Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat dan
hidayah- Nya sehingga laporan resmi fieldtrip ini dapat terselesaikan dengan baik .

Laporan ini merupakan tugas wajib mahasiswa Teknik Geologi 2011 dalam rangka
kegiatan Fieldtrip Petrologi. Disamping itu laporan ini merupakan suatu bentuk evaluasi bagi
penulis mengenai ilmu ilmu Geologi Struktur yang telah penulis terima selama ini.

Tak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada berbagai pihak karena berkat mereka
penulis dapat menyusun laporan ini dengan baik. Ucapan terima kasih tersebut kami sampaikan
kepada :

1. Bapak Subagyo Pramuwijoyo dan Bapak Soedarno sebagai dosen pengampu mata
kuliah Geologi Struktur.
2. Seluruh staff asisten praktikum Geologi Struktur pada umumnya dan kak Benecditus
Amandus khususnya sebagai asisten pendamping kelompok.
3. Teman- teman Teknik Geologi 2011 yang telah bersama- sama melaksanakan fieldtrip
4. Kelompok 11 yang telah berjuang bersama- sama dalam melaksanakan fieldtrip.

Penulis sadar laporan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan . Oleh karena itu,mohon
kritik dan saran bagi para pembaca.

Yogyakarta, 25 Mei 2014

Ria Nur Andini


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1

DAFTAR ISI 2

DAFTAR FOTO 3

DAFTAR GAMBAR 4

BAB I. PENDAHULUAN 5

BAB II. GEOLOGI REGIONAL

2.1 Geomorfologi Regional 8

2.2. Stratigrafi Regional 10

2.3. Struktur Geologi Regional 11


BAB III. PEMBAHASAN

3.1. STA 1 Alas Kobong 13

3.2. STA 2 Waduk Kedung Ombo 15

BAB IV. KESIMPULAN 16

DAFTAR PUSTAKA 17
DAFTAR FOTO

Foto 3.1. Lokasi Pengamatan STA 1 kelompok 11 17

Foto 3.2. Struktur Lipatan STA 1 18


DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.2. Peta fisiografis Jawa Timur (Van Bemmelem 1949)


Gambar 2.2. Structural Analysis of Java Using Strain Ellipsoid Kinematics

BAB 1
PENDAHULUAN

I. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan diadakanya fieldtrip ini yaitu untuk menerapkan ilmu ilmu
geologi yang selama ini dipelajari kemudian mempraktikannya di lapangan. Disamping
itu juga unutk melengkapi teori yang telah diberikan, baik di dalam kuliah mapun dalam
praktikum,sehingga diharapkan mampu mengidentifikasi geomorfologi, litologi, struktur
geologi, dan potensi- potensi yang ada dalam suatu daerah tertentu. Serta mahasiswa
diharapkan mampu menggunakan peralatan peralatan geologi seperti palu, lup, kompas
geologi, dan peta topografi dengan baik dan benar.

II. Letak dan Kesampain Daerah

Fieldtrip dilaksanakan di daerah Sragen dan sekitarnya,meliputi:


1. STA1
Lokasi tersebut berada di areal rel kereta api daerah alas Kobong,
2. STA 2
Lokasi tersebut berada di waduk Kedung Ombo Kabupaten Sragen.

III. Waktu Pelaksanaan

Fieldtrip dilaksanakan pada hari Sabtu, 17 Mei pukul 06.30 WIB- selesai.

IV. Peralatan

Peralatan dibagi menjadi 2 yaitu peralatan kelompok dan peralatan individu.

A. Peralatan Kelompok :
1) Peta Topografi
Sebagai penunjuk lokasi pengamatan di lapangan
2) Kompas Geologi
Sebagai penunjuk arah, untuk menentukan posisi suatu objek dan pengamat
dalam peta, untuk mengukur strike, dip,dan kelerengan
3) Palu Geologi
Palu beku : untuk mengambil sampel batuan beku
4) Lup
Untuk melihat kenampakan mineral dalam batuan maupun singkapan,
apabila objek terlalu kecil dan tidak terlihat jelas oleh mata
5) HCl 0.01 M
Untuk menentukan ada tidaknya kandungan karbonat disuatu mineral atau
batuan
6) Plastik sampel
Sebagai tempat sample mineral dan batuan (hand speciment)
dari lapangan
7) Kamera
Untuk mengambil gambar kenampakan yang ada selama dilapangan
8) Spidol anti air
Untuk memberi nomor, nama, dan keterangan pada plastik sample

B. Peralatan Individu :
1) Pensil
2) Pensil warna
3) Pena
4) Busur
5) Penggaris
6) Panghapus
7) Spidol
8) Clipboard
9) Buku lapangan dan kertas HVS A4
10) Spidol antiair
11) Peta topografi
12) Plastik mika
13) Obat- obat pribadi
14) Topi lapangan
15) Jas hujan (ponco)

V. Peneliti Pendahulu

Daerah ini telah banyak diteliti oleh para ahli geologi. Berikut nama-
nama peneliti dan tahun penelitiannya :

1) Browwer, 1917
2) Van Bemmelen, 1947
3) De Genevreye dan Samuel, 1972
4) Adinegoro, 1972
5) Sartono, 1976
6) Kosoemadinata, 1978
7) Harsono
8) Nahrowi dan Suratman, 1990
BAB 2

GEOLOGI REGIONAL

2.1. Geomorfologi Regional

Van Bemmelem (1949) membagi Jwa tengah menjadi beberapa zona fisiografi
(Gambar 2.1) yaitu :

1.Dataran aluvial Jawa Utara


2.Antiklinorium Rembang
3.Zona Depresi Randublatung
4.Antiklinorium Kendeng
5.Zona pusat depresi Jawa
6.Busur Vulkanik Kuarter
7.Pegunungan Selatan

Berdasarkan peta fisiografis


daerah Kabupaten Sragen
dan sekitarnya berada pada
wilayah Antiklinorium
Kendeng atau zona Kendeng.

a. Rembang Zone
Zona ini meliputi pantai
utara Jawa yang
membentang dari Tuban ke arah timur melalui Lamongan, Gresik, dan
hampir keseluruhan Pulau Madura. Rembang Zone merupakan daerah yang
terangkat selama Kenozoikum dan memiliki endapan sedimen yang tipis
dibandingkan dengan daerah cekungan di selatan. Litologi batuan zona ini
terdiri dari batuan metamorf, batuan bek, dan didominasi oleh karbonat
yang tampak dai beberapa tempat sebagai tinggian seperti di sepanjang
Tuban hingga Gresik.
b. Southern Mountain
Zona ini merupakan busur vulkanik Eosen-Miosen yang endapannya terdiri
dari batuan-batuan siliklastik, volkaniklastik, volkanik, dan karbonat dengan
kedudukan umumnya perlapisan miring ke selatan. Daerah ini merupakan
daerah pegunungan dengan lembah-lembah terjal di bagian selatan Jawa
Timur yang membentang dari Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung,
Blitar, Malang Selatan, dan Jember. Bukti dari peninggalan zircon
menunjukkan kerak kontinen di bawah busur volkanik Pegunungan Selatan
dengan anomali gaya berat Bouguer positif yang tinggi, dan terdapatnya
zircon Pra-Kambrium.
c. Kendeng Zone
Zona yang terletak di antara present-day volcanic arc dan Rembang Zone
ini merupakan deposenter utama endapan Eosen-Miosen dan mengandung
sekuen yang tebal sedimen volkanogenik dan pelagik. Zona ini merupakan
lajur lipatan dan sesar anjakan berarah barat-timur. Zona ini merupakan
zona perbukitan yang membentang dari Kabupaten Bojonegoro bagian
selatan, Jombang, Mojokerto, dan berakhir di dataran alluvial Sungai
Brantas. Di Ngawi, zona ini terpotong oleh Sungai Bengawan Solo
membentuk depresi lokal.
d. Present-day Volcanic Arc (Arief, 2012)
Zona ini meliputi area Gunung Wilis di sebelah barat Magetan, Gunung Wilis
di sebalah timur Ponorogo, Gunung Arjuno, Gunung Bromo dan Semeru,
Gunung Argopuro, dan Gunung Raung di Banyuwangi. Termasuk di
antaranya adalah dataran intramontane seperti Dataran Kediri, Dataran
Blitar, dan Dataran Malang. Kondisi topografi yang tinggi memungkinkan
untuk mendapat curah hujan yang cukup tinggi, iklim yang sejuk, tanah hasil
pelapukan endapan vulkanik yang sifatnya subur.

Bagian bawah Zona Kendeng tidak tersingkap namun sebagian kecil ada
yang terbawa ke permukaan oleh aktifitas poton atau gunung lumpur (mud
volcano). Fragmen-fragmen batuan yang terbawa ke permukaan berupa batu pasir
gampingan dan konglomerat. Di atas sekuen bagian bawah ini diendapkan sekuen
tebal yang umumnya terdiri dari batupasir volkaniklastik dan batu lempung
pelagik dari Formasi Pelang, Formasi Kerek, dan Formasi Kalibeng.

Di bagian barat Zona Kendeng terdapat Lutut Bed dengan ciri yang
sangat berbeda dengan karakter umum endapan Zona Kendeng. Batuan Lutut Bed
banyak mengandung kuarsa dan fragmen batuandasar (rijang, sekis, dan basalt),
fragmen batupasir kuarsa Eosen dan batubara. Terdapatnya hasil rombakan
batuan dasar dan Batuan Eosen ini menunjukkan adanya pengangkatan dan erosi
pada Miosen Awal.
Endapan laut pada Zona Kendeng diakhiri dengan pengendapan
Batugamping Klitik Formasi Sonde. Sekuen endapan pada zona ini didominasi
oleh endapan volkaniklastik dari Formasi Pucangan, Formasi Kabuh, dan
Formasi Notopuro. Sekuen endapan bagian atas Zona Kendeng ini
menunjukkan munculnya kembali aktifitas volkanik pada Plistosen yang
merupakan cikal bakal Busur Volkanik masa kini di Jawa (Arief, 2012).
2.2. Stratigrafi Regional
2.2.1. Formasi Kerek

Formasi ini mempunyai ciri khas berupa perselingan antara lempung,


napal lempungan, napal, batu pasir tufaan gampingan, danbatupasir tufaan.
Perulangan ini menunjukkan struktur sedimen yang khas yaitu perlapisan
bersusun yang mencirikan gejala flysch. Berdasarkan fosil foraminifera
planktonik, formasi ini terbentuk pada Miosen Awal - Miosen Akhir (N10-
N18)
pada lingkungan shelf. Ketebalan formasi ini berkisar antara 1000-3000 meter.

2.2.2. Formasi Kali beng

Formasi ini terletak selaras di atas Formasi Kerek. Formasi ini terbagi
menjadi dua yaitu Formasi Kalibeng Bawah dan Formasi Kalibeng Atas. Pada
Kalibeng bawah tersusun oleh napal tak berlapis setebal 600 meter berwarna putih
kekuningan sampai abu-abu kebiruan yang kaya akan foraminifera planktonik.
Adanya fauna tersebut menunjukkan bahwa Formasi Kalibeng bawah
ini terbentuk pada N17-N21 (Miosen Akhir - Pliosen). Di bagian bawah formasi
ini terdapat perlapisan batupasir ke arah Kendeng bagian barat yang
berkembang menjadi aliran debris flow.

(Setyobudi, 2009)

2.2.3. Formasi Pucangan

Di bagian barat dan tengah Zona Kendeng, formasi ini terletak tidak
selaras di atas Formasi Sonde. Formasi ini memiliki persebaran yang cukup
luas. Di Kendeng barat, batuan ini mempunyai penyebaran dan tersingkap luas
antara Trinil dan Ngawi. Ketebalan berkisar antara 61-480 meter, berumur
Pliosen Akhir (N21) hingga Plistosen (N22).

2.2.4. Formasi Ka buh


Formasi Kabuh terletak selaras di atas Formasi Pucangan. Formasi ini
terdiri dari batupasir dengan material non vulkanik antara lain kuarsa, berstruktur
silangsiur dengan sisipan konglomerat dan tuff, mengandung fosil Moluska air
tawar dan fosil-fosil vertebrata berumur Plistosen Tengah, merupakan endapan
sungai teranyam yang dicirikan oleh intensifnya struktur silangsiur tipe palung,
banyak mengandung fragmen berukuran kerikil. Di bagian bawah yang
berbatasan dengan Formasi Pucangan dijumpai grenzbank.

2.2.5. Formasi Notopur o

Terletak tidak selaras di atas Formasi Kabuh. Litologi penyusunnya terdiri


dari breksi lahar berseling dengan batupasir tufaan dan konglomerat vulkanik.
Makin ke atas, sisipan batupasir tufaan makin banyak. Juga terdapat sisipan
atau lensa-lensa breksi vulkanik dengan fragmen kerakal, terdiri dari andesit dan
batuapung, yang merupakan ciri khas Formasi Notopuro. Formasi ini pada
umumnya merupakan endapan lahar yang terbentuk pada lingkungan
darat,berumur Plistosen Akhir dengan ketebalan mencapai lebih dari 240 meter.

2.2.6. Formasi Undak Be ngaw an Solo

Endapan ini terdiri dari konglomerat polimik dengan fragmen batu


gamping, napal, dan andesit di samping batupasir yang mengandung fosil-fosil
vertebrata, di daerah Brangkal dan Sangiran, endapan undak tersingkap baik
sebagai konglomerat dan batupasir andesit yang agak terkonsolidasi dan
menumpang di atas bidang erosi pada Formasi Kabuh maupun Notopuro.

(Setyobudi, 2009)
2.3. Struktur Geologi Regional

Deformasi pertama pada Zona Kendeng terjadi pada akhir Pliosen, deformasi ini
merupakan manifestasi dari zona konvergen pada konsep tektonik lempeng yang diakibatkan
oleh gaya kompresi berarah utara-selatan dengan tipe deformasi berupa ductile yang pada
akhirnya berubah menjadi deformasi brittle berupa pergeseran blok-blok dasar cekungan Zona
Kendeng. 1ntensitas kompresi makin besar ke arah barat Zona Kendeng yang menyebabkan
banyak dijumpai lipatan dan sesar naik.

Deformasi Pliosen dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase pertama berupa perlipatan yang
menyebabkan terbentuknya Geantiklin Kendeng yang memiliki arah barat-timur dan
menunjam di bagian Kendeng Timur, fase kedua adalah pensesaran akibat dari berubahnya
deformasi ductile menjadi brittle, dan fase ketiga berupa pergeseran blok-blok dasar cekungan
Zona Kendeng yang mengakibatkan terjadinya sesar-sesar geser bearah utara-selatan.

Deformasi kedua terjadi selama kuarter yang berlangsung lambat dan mengakibatkan
terbentuknya struktur kubah di Sangiran. Deformasi ini masih berlangsung hingga saat ini
denga intesitas yang relatif kecil dengan bukti terbentuknya sedimen termuda di Zona
Kendeng yaitu Endapan Undak.

Secara umum struktur-struktur yang ada di Zona Kendeng berupa:

2 . 3 . 1 .Lipatan.
Lipatan yang ada di daerah Kendeng sebagian besar merupakan
lipatan asimetri dan beberapa overturned. Lipatan di daerah ini
memiliki pola enechelon fold. Secara umum lipatan di daerah
Kendeng berarah barat- timur.
2.3.2. Sesar Naik.
Sesar naik banyak terjadi di Zona Kendeng ini dan biasanya
merupakan kontak antar formasi atau anggota formasi.
2.3.3. Sesar Geser.
Sesar geser pada Zona Kendeng biasanya berarah timur laut- barat daya
dan tenggara-barat laut.
2.3.4. Struktur Kubah.
Struktur kubah yang ada pada zona ini biasanya terdapat di Sangiran
pada satuan batuan berumur Kuarter.

Gambar 2.2. Structural Analysis of Java Using Strain Ellipsoid Kinematics


BAB III

PEMBAHASAN

3.1 STA 1
Lokasi STA 1 terletak pada daerah Alas Kobong, kecamatan, kabupaten, provinsi Jawa
Tengah. Tepatnya berada di tebing areal rel kereta api Alas Kobong. Pada saat dilakukan

pengamatan cuaca cerah. Adapun koordinat lokasi yakni 9191649;485470.


Foto 3.1. Lokasi Pengamatan STA 1 kelompok 11
Morfologi daerah pengamatan berupa tebing dipinggir areal rel kerata api yang
mengalami perlipatan. Singkapan menghadap ke arah barat setinggi 8 meter sepanjang 20
meter membentang dari utara keselatan. Adapun batas lokasi yaitu : Lokasi Pengamatan
kelompok 11

Utara : lembah

Selatan: Singkapan

Barat : rel kereta api

Timur : singkapan

Kondisi singkapan bagian dalam masih segar, bagian luar telah mengalami pelapukan
dan ditumbuhi vegetasi. Struktur yang ada berupa lipatan dan kekar.
Deskripsi litologi singkapan berupa batuan berwarna putih kecoklatan, struktur sedimen
laminasi-pelapisan, tekstur ukuran butir lanau 1/16-1/256 mm, sortasi baik, kemas grain
supported. Komposisi mineral karbonatan.

Nama Batuan : Batupasir lanau karbonatan


Kekar pada lapangan yang terukur yaitu : N208E/76, N285E/75, N273E/72.
Lipatan pada lapangan yang terukur yaitu : N105E/56
Berdasarkan analisis kekar yang ada ditemukan titikn maksima N96E/78 dan
N318E/58. Bagian lipatan kelompok 11 merupakan daerah lembah lipatan sinklin yang telah
mengalami sesar sehingga memiliki strike dan dip yang berbeda dari sayap bagian utara.
Foto 3.2. Struktur Lipatan STA 1
Berdasarkan struktur geologi dan lipatan yang ada, pembentukan pada mulanya
merupakan daerah ductile sehingga terbentuk lipatan seperti yang terlihat pada masa sekarang,
akan tetapi setelah gaya yang mendorong terhenti maka terjadi ekstensi dari batuan itu sendiri
yang mengakibatkan adanya sesar sehingga strike/dip yang terukur diberbagai tempat pada
lipatan berbeda-beda.
Potensi positif daerah ini adalah memiliki singkapan yang dapat dijadikan sebagai objek
study geologi, serta marmer yang ada dapat dijadikan potensi tambang bagi masyarakat. Selain
itu juga memungkinkan terjadi gerakan massa.

3.2. STA 2

STA 2 terletak di waduk Kedung Ombo Kabupaten Sragen propinsi Jawa Tengah. Pada
STA 2 tidak dilakukan pengamatan dikarenakan cuaca yang buruk dan singkapan yang
terendam oleh air waduk yang sedang pasang yang disebabkan oleh musim hujan.
BAB 4

KESIMPULAN

Dari fieldtrip tanggal 17 Mei 2014 dapat disimpulkan bahwa daerah daerah alas kobong
masuk dalam zona pegunungan Kendeng. Berdasarkan litologi dan struktur geologi yang ada,
daerah Alas Kobong merupakan daerah dengan litologi ductile berupa batupasir tufan, napal
tufan, dan batu lanau. Saat gaya mengenai daerah tersebut terbentuk struktur lipatan
dikarenakan daerah yang ductile, namun setelah gaya yang mendorong terhenti maka terjadi
ekstensi dari litologi batuan itu sendiri yang mengakibatkan menjadi daerah brittle sehingga
terjadi sesar seperti yang terlihat sekarang. Adapun strike/dip yang berbeda pada pengukuran
dibeberapa sisi sayap lipatan dikarenakan adanya sesar.

Litologi daerah Alas Kobong yaitu berupa batupasir tufan, napal tufan, dan batu lanau
yang bersifat ductile.
DAFTAR PUSTAKA

Ridwan.2008.jbptitbpp-gdl-ridwanpsid-22686-3-2010ta-2.www.scribd.com

Staf Asisten Geologi Struktur. 2009. Pedoman Praktikum Geologi Struktur.

Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta


LAMPIRAN