

kembalian yang diinginkan (expected return) (Robert Ang, 1997).

Penilaian investor terhadap suatu saham perusahaan diantaranya adalahdengan

memperhatikan kinerja perusahaan yang menerbitkan saham. Oleh karena itureturn

saham sangat penting bagi perusahaan karena digunakan sebagai salah satupengukur

kinerja dari suatu perusahaan (Jogiyanto, 2000), sehingga perusahaanberusaha

menjaga dan memperbaiki kinerjanya yang dapat mempengaruhi returnsaham agar

portofolio saham yang diinvestasikan meningkat.


Di Indonesia banyak terjadi fenomena yang menyebabkan anomali terhadap

return saham. Salah satu fenomena tersebut dinamakan the Monday effect. The

Monday effect yaitu ketika return saham secara signifikan negatif pada hari senin. Hal

ini menyebabkan apabila return pada hari senin dapat diprediksi, maka dapat

dirancang suatu pedoman yang dapat memanfaatkan pola musiman tersebut untuk

mendapatkan return yang abnormal. Padahal pada pasar efisien, seharusnya tidak

akan muncul suatu pola pergerakan harga yang bersifat konstan dan bisadimanfaatkan

untuk mendapatkan return

abnormal(http://www.docstoc.com/docs/23254218/fenomena-the-mondai-effect-di-

BEJ).

Penelitian di pasar modal Amerika menemukan bahwa the Monday effect

adalah terkonsentrasi pada hari Senin dua minggu terakhir setiap bulannya. (Wang Li

dan Erickson, 1997). Sedangkan di Indonesia penelitian yang dilakukan di BEJ

dengan sampel return saham yang termasuk LQ-45, menunjukkan bahwa terdapat

abnormal return yang negatif pada hari Senin. Sedangkan di hari lainnya

menunjukkan abnormal return yang positif (Tata dan Indrasari, 2004).

Dari fenomena tersebut menunjukkan bahwa return saham di BEI selalu

mengalami fluktuasi. Karena itu perlu lebih banyak belajar/mengkaji lebih dalam

lagi untuk mengetahui fluktuasi yang terjadi padareturn saham di BEI.

Jika belajar return saham lebih lanjut lagi, sebenarnya banyak sekali informasi

yang bertebaran sehingga orang seringkali mengalami information overload, apalagi

di era informasi seperti ini. Informasi-informasi yang tersedia di antaranya laporan


keuangan, rumor, saran teman, saudara, broker, dan mungkin yang lainnya. Banyak

orang berpendapat bahwa dalam berinvestasi saham yang paling penting adalah

belajar dari kebiasaan atau kegagalan.

Survey mengatakan bahwa dari 100% orang yang bertransaksi di pasar modal,

85% mengalami kegagalan dan hanya 15% saja yang

bertahan(http:www.ferdiedarmawan.com).

Oleh karena itu kita perlu alat atau media untuk menghindari kegagalan

tersebut serta memprediksi atau juga untuk menganalisis seberapa besar return yang

akan dihasilkan.Alat tersebut berupa laporan keuangan, laporan keuangan tersebut

menunjukkan kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya. Kondisi keuangan

suatu perusahaan merupakan bagian yang amat penting untuk dapat diketahui oleh

semua pihak yang berkepentingan, misalnya: kreditor, investor maupun pihak internal

perusahaan itu sendiri. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan keuangan

perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansialnya, baik dalam jangka pendek

maupun jangka panjangnya. Selain itu agar dapat diketahui tingkat keuntungan yang

diperoleh perusahaan dan tingkat kesehatan perusahaan.

Menurut Agnes Sawir (2001: 2) media yang dapat dipakai untuk meneliti

kondisi kesehatan perusahaan adalah: Laporan Keuangan yang terdiri dari: Neraca,

perhitungan laba rugi, ikhtiar laba yang ditahan dan laporan posisi keuangan.

Dalam menganalisis kondisi keuangan tersebut, pihak-pihak yang

berkepentingan mempunyai tujuan yang bervariasi. Seorang investor atau calon

investor, pada prinsipnya lebih berkepentingan dengan keuntungan (return) saat ini
dan di masa-masa yang akan datang, sedang bagi pihak internal analisis terhadap

kondisi keuangan akan membantu dalam hal perencanaan perusahaan dan dapat

digunakan sebagai pengambilan keputusan dalam berinvestasi.

Untuk melakukan analisis tentang return saham diperlukan adanyainformasi

yang bersifat fundamental dan teknikal. Analisis fundamental didasarkan pada

informasi-informasi yang diterbitkan oleh emiten maupun administrator bursaefek.

Analisis ini dimulai dari siklus perusahaan secara umum, selanjutnyakesektor

industrinya, akhirnya dilakukan evaluasi terhadap harga saham yangditerbitkan.

Sedangkan analisis teknikal didasarkan pada data (perubahan) harga saham di masa

lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga saham di masamendatang(Halim,

2005).

Analisis fundamental dipengaruhi oleh rasio - rasio keuangan yangmerupakan

salah satu indikator kinerja keuangan perusahaan. Pengukuran kinerjakeuangan

konvensional yang penting dan biasanya merupakan pusat perhatianinvestor maupun

analis keuangan meliputi analisis terhadap posisi keuntungankompetitif perusahaan,

likuiditas aktiva perusahaan terutama yang berhubungandengan kemampuan

keuangan perusahaan di dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, tingkat

leverage terhadap shareholders equity, dan komposisi danpertumbuhan operasional

penjualan perusahaan berdasarkan laporan keuangan historis. Selanjutnya diketahui

rasio-rasio keuangan dan ukuran-ukuran lain yangdikaitkan dengan model pasar.

Analisis fundamental menyatakan bahwa tingkat keuntungan akan mempengaruhi

harga saham, semakin tinggi keuntungan semakin tinggi return saham. Natarsyah
(2000) menyatakan bahwa dengan asumsi para investor adalah rasional maka aspek

fundamental menjadi dasar penilaian yang utama bagi para fundamentalis.

Argumentasi dasarnya adalah bahwa harga saham mewakili nilai perusahaan, tidak

hanya nilai intrinsik(intrinsic value) suatu saham yang merupakan nilai sesungguhnya

pada suatu saat, tapi juga dan bahkan lebih penting adalah harapan akan kemampuan

perusahaan dalam meningkatkan nilai kekayaan di kemudian hari.

Menurut Suad Husnan (1996;315)Analisis fundamental mencoba

memperkirakanharga saham di masa yang akan datang dengan memperkirakan nilai

faktor fundamentalyang mempengaruhi harga saham di masa yang akan

datang.Sedangkan menurut Fogler dan Kritzman (1994;51) faktor-faktor yang

berpengaruh terhadap return saham adalah Return maket (IHSG), deviden yield,

perubahan Earning per Share (EPS), Price EarningRatio (PER), Debt Equity Ratio

(DER), Harga Saham. Pada analisis fundamental, terdapat beberapa rasio keuangan

yang dapat mencerminkan kondisi keuangan dan kinerja suatu perusahaan. Rasio

keuangan tersebut adalah rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasioprofitabilitas, rasio

solvabilitas dan rasio pasar. Rasio-rasio tersebut digunakan untuk menjelaskan

kekuatan dan kelemahan kondisi keuangan perusahaan serta untuk memprediksi

return saham di pasar modal. Semakin baik kinerja keuangan perusahaan yang

tercermin dari rasio-rasionya maka, semakin tinggi return saham perusahaan tersebut

(James C. Van Horne, 1997).

Menurut Ang (1997), rasio keuangan dapat dikelompokkan menjadi 5macam

yaitu :rasio likuiditas yaitu rasio yang mengukur kemampuan likuiditas jangka
pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar relatif terhadap hutanglancarnya,

rasio solvabilitas yaitu rasio yang mengukur kemampuan perusahaanuntuk memenuhi

segala kewajiban jangka panjangnya. Rasio profitabilitas yaiturasio yang mengukur

kemampuan perusahaan memperoleh laba dalamhubungannya dengan penjualan, total

aktiva maupun modal sendiri. Rasio aktivitas,yaitu rasio yang mengukur seberapa

jauh efektivitas perusahaan dalammengerjakan sumber dananya. Dan rasio pasar

yaitu rasio yang mengukur hargapasar saham relatif terhadap nilai bukunya.

Adapun peneliti terdahulu yang telah dilakukan oleh Happy Lydiatri pada

tahun 2009 dengan judul Pengaruh Rasio Profitabilitas, Leverage, dan Likuiditas

Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Otomotif Periode 2005-2007.

HipotesisnyaRasio Profitabilitas mempunyai pengaruh signifikan terhadap return

saham, Rasio Leverage mempunyai Pengaruh signifikan terhadap return saham,

Rasio Likuiditas mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham, Rasio

Profirabilitas, Leverage dan Likuiditas secara simultan berpengaruh terhadap return

saham. Lokasi penelitian di pusat referensi Pasar Modal PT Bursa Efek Indonesia dan

tahun data 2005-2007. Populasinya yaitu 16laporan tahunan perusahaan otomotif

yang terdaftar diBEI dan sampel penelitian diambil dari populasi. Sedangkan teknik

sampling yang digunakan yaitu teknik nonrandom sampling, yaitu purposive

sampling.Hasil Penelitian menunjukkan bahwa rasio profitabilitas (ROE), rasio

Leverage (debt ratio), dan Rasio Likuiditas (current ratio) memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap return saham dari koefisien determinasi yang telah disesuaikan

diketahui bahwa rasio profitabilitas, leverage, dan likuiditas mampu menjelaskan


sebesar 44,9% terhadap return saham dan sisanya sebesar 55,1% dijelaskan oleh

variabel lain.Keterbatasan Penelitian adalah Rentang waktu laporan tahunannya

kurang up todate dan sampel yang kurang banyak (hanya pada sub sektor tertentu).
Perbedaan dengan peneliti terdahulu dengan penelitian yang dilakukan

sekarang adalah dalam hal variabel X (jika dalam penelitian ini X nya ditambahkan

satu variabel), periode penelitiannya (jika dalam penelitian ini lebih up to date),

populasi dan samplingnya (jika dalam penelitian ini populasi berjumlah 146 dan

sampelnya 21), teknik sampling yang digunakannya berbeda (jika dalam penelitian

ini menggunakan simple random sampling, yaitu probability sampling)

Dengan demikian berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik

untuk melakukan penelitian mengenai PENGARUH RASIO LIKUIDITAS,

RASIO LEVERAGE, RASIO AKTIVITAS, DAN RASIO PROFITABILITAS

TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR

YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI).

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas mengenai faktor-faktor yang

mempengaruhi return dari berbagai kelompok saham, belum ada kepastian atau

kejelasan tentang faktor-faktor yang dominan mempengaruhi return saham.

Memperhatikan latar belakang di atas, penelitian tentang kinerja saham masih relatif

sedikit, sementara itu data tentang index saham dalam BEI (Bursa Efek Indonesia)

selalu berubah.Sehingga perlu dilakukan penelitiantentang kinerja saham dalam BEI.


Sehubungan dengan hal tersebut maka untuk pengembangan penelitian

terdahulu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi return saham dapat

dikembangkan untuk saham yang tercantum dalam BEI dan penelitian ini akan

menganalisa tentang pengaruh rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas, dan

rasio profitabilitas terhadap return saham dalam BEI. Sehingga dalam penelitian ini

muncul pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Seberapa besartingkatrasio likuiditaspada perusahaan manufaktur yang terdaftar

di BEI periode 2008-2011.

2. Seberapa besartingkatrasio leverage pada perusahaan manufaktur yang terdaftar

di BEI periode 2008-2011.

3. Seberapa besar tingkatrasio aktivitas pada perusahaan manufaktur yang terdaftar

di BEI periode 2008-2011.

4. Seberapa besartingkatrasio profitabilitas pada perusahaan manufaktur yang

terdaftar di BEI periode 2008-2011.

5. Seberapa besar tingkat return saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar

di BEI periode 2008-2011.

6. Bagaimana pengaruh rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas dan rasio

profitabilitas terhadap return saham baik secara parsial maupun simultan pada

perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2008-2011.


1.3 Tujuan Penelitian

Dari permasalahan yang telah diidentifikasikan di atas, maka tujuan

dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui tingkat rasio likuiditas pada perusahaan manufaktur yang

terjadi di periode 2008-2011.

2. Untuk mengetahuitingkat rasio leverage pada perusahaan manufaktur yang

terjadi di periode 2008-2011.

3. Untuk mengetahui tingkat rasio aktivitas pada perusahaan manufaktur yang

terjadi di periode 2008-2011.

4. Untuk mengetahui tingkat rasio profitabilitas pada perusahaan manufaktur

yang terjadi di periode 2008-2011.

5. Untuk mengetahuitingkatreturn saham pada perusahaan manufaktur yang

terdaftar di BEI periode 2008-2011.

6. Untuk mengetahui pengaruh rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas dan

rasio profitabilitas terhadap return saham baik secara parsial maupun simultan

pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2008-2011.


1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Praktis

1. Bagi Emiten yaitu khususnya perusahaan-perusahaan yang masuk dalam BEI.

dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam rangka pengambilan

kebijakan yang berkaitan dengan kinerja keuangan perusahaan.

2. Bagi calon investor maupun investor, dapat digunakan sebagai bahan

pengambil keputusan dalam menginvestasikan dananya pada sekuritas yang

menghasilkan return saham yang optimal. Dengan menganalisis faktor-faktor

yang mempengaruhi return saham diharapkan calon investor atapun investor

mampu memprediksi return saham, dan menilai kinerja saham suatu perusahaan.

3. Bagi Penulis, menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam

melakukanpenganalisaan tentang pasar modal, khususnya mengenai return

saham.

4. Bagi Pembaca dan peneliti lain, dapat digunakan sebagai referensi serta

informasi mengenai return saham, khususnya saham yang tercantum pada BEI.

5. Untuk mengembangkan investasi di sektor saham pada umumnya.

1.4.2 Kegunaan Teoritis


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan ilmu

akuntansi khususnya dalam bidang akuntansi keuangan.

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia (BEI), melalui situs resmi www.idx.co.id. Adapun waktu penelitian

dimulai pada bulan Februari sampai dengan selesai.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pusataka

2.1.1 Informasi Fundamental

Untuk dapat memilih investasi yang aman, diperlukan satu analisis yang

cermat, teliti, dan didukung dengan data-data yang akurat. Teknik yang benar dalam

analisis akan mengurangi resiko bagi investor dalam berinvestasi. Secara umum ada

banyak analisis dalam melakukan penilaian investasi, tetapi yang paling banyak

dipakai adalah analisis yang bersifat fundamental, analisis teknikal, analisis ekonomi,

dan analisis rasio keuangan(Anoraga dan Pakarti, 2001).

Informasi fundamental adalah informasi yang dikaitkan dengan kondisi

perusahaan (emiten) yang meliputi kondisi seluruh perusahaan yang digambarkan

melalui kinerja keuangan perusahaan. Analisis mengenai informasi fundamental ini

digunakan untuk memprediksi harga saham dengan harapan mengetahui tingkat

kembalian (return) saham yang akan diterima oleh investor.Karena itu analisis ini
digunakan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dapat mempengaruhi return

saham.

Analisis fundamental berlandaskan kepercayaan bahwa nilai saham

dipengaruhi oleh kinerja keuangan perusahaan yang menerbitkannya. Jika kinerja

perusahaan meningkat maka harga saham akan merefleksikannya melalui

peningkatan harga saham tersebut (Suad Husnan, 1998).

Analisis fundamental merupakan studi yang mempelajari hal-hal yang

berhubungan dengan keuangan suatu bisnis dengan maksud untuk lebih memahami

sifat dasar dan karakteristik perusahaan publik yang menerbitkan saham. Analisis

fundamental didasarkan kepercayaan bahwa nilai suatu saham sangat dipengaruhi

oleh kinerja perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Jika prospek suatu

perusahaan sangat kuat dan baik, maka harga saham perusahaan tersebut diperkirakan

akan merefleksikan kekuatan tersebut dan harganya akan meningkat (Ang, 1997).

Analisis ini sebenarnyadilihat dari historis perusahaan atas kekuatan

keuangannya. Data yang digunakannya adalah data historis, yaitu data yang telah

terjadi dan mencerminkan keadaan keuangan yang telah lewat dan bukan

mencerminkan keadaan keuangan sebenarnya pada saat analisis dilakukan. Dengan

dilakukannya analisis ini investor akan mempelajari laporan keuangan perusahaan,

yang terdiri dari neraca, laporan rugi/laba serta laporan perubahan modal.

Hal yang penting dan biasanya menjadi pusat perhatian para investor dan

analis keuangan dalam menganalisis data historis adalah posisi keuntungan kompetitif

perusahaan, profit margin dan pertumbuhan laba perusahaan, likuiditas perusahaan,


likuiditas aktiva perusahaan yang berhubungan dengan kemampuan perusahaan

dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, tingkat leverage terhadap

shareholders equity dan pertumbuhan operasional perusahaan (Ang, 1997).

2.1.2 Analisis Laporan Keuangan

2.1.2.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Agar laporan keuangan menjadi lebih berarti sehingga dapat dipahami dan

dimengerti oleh berbagai pihak, perlu dilakukan analisis laporan keuangan. Menurut

Kasmir (2011:66) analisis laporan keuangan adalah laporan keuangan yang disusun

berdasarkan data yang relevan serta dilakukan dengan prosedur akuntansi dan

penilaian yang benar, akan terlihat kondisi keuangan perusahaan yang sesungguhnya.

Kondisi keuangan yang dimaksud adalah diketahuinya berapa jumlah harta

(kekayaan), kewajiban (hutang) serta modal (ekuitas) dalam neraca yang dimiliki.

Kemudian juga akan diketahui jumlah pendapatan yang diterima dan jumlah biaya

yang dikeluarkan selama periode tertentu.

Analisa laporan keuangan adalah menganalisis akun-akun yang ada dalam

laporan keuangan menjadi suatu informasi dan melihat hubungannya yang bersifat

signifikan atau yang mempunyai arti antara satu dengan yang lain baik antara data

kuantitatif maupun data non-kuantitatif agar dapat mengetahui kondisi keuangan

lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.
Input
Laporan Keuangan Data Lain
Metode atau teknik analisis laporan keuangan
Output
Informasi yang berguna untuk pengambilan
keputusan
Gambar 2.1
Konversi Data Menjadi Informasi
Sumber: Sofyan Syafri Harahap dalam Analisan Kritis Atas Laporan
Keuangan
(2010:191)

Menurut Bernstein (1983:3) analisa laporan keuangan mencakup penerapan

metode dan teknik analitis atas laporan keuangan dan data lainnya untuk melihat dari

laporan itu ukuran-ukuran dan hubungan tertentu yang sangat berguna dalam proses

pengambilan keputusan.

2.1.2.2 Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan

Kegiatan analisis laporan keuangan dilakukan dengan cara menentukan dan

mengukur antara pos-pos yang ada dalam satu laporan keuangan. Analisis laporan

keuangan dapat dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan yang dimiliki

dalam satu periode dan dapat juga dilakukan lebih dari satu periode

Analisis laporan keuangan yang dilakukan untuk beberapa periode adalah

menganalisis antara pos-pos yang ada dari satu periode laporan ke periode laporan
lainnya. Ini dilakukan agar lebih tepat dalam menilai kinerja perusahaan dari satu

periode ke periode lainnya. Menurut Kasmir (2011:68), secara umum dikatakan

bahwa tujuan dan manfaat analisis laporan keuangan adalah:

1. Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam satu periode

tertentu, baik harta, kewajiban, modal, maupun hasil usaha yang telah

dicapai untuk beberapa periode.


2. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan apa saja yang menjadi

kekurangan perusahaan.
3. Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan yang dimiliki.
4. Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu

dilakukan ke depan yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan

saat ini.
5. Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen ke depan apakah perlu

penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau gagal.


6. Dapat juga digunakan sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis

tentang hasil yang dicapai mereka.

Sofyan Syafri Harahap (2010:195) mengemukakan bahwa secara lengkap

kegunaan analisis laporan keuangan ini dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang

terdapat dari laporan keuangan biasa.


2. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (explicit) dari

suatu laporan keuangan atau yang berada di balik laporan keuangan (implicit).
3. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
4. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya

dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern


laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari

luar perusahaan.
5. Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-

model dan teori-teori yang terdapat di lapangan seperti untuk prediksi,

peningkatan (rating).
6. Dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari aspek

tertentu.
7. Dapat menentukan peringkat perusahaan menurut criteria tertentu yang sudah

dikenal dalam dunia bisnis.

2.1.2.3Tahap-tahap Analisis Laporan Keuangan

Menurut Sofyan Syafri Harahap (2010:223), tahap-tahap analisis laporan

keuangan meliputi:

1. Mengenali perusahaan
2. Menguasai situasi ekonomi
3. Menilai reliability terhadap laporan keuangan
4. Menilai akurasi laporan keuangan
5. Membaca informasi laporan keuangan secara eksplisit
6. Manganalisis hubungan antara pos laporan keuangan
7. Melihat trend/growth
8. Melakukan analisis perbandingan
9. Menilai kompisisi arus kas
10. Melakukan evaluasi fakta dan kualitas perusahaan dari hasil analisis
11. Melakukan prediksi atau proyeksi
12. Kesimpulan dan saran.

Irfan Fahmi (2010:3) mengemukakan 5 (lima) tahap dalam menganalisis

kinerja keuangan suatu perusahaan secara umum, yaitu:


1. Melakukan review terhadap data laporan keuangan.
2. Melakukan perhitungan.
3. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh.
4. Melakukan penafsiran (interpretation) terhadap berbagai permasalahan

yang ditemukan.
5. Mencari dan memeberikan pemecahan masalah (solution) terhadap

berbagai permasalahan yang ditemukan.

2.1.2.4 Metode dan Teknik Analisis Laporan Keuangan

Dalam melakukan analisis laporan keuangan dibutuhkan metode serta teknik

analisis. Hal ini dilakukan agar laporan keuangan tersebut dapat memberikan hasil

yang maksimal. Karena, para pamakai hasil analisis tersebut akan mudah untuk

menginterpretasikannya.

Menurut Munawir (2004:36) secara umum metode analisis laporan keuangan

dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Metode Analisis Horizontal (dinamis)

Adalah analisa dengan mengadakan pembandingan laporan keuangan untuk

beberapa periode atau beberapa saat, sehingga akan diketahui

perkembangannya.

2. Metode Analisis Vertikal (statis)


Adalah apabila laporan keuangan yang dianalisa hanya meliputi satu periode

atau satu saat saja, yaitu dengan memperbandingkan antara satu pos dengan

pos lainnya dalam laporan keuangan terebut, sehingga hanya akan diketahui

keadaan keuangan atau hasil operasi pada saat itu saja.

Adapun jenis-jenis teknik analisis laporan keuangan yang dapat dilakukan

menurut Kasmir (20111:70), adalah sebagai berikut:

1. Analisis perbandingan antara lsporan keuangan.


2. Analisis trend.
3. Analisis persentase per komponen.
4. Analisis sumber dan penggunaan kas.
5. Analisis sumber dan penggunaan dana.
6. Analisis rasio.
7. Analisis kredit.
8. Analisis laba kotor.
9. Analisis titik pulang pokok atau titik impas (break event point).

2.1.3 Analisis Rasio Keuangan

Johar Arifin (2004:7),mengemukakan bahwa rasio keuangan merupakan alat

analisis yang dinyatakan dalam artian relatif maupun absolut untuk menjelaskan

hubungan tertentu antara elemen yang satu dengan elemen yang lain dalam suatu

laporan keuangan. Laporan keuangan yang dimaksud adalah neraca dan laporan laba

rugi. Neraca menggambarkan posisi aktiva, kewajiban, dan ekuitas yang dimiliki

perusahaan pada saat tertentu. Laporan laba rugi mencerminkan hasil yang dicapai

oleh perusahaan selama suatu periode tertentu, biasanya satu tahun.


Menurut Susan Irawati (2006:32) rasio keuangan merupakan suatu teknik

analisis dalam bidang manajemen keuangan yang dimanfaatkan sebagai alat ukur

kondisi-kondisi keuangan suatu perusahaan dalam periode tertentu ataupun hasil-hasil

usaha dari suatu perusahaan pada setiap periode tertentu dengan jalan

membandingkan dua buah variabel yang diambil dari laporan keuangan perusahaan,

baik daftar neraca maupun rugi-laba.

Analisis rasio keuangan yang mencakup analisis kekuatan dan kelemahan di

bidang finansial akan sangat membantu dalam mengukur kinerja keuangan di

masalalu, kini dan prospeknya di masa mendatang. Menurut Bambang Riyanto

(1995)analis keuangan dalam mengadakan analisis dapat menggunakan 2 macam

carapembandingan yaitu :

1. Membandingkan rasio sekarang dengan rasio-rasio dari waktu yang lalu

atau dengan rasio-rasio yang diperkirakan untuk waktu yang akan datang

dari perusahaan yang sama.


2. Membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan dengan rasio-

rasiosemacam dari perusahaan sejenis atau industri sejenis untuk waktu

yang sama.

Menurut Ang (1997), rasio keuangan dapat dikelompokkan menjadi 5macam

yaitu :

1. Rasio Likuiditas, yaitu rasio yang mengukur kemampuan likuiditas

jangkapendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar relatif terhadap

hutanglancarnya.
2. Rasio Solvabilitas, yaitu rasio yang mengukur kemampuan

perusahaanuntuk memenuhi segala kewajiban jangka panjangnya.

3. Rasio Aktivitas, yaitu rasio yang mengukur seberapa jauh

efektivitasperusahaan dalam mengerjakan sumber dananya.

4. Rasio Profitabilitas, yaitu rasio yang mengukur kemampuan

perusahaanmemperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total

aktivamaupun modal sendiri.

5. Rasio Pasar, yaitu rasio yang mengukur harga pasar saham relatif

terhadapnilai bukunya.

2.1.3.1Rasio Likuiditas (Current Ratio)

Current ratiomerupakan bagian dari rasio likuiditas yang

menggambarkanakun dari aktiva lancar (mudah dijadikan uang) dengan hutang lancar

atau hutang jangka pendek. Current ratio yang tinggimenunjukan adanya kelebihan

uang kas atau aktiva lancar lainnya dibandingkan denganyang dibutuhkan sekarang.

Selain itu Current ratio juga menunjukan tingkat keamanan (Marginof safety)

kreditor jangka pendek atau kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-

hutangtersebut. Semakin tinggi rasio ini akan semakin aman bagi kreditor. Angka satu

kali (1X) mencerminkan aktiva lancar sama dengan utang lancar. Jadi masih terlalu

mepet, walaupun sudah menggambarkan ketersediaan aktiva yang ada mampu untuk

menutup utang lancar. Angka di atas 1,5X lebih aman digunakan sebagai batas bawah

(Toto Prihadi, 2008).


Dengan demikian semakin tinggi current ratio maka laba (profit) yang

diperoleh suatu perusahaan pun akan tinggi.

CR secara matematis dirumuskan sebagai berikut:

Current Ratio = Current Assets


Current Liabilities

2.1.3.2 Rasio Leverage (Debt to Equity Ratio)

Debt Equity Ratio (DER) merupakan rasio solvabilitas yang digunakan

untukmengukur kemampuan modal sendiri perusahaan untuk dijadikan jaminan

semua hutangperusahaan. Debt Equity Ratio (DER) merupakan rasio hutang yang

digambarkan denganperbandingan antara seluruh hutang, baik hutang jangka panjang

maupun hutang jangkapendek dengan modal sendiri perusahaan (Van Horne, 2005).

Semakin besar hutang, semakin besar risiko yang ditanggung perusahaan.

Olehsebab itu perusahaan yang tetap mengambil hutang sangat tergantung pada biaya

relatif.Biaya hutang lebih kecil daripada dana ekuitas. Dengan menambahkan hutang

ke dalamneracanya, perusahaan secara umum dapat meningkatkan profitabilitasnya,

yangkemudian menaikkan harga sahamnya, sehingga meningkatkan kesejahteraan

parapemegang saham dan membangun potensi pertumbuhan yang lebih besar.

SebaliknyaBiaya hutang lebih besar daripada dana ekuitas. Dengan menambahkan

hutang ke dalamneracanya, justru akan menurunkan profitabilitas perusahaan (Walsh,

Ciaran, 2004).
Selama ekonomi sulit atau suku bunga tinggi, perusahaan dengan Debt

EquityRatio (DER) yang tinggi dapat mengalami masalah keuangan, sebaliknya

selamaekonomi baik atau suku bunga rendah akan meningkatkan keuntungan, yaitu

denganmembiayai pertumbuhan dengan harga yang murah/rendah (Lani Salim,

2003).

DER secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

Debt to equity Ratio = Total Kewajiban


SHE

2.1.3.3Rasio Aktivitas (Total Asset Turn Over)

Total asset turn over(TATO)merupakan salah satu rasio aktivitas. Total asset

turn over(TATO) merupakan ukuran keseluruhan perputaran seluruh asset. Rasio ini

mengukur sejauh manakemampuan perusahaan menghasilkan penjualan berdasarkan

seluruh aktiva yangdimilikinya atau perputaran aktiva-aktiva tersebut (Toto Prihadi,

2008).

Rasio ini sering digunakan karena mencakup keseluruhan. Tanpa

mempersoalkan jenis usaha apapun, TATO menggambarkan seberapa besar dukungan

semuaaktiva yang dimiliki untuk memperoleh penjualan.


Nilai TATO yang semakin besarmenunjukkan nilai

penjualannya juga semakin besar dan harapan memperoleh

labajuga semakin besar pula. Dengan demikian meningkatnya nilai TATO

maka laba perusahaan pun akan meningkat.

TATO secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

TATO = Penjualan
Total Aktiva

2.1.3.4 Rasio Profitabilitas (Return On Asset)

Return On Asset(ROA)ukuran kemampuan perusahaan untukmenghasilkan

tingkat kembalian (laba) perusahaan atau efektivitas perusahaan di

dalammenghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva(asset) yangdimiliki

oleh perusahaan. Semakin tinggi nilai ROA menunjukkan semakin efisienperusahaan

menggunakan aktivanya sendiri untuk menghasilkan laba (Brigham, 2001).

ROA secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

ROA = Laba Bersih


Total Asset

2.1.4 Return Saham

Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi di pasar modal. Return

sendiri dapat berupa return realisasi (actual return) dan return ekspektasi (expected

return). Return realisasi merupakan return yang telah terjadi dan dapat dihitung
dengan data historis (Halim, 2005).Return ini merupakan salah satu alat untuk

mengukur kinerja keuangan perusahaan juga digunakan sebagai dasar dalam

penentuan return ekspektasi dan resiko di masa mendatang. Sedangkan return

ekspektasi merupakan return harapan, yaitu suatu return yang diharapkan dari

investor dalam menanamkan modalnya.

Komponen suatu return terdiri dari jua jenis yaitu current income (pendapatan

lancar) dan capital gain (keuntungan selisih harga). Current income (pendapatan

lancar) adalah keuntungan yang diperoleh melalui pembayaran yang bersifat periodik

seperti pembayaran bunga deposito, obligasi, deviden, dan sebagainya. Sedangkan

capital gain adalah keuntungan yang diterima karena selisih antara harga jual dengan

harga beli saham dari suatu instrumen investasi. Capital gain sangat bergantung dari

harga pasar instrumen investasi yang bersangkutan, yang berarti bahwa instrumen

investasi tersebut harus diperdagangkan dipasar. Karena dengan adanya perdagangan

akan timbul perubahan nilai suatu instrumen investasi. Instrumen yang dapat

memberikan capital gain seperti obligasi dan saham. (Ang, 1997). Penjumlahan dari

deviden yield ditambah capital gain merupakan total return. (Jogiyanto,

1998).Capital gain (loss) merupakanreturn realisasi yang menggambarkan selisih

antara harga saham periode sekarang dengan harga saham periode sebelumnya.

Dalam penelitian ini returnsaham digunakan sebagai variabel dependen.

Rit = Pit Pit-1 + Dt


Pit-1

2.1.4.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return Saham


Menurut Amenc dan Sourd (2003), return saham sangat sensitif terhadap

factor fundamental dan harapan para investor. Berbagai kajian menunjukkan bahwa

pasar modal dipengaruhi baik oleh faktor internal maupun faktor eksternal

perusahaan. Factor internal antara lain adalah kualitas manajemen, pendanaan, bentuk

investasi dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal antara lain adalah penetepan

harga, kekacauan, peperangan, inflasi, tingkat suku bunga, nilai tukar mata uang dan

sebagainya. Namun demikian, secara umum harga saham individual bergerak searah

dengan pergerakan pasar secara keseluruhan.

Prinsip ini mendasari dikembangkannya model indeks tunggal (single index

model) yang berpengaruh terhadap return saham adalah sebagai berikut:

1. Model Indeks Tunggal


Bila dilakukan pengamatan pada pasar saham, maka akan terlihat bahwa
pada saat pasar membaik, harga saham-saham individual juga akan
meningkat. Demikian pula sebaliknya, pada saat pasar memburuk maka
harga saham-saham akan turun. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat
keuntungan suatu saham berkorelasi dengan perubahan pasar (Husnan,
2005). Model indeks tunggal memformulasikan bahwa perubahan harga
saham dipengaruhi oleh perubahan indeks pasar.
2. Model Multi Faktor
Model multi factor yang dikembangkan dengan mengacu pada konsep
arbitrage pricing theory (APT), didasari atas asumsi bahwa berbagai faktor
ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung berpengatuh
terhadap return saham. Pada konsep ini, variable yang mempengaruhi
return saham tidak hanya indeks pasar, tetapi juga berbagai faktor terkait
lainnya. Secara teoritis disebutkan dalam model penilaian kinerja saham
bahwa terdapat kaitan antara perubahan harga saham dengan berbagai
faktor yang mewakili aktivitas dengan ekonomi riil. Jumlah faktor yang
berpengaruh adalah lebih dari satu dan faktor-faktor yang berpengaruh
tersebut perlu dicari melalui penelitian empiris (Husnan, 2005)
3. Model Faktor Berdasarkan Variabel Makroekonomi
Model ini diturunkan langsung dari Arbitrage Pricing Theory (APT).
Faktor resiko yang mempengaruhi return dari suatu aset didekati dengan
variable makroekonomi yang diamati yang dapat diperkirakan oleh para
ekonom. Model dengan pilihan lima variable makroekonomi dan faktor
pasar, berasal dari uji empiris yang dilakukan oleh Roll dan Ross (1980)
dengan metode faktor analisis. Faktor klasik dalam model APT adalah
industrial production, interest rates, oil price, difference in bond rating
dan market director.
4. Model Faktor Berdasarkan Faktor Fundamental
Pendekatan ini merupakan prosedur yang lebih pragmatis. Tujuan
pendekatan ini adalah untuk menjelaskan return dari aset berdasarkan
variabel yang tergantung pada karakteristik dari perusahaan. Model tidak
menggunakan asumsi teoristik, tetapi lebih menggunakan pertimbangan
pemecahan faktorial terhadap rata-rata return dari aset secara langsung.
Model mengasumsikan bahwa return dari aset merupakan fungsi dari
atribut yang terdapat pada perusahaan.

Menurut Ang (1997) faktor yang mempengaruhi return suatu investasi yaitu:

1. Faktor internal perusahaan seperti kualitas dan reputasi manajemennya,


struktur permodalannya, struktur hutang perusahaan dan sebagainya.
2. Faktor eksternal, misalnya pengaruh kebijakan moneter dan fiscal,
perkembangan sektor industrinya, faktor ekonomi, misalnya terjadi inflasi
dan sebagainya.

2.1.5 Pengaruh Rasio Likuiditas terhadap Return Saham


Likuiditas sangat membantu bagi manajemen untuk mengecek efisiensi modal

kerja yang digunakan dalam perusahaan, juga penting bagi pemegang saham yang

ingin mengetahui prospek dari dividen di masa yang akan datang (Munawir,

1998:71).
Rasio likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk menganalisis posisi

keuangan jangka pendek perusahaan. Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa

jauh aktiva lancar perusahaan bisa digunakan untuk memenuhi kewajiban jangka

pendeknya. Suatu perusahaan yang mampu memenuhi segala kewajibannyasudah

dapat dikatakan likuid.


Rasio likuiditas yang umum digunakan adalah current ratio(Sawir,

2001).Current Ratio (CR) merupakan rasio yang bertujuan untuk mengukur

kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Semakin

tinggi Current Ratio (CR) suatu perusahaan berarti semakin kecil resiko kegagalan

perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Akibatnya resiko yang

ditanggung perusahaan juga semakin kecil(Ang, 1997). Dengan semakin kecilnya

resiko yang ditanggung perusahaan maka diharapkan akan meningkatkan minat para

investor untuk menananamkan dananya dalam perusahaan tersebut, sehingga investor

lebih menyukai Current Ratio (CR) yang tinggi dibandingkan Current Ratio (CR)

yang rendah. Semakin tinggi current ratio, ini berarti semakin besar kemampuan

perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya, sebaliknya semakin kecil

current ratio, maka semakin kecil pula kemampuan perusahaan untuk memenuhi

kewajiban jangka pendeknya, sehingga perusahaan akan mengalami kesulitan untuk

menjalankan perusahaannya dalam jangka pendek. Dengan demikian untuk

berinvestasi investor cenderung untuk menghindari perusahaan yang memiliki

current ratio yang kecil, sehingga dapat dapat disimpulkan bahwa Current Ratio yang

besar (kecil) maka semakin besar (kecil) pula return saham tersebut(Agus Sartono,

2001:116)
Beberapa penelitian empiris yang telah dilakukan seperti penelitian Zmijewski

(1983) dan Masud Machfoed (1994) telah membuktikan bahwa makin tinggi

likuiditas suatu perusahaan yang diukur dapat diukur dari nilai Current Ratio (CR)
maka akan semakin tinggi return saham. Berdasarkan hal tersebut makaCurrent Ratio

berpengaruhpositif terhadap return saham.

2.1.6 Pengaruh Rasio Leverage terhadap Return Saham

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio leverage yang digunakan

untukmengukur kemampuan modal sendiri perusahaan untuk dijadikan jaminan

semua hutangperusahaan. Debt to Equity Ratio merupakan rasio hutang yang

digambarkan denganperbandingan antara seluruh hutang, baik hutang jangka panjang

maupun hutang jangkapendek, dengan modal perusahaan (Van Horne, 1997).Debt to

Equity Ratio sebagai akat ukur dalam mengukurkemampuan ekuitas perusahaan

untuk dijadikan jamina. Jika leverage suatu perusahaan rendah maka risiko kerugian

perusahaan akan rendah pula, begitu juga sebaliknya jika leverage perusahaan tinggi

maka risiko kerugian perusahaan akan tinggi.

Leverage ratio mempengaruhi return yang akan diperoleh investor. Menurut

Robert Ang, (1997) ada dua alasan mengapa leverage ratio yang tinggi akan secara

langsung mengurangi return yang akan diterima investor:

- Semakin banyaknya perusahaan berhutang, makan semakin banyak

juga perjanjian hutang yang akan menyangkut kebijakan dividen.

Bukan hanya perjanjian yang membatasi jumlah pembayaran dividen,

tetapi juga proporsi laba bersih yang boleh dibagikan sebagai dividen.
- Hutang menimbulkan komitmen perusahaan untuk membiayai beban

bunga, yang akan mengurangi free cash flow perusahaan.


Debt to Equity Ratio memberikan pengaruh positif bagi return saham,

semakin besar rasio hutang / Debt toEquity Ratio harga saham akan cenderung turun.

Semakin tinggi DER menunjukkan komposisitotal hutang dengan modal sendiri,

sehingga berdampak semakin besar beban perusahaanterhadap pihak luar (kreditor).

Meningkatnya beban terhadap kreditor menunjukkan, sumbermodal perusahaan

sangat tergantung dengan pihak luar, sehingga mengurangi minat investordalam

menanamkan dananya dalam perusahaan tersebut. Menurunnya minat

investorberdampak pada penurunan return saham perusahaan.

2.1.7 Pengaruh Rasio Aktivitasterhadap Return saham

TATO (Total Assets Turn Over) merupakan salah satu rasio aktivitas, yaitu

rasio yang menunjukkan kemampuan serta efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan

aktiva yang dimilikinya atau perputaran aktiva-aktiva tersebut. TATO digunakan

untuk mengukur seberapa efisiennya seluruh aktiva perusahaan dimanfaatkan dalam

menunjang penjualan (Ang, 1997).

Nilai rasio TATO (Total Assets Turn Over) yang tinggi menunjukkan semakin

efisien suatu perusahaan dalam memanfaatkan aktiva yang dimilikinya dan

menunjukkan semakin besar penjualan yang dihasilkan. Nilai TATO (Total Assets

Turn Over) yang tinggi akan mengurangi ketidakpastian investor dalam menanamkan

dananya. Dari penjualan yang tinggi diharapkan dapat dihasilkan return yang tinggi

pula. Karena itu Apabila TATO mengalami peningkatan maka otomatis return saham

pun akan tinggi (Ang, 1997).


Hasil penelitian yang menggunakan TATO telah dilakukan oleh Tuasikal

(2002), dengan judul Pengaruh informasi akuntansi untuk memprediksi return saham

: studi terhadap perusahaan pemanukfakturan dan non pemanukfakturan, hasil

penelitian tersebut menyatakan bahwa variabel TATO berpengaruh terhadap return

saham.

2.1.8 PengaruhRasio ProfitabilitasTerhadapReturnSaham

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang digunakan sebagai alat ukur untuk

mengukur efektivitas manajemen yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari

penjualan dan investasi perusahaan. Menurut Suad Husnan (2005), jika profitabilitas

perusahaan meningkat maka dampak akhirnya adalah peningkatan profitabilitas

pemegang saham. Rasio Profitabilitas yang umum digunakan oleh para analisis

keuangan dan investor adalah return on asset. Return On asset(ROA) digunakan

untuk mengukur tingkat kembalianperusahaan atau efektivitas perusahaan di dalam

menghasilkan keuntungan denganmemanfaatkan aktiva (asset) yang dimiliki oleh

perusahaan (Brigham, 2001).

Analisis Return On asset(ROA) sangat berguna bagi investor.Analisis ini

dapat mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan dari hasil

operasi/kegiatan perusahaan dibandingkan dengan total aktiva yang

dimilikiperusahaan. Maka ROA lah yang menjadi cara terbaik untuk mengukur

keberhasilan manajemen dalam melaksanakan tugasnya dalam mengelola aktivanya.


Perhitungan ROA biasa menggunakan basis setelah pajak, maupun sebelum

pajak. Basis setelah pajak lebih sering digunakan dalam menghitung ROA(Toto

Prihadi, 2008). Menurut BrighamROA adalah rasio laba bersih setelah dikurangi

pajak terhadap kekayaan bersih, hasil atas investasi pemegang saham (2006:240).

Semakin tinggi nilai ROAmenunjukkan semakin efisien perusahaan

menggunakan aktiva yang dimiliki untukmenghasilkan laba bagi perusahaan.

Perusahaan yang semakin efisien dalammenggunakan aktivanya dalam menghasilkan

laba akan memberikan harapannaiknya return sahamnya. ROA merupakan variabel

penting yang mempunyai hubungan dengan tingkat pendapatan pemegang saham

publik, maka jika ROA semakin besar maka akan semakin besar pula return saham

tersebut(Herlambang, 2003).

2.1.9 Pengaruh Current Ratio,Debt to Equity Ratio, Total Asset Turn Over, dan

Return On AssetTerhadapReturnSaham

Menurut Van Hornedalam Financial Management and Policy,

(2001:317)mengungkapkan bahwa:

Tujuanperusahaanharusmenciptakan nilaipemegangsahamnyadiwakili
olehharga pasardari saham biasaperusahaan,yang pada gilirannya
merupakanfungsi, pembiayaan investasiperusahaan dankeputusandividen.

Oleh karena itu keberhasilan seorang manajer dalam menjalankan operasi

perusahaan melalui kebijakan-kebijakan yang ditetapkannya dapat dilihat dari

keberhasilan dalam memaksimalkan kekayaan pemiliknya. Biasanya seorang investor


akan memilih perusahaan yang dapat memaksimalkan nilai pasar kekayaan melalui

harga saham yang tinggi dengan melakukan analisis rasio Likuiditas (Current ratio),

rasio Leverage(Debt ratio), rasio Aktivitas (Inventory Turn Over) dan rasio

Profitabilitas (ROA).

Dengan demikian semakin tinggi rasio Likuiditas, rasio Aktivitas, dan rasio

Profitabilitasperusahaan tersebut maka semakin tinggi nilai perusahaan tersebut,

maka tingkat pengembalian saham yang dirasakan semakin tinggi. Berbeda dengan

rasio Leverage (debt ratio), semakin tinggi rasio Leverage(debt ratio) maka semakin

rendah tingkat pengembalian saham perusahaan tersebut.

2.2 Kerangka Pemikiran

Kegiatan investasi merupakan suatu tindakkan yang diambil berdasarkan

kemampuan investor/calon investor dalam mengambil keputusan untuk menanamkan

modal yang dimilikinya. Modal yang ditanam oleh seorang investor tersebut tentunya

mmpunyai harapan untuk mendapatkan return yang lebih besar dari modal yang

ditanam. Karena itu, sebelum melakukan pengambilan keputusan untuk menanam

modal di suatu perusahaan, investor/calon investor diharapkan mampu menganalisis

atau memprediksi seberapa besar return yang akan diterima nantinya.


Untuk menganalisis/memprediksi return yang akan diterima investor/calon

investor diperlukan informasi yang jelas. Baik berupa informasi secara fundamental

maupun informasi secara teknikal. Analisis Fundamental merupakan

analisis yang berhubungan dengan faktorfundamental perusahaan

yang ditunjukkan dalam laporan keuangan perusahaan. Atasdasar

laporan keuangan para investor dapat melakukan penilaian kinerja

keuanganperusahaan terutama keputusan dalam hal melakukan

investasi. Bagi para pemilik ataupemegang saham bermanfaat

untuk melihat tingkat kembalian yang tercermin dalam laporan rugi

laba dan besarnya dividen yang menjadi hak para pemegang

saham.Sedangkan analisis teknikal didasarkan pada data (perubahan) harga saham

di masa lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga saham di masa mendatang

(Halim, 2005).

Informasi tersebut dapat didapatkan melalui berbagai macam media. Salah

satu media yang paling tepat digunakan untuk menganalisis seberapa besar return

yang akan diterima yaitu laporan keuangan.

Suatu laporan keuangan (financial statement) akan menjadi lebih bermanfaat

untuk pengambilan keputusan, apabila dengan informasi laporan keuangan tersebut

dapat diprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dengan mengolah lebih

lanjut laporan keuangan melalui proses perbandingan, evaluasi dan analisis tren, akan

diperoleh prediksi tentang apa yang mungkin akan terjadi di masa mendatang,
sehingga disinilah laporan keuangan tersebut begitu diperlukan. Yang nanti hasilnya

akan mampu membantu dalam memberikan pertimbangan mengenai kondisi

perusahaan/badan usaha di masa mendatang.

Semakin baik kualitas laporan keuangan yang disampaikan maka akan

semakin meyakinkan terhadap kinerja keuangan perusahaan tersebut. Lebih jauh

perusahaan di prediksikan akan mampu untuk tumbuh dan memperoleh profitabilitas

secara kontinuitas yang otomatis pula tentunya pihak-pihak yang berhubungan

dengan perusahaan akan merasa puas tanpa ada mengalami masalah ataupun

kemacetan urusan di masa mendatang (Irfan Fahmi, 2011:22).

Irfan Fahmi mengemukakan bahwa laporan keuangan merupakan sutu

informasi yang menggambarkan kondisi suatu perusahaan, dimana selanjutnya itu

akan menjadi suatu informasi yang menggambarkan tentang kinerja suatu

perusahaan.

Lebih lanjut Munawir (2002:56) mengatakan Laporan keuangan merupakan

alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi

keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan.

Dengan begitu laporan keuangan diharapkan akan membantu bagi para pengguna

(user) untuk membuat keputusan ekonomi yang bersifat finansial.

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa manajemen membuat laporan

keuangan dan pihak luar dari perusahaan menjadikan laporan keuangan tersebut
sebagai informasi untuk membuat keputusan. Bahwa seorang investor/calon investor

yang ingin membeli atau menjual saham dapat terbantu dengan memahami dan

manganalisis laporan keuangan dan selanjutnya bias menilai perusahaan mana yang

akan mempunyai prospek yang menguntungkan di masa yang akan datang.

Rasio keuangan merupakan hal yang sangat penting gunanya untuk

melakukan analisa terhadap kondisi keuangan perusahaan. Bagi investor yang ingin

menanamkan modalnya dalam jangka pendek dan menengah pada umumnya lebih

berminat kepada kondisi keuangan jangka pendek dan kemampuan perusahaan untuk

membayar return yang diharapkan. Informasi tersebut dapat diketahui dengan cara

menghitung rasio-rasio keuangan. Secara jangka panjang rasio keuangan juga

digunakan sebagai acuan untuk melihat kinerja dari perusahaan.

Analisis rasio keuangan sendiri dimulai dengan laporan keuangan dasar yaitu

dari neraca (balancesheet), perhitungan rugi laba (income statement) dan laporan arus

kas (cash flow statement)(Irham Fahmi, 2011:45).

Menurut Jullimursyida Ganto (Jurnal Media Riset Akuntansi, Auditing dan

Informasi, Vol.8 No.1, April, 2008) kinerja keuangan yang baik dari sebuah

perusahaan merupakan pertimbangan utama bagi investor. Semakin baik tingkat

kinerja keuangan suatu perusahaan maka diharapkan return saham meningkat bagi

investor/calon investor. Return saham yang tinggi merupakan daya tarik bagi investor

untuk menanamkan modalnya di pasar modal. Dengan demikian kalau kemampuan


perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat maka return saham juga akan

meningkat. Semakin tinggi return atau keuntungan yang diperoleh, maka semakin

baik posisi pemilik perusahaan.

Jadi untuk menilai kinerja keuangan perusahaan perlu menggunakan rasio

keuangan yang merupakan perbandingan angka-angka yang terdapat pada pos-pos

laporan keuangan.

Analisis rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio likuiditas,

rasio leverage, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas. Rasio likuiditas yaitu rasio yang

mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya

bila jatuh tempo. Rasio leverage yaitu rasio yang mengukur hingga sejauh mana

perusahaan dibiayai oleh hutang. Rasio aktivitas yaitu rasio yang mengukur seberapa

efektif perusahaan menggunakan sumber dayanya. Rasio profitabilitas yaitu rasio

yang mengukur efektivitas manajemen yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan

dari penjualan dan investasi perusahaan.

Dengan demikian Konsep analisis perubahan return sahamdapat

dijelaskan dalam diagram kerangka pemikiran teoritis, sebagai

berikut ;

Laporan Keungan

(Irham Fahmi, 2011)


(Ang, 1997) Analisis Rasio (Ang, 1997)

(Ang, 1997)(Ang, 1997)


Rasio Likuiditas Rasio Profitabilitas
(Agus Sartono, 2001)
(Suad Husnan,2005)
Rasio Leverage Rasio Aktivitas

(Robert Ang, 1997) (Robert Ang, 1997)

Return Saham (Van Horne,


1997)

GAMBAR 2.2

SKEMA KERANGKA PEMIKIRAN

2.3 Hipotesis Penelitian


Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah

penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam

bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan

baru berdasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.

Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan

masalah penelitian, belum jawaban yang empiris (Sugiyono, 2011:92).


Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka penulis

mengajukan hipotesis penelitian, yaitu:


Terdapat pengaruh rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas dan rasio

profitabilitas terhadap return saham baik secara parsial maupun simultan.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Menurut Sugiyono (2011:2) metode penelitian adalah :

Metode Penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan

data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat

empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data, tujuan dan

kegunaan.
Metode penelitian dalam penelitian ini bersifat kuantitatif. Karena data

penelitian dalam penelitian ini berupa angka-angka dan analisis menggunakan

statistik.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian studi empiris

dengan pendekatan analisis deskriptif dan analisis asosiatif. Analisis deskriptif adalah

penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel independen dan variabel

dependen, baik itu satu variabel ataupun lebih dari satu variabel tanpa

membandingkan dengan variabel lain yang diteliti dan dianalisis sehingga

menghasilkan kesimpulan. Sedangkan analisis asosiatif yaitu penelitian yang

bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih.

Pengertian metode penelitian studi empiris menurut Sugiyono (2010:2)

sebagaia berikut:

Penelitian empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh

indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-

cara yang digunakan

3.2 Definisi Variabel dan Operasionalisasi Variabel

3.2.1 Definisi Variabel dan Pengukurannya


Dalam penelitian ini penulis akan melakukan pengukuran terhadap suatu

variabel dengan menggunakan instrument penelitian. Lalu penulis akan melanjutkan

analisis untuk mencari pengaruh suatu variabel dengan variabel lain. Menurut

Sugiyono (2010:59), berdasarkan hubungan antara satu variabel dengan variabel lain,

maka macam-macam variabel dalam penelitian adalah sebagai berikut :

1. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor, antecedent,

dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas

merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya

atau timbulnya variabel dependent (terikat) (Sugiyono, 2011:39). Maka dalam

penelitian ini yang menjadi variabel bebas (independent variable) adalah rasio

likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas. Rasio

likuiditas merupakan alat ukur yang mengukur kemampuan perusahaan untuk

memenuhi kewajiban jangka pendeknya bila jatuh tempo(J. Fred Weston dan

Thomas E. Copeland, 1992:225).Rasio leverage merupakan rasio yang

digunakan untuk mengukur hingga sejauh mana perusahaan dibiayai oleh

hutang(J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland, 1992:225).Rasio aktivitas

adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan

menggunakan sumber dayanya(J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland,

1992:225).Rasio Profitabilitas merupakan alat ukur dari efektivitas


manajemen yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan

investasi perusahaan(J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland, 1992:225).

2. Variabel Terikat(Dependent Variable)


Sering disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen. Variabel terikat

merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya

variabel bebas (Sugiyono, 2011:39). Dan dalam penelitian ini yang menjadi

variabel terikat adalah return saham. Return saham adalah salah satu tingkat

pengembalian saham yang diharapkan atau investasi yang dilakukan dalam

saham atau beberapa kelompok saham melalui suatu portfolio (Jogiyanto,

2000).

3.2.2 Operasionalisasi Variabel

Sesuai dengan judul penelitian yaitu Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage,

Aktivitas dan Profitabilitas Terhadap Return Saham. Maka berikut adalah variabel-

variabel yang diterapkan dalam penelitian, yaitu :

1. Rasio Likuiditas sebagai variabel bebas (X1)


2. Rasio Leverage sebagai variabel bebas (X2)
3. Rasio Aktivitas sebagai variabel bebas (X3)
4. Rasio Profitabilitas sebagai variabel bebas (X4)
5. Return Saham sebagai variabel terikat (Y).
Untuk lebih rinci mengetahui variabel penelitian yang digunakan oleh penulis

dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut ini :

Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage, Aktivitas dan Profitabilitas Terhadap
Return Saham

No Variabel Sub Variabel Indikator Skala

Ukuran
1 Rasio Likuiditas (X1) Current Ratio Current Assets Rasio
Current Liabilities

(J. Fred Weston


&Thomas E. Copeland,
1992:227)

2. Rasio Leverage (X2) Debt to Equity Total Liabilities Rasio


SHE
Ratio
(J. Fred Weston
&Thomas E. Copeland,
1992:228)

3. Rasio Aktivitas (X3) Asset Turn over Penjualan Rasio


Total Assets

(J. Fred Weston


&Thomas E. Copeland,
1992:229)

4. Rasio Profitabilitas ROA Laba Bersih Rasio


Total Assets
(X4)
(Toto Prihadi,
2008:71)
5. Return Saham (Y) Rit (Pit Pit-1) + Dt Rasio

Pit-1

(Jogiyanto, 2008:197)

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi Penelitian

Menurut Sugiono (2011:80) populasi dapat didefinisikan sebagai berikut :


Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.


Untuk melakukan penelitian, diperlukan data yang akurat demi mendukung

keabsahan suatu penelitian.


Yang akan menjadi populasi dalam penelitian adalah 146 perusahaan

manufaktur yang terdaftar di BEI. Hal ini karena perusahaan manufaktur melakukan

pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi sehingga membutuhkan tingkat

aktivitas dan biaya yang tinggi dalam pengoperasiannya.

3.3.2 Sampel Penelitian

Sampel penelitian merupakan langkah untuk menentukan besarnya ukuran

sampel yang akan diambil dalam melaksanakan penelitian.

Menurut Sugiyono (2011:81) sampel dapat didefinisikan sebagai berikut:


Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut.

Dalam penelitian ini dengan berpedoman pada Winarno (1994:100) yang

menyatakan bahawa :
Untuk pedoman umum dapat dikatakan bila populasi dibawah 100 orang

maka dapat digunakan sampel 50% dan jika diatas 100 orang sebesar 15%.

Dari data yang diperoleh diketahui terdapat 146 perusahaan manufakturyang

terdaftar di BEI.
Dengan berpedoman pada Winarno maka sampel yang digunakan dalam

penelitian ini adalah 21 perusahaan yang tergolong ke dalam perusahaan manufaktur

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2008-2011.

3.3.3 Teknik Sampling

Menurut Sugiyono (2011:81) teknik sampling adalah merupakan teknik

pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam

penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan.

Teknik sampling yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah

probability sampling. Menurut Sugiyono (2011:84) probability sampling adalah :

Teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang/kesempatan sama bagi setiap


unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini
meliputi, simple random sampling, stratified random sampling, disproportionate
stratified random, sampling area.
Teknik probability sampling yang digunakan dalam pengambilan sampel pada

penelitian ini lebih tepatnya penulis menggunakan teknik simple random sampling.

Karena perusahaan yang di jadikan sampel diambil dari seluruh perusahaan

manufaktur dari berbagai sektor. Oleh karena itu seluruh perusahaan manufaktur

mempunyai kesempatan yang sama untuk diteliti. Pengertian simple random

sampling sampling menurut Sugiyono (2011:82) adalah teknik penentuan sampel dari

populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam

populasi itu.

Tabel 3.2
Daftar Perusahaan Manufaktur yang Dijadikan Sampel
Periode 2008 Sampai Dengan 2011

No Nama Perusahaan
1 P.T. ALLBOND MAKMUR USAHA TBk.
2 P.T. APAC CITRA CENTERTEX TBK.
3 PT. ASTRA GRAPHIA TBk
4 PT. ASTRA INTERNATIONAL TBk
5 P.T. HANSON INTERNATIONAL TBK.
6 P.T. INDORAMA SYNTETICS TBK.
7 P.T. INTRACO PENTA TBK.
8 PT. KIMIA FARMA TBK
9 P.T. MULTI PRIMA SEJAHTERA TBK.
10 P.T. MULTISTRADA ARAH SARANA TBK.
11 P.T. NIPRESS TBK.
12 P.T. POLYCHEM INDONESIA TBK.
13 P.T. PRIMA ALLOY STEEL TBK.
14 P.T. SANEX QIANJIANG MOTOR INTERNATIONAL TBK.
15 P.T. SELAMAT SEMPURNA TBK. P.T. UNITEX TBK.
16 P.T. SEPATU BATA TBK.
17 P.T. SUGI SAMAPERSADA TBK.
18 P.T. TUNAS RIDEAN TBK.
19 PT. ULTRA JAYA MILK INDUSTRY & TRADING COMPANY TBK
20 P.T. UNILEVER INDONESIA TBK
21 P.T. UNITED TRACTOR TBK.
Sumber : Data Sekunder Yang Sudah di OIah

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang diharapkan, maka harus dibutuhkan

data dan informasi yang akurat guna mendukung penelitian. Teknik pengumpulan

data yang dilakukan oleh penulis pada penelitian ini yaitu menggunakan penelitian

kepusatakaan (library research). Teknik pengumpulan data ini berguna untuk

mendapatkan gambaran/kondisi maupun landasan teoritis yang berhubungan dengan

judul penelitian. Penelitian ini dilakukan oleh penulis yaitu dengan cara membaca dan

mempelajari literatur-literatur, buku-buku, artikel, koran, majalah, internet dan

sumber-sumber data sekunder lainnya yang dapat membantu penulis dalam

penelitiannya. Pengambilan sumber data diperoleh dai internet melalui situs

www.idx.co.id.

Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari

laporan yang diterbitkan dan dipublikasikan terlebih dahulu oleh pihak yang

berwenang. Sumber data yang digunakan diperoleh dari website Bursa Efek

Indonesia (www.idx.co.id). Perusahaan yang diteliti yaitu perusahaan manufaktur

yang listing di Bursa Efek Indonesia. Periode penelitian yang dilakukan oleh penulis

adalah sejak tahun 2008 sampai dengan 2011. Data yang akan digunakan dalam

penelitian adalah :
1. Data harga saham penutupan pada akhir tahun sesuai periode laporan

keuangan, selama periode penelitian (2008-2011).


2. Laporan keuangan tahunan, selama tahun 2008 sampai dengan 2011,

perusahaan manufaktur yang listing di BEI.

3.5 Model Penelitian

Dalam penelitian, model penelitian adalah sebuah abstraksi dari fenomena-

fenomena yang diteliti. Sesuai dengan judul penelitian yang dicanangkan penulis

yaitu Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage, Aktivitas dan Profitabilitas Terhadap

Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur, karena itu untuk menggambarkan

hubungan antara variabel independen dan variabel dependen, penulis

menggambarkan model penelitian sebagai berikut :

Rasio Likuiditas (X1)

Rasio Leverage (X2)

Return Saham (Y)


Rasio Aktivitas (X3)

Rasio Profitabilitas (X4)

Gambar 3.1 Model Penelitian


3.6 Analisa Data dan Rancangan Pengujian Hipotesis
3.6.1 Analisa Data

Menurut Sugiyono (2011:147), mengemukakan bahwa :

Analisa data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau
sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisa data adalah
mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi
data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap
variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk rumusan masalah, dan
melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.
Setelah mendapatkan data yang dibutuhkan untuk penelitian, peneliti akan

melakukan serangkaian tahap untuk menghitung dan mengolah data-data yang

diperoleh agar dapat mendukung hipotesis yang telah diajukan. Adapun tahap-tahap

perhitungan dalam pengolahan data, yaitu sebagai berikut :

1. Menghitung Rasio Likuiditas


Rasio likuiditas atau sering juga disebut dengan nama rasio modal kerja

merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya suatu

perusahaan (Kasmir, 2011:130). Caranya adalah dengan membandingkan

komponen yang ada di neraca, yaitu total aset lancer dengan total hutang

jangka pendek. Penilaian dapat dilakukan untuk beberapa periode sehingga

terlihat perkembangan likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu. Ukuran

perusahaan yang baik tidak hanya sekedar likuid saja, tetapi harus memenuhi
standar likuiditas tertentu sehingga tidak membahayakan kewajiban lainnya.

Dalam praktiknya standar likuiditas yang baik adalah 200% atau 2:1. Namun,

standar likuiditas ini tidak mutlak dilakukan karena tergantung jenis

industrinya. Jenis rasio likuiditas yang digunakan adalah current ratio.

Current ratio adalah rasio untuk mengukur sampai seberapa jauh aset lancar

perusahaan mampu untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya (Toto

Prihadi, 2008:21). Rumus current ratio adalah :


Current Ratio = Current Assets
Current Liabilities

2. Menghitung Rasio Leverage

Rasio Leverageyaitu rasio yang mengukur kemampuan perusahaanuntuk

memenuhi segala kewajiban jangka panjangnya (Ang, 1997). Debt Equity

Ratio (DER) merupakan rasio solvabilitas yang digunakan untukmengukur

kemampuan modal sendiri perusahaan untuk dijadikan jaminan semua

hutangperusahaan. Debt Equity Ratio (DER) merupakan rasio hutang yang

digambarkan denganperbandingan antara seluruh hutang, baik hutang jangka

panjang maupun hutang jangkapendek dengan modal sendiri perusahaan (Van

Horne, 2005). DER secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

Debt to Equity Ratio = Total Kewajiban


SHE

3. Menghitung Rasio Aktivitas


Rasio Aktivitas, yaitu rasio yang mengukur seberapa jauh

efektivitasperusahaan dalam mengerjakan sumber dananya (Ang, 1997). Total

asset turn over(TATO)merupakan salah satu rasio aktivitas. Total asset turn

over(TATO) merupakan ukuran keseluruhan perputaran seluruh asset. Rasio

ini mengukur sejauh manakemampuan perusahaan menghasilkan penjualan

berdasarkan seluruh aktiva yangdimilikinya atau perputaran aktiva-aktiva

tersebut (Toto Prihadi, 2008).TATO secara matematis dirumuskan sebagai

berikut :

TATO = Penjualan
Total Aktiva

4. Menghitung Rasio Profitabilitas

Rasio Profitabilitas, yaitu rasio yang mengukur kemampuan

perusahaanmemperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total

aktivamaupun modal sendiri (Ang, 1997).Return On Assets(ROA)merupakan

ukuran kemampuan perusahaan untukmenghasilkan tingkat kembalian

perusahaan atau efektivitas perusahaan di dalammenghasilkan keuntungan

dengan memanfaatkan aktiva yangdimiliki oleh perusahaan. Semakin tinggi

nilai ROA menunjukkan semakin efisienperusahaan menggunakan aktiva


sendiri untuk menghasilkan laba (Brigham, 2001).ROA secara matematis

dirumuskan sebagai berikut :

ROA = Laba Bersih


Total Aktiva

5. Menghitung Return Saham dengan rumus :

Rit = Pit Pit-1 + Dt


Pit-1
Keterangan :

Rit = Return Saham

Pit = Harga saham tahun sekarang

Pit-1 = Harga saham tahun sebelumnya


Dt = Dividen

6. Pengujian Asumsi Klasik


Dalam hal ini peneliti akan melakukan uji statistik regresi dalam mempelajari

hubungan yang ada diantara variabel-variabel sehingga diantara hubungan

tersebut dapat ditaksir nilai variabel tidak bebas jika variabel bebasnya

diketahui atau sebaliknya.


o Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam

model regresi, baik variabeldependen maupun variabel

independen, keduanya mempunyai distribusi normal

atautidak. Model regresi yang baik adalah, model regresi yang


mempunyai distribusinormal atau mendekati normal (Imam

Ghozali, 2001).
Uji normalitas menguji apakah model regresi variabel

independen dan variabeldependen, keduanya terdistribusikan

secara normal atau tidak. Uji ini adalah untukmenguji normal

atau tidaknya suatu distribusi data.


Pedoman pengambilan keputusan :
Nilai Sig. atau Signifikansi atau Nilai Probabilitas <

0,05 maka, distribusiadalah tidak normal.


Nilai Sig. atau Signifikansi atau Nilai Probabilitas >

0,05 maka, distribusiadalah normal.

o Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada

model regresi terdapatkorelasi antara variabel bebas (Imam

Ghozali, 2001). Untuk mendeteksi ada atautidaknya

multikolinearitas didalam suatu model regresi, adalah sebagai

berikut :
Persamaan regresi untuk Sub Sektor Industri Textil
Nilai R2 sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-

variabel bebasbanyak yang tidak signifikan mengikat

variabel terikat.
Menganalisis matrik korelasi variabel bebas jika,

terdapat korelasi antarvariabel bebas yang cukup tinggi


(lebih besar dari 0,90), hal inimerupakan indikasi adanya

multikolinearitas.
o Uji Autokorelasi
Autokorelasi adalah dimana kesalahan pengganggu saling korelasi. Uji

autokorelasi bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi dalam hal

variabel independen. Menurut Wahid Sulaiman (2002:139) menyatakan

bahwa standar autokorelasi adalah sebagai berikut :


- 1.65 < DW < 2.35, kesimpulan tidak ada Autokorelasi.
- 1.21 < DW < 1.65 atau 2.35 < DW < 2.79, kesimpulannya tidak dapat

disimpulkan.
- DW < 1.21 atau DW > 2.79, kesimpulannya terjadi autokorelasi.

o Uji Heteroskedastisitas
Dalam regresi linier diasumsikan bahwa varians bersyarat

dari E (i2) = Var (i) = i2(homokedastisitas), apabila varians bersyarat i=i2

untuk setiap 1, ini berarti varians heterogen atau homokedastisitas. Akibatnya

tiap pengamatan dalam suatu penelitian tidak mempunyai kekonsistenan. Cara

mendeteksinya :
- Secara sederhana dengan melihat diagram pancar apabila diagram

pancarnya mengikuti pola tertentu akan bersifat heterokedastisitas,

sedangkan diagram yang pancarannya acak akan cenderung disifati

homokedastisitas.
- Dengan melakukan pengujian hipotesis yang salah satunya dengan uji

korelasi Rank Spearman. Uji korelasi Rank Spearman memiliki

keterbatasan, yakni hanya dapat dilakukan untuk persamaan regresi


linier yang sederhana (hanya memiliki satu variabel bebas dan satu

variabel terikat).

7. Analisis Regresi Sederhana (Parsial)


Teknik analisis regresi digunakan untuk memprediksikan seberapa jauh nilai

variabel terikat (Y) bila variabel bebas (X) dimanipulasi, diubah-ubah atau di

naik turunkan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Andi Supangat

(2007:295) bahwa: garis regresi dapat dipergunakan untuk menaksir

besarnya variabel yang satu berdasarkan besar variabel yang lain dan dapat

juga dipergunakan untuk mengetahui macam korelasinya (positif atau

negatif). Adapun pengertian analisis regresi (Sudjana 1997:200) adalah:

analisis yang mempelajari hubungan diantara variabel-variabel sehingga dari

hubungannya yang diperoleh, kita dapat menaksir variabel yang satu apabila

variabel yang lain diketahui.


Rumus persamaan regresi linier adalah sebagai berikut :

(Sugiyono,
= + bX2007:261)

Besarnya dan b dapat diketahui dengan rumus :

X


n X 2
( Y ) ( X 2) ( X )( XY )
=
X


n X 2
n XY ( X ) (Y )
b=

(Sugiyono, 2007:261)
Keterangan:
X = Variabel X
Y = Variabel Y
= Bilangan konstan
b = Koefisien arah garis regresi
n = Lamanya Periode (tahun)

8. Analisis Korelasi Parsial (Person Market Production)


Teknik ini digunakan untuk mencari hubungan dan membuktikan hipotesis

hubungan dua variabel bila data kedua variabel berbentuk interval atau rasio

dan sumber data dari dua variabel atau lebih tersebut adalah sama. Rumus

koefisien korelasi adalah sebagai berikut :


n X i

Xi


2

Yi

{


n X iYiX i Yi
r xy =

(Sugiyono, 1997:244)

Dengan batas-batas koefisien korelasi sebagai berikut :

-1 r + 1
(Sudjana, 1997:244)
Tanda Positif menyatakan bahwa antara variabel X dan Y terdapat korelasi

positif berarti nilai variabel X lebih kecil berpasangan dengan nilai variabel Y

yang kecil dan nilai X yang besar berpasangan dengan Y yang besar.
Tabel 3.3
Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi
Terhadap Koefisien Korelasi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan


0,00-0,199 Sangat Rendah
0,20-0,399 Rendah
0,40-0,599 Sedang
0,60-0,799 Kuat
0,80-1,000 Sangat Kuat
(Sugiyono, 2007:231)

9. Analisis Regresi Berganda (Simultan)


Analisis regresi berganda ialah alat analisis peramalan nilai pengaruh dua

variabel bebas atau lebih terhadap variabel terikat untuk membuktikan ada

atau tidaknya hubungan fungsi atau hubungan kausal antara dua variabel

bebas atau lebih (X1), (X2),......(Xn) dengan satu variabel terikat.


Y = + b1 X1 + b2X2 + b3 X3 + b4 X4 +
(Sugiyono, 2004:217)
Keterangan :
Y = Return saham
X1= Tingkat Likuiditas
X2= Tingkat Leverage
X3= Tingkat Aktivitas
X4= Tingkat Profitabilitas
= Konstanta yang merupakan nilai variabel Y pada saat X1, X2, X3, dan X4= 0
b1 = koefisien regresi antara X1terhadapY, bila nilai X2, X3, dan X4 dianggap
konstan.
b2 = koefisien regresi antara X2terhadapY, bila nilai X1, X3, dan X4 dianggap
konstan.
b3 = koefisien regresi antara X3terhadapY, bila nilai X1, X2, dan X4 dianggap
konstan.
b4 = koefisien regresi antara X4terhadapY, bila nilai X1, X2, dan X4 dianggap
konstan.
= faktor-faktor lain yang mempengaruhi variabel Y.

10. Analisis Korelasi Berganda (Simultan)


Analisis korelasi berganda berfungsi untuk mencari besarnya pengaruh atau

hubungan antara variabel bebas (X1, X2, X3 dan X4) atau lebih secara simultan

(bersama-sama) dengan variabel terikat (Y)


11. Uji Koefisien Regresi
a. Uji Koefisien Regresi Secara Parsial (Uji t)
Hal ini dilakukan untuk melihat apakah terdapat pengaruh signifikan

antara masing-masing variabel independen dan dependen secara terpisah.

Rumus yang digunakan untuk melakukan perhitungan menurut Sugiyono

(2004:150) adalah sebagai berikut :


Pengujian signifikan koefisien korelasi dapat dihitung dengan uji t.
t= 2
r n2
1r
Keterangan :
t = Distribusi t
n= Jumlah data
r = Koefisien korelasi parsial
r2= Koefisien determinasi
t hasil perhitungan ini selanjutnya dibandingkan dengan t table dengan

menggunakan tingkat kesalahan 0,05 uji satu pihak dengan degree of

freedomdf = n 2, kriteria sebagai berikut :


H0 diterima jika nilai ttable< thitung< ttable
H0 ditolak jika nilai thitung>ttable atau -thitung<ttable
b. Uji Koefisien Regresi Secara Simultan (Uji F)
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen (X1),

(X2),......(Xn) secara bersama-sama bepengaruh secara signifikan terhadap

variabel dependen (Y). Rumus uji F menurut Sudjana (1992:238) adalah

sebagai berikut :
R 2 /k
F=
(1R2 )/(nk 1)

Keterangan :
R2 = Koefisien Determinasi
K = Jumlah variabel independen
n = Jumlah data atau kasus
F hasil perhitungan ini dibandingkan dengan F tabel yang diperoleh

dengan menggunakan tingkat resiko atau signifikan level 5% atau dengan

degree freedom n k 1 dengan ktieria sebagai berikut :


Ho ditolak jika Fhitung>Ftabel
Ho diterima jika Fhitung<Ftabel

12. Analisis Koefisien Determinasi


Koefisien determinasi adalah ukuran (besaran) untuk menyatakan tingkat

kekuatan hubungan dalam bentuk persen (%) (Andi Supangat, 2007: 310).

Menurut Sugiyono (2007:231) koefisien ini disebut koefisien penentu,

karena varians yang terjadi pada variabel dependen dapat dijelaskan melalui

varians yang terjadi pada variabel independen.


Koefisien determinasi dapat dirumuskan sebagai berikut:
R=r 2 100

Dengan batas-batas R2 sebagai berikut:

0 R2 1

Keterangan: R = Koefisien Determinasi


r = Koefisien Korelasi

3.6.2 Rancangan Pengujian Hipotesis

Hipotesis yang akan diuji dan dibuktikan dalam penelitian ini berkaitan

dengan ada tidaknya pengaruh dari variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat.

Pengujian hipotesis yang dilakukan adalah pengujian hipotesis nol (Ho) yang

menyatakan bahwa koefisien korelasi tidak berarti atau tidak signifikan sedangkan

hipotesis alternatif (H) menyatakan bahwa koefisien korelasinya berarti atau

dignifikan.

Adapun perumusan rancangan pengujian hipotesis yang digunakan yaitu :

1. Menyatakan hipotesis (H0) dan hipotesis alternatif (H)


Adapun yang menjadi H0danHdalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

a. Secara Parsial
1. Tingkat Likuiditas
H01 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari tingkat

likuiditas terhadap return saham pada perusahaan manufaktur.


H01 : r 0 : terdapat pengaruh yang signifikan dari tingkat

likuiditas terhadap return saham pada perusahaan manufaktur.


2. Tingkat Leverage
H02 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari tingkat

leverage terhadap return saham pada perusahaan manufaktur.


H02 : r 0 : terdapat pengaruh yang signifikan dari tingkat

leverage terhadap return saham pada perusahaan manufaktur.


3. H03 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari tingkat

aktivitas terhadap return saham pada perusahaan manufaktur.


H03 : r 0 : terdapat pengaruh yang signifikan dari tingkat

aktivitas terhadap return saham pada perusahaan manufaktur.


4. H04 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari tingkat

profitabilitas terhadap return saham pada perusahaan manufaktur.


H04 : r 0 : terdapat pengaruh yang signifikan dari tingkat

profitabilitas terhadap return saham pada perusahaan manufaktur.

b. Secara Simultan
H05 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari tingkat

likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas terhadap return saham

pada perusahaan manufaktur.

H05: r 0 : terdapat pengaruh yang signifikan dari tingkat

likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas terhadap return saham

pada perusahaan manufaktur.

2. Penetapan Tingkat Signifikansi


Pengujian hipotesis akan dilakukan dengan menggunakan tingkat

signifikansi sebesar 0,05 (=0) atau tingkat keyakinan sebesar 0,95 karena

tingkat signifikansi itu yang umum digunakan penelitian ilmu-ilmu sosial

dan dianggap cukup tepat untuk mewakili hubungan antar-variabel yang

diteliti (Nazir, 2000:460).


3. Penetapan Kriteria Penerimaan dan Penolakan Hipotesis
Hipotesis yang telah ditetapkan sebelumnya diuji dengan menggunakan

metode pengujian statistik uji t dan uji F dengan kriteria penerimaan dan

penolakan hipotesis sebagai berikut :

Uji t
H0 diterima jika nilai ttable< thitung< ttable
H0 ditolak jika nilai thitung>ttable atau -thitung<ttable
Uji F
Ho ditolak jika Fhitung>Ftabel
Ho diterima jika Fhitung<Ftabel
4. Penarikan Kesimpulan
Dari hipotesis-hipotesis yang didapat tadi, maka ditarik kesimpulan

apakah variabel-variabel bebas secara simultan memiliki pengaruh yang

signifikan atau tidak terhadap variabel terikat, dan pengaruh variabel

bebas terhadap variabel terikat dan pengaruh variabel bebas terhadap

variabel terikat secara parsial. Dalam hal ini ditunjukkan dengan

penolakan (Ho) atau penerimaan hipotesis alternatif (H).

3.7 Proses Penelitian


Penelitian merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus

menerus, terencana dan sistematis dengan maksud untuk mendapatkan pemecahan

masalah. Oleh karena itu langkah-langkah yang diambil dalam penelitian haruslah

tepat dan saling mendukung antara komponen satu dengan komponen lainnya.

Adapun proses penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :


Gambar 3.2
PROSES PENELITIAN

Topik Penlitian

Latar Belakang Masalah

Tinjauan Pustaka
Identifikasi Masalah

Kerangka Pemikiran dan


Hipotesis
Pengumpulan dan
Pengolahan Data

Metode Penelitian

Hasil dan Pembahasan


Penelitian

Kesimpulan dan Saran

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia

Pada abad ke-19 dalam upaya meningkatkan perekonomian Indonesia,

pemerintah Belanda mengembangkan secara besar-besaran sektor perkebunan. Untuk

menjalankan usaha tersebut diperlukan dana yang tidak sedikit. Dana ini diperoleh

dari para penabung yang sebagian besar adalah orang Belanda dan bangsa Eropa

lainnya.

Seiring perkembangannya industri tersebut maka dirasakan dana yang tidak

mencukupi lagi. Akhirnya pengusaha Belanda mendirikan Verenigin voor

Effrchtenhandel di Batavia pada tanggal 14 Desember 1912 dan ini merupakan titik

awal perdagangan efek Indonesia. Efek yang diperdagangkan pada masa itu sangat

terbatas, yaitu meliputi saham dan obligasi dari perusahaan Belanda pada sektor

perkebunan yang berkedudukan di Indonesia.

Perkembangan pasar modal di Batavia, disusul pembukaan Bursa Efek di

Surabaya pada tanggal 11 Januari 1925 dan di Semarang pada tanggal 1 Agustus

1925. Perang Dunia II telah banyak membuat perubahan pada keadaan dalam negeri

di Indonesia. Mengingat keamanan meliputi prioritas utama maka pemerintah Hindia


Belanda mengambil langkah memusatkan Bursa Efek di Jakarta dan menutup Bursa

Efek di Surabaya dan Semarang. Namun akhirnya Bursa Efek di Jakarta juga ditutup

pada tanggal 10 Mei 1940. Pada tahun 1952, tujuh tahun setelah Indonesia

memproklamirkan kemerdekaan bursa saham di buka lagi di Jakarta dengan

memperdagangkan saham dan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan

Belanda sebelum perang dunia. Kegiatan bursa saham kemudian terhenti lagi ketika

pemerintah meluncurkan program nasionalisasi pada tahun 1956.

Tidak sampai tahun 1987, bursa saham kembali dibuka dan ditangani oleh

Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam), industri baru di bawah Departemen

Keuangan. Kegiatan perdagangan dan kapitalisasi pasar saham pun mulai meningkat

dan maencapai puncaknya pada tahun 1990 seiring dengan perkembangan pasar

finansial dan sektor swasta.

Pada tanggal 13 Juli 1992, bursa saham di swastanisasi bursa saham menjadi

PT. Bursa Efek Jakarta ini mengakibatkan beralih fungsi Bapepam menjadi Badan

Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ.

Pada tahun 1995 adalah tahun Bursa Efek Jakarta memasuki babak baru.

Tepatnya pada tanggal 22 Mei 1995, BEJ meluncurkan Jakarta Automated Trading

System (JATS), yaitu sebuah sistem perdagangan otomatis yang menggantikan sistem

perdagangan secara manual. Dengan adanya sistem-sistem baru ini maka dapat

memfasilitasi perdagangan saham dengan frekuensi yang lebih besar dan lebih
menjamin kegiatan pasar yang wajar dan transparan dibanding dengan perdagangan

manual.

Swastanisasi sejumlah BUMN telah memberikan kontribusi yang signifikan

terhadap pertumbuhan Bursa Efek Jakarta. Di akhir tahun 1996 lima BUMN tersebut

adalah Semen Gresik, Indosat, Telkom, Tambang Timah dan BNI.

Pada tahun 2000, sistem Perdagangan Tanpa Warkat (Sriplesstrading) mulai

diaplikasikan di pasar modal Indonesia. Pada tahun 2002, BEJ mulai

mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading). Dan pada tahun

2007 Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan

berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).

4.1.2 Struktur Organisasi dan Uraian Tugas Bursa Efek Indoenesia

Struktur organisasi Bursa Efek Indonesia adalah garis atau lini, dimana dalam

kesehariannya BEI dipimpin oleh Direktur Utama yang membawahi satu orang

direktur yaitu Direktur Pemeriksaan dan Divisi Komunikasi Perusahaan. Selain kedua

bagian tersebut Direktur Utama juga secara tidak langsung dibantu oleh sekretaris

perusahaan dan beberapa orang peneliti senior.


Direktur Operasi membawahi empat orang direktur untuk membantu tugas

kesehariannya, yaitu Direktur Pencatatan, Direktur Perdagangan, Direktur

Keanggotaan dan Direktur Administrasi.

1. Direktur Pemeriksaan membawahi 4 divisi, yaitu :


a. Divisi Pengawasan, bertugas mengadakan beberapa kegiatan untuk

meningkatkan kemampuan sistem pengawasan Bursa Efek Indonesia,

antara lain penyempurnaan sistem monitoring perdagangan melalui

parameter perdagangan bursa.


b. Divisi Hukum, bertugas menyiapkan kontrak-kontrak yang disiapkan

oleh perusahaan dan menyempurnakan peraturan biasa.


c. Satuan Pemeriksaan Anggota Bursa, bertugas membantu tim audit

dalam memeriksa dan mengaudit laporan keuangan para emiten.


d. Satuan Pemeriksaan Internal, bertugas memeriksa dan mengaudit

laporan keuangan perusahaan.


2. Direktur Pencatatan membawahi dua divisi, yaitu :
a. Divisi Pencatatan Sektor Jasa, bertugas mengevaluasi dan mengontrol

perusahaan-perusahaan dalam sektor jasa.


b. Divisi Pencatatan Sektor Pabrikan, bertugas mengevaluasi dan

mengontrol perusahaan-perusahaan dalam sektor pabrikan.


3. Direktur Perdagangan membawahi dua divisi, yaitu :
a. Divisi Perdagangan, bertugas menyediakan sarana perdagangan yang

efisien, menyempurnakan peraturan perdagangan, menyempurnakan

sistem perdagangan efek agar teratur.


b. Divisi Riset dan Pengembangan, bertugas memberikan masukan bagi

pengembangan instrument pasar dan bisnis informasi Bursa Efek

Indonesia. Aktivitas rutin divisi ini mencakup penyusunan publikasi


statistik mingguan, bulanan, tahunan, data base BEI, facebook dan

Jurnal BEI.
4. Direktur Keanggotaan membawahi satu divisi, yaitu :
a. Divisi Keanggotaan, bertugas mengatur anggota bursa.
5. Direktur Administrasi mambawahi tiga divisi, yaitu :
a. Direktur Keuangan, bertugas mengambil inisiatif dalam melakukan

integrasi laporan keuangan untuk mempercepat proses penyusunan

laporan keuangan.
b. Divisi umum, bertugas sebagai penunjang kegiatan perusahaan

diantaranya penyusunan pedoman inventarisasi barang perusahaan,

bertanggungjawab dalam pengadaan kebutuhan untuk menunjang

kebutuhan perusahaan.
c. Divisi Sumber Daya Manusia, bertugas untuk menunjang kelancaran

operasi perusahaan dengan kebijakan perusahaan meningkatkan

kualitas SDM di Bursa Efek Indonesia melalui program pelatihan dan

pendidikan

4.1.3 Gambaran Umum Perusahaan

Penelitian ini menggunakan 21 Perusahaan di bidang manufaktur yang telah

go public dan terdaftar serta masih aktif bertransaksi di BEI sampai dengan tahun

2011.

.Tabel 4.1
Profil Singkat Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI

No Nama Perusahaan
1 PT. ARWANA CITRAMULIA Tbk
2 PT. ASIA PACIFIC FIBER Tbk
3 PT. ASIAPLAST INDUSTRIES Tbk
4 PT. ASTRA GRAPHIA Tbk
5 PT. ASTRA INTERNATIONAL Tbk
6 PT. ASTRA OTOPARTS Tbk
7 PT. BENTOJAYA MANUNGGAL Tbk
8 PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Tbk
9 PT. ERATEX DJAJA Tbk
10 PT. GUDANG GARAM Tbk
11 PT. KEDAWUNG SETIA INDUSTRIAL Tbk
12 PT. KIMIA FARMA Tbk
13 PT. LAUTAN LUAS Tbk
14 PT. MODERN INTERNASIONAL Tbk
15 PT. MUSTIKA RATU Tbk
16 PT. PABRIK KERTAS TJIWI KIMIA Tbk
17 PT. SEMEN GRESIK Tbk
18 PT. SEPATU BATA Tbk
19 PT. TIRTA MAHAKAM RESOUSCES Tbk
20 PT. ULTRA JAYA MILK INDUSTRY & TRADING COMPANY Tbk
21 PT. UNITED TRACTORS Tbk
Sumber : Data Sekunder Yang Sudah di OIah

PT. Arwana Citramulia Tbk

Mulai dari Nol Menilik sejarahnya, Arwana yang merupakan singkatan dari

Arab, Jawa, dan China ini merupakan usaha yang dirintis oleh tiga sahabat yang

berasal dari tiga etnis tersebut. Salah seorang rekan yang berasal dari etnis Arab

mengajak Tandean yang merupakan etnis China dan seorang rekannya dari etnis Jawa

untuk merintis usaha industri keramik. Dengan modal awal sebesar US$ 15 juta atau

sekitar Rp 30 miliar.

PT. Arwana Citramulia Tbk (IDX: ARNA) merupakan perusahaan

multinasional yang memproduksi keramik yang bermarkas di Jakarta,


Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1975. Perusahaan ini

menghasilkan berbagai macam-macam bahan keramik.

PT. Asia Pacific Fiber

PT. Asia Pacific Fiber Tbk (dahulu PT Polysindo Eka Perkasa Tbk), didirikan

sejak tahun 1984, merupakan salah satu perusahaan pengahasil polyester terkemuka

di Indonesia. Perseroan menjalankan rangkaian proses produksi polyesternya mulai

dari bahan baku sampai menjadi barang jadi dengan mengutamakan mutu dan

konsistensi. PT. Asia Pacific Fiber merupakan satu-satunya produsen polyester yang

terintegrasi di Indonesia, dengan fasilitas pabrik PTA, Polymer dan fiber, yang

terletak di Karawang, Jawa Barat dan fasilitas pabrik Benang Polyester yang terbesar

di Indonesia terletak di Semarang, Jawa Tengah. Anak perusahaan PT Texmaco Jaya

Tbk yang bergerak dalam bidang pertenunan dan penyempurnaan tekstil yang berada

di Karawan, Jawa Barat dan Pemalang, Jawa Tengah.

Produk yang dihasilkan PT. Asia Pacific Fiber Tbk saat ini meliputi Purified

Terephtalic Acid (PTA), Polyester Chips, Staple Fiber, Filamen Yarn dan

Performance Fabrics. Hasil produksi perseroan dipasarkan baik di dalam maupun di

ekspor ke luar negeri.


PT Asiaplast Industries Tbk

PT Asiaplast Industries Tbk (Perusahaan), semula bernama PT Adi Karya

Perkasa yang selanjutnya berubah menjadi PT Akasa Pandukarya, didirikan

berdasarkan akta Notaris Drs. Sugisno, S.H., No. 14 tanggal 5 Agustus 1992. Akta

Pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia melalui Surat

Keputusan No. C2-9944.HT.01.01.TH.93 tanggal 30 September 1993 dan

diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 78, Tambahan No. 6279

tanggal 28 September 1999.

Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan,

terakhir dinyatakan dengan akta Notaris Rachmat Santoso, S.H., No. 116 tanggal 28

Juni 1999, antara lain sehubungan dengan peningkatan modal dasar, perubahan nilai

nominal saham dan perubahan status Perusahaan dari perusahaan tertutup menjadi

perusahaan terbuka. Perubahan anggaran dasar tersebut telah memperoleh persetujuan

dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. C-

16757.HT.01.04.TH.99 tanggal 23 September 1999 dan diumumkan dalam Berita

Negara Republik Indonesia No. 85, Tambahan No. 7043 tanggal 22 Oktober 1999.

Perubahan terakhir dinyatakan dengan akta notaris Buntario Tigris Darmawa Ng,

S.H., S.E., M.H., No. 205 tanggal 8 Agustus 2008 agar sesuai dengan Undang-

Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007. Sesuai dengan Pasal 2 Anggaran

Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan meliputi bidang industri dan

perdagangan lembaran plastik PVC dan kulit imitasi. Perusahaan berkedudukan di


Menara Imperium, Lantai 10, Jalan H.R. Rasuna Said Kav. 1, Jakarta dengan lokasi

pabrik di Jalan Sentosa Desa Gembor,Kecamatan Jatiuwung, Tangerang, Provinsi

Banten. Kegiatan operasi komersial Perusahaan dimulai pada tahun 1994. Sejak

November 1999, Perusahaan memulai kegiatan produksi untuk lembaran kulit imitasi

(PVCsynthetic leather). Perusahaan memiliki lima (5) lini produksi untuk lembaran

plastik PVC.

PT. Astragraphia Tbk

Astragraphia mengawali perjalannya pada tahun 1971 sebagai Divisi Xerox

pada PT Astra International yang bergerak dalam bidang pemasaran dan penyediaan

layanan purna jual bagi mesin fotokopi Xerox secara eksklusif di seluruh Indonesia.

Pada tahun 1976, Divisi Xerox memisahkan diri dari PT Astra International dan

menjadi perusahaan yang mandiri dengan nama PT Astra Graphia. Kemudian, pada

tahun 1989, Astragraphia menjadi perusahaan publik dengan mencatatkan sahamnya

di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya dan berubah nama menjadi PT Astra

Graphia Tbk

Astragraphia fokus pada bisnis Document Solution dengan parter utama Fuji

Xerox Co. Ltd, perusahaan yang ahli di bidang perdokumenan berskala global.

Bisnis Document Solution tidak hanya bisnis mesin fotokopi, tapi telah mengalami

transformasi bersamaan dengan pesatnya perkembangan d bidang teknologi informasi

(TI). Oleh karena itulah, cakupan bisnis ini pun menjadi lebih luas. Beberapa bisnis
yang tercakup dalam Document Solution antara lain document input (creating,

scanning, merging, editing), document management (sharing, archiving, dsitributing,

routing), hingga document output (printing, faxing, copying, e-mailing, webviewing)

dalam konfigurasi yang bervariasi.

PT. Astra International. Tbk (Perseroan)

PT. Astra International. Tbk (Perseroan) didirikan pada tahun 1957 di

Bandung dan dikelola serta dipimpin oleh William Soeryadjaja, Tjien Kian Tie dan

Liem peng Hong. Pada tahun 1965 PT. Astra International memusatkan kantor

pusatnya di Jakarta, dan kantor Bandung dijadikan sebagai cabang pertama . dengan

nama PT. Astra Incorporated. Perseroan berdomisili di jakarta, Indonesia, dengan

kantor pusat di jl. Gaya Motor Raya No.8, Sunter II, Jakarta. PT.Astra International

resmi berdiri secara hukum dan disahkan di hadapan Notaris Sie. kwan Djioe dengan

akte notaris No.67 tanggal 20 februari1957 di Jakarta, dan dalam keputusan menteri

kesehatan RI No.J.A/53/5 tanggal 1 juli 1957 dan terdaftar di paniteran pengadilan

negeri di Jakarta serta di umumkan dalam tambahan no.01117 berita Negara RI No.85

tanggal 22 oktober 1957.

Perusahaan ini awalnya bergerak dibidang usaha permobilan, yaitu Toyota,

Daihatsu, Isuzu, Nissan Truck, dan pada bidang lainnya seperti :


1. PT.Federal , bergerak di bidang pemasaran sepeda motor Honda dan

sepeda Federal .

2. United Traktor, bergerak di bidang usaha mesin berat pertanian seperti ;

Traktor, Messey Ferguson, Sumitomo, Link Belt dan lain-lain.

3. Bidang usaha perkantoran dan perdagangan mesin Foto Copy Xerox,

minyak pelumnas dan spesialis Caltex.

4. Astra Argo bergerak dibidang usaha pertanian, perkebunan dan perkayuan.

Pada tahun 1969 mulai mengalihkan usaha impor alat-alat berat dan barang-

barang teknik. Makin luasnya usaha tersebut dikarenakan PT.Astra makin

memperoleh kepercayaan dari para investor luar negeri untuk memasarkan produk-

prodek otomotif. Pada tahun 1990, Perusahaan mengubah namanya menjadi PT.

Astra International Tbk. Sesuai dengan pasal 3 Anggaran dasar perseroan, Ruang

lingkup perseroan adalah Perdagangan umum, perindustrian, jasa pertambangan,

pengangkutan, pertanian, pembangunan dan jasa konsultasi. Ruang lingkup kegiatan

utama anak perusahaan meliputi perakitan dan penyaluran mobil , sepeda motor

berikut suku cadangnya, penjualan dan penyewaan alat-alat berat , pertambangan dan

jasa terkait, pengebangan dan jasa terkait pengembangan perkebunan. PT. Astra

Intenational Tbk atau lebih dikenal dengan Astra Group ini telah tercatat di Bursa
Efek Jakarta sejak tanggal 4 April 1990. Saat ini mayoritas Kepemilikan sahamnya

dimiliki oleh Jardine Cycle dan Carriage, Singapura.

PT.Astra International Tbk merupakan suatu badan usaha swasta yang juga

merupakan perusahaan public,yang kini memiliki enam divisi,yaitu:

1. Vehicle Division

2. Heavy Equipment Division

3. Property Division

4. Resources Division

5. Finance division dan System Division.

Divisi-divisi yang memasarkan produk astra kemudian satu persatu

memisahkan diri dan berkembang dan juga memiliki cabang di daerah.

PT. Betonjaya Manunggal Tbk

PT. Betonjaya Manunggal Tbk (IDX: BTON) merupakan perusahaan

multinasional yang memproduksi logam yang bermarkas di Jakarta,

Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1988. Perusahaan ini

menghasilkan berbagai macam-macam bahan logam.

PT. Duta Pertiwi Nusantara Tbk


PT. Duta Pertiwi Nusantara Tbk (IDX: DPNS) merupakan perusahaan

multinasional yang memproduksi kimia yang bermarkas di Jakarta,

Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1982. Perusahaan ini

menghasilkan lem dan perekat kayu lapis.

PT Eratex Djaja ltd

P.T. Eratex Djaja ltd. Tbk. ("Perusahaan") didirikan dalam rangka Undang-

Undang Penanaman Modal Asing No.1 tahun 1967 berdasarkan akta No. 7 tanggal 12

Oktober 1972. Perusahaan berganti nama menjadi P.T. ERATEX DJAJA Tbk. pada

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang diselenggarakan pada tanggal 15

Juni 2004.Perusahaan bergerak dalam bidang industri textile yang terpadu meliputi

bidang-bidang pemintalan, penenunan, penyelesaian, pembuatan pakaian jadi serta

menjual produknya di dalam maupun luar negeri. Perusahaan beroperasi secara

komersial pada tahun 1974. Pabrik berlokasi di Jalan Raya Soekarno-Hatta,

Probolinggo, Jawa Timur, dengan jumlah karyawan kurang lebih 4500 orang. Kantor

Perusahaan terdaftar di Jakarta dan kantor eksekutif di Surabaya. Mulai tahun 1990

Perusahaan membuka cabang di Hong Kong.Pada tanggal 21 Agustus 1990,

Perusahaan telah mencatatkan sahamnya di bursa efek di Indonesia sesuai dengan

surat persetujuan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.SI-

125/SHM/MK.10/1990 tanggal 14 Juli 1990. Sejak tahun 2000 seluruh saham telah

dicatatkan di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya.


PT Gudang Garam Tbk.

PT Gudang Garam Tbk. (IDX: GGRM) adalah sebuah perusahaan

produsen rokok populer asal Indonesia. Perusahaan ini merupakan pemimpin

dalam produksi rokok kretek. Perusahaan ini memiliki kompleks tembakau

sebesar 514 are di Kediri, Jawa Timur.

Gudang Garam didirikan pada 26 Juni1958 oleh Tjoa Ing Hwie. Sebelum

mendirikan perusahaan ini, di saat berumur sekitar dua puluh tahun, Ing Hwie

mendapat tawaran bekerja dari pamannya di pabrik rokok Cap 93 yang merupakan

salah satu pabrik rokok terkenal di Jawa Timur pada waktu itu. Berkat kerja keras

dan kerajinannya dia mendapatkan promosi dan akhirnya menduduki posisi direktur

di perusahaan tersebut.

Pada tahun 1956 Ing Hwie meninggalkan Cap 93. Dia membeli tanah di

Kediri dan memulai produksi rokok sendiri, diawali dengan rokok kretek dari

kelobot dengan merek Inghwie. Setelah dua tahun berjalan Ing Hwie mengganti

nama perusahaannya menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam.

PT Gudang Garam Tbk tidak mendistribusikan secara langsung melainkan

melalui PT Surya Madistrindo lalu kepada pedagang eceran kemudian baru ke

konsumen atau produsen.

PT. Kedawung Setia Industrial Tbk


PT. Kedawung Setia Industrial Tbk (IDX: KDSI) merupakan perusahaan

multinasional yang memproduksi rumah tangga yang bermarkas di

Surabaya, Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1973. Perusahaan ini

menghasilkan berbagai macam-macam bahan rumah tangga.

PT. Kimia Farma Tbk

PT. Kimia Farma Tbk (IDX: KAEF) merupakan perusahaan

multinasional yang memproduksi farmasi yang bermarkas di Jakarta,

Indonesia.

Kimia Farma merupakan pioner dalam industri farmasi Indonesia. Cikal bakal

perusahaan dapat dirunut balik ke tahun 1917, ketika NV Chemicalien Handle

Rathkamp & Co., perusahaan farmasi pertama di Hindia Timur, didirikan. Sejalan

dengan kebijakan nasionalisasi eks perusahaan-perusahaan Belanda, pada tahun 1958

pemerintah melebur sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF Bhinneka Kimia

Farma. Selanjutnya pada tanggal 16 Agustus 1971 bentuk hukumnya diubah menjadi

Perseroan Terbatas, menjadi PT Kimia Farma (Persero). Sejak tanggal 4 Juli

2001 Kimia Farma tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta dan

Bursa Efek Surabaya.

Berbekal tradisi industri yang panjang selama lebih dari 187 tahun dan nama

yang identik dengan mutu, hari ini Kimia Farma telah berkembang menjadi sebuah
perusahaan pelayanan kesehatan utama di Indonesia yang kian memainkan peranan

penting dalam pengembangan dan pembangunan bangsa dan masyarakat.

PT Lautan Luas Tbk

PT Lautan Luas Tbk (IDX: LTLS) merupakan perusahaan

multinasional yang memproduksi bahan kimia yang bermarkas di Jakarta,

Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1951 oleh Adyansyah Masrin dan

Joan Fudiana. Perusahaan ini mendistribusikan dan memproduksi berbagai macam-

macam bahan kimia dasar dan khusus.

PT. Modern International Tbk

PT. Modern International berdiri pada 12 Mei 1971 dengan nama PT.

ModernPhoto Film Company yang pada tahun 1997 berganti menjadi PT. Modern

Photo Tbk danpada tahun 2007 berganti nama lagi menjadi PT. Modern International

Tbk. PT. ModernInternational Tbk sejak tahun 1971 adalah distributor tunggal untuk

seluruh produk FujiFilm yang bergerak pada bidang fotografi di Indonesia.

Sebelum PT. Modern International Tbk bergerak pada bidang ritel, PT.

ModernInternational Tbk bergerak pada bidang produk dan peralatan fotografi

konvensional dandigital, peralatan percetakan, peralatan rumah sakit, eletronik,


telekomunikasi, produk isiulang telepon selular, mesin fotokopi dan penyertaan

modal pada berbagai usaha dibidang industri, jasa, perdagangan eceran produk

fotografi. Pada tahun 2009, PT. ModernInternational Tbk memasuki bidang usaha

ritel convenience store dengan membawafranchise 7 Eleven. Dengan ini mereka

mengembangkan konsep ritel yang fokus padalayanan makanan serta minuman cepat

saji disamping produk convenience item lainnyamelalui pengelolaan oleh salah satu

anak perusahaan mereka.

PT Mustika Ratu Tbk

Awal pendirian Perseroan pada tahun 1975, dimulai dari garasi kediaman Ibu

BRA. Mooryati Soedibyo. Tahun 1978 Perseroan mulai menjalankan usahanya secara

komersial, yaitu dengan memproduksi jamu yang didistribusikan di Jakarta,

Semarang, Surabaya, Bandung, dan Medan. Dalam perkembangannya permintaan

konsumen semakin meningkat, hingga pada tahun 1980-an Perseroan mulai

mengembangkan berbagai jenis kosmetika tradisional.

Pada tanggal 8 April 1981 pabrik Perseroan resmi di operasikan. Dalam

rangka memperkokoh struktur permodalan serta mewujudkan visinya sebagai

perusahaan Kosmetika dan Jamu Alami Berteknologi Tinggi Terbaik di Indonesia.,

Perseroan melakukan penawaran umum perdana dan mencatatkan sahamnya di PT.

Bursa Efek Jakarta pada tahun 1995. Perseroan meulai menerapkan standar
internasional ISO 9002 tentang Sistem Manajemen Mutu serta ISO 14001 tentang

Sistem Manajemen Lingkungan sejak tahun 1996.

Ruang lingkup kegiatan Perseroan meliputi pabrikasi, perdagangan dan

distribusi jamu dan kosmetik tradisional serta minuman sehat, dan kegiatan usaha lain

yang berkaitan.

Perseroan berdomisili di Jalan Gatot Subroto Kav. 74 75, Jakarta Selatan

dan pabrik berlokasi di Jalan Raya Bogor KM 26,4 Ciracas Jakarta Timur.

PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk

PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (IDX: TKIM) merupakan perusahaan

multinasional yang memproduksi kertas yang bermarkas di Jakarta,

Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1980. Perusahaan ini

menghasilkan berbagai macam-macam kertas.

PT Semen Gresik (Persero) Tbk.

PT Semen Gresik (Persero) Tbk. (IDX: SMGR) adalah pabrik semen yang

terbesar di Indonesia. Diresmikan di Gresik pada tanggal 7 Agustus 1957 oleh

Presiden RI pertama dengan kapasitas terpasang 250.000 ton semen per tahun. Pada

tanggal 8 Juli 1991 Semen Gresik tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek

Surabaya serta merupakan BUMN pertama yang go public dengan menjual 40 juta
lembar saham kepada masyarakat. Sampai dengan tanggal 30 September 1999

komposisi kepemilikan saham berubah menjadi Pemerintah RI 51,01%, Masyarakat

23,46% dan Cemex 25,53%. Pada Tanggal 27 Juli Juli 2006 terjadi transaksi

penjualan saham CEMEX S.S de. C.V pada Blue valley Holdings PTE Ltd. Sehingga

komposisi kepemilikan saham sampai saat ini berubah menjadi Pemerintah RI

51,01%, Blue Valley Holdings PTE Ltd 24,90%, dan masyarakat 24,09%. Saat ini

kapasitas terpasang Semen Gresik Group (SGG) sebesar 16,92 juta ton semen per

tahun, dan menguasai sekitar 46% pangsa pasar semen domestik. PT Semen Gresik

(Persero) Tbk memiliki anak perusahaan PT. Semen Padang (Persero) dan PT. Semen

Tonasa (Persero). Semen Gresik Group merupakan produsen semen terbesar di

Indonesia.

PT Sepatu Bata, Tbk

Bata atau T&A Bata Shoe Company terdaftar di Zlin, Cekoslowakia oleh

dua bersaudara Tom, Anna dan Antonn Bata (1894). Perusahaan sepatu raksasa

keluarga ini mengoperasikan empat unit bisnis internasional: Bata Eropa, Bata Asia

Pasifik-Afrika, Bata Amerika Latin, dan Bata Amerika Utara. Produk

perusahaan ini hadir di lebih dari 50 negara dan memiliki fasilitas produksi di 26

negara. Sepanjang sejarahnya, perusahaan ini telah menjual sebanyak 14 miliar

pasang sepatu.
Di Indonesia pengoperasian penjualan sepatu Bata dijalankan oleh PT Sepatu

Bata, Tbk. Pabrik perusahaan ini pertama kali berdiri pada tahun 1939, dan saat ini

berada di dua tempat, yaitu Kalibata dan Medan. Keduanya menghasilkan 7 juta

pasang alas kaki setahun yang terdiri dari 400 model sepatu, sepatu sandal, dan sandal

baik yang dibuat dari kulit, karet, maupun dan plastik. Sebelum tahun 1978, status

Bata di Indonesia adalah perusahaan penanaman modal asing (PMA), sehingga

dilarang menjual langsung ke pasar. Bata menjual melalui para penyalur khusus

(depot) dengan sistem konsinyasi. Status para penyalur tersebut diubah dan pada 1

Januari 1978, yaitu saat izin dagang Bata "dipindahkan" kepada mereka dan PT

Sepatu Bata menjadi perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

PT. Tirta Mahakam Resources Tbk

PT. Tirta Mahakam Resources Tbk (IDX: TIRT) merupakan perusahaan

multinasional yang memproduksi kayu yang bermarkas di Jakarta, Indonesia.

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1987. Perusahaan ini menghasilkan berbagai

macam-macam bahan kayu.

PT. Ultrajaya Milk Industry and Trading Company, Tbk

PT. Ultrajaya Milk Industry and Trading Company, Tbk (IDX: ULTJ)

merupakan perusahaan multinasional yang memproduksi minuman yang bermarkas

di Padalarang, Kab. Bandung, Indonesia. Beralamat di Jln. Raya Cimareme 131,


Padalarang, Kab. Bandung. Perusahaan ini awalnya merupakan industri rumah tangga

yang didirikan pada tahun 1958, kemudian menjadi suatu entitas perseroan terbatas

pada tahun 1971. Perusahaan ini merupakan pioner di bidang industri minuman

dalam kemasan di Indonesia, dan sekarang memiliki mesin pemroses minuman

tercanggih se-Asia Tenggara.

Pada awalnya perusahaan yg berawal dari sebuah rumah di Jln. Tamblong

Dalam, Bandung, ini hanya memproduksi susu. Namun seiring perkembangannya, dia

juga memproduksi juice dalam kemasan bermerek Buavita dan Gogo serta

memproduksi Teh Kotak, Sari Asem Asli dan Sari Kacang Ijo. Sejak tahun 2008

merek Buavita dan Gogo dibeli oleh PT. Unilever Indonesia, Tbk. sehingga PT.

Ultrajaya Milk bisa kembali ke bisnis utamanya, yaitu produksi susu. Perusahaan

yang didirikan oleh Ahmad Prawirawidjaja ini, seorang pengusaha Tionghoa yg

sudah bermukim di Bandung, sekarang dikomandani oleh generasi kedua, yaitu

Sabana Prawirawidjaja, dan siap-siap diteruskan kepada generasi ketiga, Samudera

Prawirawidjaja.

PT. Ultrajaya Milk, Tbk. menggunakan sistem komputerisasi yang sudah

terintegrasi, yaitu SAP, sejak tahun 2002. Bahkan perusahaan ini merupakan salah

satu rujukan implementor SAP yang dinilai cukup sukses di dalam mengadopsi

hampir semua modul SAP.

PT United Tractors Tbk


PT United Tractors Tbk (UT) berdiri pada 13 Oktober 1972 dengan nama PT

Astra Motor Works dan PT Astra International Tbk sebagai pemegang saham

mayoritas. Selanjutnya nama tersebut diubah menjadi United Tractors (UT). Segera

setelah beroperasi, UT memperoleh kepercayaan sebagai agen tunggal berbagai

macam alat berat yang memiliki reputasi internasional, antara lain merek KOMATSU

dari Komatsu Ltd, Japan yang sudah sejak awal menjadi perintis kerja sama dengan

UT.

Sepanjang dasawarsa tahun 1970-an, UT yang telah mengembangkan industri

pada areal seluas 20 ha di Jl. Raya Bekasi km. 22, Cakung, Jakarta Timur, terus

membangun reputasi pemasar yang paling berorientasi ke service atau product

support. Untuk memenuhi kebutuhan pasar, sejak 1981 UT mulai melangkah ke

bidang produksi. Selanjutnya UT mulai mendirikan beberapa Affiliated Company

(Affco) yang semakin memperkokoh usaha yang digelutinya.

4.1.4 Tingkat Likuiditas Pada Perusahaan Manufaktur periode 2008-2011

Likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan

dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Rasio likuiditas yang digunakan dalam

penelitian ini diukur dengan rasio lancar (current ratio). Current ratio merupakan

rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka


pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan.

Penghitungan rasio lancar dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara total

aktiva lancar dengan total utang lancar.

Aktiva lancar (current asset) merupakan harta perusahaan yang dapat

dijadikan uang dalam waktu singkat (maksimal satu tahun). Komponen aktiva lancar

meliputi kas, bank, surat-surat berharga, piutang, sediaan, biaya dibayar dimuka,

pendapatan yang masih harus diterima, pinjaman yang diberikan dan aktiva lancar

lainnya. Utang lancar (current liabilities) merupakan kewajiban perusahaan jangka

pendek (maksimal satu tahun). Artinya, utang ini harus segera dilunasi dalam waktu

paling lama satu tahun. Komponen utang lancar terdiri dari utang dagang, utank bank

satu tahun, utang wesel, utang gaji, utang pajak, utang dividen, biaya diterima

dimuka, utang jangka panjang yang sudah hampir jatuh tempo, serta utang jangka

pendek lainnya.
Rasio Likuiditas
(Current Ratio) Rata-
NO Nama Perusahaan 2008 2009 2010 2011 Total rata
1 PT. Arwana Citramulia 0.757 0.792 0.972 1.016 3.537 0.884
2 PT. Asia Pacific Fiber 0.095 0.122 0.189 0.198 0.604 0.151
3 PT. Asiaplast Industries 0.675 1.402 1.862 1.403 5.342 1.336
4 PT. Astra Graphia 1.247 1.447 1.51 1.592 5.796 1.449
5 PT. Astra International 1.322 1.369 1.284 1.364 5.339 1.335
6 PT. Astra Otoparts 2.133 2.174 1.757 1.355 7.419 1.855
7 PT. Betonjaya Manunggal 4.322 9.462 3.597 3.138 20.519 5.130
8 PT. Duta Pertiwi Nusantara 4.561 13.655 4.689 5.189 28.094 7.024
9 PT. Eratex Djaja 0.337 0.416 0.42 0.993 2.166 0.542
10 PT. Gudang Garam 2.217 2.459 2.701 2.245 9.622 2.406
11 PT. Kedawung Setia Industrial 1.196 1.197 1.266 1.358 5.017 1.254
12 PT. Kimia Farma 2.113 1.998 2.425 2.748 9.284 2.321
13 PT. Lautan Luas 1.124 1.121 1.101 1.038 4.384 1.096
14 PT. Modern Int. 1.259 1.15 1.833 11.956 16.198 4.050
15 PT. Mustika Ratu 6.311 7.179 7.163 6.271 26.924 6.731
16 PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia 2.585 2.367 2.194 1.924 9.07 2.268
17 PT. Semen Gresik 3.388 3.576 2.918 2.647 12.529 3.132
18 PT. Sepatu Bata 2.162 2.352 2.085 2.128 8.727 2.182
19 PT. Tirta Mahakam Resources 1.107 1.759 1.182 1.445 5.493 1.373
20 PT. United Tractor 1.636 1.656 1.566 1.716 6.574 1.644
21 PT. Ultrajaya Milk 1.898 2.116 2.001 1.521 7.536 1.884
TOTAL Per tahun 42.445 59.769 44.715 53.245
Rata-rata Per tahun 2.021 2.846 2.129 2.535
Berikut perhitungan current ratio tahun 2008-2011 pada perusahaan

manufaktur yang terdaftar di BEI:


Tabel 4.2

Tingkat Rasio Likuiditas (Current Ratio) Perusahaan Manufaktur

(Sumber: Laporan keuangan neraca pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di


BEI tahun 2008-2011, hasil olah data penulis)

Berdasarkan data di atas, tahun 2008 PT Asia Pacific Fiber Tbk memiliki nilai

Likuiditas terendah yaitu sebesar 0,095, hal tersebut terjadi karena aktiva lancar yang

dimiliki perusahaan lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai utang lancarnya, dan

angka tersebut masih belum aman bagi sebuah perusahaan untuk menutupi hutangnya

dengan aktiva yang dimilikinya karena masih mendekati angka 1. Oleh karena itu

perusahaan perlu mengurangi hutang jangka pendeknya agar menarik minat investor

terhadap perusahaan tersebut. Sedangkan untuk nilai likuiditas tertinggi terjadi pada

PT Mustika Ratu Tbk sebesar 6,311, hal tersebut terjadi karena nilai aktiva lancar

yang dimiliki perusahaan lebih tinggi dari utang lancarnya. Angka ini cukup aman

bagi sebuah perusahaan untuk menutupi hutang dengan aktiva yang dimilikinya,

sehingga minat para investor pun akan tinggi untuk memiliki perusahaan tersebut.

Untuk tahun 2009 PT Asia Pacific Fiber Tbk pun masih memiliki nilai

Likuiditas terendah yaitu sebesar 0,122, hal tersebut terjadi karena aktiva lancar yang

dimiliki perusahaan lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai utang lancarnya, dan

angka tersebut masih belum aman bagi sebuah perusahaan untuk menutupi hutangnya

dengan aktiva yang dimilikinya karena masih mendekati angka 1. Oleh karena itu

perusahaan perlu mengurangi hutang jangka pendeknya agar menarik minat investor
terhadap perusahaan tersebut. Sedangkan untuk nilai likuiditas tertinggi terjadi pada

PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk sebesar 13,655, hal tersebut terjadi karena nilai aktiva

lancar yang dimiliki perusahaan lebih tinggi dari utang lancarnya. Angka ini sangat

aman bagi sebuah perusahaan untuk menutupi hutang dengan aktiva yang

dimilikinya, sehingga minat para investor pun akan tinggi untuk memiliki perusahaan

tersebut.

Untuk tahun 2010 PT Asia Pacific Fiber Tbk pun masih memiliki nilai

Likuiditas terendah yaitu sebesar 0,189, hal tersebut terjadi karena aktiva lancar yang

dimiliki perusahaan lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai utang lancarnya, dan

angka tersebut masih belum aman bagi sebuah perusahaan untuk menutupi hutangnya

dengan aktiva yang dimilikinya karena masih kurang untuk mendekati angka 1. Oleh

karena itu perusahaan perlu mengurangi hutang jangka pendeknya agar menarik

minat investor terhadap perusahaan tersebut. Sedangkan untuk nilai likuiditas

tertinggi terjadi pada PT Mustika Ratu Tbk sebesar 7,163, hal tersebut terjadi karena

nilai aktiva lancar yang dimiliki perusahaan lebih tinggi dari utang lancarnya. Angka

ini cukup aman bagi sebuah perusahaan untuk menutupi hutang dengan aktiva yang

dimilikinya, sehingga minat para investor pun akan tinggi untuk memiliki perusahaan

tersebut.

Dan untuk tahun 2011 PT Asia Pacific Fiber Tbk pun masih memiliki nilai

Likuiditas terendah yaitu sebesar 0, 198, hal tersebut terjadi karena aktiva lancar yang
dimiliki perusahaan lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai utang lancarnya, dan

angka tersebut masih belum aman bagi sebuah perusahaan untuk menutupi hutangnya

dengan aktiva yang dimilikinya karena masih mendekati angka 1. Oleh karena itu

perusahaan perlu mengurangi hutang jangka pendeknya agar menarik minat investor

terhadap perusahaan tersebut. Sedangkan untuk nilai likuiditas tertinggi terjadi pada

PT Modern Internasional Tbk sebesar 11,956, hal tersebut terjadi karena nilai aktiva

lancar yang dimiliki perusahaan lebih tinggi dari utang lancarnya. Angka ini cukup

aman bagi sebuah perusahaan untuk menutupi hutang dengan aktiva yang

dimilikinya, sehingga minat para investor pun akan tinggi untuk memiliki perusahaan

tersebut.

Dari data tabel 4.2 di atas dapat dihitung nilai statistik deskriptif likuiditas

dengan menggunakan SPSS 19 For Window. Hasilnya dapat dilihat pada tabel di

bawah ini:

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Likuiditas 21 .15 7.02 2.3832 1.87214


Valid N (listwise) 21
Tabel 4.3. Analisis Deskriptif

Rasio Likuiditas (Current Ratio)


Berdasarkan tabel 4.4 di atas, diperoleh nilai rata 2,38, sedangkan rata-rata

untuk nilai likuiditas terendah yaitu sebesar 0,15 pada PT Asia Pacific Fiber Tbk dan

untuk rata-rata tertinggi sebesar 7,02 pada PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk. Ini

menunjukkan bahwa PT Asia Pacific Fiber Tbk tidak mampu menutupi hutangnya

dengan aktiva yang dimilikinya tapi masih belum aman karena masih terlalu jauh dari

angka aman (1). Sedangkan Duta Pertiwi Nusantara Tbk bisa menutupi hutangnya

dengan aktiva yang dimilikinya karena memiliki rata-rata yang cukup aman.

4.1.5 Tingkat Leverage Pada Perusahaan Manufaktur periode 2008-2011

Leverage merupakan rasio untuk mengukur hinggau sejauh mana perusahaan

tersebut di biayai oleh hutang yang ada di perusahaan tersebut. Rasio leverage yang

digunakan dalam penelitian ini yaitu Debt to Equity Ratio (DER). DER ini merupakan

hasil dari perbandingan antara total hutang dan total aktiva.

Berikut perhitungan DER tahun 2008-2011 pada perusahaan manufaktur yang

terdaftar di BEI:
Rasio Leverage (Debt To Equity
Ratio) rata-
NO Nana Perusahaan 2008 2009 2010 2011 Total rata
1 PT. Arwana Citramulia 1.583 1.385 1.104 0.721 4.793 1.198
2 PT. Asia Pacific Fiber -1.542 -1.579 -1.497 -1.483 -6.101 -1.525
3 PT. Asiaplast Industries 1.2 0.943 0.459 0.506 3.108 0.777
4 PT. Astra Graphia 1.527 1.034 1.113 1.023 4.697 1.174
5 PT. Astra International 1.214 1.001 0.923 1.024 4.162 1.041
6 PT. Astra Otoparts 0.449 0.393 0.361 0.475 1.678 0.420
PT. Bentojaya
7 Manunggal 0.217 0.079 0.227 0.289 0.812 0.203
PT. Duta Pertiwi
8 Nusantara 0.337 0.255 0.379 0.314 1.285 0.321
9 PT. Eratex Djaja -2.174 -1.616 -1.558 -2.759 -8.107 -2.027
10 PT. Gudang Garam 0.551 0.469 0.444 0.592 2.056 0.514
PT. Kedawung Setia
11 Industrial 1.129 1.308 1.183 1.105 4.725 1.181
12 PT. Kimia Farma 0.525 0.569 0.488 0.433 2.015 0.504
13 PT. Lautan Luas 3.109 2.784 2.519 3.236 11.648 2.912
14 PT. Modern Int. 1.491 1.346 1.154 1.506 5.497 1.374
15 PT. Mustika Ratu 0.168 0.155 0.145 0.179 0.647 0.162
PT. Pabrik Kertas Tjiwi
16 Kimia 2.649 2.629 2.449 2.462 10.189 2.547
17 PT. Semen Gresik 0.301 0.258 0.282 0.345 1.186 0.297
18 PT. Sepatu Bata 0.472 0.383 0.461 0.457 1.773 0.443
PT. Tirta Mahakam
19 Resources 3.335 3.383 3.328 4.025 14.071 3.518
20 PT. United Tractor 1.406 0.755 0.837 0.689 3.687 0.922
21 PT. Ultrajaya Milk 0.513 0.452 0.542 0.356 1.863 0.466
TOTAL Per tahun 18.460 16.386 15.343 15.495
Rata-rata Per tahun 0.879 0.780 0.731 0.738
Tabel 4.4

Tingkat Rasio Leverage(Debt to Equity Ratio) Perusahaan Manufaktur

(Sumber: Laporan keuangan neraca pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di


BEI tahun 2008-2011, hasil olah data pen

Berdasarkan data di atas, tahun 2008 PT. Eratex Djaja Tbk memiliki nilai

Leverage terendah yaitu sebesar -2,174, hal tersebut terjadi karena total hutang yang

dimiliki perusahaan lebih rendah bila dibandingkan dengan total modal, nilai tersebut

menggambarkan bahwa perusahaan mampu menutupi hutangnya dengan modal yang

dimilikinya Sedangkan untuk nilai Leverage tertinggi terjadi pada PT. Tirta Mahakam

Resources Tbk sebesar 3,335, hal tersebut terjadi karena total hutang yang dimiliki

perusahaan lebih tinggi dari total modalnya, nilai tersebut menggambarkan bahwa

perusahaan kesulitan untuk membayar hutang perusahaan jika hanya dengan modal

yang dimlikinya. Hal tersebut tentunya akan mengurangi minat investor karena

memiliki resiko yang tinggi terhadap kebangkrutan, karena itu perusahaan perlu

mengurangi total hutang/pinjaman-pinjaman yang dimilikinya.

Untuk tahun 2009 PT. Eratex Djaja Tbk memiliki nilai Leverage terendah

yaitu sebesar -1,616, hal tersebut terjadi karena total hutang yang dimiliki perusahaan

lebih rendah bila dibandingkan dengan total modal, nilai tersebut menggambarkan

bahwa perusahaan mampu menutupi hutangnya dengan modal yang dimilikinya.

Sedangkan untuk nilai Leverage tertinggi pun masih terjadi pada PT. Lautan Luas

Tbk sebesar 2,784, hal tersebut terjadi karena total hutang yang dimiliki perusahaan
lebih tinggi dari total modalnya, nilai tersebut menggambarkan bahwa perusahaan

kesulitan untuk membayar hutang perusahaan jika hanya dengan modal yang

dimlikinya. Hal tersebut tentunya akan mengurangi minat investor karena memiliki

resiko yang tinggi terhadap kebangkrutan, karena itu perusahaan perlu mengurangi

total hutang/pinjaman-pinjaman yang dimilikinya.

Untuk tahun 2010 PT. Eratex Djaja Tbk memiliki nilai Leverage terendah

yaitu sebesar -1,558, hal tersebut terjadi karena total hutang yang dimiliki perusahaan

lebih rendah bila dibandingkan dengan total modal,nilai tersebut menggambarkan

bahwa perusahaan mampu menutupi hutangnya dengan modal yang dimilikinya.

Sedangkan untuk nilai Leveragetertinggi pun masih terjadi pada PT. Tirta Mahakam

Resources Tbk sebesar 3,328, hal tersebut terjadi karena total hutang yang dimiliki

perusahaan lebih tinggi dari total modalnya, nilai tersebut menggambarkan bahwa

perusahaan kesulitan untuk membayar hutang perusahaan jika hanya dengan modal

yang dimlikinya. Hal tersebut tentunya akan mengurangi minat investor karena

memiliki resiko yang tinggi terhadap kebangkrutan, karena itu perusahaan perlu

mengurangi total hutang/pinjaman-pinjaman yang dimilikinya.

Dan untuk tahun 2011 PT. Eratex Djaja Tbk pun masih memiliki nilai

Leverage terendah yaitu sebesar -2,759, hal tersebut terjadi karena total hutang yang

dimiliki perusahaan lebih rendah bila dibandingkan dengan total modal,nilai tersebut

menggambarkan bahwa perusahaan mampu menutupi hutangnya dengan modal yang


dimilikinya. Sedangkan untuk nilai Leverage tertinggi pun masih terjadi pada PT.

Tirta Mahakam Resources Tbk sebesar 4,205, hal tersebut terjadi karena total hutang

yang dimiliki perusahaan lebih tinggi dari total modalnya, nilai tersebut

menggambarkan bahwa perusahaan kesulitan untuk membayar hutang perusahaan

jika hanya dengan modal yang dimlikinya. Hal tersebut tentunya akan mengurangi

minat investor karena memiliki resiko yang tinggi terhadap kebangkrutan, karena itu

perusahaan perlu mengurangi total hutang/pinjaman-pinjaman yang dimilikinya.

Dari data tabel 4.4 di atas dapat dihitung nilai statistik deskriptif likuiditas

dengan menggunakan SPSS 19 For Window. Hasilnya dapat dilihat pada tabel di

bawah ini:

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

leverage 21 -2.03 3.52 .7820 1.24370


Valid N (listwise) 21
Tabel 4.5. Analisis Deskriptif

Rasio Leverage(Debt to Equity Raatio Ratio)

Berdasarkan tabel 4.5 di atas, diperoleh nilai rata 0,78, sedangkan rata-rata

untuk nilai leverage terendah yaitu sebesar -2,03 pada PT. Eratex Djaja Tbk dan

untuk rata-rata tertinggi sebesar 3,52 pada PT. Tirta Mahakam Resources Tbk. Ini

menunjukkan bahwa PT. Eratex Djaja Tbk mampu menutupi hutangnya dengan

modal yang dimilikinya. Sedangkan PT Tirta Mahakam Resources Tbk tidak bisa
menutupi hutangnya dengan modal yang dimilikinya.Hal tersebut tentunya akan

mengurangi minat investor karena memiliki resiko yang tinggi terhadap

kebangkrutan, karena itu perusahaan perlu mengurangi total hutang/pinjaman-

pinjaman yang dimilikinya.

4.1.6 Tingkat Aktivitas Pada Perusahaan Manufaktur periode 2008-2011

Aktivitas merupakan rasio untuk mengukur seberapa efektif perusahaan

menggunakan sumber daya yang dimilikinya. Rasio aktivitas yang digunakan dalam

penelitian ini yaitu TATO (Total Asset Turn Over). DER ini merupakan hasil dari

perbandingan antara Beban Penjualan dan Penjualan.

Berikut perhitungan TATO tahun 2008-2011 pada perusahaan manufaktur

yang terdaftar di BEI:


Rasio Aktivitas (TATO) Rata-
NO Nama Perusahaan 2008 2009 2010 2011 Total rata
1 PT. Arwana Citramulia 0.879 0.868 0.951 1.109 3.807 0.952
2 PT. Asia Pacific Fiber 0.761 0.768 1.128 1.154 3.811 0.953
3 PT. Asiaplast Industries 1.089 0.941 0.847 0.952 3.829 0.957
4 PT. Astra Graphia 1.222 1.723 1.586 1.532 6.063 1.516
5 PT. Astra International 1.202 1.108 1.143 1.059 4.512 1.128
6 PT. Astra Otoparts 1.326 1.134 1.119 1.057 4.636 1.159
7 PT. Betonjaya Manunggal 2.445 1.907 1.425 1.294 7.071 1.768
8 PT. Duta Pertiwi Nusantara 0.79 0.654 0.554 0.703 2.701 0.675
9 PT. Eratex Djaja 1.975 2.527 2.021 1.509 8.032 2.008
10 PT. Gudang Garam 1.257 1.211 1.226 1.072 4.766 1.192
PT. Kedawung Setia
11 Industrial 2.219 1.743 2.014 2.009 7.985 1.996
12 PT. Kimia Farma 1.871 1.826 1.921 1.94 7.558 1.890
13 PT. Lautan Luas 1.296 1.216 1.086 1.368 4.966 1.242
14 PT. Modern Int. 1.337 1.163 0.924 0.844 4.268 1.067
15 PT. Mustika Ratu 0.868 0.945 0.956 0.962 3.731 0.933
PT. Pabrik Kertas Tjiwi
16 Kimia 0.6 0.498 0.575 0.537 2.21 0.553
17 PT. Semen Gresik 1.152 1.111 0.922 0.833 4.018 1.005
18 PT. Sepatu Bata 1.343 1.436 1.33 1.313 5.422 1.356
PT. Tirta Mahakam
19 Resources 1.141 0.99 1.069 0.833 4.033 1.008
20 PT. United Tractor 1.221 1.198 1.257 1.185 4.861 1.215
21 PT. Ultrajaya Milk 0.793 0.931 0.937 0.965 3.626 0.907
TOTAL Per tahun 26.787 25.898 24.991 24.23
Rata-rata Per tahun 1.276 1.233 1.190 1.154

Tabel 4.6

Tingkat Rasio Aktivitas (TATO) Perusahaan Manufaktur


(Sumber: Laporan keuangan neraca pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di
BEI tahun 2008-2011, hasil olah data penulis)

Berdasarkan data di atas, tahun 2008 PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk

memiliki nilai Aktivitas terendah yaitu sebesar 0,6, hal tersebut terjadi karena total

penjualan perusahaan sangat rendah bila dibandingkan dengan total aktiva, nilai

tersebut menunjukkan bahwa perusahaan belum bisa menggunakan aktivanya dengan

efektif untuk menunjang angka penjualannya. Dengan begitu perusahaan harus

berusaha meningkatkan penjualannya menggunakan aktiva yang dimilikinya agar

minat investor semakin meningkat. Sedangkan untuk nilai Aktivitas tertinggi terjadi

pada PT. Betonjaya Manunggal Tbk sebesar 2,445, hal tersebut terjadi karena total

penjualan perusahaan lebih tinggi dari total aktivanya, nilai tersebut menunjukkan

bahwa perusahaan telah meggunakan aktivanya secara efektif untuk menunjang

penjualannya. Dengan begitu maka minat investor pun semakin meningkat karena

penggunaan aktiva perusahaan tersebut benar-benar digunakan seefektif mungkin

untuk menunjang penjualannya.

Untuk tahun 2009 PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk memiliki nilai Aktivitas

terendah yaitu sebesar 0,498, hal tersebut terjadi karena total penjualan perusahaan

sangat rendah bila dibandingkan dengan total aktiva, nilai tersebut menunjukkan

bahwa perusahaan belum bisa menggunakan aktivanya dengan efektif untuk

menunjang angka penjualannya.Dengan begitu perusahaan harus berusaha


meningkatkan penjualannya menggunakan aktiva yang dimilikinya agar minat

investor semakin meningkat. Sedangkan untuk nilai Aktivitas tertinggi terjadi pada

PT. Eratex Djaja Tbk sebesar 2,527, hal tersebut terjadi karena total penjualan

perusahaan lebih tinggi dari total aktivanya, nilai tersebut menunjukkan bahwa

perusahaan telah meggunakan aktivanya secara efektif untuk menunjang

penjualannya. Dengan begitu maka minat investor pun semakin meningkat karena

penggunaan aktiva perusahaan tersebut benar-benar digunakan seefektif mungkin

untuk menunjang penjualannya.

Untuk tahun 2010 PT. Duta Pertiwi Nusantara Tbk memiliki nilai Aktivitas

terendah yaitu sebesar 0,554, hal tersebut terjadi karena total penjualan perusahaan

sangat rendah bila dibandingkan dengan total aktiva, nilai tersebut menunjukkan

bahwa perusahaan belum bisa menggunakan aktivanya dengan efektif untuk

menunjang angka penjualannya. Dengan begitu perusahaan harus berusaha

meningkatkan penjualannya menggunakan aktiva yang dimilikinya agar minat

investor semakin meningkat. Sedangkan untuk nilai Aktivitas tertinggi terjadi pada

PT. Eratex Djaja Tbk sebesar 2,021, hal tersebut terjadi karena total penjualan

perusahaan lebih tinggi dari total aktivanya, nilai tersebut menunjukkan bahwa

perusahaan telah meggunakan aktivanya secara efektif untuk menunjang

penjualannya.Dengan begitu maka minat investor pun semakin meningkat karena

penggunaan aktiva perusahaan tersebut benar-benar digunakan seefektif mungkin

untuk menunjang penjualannya.


Dan untuk tahun 2011 PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk memiliki nilai

Aktivitas terendah yaitu sebesar 0,537, hal tersebut terjadi karena total penjualan

perusahaan sangat rendah bila dibandingkan dengan total aktiva, nilai tersebut

menunjukkan bahwa perusahaan belum bisa menggunakan aktivanya dengan efektif

untuk menunjang angka penjualannya.Dengan begitu perusahaan harus berusaha

meningkatkan penjualannya menggunakan aktiva yang dimilikinya agar minat

investor semakin meningkat. Sedangkan untuk nilai Aktivitas tertinggi terjadi pada

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Aktivitas 21 .55 2.01 1.2133 .40866


Valid N (listwise) 21
PT. Kedawung Setia Industrial Tbk sebesar 2,009, hal tersebut terjadi karena total

penjualan perusahaan lebih tinggi dari total aktivanya, nilai tersebut menunjukkan

bahwa perusahaan telah meggunakan aktivanya secara efektif untuk menunjang

penjualannya.Dengan begitu maka minat investor pun semakin meningkat karena

penggunaan aktiva perusahaan tersebut benar-benar digunakan seefektif mungkin

untuk menunjang penjualannya.

Dari data tabel 4.6 di atas dapat dihitung nilai statistik deskriptif aktivitas

dengan menggunakan SPSS 19 For Window. Hasilnya dapat dilihat pada tabel di

bawah ini:

Tabel 4.7. Analisis Deskriptif


Rasio Aktivitas (TATO)

Berdasarkan tabel 4.7 di atas, diperoleh nilai rata 1,21, sedangkan rata-rata

untuk nilai aktivitas terendah yaitu sebesar 0,55 pada PT. Pabrik Kertas Tjiwi

KimiaTbk,, nilai tersebut menunjukkan bahwa perusahaan belum bisa menggunakan

aktivanya dengan efektif untuk menunjang angka penjualannya.Dengan begitu

perusahaan harus berusaha meningkatkan penjualannya menggunakan aktiva yang

dimilikinya agar minat investor semakin meningkat.Dan untuk rata-rata tertinggi

sebesar 2,01 pada PT. Eratex Djaja Tbk, nilai tersebut menunjukkan bahwa

perusahaan telah meggunakan aktivanya secara efektif untuk menunjang

penjualannya.

4.1.7 Tingkat Profitabilitas Pada Perusahaan Manufaktur periode 2008-2011

Profitabilitas merupakan rasio untuk mengukur efektifitas manajemen

perusahaan dalam menghasilkan laba yg dihasilkan dari penjualan dan investasi

perusahaan. Rasio Profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ROA

(Total Asset Turn Over). ROA ini merupakan hasil dari perbandingan antara Laba

bersih dan Aktiva.


Berikut perhitungan ROA tahun 2008-2011 pada perusahaan manufaktur yang

terdaftar di BEI:

Rata-
Rasio Profitabilitas (ROA) Total rata
NO Nama Perusahaan 2008 2009 2010 2011
1 PT. Arwana Citramulia 0.074 0.078 0.092 0.115 0.359 0.090
2 PT. Asia Pacific Fiber -0.432 0.529 0.085 0.166 0.348 0.087
3 PT. Asiaplast Industries -0.017 0.099 0.074 0.066 0.222 0.056
4 PT. Astra Graphia 0.074 0.086 0.119 0.124 0.403 0.101
5 PT. Astra International 0.114 0.113 0.151 0.137 0.515 0.129
6 PT. Astra Otoparts 0.142 0.165 0.219 0.158 0.684 0.171
7 PT. Betonjaya Manunggal 0.295 0.135 0.095 0.161 0.686 0.172
8 PT. Duta Pertiwi Nusantara -0.058 0.049 0.079 -0.039 0.031 0.008
9 PT. Eratex Djaja -0.419 -0.259 -0.417 0.493 -0.602 -0.151
10 PT. Gudang Garam 0.078 0.127 0.137 0.127 0.469 0.117
PT. Kedawung Setia
11 Industrial 0.012 0.019 0.03 0.04 0.101 0.025
12 PT. Kimia Farma 0.038 0.04 0.084 0.096 0.258 0.065
13 PT. Lautan Luas 0.042 0.028 0.029 0.026 0.125 0.031
14 PT. Modern Int. 0.003 0.016 0.053 0.053 0.125 0.031
15 PT. Mustika Ratu 0.063 0.057 0.065 0.061 0.246 0.062
PT. Pabrik Kertas Tjiwi
16 Kimia 0.023 0.013 0.02 0.028 0.084 0.021
17 PT. Semen Gresik 0.238 0.257 0.235 0.201 0.931 0.233
18 PT. Sepatu Bata 0.392 0.127 0.126 0.109 0.754 0.189
PT. Tirta Mahakam
19 Resources -0.119 0.019 -0.017 0.006 -0.111 -0.028
20 PT. United Tractor 0.116 0.156 0.132 0.126 0.530 0.133
21 PT. Ultrajaya Milk 0.177 0.035 0.053 0.046 0.311 0.078
TOTAL Per tahun 0.836 1.889 1.444 2.300
Rata-rata Per tahun 0.040 0.090 0.069 0.110
Tabel 4.8
Tingkat Rasio Profitabilitas (Return On Asset) Perusahaan Manufaktur

(Sumber: Laporan keuangan neraca pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di


BEI tahun 2008-2011, hasil olah data penulis)

Berdasarkan data di atas, tahun 2008 PT. Asia Pacific Fiber Tbk memiliki nilai

Profitabilitas terendah yaitu sebesar -0,432, hal tersebut terjadi karena perusahaan

tersebut mengalami kerugian sehingga nilainya pun negatif, nilai tersebut

menunjukkan bahwa efektifitas di dalam manajemen belum terjadi untuk

menghasilkan laba yang dihasilkan baik dari penjualan maupun investasinya. Dengan

demikian perusahaan harus lebih efektif dalam menunjang penjualan serta

investasinya agar investor lebih tertarik menenamkan modalnya. Sedangkan untuk

nilai Profitabilitas tertinggi terjadi pada PT. Sepatu Bata Tbk sebesar 0,392, hal

tersebut terjadi karena perusahaan tersebut mendapat keuntungan terbesar setelah

dibandingkan antara laba bersih dengan total aktiva yg dimiliki, nilai tersebut

menunjukkan bahwa efektifitas di dalam manajemen telah dilakukan untuk

menghasilkan laba yang dihasilkan baik dari penjualan maupun investasinya. Hal

demikian sudah cukup bagus untuk menarik minat-minat investor dan harus

dipertahankan atau lebih ditingkatkan.

Untuk tahun 2009 PT. Eratex Djaja Tbk memiliki nilai Profitabilitas terendah

yaitu sebesar -0,259, hal tersebut terjadi karena perusahaan tersebut mengalami

kerugian sehingga nilainya pun negatif, nilai tersebut menunjukkan bahwa efektifitas
di dalam manajemen belum terjadi untuk menghasilkan laba yang dihasilkan baik dari

penjualan maupun investasinya.Dengan demikian perusahaan harus lebih efektif

dalam menunjang penjualan serta investasinya agar investor lebih tertarik

menenamkan modalnya. Sedangkan untuk nilai Profitabilitas tertinggi terjadi pada

PT. Asia Pacific Fiber Tbk sebesar 0,529, hal tersebut terjadi karena perusahaan

tersebut mendapat keuntungan terbesar setelah dibandingkan antara laba bersih

dengan total aktiva yg dimiliki, nilai tersebut menunjukkan bahwa efektifitas di

dalam manajemen telah dilakukan untuk menghasilkan laba yang dihasilkan baik dari

penjualan maupun investasinya.Hal demikian sudah cukup bagus untuk menarik

minat-minat investor dan harus dipertahankan atau lebih ditingkatkan.

Untuk tahun 2010 PT. Eratex Djaja Tbk memiliki nilai Profitabilitas terendah

yaitu sebesar -0,417, hal tersebut terjadi karena perusahaan tersebut mengalami

kerugian sehingga nilainya pun negatif, nilai tersebut menunjukkan bahwa efektifitas

di dalam manajemen belum terjadi untuk menghasilkan laba yang dihasilkan baik dari

penjualan maupun investasinya.Dengan demikian perusahaan harus lebih efektif

dalam menunjang penjualan serta investasinya agar investor lebih tertarik

menenamkan modalnya.Sedangkan untuk nilai Profitabilitas tertinggi terjadi pada PT.

Semen Gresik Tbk sebesar 0,235, hal tersebut terjadi karena perusahaan tersebut

mendapat keuntungan terbesar setelah dibandingkan antara laba bersih dengan total

aktiva yg dimiliki, nilai tersebut menunjukkan bahwa efektifitas di dalam manajemen

telah dilakukan untuk menghasilkan laba yang dihasilkan baik dari penjualan maupun
investasinya.Hal demikian sudah cukup bagus untuk menarik minat-minat investor

dan harus dipertahankan atau lebih ditingkatkan.

Dan untuk tahun 2011 PT. Duta Pertiwi Nusantara Tbk memiliki nilai

Profitabilitas terendah yaitu sebesar -0,039, hal tersebut terjadi karena perusahaan

tersebut mengalami kerugian sehingga nilainya pun negatif, nilai tersebut

menunjukkan bahwa efektifitas di dalam manajemen belum terjadi untuk

menghasilkan laba yang dihasilkan baik dari penjualan maupun investasinya.Dengan

demikian perusahaan harus lebih efektif dalam menunjang penjualan serta

investasinya agar investor lebih tertarik menenamkan modalnya. Sedangkan untuk

nilai Profitabilitas tertinggi terjadi pada PT. Eratex DjajaTbk sebesar 0,493, hal

tersebut terjadi karena perusahaan tersebut mendapat keuntungan terbesar setelah

dibandingkan antara laba bersih dengan total aktiva yg dimiliki, nilai tersebut

menunjukkan bahwa efektifitas di dalam manajemen telah dilakukan untuk

menghasilkan laba yang dihasilkan baik dari penjualan maupun investasinya.Hal

demikian sudah cukup bagus untuk menarik minat-minat investor dan harus

dipertahankan atau lebih ditingkatkan.

Dari data tabel 4.8 di atas dapat dihitung nilai statistik deskriptif aktivitas

dengan menggunakan SPSS 19 For Window. Hasilnya dapat dilihat pada table di

bawah ini:
Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Profitabilitas 21 -.15 .23 .0771 .08417


Valid N (listwise) 21
Tabel 4.9. Analisis Deskriptif

Rasio Profitabilitas (Return On Assets)

Berdasarkan tabel 4.9 di atas, diperoleh nilai rata 0,77, sedangkan rata-rata

untuk nilai Profitabilitas terendah yaitu sebesar -0,15 pada PT. Eratex Djaja

KimiaTbk, nilai tersebut menunjukkan bahwa efektifitas di dalam manajemen belum

terjadi untuk menghasilkan laba yang dihasilkan baik dari penjualan maupun

investasinya.Dengan demikian perusahaan harus lebih efektif dalam menunjang

penjualan serta investasinya agar investor lebih tertarik menenamkan modalnya. Dan

untuk rata-rata tertinggi sebesar 0,23 pada PT. Semen Gresik Tbk, nilai tersebut

menunjukkan bahwa efektifitas di dalam manajemen telah dilakukan untuk

menghasilkan laba yang dihasilkan baik dari penjualan maupun investasinya.


4.1.8 Tingkat Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur periode 2008-2011

Return saham merupakan keuntungan yang dinikmati investor atas investasi

saham yang dilakukannya. Return tersebut memiliki dua komponen yaitu capital gain

(loss) dan yield. Capital gain (loss) merupakan selisih untung (rugi) dari harga

investasi sekarang relatif dengan harga periode yang lalu. Sedangkan yield

merupakan persentase penerimaan kas periodik terhadap harga investasi periode

tertentu dari suatu investasi. Untuk saham yield adalah persentase dividen terhadap

harga saham periode sebelumnya.

Data mengenai return saham diperoleh dari laporan keuangan dalam bentuk

perhitungan return saham masing-masing perusahaan pada tahun 2008-2011.

Perhitungan return saham dilakukan dengan cara membandingkan harga saham tahun

sekarang dikurangi dengan harga saham tahun sebelumnya ditambah dengan dividen

dibandingkan dengan harga saham tahun sebelumnya.

Berikut perhitungan Return saham tahun 2008-2011 pada perusahaan

manufaktur yang terdaftar di BEI:


Return saham
rata-
NO Nana Perusahaan 2009 2010 2011 2012 Total rata

1 PT. Arwana Citramulia -0.618 0.993 0.025 0,225 0.400 0.100

2 PT. Asia Pacific Fiber 1.62 0.832 1.125 0,112 3.577 0.894

3 PT. Asiaplast Industries 0.24 0.452 0.056 0,555 0.748 0.187

4 PT. Astra Graphia 0.605 1.222 0.669 0,125 2.496 0.624

5 PT. Astra International 2.343 0.586 0.368 0,265 3.297 0.824

6 PT. Astra Otoparts 0.626 1.533 -0.754 0,880 1.405 0.351

7 PT. Bentojaya Manunggal -0.167 0.236 -0.015 0,323 0.054 0.014

PT. Duta Pertiwi


8 Nusantara 0.704 -0.052 0.674 0,215 1.326 0.332

9 PT. Eratex Djaja -0.592 -0.31 2.043 0,981 1.141 0.285

10 PT. Gudang Garam 4.153 0.886 0.573 0,654 5.612 1.403

PT. Kedawung Setia


11 Industrial 0.582 0.516 0.043 0,326 1.141 0.285

12 PT. Kimia Farma 0.704 0.252 1.169 0,654 2.125 0.531

13 PT. Lautan Luas 0.523 0.099 0.04 0,321 0.662 0.166

14 PT. Modern Int. -0.021 8.688 0.381 0,165 9.048 2.262

15 PT. Mustika Ratu 1.684 0.671 -0.213 0,987 2.142 0.536

PT. Pabrik Kertas Tjiwi


16 Kimia 0.823 0.672 -0.287 0,785 1.208 0.302

17 PT. Semen Gresik 1.192 0.259 0.218 0,215 1.669 0.417

18 PT. Sepatu Bata 0.42 0.612 -0.349 0,654 0.683 0.171

19 PT. Tirta Mahakam 2.573 0.099 -0.179 0,22 2.493 0.623


Resources

20 PT. United Tractor -0.3 0.546 0.115 0,128 0.361 0.090

21 PT. Ultrajaya Milk 0.051 1.161 -0.107 0,217 1.105 0.276

TOTAL Per tahun 17.145 19.953 5.595 14.57

Rata-rata Per tahun 0.816 0.950 0.266 0.693

Tabel 4.10

Tingkat Return Saham Perusahaan Manufaktur

(Sumber: Laporan keuangan neraca pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di


BEI tahun 2008-2011, hasil olah data penulis)

Untuk tahun 2009 PT. Arwana Citramulia Tbk memiliki nilai Return Saham

terendah yaitu sebesar -0,618, hal tersebut terjadi karena harga saham tahun sekarang

lebih rendah dari harga saham tahun sebelumnya, angka tersebut tentunya akan

mengurangi minat calon investor untuk menanamkan modalnya.Dengan demikian

perusahaan harus berusaha meningkatkan kinerja agar return saham tersebut sesuai

dengan apa yang diharapkan oleh para penanam modal untuk menanamkan

modalnya. Sedangkan untuk nilaiReturn Saham tertinggi terjadi pada PT. Gudang

Garam Tbk sebesar 4,153, hal tersebut terjadi karena harga saham tahun sekarang

lebih tinggi dari harga saham tahun sebelumnya, angka tersebut memungkinkan bagi

calon investor untuk menanamkan modalnya.Dengan demikian perusahaan hanya

perlu mempertahankan kinerja mereka atau juga meningkatkan kinerja mereka untuk

menjaha kepercayaan para penanam modal.


Untuk tahun 2010 PT. PT. Kimia Farma Tbk memiliki nilai Return Saham

terendah yaitu sebesar -0,31, hal tersebut terjadi karena harga saham tahun sekarang

lebih rendah dari harga saham tahun sebelumnya, angka tersebut tentunya akan

mengurangi minat calon investor untuk menanamkan modalnya.Dengan demikian

perusahaan harus berusaha meningkatkan kinerja agar return saham tersebut sesuai

dengan apa yang diharapkan oleh para penanam modal untuk menanamkan

modalnya. Sedangkan untuk nilaiReturn Saham tertinggi terjadi pada PT. Modern

International Tbk sebesar 8,688, hal tersebut terjadi karena harga saham tahun

sekarang lebih tinggi dari harga saham tahun sebelumnya, angka tersebut

memungkinkan bagi calon investor untuk menanamkan modalnya.Dengan demikian

perusahaan hanya perlu mempertahankan kinerja mereka atau juga meningkatkan

kinerja mereka untuk menjaha kepercayaan para penanam modal.

Dan untuk tahun 2011 PT. Astra Otoparts Tbk memiliki nilai Return Saham

terendah yaitu sebesar -0,754, hal tersebut terjadi karena harga saham tahun sekarang

lebih rendah dari harga saham tahun sebelumnya, angka tersebut tentunya akan

mengurangi minat calon investor untuk menanamkan modalnya.Dengan demikian

perusahaan harus berusaha meningkatkan kinerja agar return saham tersebut sesuai

dengan apa yang diharapkan oleh para penanam modal untuk menanamkan

modalnya. Sedangkan untuk nilaiReturn Saham tertinggi terjadi pada PT. Eratex

Djaja Tbk sebesar 2,043, hal tersebut terjadi karena harga saham tahun sekarang lebih

tinggi dari harga saham tahun sebelumnya, angka tersebut memungkinkan bagi calon
investor untuk menanamkan modalnya. Dengan demikian perusahaan hanya perlu

mempertahankan kinerja mereka atau juga meningkatkan kinerja mereka untuk

menjaha kepercayaan para penanam modal.

Dan untuk tahun 2012PT. Asia Pacific FiberTbk memiliki nilai Return Saham

terendah yaitu sebesar 0,112, hal tersebut terjadi karena harga saham tahun sekarang

lebih rendah dari harga saham tahun sebelumnya, angka tersebut tentunya akan

mengurangi minat calon investor untuk menanamkan modalnya.Dengan demikian

perusahaan harus berusaha meningkatkan kinerja agar return saham tersebut sesuai

dengan apa yang diharapkan oleh para penanam modal untuk menanamkan

modalnya. Sedangkan untuk nilaiReturn Saham tertinggi terjadi pada PT. Mustika

Ratu Tbk sebesar 0,987, hal tersebut terjadi karena harga saham tahun sekarang lebih

tinggi dari harga saham tahun sebelumnya, angka tersebut memungkinkan bagi calon

investor untuk menanamkan modalnya. Dengan demikian perusahaan hanya perlu

mempertahankan kinerja mereka atau juga meningkatkan kinerja mereka untuk

menjaha kepercayaan para penanam modal.

Dari data tabel 4.10 di atas dapat dihitung nilai statistik deskriptif aktivitas

dengan menggunakan SPSS 19 For Window. Hasilnya dapat dilihat pada table di

bawah ini:
Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Return Saham 21 .014 2.262 .651 .47568


Valid N (listwise) 21
Tabel 4.11. Analisis Deskriptif

Return Saham

Berdasarkan tabel 4.9 di atas, diperoleh nilai rata 0,65, sedangkan rata-rata

untuk nilai Return Saham terendah yaitu sebesar 0,01 pada PT. Betonjaya

ManunggalTbk, angka tersebut tentunya akan mengurangi minat calon investor untuk

menanamkan modalnya. nilai tersebut menunjukkab bahwa harga saham dan dividen

perusahaan sering mengalami penurunan tiap tahunnya.Dengan demikian perusahaan

harus berusaha meningkatkan kinerja agar return saham tersebut sesuai dengan apa

yang diharapkan oleh para penanam modal untuk menanamkan modalnya. Dan untuk

rata-rata tertinggi sebesar 2,262 pada PT. Modern International Tbk, nilai tersebut

menunjukkan bahwa harga saham serta dividen yang dimilikinya sering mengalami

peningkatan tiap tahunnya, angka tersebut memungkinkan bagi calon investor untuk

menanamkan modalnya.Dengan demikian perusahaan hanya perlu mempertahankan

kinerja mereka atau juga meningkatkan kinerja mereka untuk menjaha kepercayaan

para penanam modal.


4.2 Pembahasan Penelitian
4.2.1 Uji Asumsi Klasik
4.2.1.1 Uji Normalitas

Pengujian normalisasi dengan metode Kolmogorov-smirnov test pada program

SPSS 19.0 for window.

Singgih Santoso (2001:314) mengatakan bahwa:

Dasar pengambilan keputusan bias dilakukan berdasarkan profitabilitas


(asymptotic significancy), yakni :
- Jika probabilitas > 0,05 maka distribusi dari populasi adalah normal.
- Jika probabilitas < 0,05 maka distribusi dari populasi tidak berdistribusi
normal.
Dengan menggunakan SPSS 19.0 for window, metode Kolmogorov-smirnov

test bias ditemukan dan hasilnya dapat dilihat di table beirkut:

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

likuiditas leverage aktivitas profitabilitas return saham

N 21 21 21 21 21
Mean 2.3832 .7820 1.2133 .0771 .4569
Normal Parametersa,b Std.
1.87214 1.24370 .40866 .08417 .47568
Deviation
Absolute .257 .214 .186 .110 .290
Most Extreme
Positive .257 .179 .186 .063 .290
Differences
Negative -.117 -.214 -.132 -.110 -.185
Kolmogorov-Smirnov Z 1.178 .980 .854 .506 1.330
Asymp. Sig. (2-tailed) .125 .292 .459 .960 .112

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.
Tabel 4.12. Uji Normalitas
Hasil dari perhitungan nilai Kolmogorov untuk likuiditas, leverage, aktivitas,

profitabilitas dan return saham masing-masing sebesar 0,125, 0,292, 0,459, 0,960,

0,112 . Nilai probanilitas uji Kolmogorov lebih besar dati tingkat kekeliruan 0,05,

maka dapat disimpulkan bahwa hanya nilai likuiditas, leverage, aktivitas,

profitabilitas dan return saham yang berdistribusi normal.

Untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak, dapat dilihat

melalui grafik normal P Plot of regression Statistic. Kondisi normalitas terpenuhi bila

titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal. Hasil

uji normalitas pada penelitian ini dapat dilihar pada gambar berikut:
Gambar 4.1 Grafik P-Plot

Dari gambar normal P-Plot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak

mengikuti arah garis diagonal. Sehingga tidak terjadi gangguan normalitas.

4.2.1.2 Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korealasi antara variabel bebas (independen). Model regresi yang

baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel independen. Cara mendeteksi

multikolinearitas dengan pengujian statistik adalah dengan melihat nilai Variance

Inflation Factor (VIF).

Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas adalah mempunyai

nilai VIF disekitar angka 1 dan angka tolerance mendekati 1. Batas VIF adalah 10,

jika VIF dibawah 10, maka tidak terjadi gejala multikolinearitas atau sebaliknya

(Gujarati, 2003:362).

Pada table dibawah ini dapat dilihat nilai VIF untuk masing-masing variabel

bebas sebagai berikut:

Coefficientsa

Model Unstandardized Standardized t Sig. Collinearity Statistics


Coefficients Coefficients

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) .306 .541 .566 .579


likuiditas .067 .074 .262 6.906 .001 .924 1.082

leverage -.190 .227 .261 5.881 .02 .894 1.118

aktivitas .113 .290 -.097 9.390 .03 .839 1.192

profitabilitas .167 1.534 .030 6.109 .009 .972 1.029

a. Dependent Variable: return saham


Tabel 4.13. Uji Multikolonieritas

Dari table 4.12 menunjukkan tidak adanya korelasi antara sesama variabel

bebas, dimana nilai VIF lebih kecil dari sepuluh dan dapat disimpulkan tidak terdapat

multikolonieritas diantara variabel bebas.

4.2.1.3 Uji Autokorelasi

Pengujian autokorelasi dimaksudkan untuk memastikan apakah dalam suatu

model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t-1 atau

sebelumnya sehingga diperoleh hasil regresi yang valid dan dapat digunakan untuk

melakukan pengujian terhadap hipotesis yang diajukan.

Untuk mendeteksi ada atau tidaknya auto korelasi, maka dilakukan pengujian

Durbin-Watson (DW) dengan ketentuan sebagai berikut:

1. 1,65 < DW < 2,35 kesimpulannya tidak ada auto korelasi


2. 1,12 < DW < 1,65 atau 2,35 < DW < 2,79 kesimpulannya tidak dapat

disimpulkan
3. DW < 1,21 atau > 2,79 kesimpulannya terjadi auto korelasi
Untuk selengkapnya hasil autokorelasi menggunakan SPSS 19.0 for window

ditunjukkan pada table berikut ini:

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Std. Error of the Durbin-Watson


Square Estimate

1 .282a .079 -.151 .51027 2.323

a. Predictors: (Constant), profitabilitas, likuiditas, aktivitas, leverage


b. Dependent Variable: return saham
Tabel 4.14. Uji Autokorelasi

Dari table 4.13 diatas dapat dilihat nilai Durbin-Watson sebesar 2,323, nilai

ini terletak pada interval 1,65 < DW < 2,35. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa data pengamatan tidak terjadi autokorelasi.

4.2.1.4 Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi

ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain.

Adapun untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas , yaitu dengan melihat ada

tidaknya pola tertentu pada grafik scatterlat. (Singgih Santoso, 2000:210).

Untuk selengkapnya hasil heteroskedastisitas ditunjukkan pada grafik

scatterplot dibawah ini:


Gambar 4.2 Grafik Scatterplot

Dengan melihat tampilan grafik Scatterplot, terlihat titik-titik menyebar secara

acak, tidak membentuk suatu pola tertentu yang jelas, serta tersebar baik diatas

maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. hal ini berarti tidak terjadi

heteroskedastisitas, sehingga model regresi layak dipakai karena memenuhi asumsi

heteroskedastisitas.
4.2.2 Analisis Pengaruh Likuiditas Terhadap Return Saham

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh likuiditas

terhadap return saham pada perusahaan manufaktur. Dengan demikian untuk

mengetahui seberapa besar pengaruh likuiditas terhadap return saham secara parsial

dilakukan uji statistik, analisis regresi sederhana, analisis korelasi, koefisien

determinasi dan pengujian hipotesis.

Adapun langkah pengujian statistik ini dilakukan sebagai berikut:

a. Analisis Regresi Sederhana

Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan

SPSS 19 for window, maka hasil regresi akan disajikan pada tabel di bawah ini:

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.


Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) .214 .173 2.101 .049


1
likuiditas .124 .058 .82 2.992 .01

a. Dependent Variable: return saham


Tabel 4.15. Analisis Regresi Sederhana
Likuiditas Terhadap Return Saham

Dari perhitungan regresi yang telah diolah, maka diperoleh bentuk persamaan

regresi linear sebagai berikut:

Y = 0,214 + 0,124X1
Dari persamaan di atas dapat disimpulkan bahwa konstanta a sebesar 0,214,

artinya pada saat rasio likuiditas sama dengan 0 satuan maka return saham

perusahaan adalah sebesar 0,214 satuan. Dan nilai b positif sebesar 0,124 artinya

bahwa setiap kenaikan 1% pada rasio likuiditas mempengaruhi kenaikan return

saham yang didapat investor sebesar 0,124%. Jadi apabila nilai likuiditas meningkat

maka return saham pun akan meningkat

b. Analisis Korelasi

Analisis korelasi digunakan untuk membahas derajat hubungan antara

variabel X dengan variabel Y atau untuk mengetahui kuat atau lemahnya hubungan

antara variabel X dengan variabel Y. Pengukuran koefisien ini dilakukan dengan

menggunakan koefisien korelasi parsial antara variabel likuiditas (X1) dengan return

saham (Y).

Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, maka hasil dari analisis

korelasi disajikan pada tabel sebagai berikut:


Correlations

likuiditas return saham

Pearson Correlation 1 .154

likuiditas Sig. (2-tailed) .01

N 21 21
Pearson Correlation .82 1

return saham Sig. (2-tailed) .01

N 21 21
Tabel 4.16. Analisis Korelasi
Likuiditas Terhadap Return Saham

Untuk mengetahui seberapa besar kuat hubungan antar variabel, dapat digunakan

tabel interpretasi nilai koefisien (r) sebagai berikut:

Interval Koefisien Tingkat Hubungan


0,00-0,199 Sangat Rendah
0,20-0,399 Rendah
0,40-0,599 Sedang
0,60-0,799 Kuat
0,80-1,000 Sangat Kuat
Tabel 4.17. Analisis Korelasi
Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi

Dari perhitungan diatas dapat diketahui nilai koefisien yaitu r = 0,82 artinya

bahwa tingkat hubungan likuiditas dengan return saham bersifat positif dansangat

kuat, karena interpretasinya berada diantara 0,80-1,000. Hubungan yang bersifat

positif artinya setiap kenaikan pada rasio likuiditas, maka hal tersebut akan diikuti

dengan perubahan pada return saham secara searah.


c. Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)

Pengujian hipotesis secara parsial dilakukan untuk membuktikan apakah

terdapat pengaruh yang signifikan antara likuiditas dengan return saham dengan Ho

dan H adalah sebagai berikut:

Ho1 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh dari tingkat likuiditas terhadap return

saham.

H1: r 0 : terdapat pengaruh dari tingkat likuiditas terhadap return saham.

Hasil uji dengan bantuan SPSS 19.0for window dapat dilihat pada tabel

dibawah ini:

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.


Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) .214 .173 2.101 .049


1
likuiditas .124 .058 .82 2.992 .01

a. Dependent Variable: return saham


Tabel 4.18. Hasil Perhitungan Uji t

Untuk menguji hipotesis ini kriteria yang digunakan adalah kriteria untuk uji t

dimana penetapan signifikansi dengan df=n-k atau 21-4=17, sig 0,05, maka diperoleh

nilai ttabel sebesar 2,110

Kriteria penolakan hipotesis H0 ditolak jika:


thitung -ttabel (1-/2; n-2)

karena thitung 2,992 ttabel 2,110 maka H0 ditolak dan H diterima. Maka

dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari tingkat likuiditas

terhadap return saham.

d. Analisis koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh

variabel likuiditas (X1) terhadap return saham (Y).

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, maka hasil koefisien

determinasi akan disajikan pada tabel dibawah ini:

Model Summary

Model R R Square Adjusted R Std. Error of the


Square Estimate
1 .82a .85 .0115 .48219

a. Predictors: (Constant), likuiditas


Tabel 4.19. Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Secara Parsial

Dari hasil perhitungan diatas maka dapat diketahui nilai koefisien

determinasinya sebesara 0,85. Dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa

pengaruh signifikannya hanya 85%, sedangkan 15% merupakan pengaruh dari faktor

lain yang mempengaruhi return saham yang tidak diteliti oleh penulis.
4.2.3 Analisis Pengaruh Leverage Terhadap Return Saham

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh leverage

terhadap return saham pada perusahaan manufaktur. Dengan demikian untuk

mengetahui seberapa besar pengaruh leverage terhadap return saham secara parsial

dilakukan uji statistik, analisis regresi sederhana, analisis korelasi, koefisien

determinasi dan pengujian hipotesis.

Adapun langkah pengujian statistik ini dilakukan sebagai berikut:

a. Analisis Regresi Sederhana

Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan

SPSS 19 for window, maka hasil regresi akan disajikan pada tabel di bawah ini:

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.


Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) .651 .321 2.687 .015


1
leverage -.125 .115 -.521 2.666 .02
a. Dependent Variable: return saham
Tabel 4.20. Analisis Regresi Sederhana
Leverage Terhadap Return Saham

Dari perhitungan regresi yang telah diolah, maka diperoleh bentuk persamaan

regresi linear sebagai berikut:

Y = 0,651- 0,125X2

Dari persamaan di atas dapat disimpulkan bahwa konstanta a sebesar 0,651,

artinya pada saat rasio leverage sama dengan 0 satuan maka return saham perusahaan

adalah sebesar 0,651 satuan. Dan nilai b negatif sebesar 0,125 artinya bahwa setiap

kenaikan 1% pada rasio leverage mempengaruhi penurunanreturn saham terhadap

investor sebesar 0,125%. Artinya jika leverage meningkat maka return saham akan

mengalami pernurunan.

b. Analisis Korelasi

Analisis korelasi digunakan untuk membahas derajat hubungan antara

variabel X dengan variabel Y atau untuk mengetahui kuat atau lemahnya hubungan

antara variabel X dengan variabel Y. Pengukuran koefisien ini dilakukan dengan

menggunakan koefisien korelasi parsial antara variabel leverage (X2) dengan return

saham (Y).
Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, maka hasil dari analisis

korelasi disajikan pada tabel sebagai berikut:

Correlations

leverage return saham

Pearson Correlation 1 -.521

leverage Sig. (2-tailed) .610

N 21 21
Pearson Correlation -.521 1

return saham Sig. (2-tailed) .02

N 21 21
Tabel 4.21. Analisis Korelasi
Leverage Terhadap Return Saham

Untuk mengetahui seberapa besar kuat hubungan antar variabel, dapat digunakan

tabel interpretasi nilai koefisien (r) sebagai berikut:

Interval Koefisien Tingkat Hubungan


0,00-0,199 Sangat Rendah
0,20-0,399 Rendah
0,40-0,599 Sedang
0,60-0,799 Kuat
0,80-1,000 Sangat Kuat
Tabel 4.22. Analisis Korelasi
Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi

Dari perhitungan diatas dapat diketahui nilai koefisien yaitu r = -0,521 artinya

bahwa tingkat hubungan leverage dengan return saham bersifat negatifdansedang.

Hubungan yang bersifat negatif artinya setiap terjadi perubahan pada rasio leverage,
maka hal tersebut akan diikuti dengan perubahan pada return saham secara

berlawanan.

c. Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)

Pengujian hipotesis secara parsial dilakukan untuk membuktikan apakah

terdapat pengaruh yang signifikan antara leverage dengan return saham dengan Ho

dan H adalah sebagai berikut:

Ho1 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh dari tingkat leverage terhadap return saham.

H1: r 0 : terdapat pengaruh dari tingkat leverage terhadap return saham.

Hasil uji dengan bantuan SPSS 19.0for window dapat dilihat pada tabel

dibawah ini:

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.


Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) .651 .321 2.687 .015


1
leverage -.125 .115 -.521 2.666 .02

a. Dependent Variable: return saham


Tabel 4.23. Hasil Perhitungan Uji t
Untuk menguji hipotesis ini kriteria yang digunakan adalah kriteria untuk uji t

dimana penetapan signifikansi dengan df=n-k atau 21-4=17, sig 0,05, maka diperoleh

nilai ttabel sebesar 2,110

Kriteria penolakan hipotesis H0 ditolak jika:

thitung -ttabel (1-/2; n-2)

karena thitung 2,666 ttabel 2,110 maka H0 ditolak dan H diterima. Maka

dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari tingkat leverage

terhadap return saham.

d. Analisis koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh

variabel leverage (X2) terhadap return saham (Y).

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, maka hasil koefisien

determinasi akan disajikan pada tabel dibawah ini:

Model Summary

Model R R Square Adjusted R Std. Error of the


Square Estimate
a
1 -.521 .60 -.025 .48461

a. Predictors: (Constant), leverage


Tabel 4.24. Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Secara Parsial
Dari hasil perhitungan diatas maka dapat diketahui nilai koefisien

determinasinya sebesar 0,60. Dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa

pengaruh signifikannya hanya 60%, sedangkan 40% merupakan pengaruh dari faktor

lain yang mempengaruhi return saham yang tidak diteliti oleh penulis.

4.2.4 Analisis Pengaruh Aktivitas Terhadap Return Saham

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh aktivitas

terhadap return saham pada perusahaan manufaktur. Dengan demikian untuk

mengetahui seberapa besar pengaruh aktivitas terhadap return saham secara parsial

dilakukan uji statistik, analisis regresi sederhana, analisis korelasi, koefisien

determinasi dan pengujian hipotesis.

Adapun langkah pengujian statistik ini dilakukan sebagai berikut:

a. Analisis Regresi Sederhana

Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan

SPSS 19 for window, maka hasil regresi akan disajikan pada tabel di bawah ini:

Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.
Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) .244 .338 1.914 .071


1
aktivitas 2.897 .325 .95 4.753 .001

a. Dependent Variable: return saham


Tabel 4.25. Analisis Regresi Sederhana
Aktivitas Terhadap Return Saham

Dari perhitungan regresi yang telah diolah, maka diperoleh bentuk persamaan

regresi linear sebagai berikut:

Y = 0,244+2,897X3

Dari persamaan di atas dapat disimpulkan bahwa konstanta a sebesar 0,244,

artinya pada saat rasio aktivitas sama dengan 0 satuan maka return saham perusahaan

adalah sebesar 0,244 satuan. Dan nilai b positif sebesar 2,897artinya bahwa setiap

kenaikan 1% pada rasio aktivitas maka return saham yang didapat investor sebesar

akan meningkat2,897%. Artinya jika aktivitas meningkat maka return saham pun

akan meningkat.

b. Analisis Korelasi

Analisis korelasi digunakan untuk membahas derajat hubungan antara

variabel X dengan variabel Y atau untuk mengetahui kuat atau lemahnya hubungan
antara variabel X dengan variabel Y. Pengukuran koefisien ini dilakukan dengan

menggunakan koefisien korelasi parsial antara variabel aktivitas (X 3) dengan return

saham (Y).

Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, maka hasil dari analisis

korelasi disajikan pada tabel sebagai berikut

Correlations

aktivitas return saham

Pearson Correlation 1 .95

aktivitas Sig. (2-tailed) .001

N 21 21
Pearson Correlation .95 1

return saham Sig. (2-tailed) .001

N 21 21
Tabel 4.26. Analisis Korelasi
Aktivitas Terhadap Return Saham

Untuk mengetahui seberapa besar kuat hubungan antar variabel, dapat digunakan

tabel interpretasi nilai koefisien (r) sebagai berikut:

Interval Koefisien Tingkat Hubungan


0,00-0,199 Sangat Rendah
0,20-0,399 Rendah
0,40-0,599 Sedang
0,60-0,799 Kuat
0,80-1,000 Sangat Kuat
Tabel 4.27. Analisis Korelasi
Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi

Dari perhitungan diatas dapat diketahui nilai koefisien yaitu r = 0,95 artinya bahwa

tingkat hubungan likuiditas dengan return saham bersifat positif dan sangat kuat,

karena interpretasinya berada diantara 0,80-1,000. Hubungan yang bersifat positif

artinya setiap kenaikan pada rasio aktivitas maka hal tersebut akan diikuti dengan

perubahan pada return saham secara searah.


c. Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)

Pengujian hipotesis secara parsial dilakukan untuk membuktikan apakah

terdapat pengaruh yang signifikan antara aktivitas dengan return saham dengan Ho

dan H adalah sebagai berikut:

Ho1 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh dari tingkat aktivitas terhadap return saham.

H1: r 0 : terdapat pengaruh dari tingkat aktivitas terhadap return saham.

Hasil uji dengan bantuan SPSS 19.0for window dapat dilihat pada tabel

dibawah ini:

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.


Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) .244 .338 1.914 .071


1
aktivitas 2.897 .325 .95 4.753 .001

a. Dependent Variable: return saham


Tabel 4.28. Hasil Perhitungan Uji t
Untuk menguji hipotesis ini kriteria yang digunakan adalah kriteria untuk uji t

dimana penetapan signifikansi dengan df=n-k atau 21-4=17, sig 0,05, maka diperoleh

nilai ttabel sebesar 2,110

Kriteria penolakan hipotesis H0 ditolak jika:

thitung -ttabel (1-/2; n-2)

karena thitung 4,753 ttabel 2,110 maka H0 ditolak dan H diterima. Maka

dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari tingkat aktivitas

terhadap return saham.

d. Analisis koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh

variabel aktivitas (X3) terhadap return saham (Y).

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, maka hasil koefisien

determinasi akan disajikan pada tabel dibawah ini:

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Std. Error of the


Square Estimate

1 .95a .90 .034 .48360

a. Predictors: (Constant), aktivitas


b. Dependent Variable: return saham

Tabel 4.29. Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Secara Parsial


Dari hasil perhitungan diatas maka dapat diketahui nilai koefisien

determinasinya sebesara 0,90. Dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa

pengaruh signifikannya 90%, sedangkan 10% merupakan pengaruh dari faktor lain

yang mempengaruhi return saham yang tidak diteliti oleh penulis.

4.2.5 Analisis Pengaruh Profitabilitas Terhadap Return Saham

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh profitabilitas

terhadap return saham pada perusahaan manufaktur. Dengan demikian untuk

mengetahui seberapa besar pengaruh profitabilitas terhadap return saham secara

parsial dilakukan uji statistik, analisis regresi sederhana, analisis korelasi, koefisien

determinasi dan pengujian hipotesis.

Adapun langkah pengujian statistik ini dilakukan sebagai berikut:

a. Analisis Regresi Sederhana

Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan

SPSS 19 for window, maka hasil regresi akan disajikan pada tabel di bawah ini:

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.


Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) .379 .146 3.252 .004


1
profitabilitas .218 1.295 .836 3.165 .03
a. Dependent Variable: return saham
Tabel 4.30. Analisis Regresi Sederhana
Profitabilitas Terhadap Return Saham

Dari perhitungan regresi yang telah diolah, maka diperoleh bentuk persamaan

regresi linear sebagai berikut:

Y = 0,379+ 0,218X4

Dari persamaan di atas dapat disimpulkan bahwa konstanta a sebesar 0,379,

artinya pada saat rasio profitabilitas sama dengan 0 satuan maka return saham

perusahaan adalah sebesar 0,379 satuan. Dan nilai b positif sebesar 0,218 artinya

bahwa setiap kenaikan 1% pada rasio profitabilitas mempengaruhi peningkatanreturn

saham yang didapat investor sebesar 0,218%. Artinya jika profitabilitas meningkat

maka return saham pun akan meningkat pula.

b. Analisis Korelasi

Analisis korelasi digunakan untuk membahas derajat hubungan antara

variabel X dengan variabel Y atau untuk mengetahui kuat atau lemahnya hubungan

antara variabel X dengan variabel Y. Pengukuran koefisien ini dilakukan dengan

menggunakan koefisien korelasi parsial antara variabel profitabilitas (X 4) dengan

return saham (Y).


Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, maka hasil dari analisis

korelasi disajikan pada tabel sebagai berikut:

Correlations

profitabilitas return saham

Pearson Correlation 1 .836

profitabilitas Sig. (2-tailed) .03

N 21 21
Pearson Correlation .836 1

return saham Sig. (2-tailed) .03

N 21 21
Tabel 4.31. Analisis Korelasi
Profitabilitas Terhadap Return Saham

Untuk mengetahui seberapa besar kuat hubungan antar variabel, dapat digunakan

tabel interpretasi nilai koefisien (r) sebagai berikut:

Interval Koefisien Tingkat Hubungan


0,00-0,199 Sangat Rendah
0,20-0,399 Rendah
0,40-0,599 Sedang
0,60-0,799 Kuat
0,80-1,000 Sangat Kuat
Tabel 4.32. Analisis Korelasi
Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi
Dari perhitungan diatas dapat diketahui nilai koefisien yaitu r = 0,836 artinya

bahwa tingkat hubungan profitabilitas dengan return saham bersifat positif dan sangat

kuat. Hubungan yang bersifat positif artinya setiap kenaikan pada rasio likuiditas

maka hal tersebut akan diikuti dengan perubahan pada return saham secara searah.

c. Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)

Pengujian hipotesis secara parsial dilakukan untuk membuktikan apakah

terdapat pengaruh yang signifikan antara profitabilitas dengan return saham dengan

Ho dan H adalah sebagai berikut:

Ho1 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh signifikan dari tingkat profitabilitas terhadap

return saham.

H1: r 0 : terdapat pengaruh signifikan dari tingkat profitabilitas terhadap

return saham.

Hasil uji dengan bantuan SPSS 19.0for window dapat dilihat pada tabel

dibawah ini:

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.


Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) .379 .146 3.252 .004


1
profitabilitas .218 1.295 .836 3.165 .03

a. Dependent Variable: return saham


Tabel 4.33. Hasil Perhitungan Uji t
Untuk menguji hipotesis ini kriteria yang digunakan adalah kriteria untuk uji t

dimana penetapan signifikansi dengan df=n-k atau 21-4=17, sig 0,05, maka diperoleh

nilai ttabel sebesar 2,110

Kriteria penolakan hipotesis H0 ditolak jika:

thitung -ttabel (1-/2; n-2)

karena thitung 3,165 ttabel 2,110 maka H0 ditolak dan H diterima. Maka

dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari tingkat

profitabilitas terhadap return saham.

d. Analisis koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh

variabel profitabilitas (X4) terhadap return saham (Y).

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, maka hasil koefisien

determinasi akan disajikan pada tabel dibawah ini:

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Std. Error of the


Square Estimate
a
1 .836 .86 -.051 .48762

a. Predictors: (Constant), profitabilitas


b. Dependent Variable: return saham
Tabel 4.34. Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Secara Parsial

Dari hasil perhitungan diatas maka dapat diketahui nilai koefisien

determinasinya sebesar 0,86. Dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa

pengaruh signifikannya hanya 86%, sedangkan 14% merupakan pengaruh dari faktor

lain yang mempengaruhi return saham yang tidak diteliti oleh penulis.

4.2.6 Analisis Pengaruh Likuiditas, Leverage, Aktivitas dan Profitabilitas

Terhadap Return Saham

Untuk mengetahui bagaimana pengaruh likuiditas, leverage, aktivitas dan

profotabilitas terhadap return saham, maka langkah-langkah pengujian statistic ini

dilakukan sebagai berikut:

a. Analisis Regresi Berganda

Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan

SPSS 19 for window, maka hasil regresi akan disajikan pada tabel di bawah ini:
Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.


Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) .325 .552 .566 .579

likuiditas .152 .563 .246 6.906 .001

leverage -.098 .256 .278 5.881 .02

aktivitas .456 .654 -.356 9.390 .03

profitabilitas .198 .555 .111 6.109 .009

a. Dependent Variable: return saham

Tabel 4.35. Analisis Regresi Berganda


Likuiditas, Leverage, Aktivitas dan Profitabilitas Terhadap Return Saham

Dari perhitungan regresi yang telah diolah, maka diperoleh bentuk persamaan

regresi linear sebagai berikut:

Y = 0,325 + 0,152X1- 0,098X2+ 0,456X3 + 0,198X4

Dari persamaan regresi berganda di atas dapat disimpulkan bahwa konstanta a

sebesar 0,325, artinya pada saat rasio likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas

sama dengan 0 satuan maka return saham perusahaan adalah sebesar 0,325 satuan.

Nilai koefisien multipel antara variabel X 1 terhadap Y positif sebesar 0,152,

hal ini menunjukkan bahwa pada saat kenaikan likuiditas sebesar 1%, hal tersebut

akan meningkatkan return saham sebesar 0,152%, dengan asumsi bahwa variabel

leverage, aktivitas dan profitabilitas dianggap konstan.


Nilai koefisien multipel antara variabel X2 terhadap Y negatif sebesar 0,098,

hal ini menunjukkan bahwa pada saat kenaikan leverage sebesar 1%, hal tersebut

akan berdampak pada penurunanreturn saham sebesar 0,098%, dengan asumsi bahwa

variabel likuiditas, aktivitas dan profitabilitas dianggap konstan.

Nilai koefisien multipel antara variabel X 3 terhadap Y positif sebesar 0,456,

hal ini menunjukkan bahwa pada saat kenaikan aktivitas sebesar 1%, hal tersebut

akan meningkatkanreturn saham sebesar 0,456%, dengan asumsi bahwa variabel

likuiditas, leverage dan profitabilitas dianggap konstan.

Nilai koefisien multipel antara variabel X 4 terhadap Y positif sebesar 0,198,

hal ini menunjukkan bahwa pada saat kenaikan profitabilitas sebesar 1%, hal tersebut

akan meningkatkan return saham sebesar 0,198%, dengan asumsi bahwa variabel

likuiditas, leverage dan aktivitas dianggap konstan.

b. Analisis Korelasi Berganda

Analisis korelasi digunakan untuk membahas derajat hubungan antara

variabel X dengan variabel Y atau untuk mengetahui kuat atau lemahnya hubungan

antara variabel X dengan variabel Y.

Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, maka hasil dari analisis

korelasi disajikan pada tabel sebagai berikut:

Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the
Estimate

1 .879a .83 .112 .65985

a. Predictors: (Constant), profitabilitas, likuiditas, aktivitas, leverage


b. Dependent Variable: return saham

Tabel 4.36. Analisis Korelasi


Likuiditas, Leverage, Aktivitas dan Profitabilitas Terhadap Return Saham

Untuk mengetahui seberapa besar kuat hubungan antar variabel, dapat digunakan

tabel interpretasi nilai koefisien (r) sebagai berikut:

Interval Koefisien Tingkat Hubungan


0,00-0,199 Sangat Rendah
0,20-0,399 Rendah
0,40-0,599 Sedang
0,60-0,799 Kuat
0,80-1,000 Sangat Kuat
Tabel 4.37. Analisis Korelasi
Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi

Dari perhitungan diatas dapat diketahui nilai koefisien yaitu r = 0,879 artinya

bahwa tingkat hubungan likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas terhadap


return saham bersifat positif dan sangat kuat, karena interpretasinya berada diantara

0,80-1,000. Hubungan yang bersifat positif artinya setiap kenaikan pada rasio

likuiditas,leverage, aktivitas dan profitabilitas maka hal tersebut akan diikuti dengan

perubahan pada return saham.

c. Pengujian Hipotesis Secara Simultan (Uji F)

Pengujian hipotesis secara parsial dilakukan untuk membuktikan apakah

terdapat pengaruh yang signifikan antara likuiditas, leverage, aktivitas dan

profitabilitas terhadap return saham dengan Ho dan H adalah sebagai berikut:

Ho1 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh dari tingkat likuiditas, leverage, aktivitas dan

profitabilitas terhadapreturn saham.

H1: r 0 : terdapat pengaruh dari tingkat likuiditas, leverage, aktivitas dan

profitabilitas terhadap return saham.

Hasil uji dengan bantuan SPSS 19.0for window dapat dilihat pada tabel

dibawah ini:

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Regression .456 4 .125 10.597 .032

1 Residual 5.148 78 .654

Total 5.579 54

a. Dependent Variable: return saham


b. Predictors: (Constant), profitabilitas, likuiditas, aktivitas, leverage
Tabel 4.38. Hasil Perhitungan Uji F

Untuk menguji hipotesis ini kriteria yang digunakan adalah kriteria untuk uji

F dimana penetapan signifikansi df = n-k-1 ; 21-4-1=16, sig 0,05. Maka diperoleh

nilai Ftabel sebesar 5,84 dan diketahui nilai perolehan Fhitung sebesar 10,597. Karena

Fhitung 10,597Ftabel 5,84 maka Ho ditolak dan H diterima sehingga dapat disimpulkan

bahwa terdapat pengaruh dari tingkat likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas

terhadap return saham.

d. Analisis koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh

variabel X1,2,3,4 (likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas) terhadap (return

saham Y.

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, maka hasil koefisien

determinasi akan disajikan pada tabel dibawah ini:

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Std. Error of the


Square Estimate
1 .753a .83 .151 .51027

a. Predictors: (Constant), profitabilitas, likuiditas, aktivitas, leverage


b. Dependent Variable: return saham

Tabel 4.39. Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Secara Simultan

Dari hasil perhitungan diatas maka dapat diketahui nilai koefisien

determinasinya sebesara 0,83. Dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa

pengaruh signifikannya hanya 83%, sedangkan 17% merupakan pengaruh dari faktor

lain yang mempengaruhi return saham yang tidak diteliti oleh penulis, menurut

Amenc dan Sourd (2003) misalnya penetapan harga, kekacauan, peperangan, inflasi,

tingkat suku bunga, nilai tukar mata uang,pengaruh kebijakan moneter dan fiskal

serta yang lainnya.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perusahaan manufaktur

yang terdaftar di BEI pada periode 2008-2011 dan analisis yang didukung oleh teori-
teori yang melandasi, serta hasil pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka

peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Tingkat likuiditas pada 21 perusahaan manufaktur yang menjadi sampel

didapat nilai rata-rata likuiditas sebesar 2,38 atau 238% yang dinilai

sangat tinggi, sedangkat untuk rata-rata likuiditas terendah yakni sebesar

0,15 atau 15% pada PT Asia Pacific Fiber Tbk. Dan untuk rata-rata tingkat

likuiditas tertinggi yakni sebesar 7,02 atau 702% pada PT Duta Pertiwi

Nusantara Tbk.
2. Tingkat leverage pada 21 perusahaan manufaktur yang menjadi sampel

didapat nilai rata-rata leverage sebesar 0,78 atau 78% yang dinilai sangat

tinggi, sedangkat untuk rata-rata leverage terendah yakni sebesar -2,03

pada PT. Eratex Djaja Tbk. Dan untuk rata-rata tingkat leverage tertinggi

yakni sebesar 3,52 atau 352% pada PT. Tirta Mahakam Resources Tbk.
3. Tingkat aktivitas pada 21 perusahaan manufaktur yang menjadi sampel

didapat nilai rata-rata aktivitas sebesar 1,21 atau 121% yang dinilai sangat

tinggi, sedangkat untuk rata-rata aktivitas terendah yakni sebesar 0,55 atau

55% pada PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. Dan untuk rata-rata tingkat

aktivitas tertinggi yakni sebesar 2,01 atau 201% pada PT. Eratex Djaja

Tbk.
4. Tingkat profitabilitas pada 21 perusahaan manufaktur yang menjadi

sampel didapat nilai rata-rata profitabilitas sebesar 0,77 atau 77% yang

dinilai sangat tinggi, sedangkat untuk rata-rata profitabilitas terendah

yakni sebesar -0,15 PT. Eratex Djaja Kimia Tbk. Dan untuk rata-rata
tingkat profitabilitas tertinggi yakni sebesar 0,23 atau 23% pada PT.

Semen Gresik Tbk.


5. Tingkat return saham pada 21 perusahaan manufaktur yang menjadi

sampel didapat nilai rata-rata return saham sebesar 0.46 atau 46% yang

dinilai sangat tinggi, sedangkat untuk rata-rata return saham terendah

yakni sebesar -0,6 pada PT. United Tractor Tbk. Dan untuk rata-rata

tingkat return saham tertinggi yakni sebesar 2,10 atau 210% pada PT.

Modern International Tbk.


6. Pengaruh likuiditas terhadap return saham sebesar 75%sedangkan 15%

merupakan pengaruh dari faktor lain yang mempengaruhi return saham

yang tidak diteliti oleh penulis. Misalnya kualitas dan reputasi

manajemennya, struktur permodalannya, sttruktur hutang perusahaannya,

pengaruh kebijakan moneter dan fiskal, perkembangan sektor industrinya,

faktor ekonomi, inflasi serta hal-hal lain yang tidak tertuang dalam

penelitian ini.
7. Pengaruh leverage terhadap return saham sebesar 55%sedangkan 45%

merupakan pengaruh dari faktor lain yang mempengaruhi return saham

yang tidak diteliti oleh penulis. Misalnya kualitas dan reputasi

manajemennya, struktur permodalannya, sttruktur hutang perusahaannya,

pengaruh kebijakan moneter dan fiskal, perkembangan sektor industrinya,

faktor ekonomi, inflasi serta hal-hal lain yang tidak tertuang dalam

penelitian ini.
8. Pengaruh aktivitas terhadap return saham sebesar 82%sedangkan 18%

merupakan pengaruh dari faktor lain yang mempengaruhi return saham


yang tidak diteliti oleh penulis. Misalnya kualitas dan reputasi

manajemennya, struktur permodalannya, sttruktur hutang perusahaannya,

pengaruh kebijakan moneter dan fiskal, perkembangan sektor industrinya,

faktor ekonomi, inflasi serta hal-hal lain yang tidak tertuang dalam

penelitian ini.
9. Pengaruh profitabilitas terhadap return saham sebesar 70%sedangkan 30%

merupakan pengaruh dari faktor lain yang mempengaruhi return saham

yang tidak diteliti oleh penulis. Misalnya kualitas dan reputasi

manajemennya, struktur permodalannya, sttruktur hutang perusahaannya,

pengaruh kebijakan moneter dan fiskal, perkembangan sektor industrinya,

faktor ekonomi, inflasi serta hal-hal lain yang tidak tertuang dalam

penelitian ini.
10. Pengaruh nlikuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas terhadap return

saham sebesar 74%sedangkan 26% merupakan pengaruh dari faktor lain

yang mempengaruhi return saham yang tidak diteliti oleh penulis.

Misalnya kualitas dan reputasi manajemennya, struktur permodalannya,

sttruktur hutang perusahaannya, pengaruh kebijakan moneter dan fiskal,

perkembangan sektor industrinya, faktor ekonomi, inflasi serta hal-hal lain

yang tidak tertuang dalam penelitian ini.

5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah disampaikan oleh penulis, maka implikasi

penelitian bagi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan adalah sebagai berikut:

1. Bagi perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini dan bagi

perusahaan manufaktur pada umumnya.


a. Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa dengan rata-

rata likuiditas sebesar 2,38 atau 238% disarankan kepada perusahaan

lebih meningkatkan jumlah aktiva lancar yang dimiki agar dapat

menutupi hutang lancar yang dimiliki.


b. Tingkat leverage memiliki rata-rata sebesar 0,78 atau 78%, disarankan

untuk perusahaan-perusahaan tersebut agar mengurangi total hutang

yang dimilikinya.
c. Tingkat aktivitas memiliki rata-rata sebesar 1,21 atau 121%,

disarankan untuk perusahaan-perusahaan tersebut tetap menjaga dan

meningkatkan lagi tingkat penjualan.


d. Tingkat profitabilitas memiliki rata-rata sebesar 0,77 atau 77%,

disarankan untuk perusahaan-perusahaan tersebut tetap menjaga dan

meningkatkan lagi tingkat profitabilitas agar investor lebih tertarik

kepada perusahaan tersebut.


e. Tingkat return saham memiliki rata-rata sebesar 0,77 atau 77%,

disarankan untuk perusahaan-perusahaan tersebut untuk meningkatkan

knierja agar harga saham di tahun-tahun berikutnya dapat meningkat

dan memperoleh kepercayaan dari investor.


2. Bagi peneliti selanjutnya:
a. Penelitian ini mengambil obyek yang terbatas yakni hanya jenis

perusahaan manufaktur. Pada penelitian berikutnya perlu dilakukan


pengamatan dengan obyek yang lebih luas dan lebih menarik,

misalkan pada perusahaan yang tergabung pada Index Papan Utama

dan lain sebagainya, sehingga lebih dijadikan acuan bagi kepentingan

generalisasi permasalahan.
b. Penelitian ini hanya menggunakan 4 variabel bebas, untuk peneliti

selanjutnya diharapkan menambah jumlah variabel bebas yang

mempengaruhi return saham, guna generalisasi hasil penelitian lebih

baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Ang, Robert. 1997. Buku Pintar Pasar Modal Indonesia. Jakarta: Mediasoft
Indonesia.
Amenc, Le Sourd. 2003. Portofolio Theory and Performance Anaysis. John Wiley &
Sons, Inc
Arifin Johar. 2004. Analisis Laporan Keuangan Berbasis Komputer, Edisi Pertama.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Fahmi, Irham. 2011. Analisis Kinerja Keuangan. Bandung: CV Alfabeta.
Fred, Weston J & Thomas E. Copeland. 1992. Manajemen Keuangan, Edisi
Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Ganto, Jullimursyida. 2008. Pengaruh Kinerja Keuangan Perusahaan Manufaktur
Terhadap Return Saham di BEI, Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh.
Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi, Vol.8 No.1, 2008.
Harahap, Sofyan Syafri. 2010. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.
Hartono, Jogiyanto. 2008. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi Kelima.
Yogyakarta: BPFE.
Horne, James Van & John M. Wachowis. 2001 Financial Management and Policy,
12th Revised. Prentice Hall.
Husnan, Suad dan Enny Pudjiastuti. 2004. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Edisi
Keempat. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Kasmir. 2001. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Rajawali Pers.
Mamduh M. Hanafi. 2007. Analisis Laporan Keuangan, Edisi Ketiga. Yogyakarta:
UPP STIM YKPN.
Moh, Nazir. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Munawir S. 2004. Analisis Laporan Keuangan, Edisi Keempat. Yogyakarta: Liberty.
Prihadi, Toto. 2008. 7 Deteksi Cepat Kondisi Keuangan dan 7 Analisis Rasio
Keuangan. Jakarta: Penerbit PPM.
Riyanto, Bambang. 1991. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Ketiga.
Yogyakarta: Yayasan Badan Penerbit Gadjah Mada.
Sartono, Agus. 2001. Manajemen Keungan Teori dan Aplikasi, Edisi Keempat.
Yogyakarta: BPFE.
Sudjana, 1997. Statsitika Untuk Ekonomi dan Niaga. Bandung: Tarsito.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Supangat, Andi. 2007. Statistika untuk Ekonomi dan Bisnis. Bandung: Pustaka.
Susanto, Singgih. 2003. Statistika Deskriptif: Konsep dan Aplikasi dengan
MicrosoftExcel dan SPSS. Yogyakarta: Andi.
Syamsudin, Lukman. 2001. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
www.docstoc.com
www.ferdiedarmawan.com
www.google.com

www.idx.co.id
www.pdf-search-engine.com

www.wikipedia.com