Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Neonatal (AKN) di Indonesia masih
tertinggi diantara negara-negara ASEAN. penurunan angka tersebut masih relatif lambat,
(AKI dari 390/100.000 tahun 1994 menjadi 307/100.000 tahun 1997 dan AKN dari
282/1000 kelahiran hidup menjadi 21,8 pada tahun 1997). Salah satu kendala utama
lambatnya penurunan AKI dan AKN di Indonesia adalah hambatan terhadap penyediaan
dan akses pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal. Usaha yang dilakukan
untuk mempercepat penurunan AKI dan AKN adalah dengan peran serta seluruh
lembaga pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit swasta.
Saat ini hanya sebagian rumah sakit yang siap melayani kesehatan maternal dan
neonatal yaitu berkisar sekitar 42 %. Dengan adanya pelayanan obstetrik dan neonatal
dasar di tingkat puskesmas dan neonatal khomperhensshif di setiap rumah sakit
diharapkan dapat meningkatkan target Rencana Strategi Departemen Kesehatan RI 2005-
2009 yang mengharapkan AKI mencapai 125/100.000 kelahiran hidup dan 20/1000
kelahiran hidup dalam upaya kesehatan perseorangan serta 75 % RS telah mampu
menyelenggarakan PONEK.
Di Indonesia penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, infeksi, dan eklamsia,
partus lama, dan komplikasi abortus. Penyebab kematian utama adalah perdarahan yang
disebabkan oleh retensio plasenta. Hal ini disebabkan oleh adanya menejemen aktif kala
III yang kurang adekuat. Sedangkan kematian ibu karena inpeksi merupakan indicator
kurang baiknya upaya pencegahan menejemen infeksi.
Maka dari itu RSU Bhakti Rahayu Denpasar sebagai salah satu bagian dari pemberi
pelayanan kesehatan ikut berperan dalam program penurunan AKI dan AKN dengan
turut serta memberikan pelayan PONEK 24 jam.

B. Pengertian
Rumah Sakit MAMPU PONEK adalah Rumah Sakit yang MAMPU
menyelenggarakan pelayanan kedaruratan maternal dan neonatal secara komprehensif
dan terintegrasi 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Hal ini harus dapat terukur
melalui Penilaian Kinerja Manajemen dan Penilaian Kinerja Klinis.
C. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran
I. Visi
1
Pada Tahun 2015 tercapai Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium
Development Goals) yaitu :
Mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun.
Mengurangi tiga per empat rasio kematian ibu dalam proses melahirkan.
II. Misi
Menyelenggarakan pelayanan obstetri dan neonatal yang bermutu melalui
standarisasi Rumah Sakit PONEK 24 jam, dalam rangka menurunkan Angka
Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Indonesia. Pelayanan yang bermutu
ini dapat dipantau dan dinilai oleh Rumah Sakit itu sendiri melalui format yang
telah disusun pada Standar Kinerja Manajemen dan Standar Kinerja Klinis.
III. Tujuan
1. Adanya kebijakan Rumah Sakit dan dukungan penuh manajemen dalam
pelayanan PONEK
2. Terbentuknya tim PONEK RS yang dilantik oleh pimpinan RS dan memiliki
SK/Surat Tugas
3. Tercapainya kemampuan teknis Tim PONEK sesuai Standar Kinerja
Manajemen dan Standar Kinerja Klinis
4. Adanya proses konsultasi dan pembinaan dalam pelayanan obstetri dan
neonatal emergensi antara RS PONEK, Puskesmas PONED, Puskesmas,
Puskesmas pembantu, Dokter dan Bidan Praktik Swasta, RS swasta
5. Adanya koordinasi dan sinkronisasi antara pengelola dan penanggung jawab
program pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan pusat dalam manajemen
program PONEK.
IV. Sasaran
1. Seluruh pimpinan Rumah Sakit tingkat Kabupaten/Kota
2. Seluruh Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota
3. Pengelola program kesehatan ibu dan anak di seluruh Dinas Kesehatan
Provinsi dan Kabupaten/Kota
4. Unsur-unsur terkait lainnya/ Pihak yang peduli dan berkepentingan terhadap
kesehatan ibu dan anak

BAB II
LINGKUP PELAYANAN RUMAH SAKIT PONEK
BERDASARKAN STANDAR KINERJA KLINIS

Ruang lingkup pelayanan PONEK di RS dimulai dari garis depan/IGD dilanjutkan ke kamar
operasi/ruang tindakan sampai ke ruang perawatan. Secara singkat dapat dideskripsikan
sebagai berikut:
1. Stabilisasi di IGD dan persiapan untuk pengobatan definitif.
2. Penanganan kasus gawat darurat oleh tim PONEK RS di ruang tindakan.
3. Penanganan operatif cepat dan tepat meliputi laparatomi dan seksio sesaria.
4. Perawatan intermediate dan intensif ibu dan bayi.
2
5. Pelayanan Asuhan Antenatal Resiko Tinggi.
Penilaian kinerja klinis disesuaikan dengan kelas RS, syarat minimal pelayanan yang harus
disediakan RS PONEK adalah:
a. Mampu memberikan pelayanan kesehatan maternal fisiologis dan resiko tinggi pada masa
antenatal, intranatal, post natal
b. Mampu memberikan pelayanan neonatal fisiologis dan resiko tinggi pada level IIB (asuhan
neonatal dengan ketergantungan tinggi)
RS yang belum mencapai standar minimal kriteria RS PONEK berdasarkan standar kinerja
klinis, maka RS tersebut menyandang kriteria RS BELUM MAMPU PONEK yang
memerlukan perhatian khusus dan bimbingan serta mendorong untuk segera memperbaiki
system pelayanan RS nya sehingga mampu memperoleh kriteria RS MAMPU PONEK

PONEK RUMAH SAKIT KELAS D dan C


I. Pelayanan kesehatan maternal fisiologis
a. Pelayanan Kehamilan
b. Pelayanan Persalinan
c. Pelayanan Nifas
II. Pelayanan kesehatan neonatal fisiologis
a. Asuhan bayi baru lahir( level 1 asuhan dasar neonatal/ asuhan neonatal
normal)
Fungsi unit:
Resusitasi neonatus
RG bayi sehat ke ibu
Asuhan evaluasi pasca lahir neonates sehat
Stabilisasi dan pemberian asuhan bayi baru lahir usia kehamilan
35-37 minggu yang stabil secara fisiologis
Perawatan neonatus usia kehamilan <35 minggu atau neonates
sakit sampai dapat pindahke fasilitas asuhan neonatal spesialistik
Stabilisasi neonatus sakit sampai pindah ke fasilitas asuhan
neonatal spesialistik
Terapi sinar
Kriteria rawat inap neonatus
Neonatus normal, stabil, cukup bulan dengan berat lahir >2,5gr
Neonatus hampir cukup bulan (masa kehamilan 35-37mgg)
stabil secara fisiologis, bayi dengan resiko rendah
b. Imunisasi dan stimulasi, deteksi, intervensi dini tumbuh kembang
(SDIDTK)
III. Pelayanan kesehatan maternal resiko tinggi
a. Masa antenatal,meliputi pelayanan :
a) Perdarahan pada kehamilan muda
b) Nyeri perut dalam kehamilan muda dan lanjut

3
c) Gerak janin tidak dirasakan
d) Demam dalam kehamilan dan persalinan
e) Kehamilan ektopik (KE) & Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
f) Kehamilan dengan Nyeri kepala, gangguan penglihatan, kejang dan/koma,
tekanan darah tinggi
b. Masa intranatal
a) Induksi oksitocin pada hamil lewat waktu, IUFD
b) Pelayanan terhadap syok
c) Penanganan pecah ketuban
d) Penanganan Persalinan lama
e) Persalinan dengan parut uterus
f) Gawat janin dalam persalinan
g) Penanganan malpresentasi dan malposisi
h) Penanganan distocia bahu
i) Penanganan prolapsus tali pusat
j) Kuret pada BO/ kematian medis, abortus inkomplit- mola hidatidosa
k) Aspirasi vakum manual
l) Ekstraksi Cunam
m) Seksio sesarea
n) Epiosotomi
o) Kraniotomi dan kraniosentesis
p) Plasenta manual
q) Perbaikan robekan serviks
r) Perbaikan robekan vagina dan perineum
s) Perbaikan robekan dinding uterus
t) Reposisi Inversio Uteri
u) Melakukan penjahitan
v) histerektomi
w) ibu sukar bernafas/sesak
x) kompresi bimanual dan aorta
y) ligasi arteri uterine
z) Bayi baru lahir dengan asfiksia
aa) Penanganan BBLR

4
bb) Resusitasi bayi baru lahir
cc) Anestesia umum dan lokal untuk seksio sesaria
dd) Anestesia spinal, ketamin
ee) Blok paraservikal
ff) Blok pudendal
gg) IUD post placenta
hh) Iud durante sc
c. Masa Post Natal
a) Masa nifas
b) Demam pasca persalinan/infeksi nifas
c) Perdarahan pasca persalinan
d) Nyeri perut pasca persalinan
e) Keluarga Berencana

IV. Pelayanan Kesehatan Neonatal dengan resiko tinggi


Asuhan bayi baru lahir
1. Level IIA : PONED (pely obstetric dan neonatal emergency dasar/ sesuai
kemampuan pely puskesmas)
Fungsi unit:
Resusitasi dan stabilisasi bayi premature dan/ sakit, termasuk memberi
bantuan CPAP dalam jangka waktu < 24 jam, atau sebelum pindah
kefasilitas asuhan intensif neonatus
Pely bayi yg lahir dengan usia kehamilan > 32 mgg dan berat lahir >
1500 gr
Oksigen nasal dengan pemantau saturasi oksigen
Infuse intravena dan nutrisi parenteral
Memberikan asuhan dalam masa penyembuhan pasca perawatan
intensif
2. Level IIB: PONEK
Fungsi unit:
Kemampuan unit perinatal level IIA ditambah tersedianya ventilasi
mekanik selama jangka waktu singkat (< 24 jam) dan
CPAP(Continuous Positive Airwy Pressure)
5
Kriteria rawat inap:
Bayi premature > 32 mgg
Bayi dari ibu dengan diabetes
Bayi yang lahir dari kehamilan beresiko tinggi atau persalinan dengan
komplikasi
Gawat nafas yang tidak memerlukan ventilasi bantuan
BBLR >1,5kg
Sepsis neonatorum
hipotermia

V. Pelayanan Ginekologis
a) Kehamilan ektopik
b) Perdarahan uterus disfungsi
c) Perdarahan menoragia
d) Kista ovarium akut
e) Radang Pelvik akut
f) Abses Pelvik
g) Infeksi Saluran Genitalia
h) HIV AIDS

VI. Perawatan khusus / High Care Unit dan tranfusi darah


VII. Pelayanan penunjang medic
a) Pencitraan
Unit ini berfungsi untuk diagnosis Obstetri dan Neonatus
Radiologi, dinamik portable
USG ibu dan neonatal
b) Laboratorium bekerjasama dengan laboratorium pusat
Unit ini berfungsi untuk melakukan tes laboratorium dlm penanganan
kedaruratan maternal dalam pemeriksaan hemostasis penunjang
c) TPNM (total parenteral nutrition and medication)
Pada bayi premature, bayi sakit , pasca oprasi tidak mendapat nutrisi
enteral adekuat memerlukan dukungan nutrisi parenteral

6
d) Ruang BMHP (bahan medis habis pakai)
e) Ruang pencucian dan penyimpanan alat steril yg sdh dibersihkan
f) Ruang menyusui bagi ibu yang bayinya masih dirawat dan tempat
penyimpanan ASI perah
g) Klinik laktasi
h) Ruang susu

A. Batasan Operasional
a. Rujukan adalah pelimpahan tanggung jawab timbal balik dua arah dari sarana
pelayanan primer kepada sarana kesehatan sekunder dan tersier.
b. Rumah Sakit PONEK 24 Jam adalah Rumah sakit yang menyelenggarakan
pelayanan kedaruratan maternal dan neonatal secara komprehensif dan terintegrasi
24 jam.
c. Pelayanan Maternal adalah pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil sampai
melahirkan
d. Pelayanan Neonatal adalah pelayanan kesehatan terhadap neonatus/bayi
e. Pelayanan Risiko Tinggi adalah pelayanan kesehatan terhadap ibu dan bayi yang
berisiko tinggi terjadi kegawatdaruratan bahkan kematian
f. Pelayanan fisiologis adalah pelayanan secara normal

B. Landasan Hukum
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran
c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah
d. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 159b/Menkes/SK/Per/II/ 1988 tentang Rumah
Sakit.
e. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit.
f. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 131/Menkes/SK/II/2004
tentang Sistem Kesehatan Nasional, diatur Upaya Kesehatan Perorangan dan
Upaya Kesehatan Masyarakat.
7
g. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen
Kesehatan.
h. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1045/Menkes/Per/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit di
Lingkungan Departemen Kesehatan.
i. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/Menkes/Per/IV/2007
tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran

BAB III
KRITERIA RUMAH SAKIT PONEK

A. Kriteria Umum Rumah Sakit PONEK


8
1. Ada dokter jaga yang terlatih di IGD untuk mengatasi kasus emergensi baik secara
umum maupun emergensi obstetri neonatal.
2. Dokter, bidan dan perawat terlatih melakukan resusitasi neonatus dan
kegawatdaruratan obstetri dan neonatus.
3. Mempunyai Standar Operating Prosedur penerimaan dan penanganan pasien
kegawatdaruratan obstetri dan neonatal.
4. Jika memungkinkan, terdapat kebijakan tidak ada uang muka bagi pasien
kegawatdaruratan obsteri dan neonatal.
5. Mempunyai prosedur pendelegasian wewenang tertentu.
6. Mempunyai standar respon time di IGD (target diupayakan selama 5 menit), di
kamar bersalin (target diupayakan kurang dari 30 menit), pelayanan darah (target
diupayakan kurang dari 1 jam).
7. Tersedia kamar operasi yang siap (siaga 24 jam) untuk melakukan operasi, bila ada
kasus emergensi obstetri atau umum.
8. Tersedia kamar bersalin yang mampu menyiapkan operasi dengan target dalam
waktu kurang dari 30 menit.
9. Memiliki kru/awak yang siap melakukan operasi atau melaksanakan tugas sewaktu-
waktu, meskipun on-call.
10. Adanya dukungan semua pihak dalam tim pelayanan PONEK, antara lain dokter
kebidanan, dokter anak, dokter/petugas anastesi, dokter penyakit dalam, dokter
spesialis lain serta dokter umum, bidan dan perawat.
11. Mengupayakan tersedianya pelayanan darah yang siap 24 jam.
12. Mengupayakan tersedianya pelayanan penunjang lain yang berperan dalam
PONEK, seperti Laboratorium dan Radiologi selama 24 jam, recovery room 24 jam,
obat dan alat penunjang yang selalu siap tersedia.
13. Perlengkapan
a. Semua perlengkapan harus bersih (bebas debu, kotoran, bercak, cairan dll)
b. Permukaan metal harus bebas karat atau bercak
c. Semua perlengkapan harus kokoh (tidak ada bagian yang longgar atau tidak
stabil)
d. Permukaan yang dicat harus utuh dan bebas dari goresan besar
e. Roda perlengkapan harus lengkap dan berfungsi baik
f. Instrument yang siap digunakan harus disterilisasi
g. Semua perlengkapan listrik harus berfungsi baik (saklar, kabel dan steker
menempel kokoh)
14. Bahan
Semua bahan harus berkualitas tinggi dan jumlahnya cukup untuk memenuhi
kebutuhan unit ini.

B. Kriteria Khusus
a. Sumber Daya Manusia

9
No. Nama Jabatan Kualifikasi formal Jumlah Keterangan
1. Konsultan Spesialis kebidanan dan 5 Belum ada
teknis kandungan sertifikat
kebidanan pelatihan
PONEK
2 Konsultan Spesialis anak 5 Belum ada
teknis sertifikat
neonatal pelatihan
PONEK
3 Kepala Dr Umum 1 Belum ada
Bidang sertifikat
Pelayanan pelatihan
Medik PONEK
3 Dokter Jaga Dokter umum 4 Belum ada
IGD sertifikat
pelatihan
PONEK
4 Koordinator D3 Kebidanan 1 Belum ada
Tim Ponek sertifikat
maternal pelatihan
PONEK
5 Koordinator D3Kebidanan 1 Belum ada
Tim Neonatal sertifikat
pelatihan
resusitasi dan
belum ada
serftifikat
pelatihan
PONEK
6 Pelaksana D3 Kebidanan 16 Belum ada
kebidanan sertifikat
pelatihan
PONEK

b. Distribusi Ketenagaan dan Pengaturan Jaga


Pola pengaturan ketenagaan diatur berdasarkan jadwal jaga yang ditetapkan oleh
koordinator PONEK
10
a. Dokter Obgyn sebagai dokter konsultan dalam pelayanan PONEK on call
b. Dokter anastesi sebagai dokter konsultan dalam pelayan PONEK yang perlu
tindakan operatif diatur jadwal sesuai dengan kesepakatan dokter-dokter anastesi
c. Dokter spesialis anak on call sebagai dokter konsultan dalam pemberian
pelayanan neonatal dan anak
d. Bidan diatur sesuai dengan jadwal jaga dimasing-masing instalasi

c. Prasarana dan Sarana


a) Denah Ruang
- Ruang Maternal/Bersalin
U

B
H
A J1 J2 J3 S
D I

E
G F
Keterangan:
A = Bed Gyn
B = O2 Sentral
C = Meja Tindakan
D = Wastafel
E = Rak Kaca
F = Troli Emergency
G = Troli NST
H = Troli Alat
I = Kamar Mandi
J1 = Tempat Sampah Medis
J2 = Tempat Sampah Nonmedis
J3 = Tempat Sampah Tajam

Ruang Neonatal/Bayi

11
B
U
C
A
H
S

E
. G
F D
E
Keterangan:
A = Box Bayi
B = Meja Alat
C = Meja Tindakan
D = Inkubator
E = O2 Sentral
F = Box Bayi Khusus
G = Fototherapy
H = Tempat Sampah Medis

b) Standar Fasilitas
Peralatan yang tersedia di IGD mengacu kepada buku pedoman pelayanan
Gawat Darurat Departermen Kesehatan RI untuk penunjang kegiatan pelayanan
terhadap pasien Gawat darurat.
Alat yang harus tersedia adalah bersifat life saving untuk kasus kegawatan
jantung seperti monitor dan defribrilator
a. Prasarana dan Sarana
Ruangan PONEK terdiri dari :
NO JENIS RUANGAN JUMLAH KETERANGAN

1. Poliklinik obstetric 3
2. Ruang VK dan Gyn 1/1
3 Ruang Bayi 1
4. Rawat inap 36 kamar
12
5. UBS 1

b. Kriteria Umum Ruangan :


a) Struktur Fisik
Lantai terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan
b) Kebersihan
Ruang harus bersih dan bebas debu, kotoran, sampah atau limbah rumah
sakit. Hal tersebut berlaku pula untuk Lantai, mebel, perlengkapan,
instrumen, pintu, jendela,dinsing, steker listrik dan langit-langit.
c) Pencahayaan
Pencahayaan harus terang dan cahaya alami atau listrik
d) Ventilasi
Ventilasi, termasuk jendela, harus cukup jika dibandingkan dengan
ukuran ruang. Kipas angin atau pendingin ruang harus berfungsi baik.
Suhu ruangan harus dijaga 24-26 C.
e) Pencucian tangan
Wastafel harus dilengkapi dengan dispenser sabun atau disinfektan
Harus ada handuk (kain bersih) atau tisu untuk mengeringkan tangan,
diletakkan disebelah Westafel.
c. Kriteria Khusus Ruangan
a) Area Cuci Tangan di Ruang Obstetri dan Neonatus
b) Area resusitasi dan stabilisasi di Ruang Obstetri dan Neonatus / IGD
Tujuan kamar ini ialah : memberikan pelayanan darurat untuk stabilisasi
kondisi pasien, misalnya syok, henti jantung, hipotermia, asfiksia dan
apabila perlu menolong partus darurat serta resusitasi. Perlu dilengkapi
dengan meja resusitasi bayi, dan inkubator.
c) Ruangan Maternal
a) Kamar bersalin
Lokasi berdekatan dengan Kamar Operasi dan IGD
d) Ruangan Neonatal
a) Unit perawatan Bayi Resiko Tinggi
b) Unit Perawatan Bayi Lahir Normal
c) Area laktasi

13
d. Peralatan ESSENSIAL
a. a Peralatan dan Obat-obatan Maternal
1. Peralatan Maternal Tidak Steril
No Jenis Peralatan Jumlah Keterangan
1. Oksigen dengan 1
regulator
2. Ambugbag dengan 1/1
masker resusitasi( ibu
dan bayi)
3. Pengisap lender 2
4. Lampu sorot 3
5. Penghitung nadi( jam 1
dengan jarum detik)
6. Sterilisator 1
7. Bak instrument dengan 3
tutup
8. Palu reflex 1
9. Alat pemeriksaan hb Lab
10. Set pemeriksaan urine Lab
11. Pita pengukur 1
12. Sarung tangan karet 2
untuk mencuci alat
13. Apron 4
14. Masker Sesuai
kebutuhan
15. Pengaman Mata 3
16. Sarung kaki plastic 2
17. Semprit disposibel Sesuai
kebutuhan
18. Tempat kotoran sampah 3
19. Tempat kain kotor non 1/1
medis / infeksius
20. Tempat plasenta Sesuai
kebutuhan
21. Pispot 2
22. Bengkok besar/kecil 3/1
23. Sikat, sabun ditempatnya 2
24. Kertas lakmus 1
25. Semprit gliserin 1
26. Gelas ukur 500 ml 1
27. Gunting perban 1
22. Spatula lidah logam 1

14
23. Perlengkapan pakaian Sesuai
bayi kebutuhan
24. Perlengkapan pakaian Sesuai
ibu kebutuhan
25. Tensimeter 1
26. Stetoskop 1
27. Timbangan dewasa 0
28. Timbangan Bayi 1
29. Pengukur panjang bayi 1
30. Termometer 1
2. Peralatan Steril ( DTT)
No Nama Alat Jumlah Keterangan
1. Kleam pean 3
2 klem koher 3
3 Korentang 3
4 Gunting tali pusat 3
5 Gunting benang 3
6 Gunting episiotomy 3
7 Pinset anatomi 3
8 Pinset bedah 3
9 Speculum sim 2
10 Pengikat tali pusat Sesuai
kebutuhan
11 Pengisap lender 2
12 Tampon tang 2
13 Tampon vagina Sesuai
kebutuhan
14 Pemegang jarum 3
15 Jarum Sesuai
kebutuhan
16 Sarung tangan Sesuai
kebutuhan
17 Benang catgut Sesuai
kebutuhan
18 Duk steril Sesuai
kebutuhan
3. Obat-obatan Maternal Khusus PONEK
NO NAMA OBAT JUMLAH KET
1. RL,Dekstrose Sesuai kebutuhan
10%,Dextran
40/HES,saline 0,9%

15
2. Adrenaline/epinephrine Sesuai kebutuhan
3. Antibiotika Sesuai kebutuhan
4. Dexsametasone Sesuai kebutuhan
5. Asam traneksamat Sesuai kebutuhan
6. Dopamine Sesuai kebutuhan
7. Dobutamine Sesuai
Kebutuhan
8. KCL Sesuai kebutuhan
9. Kalsium Glukonat 10% Sesuai kebutuhan
10. Mg SO4 40 % Sesuai kebutuhan
11. Nepidipine Sesuai kebutuhan

Untuk beberapa larutan pekat,hanya disimpan di bagian farmasi dengan


penyimpanan sesuai kebijakan dan prosedur

a. bPeralatan dan Obat-obatan Neonatal Esensial


1. Peralatan neonatal
No. Jenis Peralatan Jumlah Keterangan
1. Incubator 2
2. Infant wamer 1
3. Pulse oksimetry neonatus 1
4. Therapy sinar 2
5. Syringe pump 0
6 Tabung oksigen Sesuai
kebutuhan
7. Lampu tindakan 3
8. Alat resusitasi neonatus 1
Laryngoskup neonatal,lidah
kuku ukuran 0,0,1
Ambu bag

2. Obat-obatan Neonatal
No Nama obat Jumlah Ket
1. Dekstrose 10 %,Dekstrose 40%,NaCl Sesuai kebutuhan
0,9% 25 ml dan 500 ml
2. Kalsium Bikarbonat 8,4% Sesuai kebutuhan
3. Kalsium Glukonat 10 ml Sesuai kebutuhan
4. Mg SO4 20% Sesuai kebutuhan
5. Adrenalin/epinephrine Sesuai kebutuhan
6. Dopamine Sesuai Kebutuhan
7. Dobutamine Sesuai Kebutuhan
8. Morpine Sesuai kebutuhan
16
9. Sulfas atropine Sesuai kebutuhan
10. Midazolam Sesuai kebutuhan
11. Phenobarbital injeksi Sesuai kebutuhan
12. Antibiotika Sesuai Kebutuhan
13. Gentamisin Sesuai kebutuhan

Untuk beberapa larutan pekat dan obat-obatan,hanya disimpan di bagian farmasi


dengan penyimpanan sesuai kebijakan dan prosedur

BAB IV
REGIONALISASI RUJUKAN
MATERNAL NEONATAL

A. Pengertian
1. Regionalisasi Pelayanan Obstetri dan Neonatal adalah suatu system pembagian
wilayah kerja rumah sakit dengan cakupan area pelayanan yang dapat dijangkau oleh
masyarakat dalam waktu kurang dari 1 jam, agar dapat memberikan tindakan darurat
sesuai standar. Regionalisasi menjamin agar system rujukan kesehatan berjalan secara
optimal.
2. Rujukan diartikan sebagai proses yang bermula dan timbal balik pada saat seorang
petugas kesehatan pada salah satu tingkat pelayanan mengalami kekurangan sumber
daya (saran, prasarana, alat, tenaga, anggaran/uang) dan kompetensi, untuk mengatasi
sesuatu kondisi, sehingga harus meminta bantuan kepada sarana pelayanan kesehatan
lain baik yang setingkat (horizontal) maupun berbeda tingkat (vertikal).

B. Berbagai Langkah Regionalisasi Rujukan Maternal Neonatal


17
1. Tentukan wilayah rujukan.
2. Persiapkan sumber daya manusia minimal Dokter, bidan, perawat pada wilayah
pelayanan primer.
3. Buatkan kebijakan (SK, Perda) yang mendukung pelayanan regional dan dana
dukungan.
4. Pembentukan organisasi Tim PONEK Rumah Sakit minimal 2 orang Dokter Spesialis
Obstetri dan Ginekologi, 2 orang Dokter Spesialis Anak, 2 orang Dokter umum UGD,
2 orang Bidan dan 2 orang Perawat melalui SK Direktur Rumah Sakit.
5. Pembentukan organisasi Tim PONED puskesmas minimal dokter, bidan dan perawat.
6. Pelatihan bagi SDM agar kompeten sesuai standar prosedur.
7. Meningkatkan fungsi pengawasan oleh Direktur Rumah Sakit dalam hal evaluasi
kegiatan PONEK.
8. Meningkatkan fungsi pengawasan oleh Pimpinan Puskesmas dalam hal evaluasi
kegiatan PONED.
9. Evaluasi Kinerja melalui penilaian Standar Kinerja Manajemen dan Standar Kinerja
Klinis yang telah dibuat. Evaluasi ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan setempat
dan dilakukan secara berkala.

18
BAB V
PENERAPAN PROGRAM RUMAH SAKIT
SAYANG IBU DAN BAYI DALAM PROGRAM PONEK

A. Konsep Dasar RSSIB


Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi merupakan pelayanan yang berkesinambungan
dan saling terkait. Kesehatan bayi ditentukan sejak bayi dalam kandungan. Di sisi lain
kesehatan ibu dapat berpengaruh terhadap kesehatan bayi yang dikandungnya. Oleh
karena itu upaya penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi merupakan kegiatan yang
saling terkait dan tidak terpisahkan sehingga pelaksanaannya menjadi satu program yaitu
Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB).
Diharapkan bahwa dengan diterapkannya Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB)
maka upaya penurunan AKI dan AKB dapat dipercepat melalui peningkatan kesiapan
rumah sakit terutama Rumah Sakit Kabupaten/Kota dan agar diterapkan pedoman
peningkatan mutu pelayanan ibu dan bayi berupa 10 Langkah Menuju Perlindungan Ibu
dan Bayi Secara Terpadu dan Paripurna.

B. Pengertian
Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi adalah Rumah Sakit publik maupun privat umum
dan khusus yang telah melaksanakan 10 Langkah Menuju Perlindungan Ibu dan Bayi
Secara Terpadu dan Paripurna.
19
C. Tujuan RSSIB
1. Umum
Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi secara terpadu dalam upaya
menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

2. Khusus
a. Melaksanakan dan mengembangkan standar pelayanan perlindungan ibu dan bayi
secara terpadu dan paripurna.
b. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi termasuk kepedulian
terhadap ibu dan bayi.
c. Meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam melaksanakan fungsi pelayanan
obstetri dan neonatus termasuk pelayanan kegawatdaruratan.
d. Meningkatkan fungsi rumah sakit sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan ibu
dan bayi bagi sarana pelayanan kesehatan lainnya.
e. Meningkatkan fungsi rumah sakit sebagai model dan pembina teknis dalam
pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini, Rawat Gabung dan Pemberian ASI Eksklusif.
f. Meningkatkan fungsi rumah sakit dalam Perawatan Metode Kangguru (PMK)
pada BBLR.
g. Melaksanakan sistem monitoring dan evaluasi pelaksanaan program RSSIB.

D. Strategi Pelaksanaan
Melaksanakan 10 (sepuluh) langkah perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan
paripurna menuju RS saying ibu dan anak sebagai berikut :
1. Ada kebijakan tertulis manajemen yang mendukung pelayanan kesehatan ibu dan bayi
termasuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD), pemberian ASI Eksklusif dan indikasi yang
tepat untuk pemberian susu formula serta Perawatan Metode Kangguru (PMK) untuk
bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
2. Menyelenggarakan pelayanan antenatal termasuk edukasi dan konseling kesehatan
maternal dan neonatal, serta konseling pemberian ASI.
3. Menyelenggarakan persalinan bersih dan aman serta penanganan pada bayi baru lahir
dengan Inisiasi Menyusu Dini dan kontak kulit ibu bayi.

20
4. Menyelenggarakan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif
(PONEK) selama 24 jam sesuai dengan standar minimal berdasarkan tipe RS masing-
masing.
5. Menyelenggarakan pelayanan adekuat untuk nifas, rawat gabung termasuk membantu
ibu menyusui yang benar, termasuk mengajarkan ibu cara memerah ASI bagi bayi
yang tidak dapat menyusu langsung dari ibu dan tidak memberikan ASI perah melalui
botol serta pelayanan neonatus sakit.
6. Menyelenggarakan pelayanan rujukan dua arah dan membina jejaring rujukan
pelayanan ibu dan bayi dengan sarana kesehatan lain.
7. Menyelenggarakan pelayanan imunisasi bayi dan tumbuh kembang.
8. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan keluarga berencana termasuk pencegahan
dan penanganan kehamilan yang tidak diinginkan serta kesehatan reproduksi lainnya.
9. Menyelenggarakan Audit Medik di RS dan Audit Maternal dan Perinatal
Kabupaten/Kota.
10. Memberdayakan Kelompok pendukung ASI dalam menindaklanjuti pemberian ASI
Eksklusif dan PMK.

21
BAB VI
TATA LAKSANA PELAYANAN
PONEK

A. Tatalaksanan Pendaftaran Pasien


a. Petugas Penanggung Jawab
a) Bidan/ tim PONEK
b) Petugas Administrasi
b. Perangkat Kerja
Status Medis
c. Tata Laksana Pendaftaran Pasien Melahirkan/neonatus
a) Pendaftaran pasien yang datang ke IGD/Kebidanan
dilakukan oleh pasien / keluarga dibagian Pendaftaran
b) Sebagai bukti pasien sudah mendaftar di bagian
Pendaftaran akan memberikan status untuk diisi oleh dokter IGD/Bidan yang
bertugas.
c) Bila pasien dalam keadaan gawat darurat, maka akan
langsung diberikan pertolongan di IGD, sementara keluarga / penanggung jawab
melakukan pendaftaran di bagian Pendaftaran
d) Bila pasien tidak dalam keadaan gawat darurat,pasien
langsung ke bagian kebidanan atau neonatus

B. Tata Laksana Sistim Komunikasi IGD/Kebidanan


22
a. Petugas Penanggung Jawab
a) Pendaftaran
b) Dokter / perawat IGD
b. Perangkat Kerja
a) Pesawat telpon
b) Hand phone
c. Tata Laksana Sistim Komunikasi IGD/Kebidanan
a) Antara IGD/Kebidanan dengan unit lain dalam RS Bhakti Rahayu adalah
dengan nomor extension masing-masing unit
b) Antara IGD dengan dokter konsulen / rumah sakit lain / yang terkait dengan
pelayanan diluar rumah sakit menggunakan telp atau handphone melalui
Pendaftaran
c) Antara IGD dengan petugas ambulan yang berada dilapangan menggunakan
pesawat telephone dan handphone melalui Pendaftaran
d) Dari luar RSU Bhakti Rahayu diterima Pendaftaran ditransfer ke IGD/bagian
kebidanan

C. Tata Laksana Pelayanan Maternal


a. Petugas Penanggung Jawab
Dokter jaga IGD/Bidan Jaga
b. Perangkat Kerja
a) Stetoscope
b) Tensimeter
c) Status medis
d) USG,Dopler
c. Tata Laksana Pelayanan Maternal
a) Pasien / keluarga pasien mendaftar ke bagian
pendaftaran
b) Dokter jaga IGD/Bidan melakukan pemeriksaan pada
pasien secara lengkap
c) Dokter jaga IGD/Bidan mengkonsulkan hasil
pemeriksaan ke dokter spesialis
d) Dokter spesialis melakukan pemeriksaan terhadap
pasien
23
D. Tata Laksana Pengisian Informed Consent
a. Petugas Penangung Jawab
Dokter jaga IGD/Bidan
b. Perangkat Kerja
Formulir Persetujuan Tindakan
c. Tata Laksana Informed Consent
a) Dokter IGD/Bidan yang sedang bertugas menjelaskan tujuan dari pengisian
informed consent pada pasien / keluarga pasien
b) pasien menyetujui, informed consent diisi dengan lengkap disaksikan oleh
perawat/bidan
c) Setelah diisi dimasukkan dalam status medik pasien.

E. Tata Laksana Transportasi Pasien


a. Petugas Penanggung Jawab
a) Perawat IGD/VK
b) Supir Ambulan
b. Perangkat Kerja
a) Ambulan
b) Alat Tulis
c. Tata Laksana Transportasi Pasien IGD/Kebidanan
a) Bagi pasien yang memerlukan penggunaan ambulan RS Bhakti Rahayu sebagai
transportasi, maka perawat unit terkait menghubungi bagian pendaftaran
b) Petugas Pendaftaran menuliskan data-data / penggunaan ambulan (nama pasien
ruang rawat inap/IGD, waktu penggunaan & tujuan penggunaan
c) Petugas Pendaftaran menghubungi bagian / supir ambulan untuk menyiapkan
kendaraan
d) Perawat IGD menyiapkan alat medis sesuai dengan kondisi pasien.

F. Tata Laksana Sistem Rujukan


a. Petugas Penanggung Jawab
a) Dokter IGD
b) Bidan
b. Perangkat Kerja
24
a) Ambulan
b) Formulir persetujuan tindakan
c) Formulir rujukan
c. Tata Laksana Sistim Rujukan IGD
Alih Rawat
a) Dokter jaga/perawat/bidan harus memberitahukan kepada pasien/keluarga bahwa
pasien tersebut harus dirujuk ke rumah sakit lain dan menjelaskan alasan pasien
dirujuk
b) Dokter jaga IGD memberikan informasi pada dokter jaga rumah sakit rujukan
mengenai keadaan umum pasein
c) Bila tempat telah tersedia di rumah sakit rujukan, perawat IGD/bidan
menghubungi keluarga .

25
BAB VII
LOGISTIK

Untuk menunjang kegiatan operasional, Kegiatan PONEK memerlukan cukup banyak


alat-alat kesehatan, obat-obatan dan kebutuhan penunjang lainnya. Seperti alat kantor dan
rumah tangga. Pengadaan barang-barang ini perlu diatur dan dikelola dengan sebaik-baiknya
agar senantiasa selalu tersedia dalam jumlah yang cukup dan terkontrol setiap
pengeluarannya.
Setiap tahun Tim PONEK membuat anggaran pemakainannya dan perhitungannya
didasarkan pada kebutuhan ditahun sebelumnya. Setiap pemakaian alat kesehatan harus
dikelola sebaik mungkin supaya tidak terjadi pemborosan yang tidak diperlukan dan supaya
tidak terjadi putusnya suplai yang tentunya dapat mengganggu kelancaran operasional. Untuk
itulah diperlukan adanya suatu program / prosedur pengendaliann logistik yang efektif

A. Kegiatan
a. Permintaan
b. Pencatatan
c. Inventarisasi alat kesehatan (stok opname)
d. Stok opname Obat
e. Pelaporan

a. Permintaan
a) Alat Kesehatan
Permintaan alat kesehatan ini melalui pembelian dan logistik;

26
a. Permintaan dibuat / disiapkan oleh coordinator PONEK dengan membuat
pengajuan ke TIM pengadaan rumah sakit.
b. Pengajuan dengan persetujuan dari Tim Pengadaan dan bagian Keuangan
c. Tim pengadaan melakukan kajian terhadap harga dengan
membandingakan beberapa harga dan urgency kebutuhan.
d. Hasil kajian disampaikan ke direktur untuk mendapatkan persetujuan.
e. Tim pengadaan membeli alat kesehatan yang telah disetujui oleh direktur
f. Jika barang sudah ada, tim pengadaan menghubungi petugas administrasi
logistic untuk mengiventaris alat kesehatan yang dibeli
g. Koordinator PONEK kemudian membuat amprahan ke logistic unuk alat yang
diajukan dan mencatat di iventaris ruangan
b) Alat Kantor dan Rumah tangga
Alat kantor dan rumah tangga diminta melalui logistik, permintaan dilayani
setiap hari pada jam kerja, kecuali hari libur. Pengambilan barang bisa dilakukan
setelah barang tersedia;
a. Koordinator PONEK membuat amprahan alat kantor dan rumah tangga yang
dibutuhkan dalam buku amprahan
b. Bila amprahan dilakukan oleh petugas harus mendapat persetujuan dari
koordinator PONEK
c. Buku permintaan/amprahan di bawa ke bagian logistic untuk mendapatkan
barang yang dibutuhkan
d. Setelah dilakukan serah terima barang,petugas yang mengambil barang dan
logistic menandatangani serah terima barang
e. Barang diterima dan dibawa ke bagian PONEK
c) Obat obat Farmasi
Permintaan akan kebutuhan obat obatan dan Bahan habis pakai dilayani oleh
farmasi.
a. Setiap pergantian shift Bidan/perawat mengontrol obat obatan yang ada
terutama bagian emergency
b. Permintaan obat obatan dilakukan setiap hari
c. petugas membuat amprahan obat berdasarkan resep dan BHP dengan
menggunakan buku amprahan/permintaan obat
d. Amprahan di bawa ke farmasi untuk mendapatkan persetujuan petugas
apotik/gudang farmasi
27
e. Serah terima obat dan BHP dilakukan dengan penandatanganan oleh petugas yang
mengambil permintaan dan petugas farmasi

b. Pencatatan
a) Alat Kesehatan
Disediakan buku stok untuk setiap jenis alat kesehatan. Setiap barang masuk dan
keluar dicatat dalam buku stok

d) Alat Kantor dan Rumah tangga


Disediakan buku stok untuk setiap jenis barang. Setiap barang masuk dan keluar
dicatat dalam buku stok agar jumlah barang selalu terkontrol
e) Obat obat Farmasi
Disediakan buku stok untuk setiap jenis obat - obatan. Setiap barang masuk dan
keluar dicatat dalam buku stok agar jumlah barang selalu terkontrol

c. Inventaris Alat Kesehatan


Setiap akhir bulan berikutnya dilakukan perhitungan semua persediaan alat kesehatan,
alat alat kantor dan rumah tangga

d. Stok Opname Obat


Setiap akhir bulan dilakukan stok opname obat-obatan di ruangan oleh bagian farmasi.

e. Pelaporan
Laporan persediaan barang dibuat setiap bulan yaitu pada awal minggu pertama bulan
berikutnya

28
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Indikator mutu yang digunakan di RSU Bhakti Rahayu Denpasar pada PONEK adalah
sesuai dengan standar mutu minimal rumah sakit dari depkes. Standar mutu untuk
kebidanan/PONEK yaitu :
1. Kejadian Kematian Ibu Karena Persalinan
JUDUL Kejadian Kematian Ibu Karena Persalinan
DIMENSI MUTU Safet TIPE INDIKATOR Proses
y
TUJUAN Mengetahui mutu rumah sakit terhadap pelayanan kasus
persalianan
DEFINISI Kematian ibu yang melahirkan karena
OPERASIONAL pendarahan,preeklamsi,eklamsia dan sepsis
Pendarahan adalah pendarahan yang terjadi pada saat
kehamilan semua skala persalinan dan nifas
Pre-eklamsia dan eklamsia mulai terjadi pada kehamilan
trimester kedua,pre-eklamsia dan eklamsia merupakan
kumpulan dua dari tiga tanda ,yaitu :
1. Tekanan darah sistolik > 160 mmhg dan sistolik > 110
mmhg
2. Protein uria > 5gr/24 jam,+3 dan +4 pada pemeriksaan
kualitati
3. Odem tungkai
Eklamsia adalah tanda pre-eklamsia yang disertai oleh
kejang dan penurunan kesadaran
Sepsis adalah tanda-tanda sepsis yang terjadi akibat
penanganan aborsi,persalinan dan nifas yang tidak
ditangani dengan tepat oleh pasien dan penolong
FREKUENSI Tiap bulan

29
PENGUMPULAN DATA
PERIODE ANALISIS Tiap tiga bulan
NUMERATOR Jumlah kematian pasien persalinan karena preeklamsia,
eklamsia, pendarahan dan sepsis (sesuai penyebab)
DENOMINATOR Jumlah pasien persalinan dengan pendarahan,pre-
eklamsia/eklamsia dan sepsis
SUMBER DATA Rekam medis
STANDAR Pendarahan 1%,eklamsia 30%,sepsis0,2%
PENANGGUNG Penanggungjawab ruang VK
JAWAB

2. Pemberi Pelayanan Persalinan Normal


JUDUL Pemberi Pelayanan Persalinan Normal
DIMENSI MUTU Kompetensi TIPE Outcome
teknis INDIKATOR
TUJUAN Tersedianya pemberi pelayanan persalinan normal oleh
tenaga yang berkompeten
DEFINISI Pemberi pelayanan persalinan normal adalah dokter
OPERASIONAL SPOG,dokter umum terlatih(asuhan persalinan normal)
dan bidan
FREKUENSI 1 bulan
PENGUMPULAN
DATA
PERIODE 3 bulan
ANALISIS
NUMERATOR Jumlah tenaga dokter SpOG, dokter umum terlatih
(asuhan persalinan normal) dan bidan yang memberikan
pertolongan persalinan normal
DENOMINATOR Jumlah seluruh tenaga yang memberi pertolongan
persalinan normal
SUMBER DATA Kepegawaian
STANDAR 100%
PENANGGUNG Penanggujawab VK
JAWAB

3. Pemberi Pelayanan Persalinan Dengan Penyulit


JUDUL Pemberi Pelayanan Persalianan Dengan Penyulit
DIMENSI MUTU Kompetensi TIPE Outcome
teknik INDIKATOR
TUJUAN Tersedianyan pemberi pelayanan persalinan dengan
penyulit oleh tenaga yang berkompeten
DEFINISI Pemberi pelayanan persalinan dengan penyulit adalah
OPERASIONAL dokter SpOg,dr anak
FREKUENSI 1 bulan
PENGUMPULAN
DATA
30
PERIODE 3 bulan
ANALISIS
NUMERATOR Jumlah tenaga dokter SpoG, dokter umum, dokter
SpA,bidan dan perawat yang terlatih memberi pelayanan
persalinan dengan penyulit
ENOMINATOR Jumlah seluruh tenaga yang member pelayanan
persalinan dengan penyulit
SUMBER DATA Kepegawaian
STANDAR 100 %
PENANGGUNG Penanggungjawab VK
JAWAB

4. Pemberi Pelayanan Persalianan Dengan Operasi


JUDUL Pemberi Pelayanan Persalinan Dengan Operasi
DIMENSI MUTU Kompetensi TIPE Outcome
teknik INDIKATOR
TUJUAN Tersedianyan pemberi pelayanan persalinan dengan
tindakan operasi oleh tenaga yang berkompeten
DEFINISI Pemberi pelayanan persalianan dengan operasi adalah
OPERASIONAL dokter SpOG,dokter anak dan dokter anastesi
FREKUENSI 1 bualan
PENGUMPULAN
DATA
PERIODE 3 bulan
ANALISIS
NUMERATOR Jumlah tenaga SpOG, dokter SpA, dokter Anastesi yang
memberi pelayanan persalinan dengan operasi
DENOMINATOR Jumlah seluruh tenaga dokter yang member pelayanan
persalinan dengan tindakan operasi
SUMBER DATA Kepegawaian
SRANDAR 100 %
PENANGGUNG Penanggungjawab VK
JAWAB

5. Kemampuan Menangani BBLR 1500-2500 Gram


JUDUL Kemampuan Menangani BBLR Berat 1500-2500
Gram
DIMENSI MUTU Safety TIPE INDIKATOR Proses
TUJUAN Tergambarnya kemampuan rumah sakit dalam
menangani BBLR
DEFINISI BBLR adalah bayi lahir dengan berat badan 1500-
OPERASIONAL 2500gr
FREKUENSI 1 bulan
PENGUMPULAN
DATA
PERIODE 3 bukan
31
ANALISIS
NUMERATOR Jumlah BBLR 1500gr-2500gr yang berhasil ditangani
DENOMINATOR Jumlah seluruh BBLR 1500gr-2500gr yang berhasil
ditangani
SUMBER DATA Rekam medis
STANDAR 100%
PENANGGUNG Penanggungjawab VK
JAWAB

6. Pertolongan Persalinan Melalui Seksio Cesaria


JUDUL Pertolongan Persalinan Melalui Seksio Cesaria
DIMENSI MUTU Safety TIPE INDIKATOR Proses
TUJUAN Tergambarnyan pertolongan persalinan di rumah sakit
yang sesuai dengan indikasi dan efisien
DEFIISI Seksio cesaria adalah tindakan persalinan melalui
OPERASIONAL pembedahan abdominal baik elektif maupun emergency
FREKUENSI 1 bulan
PENGUMPULAN
DATA
PERIODE 3 bulan
ANALISA
NUMERATOR Jumlah persalianan dengan seksio cesaria dalam 1 bulan
DENOMINATOR Jumlah seluruh persalinan dalam 1 bulan
SUMBER DATA Rekam medis
STANDAR 20%
PENANGGUNG Penanggungjawab VK
JAWAB

7. a. Keluarga Berencana
JUDUL Keluarga Berencana Mantap
DIMENSI MUTU Ketersediaan kontrasepsi mantap
TUJUAN Mutu dan kesinambungan pelayanan
DEFINISI Keluarga berencana yang menggunakan metode operasi
OPERASIONAL pada alat kontrasepsi
FREKUENSI 1 bulan
PENGUMPULAN
DATA
ANALISA 3 bulan
NUMERATOR Jenis pelayanan KB mantap
DENOMINATOR Jumlah peserta KB
SUMBER DATA Rekam medic dan data laporan KB RS
STANDAR 100 %
PENANGGUNG Ka.Sub.Seksi Pelayanan Medis
JAWAB
PENGUMPUL
32
DATA

b. Konseling KB Mantap
JUDUL Konseling Keluarga Berencana Mantap
DIMENSI MUTU Ketersediaan kontrasepsi mantap
TUJUAN Mutu dan kesinambungan pelaynanan
DEFINISI Proses konsultasi antara pasien dengan bidan untuk
OPERASIONAL mendapatkan pilihan pelayanan KB
FREKUENSI 1 bulan
PENGUMPULAN
DATA
ANALISA 3 bulan
NUMERATOR Jumlah konseling pelayanan KB mantap
DENOMINATOR Jumlah peserta konseling KB mantap
SUMBER DATA Laporan unit pelayanan KB
STANDAR 100 %
PENANGGUNG Ka.Sub.Seksi Pelayanan Medis
JAWAB
PENGUMPUL
DATA

8. Kepuasan Pelanggan
JUDUL Kepuasan Pelanggan
DIMENSI MUTU Kenyamanan
TUJUAN Tergambarnya persepsi pasien terhadap mutu pelayanan
persalinan
DEFINISI Kepuasan pelanggan adalah pernyataan puas oleh
OPERASIONAL pelanggan terhadap pelayanan persalinan
FREKUENSI 1 bulan
PENGUMPULAN
DATA
NALISA DATA 3 bulan
NUMERATOR Jumlah komulatif hasil penilaian kepuasan dari pasien
yang disurevei (dalam prosen)
DENOMINATOR Jumlah total pasien yang disurvei (n minimal 50)
SUMBER DATA Survey
STANDAR 80%
PENANGGUNG Ka.Sub Seksi Marketing & Humas
JAWAB

Form. 115 VK/PMKP-00

PENGUMPULAN DATA INDIKATOR MUTU & KESELAMATAN PASIEN


33
RSU BHAKTI RAHAYU DENPASAR

BULAN :
RUANG VK TAHUN : 2014

No Judul Indikator Numerator (N) & Denominator (D) Hasil Capaian Standar
1 Kejadian Kematian Ibu Jumlah kematian pasien persalinan Pendarah
Karena Persalinan karena preeklamsia, eklamsia, an 1%,
N
pendarahan dan sepsis (sesuai eklamsia
penyebab) 30%,
Jumlah pasien persalinan dengan sepsis0,
D pendarahan,pre-eklamsia/eklamsia 2%
dan sepsis
2 Pemberi Pelayanan Jumlah tenaga dokter SpOG, dokter 100%
Persalinan Normal umum terlatih (asuhan persalinan
N
normal) dan bidan yang memberikan
pertolongan persalinan normal
Jumlah seluruh tenaga yang memberi
D
pertolongan persalinan normal
3 Pemberi Pelayanan Jumlah tenaga dokter SpoG, dokter 100%
Persalinan Dengan umum, dokter SpA,bidan dan
Penyulit N perawat yang terlatih memberi
pelayanan persalinan dengan
penyulit
Jumlah seluruh tenaga yang member
D pelayanan persalinan dengan
penyulit
4 Pemberi Pelayanan Jumlah tenaga SpOG, dokter SpA, 100%
Persalinan Dengan N dokter Anastesi yang member
Operasi pelayanan persalinan dengan operasi
Jumlah seluruh tenaga dokter yang
D member pelayanan persalinan
dengan tindakan operasi
5 Kemampuan Menagani Jumlah BBLR 1500gr-2500gr yang 100%
N
BBLR Berat 1500-2500 berhasil ditangani
Gram Jumlah seluruh BBLR 1500gr-
D
2500gr yang berhasil ditangani
6 Pertolongan Persalinan Jumlah persalianan dengan seksio 20%
N
Melalui Seksio Cesaria cesaria dalam 1 bulan
Jumlah seluruh perslainan dalam 1
D bulan

7 Keluarga Berencana N Jenis pelayanan KB mantap 100%

34
Mantap D Jumlah peserta KB
8 Konseling Keluarga Jumlah konseling pelayanan KB 100%
N
Berencana Mantap mantap
Jumlah peserta konseling KB mantap
D

9 Kepuasan Pelanggan Jumlah komulatif hasil penilaian 80%


N kepuasan dari pasien yang disurevei
(dalam prosen)
Jumlah total pasien yang disurvei (n
D
minimal 50)

BAB IX
PENUTUP
Angka kematian ibu dan bayi semakin meningkat dan tidak mengalami perubahan berarti
5 tahun terakhir. Karakteristik kasus kebidanan yang sifatnya akut dan fatal akan menurunkan
kondisi kesehatan pada ibu dan bayi di masyarakat.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu agar program Pelayanan Obstetri Neonatal emergensi
Komprehensif (PONEK) dijadikan prioritas, yang terlihat pada rencana strategis Kementrian
Kesehatan 2009-2014

35
Dalam usaha untuk memberikan pelayanan yang teratur dan terarah maka diperlukan sebuah
pedoman dalam pelayanan terhadap ibu dan bayi dengan membentuk Tim PONEK. Pedoman
ini menjadi acuan bagi petugas-petugas yang bekerja dalam tim.

36