Anda di halaman 1dari 14

Sabtu, 6 Oktober 2012

TUGAS FILSAFAT ILMU


ONTOLOGI

DISUSUN OLEH:
MASAGUS ZULKIFLI (06122502020)

DOSEN PEMBIMBING:
Prof. DR. Waspodo
Prof. DR. Nuraini F Kurdi
DR. Somakim, M.Pd

PROGRAM PASCA SARJANA FKIP MATEMATIKA


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2012
Sabtu, 6 Oktober 2012

ONTOLOGI

1. Definisi Ontologi
Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang menyelidiki segala
yang ada. Istilah ontologi berasal dari bahasa yunani yaitu ta onta berarti
segala yang ada dan logos berarti ilmu pengetehuan atau ajaran.
Dengan demikian, ontologi ialah ilmu pengetahuan atau ajaran tentang
segala yang ada.
Dalam persoalan ontologi orang menghadapi persoalan
bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini?
Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan yaitu
supernaturalisme/supranatural dan naturalisme.
Kepercayaan supernaturalisme/supranatural, menganggap bahwa
gejala-gejala alam disebabkan oleh pengaruh kekuatan gaib. Animisme,
pandangan yang menyatakan bahwa terdapat roh-roh yang bersifat gaib,
yang terdapat dalam benda-benda tertentu.
Pandangan yang bertolak belakang dengan supernaturalisme
adalah naturalisme. Materialisme, merupakan paham yang berdasarkan
naturalisme, mengganggap bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan
oleh pengaruh kekuatan gaib tetapi oleh kekuatan yang terdapat dalam itu
sendiri, yang dapat dipelajari dan dengan demikian dapat diketahui.

Tahapan Ontologi Hakikat Ilmu


Obyek apa yang telah ditelaah ilmu?
Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?
Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia
(seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan
pengetahuan?
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang
berupa ilmu?
Bagaimana prosedurnya?

1
Sabtu, 6 Oktober 2012

Ketika kita membicarakan tahap-tahap perkembangan ilmu,


tercakup pula telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan mengenai
hakikat ilmu. Pertama, dari segi ontologis, yaitu tentang apa dan sampai di
mana yang hendak dicapai ilmu. Dalam hal ini menyangkut semua yang
mempunyai eksistensi dalam dimensi ruang dan waktu, dan terjangkau
oleh pengalaman inderawi. Dengan demikian, meliputi fenomena yang
dapat diobservasi, dapat diukur, sehingga datanya dapat diolah,
diinterpretasi, diverifikasi, dan ditarik kesimpulan.
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik,maka
diperlukan sarana berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika.
Penalaran ilmiah menyadarkan kita kepada proses logika deduktif dan
logika induktif. Matematika mempunyai peranan penting dalam berpikir
deduktif, sedangkan statistika mempunyai peran penting dalam berpikir
induktif.

A. Bahasa
Bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari simbolsimbol
bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat
untuk berkomunikasi.

B. Matematika
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian
makna dari serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-
lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai arti setelah
sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya
merupakan kumpulan rumus-rumus yang kosong arti bukan tidak ada arti.

Matematika sebagai Sarana Berpikir Deduktif


Matematika merupakan ilmu deduktif. Nama ilmu deduktif diperoleh
karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari atas

2
Sabtu, 6 Oktober 2012

pengalaman seperti halnya yang terdapat di dalam ilmu-ilmu empiris,


melainkan didasarkan atas deduksi-deduksi (penjabaran-penjabaran).

C. Statistik
Pada mulanya, kata statistik diartikan sebagai kumpulan bahan
keterangan (data), baik yang berwujud angka (data kuantitatif) maupun
yang tidak berwujud angka (data kualitatif), yang mempunyai arti penting
dan kegunaan besar bagi suatu negara. Namun pada perkembangan
selanjutnya, arti kata statistik hanya dibatasi pada kumpulan bahan
keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif) saja. Dalam kamus
ilmiah populer, kata statistik berarti tabel, grafik, daftar informasi, angka-
angka, informasi. Sedangkan kata statistika berarti ilmu pengumpulan,
analisis, dan klasifikasi data, angka sebagai dasar untuk induksi.
Peranan Statistika dalam Tahap-Tahap Metode Keilmuan Statistika
merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan.
metode keilmuan, sejauh apa yang menyangkut metode, sebenarnya tak
lebih dari apa yang dilakukan seseorang dalam mempergunakan
pikirannya, tanpa ada sesuatu pun yang membatasinya. Statistika
diterapkan secara luas dalam hampir semua pengambilan keputusan
dalam bidang manajemen.
Statistika diterapkan dalam penelitian pasar, penelitian produksi,
kebijaksanaan penanaman modal, kontrol kualitas, seleksi pegawai,
kerangka percobaan industri, ramalan ekonomi, auditing, pemilihan risiko
dalam pemberian kredit, dan masih banyak lagi.
Dengan mempergunakan teknik-teknik statistik yang
diperkembangkan sesuai dengan kebutuhan. Tujuan dari pengumpulan
data statistik dapat dibagi ke dalam dua golongan besar, yang secara
kasar dapat dirumuskan sebagai tujuan kegiatan praktis dan kegiatan
keilmuan. Perbedaan yang penting dari kedua kegiatan ini dibentuk oleh
kenyataan bahwa dalam kegiatan praktis hakikat alternatif yang sedang
dipertimbangkan telah diketahui, paling tidak secara prinsip, di mana

3
Sabtu, 6 Oktober 2012

konsekuensi dalam memilih salah satu dari alternatif tersebut dapat


dievaluasi berdasarkan serangkaian perkembangan yang akan terjadi. Di
pihak lain, kegiatan statistika dalam bidang keilmuan diterapkan pada
pengambilan suatu keputusan yang konsekuensinya sama sekali belum
diketahui.
Pengambilan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita
kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang kita
hadapi. Dalam hal ini statistika memberikan jalan keluar untuk dapat
menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya
sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistika mampu memberikan
secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut,
yakni makin besar contoh yang diambil, maka makin tinggi pula tingkat
ketelitian kesimpulan tersebut.

D. Logika
Logika berasal dari bahasa latin yakni Logos yang berarti perkataan
atau sabda. Dalam bahasa arab di sebut Mantiq. Logika adalah sarana
untuk berpikir sistematis, valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena
itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir,
seperti setengah tidak boleh lebih besar daripada satu. Logis dalam
bahasa sehari-hari kita sebut masuk akal. Kata Logika dipergunakan
pertama kali oleh Zeno dari Citium. Kaum Sofis, Socrates, dan Plato
dianggap sebagai perintis lahirnya logika.
Logika lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles, Theoprostus dan
kaum Stoa. (Russell, dalam Mundiri 2006). Aristoteles meninggalkan
enam buah buku yang oleh murid-muridnya disebut Organon. Buku itu
terdiri dari Categoriae (mengenai pengertian-pengertian) De Interpretatiae
(keputusan-keputusan), Analitica Priora (Silogisme), Analitica Porteriora
(pembuktian), Topika (berdebat) dan De Sophisticis Elenchis (kesalahan-
kesalahan berpikir). Theoprostus kemudian mengembangkan Logika

4
Sabtu, 6 Oktober 2012

Aristoteles dan kaum Stoa yang mengajukan bentuk-bentuk berpikir yang


sistematis (Angel, dalam Mundiri 2006).

Logika dapat disistemisasi dalam beberapa golongan:


1. Menurut Kualitas dibagi dua, yakni Logika Naturalis (kecakapan
berlogika berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia) dan Logika
Artifisialis (logika ilmiah) yang bertugas membantu Logika Naturalis
dalam menunjukkan jalan pemikiran agar lebih mudah dicerna, lebih
teliti, dan lebih efisien.
2. Menurut Metode dibagi dua yakni Logika Tradisional yakni logika yang
mengikuti aristotelian dan Logika Modern.
3. Menurut Objek dibagi dua yakni Logika Formal (deduktif dan induktif)
dan Logika Material.

Dalam permasalahan logika satuan proposisi terkecil yakni kata.


Kata menjadi penting karena merupakan unsur dalam membentuk
pemikiran. Pada praktiknya kata dapat dilihat berdasarkan beberapa
pengertian yakni positif (penegasan adanya sesuatu), negatif (tidak
adanya sesuatu), universal (mengikat keseluruhan), partikular (mengikat
keseluruhan tapi tak banyak), singular (mengikat sedikit/terbatas), konkret
(menunjuk sebuah benda), abstrak (menunjuk sifat, keadaan, kegiatan
yang terlepas dari objek tertentu), mutlak (dapat difahami sendiri tanpa
hubungan dengan benda lain), relatif (dapat difahami sendiri jika ada
hubungan dengan benda lain), bermakna/tak bermakna. Selain itu kata
juga dilihat berdasarkan predikatnya.
Selanjutnya adalah defenisi. Defenisi adalah karakteristik beberapa
kelompok kata. Karakteristik berarti melihat jenis dan sifat pembeda. Jadi
mendefenisikan berarti menganalisis jenis dan sifat pembeda yang
dikandungnya. Agar membuat defenisi terhindar dari kekeliruan ada
bebrapa hal yang perlu diperhatikan yakni:
(a) Defenisi

5
Sabtu, 6 Oktober 2012

tidak boleh luas atau lebih sempit dari konotasi kata yang didefenisikan
(b) tidak menggunakan kata yang didefenisikan
(c) tidak memakai penjelasan yang justru membingungkan
(d) tidak menggunakan bentuk negatif.

Klasifikasi adalah pengelompokan barang yang sama dan


memisahkan dari yang berbeda menurut spesiesnya. Ada dua cara dalam
membuat klasifikasi yakni Pembagian (logical division) dan Pengolongan.

Hubungan antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika, Matematika, dan


Statistika.
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam
seluruh proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir
dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada
orang lain. Ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan
antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu, penalaran ilmiah
menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif.
Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif,
sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif.
Jadi keempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain.

Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah:


yang-ada (being)
kenyataan/realitas (reality)
eksistensi (existence)
perubahan (change)
tunggal (one)
jamak (many)

6
Sabtu, 6 Oktober 2012

2. Objek Kajian Ontologi


Objek telaahan ontologi adalah yang ada, yaitu ada individu, ada
umum, ada terbatas, ada tidak terbatas, ada universal, ada mutlak,
termasuk kosmologi dan metafisika dan ada sesudah kematian maupun
sumber segala yang ada, yaitu tuhan YME, pencipta dan pengatur serta
penentu alam semesta. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita
membahasa yang ada dalam konteks filsafat ilmu.
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi
pendekatan kualitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah,
telaahnya akan menjadi telaah monisme, paralelisme, atau pluralisme.
Bagi pendekatan kulitatif realitas akan tampil menjadi aliran materialisme,
idealisme, naturalisme atau hilomorpisme.
Metode dalam ontologi
Lorens Bagus memperkenalkan 3 tingkat abstraksi dalam ontologi,
yaitu abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metafisik. Abstraksi
fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; abstraksi bentuk
mendeskripsikan metafisik mengenai prinsip umum yang menjadi dasar
dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah
abstraksi metafisik. Metode pembuktian dalam ontologi oleh Lorens Bagus
dibedakan menjadi 2, yaitu: pembuktian apriori dan pembuktian a
posteriori.

3. Aliran-Aliran Ontologi
Dalam mempelajari ontologi muncul beberapa pertanyaan yang
kemudian melahirkan aliran-aliran dalam filsafat. Dari masing-masing
pertanyaan menimbulkan beberapa sudut pandang mengenai ontologi.
Pertanyaan itu berupa Apakah yang ada itu? (What is being?),
Bagaimanakah yang ada itu? (How is being?), dan Dimanakah yang
ada itu? (What is being?).

7
Sabtu, 6 Oktober 2012

Hakekat segala yang ada ontologi atau realitas memang bisa didekati
dengan dua macam sudut pandang:
1 kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu
tunggal atau jamak?
2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas)
tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki
warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.

Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang


mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.
Apakah yang ada itu? (What is being?)
Dalam memberikan jawaban masalah ini lahir lima filsafat, yaitu:
1 Aliran Monoisme.
Aliran ini berpendapat bahwa yang ada itu hanya satu, tidak
mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik
yang asal berupa materi ataupun berupa ruhani. Tidak mungkin ada
hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya
merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan
yang lainnya. Plato adalah tokoh filsuf yang bisa dikelompokkan dalam
aliran ini, karena ia menyatakan bahwa alam ide merupakan kenyataan
yang sebenarnya. Istilah monisme oleh Thomas Davidson disebut
dengan Block Universe.

Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua aliran:


Materialisme Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah
materi, bukan ruhani. Aliran ini sering juga disebut dengan Naturalisme.
Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya
fakta. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh bapak filsafat yaitu Thales (624-
546 SM). Ia berpendapat bahwa unsur asal adalah air, karena pentingnya
bagi kehidupan. Anaximander (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur
asal itu adalah udara, dengan alasan bahwa udara merupakan sumber

8
Sabtu, 6 Oktober 2012

dari segala kehidupan. Demokritos (460-370 SM) berpendapat bahwa


hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat
dihitung dan amat halus. Atom-atom itulah yang merupakan asal kejadian
alam.

2 Aliran Dualisme
Aliran dualisme adalah aliran yang mencoba memadukan antara
dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme.
Menurut aliran dualisme materi maupun ruh sama-sama merupakan
hakikat. Materi muncul bukan karena adanya ruh begitupun ruh muncul
bukan karena materi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya aliran
ini masih memiliki masalah dalam menghubungkan dan menyelaraskan
kedua aliran tersebut.
Aliran dualisme memandang bahwa alam terdiri dari dua macam
hakikat sebagai sumbernya. Aliran dualisme merupakan paham yang
serba dua, yaitu antara materi dan bentuk. Menurut paham dualisme, di
dalam dunia ini selalu dihadapkan pada dua pengertian, yaitu yang ada
sebagai potensi dan yang ada secara terwujud. Keduanya adalah
sebutan yang melambangkan materi (hule) dan bentuk (eidos).
Demikianlah materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan. Materi tidak dapat
terwujud tanpa bentuk, sebaliknya bentuk tidak dapat berada tanpa
materi. Tapi benda yang dapat diamati disusun dari bentuk dan materi.

3. Aliran Pluralisme
Aliran ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan
kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa
segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictionary
of Philosophy and Religiondikatakan sebagai paham yang menyatakan
bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau
dua entitas.

9
Sabtu, 6 Oktober 2012

Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan
Empedocles, yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk
dan terdiri dari empat unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara. Tokoh
modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M), yang
mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku
umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, dan lepas dari akal yang
mengenal.

4. Aliran Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak
ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif.
Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev pada tahun 1862 di
Rusia. Doktrin tentang nihilisme sebenarnya sudah ada semenjak zaman
Yunani Kuno, yaitu pada pandangan Gorgias (485-360 SM) yang
memberikan tiga proposisi tentang realitas, yaitu:
Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis.
Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui.
Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita
beritahukan kepada orang lain. Tokoh lain aliran ini adalah Friedrich
Nietzche (1844-1900 M). Dalam pandangannya dunia terbuka untuk
kebebasan dan kreativitas manusia. Mata manusia tidak lagi diarahkan
pada suatu dunia di belakang atau di atas dunia di mana ia hidup.

5 Aliran Agnostisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui
hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata
agnostisisme berasal dari bahasa Grik Agnostos, yang
berarti unknown. A artinya not, gno artinya know. Timbulnya aliran ini
dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan
secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita
kenal. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-

10
Sabtu, 6 Oktober 2012

tokohnya seperti, Soren Kierkegaar (1813-1855 M) yang terkenal dengan


julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme, yang menyatakan bahwa
manusia tidak pernah hidup sebagai suatu aku umum, tetapi sebagai aku
individual yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam
sesuatu orang lain. Berbeda dengan pendapat Martin Heidegger (1889-
1976 M), yang mengatakan bahwa satu-satunya yang ada itu ialah
manusia, karena hanya manusialah yang dapat memahami dirinya sendiri.
Tokoh lainnya adalah, Jean Paul Sartre (1905-1980 M), yang mengatakan
bahwa manusia selalu menyangkal. Hakikat beradanya manusia
bukan entre (ada), melainkan a entre (akan atau sedang). Jadi,
agnostisisme adalah paham pengingkaran/penyangkalan terhadap
kemampuan manusia mengetahui hakikat benda, baik materi maupun
ruhani.

Bagaimanakah yang ada itu? (How is being?)


Apakah yang ada itu sebagai sesuatu yang tetap, abadi, atau berubah-
ubah? Dalam hal ini, Zeno (490-430 SM) menyatakan bahwa sesuatu itu
sebenarnya khayalan belaka. Pendapat ini dibantah oleh Bergson dan
Russel. Seperti yang dikatakan oleh Whitehead bahwa alam ini dinamis,
terus bergerak, dan merupakan struktur peristiwa yang mengalir terus
secara kreatif.
Di manakah yang ada itu? (Where is being?)
Aliran ini berpendapat bahwa yang ada itu berada dalam alam ide, adi
kodrati, universal, tetap abadi, dan abstrak. Sementara aliran materilisme
berpendapat sebaliknya, bahwa yang ada itu bersifat fisik, kodrati,
individual, berubah-ubah, dan riil.

Manfaat Mempelajari Ontologi


Ontologi yang merupakan salah satu kajian filsafat ilmu mempunyai
beberapa manfaat, di antaranya sebagai berikut:

11
Sabtu, 6 Oktober 2012

Membantu untuk mengembangkan dan mengkritisi berbagai bangunan


sistem pemikiran yang ada. Membantu memecahkan masalah pola relasi
antar berbagai eksisten dan eksistensi. Bisa mengeksplorasi secara
mendalam dan jauh pada berbagai ranah keilmuan maupun masalah, baik
itu sains hingga etika.
Dari penjelasan di atas, penyusun dapat menyimpulkan bahwa
ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan
kefilsafatan yang paling kuno.
Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti teori tentang
keberadaan sebagai keberadaan. Pada dasarnya, ontologi membicarakan
tentang hakikat dari sutu benda/sesuatu. Hakikat disini berarti kenyataan
yang sebenarnya (bukan kenyataan yang sementara, menipu, dan
berubah). Misalnya, pada model pemerintahan demokratis yang pada
umumnya menjunjung tinggi pendapat rakyat, ditemui tindakan sewenang-
wenang dan tidak menghargai pendapat rakyat. Keadaan yang seperti
inilah yang dinamakan keadaan sementara dan bukan hakiki. Justru yang
hakiki adalah model pemerintahan yang demokratis tersebut.
Dalam ontologi ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran,
yaitu monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme.
Monoisme adalah paham yang menganggap bahwa hakikat asalnya
sesuatu itu hanyalah satu. Asal sesuatu itu bisa berupa materi (air, udara)
maupun ruhani (spirit, ruh).
Dualisme adalah aliran yang berpendapat bahwa asal benda terdiri
dari dua hakikat (hakikat materi dan ruhani, hakikat benda dan ruh,
hakikat jasad dan spirit).
Pluralisme adalah paham yang mengatakan bahwa segala hal
merupakan kenyataan. Nihilisme adalah paham yang tidak mengakui
validitas alternatif yang positif.
Agnostisisme adalah paham yang mengingkari terhadap
kemampuan manusia dalam mengetahui hakikat benda.

12
Sabtu, 6 Oktober 2012

Jadi, dapat disimpulakan bahwa ontologi meliputi hakikat


kebenaran dan kenyataan yang sesuai dengan pengetahuan ilmiah, yang
tidak terlepas dari perspektif filsafat tentang apa dan bagaimana yang
ada itu. Adapun monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan
agnostisisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologi
yang pada akhirnya menentukan pendapat dan kenyakinan kita masing-
masing tentang apa dan bagaimana yang ada itu.

Daftar Pustaka

Ginting, Paham., & Situmorang, Syafrizal Helmi. Filsafat ilmu dan metode
riset. Medan: USU Press, 2008.

Kuntjojo, FILSAFAT ILMU. KEDIRI: UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI.


2009.

Susanto A. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2011 .

Nurrachmawati, Nita. ontologi dalam filsafat ilmu. 2011. (online),


(http://blog.uin-malang.ac.id/nita/2011/01/25/ontologi-dalam-filsafat-
ilmu/, diakses 4 Oktober 2012).

Kompasiana. ontologi. 2011. (online),


(http://umum.kompasiana.com/2010/01/24/ontologi/, diakses 5
oktober 2012).

13