Anda di halaman 1dari 13

PENGARUH CYBER PR DALAM CITRA PERUSAHAAN

OLEH

NAFSIAH

NPM : 14600006

JURUSAN PUBLIC RELATION

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS TAMA JAGAKARSA

TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih


lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas
kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ilmiah ini.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal


dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini.Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa


masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun
tata bahasanya.Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah ini dapat


memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Jakarta,
April 2017

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dengan bangkitnya pamor PR di Indonesia, terlebih dengan kekuatannya


bertambah jika dipadukan dengan kekuatan PR di media online.Internet dan
komunikasi teknologi merupakan media yg bisa membuat seluruh dunia
tersambung, sehingga bisa mendatangkan dampak sekaligus manfaat.
Public Relations terkait dengan sekelumit tugas.Di balik menjaga kualitas
hubungan yang baik dalam sutu perusahaan, dan selalu mengembangkan citra dan
reputasi perusahaan, PR harus selalu memilki ide-ide briliant dalam mengelola
aktifitas kehumasan agar selalu menarik. Sebut saja pembuatan press release yang
harus dibuat semenarik mungkin dengan tujuan agar dapat menghemat anggaran
pemberitaan kegitan kehumasan, sampai dengan acara-acara besar yang
melibatkan banyak warga masyarakat serta perusahaan-perusahaan lain yang
menyedot anggaran sangat besar. Untuk itu, menjadi seorang PR yang baik, harus
menghasilkan suatu manfaat yang berarti bagi perusahaan, dan efektif apabila
ditinjau dari segi biaya.

Era sosial media telah tiba. Suka tidak suka, mau tak mau, hal ini tentu
mempengaruhi cara kerja praktisi public relations (PR). Banyaknya jejaring
sosial itu membuat PR tak lagi hanya berkutat dengan urusan press release yang
mengedepankan kaidah bahasa formal.PR mesti dituntut lebih luwes untuk bisa
berkomunikasi dengan influencer atau khalayaknya di dunia maya.

Oleh karena itu, adalah cara yang sangat bijaksana dan cerdas untuk
membuat citra dan reputasi yang baik untuk sebuah perusahaan dengan
menggunakan cyber pr.
BAB II

ISI

E-PR adalah inisiatif PR yang menggunakan media internet sebagai sarana


publisitasnya atau disebut cyber PR. Pengertian Cyber PR sendiri berasal dari
kata: E adalah electronic sama halnya dengan E sebelum kata mail atau commerce
yang mengacu pada media elektronik internet. E-PR merupakan singkatan dari
bahasa Inggris, yaitu Electronic Public Relations yaitu yang artinya PR yang
menggunakan media internet sebagai media aktifitasnya. Di Indonesia lebih
popular dengan nama Cyber Public Relations.

Secara definitive, Cyber PR merupakanKegiatan kehumasan yang dilakukan di


dunia Internet. Seluruh kegiatan kehumasan dapat dilakukan didalam internet dari
mulai melakukan kegiatan publikasi sampai melakukan customer relations
management.E-PR adalah penerapan dari perangkat ICT (Information and
Communication Technologies) untuk keperluan PR.

Kegiatan-kegiatan cyber PR , antara lain :

1. Press Releases: Dengan online PR, press release dapat terkirim langsung
ke penyaji media (media outlets) pada cakupan regional, nasional maupun
internasional (tergantung sasaran yang diinginkan).
2. Expert Articles: adalah tulisan/ artikel (disebut sebagai white papers)
tentang sebuah topik yang berkaitan dengan produk perusahaan yang
dibuat oleh seorang ahli (limuwan/ peneliti) tanpa menyebut merek atau
produknya. Tulisan ini paling mudah diterbitkan karena tidak pernah
dikategorikan sebagai iklan. Beberapa penulis minta dibayar sehingga
perlu diperhitungkan sebagai biaya iklan.
3. Email Newsletters: merupakan gabungan isi yang informatif dan iklan
terselubung yang terkirim sebagai e-mail, atau bisa juga diperlakukan
sebagai spam (surat sampah yang mengganggu). Newsletter yang bisa
ditulis menggunakan format teks dan/ atau HTML ini bisa berupa artikel,
informasi tentang penjualan dan promosi, berita ringkat dan survey.
4. Blogs: dikenal juga sebagai web logs, yaitu jurnal online yang ditulis
oleh eksekutif perusahaan dalam gaya informal dan bernada percakapan
yang mengomunikasikan gagasan penulis tentang sebuah event dalam
industri dan di lingkungan perusahaan.
5. Webinars: merupakan singkatan dari Web Seminar yang bisa
ditayangkan langsung atau siaran tunda, dimuat dalam situs web, dan
dapat diputar ulang oleh pengunjung situs yang berminat. Webinar
menggunakan komputer dan saluran telepon untuk mengirimkan
presentasi PowerPoint, demo produk atau aplikasi web, dan rekaman
video.
6. Podcasts: merupakan strategi pemasaran online terbaru. Podcast adalah
rekaman suara sebuah siaran yang dapat didownload ke iPod dan MP3/
MP4 players.

Ardianto (2009: 152) menyatakan beberapa keuntungan yang dapat


diperoleh PR dalam menggunakan internet untuk meningkatkan citra instansi,
diantaranya :

Informasi cepat sampai pada publik;


Bagi PR, internet dapat berfungsi sebagai iklan, media, alat marketing,
sarana penyebaran informasi, dan promosi;
Siapapun dapat mengakses internet;
Tidak terbatas oleh ruang dan waktu;
Internet dapat membuka kesempatan melakukan hubungan komunikasi
dalam bidang pemasaran secara langsung.

Keunggulan e-PR:
1. Komunikasi yang terjadi konstan,dalam arti internet tidak pernah tidur
dengan target audiensnya diseluruh dunia mampu bekerja 24jam non stop.
2. Respon yang cepat, internet dapat merespon secara cepat dengan semua
permasalahan dan pertanyaan dari para prospek dari pelanggan.
3. Interaktif, dengan adanya internet para praktisi PR memperoleh feedback dari
pelanggan atau pengunjung website perusahaan. Sedangkan PR konvensional
feedbacknya dengan cara tatap muka langsung, dan berkomunikasi langsung.
4. Biaya hemat, dengan adanya internet ini, praktisi PR dan perusahaan tidak
harus mengeluarkan uang banyak, karena cukup dengan memberikan informasi
secara jelas melalui website, semua orang bisa melihatnya

Fokus utama E-PR:


1. Bisa memuat berita offline
2. Bisa dimaksimalkan untuk menggunakan penyampaian elektronik kepada
organisasi media, local, nasional dan internasional termasuk press release
serta dokumen-dokumen penunjang di web.
3. Agar produk atau bisnis kita disebut bagian editorial yang ada di situs web
atau enzine lainnya yang terkenal.
Fasilitas yang dapat digunakan:
1. Email
2. Kartu nama elektronik, E-Bussiness Card atau disebut juga Signature File.
3. Sekretaris pribadi yang disebut dengan Autoresponder atau mesin penjawab
otomatis.
4. Milis atau Mail List yaitu daftar alamat email dimana para anggota harus
mendaftar terlebih dahulu.
5. Publikasi Online, mempublikasikan perusahaan melalui enzine ( newsletter
electronic) dan menurut hasil survey 60% pengguna internet senang membaca
enzine tertentu sesuai dengan minat mereka. Dengan demikian enzine dapat
menigkatkan reputasi perusahaan.
6. Iklan Online yang dulu dikuasai banner tetapi kini cenderung menurun karena
mendapatkan sponsor iklan banner semakin sulit.

7.Media Relations melalui internet release sangat mudah dilakukan karena


para wartawan dan penulis memiliki alamat email memudahkan mereka
saling berkomunikasi.

Walaupun di dunia internet, namun fungsi dari semua kegiatan kehumasan


yang dilakukan adalah untuk membangun citra yang positif dimata masyarakat.
Pengertian Citra

Citra adalah bagaimana pihak lain memandang sebuah perusahaan, seseorang,


suatu komite atau suatu aktivitas. Tugas perusahaan dalam membentuk citranya
adalah dengan mengidentifikasi citra seperti apa yang ingin dibentuk di mata
publik atau masyarakatnya. Menurut Siswanto Sutojo yang dikutip dalam buku
Handbook of Public Relation (2011:63) citra perusahaan dianggap sebagai
persepsi masyarakat terhadap jati diri perusahaan atau organisasi. Menurut
Siswanto Sutojo manfaat citra perusahaan yang baik dan kuat yakni :

1. Daya saing jangka menengah dan panjang yang mantap.Perusahaan


berusaha memenangkan persaingan pasar dengan menyusun stategi
pemasaran taktis.

2. Menjadi perisai selama krisis. Sebagian besar masyarakat dapat


memahami atau memaafkan kesalahan yang dibuat perusahaan dengan
citra baik, yang menyebabkan mereka mengalami krisis.

3. Menjadi daya tarik eksekutif handal, yang mana eksekutif handal adalah
aset perusahaan.

4. Meningkatkan efektivitas strategi pemasaran

5. Menghemat biaya operasional karena citranya yang baik.

Cara untuk mempopulerkan citra agar sesuai dengan apa yang dikehendaki
perusahaan, dapat dilakukan dengan bertahap :

1. Membentuk persepsi segmen sasaran

Citra yang ingin dibentuk harus mencerminkan jati diri perusahaan yang
sebenarnya, tidak lebih dan tidak kurang.

2. Memelihara persepsi
Upaya mempertahankan citra dengan mempertahankan pelaksanaan program
periklanan dan PR sesuai dengan rencana perusahaan.

3. Mengubah persepsi segmen pasaran yang kurang menguntungkan

Perusahaan yang dikelola secara profesional akan berusaha keras mengubah


persepsi segmen sasaran yang tidak menguntungkan, dengan bebenah diri dari
dalam.

Menurut Siswanto Sutojo (2004:42) yang dikutip dalam buku Handbook of Public
Relation (Ardianto,2011:72) ada tiga jenis citra yang dapat ditonjolkan perusahaan
:

1. Citra eksklusif, yaitu citra yang dapat ditonjolkan pada perusahaan-


perusahaan besar. Yang dimaksud eksklusif adalah kemampuan
menyajikan berbagai macam manfaat terbaik kepada konsumen dan
pelanggan.

2. Citra inovatif, yaitu citra yang menonjol karena perusahaan tersebut


pandai menyajikan produk baru yang model dan desainnya tidak sama
dengan produk sejenis yang beredar di pasaran.

3. Citra murah meriah, yaitu citra yang ditonjolkan oleh perusahaan yang
mampu menyajikan produk dengan mutu yang baik, tapi harganya murah.

Jenis Jenis citra

Citra dapat dibagi menjadi 4 jenis menurut Frank Jefkins, dalam buku Essential of
Public Relations yang dikutip oleh Soemirat. Dalam kutipan tersebut Frank
Jefkins menuturkan jenis-jenis citra sebagai berikut:

1. the mirror image (cerminan citra), yaitu bagaimana dugaan (citra)


manajemen terhadap public eksternal dalam melihat perusahaannya.

2. The current image (citra masih hangat), yaitu citra yang terdapat pada
public eksternal, yang berdasarkan pengalaman atau menyangkut
miskinnya informasi dan pemahaman public eksternal. Citra ini bisa saja
bertentangan dengan mirror image.

3. The wish image (citra yang diinginkan), manajemen menginginkan


pencapaian prestasi tertentu. Citra ini diaplikasikan untuk sesuatu yang
baru sebelum public eksternal memperoleh informasi yang lengkap.

4. The multiple image (citra yang berlapis), yaitu sejumlah individu kantor
cabang atau perwakilan perusahaan lainnya dapat membentuk citra yang
belum tentu sesuai dengan keseragaman citra seluruh organisasi atau
perusahaan.

5. The multiple image (citra majemuk), yaitu banyaknya jumlah pegawai


(individu), cabang atau perwakilan dari sebuah perusahaan atau organisasi
dapat memunvulkan suatu citra yang belum tentu sama dengan citra
organisasi atau perusahaan secara keseluruhan. Variasi citra tersebut harus
ditekan seminimal mungkin dan citra perusahaan harus ditegakan secara
keseluruhan.

Peran citra

Organisasi atau perusahaan pasti memiliki nilai-nilai atau karakteristik unik yang
dingin dijaga.Hal ini sering dikenal dengan citra perusahaan, keberadaan citra
perusahaan bersumber dari pengalaman atau upaya komunikasi sehingga penilaian
maupun pengembangannya terjadi pada salah satu atau kedua hal tersebut. Upaya
perusahaan sebagai sumber informasi dan terbentuknya citra perusahaan sebagai
sumber informasi dan terbentuknya citra perusahaan memerlukan dorongan yang
kuat informan yang lengkap dimaksudnkan sebagai informasi yang dapat
menjawab kebutuhan dan keinginan obyek sasaran, Rhenaldi Kasali
mengemukakan pemahaman yang berasal dari suatu informasi yang tidak lengkap
menghasilkan citra yang tidak sempurna.

Menurut Shirley Harrison informasi yang lengkap mengenai citra perusahaan


meliputi empat elemen sebagai berikut:

1. personality

keseluruhan karakteristik perusahaan yang dipahami public sasaran seperti


perusahaan yang dapat dipercaya, perusahaan yang mempunyai tanggung jawab
sosial.

2. Reputation
Hal yang telah dilakukan perusahaan dan diyakini public sasaran berdasarkan
pengalaman sendiri maupun pihak lain seperti kinerja keamanan transaksi seluruh
bank.

3. Value

Nilai-nilai yang dimiliki suatu perusahaan dengan kata lain budaya perusahaan
seperti sikap manajemen yang perduli terhadap pelanggan, karyawan yang cepat
terhadap permintaan maupun keluhan pelanggan.

4. Corporate identity

Komponen komponen yang mempermudah pengenalan public sasaran terhadap


perusahaan seperti logo, warna dan slogan.

Proses Pembentukan Citra

Citra adalah kesan yang diperoleh seseorang berdasarkan pengetahuan dan


pengertian tentang fakta-fakta atau kenyataan (Soemirat dan Ardianto,
2007:115).Untuk mengetahui nilai citra perlu menelaah persepsi dan sikap
seseorang terhadap citra organisasi tersebut.Semua sikap bersumber pada
organisasi kognitif, pada informasi dan pengetahuan yang kita miliki.Citra
terbentuk berdasarkan pengetahuan dan informasi-informasi yang diterima
seseorang. Proses pembentukan citra dalam struktur kognitif yang dikuti
Danasaputra sebagai berikut :
Pengalaman Mengenai Stimulus

Stimulus Respon

Rangsangan Perilaku

Gambar 2.2.5 Model pembentukan Citra Soemirat dan Ardianto,2007:115

1. Stimulus : rangsangan (kesan lembaga yang diterima dari luar

untuk membentuk persepsi. Sensasi adalah fungsi alat indra dalam menerima
informasi dari langganan.

2. Persepsi : hasil pengamatan terhadap unsur lingkungan yang langsung


dikaitkan dengan suatu pemahaman, pembentukan makna pada stimulus
indrawi.

3. Kognisi : aspek pengetahuan yang berhubungan dengan kepercayaan, ide


dan konsep.
4. Motivasi : kecenderungan yang menetap untuk mencapai tujuan

tujuan tertentu, dan sedapat mungkin menjadi kondisi kepuasan maksimal bagi
individu setiap saat.

5. Sikap : hasil evaluasi negatif atau positif terhadap konsekuensinya


penggunaan suatu objek.

6. Tindakan : akibat atau respons individu sebagai organisasi

terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari dalam dirinya maupun


lingkungan.

7. Respons : tindakan-tindakan seseorang sebagai reaksi terhadap rangsangan


atau stimulus.

Pada saat stimulus (rangsangan) diberikan, maka masyarakat akan lanjut ke tahap
selanjutnya yakni melakukan persepsi dimana persepsi ini memberikan makna
terhadap rangsang berdasarkan pengalamannya mengenai objek. Selanjutnya akan
dilakukan kognisi, dimana ia mengerti akan rangsangan yang diberikan. Setelah
itu muncul dorongan untuk melakukan suatu kegiatan tertentu atau biasa disebut
dengan motif atau motivasi.Terakhir munculah sikap, yang merupakan
kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir dan terdapat perasaan mendalam
menghadapi objek, ide, situasi, dan nilai.

KASUS PT. Pertamina mengembalikan Citra positif

Konversi minyak tanah ke gas dimulai sejak tahun 2007 hingga


sekarang.Kegiatan konversi ini telah mampu diterima oleh sebagian besar
masyarakat Indonesia.Namun, dalam perkembangannya beberapa kasus telah
terjadi akibat tabung gas elpiji.Beberapa Tabung gas elpiji mengakibatkan
kecelakaan dan ledakan yang menimbulkan beberapa korban.Baik korban yang
mengalami luka ringan hingga luka berat sampai mengalami kerugian yang
berjumlah puluhan hingga ratusan juta rupiah. Kecelakaan yang terjadi di
sebabkan oleh beberapa faktor antara lain, akibat kelalaian dari pengguna dan
tabung yang mengalami kerusakan atau sudah tidak layak pakai.

Beberapa kecelakaan yang terjadi adalah dikarenakan kelalaian pemakaian, proses


perawatan dan kebocoran tabung gas yang diakibatkan oleh beberapa agen yang
melakukan kecurangan-kecurangan seperti yang telah banyak diberitakan di
media.
Public Relations mempunyai keterlibatan penuh untuk memperkuat komunikasi
dengan kalangan eksternal dan internal suatu instansi baik pemerintahan maupun
swasta. Begitu pula dengan Public Relations PT. Pertamina, harus selalu
dilibatkan dalam segala hal yang berhubungan dengan menjaga reputasi
perusahaan dimata khalayak internal pada umumnya, dan eksternal pada
khususnya, disesuaikan dengan ruang lingkup pekerjaan dan tanggung jawab
sebagai praktisi Public Relations.

Peranan Public Relations PT. Pertamina (Persero) adalah :

1. Sebagai Penasehat Ahli (Expert Prescriber)

Public Relations PT.Pertamina membantu mencarikan solusi dalam penyelesaian


masalah yang berhubungan dengan public. Misalnya dalam kasus ledakan elpiji,
Praktisi PR PT.Pertamina (Persero) BBM bekerja sama dengan divisi Gas
Domestik untuk menyelesaikan kasus ledakan gas elpiji yang terjadi.

2. Fasilitator Komunikasi (Communication Fasilitator)

Public Relations bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu


medengar apa yang menjadi keinginan dan harapan publik. Biasanya dilakukan
melalui contact pertamina maupun surat dari publik.

3. Fasilitator Pemecah Masalah (Problem Solving Process Fasilitator)

Public Relations bertindak sebagai membantu proses pemecahan masalah. Mulai


dari ide sampai pada proses pelaksanaan penyelesaian kasus.

Langkah langkah tersebut sebagai kontribusi PT. Pertamina (Persero) dalam


memberikan manfaat terhadap perusahaan dan publik, sesuai dengan visi
perusahaan, yaitu menjadi unit usaha terbaik, tanggung jawab, dan terpercaya.Visi
ini erat kaitannya dengan menjalin hubungan yang harmonis dengan publik sekitar
karena publik adalah bagian yang penting untuk menunjang kelangsungan suatu
perusahaan.Terutama adalah saat perusahaan mengalami suatu krisis dalam
mempertahankan citranya dimata masyarakat karena suatu kasus yang berkaitan
dengan produk dan hubungan perusahaan dengan publik secara langsung.Dalam
hal inilah praktisi Public Relations harus memberikan perannya secara maksimal
dalam menyelesaikan kasus tersebut agar citra perusahaan tetap terjaga.