Anda di halaman 1dari 5

NOMOR SOP

TGL. PEMBUATAN

TGL. REVISI

TGL. EFEKTIF

DISAHKAN OLEH Kepala Puskesmas Naringgul

Ijuh Sugandi,
A.Md.Kep.,SKM
NIP. 19730920 199803 1
004

NAMA SOP PENANGANAN


PUSKESMAS NARINGGUL
PERDARAHAN POST
PARTUM

Perdarahan melebihi 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir (perdarahan lebih dari
Pengertian
normal)
Sebagai pedoman dalam penanganan perdarahan setelah melahirkan
Tujuan
Terseleng garanya penatalasanaan Perdarahan setelah melahirkan sesuai standar
Kebijakan

Unit Terkait Poned puskesmas Naringgul


1; Segera setelah diketahui perdarahan pascasalin, tentukan ada syok atau tidak, bila
Langkah-
ada periksa haemoglobin, bila hasil Hb <8gr% segera berikan tranfusi darah,
langkah/
infuse cairan ringer laktat, control perdarahan dan berikan oksigen
Prosedur
2; Bila ada perbaikan dan perdarahan berhenti, oksitosin atau misoprostol diteruskan
3; Bila tetap tidak berhasil lakukan laparatomi, kalau mungkin lakukan ligasi arteri
uterine atau hipogastrika ( khusus untuk pasien yang belum punya anak )

Desa dan Cara Oksitosin Ergometin Misoprostol


Dosis dan cara IV: 20 Unit dalam IM atau IV lambat 0,2 Oral atau rectal 400
pemberian 1Literan garam mg mg
awal Fisiologi
Dengan tetesan cepat
IM:10 Unit
Dosis LanjutanIV:20 Unit dalam Ulangi 0,2 IM setelah 400 mg 2 4 jam
1Liter 15 mnt bila masih setelah dosis awal
Larutan garam diperlukan beri IM/IV
fisiologi dengan 40 setisp 2 4 jam
tetes/menit
Dosis Tidak lebih dari 3L Total 1 mg atau 5 dosisTotal 1200mg atau 3
Maksimal larutan dg oksitosin dosis
Perhari
Kontra Pemberian IV secara Preeklamsi vitium Nyeri kontraksi asma
indikasi atau cepat atau bolus cordis,hipertensi
hati hati

DIAGNOSIS

Gejala dan tanda Tanda dan gejala lain Diagnosis kerja


Uterus tidak berkontraksi Syok Atonia uteri
dan lembek perdarahan Bekuan darah pada serviks
segera setelah lahir atau posisi terlentang akan
menghambat aliran darah
keluar
Darah segar yang mengalir Pucat Robekan jalan lahir
segera setelah lahir Lemah
Uterus kontraksi dan keras menggigil
Plasenta lengkap
Plasenta belum lahir setelah Tali pusat putus akibat traksi Retensio plasenta
30 menit berlebihan
Perdarahan segera (P3) Inversion uteri akibat tarikan
Uterus kontraksi dan keras Perdarahan lanjutan
Plasenta atau sebagian Uterus berkontraksi tetapi Tertinggalnya
selaput (mengandung tinggi sebagian plasenta
pembuluh darah) tidak Fundus tidak berkurang atau ketuban
lengkap
Perdarahan segera (P3)
Uterus tidak teraba Neurogenik syok Inversion uteri
Lumen vagina terisi massa Pucat dan limbung
Tampak tali pusat(bila
plasenta belum lahir)
Sub involusi uterus Anemia Endometritis
Nyeri tekan perut bawah dan demam Fragmen plasenta
pada uterus (terinfeksi atau
Perdarahan tidak)
Lochea mukopuruen dan Late postpartum
berbau hemorrhage
Perdarahan
postpartum
sekunder

PERLUKAAN JALAN LAHIR


; Robekan Perineum
; HematomaVulva
; Robekan dinding vagina
; Robekan serviks
; Ruptura uteri
1; Robekan perineum
a; Tingkat I : robekan hanya pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa
mengenai kulit perineum
b; Tingkat II : robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot perinei
transversalis, tetapi tidak mengenai sfingter ani
c; Tingkat III : robekan mengenai seluruh perineum dan otot sfingter ani
d; Tingkat IV : robekan sampai mukosa rectum
Pengelolaan pada robekan jalan lahir
a; Robekan perineum tingkat I
dengan catgut secara jelujur atau jahitan angka delapan (figure of eight).
b; Robekan perineum tingkat II
Jika dijumpai pinggir robekan yang tidak rata atau bergerigi, harus
diratakan lebih dahulu.
Pinggir robekan sebelah kiri dan kanan dijepit dengan klem, kemudian
digunting.
Otot dijahit dengan catgut, selaput lendir vagina dengan catgut secara
terputus-putus atau jelujur. Jahitan mukosa vagina dimulai dari puncak
robekan, sampai kulit perineum dijahit dengan benang catgut secara
jelujur.
c; Robekan perineum tingkat III
Dinding depan rektum yang robek dijahit
kemudian fasia perirektal dan fasial septum rektovaginal dijahit dengan
catgut kromik
Ujung-ujung otot sfingter ani yang terpisah akibat robekan dijepit dengan
klem, kemudian dijahit dengan 2 3 jahitan catgut kromik
Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti menjahit robekan
perineum tingkat II.
d; Robekan perineum tingkat IV
Dianjurkan apabila memungkinkan untuk melakukan rujukan dengan
rencana tindakan perbaikan di rumah sakit kabupaten/kota.
2; Hematoma vulva
a; Bergantung pada lokasi dan besar hematoma.
b; Hematoma kecil cukup dilakukan kompres.
c; Hematoma besar dilakukan sayatan di sepanjang bagian hematoma yang paling
terenggang.
d; Seluruh bekuan dikeluarkan sampai kantong hematoma kosong.
e; Dicari sumber perdarahan, perdarahan dihentikan dengan mengikat atau
menjahit sumber perdarahan tersebut.
f; Luka sayatan kemudian dijahit.
g; Dalam perdarahan difus dapat dipasang drain.

3; Robekan dinding vagina


a; Robekan dinding vagina harus dijahit.
b; Kasus kolporeksis dan fistula visikovaginal harus dirujuk ke rumah sakit.
4; Robekan serviks
Robekan Sering dijumpai pada jam 3 dan 9, bibir depan dan bibir belakang
serviks di jepit dengan klem fenster,kemudian ditarik sedikit untu menentukan
letak robekan dan ujung robekan. Selanjurnya dijahit dengan catgut kromik
dimulai dari ujung robekan untuk menghentikan perdarahan