Anda di halaman 1dari 41

1.

HUKUM SHALAT JUMAT [1]


Shalat Jumat merupakan kewajiban bagi setiap mukallaf (orang yang telah diberikan beban
untuk menjalankan kewajiban agama) dan aqil baligh sesuai dengan dalil yang menunjukkan
bahwa shalat Jumat wajib bagi setiap mukallaf, dengan ancaman yang sangat keras bagi orang
yang meninggalkannya [2], dan dengan himmah (tekad) Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
untuk membakar rumah orang-orang yang meninggalkannya, tidaklah ada hujjah yang lebih jelas
daripada perintah yang termaktub di dalam al-Qur-an yang mencakup setiap individu muslim, di
dalamnya diungkapkan:

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah [Al-Jumuah: 9]

Inilah argumentasi yang jelas.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Thariq bin Syihab, sesungguhnya Nabi Shallallahu
alaihi wa sallam bersabda:


:
) ( .

Shalat Jumat itu wajib bagi setiap muslim (dengan berjamaah)[3] kecuali kepada empat orang:
hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sedang sakit.
Hadits ini dishahihkan bukan hanya oleh satu Imam (ulama hadits).

2. IMAM BESAR
Adanya al-Imam al-Azham (pemimpin besar untuk seluruh umat Islam) bukan merupakan syarat
bagi diwajibkannya shalat Jumat, seandainya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan orang
yang menggantikannya di dalam memimpin shalat Jumat menjadi dalil bagi kewajiban adanya
imam besar, niscaya hal itu pun berlaku bagi shalat-shalat yang lainnya, karena shalat-shalat
tersebut pun dipimpin oleh beliau Shallallahu alaihi wa sallam pada zamannya dan oleh orang-
orang yang diperintah olehnya. Karena penyebabnya batal (tidak sah), maka hukum yang ada
karenanya pun batal.

Kesimpulan, syarat tersebut sama sekali tidak berlandaskan kepada ilmu, bahkan yang
mewajibkannya sama sekali tidak benar bahwa hal itu riwayat dari sebagian Salaf, apalagi dari
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, karena itu tidak ada manfaatnya memperpanjang masalah
tersebut.[4]

3. JUMLAH JAMAAH PADA SHALAT JUMAT


Shalat berjamaah sah dilakukan walaupun hanya dengan seorang (makmum) bersama seorang
imam, sedangkan shalat Jumat merupakan salah satu dari shalat-shalat wajib lainnya.
Barangsiapa yang mensyaratkan tambahan bilangan yang ada pada shalat berjamaah, maka ia
harus menunjukkan dalil pendapatnya itu, dan niscaya dia tidak akan mendapat-kan dalilnya.
Anehnya banyak sekali pendapat tentang bilangan tersebut hingga sampai lima belas pendapat,
dan tidak ada dalil yang dijadikan landasan oleh mereka kecuali satu pendapat saja.
Sesungguhnya shalat Jumat sama dengan jumlah pada shalat-shalat (berjamaah) yang lainnya.
Bagaimana tidak, sedangkan syarat hanya bisa tetap bila ada dalil yang secara khusus
menunjukkan bahwa suatu ibadah tidak sah kecuali dengan adanya syarat tersebut, penetapan
syarat seperti ini (jumlah tertentu) sama sekali tidak berlandaskan atas sebuah dalil, terlebih lagi
sikap tersebut merupakan kelancangan yang teramat sangat dan merupakan keberanian untuk
berbicara atas Nama Allah dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam di dalam syariat-Nya.

Saya senantiasa merasa aneh kenapa hal itu bisa terjadi di kalangan para penulis, bahkan
dicantum-kan di dalam buku-buku bimbingan shalat, mereka memerintahkan orang awam untuk
meyakini dan mengamalkannya, padahal pendapat tersebut ada di dalam jurang kehancuran,
pendapat tersebut tidak khusus ada di dalam satu madzhab dari berbagai madzhab, juga bukan
terjadi hanya pada satu daerah saja. Akan tetapi terjadi secara turun-menurun, seakan-akan
pendapat tersebut diambil dari Kitabullah! Padahal ia hanya merupakan hadits khayalan belaka!
Aduhai! Apa bedanya ibadah ini dengan ibadah yang lainnya? Bisakah syarat dan rukun-
rukunnya serta wajibnya menjadi tetap hanya dengan dalil, yang jika disodorkan kepada para
peneliti niscaya mereka tidak mungkin menjadikannya sebagai Sunnah, apalagi menjadikannya
wajib apalagi syarat?

Yang benar adalah sesungguhnya shalat Jumat merupakan kewajiban dari Allah Subhanahu wa
Tala yang merupa-kan syiar di antara syiar-syiar Islam dan merupakan salah satu bentuk
shalat dari berbagai macam shalat, maka barangsiapa menganggap adanya syarat tertentu yang
berbeda dengan shalat lainnya, maka ucapannya tidak akan didengar (diterima) kecuali jika
berlandas-kan atas dalil.

Jika pada suatu tempat hanya ada dua orang, maka salah satu di antara keduanya berdiri
menyampaikan khutbah, sedangkan yang lainnya mendengar-kan, kemudian mereka berdua
melakukan shalat, [dengan itu berarti mereka berdua telah melakukan][5] shalat Jumat.

Kesimpulan, semua tempat layak untuk melaksanakan kewajiban ini [6], jika di dalamnya ada
dua orang muslim sebagaimana shalat berjamaah yang lainnya. Bahkan jika ada yang
mengatakan bahwa semua dalil yang menunjukkan sahnya shalat sendirian mencakup sahnya
shalat Jumat, maka pendapat itu pun tidak jauh dari kebenaran.[7]

4. BANYAKNYA TEMPAT PELAKSANAAN SHALAT JUMAT YANG DILAKUKAN PADA


SATU NEGERI (WILAYAH).
Shalat Jumat sama saja dengan shalat yang lainnya, bisa dilakukan di beberapa tempat di satu
daerah, sebagaimana shalat berjamaah lainnya yang dilakukan pada tempat yang berbeda pada
satu daerah. Barangsiapa meyakini pendapat lainnya, maka pendapat tersebut hanya bersandarkan
atas akal semata. Pendapat tersebut sama sekali tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, seandainya
keyakinannya berdasarkan atas sebuah riwayat, maka tidak ada satu riwayat pun yang
mendukungnya.

Kesimpulan, sesungguhnya larangan mendirikan dua Jumat pada satu wilayah, walaupun dia
mengatakan bahwa di antara syarat sah Jumat adalah tidak adanya shalat Jumat lain pada satu
daerah, maka saya katakan dari manakah pendapat ini berasal? Dan apakah ada dalil yang
menjadi landasan bagi pendapat tersebut? Jika mereka hanya berlandaskan atas tidak adanya izin
dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk mendirikan Jumat selain di masjid Madinah
dan perkampungan yang ada di sekitarnya. Maka sesungguhnya hal ini -selain tidak layak untuk
dijadikan dalil akan adanya syarat yang mengandung kebathilan, bahkan atas kewajiban yang ada
di bawahnya- harus diterapkan pula pada shalat-shalat wajib yang lainnya [8], maka tidaklah sah
melakukan shalat Jumat pada satu tempat yang belum pernah diizinkan oleh Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam untuk melakukannya, ini jelas merupakan dalil paling bathil.

Selanjutnya, seandainya batalnya satu Jumat yang lain dari dua tempat pelaksanaan Jumat [9]
ketika Anda mengetahui karena adanya sesuatu penghalang, maka apakah penghalang tersebut?
Karena pada dasar-nya adalah sahnya suatu peribadatan di mana saja ia lakukan dan kapan saja
kecuali adanya dalil yang menunjukkan larangan, sedangkan di dalam masalah ini sama sekali
tidak ada larangan.[10]

5. APAKAH YANG HARUS DILAKUKAN OLEH ORANG YANG TERTINGGAL SHALAT


JUMAT?
Shalat Jumat merupakan kewajiban yang ditetapkan oleh Allah kepada hamba-Nya, seandainya
seseorang tertinggal melakukannya karena alasan yang benar, maka hendaknya ada satu dalil
yang menunjukkan bahwa ia wajib menggantikannya dengan shalat Zhuhur. Diriwayatkan di
dalam hadits Ibnu Masud Radhiyallahu anhu:

Maka barangsiapa tertinggal dua rakaat (Jumat), maka ia harus menggantikannya dengan
melakukan empat rakaat. [11]

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang ter-tinggal dengan tidak melakukan shalat Jumat,
maka ia harus menggantikannya dengan melakukan shalat Zhuhur.
Adapun yang diungkapkan oleh para ulama ahli furu (fiqih) berupa faidah perbedaan di dalam
masalah ini, sama sekali tidak ada dasarnya.
6. APAKAH UKURAN YANG MENUNJUKKAN BAHWA SHALAT JUMAT TELAH
DILAKUKAN
Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang bunyi lafazhnya:

Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dalam shalat Jumat (dengan berjamaah), maka
sesungguhnya ia telah mendapatkan shalat Jumat.

Hadits ini memiliki dua belas jalan, al-Hakim menshahihkan tiga jalan di antaranya. Beliau
berkata di dalam kitab al-Badrul Muniir, Tiga jalan ini merupakan jalan yang paling baik bagi
hadits tersebut sedangkan yang lainnya lemah.

Diriwayatkan pula oleh an-Nasa-i, Ibnu Majah, dan ad-Daraqutni dari hadits Ibnu Umar
Radhiyallahu anhuma, baginya beberapa jalan. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata di
dalam kitabnya Buluughul Maraam, Sanadnya shahih, namun Abu Hatim [lebih memperkuat]
[12] untuk menjadikannya sebagai hadits Mursal. Semua hadits ini layak untuk dijadikan hujjah.
[13]

[Disalin dari kitab Al-Ajwibah an-Naafiah an As-aalah Lajnah Masjidil Jaamiah, Penulis
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Edisi Indonesia APAKAH ADZAN PADA SHALAT
JUMAT SATU KALI ATAU DUA KALI? Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU
KATSIR Bogor]
_______
Footnote
[1]. Judul ini dan berikutnya bukan dari penulis (Shiddiq Hasan Khan), akan tetapi saya sendiri
yang membuatnya (al-Albani).

[2]. Komentar saya (Syaikh al-Albani): Telah tetap dalam as-Shahiihain semisal ancaman ini bagi
orang-orang yang meninggalkan shalat berjamaah, karena shalat jamaah hukumnya adalah
wajib ain (wajib bagi setiap individu muslim), inilah yang paling kuat di dalam madzhab Hanafi
dan yang lainnya, karena itu wajib diperhatikan dan tidak boleh bermalas-malasan di dalam
melakukannya.

[3]. Tambahan ini tidak terdapat dalam kitab asli (al-Mauizhah), padahal lafazh tersebut ada di
dalam Sunan Abi Dawud itu sendiri (no. 1067), demikian pula penulis menyebutkannya di dalam
kitab ar-Raudhah (I/134) dari jalan Abu Dawud dengan tambahan ini, dan Anda akan mengetahui
pentingnya tambahan tersebut di dalam masalah yang akan dibahas.

[5]. Komentar saya: Dari penjelasan di muka, anda akan mengetahui kedudukan syarat ini di
dalam shalat Id juga

[6]. Tambahan dari teks asli yang dibutuhkan berdasarkan redaksi.


Komentar saya: Di antara tempat-tempat ini adalah perkotaan, perkampungan, reruntuhan kota,
tempat pelesir pada musim panas, dan tempat rekreasi.
Ibnu Abi Syaibah t telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu

: .

Kaum muslimin pernah menulis surat kepada Umar menanyakan tentang shalat Jumat? Lalu
beliau menulis surat kepada mereka (yang isinya): Lakukanlah shalat Jumat di mana saja kalian
berada.

Sanad hadits ini shahih, diriwayatkan pula dari Imam Malik, beliau berkata:

J .

Dahulu para Sahabat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam ada di sekitar perairan ini, antara
Makkah dan Madinah mereka melakukan shalat Jumat.

[7]. Komentar saya: Di dalam pendapat ini ada sesuatu hal yang layak untuk diperhatikan bagi
orang yang benar-benar mencermati sabda Rasulullah j: Dengan berjamaah, di dalam hadits
Thariq bin Syihab yang diungkapkan terdahulu di dalam masalah pertama. Masalah ini pernah
diteliti oleh penulis sendiri di dalam kitabnya yang lain ar-Raudhah (hal. 134) , setelah beliau
mengungkapkan perkataannya yang diungkapkan di atas, beliau mengomentarinya lagi dengan
ungkapan, Seandainya tidak ada hadits Thariq bin Syihab yang baru saja saya sebutkan dengan
pembatasan kewajiban atas setiap muslim secara berjamaah , dan kalau bukan karena tidak
adanya riwayat yang menyatakan bahwa pada zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
pernah dilakukan secara sendiri-sendiri, niscaya shalat tersebut sah dilakukan dengan sendiri-
sendiri seperti shalat fardhu yang lainnya.

Ini adalah nash dari beliau yang menyatakan bahwa shalat Jumat tidak sah dilakukan dengan
sendiri-sendiri dengan landasan hadits Thariq bin Syihab. Inilah pendapat yang benar. Saya kira
tidak adanya kecermatan penulis di dalam buku yang pertama karena sebab-sebab yang telah saya
sebutkan, yaitu tidak adanya kalimat Dilakukan dengan berjamaah pada hadits. Karena itu
tidak ada tulisan yang mengingatkan beliau di dalam kitab itu, tidak pula beliau mengingatnya.
Wallaahu alam.

Kemudian saya melihat ash-Shanani menuturkan dalam kitab Subulus Salaam (II/74),
Sesungguhnya shalat Jumat tidak sah kecuali dilakukan dengan berjamaah menurut
kesepakatan para ulama.

[8]. Komentar saya: Demikian pula shalat Id, bahkan lebih kuat lagi, dengan alasan bahwa
Rasulullah j tidak pernah melakukan shalat Id di Madinah kecuali di satu tempat saja, yaitu
sebuah lapangan, tetapi sungguh pun demikian mereka tidak mengatakan larangan melaksanakan
shalat Id pada tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu dan wilayah!

[9]. Komentar saya: Yang masyhur di lisan kebanyakan orang pada zaman sekarang ini adalah
ungkapan, Sesungguhnya shalat Jumat hanya sah bagi shalat Jumat yang pertama di satu
tempat saja, maka ungkapan ini sama sekali tidak ada dasarnya di dalam as-Sunnah, dan
bukanlah sebuah hadits. Ia hanyalah pendapat sebagian ulama asy-Syafiiyyah. Sehingga orang
yang tidak memiliki ilmu di bidang hadits menyangkanya sebagai hadits Nabi!! Jika Anda
mengetahui landasan orang yang mengatakan larangan berbilangnya pelaksanaan shalat Jumat
pada satu waktu di satu wilayah, maka kala itu Anda akan tahu bagaimana hukum melakukan
shalat Zhuhur setelah Jumat yang sering dilakukan oleh sebagian orang di sebagian masjid!

[10]. Komentar saya: Ini benar, hanya saja seperti yang telah diketahui bahwa Nabi Shallallahu
alaihi wa sallam membedakan praktek shalat Jumat dengan yang lainnya, karena telah tetap di
dalam satu riwayat bahwa shalat berjamaah didirikan di beberapa masjid di Madinah. Di antara
dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa Muadz bin Jabal Radhiyallahu anhu
melakukan shalat Isya di belakang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau pergi kepada
kaumnya dan memimpin shalat mereka, shalat itu sunnah baginya dan wajib bagi kaumnya,
adapun shalat Jumat sama sekali tidak berbilang tempat pelaksanaannya waktu itu, bahkan
jamaah masjid yang lainnya datang ke masjid beliau Shallalllahu alaihi wa sallam dan
melaksanakan shalat Jumat di sana. Sikap Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang
membedakan praktek kedua shalat tersebut sama sekali tidaklah sia-sia, bahkan merupakan hal
yang perlu dicermati dengan seksama, hal tersebut walau-pun tidak menunjukkan hukum atas
syarat yang telah dibantah oleh penulis dalam penafiannya, maka sekurang-kurangnya hal ini
merupakan sebuah amal yang menyelisihi as-Sunnah bila terdapat beberapa tempat pelaksanaan
shalat Jumat jika tidak bersifat darurat. Jika demikian adanya, maka hendaknya diusahakan agar
tidak memperbanyak tempat pelaksanaan shalat Jumat pada satu wilayah, dan hendaklah
berusaha semaksimal mungkin untuk menyatukan jamaah sebagai per-wujudan mengikuti Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabat yang ada setelah-nya, dengan demikian
terwujudlah hikmah dari pelaksanaan shalat Jumat secara sempurna dan bisa meleburkan
perpecahan yang diakibatkan dari pelaksanaannya di berbagai masjid; besar atau pun kecil,
bahkan sebagian masjid hampir saja ber-dampingan, ini adalah sebuah kenyataan yang tidak
mungkin dikatakan oleh orang yang masih memiliki indera penciuman fikih yang benar.

[11]. Komentar saya: Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf
(I/126/1), ath-Thabrani di dalam kitab al-Kabiir (III/38/2) dengan lafazh miliknya dari beberapa
jalan dari Abu al-Ahwash dari Ibnu Masud, sebagian jalannya shahih dan dihasankan oleh al-
Haitsami di dalam kitab al-Majma (II/192), saya kira alasan penulis menjadikan hadits ini
sebagai dalil padahal hadits ini mauquf adalah karena ia sama sekali tidak mengetahui adanya
Sahabat yang menyelisihi-nya, hadits ini diperkuat oleh hadits Abu Hurairah yang akan
diungkapkan, diperkuat pula oleh satu hadits yang diungkap-kan di dalam kitab al-Mushannaf
(I/206/1) dengan sanad yang shahih dari Abdurrahman bin Abu Dzuaib, beliau berkata:

Aku keluar menuju masjid bersama az-Zubair dengan terlambat pada hari Jumat, lalu beliau
melakukan shalat Dzuhur sebanyak empat rakaat.

Abdurrahman yang ada di dalam sanad atsar ini adalah Ibnu Abdillah bin Abi Dzuaib, Ibnu
Hibban menyebutkannya dalam kitab ats-Tsiqaat (VI/122), beliau berkata: Ia adalah seorang
yatim yang diasuh oleh az-Zubair bin al-Awwam.
Hadits Ibnu Masud memberikan isyarat bahwa hukum asal-nya adalah shalat Zhuhur, dan itulah
yang wajib dilaksanakan bagi orang yang tertinggal shalat Jumat. Pendapat ini diperkuat dengan
beberapa alasan:

Pertama, sebagaimana dimaklumi bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan para
Sahabatnya melakukan shalat Zhuhur pada hari Jumat ketika beliau berada dalam safar
(perjalanan), akan tetapi mereka melakukannya secara qashar, seandainya shalat yang dilakukan
pada hari Jumat asalnya adalah shalat Jumat, niscaya beliau akan melakukannya walaupun ada
di dalam sebuah safar (perjalanan).

Kedua, Abdullah bin Madan meriwayatkan dari neneknya, dia berkata bahwa Abdullah bin
Masud berkata kepada kami:

Jika kalian melakukan shalat Jumat beserta imam, maka laku-kanlah seperti shalatnya, dan jika
kalian melakukannya di rumah kalian, maka lakukanlah dengan empat rakaat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (I/207/2), dan sanadnya shahih kepada nenek Ibnu Madan,
adapun dia, aku tidak mengenalnya. Yang jelas dia adalah seorang Tabiin dan bukan Sahabat.
Akan tetapi hadits ini diperkuat oleh riwayat dari al-Hasan tentang seorang wanita yang hadir di
dalam masjid pada hari Jumat bahwa ia cukup dengan melakukan shalat seperti shalatnya imam.
Di dalam riwayat lain, beliau berkata:


:

.

Para wanita pada zaman Nabi keluar bersama Nabi j, dan dikatakan kepada mereka, Janganlah
kalian keluar kecuali tafalaat, yakni tidak memakai wewangian sama sekali.

Sanad hadits ini shahih.


Sedangkan di dalam riwayat lain dari jalan Asyats dari al-Hasan, beliau berkata:

Dahulu para wanita Muhajirin melakukan shalat Jumat bersama Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam, kemudian mereka meninggalkan shalat Zhuhur, karena merasa cukup dengan shalat
Jumat.

Komentar saya: Barangsiapa berpendapat bahwa hukum asal shalat pada hari Jumat adalah
shalat Jumat dan orang yang ketinggalan melakukannya atau orang yang tidak wajib atasnya
shalat Jumat -seperti orang yang sedang dalam perjalanan dan wanita-, maka wajib baginya
hanya melakukan dua rakaat shalat Jumat, sungguh orang yang berpendapat demikian telah
menyalahi nash tanpa alasan. Kemudian saya melihat ash-Shanani menuturkan (II/74) seperti itu
dan sesungguhnya orang yang ketinggalan dan tidak melakukan shalat Jumat, maka ia harus
melakukan shalat Zhuhur menurut kesepakatan para ulama, karena ia adalah penggantinya, dan
inilah pendapat yang disepakati (ijma). Demikianlah yang beliau ucapkan, dan kami telah
mentahqiqnya di dalam risalah tersendiri.

[12]. Pada naskah asli (dan menetapkannya), ini adalah sebuah kesalahan yang telah saya
perbaiki dari kitab Buluughul Maraam.
[13]. Maksud ungkapan penulis tersebut adalah sebagai bantahan bagi para ulama -mereka adalah
al-Hadawiyah- yang menyata-kan bahwa mengikuti khutbah merupakan syarat, yang tanpa-nya
shalat Jumat menjadi tidak sah. Hadits ini merupakan hujjah yang mematahkan pendapat mereka
sebagaimana diungkapkan oleh ash-Shanani dalam kitabnya, Subulus Salaam. Adapun yang
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (I/126/1) dari Yahya bin Abi Katsir, beliau berkata,
Diriwayatkan kepadaku dari Umar bin al-Khaththab, sesungguhnya ia berkata:

Sesungguhnya khutbah itu sebanding dengan dua rakaat, maka barangsiapa tidak mendapati
khutbah, hendaknya ia melakukan shalat sebanyak empat rakaat.

Riwayat ini tidak shahih, karena terputusnya jalan antara Yahya bin Abi Katsir dengan Umar.

Sumber: https://almanhaj.or.id/3287-hukum-shalat-jumat-apa-yang-harus-dilakukan-oleh-orang-
yang-tertinggal-shalat-jumat.html

1. Mengapa umat muslim melaksanakan


salat Jumat ? Bagaimana jika ditinggalkan?

Shalat jumat adalah sebuah kewajiban bagi ummat Islam, khususnya laki-laki
dewasa. Kewajiban ini dituangkan di dalam firman Allah; Hai orang-orang beriman,
apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kalian kepada
mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika
kamu mengetahui.( Al-Jumuah: 9)
Adapun kewajiban itu bagi kaum muslim laki-laki berdasarkan kepada hadis nabi;
Dari Thariq bin Syihab ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, Shalat Jumat itu adalah
kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4
orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit. (HR Abu Daud)
Dalil-dalil tersebut menunjukkan kewajiban melakukan shalat jumat bagi lelaki
muslim. Jika kewajiban itu ditinggalkan, maka ia mendapatkan dosa besar.

Barangsiapa meninggalkan shalat jumat tiga kali tanpa udzur dan tanpa sebab
(yang syari) maka Allah akan mengunci mata hatinya (HR Malik) Barangsiapa
meninggalkan shalat jumat tiga kali karena meremehkannya maka Allah akan
mengunci mata hatinya (HR at-Tirmidzi)

2. Bagaimana hukumnya mengantuk ketika


khutbah berlangsung?
ketika mendengarkan khutbah Jumat, merupakan salah satu kesalahan besar yang dianggap
lumrah dalam kegiatan ibadah kaum muslimin. Layaknya tidak mungkin lagi ada khutbah tanpa
makmum yang tertidur. Seolah khutbah Jumat adalah kesempatan paling tepat untuk tidur.
Sampai ada pameo yang menyatakan, bagi penderita insomnia yang sulit tidur, bisa diobati
dengan mendengarkan khutbah Jumat. Kita ucapkan, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiun.
Butuh perjuangan lebih panjang, untuk bisa mengobati penyakit ini. Menumbuhkan kesadaran
umat untuk bisa memahami arti penting nasehat dalam khutbah Jumat.

Bisa jadi, ini sebab utama mengapa umumnya kaum muslimin sulit untuk menjadi umat yang
terdidik, meskipun setiap pekan mereka mendengarkan ceramah dan khutbah.

Berikut beberapa dalil yang menunjukkan celaan tentang fenomena ini:

Pertama, Allah perintahkan kaum muslimin untuk perhatian dengan nasehat


Allah berfirman,

Apabila dibacakan Alquran, dengarkanlah dan diamlah, agar kalian mendapatkan rahmat.
(QS. Al-Araf: 204)

Diriwayatkan dari Aisyah, Said bin Jubair, Atha, Mujahid, Amr bin Dinar dan beberapa ulama
lainnya, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan perintah untuk diam dalam rangka
mendengarkan khutbah Jumat (Zadul Masir, 2:183).

Perintah diam ketika mendengarkan khutbah merupakan perintah untuk memperhatikan khutbah
dengan seksama. Karena itulah, sebagian ulama menjadikan ini sebagai dalil larangan untuk tidur
dan lalai ketika mendengarkan khutbah.

Kedua, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan berbagai adab ketika Jumatan,
agar makmum bisa konsentrasi mendengarkan khutbah. Diantaranya,

a. Larangan duduk sambil memeluk lutut

Hadis dari Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu,

Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang duduk memeluk lutut pada hari ketika imam sedang
berkhutbah. (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dihasankan al-Albani).

Ketika menyebutkan hadis ini, an-Nawawi mengutip keterangan al-Khithabi:

Perbuatan ini dilarang, karena ini bisa menyebabkan ngantuk, sehingga bisa jadi wudhunya
batal, dan terhalangi mendengarkan khutbah. (al-Majmu, 4:592)

b. Perintah untuk berpindah ketika ngantuk

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Apabila kalian ngantuk pada hari Jumat, maka berpindahlah dari tempat duduknya. (HR. Abu
Daud, Turmudzi dan dishahihkan al-Albani).

Ketiga, kebiasaan masyarakat dan orang sholeh masa silam, mereka mencela keras orang yang
tidur ketika mendengarkan khutbah Jumat.

Dari Ibnu Aun, bahwa Muhammad bin Sirin (ulama tabiin) menceritakan,

Mereka (para sahabat) sangat membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah.
Mereka mencela dengan celaan yang keras.

Ibnu Aun mengatakan, Kemudian di kesempatan yang lain, saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin.
Beliau pun bertanya, Apa komentar sahabat tentang mereka? Ibn Sirin mengatakan,

Mereka berkomentar, orang yang tidur ketika mendengarkan khutbah seperti pasukan perang
yang gagal. Artinya, tidak mendapatkan ghanimah sedikitpun. (Tafsir al-Qurthubi, 18:117)
Sungguh jauh berbeda kebiasaan masyarakat di zaman kita dengan mereka. Tidur ketika
mendengarkan khutbah dianggap tindakan yang menyebabkan pelakunya layak untuk dicela.
Semantara bagi masyarakat kita, semacam ini dianggap sebagai hal yang biasa, tanpa ada
perasaan bersalah dan menyesalinya.

Apa yang Harus Dilakukan Agar Tidak Ngantuk?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari ngantuk dan tidur ketika
mendengarkan khutbah:

Pertama, niatkan untuk mendapatkan ilmu.

Jadikan kehadiran kita ketika Jumatan sebagai sarana untuk mendapatkan tambahan ilmu. Kita
berprinsip, seusai khutbah, harus ada hal baru yang bisa dicatat. Niatkan hal ini dari sejak
berangkat, semoga menjadi tambahan pahala.

Dengan prinsip ini, jumtan kita tidak hanya menjadi rutinitas tak bermakna. Namun betul-betul
untuk dzikrullah dan mendapatkan nasehat. Kita akan lebih bisa konsentrasi, menatap khatib
dengan seksama, dan menananmkan isi khutbah yang baik ke dalam jiwa. Kita bisa tiru
bagaimana sikap sahabat yang memfokuskan pandangannya kepada Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam ketika mendengarkan khutbah.

Kedua, jangan lupa mandi.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk mandi ketika hendak
bernagkat Jumatan. Beliau bersabda,

Mandi pada hari Jumat, wajib bagi setiap orang yang sudah baligh. (HR. Bukhari dan
Muslim).

Dengan mandi, kondisi anda akan lebih segar, dan tidak berbau ngantuk.

Ketiga, pindah tempat ketika ngantuk

Seperti yang disarankan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam hadis yang telah kita
bahas sebelumnya, Apabila kalian ngantuk pada hari Jumat, maka berpindahlah dari tempat
duduknya.

Sikap semacam ini, mungkin masih dianggap tabu oleh masyarakat kita. Karena itu, butuh
keberanian mental untuk memulainya. Sebagai bentuk perjuangan anda melawan ngantuk.

Keempat, bangunkan orang yang ngantuk di samping Anda.

Ini sebagai bentuk kepedulian anda kepada sesama. Namun ini harus dilakukan tanpa suara.
Artinya, anda bangunkan hanya dengan gerakan tanpa ucapan.

Imam Ibnu Baz pernah ditanya tentang hukum membangunkan orang yang tidur ketika
mendengarkan khutbah. Belaiu menjelaskan,

) :
( ..

Dianjurkan untuk membangunkan mereka dengan gerakan, tanpa ucapan. Karena berbicara
ketika berkhutbah tidak dibolehkan. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
Apabila kamu berbicara kepada sampingmu Diam, pada hari Jumat dan imam sedang
berkhutbah, berarti kamu telah berbuat sia-sia (Muttafaq alaihi). [www.binbaz.org]

Diantara dalil yang menunjukkan bolehnya mengingatkan dengan gerakan tanpa suara adalah
sikap Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, seperti yang diceritakan oleh Nafi,

Bahwa Abdullah bin Umar pernah melihat dua orang saling ngobrol ketika imam sedang
berkhutbah di hari Jumat. Kemudian beliau melempar keduanya dengan kerikil agar mereka
diam. (HR. Malik dalam al-Muwatha, 346).

Ibnu Abdil Bar rahimahullah mengatakan,

Keterangan ini memberi pelajaran bagaimana cara mengingkari orang yang ngobrol dengan
benar. Karena tidak boleh mengingkari obrolan keduanya dengan ucapan, di waktu tidak boleh
berbicara. (al-Istidzkar, 2:23)

Kelima, nasehat untuk khatib

Kepada para imam, para khatib, anda perlu menyadari bahwa jamaah sulit untuk diajak
konsentrasi mendengarkan khutbah lebih dari 20 menit. Artinya, sebagian besar apa yang anda
sampaikan, tidak mereka respon dengan baik. Padahal anda telah siapkan konsep, anda telah
teriak-teriak, dan dst. Namun sayang, khutbah anda ditinggal tidur.

Karena itu, miliki prinsip, khutbahku pendek, khutbahku isinya sesuatu yang penting dan ada
tamabahan ilmu baru yang bermanfaat bagi jamaah, dan hindari terlalu panjang yang
membosankan.

Seperti inilah yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Khutbah beliau ringkas, dan
shalatnya lebih panjang.

Dari jabir bin Samurah radhiyallahu anhu, beliau mengatakan,

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak memperlama khutbahnya di hari Jumat. Apa yang
beliau sampaikan hanya nasehat ringkas. (HR. Abu Daud dan dishahihkan al-Albani).

Dengan khutbah yang isinya menarik, meskipun ringkas, akan meringankan jamaah dan membuat
khutbah anda tidak ditinggal tidur.

Sumber: https://konsultasisyariah.com/16756-hukum-tidur-ketika-mendengarkan-khutbah-
jumat.html

3. Bagaimana jika ada orang perempuan


mengikuti salat Jumat?
Beberapa waktu yang lalu, saat penulis sedang menjalankan tugas dari kampus yaitu Kuliah
Kerja Nyata selama +35 hari di dusun Pagutan, desa Purwoharjo, kecamatan Samigaluh,
kabupaten Kulonprogo. Daerah tersebut dan sekitarnya penulis dapati saat melaksanakan shalat
Jumat banyak jamaah perempuan yang melaksanakan atau ikut serta shalat Jumat. Bahkan
jamaah perempuan lebih banyak dari pada jamaah laki-laki. Pada kesempatan lain, ada jamaah
menanyakan soal hukum boleh tidaknya bagi perempuan shalat Jumat. Karena kedangkalan ilmu
penulis, awalnya masih menganggap aneh kasus ini tapi akhirnya penulis menemukan
jawabannya.

Tidak berhenti sampai disini, ada kasus yang lebih menggemparkan dunia Islam masih ingat
dengan Amina Wadud? Itu tuh, wanita liberal yang menciptakan sensasi pada 2005 dengan
menjadi imam shalat Jumat di gereja Katedral di AS. Yang nyeleneh lagi, makmum yang ikut-
ikutan shalat di belakangnya tidak hanya kaum perempuan, tapi banyak juga yang laki-laki. Tentu
saja ibadah shalat dengan makmum campur-aduk alias gado-gado ini menimbulkan kecaman
dunia Islam.

Tak cukup sampai di situ, tiga tahun kemudian, tokoh kebanggaan kaum liberal yang juga
profesor studi Islam di Virginia Commonwealth University ini, kembali berulah. Wadud didapuk
sebagai imam shalat di Pusat Pendidikan Muslim di Oxford, Inggris pada 2008. Juga dengan
makmum campur-aduk, laki-laki dan perempuan. Hebatnya lagi, bak khatib Jumat beneran, si
Wadud juga memberikan khutbah singkat sebelum shalat dua rakaat.[1] Beragam kecaman dari
ulama Islam dunia menampar muka Wadud, namun ia tak ambil pusing.

Tulisan ringan ini, merupakan jawaban dari persoalan dan pertanyaan yang pernah dilontarkan
kepada penulis. Pembahasan ini lebih khusus mengenai seutas hukum shalat Jumat bagi
perempuan yang diambil dari beberapa sumber. Sebenarnya kajian mengenai hukum shalat
Jumat bagi perempuan sudah dikaji dalam literatur kajian Islam. Namun penulis hanya
memaparkan kembali dengan bahasa yang sederhana.

Dalil Shalat Jumat

Perintah untuk melaksanakan shalat Jumat ini terdapat dalam al-Qurn surat al-Jumuah [62]: 9,
Allh berfirman,

9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.[2] yang demikian itu
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS al-Jumuah [62]: 9)

Dalam hadits disebutkan, Raslullh shallallhu alaihi wa sallam bersabda, Shalat Jumat itu
adalah fardhu bagi setiap orang Muslim kecuali 4, yaitu orang sakit, hamba sahaya, orang
musafir dan wanita. (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain juga di sebutkan, hadits dari Thariq bin Syihab dari Nabi shallallhu alaihi
wa sallam,

Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi shallallhu alaihi wa sallam, beliau bersabda, Jumat itu
wajib atas setiap Muslim dengan berjamaah, kecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya,
perempuan, anak-anak dan orang sakit. Abu Daud berkata, Thariq bin Syihab benar-benar
melihat Nabi shallallhu alaihi wa sallam, namun belum pernah mendengar sesuatu pun dari
beliau. (HR Abu Dawud, No. 1067)[3]

Tidak wajibnya shalat jumat bagi beberapa orang yang telah disebutkan hadits di atas, kalau
dilihat lebih jauh ada dalil yang mendukung tidak wajibnya shalat Jumat bagi perempuan adalah
hadits Raslullh shallallhu alaihi wa Sallam yang menunjukkan keutamaan shalat di rumah
bagi perempuan dibanding shalatnya di masjid (yang artinya), Shalatnya salah seorang dari
kalian di makhdanya (kamar khusus yang dipergunakan untuk menyimpan barang berharga)
lebih utama daripada shalatnya di kamarnya. Dan shalat di kamarnya lebih utama daripada
shalatnya di rumahnya. Dan shalatnya di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid
kaumnya. Dan shalat di masjid kaumnya lebih utama daripada shalatnya bersamaku. (HR
Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban)[4]

Berdasarkan dalil hukum di atas, shalat Jumat wajib bagi laki-laki yang sudah baligh dan berakal
kecuali ada hal yang menghalanginya untuk menjalankan shalat Jumat di masjid. Hukum shalat
Jumat bagi perempuan kalau kita merujuk pada dalil tersebut di atas tidaklah wajib.
Dalam majalah Swara Quran[5] dipaparkan yang intinya shalat Jumat bagi perempuan tidak
wajib dengan dua alasan:

Pertama, hadits dari Thariq bin Syihab dari Nabi shallallhu alaihi wa sallam bersabda, Shalat
Jumat itu wajib bagi setiap Muslim dengan berjamaah kecuali untuk jenis orang. Mereka
adalah budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sedang sakit. (HR Abu Dawud)

Kedua, kesepakatan para ulama. Ulama bersepakat bahwa shalat Jumat bagi perempuan tidak
wajib. Ibnu Khuzaimah berkata dalam shahihnya 3/112, Kesepakatan para ulama mengenai
tidak wajibnya shalat Jumat bagi wanita sudah cukup menjadi dalil tanpa menukil hadits khusus
mengenai hal tersebut.

Berdasarkan dua dalil di atas, jelas kiranya bahwa shalat Jumat tidak wajib bagi perempuan.
Sedangkan surat al-Jumuah [62]: 9 tidak bertentangan dengan hadits, karena ayat ini bersifat
umum, sedangkan sudah terdapat hadits shahih yang mengkhususkan dan mengecualikannya.
Padahal dalil yang bersifat khusus lebih didahulukan dari pada dalil yang bersifat umum.

Namun apabila seorang perempuan telah mengerjakan shalat Jumat bersama Imam (di masjid)
maka shalatnya sah dan tidak perlu lagi mengerjakan shalat Zhuhur. Demikian yang disepakati
para ulama sebagaimana disebutkan Imam al-Nawawi dalam al-Majmu Syahr al-Muhadzdzab
(4/495).[6]

Apa Kata Ulama

Al-Khathabi dalam Maallim al-Sunnah, 1/644 berkata, Para ahli fiqih bersepakat bahwa kaum
perempuan tidak wajib menghadiri shalat Jumat. Dalam al-Mughni 2/338 Ibnu Qudamah
menyatakan, Mengenai perempuan tidak ada perbedaan pendapat bahwa shalat Jumat tidak
wajib bagi perempuan.

Dalam Jami al-Ahkam al-Nis V/105, Syaikh Musthafa al-Adawi mengatakan, Menghadiri
shalat Jumat bagi kaum perempuan tidak wajib. Para ulama pun sudah menyepakati hal ini.
Seluruh pendapat mereka sama tentang hal ini. Bahkan terdapat beberapa hadits yang
menunjukkan bahwa shalat Jumat tidak wajib bagi mereka.

Akan tetapi terdapat pembicaraan tentang kedhaifan hadits-hadits tersebut. Meskipun demikian,
komentar yang tepat tentang hal ini, sebagaimana perkataan Ibnu Khuzaimah, Dalil
bahwasannya Allh memerintahkan shalat Jumat ketika terdengar adzan sebagaimana firman
Allh dalam surat al-Jumah [62]: 9, hanya khusus untuk laki-laki, bukan untuk perempuan
adalah hadits, andai hadits tersebut shahih secara sanad. Andai hadits tersebut tidak shahih
maka kesepakatan para ulama tentang tidak wajibnya shalat Jumat bagi perempuan sudah
mencukupi untuk menjadi dalil tanpa menukil hadits khusus mengenai hal tersebut.

Lajnah Daimah (komite ulama saudi) mengatakan, Shalat Jumat bagi perempuan tidak wajib,
akan tetapi jika ada seorang perempuan yang turut mengikuti shalat Jumat, maka shalat
perempuan tersebut sah. Jika perempuan tersebut memilih shalat di rumahnya maka dia harus
melaksanakan shalat Zhuhur sebanyak empat rakaat dan dilakukan sesudah tibanya waktu
shalat Zhuhur, yaitu sesudah matahari condong kebarat. Perempuan tersebut tidak boleh
melaksanakan shalat Jumat di dalam rumahnya.[7]

Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam Mushannaf 3/146 No.5105 dengan sanad yang shahih dari
Ibnu Juraij. Ibnu Juraij menceritakan kalau beliau bertanya kepada Atha, Bagaimana pendapat
anda bila perempuan keluar dari rumahnya disiang hari lalu mendengar adzan shalat Jumat,
bolehkah dia turut menghadiri shalat Jumat?

Bila dia ingin menghadirinya maka tidak apa-apa, dan bila tidak menghadirinya juga tidak
apa-apa. Demikian jawaban Atha
Ibnu Juraij bertanya lagi, Bagaimana dengan firman Allh yang terdapat pada surat al-Jumuah
[62]: 9, bukankah ayat ini mencakup perempuan dan laki-laki? Dengan tegas Atha menjawab,
Tidak.

Dalam al-Majmu 4/495 Imam Nawawi mengatakan, Telah kami sampaikan di muka bahwa
orang-orang yang tidak wajib melaksanakan shalat Jumat seperti budak, perempuan, musafir
dan sebagainya berkewajiban melaksanakan shalat Zhuhur. Bila mereka tidak melaksanakan
shalat Zhuhur dan memilih shalat Jumat maka hal tersebut sudah mencukupi berdasarkan
kesepakatan ulama sebagaimana yang dinukil Ibnu Mundzir, Imam Haramain dan lain
sebagainya.

Dalam al-Mughni 2/341 Ibnu Qudamah berkata, Para ulama yang saya ketahui semuanya
bersepakat bahwa shalat Jumat tidak wajib bagi perempuan. Mereka juga bersepakat bila
perempuan turut menghadiri shalat Jumat maka itu sudah mencukupi untuk mereka. Gugurnya
kewajiban shalat Jumat bagi mereka adalah untuk memberikan keringanan, sehingga bila
mereka tidak mengambil keringanan tersebut maka hukumnya boleh seperti halnya orang yang
sakit.

Syaikh Musthafa al-Adawi mengatakan, Jika seorang perempuan turut melaksanakan shalat
Jumat bersama kaum laki-laki maka hal tersebut sudah mencukupi sehingga tidak perlu lagi
melaksanakan shalat Zhuhur, bahkan juga terdapat kesepakatan ulama dalam hal ini.[8]

Lajnah Daimah juga menegaskan, Jika seorang perempuan turut melaksanakan shalat Jumat di
masjid maka itu sudah mencukupinya, sehingga tidak perlu lagi shalat Zhuhur. Bahkan
perempuan tersebut tidak boleh melaksanakan shalat Zhuhur pada hari itu. Namun jika dia
shalat sendirian maka perempuan tersebut tidak memiliki hak kecuali melaksanakan shalat
Zhuhur dan tidak boleh melakasanakan shalat Jumat.[9]

Qatadah mengatakan, Apabila perempuan ikut menghadiri pelaksanaan shalat Jumat maka
wanita tersebut melaksanakan shalat sebanyak 2 rakaat.[10]

Hasan al-Bashri berkata, Seorang perempuan yang turut menghadiri shalat Jumat maka dia
shalat mengikuti imam dan hal tersebut sudah mencukupinya.[11] Dahulu para perempuan
muhajirin melaksanakan shalat Jumat bersama Raslullh shallallhu alaihi wa sallam dan
mereka merasa cukup dengannya tanpa Zhuhur lagi.[12]

Bagi perempuan yang tidak melaksanakan shalat Jumat di masjid berkewajiban melaksanakan
shalat Zhuhur. Hal ini berdasarkan perkataan Ibnu Masud, Barangsiapa yang tertinggal shalat
Jumat maka hendaklah shalat Zhuhur 4 rakaat.[13] Bahkan Ibnu Masud mengatakan,
Apabila kalian para perempuan shalat Jumat bersama imam masjid maka kerjakanlah shalat
sebagaimana imam tersebut, akan tetapi bila kalian melaksanakan shalat di rumah maka
shalatlah sebanyak 4 rakaat.[14]

Dalam Subulus Salam, Imam Shanani menegaskan, bahwa pada dasarnya shalat yang ada pada
hari Jumat adalah shalat Zhuhur sehingga orang yang tertinggal atau tidak melaksanakan shalat
Jumat maka berkewajiban melaksanakan shalat Zhuhur berdasarkan kesepakatan ulama.[15]

Fatwa MUI Tentang Perempuan Menjadi Imam Shalat.

Dalam Musyawarah Nasional (Munas) MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H/26-29 Juli
2005 M, MUI menetapkan Fatwa Nomor: 9/MUNAS VII/MUI/13/2005 Tentang Wanita Menjadi
Imam Shalat.

Menurut MUI, perlu dilakukan untuk memberikan kepastian hukum dalam syariat Islam tentang
hukum perempuan menjadi imam shalat, agar dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam.
MUI mendasarkan fatwanya pada Kitabullh, sunnah Raslullh shallallhu alaihi wa sallam,
ijma ulama, dan qaidah-qaidah fiqh. Firman Allh Subhnhu wa Tal antara lain, Kaum laki-
laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan oleh karena Allh telah melebihkan sebahagian
mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan) (QS al-Nis [4]: 34)

Sedangkan hadits-hadits Nabi shallallhu alaihi wa sallam, antara lain, Raslullh


memerintahkan Ummu Waraqah untuk menjadi imam bagi penghuni rumahnya. (HR Ab
Dwud dan al-Hakm).

Raslullh bersabda, Janganlah seorang perempuan menjadi imam bagi laki-laki. (HR Ibnu
Majah)

Raslullh bersabda, Shaf (barisan dalam shalat berjamaah) terbaik untuk laki-laki adalah shaf
pertama (depan) dan shaf terburuk bagi mereka adalah shaf terakhir (belakang); sedangkan shaf
terbaik untuk perempuan adalah shaf terakhir (belakang) dan shaf terburuk bagi mereka adalah
shaf pertama (depan).

Raslullh bersabda, Shalat dapat terganggu oleh perempuan, anjing dan himar (keledai). (HR
Muslim)

Raslullh bersabda, (Melaksanakan) shalat yang paling baik bagi perempuan adalah di dalam
kamar rumahnya. (HR Bukhari)

Adapun berdasarkan ijma sahabat, di kalangan mereka tidak pernah ada perempuan yang
menjadi imam shalat di mana di antara makmumnya adalah laki-laki. MUI mengutip kitab
Tuhfah Al-Ahwazi karya al-Mubarakfuri, Para sahabat juga berijma bahwa perempuan boleh
menjadi imam shalat berjamaah yang makmumnya hanya wanita, seperti yang dilakukan oleh
Aisyah dan Ummu Salamah.

Dan berdasarkan qaidah fiqh, Hukum asal dalam masalah ibadah adalah tauqif dan ittiba
(mengikuti petunjuk dan contoh dari Nabi).

Selain itu, MUI juga memerhatikan pendapat para ulama seperti termaktub dalam kitab Al-Umm
(Imam Syafii), Al-Majmu Syarah Al-Muhazzab (Imam Nawawi), dan Al-Mughni (Ibnu
Qudamah).

Berdasarkan telaah kitab-kitab tersebut, dan kenyataan bahwa sepanjang masa sejak zaman Nabi
Muhammad shallallhu alaihi wa sallam, tidak diketahui adanya shalat jamaah di mana
imamnya perempuan dan makmumnya laki-laki. Oleh sebab itu, Sidang Komisi C Bidang Fatwa
MUI memutuskan fatwa. Dengan bertawakkal kepada Allh Subhnhu wa Tal, MUI
memutuskan bahwa perempuan menjadi imam shalat berjamaah yang di antara makmumnya
terdapat orang laki-laki hukumnya haram dan tidak sah. Adapun perempuan yang menjadi
imam shalat berjamaah yang makmumnya wanita, hukumnya mubah.

Fatwa ini ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 Jumadil Akhir 1426 H yang bertepatan dengan 28
Juli 2005 M, dan ditandatangani oleh Ketua MUI KH Maruf Amin dan Sekretaris Hasanuddin.
[16]

Ikhtitm

Dari uraian singkat di atas dapat kita simpulkan bersama bahwa, pelaksanaan shalat jumat bagi
kaum perempuan diperbolehkan, namun hukumnya tidaklah wajib. Hal itu dikarenakan
banyaknya kaum perempuan yang melaksanakan shalat Jumat di masa Raslullh shallallhu
alaihi wa sallam, yang pada saat itu Nabi shallallhu alaihi wa sallam tidak melarangnya.
Perintah shalat Jumat dalam al-Qurn dan Hadits oleh para penafsir hanya diperuntukkan atau
diwajibkan bagi kaum pria semata, sehingga shalat jumat bagi kaum wanita hukumnya tidak
diwajibkan, melainkan hanya diperbolehkan. Bagi yang sudah menjalan shalat Jumat tidak ada
kewajiban untuk shalat Zhuhur.

Terkait tentang perempuan menjadi imam shalat telah jelas sebagaimana fatwa MUI memutuskan
bahwa perempuan menjadi imam shalat berjamaah yang di antara makmumnya terdapat orang
laki-laki hukumnya haram dan tidak sah. Adapun perempuan yang menjadi imam shalat
berjamaah yang makmumnya wanita, hukumnya mubah. Wa Allhu alam bi al-Shawwb.[]

4. Sebagai pelajar, mengapa perlu berlatih


menyampaikan khutbah Jumat?

5.Azan Jumat bermacam-macam, ada yang 1


kali, 2 kali bahkan 3 kali (azan awal,
masuk waktu, dan ketika mulai khutbah)
bagaimana menyikapinya? Bandingkan pula
dengan perkembangan pada zaman Nabi dan
para sahabat!
ADZAN JUMAT, 1 KALI ATAU 2 KALI

ADZAN JUMAT


















Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil berkata, telah mengabarkan
kepada kami 'Abdullah berkata, telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri
berkata, Aku mendengar As Sa'ib bin Yazid berkata, "Pada mulanya adzan pada hari
Jum'at dikumandangkan ketika Imam sudah duduk di atas mimbar. Yaitu apa yang
biasa dipraktekkan sejak zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakar dan
'Umar? radliallahu 'anhu. Pada masa Khilafah 'Utsman bin 'Affan? radliallahu 'anhu
ketika manusia sudah semakin banyak, maka pada hari Jum'at dia mememerintahkan
adzan yang ketiga. Sehingga dikumandangkanlah adzan (ketiga) tersebut di Az Zaura'.
Kemudian berlakulah urusan tersebut menjadi ketetapan."
HR Bukhari 3:448 No 865, Abu Daud 3:293 No 919, Nasai 5:236 No 1375, Al Baihaqi
3:205

Dalam memahai hadits di atas terjadi dua pendapat apakah adzan Jumat itu sekali atau
dua kali, maka saya akan paparkan kedua pendapat tersebut beserta alasannya.
Pendapat 1
Kelompok ini meyakini bahwa adzan Jumat adalah sekali, dengan berhujjah kepada
keumumman dalil tentang adzan, dan kenyataan pada Zaman Rasulullah saw, Abu
Bakar dan Umar ra. Tidak mengamalkan adzan dua kali untuk Jumatan.

Pendapat 2
Yang dimaksud dengan adzan yang ketiga adalah adzan yang dilakukan sebelum khatib
naik ke mimbar. Sementara adzan pertama adalah adzan setelah khathib naik ke
mimbar dan adzan kedua adalah iqamah. Dari sinilah, Syaikh Zainuddin al-Malibari,
pengarang kitab Fath al-Mu'in, mengatakan bahwa sunnah mengumandangkan adzan
dua kali. Pertama sebelum khatib naik ke mimbar dan yang kedua dilakukan setelah
khatib naik di atas mimbar :








,



"Disunnahkan adzan dua kali untuk shalat Shubuh, yakni sebelum fajar dan setelahnya. Jika
hanya mengumandangkan satu kali, maka yang utama dilakukan setelah fajar. Dan sunnah dua
adzan untuk shalat Jum'at. Salah satunya setelah khatib naik ke mimbar dan yang lain
sebelumnya". (Fath al-Mu'in: 15)
Meskipun adzan tersebut tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah SAW, ternyata ijtihad
Sayyidina Utsman RA. tersebut tidak diingkari (dibantah) oleh para sahabat Nabi SAW yang lain.
Itulah yang disebut dengan ijma sukuti, yakni satu kesepakatan para sahabat Nabi SAW
terhadap hukum suatu kasus dengan cara tidak mengingkarinya. Diam berarti setuju pada
keputusan hukumnya. Dalam kitab al-Mawahib al-Ladunniyyah disebutkan :










"Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ustman ra. itu merupakan ijma' sukuti
(kesepakatan tidak langsung) karena para sahabat yang lain tidak menentang kebijakan tersebut
(al-Mawahib al Laduniyah, juz II,: 249)

Apakah itu tidak mengubah sunah Rasul? Tentu Adzan dua kali tidak mengubah sunnah
Rasulullah SAW karena kita mengikuti Utsman bin Affan ra. itu juga berarti ikut Rasulullah
SAW. Beliau telah bersabda:









"Maka hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa' al-Rasyidun
sesudah aku ". (Musnad Ahmad bin Hanbal)
DUA POIN PENTING

[1]. Dua Alasan Utsman -radhiallohu anhu- Adzan Dua Kali.

Dapat kita ketahui bersama dari hadits di atas bahwa Utsman -radhiallohu anhu-
menambahkan adzan yang pertama karena dua alasan yang sangat masuk akal:

1). Semakin banyaknya manusia, dan

2). Rumah-rumah mereka yang saling berjauhan.

Barang siapa memalingkan pandangan dari dua alasan ini dan berpegang teguh
dengan adzan Ustman -radhiallohu anhu- secara mutlak, maka dia tidak mengikuti
petunjuk beliau -radhoallohu anhu-, bahkan ia menyalahi beliau, sebab dia tidak
mau mengambil pelajaran dari dua alasan tersebut, yang mana jika keduanya tidak
ada niscaya Ustman -radhiallohu anhu- tidak akan menambah Sunnah Rasulullah
-shollallahu alaihi wa sallam- dan dua khalifah sebelumnya Abu Bakar dan Umar
radhiallohu anhuma.

Dan dua sebab tersebut hampir tidak terwujudkan pada masa sekarang. Apalagi
hampir seluruh masjid yang ada sudah menggunakan speaker untuk
mengumandangkan adzan, sehingga semuanya dapat mendengarkan adzan jumat
baik yang dekat maupun yang jauh.

[2]. Adzan Sekali atau Dua Kali?

Pendapat yang tepat dan benar dalam masalah ini adalah, bahwa adzan jumat
sekarang ini cukup dikumandangkan sekali saja. Berikut alasannya:

Tidak adanya sebab yang mendorong untuk mengumandangkan adzan dua kali
sebagaimana yang dilakukan Utsman bin Affan -radhiallohu anhu- lantaran adanya
dua asalan yang masuk akal di atas.

Mengikuti sunnah Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-, Abu Bakar dan Umar
-radhiallohu anhuma-. Dan tentu saja sunnah beliau jauh lebih kita cintai dari pada
sunnah yang lainnya.

Bahwa persoalan Ibadah / keagamaan mesti bercermin kepada contoh


teladan Rasulullah shallallahualaihi wa sallam sebagaimana dinyatakan di dalam al-
Quran:










Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat
dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab :21)








/ .


Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah
sangat keras hukuman-Nya.

(QS. Al Hasyr :7)

Dengan demikian, semua persoalan keagamaan (Ajaran Islam) wajib


dikembalikan kepada al-Quran dan al-Sunnah sebagai dua sumber kebenaran.
Bahkan dalam persengketa pun tidak boleh lari dari kedua sumber tersebut.





















/ .


Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri
di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-
benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)

Berbeda dengan urusan keduniaan yang diperbolehkan melakukan inovasi


dan kreativitas di dalamnya, sebagaimana pernah disabdakan beliau shallallahu
alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini.









:

-
Dari Aisyah semoga Allah meridhainya bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa
sallam telah bersabda, Jika sesuatu itu termasuk urusan keduniawianmu, maka itu
urusan kamu (kamu yang lebih mengetahuiny), tetapi jika termasuk urusan
agamamu maka harus kembalikan kepadaku. (H.R. Ibn Majah 7:333 No 2462)

Untuk itu, di dalam urusan keagaaman berlaku qaidah di bawah ini:


.
:


.

Pada dasarnya pokok masalah dalam ibadah adalah berdiam diri dan mengikuti.
Atau dengan ungkapan lain, asal dalam ibadah itu batal sehingga ada dalil yang
memerintahkan.

Berkaitan dengan dua adzan ketika shalat Jumat sebenarnya harus


berpegang pada dalil-dalil dan qaidah di atas. Apakah di zaman Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam pernah terjadi atau tidak? Ada baiknya kita perhatikan
beberapa dalil dan qaul di bawah ini:

:









.
:

Dari Saib ibn Yazid semoga Allah meridhainya ia berkata, Adalah adzan pada
hari Jumat yang pertama (terjadi) berlangsung ketika Imam telah duduk diatas
mimbar pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar ibn al-
Khaththab radhiyallahu anhuma. Maka tatkala zaman Utsman ibn Affan dimana
orang-orang semakin banyak, maka beliau menambah panggilan (adzan) ketiga di
Zaura. Dan Abu Abdillah mengatakan bahwa Zaura itu suatu tempat di pasar
Madinah. (H.R. Bukhari 3:440 No 861)

Tambahan panggilan (adzan) ketiga maksudnya, menambah satu lagi


panggilan karena pada prakteknya pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam sudah ada dua panggilan, yaitu adzan dan iqamah ketika hendak
menunaikan shalat Jumat. Iqamah (qamat) pun disebut nida` yang berarti
panggilan. Dengan demikian, penambahan adzan pada Utsman ibn Affan bukan
adzan ketiga melainkan adzan kedua, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Hajar
rahimahullah di dalam kitabnya sebagai berikut:

(
) :












" "


( / )- .

Perkataan: Dan menambah panggilan ketiga

Menurut riwayat Waki` dari Ibn Abi Dzib, maka Utsman menyuruh adzan pertama.
Dan senada dengan itu menurut riwayat Imam Syafii dari sanad tersebut. Tidak ada
saling menafikan diantara keduanya, karena ungkapan tambahan itu disebut (juga)
tsalits (ketiga), sebagai ungkapan untuk muqaddimah (permulaan) bagi adzan dan
iqamah, maka disebut (adzan) awal. Sedangkan lafal dari riwayat Aqil yang akan
dating setelah dua bab ini dinyatakan dengan phrase Bahwa adzan kedua
diperintahkan oleh Utsman, dan penyebutan adzan kedua juga karena ditinjau
kepada makna adzan secara hakiki, bukan bermakna iqamah. (Ibn Hajar al-
Asqalaniy, Fath al-Bariy, Juz. III, hlm. 318 di dalam Maktabah Syamilah)

Berikut ini keterangan lain mengenai kedudukan adzan kedua:







.


:
Maka ketika masa Utsman ibn Affan dan adanya kebutuhan karena bertambahnya
kaum muslimin dan ketidakadaan sikap bersegera menuju ke masjid sebagaimana
yang terjadi pada zaman sebelumnya, maka Utsman menyuruh untuk
mengumandangkan adzan (pertama) untuk (mengingatkan) shalat Jumat di Zaura
(sebuah pasar di Madinah). (Lihat kitab al-Ibda, Vol. I, hlm. 64)

Berangkat dari beberapa dalil dan qaul (pendapat) ulama diatas, maka K.H.
Aceng Zakaria menegaskan bahwa sesungguhnya adzan yang ditambahkan oleh
shahabat Utsman tidak keluar dari Maqashid Pembuat Syariat (Allah Taala), karena
adzan untuk shalat itu makna dasarnya adalah pemberitahuan (waktu tibanya)
shalat dengan menggunakan kata-kata tertentu tanpa tambahan dan pengurangan.
(Zakaria, al-Hidayah, Garut: Dar Ibn Azka, t.th., hlm. 169)

Adapun lafal-lafal yang tidak pernah bersumber dari Rasulullah shallallahu


alaihi wa sallam atau menyimpan adzan pada suatu tempat yang keluar dari
maqasidnya termasuk pemberitahuan yang hukumnya bidah. (Lihat kitab al-Ibda,.
I, hlm. 64)

Bahkan Imam Asy Syafii yang merupakan Ulama Mujaddid pada Jamannya
memberi komentar tentang masalah adzan Jumat, beliau berkata :

) (




Imam as-Syafii -rahimahullah- berkata: Dan saya menyukai adzan pada hari
jumat dikumandangkan ketika imam masuk masjid dan duduk di atas mimbar dari
kayu atau tanah atau sesuatu yang lebih tinggi diatas bumi. Apabila imam telah
melakukan hal itu, maka muadzdzin memulai adzan. Bila telah usai, maka imam
berdiri dan menyampaikan khutbahnya, dan tidak boleh ditambah-tambahi (adzan
lain) lagi. Al Umm 1:224 fii Maktabah Asy Syamilah




( )




Imam Syafii berkata, Diantara dua perkara itu, maka perkara yang terjadi pada
zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (adzan hanya satu kali) itu lebih aku
cintai. (Syafii, al-Umm, 1 : 224 di dalam Maktabah Syamilah)

Adapun adzan 3x dalam hadits Bukhari, Imam Asy Syafii berkata dalam kitab dan
halaman yang sama:
) (





( )

) (
)
(

Imam Syafii berkata : aku suka jika Adzan seorang muadzin sekali, yaitu apabila
khotib naik mimbar, tidak boleh berkumpul dua muadzin. Telah mengabarkan
kepada kami Ar Rabi ia berkata telah mengabarkan kepada kami Syafii, ia berkata
telah mengabarkan kepadaku Ats tsiqah dari Zahuri dari Saib bin Yazid bahwasanya
adzan untuk Jumat dimulai ketika imam duduk di atas mimbar, sesuai petunjuk
Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma, Ketika pada masa
Khalifah Utsman, jumlah manusia semakin banyak, maka Utsman memerintahkan
adzan ke dua, maka jadilah adzan ke dua itu sebagai ketetapan.

Imam Syafii berkata : dan sesungguhnya dahulu Atho` mengingkari


bahwa Utsman yang memulainya dan ia berkata: Yang memulainya
adalah Muawiyah. Wallahu alam.
Imam Syafii berkata : di antara perkara itu (adzan dua kali ), maka
perkara yang terjadi di Zaman Rasulullah saw (adzan sekali) itu
lebih aku Cintai.
Imam Syafii berkata : Maka apabila muadzin mengumpulkan dua adzan sedangkan
imam berada di atas mimbar, bagaikan muadzin adzan sebelum adzan di satu hari
apabila imam duduk di atas mimbar, aku benci yang demikian.

Lalu beliau berkomentar lagi bahwa Siapapun yang memulainya (adzan


2kali), maka perkara yang telah ada pada masa Rasulullah -shollallahu
alaihi wa sallam- tentu lebih aku cintai.

KESIMPULAN

Dari pembahasan ringkas ini dapat kita simpulkan, bahwa adzan dua kali berdasar
kepada atsar Utsman, jika ingin di amalkan maka harus adzan di pasar, karena
berdasarkan hadits di atas Utsman melakukan demikian karena manusia semakin
banyak dan berjauhan sehingga tidak kedengaran adzan di masjid, dan
kenyataannya pada zaman Utsman sendiri, adzan di masjid 1 kali. Dan bahwasanya
yang benar untuk masa sekarang ini adalah mencukupkan adzan jumat sekali saja
sebab illat (hal yang mendorong) untuk adzan dua kali sudah tidak ada, kenyataan
pada zaman sesudah Utsman, yaitu Ali bin Abi Tholib adzan satu kali, sebagaimana
keterangan berikut:







.


.
Dan sesungguhnya adzan (jumat) yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw sebagaimana
adzan dalam sholat-sholat yang lain, Muadzin adzan sekali apabila Nabi saw duduk di atas
minbar, dan demikian juga yang dilakukan Abu Bakar, Umar dan Ali ketika di Kuufah.

Materi khutbah
A. PENDAHULUAN
Khutbah merupakan bagian penting dari aktivitas ibadah berjamaah dan rukun yang tidak
dapat dipisahkan, terutama pada Shalat Fardhu Jumat, Idul Fitri, dan Idul Adha. Khutbah
berbentuk pesan (taushiah) yang disampaikan oleh seorang khatib (penyampai pesan) terhadap
jamaah shalat yang berhaluan mengajak para pendengar agar memperbaharui dan meningkatkan
ketakwaan kepada Allah swt. Keberadaan khutbah dapat memotivasi orang untuk lebih bergairah
mengikuti shalat berjamaah dan menggiring jamaah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Khutbah yang disampaikan dengan hikmah,[1] bahasa yang tegas dan lugas, bacaan ayat
dan hadis yang fashih, tidak hanya membuat orang terkesima mendengarkannya, tetapi juga
dapat menjadi obat penyejuk rohani dan ketenangan hati bagi para jamaah, sehingga akan
mendorong bangkitnya spirit ketakwaan yang lebih maksimal. Terlebih lagi, dorongan itu akan
semakin kuat lengket dan membekas di hati jamaah apabila khatib yang menyampaikannya
adalah pemuka agama yang berilmu, shaleh dan kharismatik, sehingga untaian mutiara hikmah
yang disampaikan selaras dengan kepribadian dan perbuatannya, dan dari aspek inilah para
jamaah dapat mengamalkan apa yang disampaikannya dan meneladani akhlak serta sikap
hidupnya.
Fenomena yang muncul dalam dunia khutbah saat ini bukan terletak pada sulitnya
mencari khatib yang pandai berbicara, shaleh dan kharismatik, tetapi sulitnya menemukan khatib-
khatib teladan yang menguasai seluruh aspek ilmu yang berkaitan dengan khutbah dan
pengamalan kaifiyat (tata khutbah) yang benar dan relevan dengan Sunnah yang diajarkan
Rasulullah saw. Berdasarkan pertimbangan inilah, dipandang perlu mempersiapkan generasi
muda untuk memiliki akumulasi keterampilan berkhutbah sekaligus membina kepribadiannya
melalui pelatihan atau kursus khatib, agar dapat menjadi Khatib Teladan yang tidak hanya
relevan dalam pengamalan Sunnah Rasul saw., tetapi juga menjadi penyampai gagasan brillian
yang dapat diproyeksikan untuk pembangunan Sumber Daya Muslim berkualitas demi kejayaan
serta kemuliaan Islam dan kaum Muslimin di masa depan (izzul Islam wa al-Muslimin).

B. PENGERTIAN KHUTBAH
Khutbah berasal dari akar kata Khataba yang artinya mengucap atau berpidato.[2]
Dalam Kamus Lisan al-Arab, kata khutbah diartikan sebagai nama dari aktivitas pembicaraan
yang disampaikan oleh seorang pembicara (al-khatib).[3] Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, khutbah adalah pidato terutama yang menguraikan ajaran agama.[4] Orang yang
menyampaikan khutbah disebut dengan khatib. Khutbah sering dipahami sebagai dakwah atau
tabligh yang diucapkan dengan lisan pada upacara-upacara agama seperti khutbah Jumat,
khutbah dua hari raya, khutbah nikah, dan lain-lain yang memiliki corak syarat dan rukun
tertentu.[5]
Sebagai bagian dari dakwah, khutbah merupakan upaya untuk memotivasi orang agar
berbuat baik dan mengikuti jalan petunjuk (agama), serta melakukan amar maruf nahi munkar
dengan tujuan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.[6] Selain term
khutbah, dalam dunia dakwah Islam dikenal pula istilah tabligh,[7] nashihah,[8] taushiah,[9]
tabsyir,[10] dan tandzir.[11]
Istilah khutbah bukanlah pidato biasa seperti yang sering ditampilkan pada kegiatan-
kegiatan umum, tetapi selain memiliki aturan dan ketentuan yang umumnya berlaku dalam pidato
biasa, juga harus dilandasi dengan seperangkat dalil-dalil Al-Quran dan Sunnah Nabi saw. serta
wawasan keilmuan dan nilai-nilai keislaman yang dapat mengungkapkan gagasan dan pemikiran
yang bersifat informatif, inspiratif, persuasif, dan argumentatif.

C. RUKUN DUA KHUTBAH JUMAT


Khutbah Jumat memiliki beberapa rukun, yaitu sesuatu yang wajib ada/dipenuhi secara
mutlak, dan apabila salah satu dari unsur rukun tidak terpenuhi, maka khutbah Jumat beserta
shalatnya tidak sah. Khutbah Jumat memiliki 6 (enam) rukun, yaitu sebagai berikut:
1. Mengucapkan puji-pujian kepada Allah (lafal hamdalah). Tidak sah khutbah jika khatib tidak
memulai khutbah dengan hamdalah, sesuai dengan penjelasan dari Nabi saw.:



















- -

.())
[12]
Abu Taubah telah menceritakan kepada kami dari Zaam al-Walid dari Al-Auzai dari Qurrah
dari Az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah: Rasulullah saw. bersabda: Setiap
perkataan (khutbah) yang tidak dimulai dengan kalimat alhamdulillah, maka ia terputus (tidak
sah) (HR. Abu Dawud).

2. Shalawat atas Rasulullah saw. Sebagian ulama mengatakan bahwa shalawat ini tidak wajib.
Dengan demikian, sebagian ulama memandang bahwa shalawat atas Rasul saw. tidak termasuk
rukun khutbah.
3. Mengucapkan syahadat (menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan yang sebenarnya melainkan Allah
dan menyaksikan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya). Sabda Rasulullah saw.:








- -


[13].())

Musaddad dan Musa ibn Ismail telah menceritakan kepada kami dari Abd al-Wahid ibn
Ziyad, Ashim ibn Kulaib dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi saw. bersabda: Tiap-tiap
khutbah yang tidak ada syahadatnya adalah seperti tangan yang terpotong (HR. Abu Dawud).

4. Berwasiat (bernasehat) dengan takwa dan menyampaikan pesan-pesan kebajikan yang perlu
kepada pendengar, sesuai dengan tempat dan waktu, baik urusan agama maupun urusan dunia,
seperti ibadah, kesopanan, pergaulan, perekonomian, pertanian, siasat, dan sebagainya, serta
bahasa yang dipahami oleh pendengar.
5. Membaca ayat Al-Quran pada salah satu dari kedua khutbah. Dalam hal ini Rasulullah saw.
bersabda:








-

-
.( )
[14]
Yahya ibn Yahya, Hasan ibn al-Rabi, dan Abu Bakr ibn Syaibah menceritakan kepada kami
dari Abu al-Ahwash dari Simak dari Jabir ibn Samurah, katanya: Rasulullah saw. khutbah
berdiri, beliau duduk di antara keduanya, lalu beliau membacakan beberapa ayat Al-Quran,dan
memperingatkan manusia (HR. Muslim).

6. Berdoa untuk mukminin dan mukminat pada khutbah yang kedua. Sebagian ulama berpendapat
bahwa doa dalam khutbah tidak wajib, sebagaimana juga dalam lain khutbah tidak wajib.

D. SYARAT KHUTBAH
Khutbah harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Kedua khutbah pada Shalat Jumat dilakukan setelah tergelincir matahari, dan pada Shalat Idul
Fitri dan Idul Adha dilakukan pada pagi hari.
2. Sewaktu berkhutbah hendaklah berdiri jika mampu.
3. Khatib hendaklah duduk di antara dua khutbah.






- -
)


[15]

.(
Musaddad telah menceritakan kepada kami dari Bisyr ibn Mufadhdhal dari Ubaidullah dari
Nafi dari Abdullah, ia berkata: Nabi saw. berkhutbah dengan dua khutbah, ia duduk di antara
keduanya (HR. Bukhari).

4. Khutbah hendaklah dengan suara keras yang kira-kira terdengar oleh sejumlah bilangan orang
yang sah Jumat dengan mereka, karena maksud dari pelaksanaan khutbah itu adalah untuk
pelajaran dan nasehat kepada pendengar.
5. Khutbah hendaklah berurutan, baik rukun, jarak keduanya, maupun antara keduanya dengan
shalat.
6. Khatib harus suci dari hadas dan najis.
7. Khatib harus menutup auratnya.

E. SUNNAT YANG BERKAITAN DENGAN KHUTBAH


Untuk mencapai keutamaan Khutbah, seorang khatib disunnatkan agar menerapkan
beberapa amalan sebagai berikut:
1. Hendaklah khutbah itu dilakukan di atas mimbar atau di tempat yang tinggi. Hal ini didasarkan
pada kebiasaan Rasulullah saw. berkhutbah di atas mimbar tiga tangga yang tempatnya di sebelah
kanan pengimaman.
2. Khutbah itu diucapkan dengan kalimat fasih, terang, mudah dipahami, sederhana, tidak terlalu
panjang, dan tidak pula terlalu pendek.
3. Khatib senantiasa tetap menghadap kepada orang banyak, jangan berputar-putar, karena yang
demikian itu tidak disyariatkan.
4. Membaca surat Al-Ikhlas sewaktu duduk di antara dua khutbah.
5. Menertibkan tiga rukun, yaitu dimulai dengan puji-pujian, kemudian shalawat atas Nabi
saw., kemudian berwasiat (bernasehat) takwa kepada Allah. Selain itu, tidak ada tertib yang
sifatnya mengikat.
6. Pendengar hendaklah diam serta memperhatikan khutbah. Banyak ulama yang mengatakan haram
bercakap-cakap ketika mendengarkan khutbah. Hal demikian didasarkan pada sabda Rasulullah
saw.:













- -



.



[16].() )


Yahya ibn Bukair telah menceritakan kepada kami dari Al-Laits dari Uqail dari Ibn Syihab
dari Said ibn Musayyab dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw. telah berkata:
Apabila engkau katakan kepada temanmu pada hari Jumat diam sewaktu imam berkhutbah,
maka sesungguhnya telah binasalah Jumatmu (HR. Bukhari).

7. Khatib hendaklah memberi salam. Hal ini dapat dirujuk dari Sabda Rasulullah saw. yang
berbunyi:











-

[17].( )
Muhammad ibn Yahya telah mengatakan kepada kami dari Amru ibn Khalid dari Ibn
Lahiah dari Muhammad ibn Zaid ibn Muhajir dari Muhammad ibn al-Munkadir dari Jabir ibn
Abdullah bahwa Nabi saw. apabila naik ke mimbar ia mengucapkan salam (HR. Ibn Majah).

8. Khatib hendaklah duduk di atas mimbar sesudah memberi salam, dan sesudah duduk itulah azan
dilakukan. Petunjuk ini diperoleh dari hadis berikut:















[18].()
Muhammad ibn Abd al-Ala telah memberitakan kepada kami dari Al-Mutamir dari ayahnya
dari Al-Zuhri dari Al-Saib ibn Yazid, ia berkata: Bilal mengumandangkan azan apabila
Rasulullah saw. telah duduk di atas mimbar pada hari Jumat, maka apabila Rasulullah telah
turun (dari mimbar), maka ia membaca iqamat. Kemudian hal yang demikian itu berlangsung
pada zaman Abu Bakar dan Umar ra. (HR. Al-Nasai).

F. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN KHATIB DALAM BERKHUTBAH


Khutbah, baik yang dilakukan pada hari Jumat, Idul Fithri, maupun Idul Adha,
bukanlah berpidato biasa. Khutbah merupakan bagian ibadah yang urgen (penting) bahkan terkait
erat dengan sah atau tidaknya shalat yang menyertainya. Karena itu, khutbah memiliki kode etik
dan rambu-rambu yang telah ditentukan oleh orator ulung dan penghulu para Nabi, yakni
Muhammad saw. Dengan berpedoman kepada ketentuan yang telah ditetapkan Nabi saw., praktek
khutbah yang diterapkan oleh seorang khatib dapat relevan dengan syariat dan terhindar dari
berbagai kesalahan dan penyimpangan.
Untuk menghindari kesalahan dan penyimpangan dalam aktivitas khutbah, ada beberapa
hal yang harus diperhatikan oleh seorang khatib, sebagaimana uraian berikut:

1. Menghindari pengantar khutbah dengan sanjak, syair, dan puisi


Nabi saw. memulai khutbahnya dengan mengucapkan tahmid, yaitu kalimat pujian terhadap Allah.
Karena itu, tidak ditemukan dasar dari Sunnah Nabi saw. yang membenarkan iringan
mukaddimah khutbah dengan sanjak, syair, dan puisi. Dalam hadis, hanya ditemukan Rasullah
saw. memulai khutbah dengan kalimat tahmid, sebagaimana hadis berikut:











-

- -
-








.









)
[19].(
Telah menceritakan kepada kami Hisyam ibn Ammar dari Isya ibn Yunus dari ayahku dari
kakekku dari Abu Ishaq dari Abu al-Ahwash dari Abdullah ibn Masud, ia berkata: Rasulullah
saw. telah memberikan himpunan kebaikan dan penutupnya, atau ia berkata dalam mukaddimah
khutbahnya, kemudian mengajarkan kami khutbah shalat, khutbah al-hajah, khutbah shalat,
yaitu penghormatan, shalawat, kebaikan, kesejahteraan, rahmat dan keberkatan Allah atas
engkau wahai Nabi. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Aku
bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad saw. hamba
dan utusan-Nya. Adapun Khutbah al-Hajah adalah: Sesungguhnya pujian adalah milik Allah,
kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan, dan kami berlindung dari kejahatan nafsu dan
perbuatan kami. Barangsiapa yang mendapat petunjuk dari Allah, tidak ada kekuatan yang
dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang tersesat, tidak ada yang dapat memberinya
petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, Ia-lah satu-satunya Tuhan, tiada
sekutu bagi-Nya, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad saw. hamba dan utusan-Nya (HR. Ibnu
Majah).

2. Menghindari penggunaan hadis dhaif dan maudhu sebagai dalil


Sebelum berkhutbah, seorang khatib harus terlebih dahulu mengecek dan meneliti keabsahan
hadis-hadis yang akan dipergunakan sebagai dalil dalam berkhutbah. Selama ini, banyak
ditemukan khatib mempergunakan hadis-hadis dhaif (lemah) bahkan maudhu (palsu) dan justru
dipergunakan sebagai alat meyakinkan kaum muslimin untuk merealisasikan ajaran yang
terkandung di dalam hadis-hadis tersebut. Hal demikian muncul karena kecerobohan dan
ketidakhati-hatian khatib dalam menyeleksi hadis. Akibatnya, kaum muslimin yang
mendengarnya terjebak dalam kemudharatan yang besar, karena menjadikan kebatilan sebagai
pedoman. Khutbah yang seharusnya bermanfaat positif bagi umat, berbalik arah menjadi
tuntunan yang berdampak negatif. Mengingat betapa besarnya bahaya ini, Nabi saw. mengancam
keras merujuk hadis dhaif dan maudhu yang dinisbahkan atas nama beliau, padahal beliau tiada
mengungkapkan demikian. Peringatan keras Rasulullah saw. tersebut dapat dilihat dalam sebuah
hadis:









[20].) )

Barangsiapa menyampaikan hadis dariku yang diketahui bahwa hadis tersebut adalah dusta,
maka dia termasuk salah seorang dari golongan pendusta (HR. Muslim).

Dalam redaksi lain, Rasulullah saw. juga telah mengingatkan melalui sebuah hadis:



:
:

:





[21].()
Muhammad ibn Ubaid menceritakan kepada kami dari Muhammad (Ibn Ishak) dari Ibn Likab
ibn Malik dari Abu Qatadah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda di atas
mimbar: Hai sekalian manusia, hendaknya kalian tidak berlebih-lebihan meriwayatkan hadis
dariku. Barangsiapa bertutur atas namaku, maka hendaknya ia tidak menyampaikan kecuali
yang haq atau benar. Maka, barangsiapa menyampaikan hadis yang belum pernah saya katakan,
maka hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka (HR. Ahmad).

3. Meringkas khutbah dan memperpanjang shalat


Seorang khatib hendaklah menyampaikan isi khutbahnya dengan ringkas, lugas, dan padat.
Khatib tidak dibolehkan menyampaikan khutbahnya dengan durasi yang lebih panjang bila
dibandingkan dengan durasi yang dipergunakan untuk melaksanakan shalat fardhu Jumat dua
rakaat yang dilakukan sesudahnya. Hal demikian telah dijelaskan oleh Nabi saw. dalam hadis
berikut:















.



-


-



[22].() )
Suraij ibn Yunus telah menceritakan kepada kamiAbd al-Rahman ibn Abd al-Malik ibn Abjar
dari ayahnya dari Washil ibn Hayyan bahwa Abu Wail menceritakan: Suatu ketika Ammar
berkhutbah di depan kami. Kemudian ia meringkas secukupnya. Ketika ia turun (dari mimbar),
kami berkata, Wahai Abu al-Yaqzhan! Anda menyampaikan khutbah secara ringkas dan pendek.
Jika seandainya (anda mau), anda bisa memanjangkannya. Ammar menjawab, Sungguh saya
telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya lamanya shalat dan singkatnya
khutbah (Jumat) seseorang merupakan tanda yang mengindikasikan pemahaman seseorang.
Maka, panjangkanlah shalat dan ringkaskanlah khutbah. Sungguh penjelasan (yang berlebihan)
bagaikan (ungkapan) sihir (HR. Muslim).
Melalui hadis di atas dapat dipahami bahwa menyingkat khutbah dan memanjangkan shalat
merupakan gambaran penguasaan keilmuan seorang khatib dan ukuran pemahamannya terhadap
praktek khutbah yang relevan dengan Sunnah Nabi saw. Bila ditelaah uraian Suud ibn Malluh,
meringkas khutbah dan memanjangkan shalat yang diterapkan Nabi saw. tersebut, memiliki
beberapa alasan sebagai berikut:
a. Shalat adalah tujuan utama ibadah Jumat, sedangkan khutbah merupakan pengantar shalat
Jumat.
b. Shalat Jumat ditujukan kepada Allah yang Mahapencipta, sedangkan khutbah lebih ditujukan
kepada manusia.
c. Shalat adalah ibadah pokok dan bersifat esensial (hakikat), sedangkan khutbah merupakan bagian
dari ibadah shalat.
d. Memanjangkan shalat bertujuan agar jamaah yang belum hadir dan bertempat tinggal jauh dari
masjid dapat mengikutinya, sedangkan memperpendek khutbah dimaksudkan agar jamaah
mudah memahami dan mengingat pesan khutbah yang disampaikan.
e. Panjangnya shalat dipandang sebagai keutamaan, karena shalat adalah zikir yang tertinggi
nilainya, sedangkan dengan meringkas khutbah, khatib dapat terselamatkan dari hal-hal yang
bertentangan dengan hakikat zikir dan terhindar dari ucapan sia-sia.
f. Memanjangkan shalat dipandang sebagai latihan rohani untuk menentramkan jiwa dan
mengkhusyukan hati, sedangkan meringkas khutbah adalah upaya efisiensi waktu agar jamaah
tidak merasa jemu dan bosan. Berkenaan dengan hal ini, Imam Al-Ghazali ra. menegaskan,
Seyogyanya khutbah disampaikan secara singkat, padat, dan lugas.[23]

4. Menyampaikan khutbah dengan semangat dan bahasa yang tegas, serta menghindari
humor
Dalam menyampaikan isi khutbah, seorang khatib harus bersemangat dan mampu pula
membangkitkan semangat dan perhatian jamaah yang sedang mendengar. Membangkitkan
semangat harus dapat dilakukan dengan suara yang kuat, bahasa yang tegas, dan retorika (seni
berbicara) yang baik. Khutbah yang baik adalah khutbah yang dapat menggugah kesadaran
jamaah untuk bangkit dari kealpaannya agar menjadi muslim yang bertakwa dan bermartabat di
sisi Allah, serta bermanfaat dalam kehidupan sosial. Agar khutbah tersebut berkesan dan
menggugah jamaah, khatib dilarang menggunakan kata-kata humor yang dapat membuat
pendengar tertawa yang berakibat rusaknya ibadah, baik pada shalat Jumat, Idul Fitri, maupun
Idul Adha. Pemahaman terhadap hal demikian dapat diperhatikan melalui hadis berikut ini:











- -


[24]( )
Muhammad ibn al-Mutsanna dari Abd al-Wahhab ibn Abd al-Majid dari Jafar ibn
Muhammad dari ayahnya dari Jabir ibn Abdullah, ia berkata: Rasulullah saw. apabila
berkhutbah kelihatan merah kedua matanya, suaranya keras, dan semangatnya bangkit bagaikan
seorang panglima yang memperingatkan kedatangan musuh (HR. Muslim).

5. Menghindari tergesa-gesa dalam menyampaikan khutbah kedua dan tidak membatasinya


pada shalawat dan doa
Khatib harus menyeimbangkan antara penyampaian khutbah pertama dan khutbah yang kedua.
Kedua khutbah harus disampaikan dengan tenang dan lantang, tanpa ada unsur tindakan dan
sikap khatib mengurangi hak penyampaian pada khutbah kedua. Realita yang ditemukan di
masyarakat, banyak khatib yang hanya memandang penting khutbah pertama saja dan agak
mengabaikan khutbah kedua. Kondisi demikian terlihat pada khatib yang hanya teratur, tenang
dan lantang dalam menyampaikan isi khutbah pertama, namun pada khutbah kedua, ia
menyampaikan dengan cepat dan suara yang tidak lantang. Praktek seperti inilah yang
bertentangan dengan Sunnah Nabi saw. Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa di antara hal-hal
yang dimakruhkan selama berkhutbah adalah tergesa-gesa dalam menyampaikan khutbah kedua
dan tidak melantangkan suara ketika menyampaikannya.[25]

6. Tidak mengulas topik politik


Khatib harus menghindari memilih dan mengangkat topik khutbah yang tidak memiliki landasan
syariat, di antaranya membahas dunia politik yang tidak menggiring kaum Muslimin untuk
bertakwa. Jamaah hanya dijejali oleh jargon-jargon dan pemikiran politik yang dikutip dari koran,
majalah, dan televisi, namun materi khutbah kering dari ayat Al-Quran dan Hadis/Sunnah.
Untuk menjauhi praktek buruk dalam berkhutbah tersebut, setiap khatib harus memperhatikan
deskripsi umum dari lingkup materi yang dapat disampaikan dalam khutbah sebagaimana yang
dijelaskan di bawah ini:
1. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar mengenal Allah dan bertakwa kepada-Nya.
2. Mengajarkan berbagai prinsip dasar Islam pada masyarakat, seperti shalat, puasa, haji, dan zakat.
3. Mengajak masyarakat untuk melakukan amar maruf nahi munkar.
4. Memotivasi masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap perbuatannya.
5. Menganjurkan masyarakat agar bekerja sama dalam hal kebaikan, menjaga amanah, dan
menumbuhkan semangat persaudaraan.
6. Membersihkan hati masyarakat dari berbagai mitos negatif yang dapat menjerumuskan mereka ke
dalam keyakinan sesat.
7. Mengutip syair dimaklumi hanya sekedar mendukung gagasan khutbah.
8. Memelihara sikap agar tidak berlebih-lebihan dalam khutbah.[26]

7. Mengamalkan Surah-surah yang disunnahkan dibaca dalam shalat Jumat


Setelah selesai berkhutbah pada Shalat Jumat, khatib yang merangkap sebagai Imam hendaklah
memilih dan mempergunakan surah-surah dalam shalat berjamaah sesuai dengan ketentuan yang
disunnahkan Nabi saw. Demikian pula pada shalat berjamaah Idul Fitri dan Idul Adha. Dalam
hadis riwayat Abdullah ibn Maslamah, didapati informasi bahwa sejumlah sahabat mencontoh
kebiasaan Nabi saw. dalam shalat Jumat membaca Surat Al-Jumuah setelah Fatihah pada rakaat
pertama, dan membaca Surah Al-Munafiqun pada rakaat kedua. Hal ini dijelaskan melalui hadis:




- -





)

- - (


.




- -

[27].( )
Abdullah ibn Maslamah ibn Qanab menceritakan dari Sulaiman (Ibn Bilal) dari Jafar dari
ayahnya dari Ibn Abu Rafi, ia berkata:Abu Hurairah telah menggantikan Marwan (sebagai
khatib) di Madinah, dan kembali ke Makkah lalu shalat Jumat bersama kami, ia membaca
Surah Al-Jumuah pada rakaat pertama dan pada rakaat terakhir ia membaca Idza Jaakal
Munafiqun (Surah Al-Munafiqun). Ketika Abu Hurairah selesai mengerjakan shalat, saya
datang menghampiri dan berkata, Wahai Abu Hurairah, sungguh anda telah membaca surah
yang pernah dibaca oleh Ali di Kufah? Abu Hurairah menjawab, Sesungguhnya saya
mendengar Rasulullah saw. membaca kedua surat tersebut ketika shalat Jumat (HR.
Muslim).

Selain itu, ditemukan pula riwayat bahwa Rasulullah saw. adakalanya membaca Surah Al-
Jumuah setelah Fatihah pada rakaat pertama, kemudian dilanjutkan dengan membaca Surat Al-
Ghatsiyah pada rakaat kedua. Keterangan ini diperoleh dari hadis berikut:




















-


-


[28].( )
Al-Qanabi menceritakan dari Malik dari Dhamrah ibn Said al-Mazinni dari Ubaidillah ibn
Abdillah ibn Utbah bahwa Al-Dhahhak ibn Qais, ia ditanyai Numan ibn Basyir: Surah apa
yang dibaca Rasulullah saw. (pada rakaat kedua) di saat Jumat setelah Surah Jumuah? Ia
(Al-Dhahhak) menjawab: Rasulullah membaca Hal Ataka Haditsul Ghasyiyah.

Pada riwayat lain, hadis yang dinukil Yahya ibn Yahya mengemukakan bahwa Rasulullah sering
pula membaca Surah Al-Ala setelah Fatihah pada rakaat pertama dan membaca Surah Al-
Ghatsiyah pada rakaat kedua. Penjelasan demikian ditemukan pada hadis berikut ini:



-


-





-







-
) ( )
(



[29].()
Yahya ibn Yahya, Abu Bakr ibn Abi Syaibah dan Ishaq menceritakan kepada kami dari Jarir
dari Ibrahim ibn Muhammad ibn al-Muntasyir dari ayahnya dari Habib ibn Salim maula (budak)
Al-Numan ibn Basyir dari Al-Numan ibn Basyir ia berkata: Rasulullah saw. pada (shalat) dua
hari raya dan Jumat membaca Surat Sabbihismarabbikal Ala dan Hal Ataka Haditsul
Ghasyiyah. Al-Numan juga berkata: Apabila berkumpul hari raya dan Jumat pada suatu hari,
ia (Rasulullah) juga membaca kedua surah itu dalam kedua shalat (Id dan Jumat). (HR.
Muslim).

Dengan merujuk kepada ketiga hadis shahih di atas, dapat disimpulkan bahwa Nabi saw.
membaca surah bada Fatihah pada Shalat Jumat mempergunakan tiga variasi pilihan, yaitu
membaca Al-Jumuah dan Al-Munafiqun, atau surah Al-Jumuah dan Al-Ghatsiyah, atau Al-Ala
dan Al-Ghatsiyah. Karena itu, ketiga variasi tersebut dikategorikan Sunnah yang bebas dipilih
oleh para imam yang memimpin Shalat Jumat berjamaah. Sementara untuk Shalat Idul Fitri
dan Idul Adha, Nabi saw. sering mempergunakan Surah Al-Ala pada rakaat pertama dan Surah
Al-Ghatsiyah pada rakaat kedua.

8. Menghindari membaca petikan ayat dengan suara berbeda


Pada umumnya ulama melarang dan tidak membenarkan para khatib ketika menyampaikan
khutbah membaca ayat Al-Quran dengan intonasi suara yang berbeda antara penggalan ayat
yang satu dengan penggalan lainnya pada suatu ayat yang sedang dibacakan. Terkadang khatib
yang berbuat seperti itu bertujuan agar jamaah terpesona dengan suaranya yang berirama dan
menarik perhatian pendengar. Tindakan tersebut harus hindari oleh seorang khatib, karena Nabi
saw. tidak pernah mencontohkan demikian.

9. Berpesan dengan Surah Qaf ketika khutbah


Berpesan atau taushiah dengan muatan surah Qaf dalam praktek khutbah merupakan sunnah
Nabi saw. Hal ini yang sering diabaikan oleh para khatib di zaman sekarang, bahkan sebagian
dari mereka ada yang sama sekali belum pernah mendapat informasi tentang kebiasaan Nabi saw.
yang pada setiap khutbah Jumat bertaushiah dengan sebagian ayat pada surah Qaf. Padahal
kebiasaan demikian dapat ditemukan dalam hadis:















- -
)


- (
-
)
[30].(
Amru al-Naqid menceritakan kepada kami dari Yaqub ibn Ibrahim ibn Sad dari ayahnya dari
Muhammad ibn Amru ibn Hazm al-Anshary dari Yahya ibn Abdullah ibn Abd al-Rahman ibn
Sad ibn Zurarah dari Ummu Hisyam binti Haritsah ibn Al-Numan, ia berkata:Tidaklah
saya mengambil Qaf wal Quranil Majid, kecuali lisan Rasulullah yang selalu beliau baca
pada setiap Jumat ketika beliau berkhutbah kepada orang-orang di atas mimbar (HR.
Muslim).

Menurut Imam Al-Shanani dalam kitabnya Subul al-Salam, hadis di atas merupakan dalil
ditetapkannya Surah Qaf sebagai bagian dari taushiah pada setiap khutbah Jumat.[31] Para
ulama dalam hal ini mengemukakan bahwa alasan pemilihan surah ini oleh Nabi saw. adalah
karena muatannya menyinggung tentang kebangkitan manusia, kematian, nasihat, dan larangan
yang keras. Beliau selalu menjaga dan mengamalkan surah ini sebagai pilihan adalah karena
kandungan surah ini sangat tepat dan efektif dalam memberikan nasehat dan wejangan.[32]

10. Tidak memulai Shalat Jumat sebelum shaf lurus dan rapi
Sebelum memulai shalat Jumat berjamaah, khatib yang akan bertindak sebagai imam harus
memerintahkan mamum untuk meluruskan dan merapikan shaf. Tidak dibenarkan imam terburu-
buru memulai shalat dengan mengangkat takbir sebelum barisan mamum lurus dan rapi.
Mengingat betapa pentingnya tugas imam dalam mengatur shaf dapat diperhatikan dari hadis
Nabi saw.:
















- -
) )


[33].(
Abu Walid Hisyam ibn Abd al-Malik menceritakan kepada kami dari Syubah dari Amru ibn
Murrah dari Salim ibn Abi al-Jad dari Numan ibn Basyir, ia berkata: Nabi saw. bersabda:
Luruskanlah shaf kalian atau Allah yang akan mencerai-beraikan wajah kalian (HR. Bukhari).

11. Tidak menutup khutbah dengan lafaz innallaha yamuru bil adli wal ihsan atau lafaz-lafaz
lainnya
Kebiasaan para khatib menutup khutbahnya dengan lafaz innallaha yamuru bil adli wal ihsan
atau udzkurullah yadzkurkum atau lafaz-lafaz lainnya tidak ditemukan di dalam sunnah yang
pernah dicontohkan Nabi saw. Penggunaan lafaz-lafaz ini muncul pada generasi setelah Nabi dan
para sahabat, seperti lafaz innallaha yamuru bil adli wal ihsan pertama kali ditampilkan oleh
Umar ibn Abdul Aziz untuk mengganti lafaz yang digunakan Bani Umayyah ketika menutup
khutbahnya dengan mencela Ali ibn Abi Thalib. Sedangkan lafaz innallaha wamalaikatahu
yushalluna alan Nabi yang dimunculkan oleh Al-Mahdi al-Abbasi. Karena itu, para khatib
seharusnya mengetahui bahwa lafaz-lafaz tersebut bukanlah berasal dari Sunnah Nabi saw.,
sehingga tidak menjadikannya sebagai suatu kelaziman (kebiasaan).

12. Memberikan khutbah yang menyentuh hati pendengar


Khatib harus berupaya menyampaikan isi khutbahnya dengan menyentuh hati pendengar,
sehingga penyampaian materi khutbah berjalan efektif, menarik, dan relevan dari metode orasi
yang dicontohkan Nabi saw. Khatib hendaknya membiasakan diri menggunakan ungkapan-
ungkapan yang bervariasi, seperti penegasan, larangan, berita deskriptif, penolakan, motivasi, dan
sebagainya. Dengan demikian khutbah menjadi lebih enak didengar, segar, dan menyentuh hati.

13. Tidak mengawali khutbah Shalat Id dengan takbir


Menurut Ibn Qayyim, semua khutbah yang dilakukan Nabi saw. dimulai dengan memuji Allah
(kalimat tahmid). Tidak ada satu pun hadis yang menyatakan bahwa beliau mengawali khutbah
Idul Fitri dan Idul Adha dengan bertakbir. Hadis yang diriwayatkan Ibn Majah hanya
menjelaskan bahwa Nabi saw. banyak bertakbir di tengah-tengah khutbah dalam dua hari raya.,
yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Namun hadis tersebut tidak menunjukkan bahwa beliau
melakukannya ketika mengawali khutbah.

14. Tidak mengadakan pengajian (halaqah) sebelum Khatib berkhutbah


Mengadakan pengajian (halaqah) dalam bentuk majelis talim sebelum khatib menyampaikan
khutbah di atas mimbar dilarang oleh Nabi saw. dalam salah satu hadisnya.
Majelis talim yang dilakukan sebelum khatib berkhutbah dilarang, karena mengganggu jamaah
shalat Jumat untuk berzikir, membaca Al-Quran, shalat sunnah, menertibkan shaf, dan
mempersiapkan diri untuk menyimak khutbah yang diperintahkan Allah melalui perantaraan
Rasul-Nya.
Jika syariat memerintahkan agar khutbah disampaikan dengan ringkas agar tidak menimbulkan
kejemuan dan sebagai bentuk perhatian terhadap orang-orang yang memilki kesibukan tersendiri,
maka penyampaian pelajaran (talim) sebelum khutbah Jumat dan aktivitas lain semisalnya tentu
saja lebih dilarang.

15. Menyertakan dalil Al-Quran dan Hadis dalam khutbah


Dalil Al-Quran dan Hadis Nabi saw. adalah landasan yang paling utama dan kokoh dalam
berkhutbah. Sebelum khatib menguraikan materi khutbahnya, khatib hendaklah terlebih dahulu
menjelaskan kepada jamaah topik apa yang akan dibahas atau masalah apa yang akan diulas.
Kemudian khatib membacakan ayat Al-Quran sebagai landasan pembahasan yang dipandang
relevan dengan topik yang disampaikan. Setelah itu, materi khutbah akan lebih mantap apabila
dikemukakan dengan hadis-hadis pendukung atau pendapat para ulama terkemuka yang berkaitan
dengan topik atau materi tersebut. Karena itu, seorang khatib harus menghindari penyampaian
materi khutbah berdasarkan karangan dan ide pemikirannya sendiri tanpa mempergunakan dalil
Al-Quran dan Sunnah.

16. Hendaklah Menyampaikan khutbah yang kontekstual


Khatib yang baik, cerdas dan arif, adalah seorang dai yang mampu menyampaikan materi
khutbahnya relevan dengan fenomena dan kodisi yang dialami oleh masyarakat setempat, atau
yang sedang hangat-hangatnya menjadi problematika yang dihadapi kaum Muslimin. Selain itu,
gagasan yang disampaikan melalui materi khutbah tersebut mampu menjawab dan memberikan
solusi terhadap permasalahan kontemporer yang sedang dihadapi umat, baik dalam lingkup
duniawi maupun ukhrawi.
Khutbah yang efektif adalah khutbah yang relevan dengan konteks kehidupan zaman, tempat,
situasi, dan kondisi yang sedang berlangsung. Ketika saat puasa Ramadhan misalnya, hendaknya
seorang khatib menjelaskan hukum, tujuan, dan hikmah berpuasa, atau keistimewaan bulan
Ramadhan, atau nilai pendidikan dan manfaat kesehatan yang terkandung dalam ibadah puasa itu.
Kuranglah tepat konteksnya, jika pada saat Ramadhan itu yang dibahas oleh khatib tentang
ibadah haji, atau materi yang tidak sesuai dengan musimnya.

17. Tidak dianjurkan menoleh ke kanan dan ke kiri


Mayoritas ulama memandang makruh apabila khatib menyampaikan khutbah sambil menoleh
ke kanan dan kiri. Sebab hal ini selain bertentangan dengan sunnah, juga terkesan kurang
beradab. Di samping itu, menoleh ke salah satu sisi, berarti menimbulkan kesan bahwa ia tidak
memperhatikan sisi yang lain. Hal demikian dapat dimaklumi karena ketika seorang khatib
berpaling dari lawan bicara, maka hal itu tentu akan memutuskan komunikasi dan termasuk etika
yang tidak baik. Jika ia menatap sepenuhnya, semua jamaah yang hadir akan mendengarnya.
Namun jika ia menoleh ke kanan, maka jamaah di sisi kiri akan kurang mendengar. Begitu pula
sebaliknya, jika ia menoleh ke kiri, maka jamaah di sisi kanan akan kurang menangkap suaranya.

18. Bersikap tenang ketika berkhutbah


Dalam menyampaikan khutbah, khatib disunnatkan bersikap tenang, tidak melakukan gerakan-
gerakan tubuh yang tidak diperlukan, seperti melenggak-lenggok, menghentakkan kaki, berteriak,
dan sebagainya. Adapun yang dianjurkan menurut syariat, khatib atau juru dakwah semestinya
tidak menggerakkan kedua tangannya ketika menyampaikan khutbah. Menurut Imam Syafii, jika
khatib tidak menopang dirinya dengan tongkat, sebaiknya ia tidak menggerakkan tubuh dan
kedua tangannya. Hal itu bisa dilakukan dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya
atau membiarkannya terjulur tenang di samping tubuh.[34]

19. Menghindari mengobral aib seseorang melalui khutbah


Meskipun khutbah adalah salah satu media untuk melaksanakan amar maruf nahi munkar,
namun khatib sebagai juru dakwah tidak boleh menyerang seseorang secara terang-terangan
dengan cara membeberkan kejelekan atau membuka aib orang lain yang berakibat seseorang
merasa terpojok dan malu di hadapan jamaah. Padahal untuk masalah ini Nabi saw. telah
berpesan kepada para sahabatnya tentang etika menasehati pejabat pemerintahan yang dapat
dipahami melalui hadis berikut:

:

:


)
[35].()
Iyadh berkata kepada Hisyam: Sesungguhnya kami mendengar sesuatu yang engkau dengar,
dan kami melihat sesuatu yang engkau lihat, atau tidakkah engkau mendengar Rasulullah saw.
bersabda: Barangsiapa ingin menasehati penguasa, maka janganlah ia mengungkapkannya
secara terang-terangan. Tetapi, hendaknya ia menemuinya dan (menyampaikan nasehat)
kepadanya saat sendirian. Jika ia menerima, maka itu sangat baik, namun jika ia tidak
menerima, berarti ia telah melaksanakan kewajibannya (HR. Al-Thabrani).

Adapun sikap yang baik dari seorang khatib ketika membahas penyimpangan atau kemunkaran
yang terjadi di kalangan pejabat pemerintahan adalah dengan sindiran atau menyinggung pokok
persoalan secara umum, tanpa harus menyatakannya secara terbuka, apalagi menyebutkan nama
dan identitasnya.
20. Khatib tidak mengangkat tangan ketika berdoa
Mengangkat tangan dalam berdoa ketika khutbah bukan merupakan bagian dari Sunnah, karena
itu, kebanyakan ulama berpendapat bahwa perilaku itu makruh. Dalam hal ini, Al-Baghawi
mempertegas bahwa mengangkat tangan ketika berdoa dalam khutbah merupakan perbuatan
yang tidak mempunyai landasan syariat. Adapun jika dilakukan ketika memanjatkan doa
istisqa, maka hukumnya sunnah. Karena itu, jika khatib sedang memanjatkan doa istisqa pada
khutbah Jumat, hendaklah ia mengangkat kedua tangannya sebagaimana dilakukan oleh Nabi.
[36]
Selain untuk keperluan doa istisqa, maka pada khutbah-khutbah biasa lainnya, baik pada
Jumat, Idul Fitri maupun Idul Adha, Nabi saw. hanya memberi isyarat dengan mengangkat
jari telunjuk kanannya yang terletak di samping ibu jari tatkala memanjatkan doa ketika
khutbah. Hal ini dapat dipedomani pula dari sebuah hadis yang berisi teguran Nabi saw. terhadap
perilaku Marwan yang mengangkat tangan saat berdoa pada khutbah Jumat, sebagai berikut:









- -
.





[37].( )
Abu Bakr ibn Abu Syaibah menceritakan kepada kami dari Abdullah ibn Idris dari Hushain
dari Umarah ibn Ruaibah yang mengatakan bahwa ia melihat Bisyr ibn Marwan di atas
mimbar (sedang berdoa pada hari Jumat) sambil mengangkat tangan. Umarah ibn Ruaibah
pun berkata, semoga Allah mencelakakan kedua tangan itu. Sungguh saya telah melihat
Rasulullah saw. (ketika berada di atas mimbar) tidak berbuat lebih dari ini. Ia memberi isyarat
dengan jari telunjuk di samping ibu jari (HR. Muslim).

21. Menghindari menyanjung nama penguasa dalam khutbah


Khatib dibolehkan mendoakan para penguasa agar ia berada dalam kebaikan, tetapi tidak
dibenarkan menyanjung dan menyebut-nyebut penguasa dengan sifat yang berlebih-lebihan
ketika mendoakannya. Bahkan, penguasa yang zhalim sekalipun dibolehkan mendoakannya
agar kembali pada kebaikan, dan menurut sebagian ulama justru sunnah hukumnya mendoakan
dengan tujuan kebaikan.

22. Menghindari berdoa menghadap kiblat ketika khatib berada di mimbar sebelum
menghadap jamaah
Para khatib harus menghindari kebiasaan berdoa menghadap kiblat ketika berada di mimbar
sebelum menghadap ke arah jamaah. Ibn Taimiyah menyatakan bahwa hal demikian tidak
mempunyai landasan dalil dari sumber mana pun. Ibn al-Aththar menegaskan perbuatan seperti
itu merupakan bidah tercela yang sudah sejak lama diingkari oleh para ulama.[38]
23. Tidak mentradisikan pakaian berwarna hitam ketika berkhutbah
Salah satu penyimpangan yang dilakukan khatib adalah mengenakan pakaian hitam sebagai
tradisi atau kebiasaan berkhutbah pada daerah kampung tertentu. Sebaliknya disunnahkan bagi
jamaah ketika menunaikan ibadah Jumat untuk mengenakan pakaian berwarna putih, apalagi
bagi seorang khatib. Meskipun menggunakan pakaian berwarna lain tidak dilarang, tapi dalam
kebanyakan praktiknya, Nabi saw. mengenakan pakaian berwarna putih. Tegasnya, walaupun
mengenakan baju berwarna hitam dibolehkan, karena Nabi saw. pernah mengenakannya ketika
berkhutbah, namun jika hal itu terus menerus menjadi kebiasaan bagi khatib Jumat tanpa
mengenakan pakaian dengan variasi warna lainnya, maka perbuatan demikian menjadi bidah.

24. Tidak memperlambat langkah ketika naik ke mimbar dan tidak pula tergesa-gesa
Bagi khatib yang masih muda dan energik, tidak sepantasnya membuat jamaah panik dan lama
menunggu, hanya karena ia harus menaiki tangga mimbar secara perlahan-lahan, laksana orang
yang lanjut usia. Demikian pula, khatib juga dilarang tergesa-gesa atau terburu-buru naik ke
tangga mimbar. Dalam setiap gerak, khatib mesti bersikap tenang dan berwibawa.

25. Tidak mengeraskan suara ketika bershalawat


Mengeraskan suara ketika bershalawat bertentangan dengan tuntunan syariat, karena tidak
terdapat dalam sunnah atau kebiasaan yang diajarkan Nabi saw. Shalawat sama halnya dengan
doa, yang secara umum disunnahkan membacanya dengan suara lirih, bukan keras. Dalam
praktek khutbah, Nabi saw. hanya mengeraskan suara ketika menyampaikan wejangan atau
nasehat, karena tujuan dari khutbah intinya adalah nasehat. Nabi sendiri memerintahkan umatnya
bershalawat kepadanya ketika melaksanakan shalat. Namun tidak ada dalil yang menganjurkan
untuk mengucapkannya dengan suara keras, meskipun shalat tersebut termasuk shalat yang
bacaannya dikeraskan, seperti fardhu Jumat, Maghrib, Isya, dan Subuh.

26. Menghindari mengetuk mimbar tiga kali dengan tongkat ketika naik mimbar
Kebiasaan mengetuk mimbar tiga kali dengan tongkat ketika naik ke mimbar khutbah oleh
sebagian besar ulama dipandang bidah. Setidak-tidaknya ada 3 (tiga) alasan yang tidak
membenarkan khatib melakukan perbuatan tersebut, yaitu:
a. Perbuatan ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi saw., sebab semua ibadah hanya bisa
diterapkan dengan meneladani beliau.
b.Mimbar adalah barang wakaf yang harus dijaga. Tindakan mengetuknya pada setiap kali naik ke
mimbar dapat merusak mimbar, meskipun ada kalangan yang membolehkan hal itu dilakukan,
namun pendapat ini dimentahkan dengan dalil ittiba (mengikuti kebiasaan Rasulullah saw.).
c.Ketukan tersebut menimbulkan kegaduhan dan mengganggu kekhusyuan dan kesakralan ibadah
Jumat.

27. Menggunakan bahasa khutbah sesuai dengan kemampuan berpikir jamaah


Khatib yang arif adalah khatib yang memahami tingkat intelektualitas jamaah yang menjadi
objek dakwahnya, sehingga ia memilih pola bahasa yang digunakan dan materi yang disampaikan
serta menerapkan metode yang tepat agar materi khutbah yang diuraikan dapat dipahami dengan
mudah oleh jamaah dan berkesan di hatisanubari mereka. Pemahaman yang baik dan materi
yang berkesan inilah yang akan mampu memotivasi umat untuk bangkit dengan kesadarannya
yang tulus, sehingga dapat mengamalkan sesuatu yang disampaikan khatib dalam upaya
pembaharuan dan peningkatan ketakwaan kepada Allah swt.

28. Menyampaikan apa yang telah diperbuat


Khatib adalah sosok yang diteladani umat, karena itu khatib yang baik adalah dai yang konsisten
antara sesuatu yang disampaikannya dengan apa yang diperbuatnya, atau lebih teladan lagi, apa
yang dikhutbahkannya di depan jamaah sudah terlebih dahulu dilakukan atau diamalkannya.
Sejatinya, figur khatib model inilah yang harus dihasilkan oleh lembaga pengkaderan dakwah
Islam. Khatib seperti inilah yang benar-benar takut dan waspada terhadap teguran keras dari
Allah yang terdapat dalam Surah Al-Shaf ayat 2-3:

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu
kerjakan.

Selain itu, Allah juga menegur dalam Surah Al-Baqarah ayat 44:


Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri
(kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al-Kitab, maka tidakkah kamu berpikir?.

G. METODE DALAM KHUTBAH


Secara umum, metode adalah cara untuk melakukan atau menyampaikan sesuatu.[39]
Atas dasar ini dapat dipahami bahwa metode khutbah adalah cara atau jalan yang dipakai oleh
seorang khatib untuk menyampaikan materi khutbahnya. Sekurang-kurangnya metode
penyampaian seorang khatib dalam khutbahnya mempergunakan dua metode, yaitu hikmah dan
ceramah.

1. Metode Hikmah
Al-Raghib al-Asfahani dalam Mujam Mufradat Alfaz al-Quran menyebutkan bahwa
hikmah adalah mencapai kebenaran dengan ilmu dan akal.[40] Dalam kaitannya dengan dakwah,
Al-Maraghi mempertegas bahwa hikmah adalah perkataan yang pasti disertai dalil-dalil untuk
menjelaskan kebenaran dan menghilangkan keraguan.[41] Sebagai metode dalam khutbah,
hikmah adalah penyampaian ajaran Islam untuk menyampaikan masyarakat pada pemahaman
yang benar dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan dan daya pikir masyarakat penerima
khutbah.
Metode hikmah ini memiliki jangkauan yang sangat luas, dan dapat dikenali dengan
berbagai macam bentuk, antara lain:
a. Hikmah dalam memilih dan menyusun kata-kata yang tepat
b. Hikmah dalam membangkitkan semangat pendengar
c. Hikmah dalam menggiring pendengar untuk memelihara dan meningkatkan keimanan
d. Hikmah dalam arti mengenali kapasitas intelektual pendengar
e. Hikmah dalam memberikan pemahaman yang tepat dan benar serta mampu melenyapkan
keraguan pendengar
f. Hikmah dalam menggiring kesadaran pendengar untuk ikhlas menjalankan ajaran Islam, tanpa
merasa terpaksa atau keberatan
g. Hikmah dalam menanamkan pembiasaan pada masyarakat pendengar agar mengamalkan ibadah
sebagai kebutuhan utama
h. Hikmah dalam uswatun hasanah (teladan yang baik).

2. Metode Ceramah
Metode ini cukup potensial dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan daya pikir
dan usaha-usaha yang menyangkut perubahan sikap dan tingkah laku manusia. Melalui metode
ceramah, seorang khatib akan berhasil dengan baik dalam menyampaikan khutbahnya, apabila
menguasai beberapa syarat:
a. Khatib harus mempelajari sifat audien (jamaah, pendengar). Dalam hal ini khatib harus
mengetahui dan menyadari siapa pendengarnya (audience approach).
b. Menyesuaikan materi khutbah dengan minat dan tingkat pemahaman pendengar.
c. Khatib harus mengorganisasikan bahan ceramahnya dengan baik dan menyajikannya dengan
kalimat yang efektif. Dengan kata lain, khutbah yang disampaikan harus dengan bahasan yang
mudah dimengerti oleh pendengar.
d.Menguasai materi yang akan disampaikan dengan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan
situasi kehidupan sehari-hari.
e. Menyesuaikan bahan dengan taraf kejiwaan, juga lingkungan sosial dan budaya pendengar.
f. Suara dan bahasa diatur dengan sebaik-baiknya, meliputi ucapan, tempo, melodi ritme, dan
dinamika.
g. Mampu tampil dengan sikap dan cara berdiri yang simpatik.
h. Isi khutbah yang disampaikan harus dapat menambah pengetahuan pendengar (informatife).
i. Menggunakan waktu yang tersedia sebaik-baiknya (disiplin waktu).
j. Memberikan motivasi mengapa uraian yang disampaikan perlu diketahui oleh para pendengar
(logical reasoning), sehingga menimbulkan kesadaran bahwa uraian itu menyangkut kepentingan
para pendengarnya (common interest).
h. Menggugah kemampuan para pendengar untuk berpartisipasi dalam perwujudan atau
pengamalan atas materi khutbah yang disampaikan.

H. LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN SEORANG KHATIB UNTUK


PEMANTAPAN KHUTBAH
Khatib yang baik harus melakukan 4 (empat) langkah untuk mencapai kemantapan dan
kesuksesan dalam berkhutbah, yaitu tahap persiapan, penyampaian, penutupan, penilaian
(evaluasi). Keempat tahapan tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
1. Memperhatikan dan memperhitungkan hal-hal yang akan dihadapi
2. Mempertimbangkan sasaran target yang akan dicapai
3. Mengumpulkan bahan
4. Memilih dan menyempitkan topic
5. Mempertimbangkan materi yang hendak disajikan
6. Membuat kerangka uraian
7. Menentukan teknik penyampaian
8. Memperhatikan di mana khutbah akan dilakukan
9. Melatih diri dengan sungguh-sungguh.
2. Tahap Penyampaian
1. Membuka khutbah dengan kalimat salam
2. Memulai muqaddimah dengan hamdalah
3. Membaca shalawat
4. Membaca dua kalimat syahadat
5. Berwasiat takwa
6. Membaca ayat Al-Quran
7. Mengemukakan topik khutbah
8. Mendeskripsikan latar belakang masalah
9. Menghubungkan peristiwa yang sedang hangat
10. Menghubungkan dengan peristiwa yang sedang diperingati
11. Menghubungkan dengan tempat atau lokasi khutbah
12. Menghubungkan dengan suasana emosi yang menguasai khalayak
13. Menghubungkan dengan sejarah masa lalu
14. Memperkuat dengan pernyataan yang mengejutkan
15. Menyatakan kutipan, baik dari Al-Quran, hadis, kitab-kitab terkemuka atau sumber bacaan
lainnya
16. Menceritakan pengalaman pribadi
17. Mengisahkan cerita faktual ataupun fiktif[42]
18. Menyatakan teori tertentu
19. Materi yang disampaikan bersifat inovatif dan edukatif[43]
20. Penyajian materi dapat dikembangkan secara induktif atau deduktif.[44]
3. Tahap Penutupan
1. Mengemukakan ikhtisar (intisari) khutbah
2. Menyatakan kembali gagasan dengan kalimat singkat dan bahasa yang berbeda
3. Memberikan dorongan untuk bertindak atau mengamalkan yang disampaikan
4. Mengakhiri dengan klimaks.
4. Tahap Evaluasi
1. Meminta pendapat atau penilaian dari perwakilan pendengar
2. Menerima kritik, masukan ataupun saran dari pendengar untuk perbaikan atau peningkatan
khutbah berikutnya.

I. PENUTUP
Khutbah Jumat memiliki peran penting dalam memperbaiki kehidupan keberagamaan
kaum Muslimin. Selain berfungsi sebagai media amar maruf nahi munkar, khutbah juga
merupakan media yang membangun hubungan kaum Muslimin untuk lebih mendekatkan diri
kepada Allah dan menyadarkan mereka dari hal-hal yang melalaikan akibat pengaruh hawa nafsu
dan aktivitas duniawi.
Dalam khutbah terkandung nilai-nilai pendidikan yang sangat tinggi. Khatib dan para
jamaah sama-sama dituntut menerapkan kedisiplinan. Seorang khatib dalam berkhutbah harus
mematuhi dan melaksanakan kode etik dan rambu-rambu dakwah yang telah ditetapkan oleh
Rasulullah saw. Khatib harus cermat dan berhati-hati dalam menyampaikan taushiahnya yang
dilengkapi dengan rukun dan syarat-syaratnya. Sebaliknya jamaah, diwajibkan mendengar dan
mentadabburi materi khutbah dengan khusyu dan tertib, tanpa boleh berkata-kata dan
bersendagurau sedikit pun, karena hal demikian dapat membatalkan ibadah, baik pada Shalat
Jumat, Idul Fitri, maupun Idul Adha.
Fenomena yang muncul belakangan ini sering memperlihatkan berbagai kekeliruan dalam
tampilan khutbah. Dalam banyak hal, khatib-khatib yang tampil di mimbar Jumat bukanlah juru
dakwah yang benar-benar dipersiapkan dengan seperangkat ilmu dan keterampilan dalam
berkhutbah. Mereka tampil secara otodidak dengan modal pandai berbicara dan mempergunakan
beberapa ayat dan hadis, tanpa belajar dan berupaya mendalami model dan tuntunan berkhutbah
yang telah disunnahkan oleh Rasulullah saw. Akhirnya kekeliruan ini sering terjadi dan terus
berlanjut sebagai warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Untuk menyikapi dan mengatasi hal yang demikian, diperlukan adanya bimbingan dan
pelatihan yang terpadu dan serius di kalangan para juru dakwah dan calon dai agar memperoleh
pencerahan dan bangkit dengan tegar meninggalkan berbagai kekeliruan yang selama ini terdapat
dalam aktivitas khutbah. Semoga para juru dakwah yang telah dibekali dengan berbagai ilmu dan
keterampilan dalam khutbah, dapat menjadi khatib-khatib teladan yang dapat membimbing dan
merangkul kaum Muslimin menjadi khaira ummat, yakni sebaik-baik ummat yang memperoleh
kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Fastabiqul Khairat, Wallahul
Mustaan.