Anda di halaman 1dari 44

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan
kuasa-Nya kami telah diberi kemudahan, kelancaran dan kekuatan serta petunjuk dan
bimbingan kepada kami, karena atas petunjuk-Nyalah kami dapat menyelesaikan
Laporan ini dengan baik.

Banyak pihak yang telah membantu menyelesaikan secara langsung dan tidak
langsung dalam penyelesaian Laporan ini maka dari itu menyampaikan terima kasih
kepada:

1. Priseila Pentawati, ST.MSi


Agustinus Haryanto Pattiraja, ST.MT
Baltasar Dore, ST
Selaku Dosen pembimbing Mata Kuliah Hidrologi Terapan, Universitas Widya
Mandira Kupang.
2. Teman-teman semua yang telah membantu dalam menyelesaikan
penulisan Laporan ini.

Semoga penyusunan Laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Dalam
penyusunan Laporan ini kami sadar masih terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh
karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan sehingga terdapat kesempurnaan
pada Laporan ini. Semoga Laporan ini dapat memberikan arti dalam pengembangan
pendidikan yang akan datang khususnya pada ilmu hidrologi.

kupang, april 2016

Penulis,

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................................i


DAFTAR ISI .................................................................................................................ii
DAFTAR TABEL ........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................................iv
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................................1
1. Latar Belakang .................................................................................................7
2. Maksud dan Tujuan ..........................................................................................7
3. Lingkup Pekerjaan ............................................................................................8
BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................................3
1. Umum ...............................................................................................................3
2. Data Hujan dan Klimatologi...............................................................................4
3. Curah Hujan Rerata Daerah .............................................................................7
4. Hujan Rancangan .............................................................................................5
5. Uji Pemilihan Distribusi Frekuensi .................................................................11
6. Distribusi Curah Hujan Jam-Jaman ................................................................16
7. Koefisien Pengaliran .......................................................................................78
8. Analisa Curah Hujan Netto Jam-Jaman .........................................................78
9. Debit Bajir Rancangan ....................................................................................98
10. Evapotranspirasi .............................................................................................77
11. Debit Andalan .................................................................................................67
BAB III ANALISA BANJIR RANCANGAN ..............................................................20
1. Curah Hujan Rerata Daerah ...........................................................................20
2. Hujan Rancangan ...........................................................................................20
3. Uji Pemilihan Distribusi Frekuensi ..................................................................89
4. Distribusi Curah Hujan Jam-Jaman ................................................................78
5. Koefisien Pengaliran .......................................................................................78
6. Analisa Curah Hujan Netto Jam-Jaman .........................................................67
7. Debit Banjir Rancangan .................................................................................78
BAB IV ANALISIS DEBIT ANDALAN .....................................................................21
1. Analisis Debit Andalan ....................................................................................78
2. Evaprotranspirasi ............................................................................................98
BAB V PENUTUP .....................................................................................................78
1. Kesimpulan .....................................................................................................78

2
2. Saran ..............................................................................................................89
LAMPIRAN ................................................................................................................67
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................67

3
1. DAFTAR TABLE

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

4
22. DAFTAR GAMBAR

23.

24.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

37.

38.

39.

40.

41.

42.

5
43. DAFTAR LAMPIRAN

44.

45.

46.

47.

48.

49.

50.

51.

52.

53.

54.

55.

56.

57.

58.

59.

60.

61.

62.

63.

6
64. BAB I
65. PENDAHULUAN
66.
1. LATAR BELAKANG
67.
68. Air merupakan salah satu unsur yang penting dalam kehidupan yang
dapat ditemukan disemua tempat dipermukaan bumi ini dan merupakan sumber
daya abiotik yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari,
namun air tidak selalu tersedia sesuai dengan waktu, ruang, kualitas dan kuantitas
yang memadai, sehingga sering terjadi kesenjangan antara kebutuhan dengan
ketersediaan air. Indonesia banyak tempat yang sering terjadi kekurangan air pada
musim kemarau, sedangkan kelebihan air sering terjadi pada musim penghujan. Hal
ini juga yang terjadi di daerah aliran sungai (DAS)
69. Daerah aliran sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang
unsur-unsur utamanya terdiri atas sumber daya alam tanah, air dan vegetasi serta
sumber daya manusia sebagai pelaku pemanfaatan sumber daya alam tersebut.
Dalam kaitannya dengan ini hidrologi muncul sebagai suatu ilmu yang mempelajari
tentang terjadinya air, pergerakan air, dan distribusi air di bumi, baik di atas, maupun
di bawah permukaan bumi, tentang sifat fisik, kimia air serta reaksinya terhadap
lingkungan dan hubungannya dengan kehidupan, serta kajian siklus hidrologi juga
sangat bermanfaat dalam memahami konsep keseimbangan air dalam skala global
hingga daerah aliran sungai (DAS).
70. Dengan semakin banyaknya permasalahan yang telah dikemukakan
diatas, perlu dilakukan kajian dan analisis-analisis banjir rancangan dan debit
andalan dari komponen-komponen yang berkaitan, sehingga menjadi sumber yang
nantinya akan menjawab masalah-masalah tersebut, maka pemahaman dalam
menggunakan kajian hidrologi adalah suatu hal yang penting. Pemahaman tersebut
perlu untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam menggunakan interpretasi
hasil analisis yang didapatkan.
71.
72.

1
2. MAKSUD DAN TUJUAN
73.
74. Adapun beberapa maksud dan tujuan dari laporan ini:
a. Maksud dari laporan ini:
1) Agar mahasiswa dapat mendalami imu hidrologi ini, dan
menerapkannya di masyarakat
2) Sebagi syarat untuk memenuhi kelulusan pada Mata Kuliah Hidrologi
Terapan
3) Untuk mempermudah mahasiswa dalam penyusunan tugas akhir
(skripsi)
4) Untuk mengetahui dan dapat menggunakan program-program
komputer seperti autocad, Microsoft excel, dan Microsoft word.
75.
b. Tujun dari laporan ini:
1) Untuk mengetahui jumlah curah hujan (CH) rata-rata, penguapan
(evaporasi), debit puncak, air permukaan, air yang masuk dan keluar
pada permukaan, kedalaman air tanah, dan debit sungai.
2) Untuk menentukan curah hujan rancangan 5 th, 20 th, 50 th, 100 th,
200 th, 1000 th
3) Agar mahasiswa dapat menganalis Banjir Rancangan dan Debit
Andalan
76.
3. RUANG LINGKUP PEKERJAAN
77.
78. Lingkup pekerjaan dari penulisan laporan ini adalah yang pertama
mencari Peta topografi berkontur hingga daerah hulu sungai, mengetahui batas
Daerah Aliran Sungai (DAS) dan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) serta panjang
sungai utama menggunakan bantuan software AutoCad. Yang ke dua mendapatkan
data curah hujan (klimatologi) harian maksimum selama 10 tahun (minimal), dan
lokasi stasiun curah hujan pada kawasan sesuai batas DAS tersebut diatas, untuk
menentukan Prakiraan data hujan yang hilang (bila ada), selanjutnya Lakukan uji
konsistensi data terhadap data curah hujan harian, maksimum tahunan tersebut,
Menghitung Hujan Rata-rata daerah, menentukan curah hujan rancangan 5 th, 20
th, 50 th, 100 th, 200 th, 1000 th, melengkapi dengan uji kesesuaian distribusi
frekuensi serta berikan komentarnya (dari hasil uji kesesuain distribusi yang

2
memenuhi syarat untuk dipakai pada perhitungan selanjutnya), berikutnya
menentukan non hidrograf dan hidrograf banjir rancangan masing-masing untuk 5
th, 20 th, 50 th, 100 th, 200 th, 1000 th, menghitung besar evapotranspirasi yang
terjadi dalam 1 tahun setiap bulannya, serta menghitung debit andalan dengan
probabilitas 80%.

79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98. BAB II
99. LANDASAN TEORI
100.

3
101. UMUM
102.
103. Secara umum Hidrologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang kejadian dan perputaran atau siklus, penyebaran air diatmosfer
dan dipermukaan bumi serta dibawah permukaan bumi. Berdasarkan maksud dan
tujuan yang tertuang dalam bab satu adalah mengevaluasi sejauhmana kapasitas
dari daerah aliran sungai (DAS) tersebut dan kapasitas tampung debit aliran serta
siklus-siklus yang berkaitan dengan kajian ilmu hidrologi, untuk menganalisa dan
merencanakan bangunan air sesuai dengan teori atau metode yang tercantum pada
ilmu hidrologi itu sendiri. Pemilihan suatu teknik analisa tergantung kepada cara
pendekatan pada alam sebagai factor dan sebagai penunjang eksperimen, maka
Analisa hidrologi yang dilakukan secara umum meliputi data curah hujan dan
klimatologi, distribusi hujan serta penentuan debit banjir rancangan. Bertolak dari
pembahasan diatas maka perlu adanya penyelesaian atau kesimpulan akhir yang
akan dibahas pada laporan ini.
104.
105. DATA HUJAN DAN KLIMATOLOGI
106.
107. Curah hujan merupakan salah satu bentuk dari endapan yaitu titik-
titik air yang terdapat diawan dan kemudian jatuh kepermukaan bumi karena massa
udara yang membubung naik dan suhunya menurun. Apabila massa udara telah
mencapai titik jenuh maka terjadilah kondensasi yang menyebabkan terjadinya
hujan dengan jumlah air yang jatuh dipermukaan tanah datar selama periode
tertentu yang diukur dengan satuan tinggi (mm) diatas pemukaan horizontal, bila
tidak terjadi evaporasi, runoff dan infiltrasi.
108. Untuk mendapatkan perhitungan atau analisa hidrologi data yang
digunakan perlu diinput dari stasiun-stasiun yang sudah ditentukan pada daerah
tadah hujan yang dianggap dapat mewakili kondisi hujan didaerah yang diteliti.
Curah hujan efektif bulanan dan jumlah hari hujan rata-rata bulanan adalah data
yang digunakan dalam perhitungan ini.
109. Dalam konsep pemanfaatan dan pengembagan sumber daya air
untuk irigasi komponen klimatologis sangat diperlukan karena sangat berpengaruh

4
pada ketersediaan air dan tingkat kebutuhan. Aspek klimatologis dimaksud antara
lain radiasi matahari, kecepatan angin, kelembaban udara, suhu atau temperature
selama periode waktu tertentu. Data klimatologi yang mengalami reduksi akan
ketinggian tempat pada suatu daerah adalah temperature udara dan penyinaran
matahari. Data klimatologi diambil dari stasiun yang dapat mewakili daerah
penelitian. Jadi, curah hujan dan klimatologi adalah bidang keilmuaan yang
mempelajari data air hujan yang jatuh dipermukaan tanah selama periode tertentu.
110.
111. CURAH HUJAN RERATA DAERAH
112.
113. Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan suatu rancangan
pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir adalah curah hujan rata-rata di
seluruh daerah yang bersangkutan, bukan curah hujan pada suatu titik tertentu.
Curah hujan ini disebut curah hujan daerah dan dinyatakan dalam mm.
114. Dengan melakukan penakaran pada suatu stasiun hujan hanyalah
didapat curah hujan di suatu titik tertentu. Bila dalam suatu area terdapat penakar
curah hujan, maka untuk mendapatkan harga curah hujan areal adalah dengan
mengambil harga rata-ratanya.
115. Terdapat tiga metode yang dapat digunakan untuk menghitung
curah hujan rerata daerah yaitu:

a. Metode Rerata Aritmatik


116. Metode ini yang paling sederhana dalam perhitungan curah
hujan daerah. Metode ini cocok untuk kawasan dengan topografi rata atau
datar, alat penakar tersebar merata/hampir merata, dan cocok untuk kawasan
dengan topografi rata atau datar, dan harga individual curah hujan tidak
terlalu jauh dari harga rata-ratanya. Hujan daerah diperoleh dari persamaan
berikut (Suripin, 2004).
117. Hujan DAS dengan cara ini dapat diperoleh dengan persamaan:
118..............................................................................................................................
n

pi
p= i=1
n
5
119. .......................................................................................(2.1)

120.

121. + ... + pn ................................(2.2)


p1 + p 2 + p3
n
p = 122.
123. Keterangan:

124. P = hujan rerata di suatu DAS (mm)


125. pi = hujan di tiap-tiap stasiun (mm)
126. n = jumlah stasiun

127. Cara ini akan memberikan hasil yang dapat dipercaya jika
pos-pos penakarnya ditempatkan secara merata di areal tersebut dan hasil
penakaran masing-masing pos penakar tidak menyimpang jauh dari nilai rata-
rata seluruh pos di seluruh areal.
128.
b. Metode Poligon Thiessen

129. Metode ini memberikan proporsi luasan daerah pengaruh


pos penakar hujan untuk mengakomodasi ketidakseragaman jarak. Meskipun
belum dapat memberikan bobot yang tepat sebagai sumbangan satu stasiun
hujan untuk hujan daerah, metode ini telah memberikan bobot tertentu
kepada masing-masing stasiun sebagai fungsi jarak stasiun hujan. Metode ini
cocok untuk daerah datar dengan luas 500 5000 km 2.
130. Hujan rerata daerah untuk metode Poligon Thiessen dihitung
dengan persamaan berikut.
131.

132. + A n . Pn ...............................................(2.3)
A 1 . P 1 + A 2 . P2
Atotal
133. p =
134. A 1 + A 2 + A3 + + An ......................(2.4)
+ + A . P
A 1 . P 1 + A 2 . P 2 + A3 . P 3 n n 135.
p =
6
136. Keterangan:

137. P = curah hujan rata-rata,

138. P1,..., Pn = curah hujan pada setiap setasiun,

139. A1,..., An = luas yang dibatasi tiap poligon.

140.

141. Gambar 2.1 Polygon Thiesen

142.

143. A1
A2
144.

145.
A3
146. A4

147. Sumber:

148. Penentuan atau pemilihan metode curah hujan daerah dapat


dihitung dengan parameter luas daerah tinjauan sebagai berikut
(Sosrodarsono, 2003)

1) Untuk daerah tinjauan dengan luas 250 ha dengan variasi topografi


kecil diwakili oleh sebuah stasiun pengamatan.
2) Untuk daerah tinjauan dengan luas 250 50.000 ha yang memiliki 2
atau 3 stasiun pengamatan dapat menggunakan metode rata-rata
aljabar.
3) Untuk daerah tinjauan dengan luas 120.000 500.000 ha yang
memiliki beberapa stasiun pengamatan tersebar cukup merata dan
dimana curah hujannya tidak terlalu dipengaruhi oleh kondisi topografi
dapat menggunakan metode rata-rata aljabar, tetapi jika stasiun

7
pengamatan tersebar tidak merata dapat menggunakan metode
Thiessen.
4) Untuk daerah tinjauan dengan luas lebih dari 500.000 ha
menggunakan metode Isohiet atau metode potongan antara.
149.
c. Metode Isohiet
150. Pada prinsipnya isohiet adalah garis yang menghubungkan
titik-titik dengan kedalaman hujan yang sama, Kesulitan dari penggunaan
metode ini adalah jika jumlah stasiun di dalam dan sekitar DAS terlalu sedikit.
Hal tersebut akan mengakibatkan kesulitan dalam menginterpolasi. Hujan
DAS menggunakan Isohiet dapat dihitung dengan persamaan:
151.
n
I i + I i+1
152. p= A i n .................................(2.5)
i=1
Ai
i=1 153.
A1 + A2 + A 3 + + A n
I n + I n+1
154. ............. I 1+ I 2 I 2 + I 3 + + An 2
A1 + A2
2 2
(2.6)
p=
155.

156. Keterangan:

157. p = hujan rerata kawasan


158. Ai = luasan dari titik i
159. Ii = garis isohiet ke i

160. Dalam cara ini kita harus menggambar terlebih dahulu kontur tinggi
hujan yang sama (isohyet). Kemudian luas bagian di antara isohyet-isohyet
yang berdekatan diukur, dan nilai rata-ratanya dihitung sebagai nilai rata-rata
timbang nilai kontur sebagai berikut:
161. Gambar 2.1 sohiet

8
162.

163.

164. I1=100 A1
I2=95 A2
165.
I3=90 A3
166. A4
I4=85
167. I5=80

168. Sumber:

169. HUJAN RANCANGAN


170.
171. Hujan rancangan adalah berapa besarnya kedalaman hujan
disuatu titik yang akan digunakan sebagai dasar perancangan bangunan keairan,
atau hyetograf berupa distribusi hujan sebagai fungsi waktu selama hujan deras.
Langkah pertama dalam menentukan analisa frekuensi curah hujan adalah
menghitung deskripsi statistik, hal ini dengan tujuan untuk mengetahui kondisi dari
suatu sample yang diambil.
172. Periode hujan, intensitas, dan luas sebaran hujan mempengaruhi
laju volume aliran permukaan. Jumlah aliran permukaan dari suatu hujan tergantung
dari lamanya hujan pada intensitas tertentu. Hujan maksimum rencana dengan
berbagai periode ulang diperoleh melalui suatu analisis data curah hujan yang akan
dipergunakan untuk menentukan besaran debit banjir rencana dengan kala ulang
tertentu.
173. Untuk perhitungan hujan maksimum rencana dapat menggunakan
metodemetode sebagai berikut:
a. Metode Gumbel
174. Hujan maksimum rencana untuk menentukan debit banjir
rencana adalah curah hujan maksimum dengan periode ulang tertentu
berdasarkan data hujan selama 24 jam maksimum.
175. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

9
176.

177. X T = X + S K

...................................(2.7)
n
1
178. X = X i
n I=1

...................................(2.8)


n n
2
X X Xi
I
179. I =1 I=1
S=
n1

...................................(2.9)
Y T Y n
180. K= .
Sn

.................................(2.10)

181.
Y T =
{ ( )}
T 1
T

.................................(2.11)
182.
183. Keterangan:
184. XT = Besarnya curah hujan rencana untuk periode ulang
T
185. tahun (mm)
186. X = Besarnya curah hujan rata-rata (mm)
187. S = Standard deviasi
188. K = Faktor frekwensi
189. YT = Reduced variate
190. Yn = Reduce mean (fungsi dan banyaknya data)
191. Sn = Reduce standard deviation (fungsi dan banyaknya
data n)
192. n = Jumlah data

10
122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132.
193.
n 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143.
1 194.
0, Tabel
0, 2.1
0, Reduced
0, Variate
0, ( YT),
0, Metode
0, Gumbel
0, 0, 0,
195.
144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154.
2 0, 0,196. 0, Periode
0, 0, 197.
0, Reduced
0, 0, 0, 0,
Ulang (tahun) variate (YT)
155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165.
198. 2 204. 0.3665
3 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0,
199. 5 205. 1.4999
166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176.
4 0, 0,
200. 0, 100, 0,
206.
0,
2.2502 0,
0, 0, 0,
2. 3. 201. 4. 25 5. 6. 7.
207. 8.
3.1985 9. 10. 11.
177. 178.
0 179.
1 180.2 181.3 182.
4 183.
5 184.
6 185.
7 186.
8 187.
9
12.
5 13.
0, 0, 202.15.
14. 0, 5016.
0, 17.
0, 208.
18.
0, 3.9019 20.
19.
0, 0, 21.
0, 22.
0,
1 0,9 0,9 203.0,9 100
0,9 1,0 1,0
209. 1,0
4.6001 1,0 1,0 1,0
188. 189. 190.
210. 191. 192. 193.
Sumber: Soewarno1995194. 195. 196. 197. 198.
23.
6 24.
0, 25.
0, 26.
0, 27.
0, 28.
0, 29.
0, 30.
0, 31.
0, 32.
0, 33.
0,
211.
2 1,0 Tabel1,0
2.2. Reduced
1,0 Mean
1,0 (Yn),
1,0Metode
1,0Gumbel
1,0 1,1 1,1 1,1
199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209.
212. Sumber: Soewarno1995
34.
7 35.
0, 36.
0, 37.
0, 38.
0, 39.
0, 40.
0, 41.
0, 42.
0, 43.
0, 44.
0,
213.
3 1.1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1
210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220.
214.
45.
8 46.
0,
Tabel47.
2.3.
0,
Reduced
48.
0,
Standard
49.
0,
Deviation
50.
0, 51.
0,
(Sn), Metode
52.
0,
Gumbel
53.
0, 54.
0, 55.
0,
4 215.1,1 Sumber:
1,1 Soewarno1995
1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1
221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231.
216.
56.
9 57.
0, 58.
0, 59.
0, 60.
0, 61.
0, 62.
0, 63.
0, 64.
0, 65.
0, 66.
0.
5 1,1
b. Metode 1,1
Haspers 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1
232. 233. 217.
234. 235.
Metode 236. 237.dari238.
ini berasal 239.
kecenderungan240.
curah 241. 242.
hujan harian
67.
1 68.
0, 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77.
6 yang
1,1 dikelompokkan
1,1 1,1 atas
1,1 dasar
1,1 anggapan
1,1 bahwa
1,1 curah
1,1 hujan
1,1 memiliki
1,1
1. distribusi yang simetris dengan durasi curah hujan lebih kecil dari 1 jam dan
78.
n 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88.
7 durasi
1,1 curah
1,1 hujan
1,1lebih kecil
1,1 dari1,1
1 sampai
1,1 24 jam
1,1(Melinda,
1,1 2007)
1,1 1,1

89. 90. 218.91. Persamaan


92. yang 94.
93. digunakan
95. dalam
96.perhitungan
97. curah hujan
98. 99.
8 1,1 1,1 dengan
maksimum 1,1 menggunakan
1,1 1,1metode
1,1Haspers
1,1 adalah
1,1sebagai
1,1berikut:
1,2

100. 101.219.102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110.
9 1,2 220.1,2RT 1,2 =1,2 1,2 Ra 1,2 1,2
+ 1,2 S 1,2 1,2
UT
.................................(2.12)
111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121.
1 1,2
221.
222. keterangan:
223. RT = hujan maksimum dengan periode ulang T tahun
224. Ra = hujan maksimum rata-rata

11
225. S = Standart Deviasi
226. UT = Standart variabel untuk periode ulang T tahun.
227.
228. Persamaan untuk menghitung standart deviasi adalah:
229.
1 R1R a R2Ra
230. S=
2 (
U1
+
U2 ) ..............................(2.13)

231.
232. keterangan:
233. R1 = hujan absolut maksimum ke 1
234. R2 = hujan absolut maksimum ke 2
235. Um = standar variabel untuk periode ulang tm tahun
n+1
236. Tm = m

237. n = jumlah tahun pengamatan


238. m = rank (m = 1, 2)
239.
240. Standar variabel (U) untuk periode ulang T tahun yang akan dipakai
dalam
241. Perhitungan berikutnya, dapat dilihat dalam tabel 2-4 yang ada di
bawah ini:
242. Tabel 2.4 Standar Variabel (U) untuk Return Periode (T)

12
243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. 253. 254.
T U T U T U T U T U T U

255. 275. 295. 315. 335. 355. 375. 395. 415. 435. 455. 465.
1 - 2 - 1 1 3 2 5 2 9 3
243.
S
256. 276. 296. 316. 336. 356. 376. 396. 416. 436. 456. 466.
u
1 - 2 - 1 1 3 2 5 2 9 3
m b
e r:
257. 277. 297. 317. 337. 357. 377. 397. 417. 437. 457. 467.
1 - 2 - 1 1 3 2 5 2 9 3

258. 278. 298. 318. 338. 358. 378. 398. 418. 438. 458. 468.
1 - 2 0 1 1 3 2 5 2 9 3

259. 279. 299. 319. 339. 359. 379. 399. 419. 439. 459. 469.
1 - 2 0 1 1 3 2 5 2 9 3

260. 280. 300. 320. 340. 360. 380. 400. 420. 440. 460. 470.
1 - 3 0 1 1 3 2 6 2 1 3

261. 281. 301. 321. 341. 361. 381. 401. 421. 441. 461. 471.
1 - 3 0 1 1 3 2 6 2 1 3

262. 282. 302. 322. 342. 362. 382. 402. 422. 442. 462. 472.
1 - 3 0 1 1 3 2 6 2 1 3

263. 283. 303. 323. 343. 363. 383. 403. 423. 443. 463. 473.
1 - 3 0 1 1 3 2 6 3 1 3

264. 284. 304. 324. 344. 364. 384. 404. 424. 444. 464. 474.
1 - 6 0 1 1 3 2 6 3 1 3

265. 285. 305. 325. 345. 365. 385. 405. 425. 445.
1 - 4 0 2 1 4 2 7 3

13
266. 286. 306. 326. 346. 366. 386. 406. 426. 446.
1 - 4 0 2 1 4 2 7 3
Soewarno1995
244.
c. Metode Log Pearson Tipe III
245. Persamaan rumus yang digunakan untuk distribusi Log Pearson
Tipe III adalah:
246.
1) Harga rata-rata (Log X)
247.
n

LogXi
248. LogX= i=1
n

.................................(2.14)
249.
2) Standart deviasi (Sx)
250.

( LogXiLogX )2
251. Sx= i=1 .................................(2.15)
n1

252.
3) Koefisien kemiringan sample (Cs)
253.
n

( LogXiLogX )3
254. Cs= i=1
( n1 ) ( n2 ) ( Sx )3

.................................(2.16)
255.
4) Logaritma curah hujan (Log Xt)
256.
257. Log Xt = Log X + K . Sx
.................................(2.17)
258.
5) Hujan rencana (Xt)

14
259. Hujan rencana dengan periode ulang (T) tahun (Xt)
diperoleh dengan mencari antilog dari nilai Log Xt.
260. Keterangan:
261. Cs = koefisien kemiringan sample
262. K = faktor frekuensi dimana nilai K tergantung
dari
263. nilai (Cs)
264. Log X = hujan rata-rata (mm)
265. Log Xt = logaritma curah hujan (mm)
266. Log Xi = hujan maksimum (mm)
267. Xt = hujan rencana (mm)
268. n = jumlah tahun pengamatan
269. Sx = standar deviasi
270.
271. Tabel 2.5 Koefisien Kemiringan Sample (Cs)

15
475. 478. Waktu balik dalam tahun
476. 479. 2 5 10 25 50
Koefis 100
ie 480. Peluang (%)
n 481. 50 20 10 4 2
477. 1
272. Cs
704.
273. 4.05
1
705.
3.84
5
706.
3.70
5
707.
3.60
5
708.
3.49
9
709.
3.38
8
482. 519. 556. 593. 630. 667. 710.
3.0 -0.396 0.420 1.180 2.278 3.152 3.27
483. 520. 557. 594. 631. 668. 1
2.5 -0.360 0.518 1.250 2.262 3.048 711.
484. 521. 558. 595. 632. 669. 3.14
2.2 -0.330 0.574 1.284 2.240 2.970 9
485. 522. 559. 596. 633. 670. 712.
2.0 -0.307 0.609 1.302 2.219 2.912 3.02
486. 523. 560. 597. 634. 671. 2
1.8 -0.282 0.643 1.318 2.193 2.848 713.
487. 524. 561. 598. 635. 672. 2.95
1.6 -0.254 0.675 1.329 2.163 2.780 7
488. 525. 562. 599. 636. 673. 714.
1.4 -0.225 0.705 1.337 2.128 2.706 2.89
489. 526. 563. 600. 637. 674. 1
1.2 -0.195 0.732 1.340 2.087 2.626 715.
490. 527. 564. 601. 638. 675. 2.82
1.0 -0.164 0.758 1.340 2.043 2.542 4
491. 528. 565. 602. 639. 676. 716.
0.9 -0.148 0.769 1.339 2.018 2.498 2.75
492. 529. 566. 603. 640. 677. 5
0.8 -0.132 0.780 1.336 1.998 2.453 717.
493. 530. 567. 604. 641. 678. 2.68
0.7 -0.116 0.790 1.333 1.967 2.407 6
494. 531. 568. 605. 642. 679. 718.
0.6 -0.099 0.800 1.328 1.939 2.359 2.61
495. 532. 569. 606. 643. 680. 5
0.5 -0.083 0.808 1.323 1.910 2.311 719.
496. 533. 570. 607. 644. 681. 2.54
0.4 -0.066 0.816 1.317 1.880 2.261 4
497. 534. 571. 608. 645. 682. 720.
0.3 -0.050 0.824 1.309 1.849 2.211 2.47
2
498. 535. 572. 609. 646. 683.
0.2 -0.033 0.830 1.301 1.818 2.159 721.
2.40
499. 536. 573. 610. 647. 684.
0
0.1 -0.017 0.836 1.292 1.785 2.107
722. 16
500. 537. 574. 611. 648. 685.
2.32
0 0 0.842 1.282 1.751 2.054
6
501. 538. 575. 612. 649. 686.
723.
-0.1 0.017 0.836 1.270 1.716 2.000
2.25
274. Sumber: Soewarno1995
275. UJI PEMILIHAN DISTRIBUSI FREKUENSI
276.
277. Distribusi frekuensi adalah susunan data menurut kelas interval
tertentu atau menurut kategori tertentu pada sebuah daftar. Untuk menentukan
kecocokkan distribusi frekuensi dari sample data terhadap fungsi distribusi teoritis
yang mana diperkirakan dapat menggambarkan atau mewakili suatu kebenaran
untuk perumusan sementara mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal
itu dan untuk menentukan dan mengarahkan penilitian selanjutnya.
278. Uji ini dilakukan secara horisontal dengan menggunakan Metode
Smirnov Kolmogorof dan vertikal dengan menggunakan Metode Chi Square.
279.
a. Uji Smirnov-Kolmogorov
280. Uji kesesuaian Smirnov-Kolmogorov sering juga disebut uji
kecocokan non parametrik (non parametric test), karena pengujiannya tidak
menggunakan fungsi distribusi tertentu. Langkah-langkah pengujian Smirnov-
Kolmogorof adalah sebagai berikut (Soewarno, 1995):

1) Mengurutkan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan juga


besarnya peluang dari masing-masing data tersebut.
2) Menentukan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil
penggambaran data (persamaan distribusinya).
3) Dari kedua nilai peluang ditentukan selisih terbesarnya antara peluang
pengamatan dengan peluang teoritis.
281.
282. Berdasarkan tabel nilai kritis (Smirnov-Kolmogorov Test) dapat
ditentukan harga cr. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan
probibilitas untuk tiap data, yaitu distribusi empiris dan distribusi teoritis yang
disebut max.
283.

284. max=( p e p t ) .............................(2.18)

285.
286. Keterangan:
17
287. max = Selisih antara peluang teoritis dan peluang empiris.
288. cr = Simpangan kritis ( dari tabel )
289. Pe = Peluang empiris
290. Pt = Peluang teoritis.
291.
292. Kemudian dibandingkan antara max dengan cr. Bila max <
cr, maka pemilihan distribusi tersebut dapat diterapkan pada data tersebut.
293.
294. Apabila o lebih kecil dari cr maka distribusi teoritis yang
digunakan untuk menentukan persamaan distribusi dapat diterima, apabila
Do lebih besar dari Dcr maka distribusi teoritis yang digunakan untuk
menentukan persamaan distribusi tidak dapat diterima. Nilai Dcr untuk uji
741. 742. 743. 744. 745. Smirnov-

na 0,20 0,10 0,05 0,01 Kolmogorov


tersebut dapat
746. 747. 748. 749. 750.
dilihat pada Tabel 1
5 0,45 0,51 0,56 0,67
751. 752. 753. 754. 755. berikut ini :
10 0,32 0,37 0,41 0,49 295.
296. 756. 757. 758. 759. 760. Tabel 2.6 . Nilai
kritis (cr) 15 0,27 0,30 0,34 0,40 untuk
761. 762. 763. 764. 765.
uji Smirnov- Kolmogorov
20 0,23 0,26 0,29 0,36
297. 766. 767. 768. 769. 770.
298. 25 0,21 0,24 0,27 0,32
771. 772. 773. 774. 775.
299.
30 0,19 0,22 0,24 0,29
776. 777. 778. 779. 780.
300.
35 0,18 0,20 0,23 0,27
301. 781. 782. 783. 784. 785.
40 0,17 0,19 0,21 0,25
302. 786. 787. 788. 789. 790.
45 0,16 0,18 0,20 0,24
303. 791. 792. 793. 794. 795.
50 0,15 0,17 0,19 0,23
796. 797. 798. 799. 800.
18
n>50
1,07 1,22 1,36 1,63
n n n n
304.

305.

306.

307. Sumber https://insinyurpengairan.files.wordpress.com/2011

b. Uji Chi-Square
308.
309. Uji ini digunakan untuk menguji simpangan secara vertikal
apakah distribusi pengamatan dapat diterima secara teoritis. Pada
penggunaan Uji Smirnov-Kolmogorov meskipun menggunakan perhitungan
metematis namun kesimpulan hanya berdasarkan bagian tertentu (sebuah
variant) yang mempunyai penyimpangan terbesar, sedangkan Uji Chi-Square
menguji penyimpangan distribusi data pengamatan dengan mengukur secara
metematis kedekatan antara data pengamatan dan seluruh bagian garis
persamaan distribusi teoritisnya. Uji Chi-Square dapat diturunkan menjadi
persamaan sebagai berikut (Soewarno,1995)

310.

311. ( Ef Of )2 .................................................(2.19)
x =2
Ef
312.

313. keterangan:
314. X2 = Chi-Square.
315. Ef = frekuensi (banyaknya pengamatan) yang
diharapkan,
316. sesuai dengan pembagian kelasnya.
317. Of = frekuensi yang terbaca pada kelas yang sama.
318.
319. Nilai X2 yang terhitung ini harus lebih kecil dari harga X 2cr
(yang didapat dari tabelChi-Square).
320. Derajat kebebasan ini secara umum dapat dihitung dengan:

19
321.
322. DK = K (P + 1)
.................................(2.20)
323.
324. keterangan:
325. DK = derajat kebebasan.
326. K = banyaknya kelas.
327. P = banyaknya keterikatan atau sama dengan
banyaknya
328. parameter, yang untuk sebaran Chi-Square adalah
sama
329. dengan 2 (dua)
330.
331. Berdasarkan literatur di atas, pada uji Chi-Square menguji
penyimpangan distribusi data pengamatan dengan mengukur secara
metematis kedekatan antara data pengamatan dan seluruh bagian garis
persamaan distribusi teoritisnya dengan niliai X 2cr. Nilai X2cr untuk uji Chi
Square dapat dilihat pada Tabel 2.7 yang ada dibawah ini:
332.
333. Tabel 2.7 Nilai X2cr untuk uji Chi-Square

334. 337. 338. Probabili


Degres ty of a
s 339. Viation
335. grether the
Of 340. X2
336.
freedeo
m
341. 342. 343. 344. 345. 346.
0,20 0,10 0,05 0,01 0,001
347. 348. 349. 350. 351. 352.
1 1,642 2,706 3,841 6,635 10,827
353. 354. 355. 356. 357. 358.
2 3,219 4,605 5,991 9,210 13,818
359. 360. 361. 362. 363. 364.

20
3 4,642 6,251 7,815 11,345 16,268
365. 366. 367. 368. 369. 370.
4 5,989 7,779 9,488 13,277 18,465
371. 372. 373. 374. 375. 376.
5 5,989 7,779 9,488 13,277 18,465
377. 378. 379. 380. 381. 382.
6 8,558 10,645 12,592 16,812 22,547
383. 384. 385. 386. 387. 388.
7 9,803 12,017 14,067 18,475 24,322
389. 390. 391. 392. 393. 394.
8 11,03 13,362 15,507 20,090 26,125
0
395. 396. 397. 398. 399. 400.
9 12,24 14,684 16,919 21,666 27,887
2
401. 402. 403. 404. 405. 406.
10 13,44 15,987 18,307 23,209 29,588
2
407. 408. 409. 410. 411. 412.
11 14,63 17,275 19,675 24,725 31,264
1
413. 414. 415. 416. 417. 418.
12 15,81 18,549 21,026 26,217 32,909
2
419. 420. 421. 422. 423. 424.
13 16,98 19,812 22,362 27,688 34,528
5
425. 426. 427. 428. 429. 430.
14 18,15 21,064 23,685 29,141 36,123
1
431. 432. 433. 434. 435. 436.
15 19,31 22,307 24,996 30,578 37,697
1
437. 438. 439. 440. 441. 442.
16 20,46 23,542 26,296 32,000 39,252
5
443. 444. 445. 446. 447. 448.
17 21,61 24,769 27,587 33,409 40,790
5
449. 450. 451. 452. 453. 454.
18 22,76 25,989 28,869 34,805 42,321
0
455. 456. 457. 458. 459. 460.
19 23,90 27,204 30,144 36,191 43,820
0
461. 462. 463. 464. 465. 466.
20 25,03 28,412 31,410 37,566 45,315
8

467. Sumber:https://insinyurpengairan.files.wordpress.com/2011

21
468. DISTRIBUSI CURAH HUJAN JAM-JAMAN

469. Untuk mendistribusi hujan harian menjadi jam-jaman perlu pola


distribusi hujan tiap jam. Pola ini hanya dapat diperoleh dari pencatatan hujan
otomatis, berhubungan dengan penilitian ini tidak diperoleh data tersebut, maka
untuk mendistribusi hujan harian menjadi hujan tiap jam.

470. perlu adanya analisa data pengamatan sebaran hujan jam jaman,
dengan demikian perhitungannya menggunakan rumus sebagai berikut:

471.
2
R24 T
472.RT =
( )( )
TC
C
............(2.21)
t
3
.................................................................................

473.

474. keterangan:

475. RT = Rata-rata hujan pada jam ke- n (mm)


476. R24 = Curah hujan efektif dalam 1 hari (mm)
477. Tc = Waktu konsentrasi hujan (jam)
478. T = Waktu hujan (jam)
479.
480. KOEFISIEN PENGALIRAN

481. Koefisien pengaliran merupakan suatu variabel yang didasarkan


pada kondisi daerah pengaliran dan karekteristik hujan jatuh di daerah tersebut.
Koefisien Aliran juga dapat didefinisikan sebagai bilangan yang menunjukkan
perbandingan (nisbah) antara besarnya limpasan terhadap besar curah hujan.

482. Koefisien aliran atau koefisien limpasan dapat dikategorikan


menjadi 2 bagian antara lain:
a. Koefisien aliran tahunan, yang dapat dipakai sebagai petunjuk kehilangan air
dari sistem daerah aliran sungai (DAS)

22
b. Koefisien aliran sesaat, yang merupakan perbandingan antara aliran sesaat
yang disebabkan oleh curah hujan penyebabnya
483. Faktor faktor yang mempengaruhi harga koefisien pengaliran adalah
infiltrasi dan tampungan air hujan pada tanah, sehingga dapat mempengaruhi
jumlah air hujan yang mengalir.

484.
Cr =
Ci . A i
485.
A ............................................................................................
.. (2.22)

486. keterangan:
487. Cr = harga rata rata koefisien pengaliran
488. Ci = nilai koefisien pengaliran pada masing
masing daerah
489. Ai = luas masing masing bagian daerah
pengaliran (ha)
490. A = luas daerah pengaliran total (ha)
491.
492. ANALISA CURAH HUJAN NETTO JAM-JAMAN

493. Analisa curah hujan jam-jaman dilakukan untuk memperkirakan


atau memprediksi daerah tangkapan hujan didaerah tangkapan kecil, seperti dalam
sistem drainase kota, gorong-gorong dan jembatan. Didaerah tanggapan yang kecil,
hujan deras dengan durasi singkat (intensitas hujan dengan durasi singkat adalah
sangat tinggi) yang jatuh pada berbagai titik diseluruh daerah tangkapan hujan
dapat terkonsentrasi dititik kontrol yang ditinjau dalam waktu yang bersamaan yang
menghasilkan debit puncak.

494. Hujan netto adalah bagian hujan total yang menghasilkan limpasan
langsung (direct run-off ). Dengan asumsi bahwa proses transformasi hujan menjadi
limpasan langsung mengikuti proses linier dan tidak berubah oleh waktu (linear and
time invariant process), maka hujannetto (Reff ) dapat dinyatakan sebagai berikut:

23
Reff =f R 24
495. ......................................................................................

.(2.23)

496. Keterangan:
497. Reff = hujan netto (mm)
498. f = koefisien pengaliran
499. R 24 = intensitas curah hujan (mm)
500. DEBIT BANJIR RANCANGAN

501. Banjir rencana (design flood) adalah debit maksimum di sungai


atau saluran alami dengan periode ulang tertentu. Debit banjir rencana dengan
periode ulang (T) tahun dinotasikan dengan huruf "QT". Banjir rencana dengan kala
ulang tahun (QT) adalah besaran banjir yang diperkirakan dapat disamai atau
dilampaui sekali atau lebih dalam waktu ulang (T) tahun, berarti banjir tersebut
terjadi satu kali atau lebih dalam waktu (T) tahun.
502. Hitungan debit banjir rencana membutuhkan data masukan
intensitas hujan (mm/jam), koefisien pengaliran (run off coefficien) dan luas daerah
pengaliran. Analisis debit banjir dilakukan pada suatu titik tinjauan dengan berbagai
periode ulang. Untuk mengetahui besarnya debit banjir rencana dapat ditentukan
dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut:
503.
a. Metode Rasional
504. Metode ini menggambarkan hubungan antara debit limpasan
dengan besar curah hujan yang terjadi pada daerah pengaliran sungai.
Parameter utama yang digunakan adalah koefisien pengaliran (), waktu
konsentrasi (tc), intensitas hujan (I) dan luas daerah pengaliran sungai (A).
Persamaan empiris dari metode rasional adalah:
505.
1
QT =
506. 3.6 I A

....................................(2.24)

24
507.
508. Keterangan:
509. QT = Debit banjir rencana (m /dtk)
510. = Koefisien pengaliran
511. I = Intensitas hujan (mm/jam)
512. A = Luas daerah pengaliran / tangkapan hujan (km)

1) Waktu Kosentrasi
513. Waktu kosentrasi aliran adalah waktu yang
dibutuhkan untuk hujan yang jatuh di hampir seluruh daerah
tangkapan untuk dapat mengalir, sehingga seluruh aliran daerah
tangkapan mengalir pada suatu titik yang ditinjau atau waktu yang
dibutuhkan oleh air yang jatuh pada titik terjauh ke titik yang ditinjau.
514.
515. Dibawah ini adalah rumus Metode Kirpich dan
metode Giandotti adalah sebagai berikut:
516.
a) Rumus Kirpich
517.
0.945 L1.156
518. t c= 0.385
D

.................................(2.25)
519.
b) Rumus Giandotti
520.
4 A0.5 +1.5 L
521. t c=
0.8 h0.5

.................................(2.26)
522.
523. Keterangan:

524. tc = waktu kosentrasi (jam)

25
525. L = alur terpanjang dimana permukaan
mengalir
526. (Km)
527. D = perbedaan tinggi antara lokasi
embung dan
528. titik tertinggi pada daerah tadah hujan
(m).
529. h = perbedaan antara tingi rata-rata
dari daerah
530. tadah hujan dan ketinggian lokasi
embung
531. (m).
532.
2) Intensitas Hujan

533. Intensitas curah hujan adalah curah hujan jangka


pendek yang dinyatakan dalam intensitas perjam (mm/jam). Intensitas
curah hujan digunakan untuk menghitung besarnya debit banjir
rencana dalam merencanakan teknis bangunan air. Untuk menentukan
intensitas curah hujan digunakan rumus Dr. Mononobe

RT 24 2

534. I

( )
24 t c
3

................................................................(2.27)
535.
536. Keterangan:

537. I = Intensitas hujan selama waktu kosentrasi tc


538. (mm/jam)
539. RT = Curah hujan dengan kala ulang t tahun (mm)
540. tc = Waktu kosentrasi (jam)
541.

26
3) Koefisien Pengaliran ()

542. Koefisien pengaliran adalah suatu faktor koreksi yang


sangat dipengaruhi oleh kondisi dan situasi daerah tangkapan hujan
seperti kemiringan kondisi vegetasi dan lain-lain. Koefisien pengaliran
dihitung dengan memperhatikan faktor iklim dan fisiografi yaitu dengan
menjumlahkan beberapa koefisien sebagai berikut:

543. C = Cp + Ct + Co + Cs + Cc ...
.................................(2.28)
544.
545. Keterangan:

546. Cp = komponen C yang disebabkan oleh


intensitas hujan
547. yang bervariasi
548. Ct = komponen C yang disebabkan oleh keadaan
549. topografi
550. Co = Komponen C yang disebabkan oleh
tampungan
551. permukaan
552. Cs = kompnen C yang disebabkan oleh infiltrasi
553. Cc = komponen C yang disebabkan oleh penutup
lahan
554.
555. Tabel 2.8 Harga komponen C oleh faktor intensitas curah hujan Cp
556. Intensitas Hujan 557.
(mm/jam) Cp
558. < 25 562.
559. 25 50 0.05
560. 50 75 563.
561. > 75 0.15
564.

27
0.25
565.
0.30
566. Sumber:

567. Tabel 2.9 Harga komponen C oleh faktor topografi Ct


568. Keadaa 569. Kemirin 570. C
n topografi gan (m/km) t
571. Curam 575. 200 579. 0
dan tidak rata 576. 100 .10
572. Berbukit 200 580. 0
-bukit 577. 50 .05
573. Landai 100 581. 0
574. Hampir 578. 0 50 .00
datar 582. 0
.00
583. Sumber:

584. Tabel 2.10 Harga komponen C oleh tampungan permukaan Co

28
585. 801. Tampungan Permukaan 802.
C

803. Daerah pengaliran yang curam, sedikit depresi 807.


permukaan. 0
804. Daerah pengaliran yang sempit dengan sistem
teratur 808.
805. Tampungan dan aliran permukaan yanhg berarti; 0
terdapat kolam; berkontur.
806. Sungai berkelok-kelok dengan usaha pelestarian 809.
alam. 0

810.
811.
0

Sumber:

586. Tabel 2.11 Harga komponen C oleh faktor infiltrasi Cs


587. Kemampuan infiltrasi tanah 588. 589.
K (cm/dt) Cs
590. Infiltrasi besar (tidak terdapat 594. 598.
penutup lahan) < 10 5 0
591. Infiltrasi lambat (lempung) 595.
592. Infiltrasi sedang (loam) 10 5 599.
593. Infiltrasi cepat (pasir tebal,tanah 10-6 0
beragregrat baik) 596.
10-3 600.
10-4 0
597. 10-3
601.
0.0

29
5
602. Sumber:
603. Tabel 2.12 Harga komponen C oleh penutup lahan Cc

812. Penutup tumbuh-tumbuhan pada daerah pengaliran 813. C 604.

c 604.
814. Tidak terdapat tanaman yang efektif. 818. 604.
815. Terdapat padang rumput yang baik sebesar 10 %
0.2 604.
816. Terapat padang rumput yang baik sebesar 50
5 604.
%, ditanami atau banyak pepohonan.
819. 604.
817. Terdapat padang rumput yang baik sebesar
0.2 604.
90 %. hutan
0 604.
820. 604.
0.1 604.
0 604.
821. 604.
822. 0 604.
.05 604.

605.
606.
607.
608.
609.
610.
611. Sumber:
612.
b. Metode Weduwen

613. Metode ini dimunculkan pertama kali pada tahun 1937


olehWeduwen.Pemakaiannya hanya terbatas pada luas daerah pengaliran
tidak lebih dari 100 Km2. Debit banjir rencana dengan periode ulang (T)
tahun dihitung melalalui persamaan rumus sebagai berikut:
614.

30
615. Q T = x x qt x A .................................
(2.29)
616.
617. Keterangan:

618. QT = debit dengan kemungkinan ulang T tahun


(m3/dtk).
619. = koefisien pengaliran (run off coefficien).
620. = koefisien reduksi.
621. qt = intensitas hujan (m3/km2/dtk).
622. A = luas daerah pengaliran (km2).
623.
1) Koefisien reduksi ()
624. Untuk mendapatkan harga debit banjir rencana,
Weduwen menentukan harga (t) dengan cara coba-coba sampai
menghasilkan nilai (t=tc). Nilai (t) dimasukan dengan nilai coba-coba
pada persamaan:
t+1
120+ A
625. t +9
=
120+ A

...................(2.30)
626.
627. Keterangan:

628. = koefisien reduksi.


629. t = lamanya curah hujan (jam)
630. A = luas daerah pengaliran (Km2)
631.
2) Intensitas hujan (qt)
632. Besarnya intensitas hujan (qt) diperoleh melalui
persamaan sebagai berikut:
633.

31
67.65 Rt
qt=
634. t +1.45 240 ...............(2.31)

635.
636. Keterangan:

637. qt = intensitas hujan (m3/km2/dtk).


638. t = lamanya curah hujan (jam)
639. Rt = curah hujan dengan kemungkinan ulang T
tahun
640. (mm)
641.
3) Koefisien pengaliran ()
642. Koefisien pengaliran dihitung dengan menggunakan rumus:
643.
4.1
=1
644. qt+ 7 ..................................(2.32)

645.
646. Keterangan:

647. = koefisien pengaliran.


648. = koefisien reduksi.
649. qt = intensitas hujan (m3/km2/dtk).
4) Waktu kosentrasi (tc)
650. Waktu kosentrasi dihitung dengan menggunakan
persamaan:
651.
0.25 L
T c=
652. 0.125
( QT ) + ( i)
0.25
.................................(2.33)

653. Keterangan:
654. QT = debit dengan kemungkinan ulang T tahun
(m3/dtk).

32
655. Tc = waktu kosentrasi (jam).
656. i = kemiringan rata-rata sungai.
657. L = panjang sungai dihitung sejarak 0.90 x L
(Km).
658.
c. Metode Haspers

659. Metode ini pada prinsipnya mengikuti cara pendekatan


rasional dengan mempertimbangkan beberapa parameter yang ada, yaitu:
luas daerah pengaliran (A), panjang sungai (L), intensitas hujan (I). Besarnya
debit banjir rencana.

660. Q T = x x qt x A
.................................(2.34)
661.
662. Keterangan:
663. QT = debit dengan kemungkinan ulang T tahun
(m3/dtk).
664. = koefisien aliran (run off coefficien).
665. = koefisien reduksi.
666. qt = intensitas hujan (m3/km2/dtk).
667. A = luas daerah pengaliran (Km2).
668.
1) Koefisien pengaliran ()
669. Koefisien pengaliran dihitung dengan mengunakan
persamaan sebagai berikut:

1+ 0.012 A 0.7
670. = .................................(2.35)
1+ 0.075 A0.7

671. Keterangan:

672. = koefisien pengaliran.


673. A = luas daerah pengaliran (km2).

33
674.
2) Waktu kosentrasi (tc)

675. Waktu kosentrasi dihitung dengan menggunakan


persamaan sebagai berikut:
676.
0.3
677. t c =0.10 L i ..................................(2.36)

678.
679. Keterangan:

680. tc = waktu kosentrasi (jam).


681. L = panjang sungai dihitung sejarak 0.90 x L
(Km).
682. i = kemiringan sungai.
683.
3) Koefisien reduksi ()

684. Koefisein reduksi dihitung dengan menggunakan


persamaan sebagai berikut:
685.

[ ( )]
0.4 tc
1 3.7 10 A 0.75
= 1+t c
686. t c 2+15 12 ...................................(2.37)

687.
688. Keterangan:
689. = koefisen reduksi.
690. tc = waktu kosentrasi (jam).
691. A = luas daerah pengaliran (Km2)
692.
4) Intensitas hujan (qt)
693. Intensitas hujan dihitung dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut:

34
rT
694. qt ( jam )= ...................................(2.38)
3.6 r c

695.
rT
696. qt ( h ari ) =
86.4 r c

.................................(2.39)
697.
698. Keterangan:
699. qt = intensitas hujan (m3/km2/dtk).
700. rT = curah hujan rencana (mm).
701. tc = waktu kosentrasi (jam).
702.
703. Besarnya hujan rancangan menurut Haspers ditentukan
dengan mengikuti lamanya waktu terjadi hujan dan dikategorikan
sebagai berikut:
a) Untuk waktu tc < 2 jam
704.
t c Rt
rT =
705. t c +1 ( 260Rt ) ( 2t c )2 ................................

(2.40)
706.
b) Untuk waktu 2 jam < tc < 19 jam
707.
t Rt
708. rT = c ..................................(2.41)
t c +1

709.
c) Untuk waktu 19 jam < tc < 30 hari
710.
711. r T =0.707 Rt t c +1

..................................(2.42)
712.
713. Keterangan:

35
714. rT = curah hujan rencana (mm).
715. Rt = curah hujan dengan kemungkinan
ulang T
716. tahun (mm).
717. tc = waktu kosentrasi (jam).

718. EVAPOTRANSPIRASI

719. Evapotranspirasi atau disebut penguapan adalah gabungan dari


dua peristiwa yakni evaporasi dan transpirasi yang terjadi secara bersamaan disebut
juga peristiwa evapotranspirasi. Kedua proses ini sulit untuk dibedakan karena
keduanya terjadi secara simultan. Faktor iklim yang sangat mempengaruhi peristiwa
ini, diantaranya adalah suhu, udara, kelembaban, kecepatan angin, tekanan
udara,dan sinar matahari. Banyak rumus tersedia untuk menghitung besarnya
evapotranspirasi yang terjadi, salah satunya adalah Metode Penman metode ini
pertama kali dibuat oleh H.L Penman (Rothamsted Experimental Station,
Harpenden, England) tahun 1984. Metode Penman pada mulanya dikembangkan
untuk menentukan besarnya evaporasi dari permukaan air terbuka (E0). Dalam
perkembangannya, metode tersebut digunakan untuk menentukan besarnya
evapotranspirasi potensial dari suatu vegetasi dengan memanfaatkan data iklim
mikro yang diperoleh dari atas vegetasi yang akan menjadi kajian. Banyak rumus
tersedia untuk menghitung besarnya evapotranspirasi yang terjadi salah satunya
adalah Metode Penman.

720. ETO = c [ w Rn + (1 w) f(u) (ea ed)


............................................... (2.43)

721. keterangan:

722. ETO = Evapotranspirasi acuan (mm/hari)


723. W = Faktor koreksi terhadap temperatur
724. Rn = Radiasi netto (mm/hari)
725. f(u) = Fungsi angin

36
726. (ea-ed) = Perbedaan tekanan uap air jenuh dengan
tekanan uap air
727. c = Faktor pergantian cuaca akibat siang dan
malam
728.
729. DEBIT ANDALAN
730.
731. Debit andalan adalah debit yang selalu tersedia sepanjang tahun
yang dapat dipakai untuk irigasi. Dalam penelitian ini debit andalan merupakan debit
yang memiliki probabilitas 80%. Debit dengan probabilitas 80% adalah debit yang
memiliki kemungkinan terjadi di bendung sebesar 80% dari 100% kejadian. Jumlah
kejadian yang dimaksud adalah jumlah data yang digunakan untuk menganalisis
probabilitas tersebut. Jumlah data minimum yang diperlukan untuk analisis adalah
lima tahun dan pada umumnya untuk memperoleh nilai yang baik data yang
digunakan hendaknya berjumlah 10 tahun data.
732. Debit andalan 80% ialah debit dengan kemungkinan terpenuhi 80%
atau tidak terpenuhi 20% dari periode waktu tertentu. Untuk menentukan
kemungkinan terpenuhi atau tidak terpenuhi, debit yang sudah diamati disusun
dengan urutan dari terbesar menuju terkecil.

733. Langkah perhitungan metode DR.F.J. Mock:

a. Hitung Evapotranspirasi Potensial


1) Data curah hujan dan hari hujan dalam sebulan
2) Evapotranspirasi
3) Faktor Karakteristik Hidrologi, (Exposed Surface)

734. Exposed surface (m%) ditaksir berdasarkan peta tata guna


lahan atau
735. dengan asumsi:
736. M = 0% untuk lahan dengan hutan lebat, pada akhir musim
hujan dan bertambah 10% setiap bulan kering untuk lahan sekunder,
737. M = 10% - 40% untuk lahan yang tererosi, dan

37
738. M = 20% - 50% untuk lahan pertanian yang diolah.

b. Hitung Limited Evapotranspirasi (ET)


c. Hitung Water Balance
739. Water balance adalah presipitasi yang jatuh ke permukaan daratan
setelah mengalami penguapan, yaitu nilai evapotranspirasi Terbatas.
d. Hitung Aliran Dasar (baseflow) dan Limpasan Langsung (direct runoff).
740. Nilai baseflow (Qg) dan runoff (Qi) tergantung dari kondisi daerah
tangkapan air dan keseimbangan airnya.

741.

742.
743.

744.

745.

746.
747.
748.
749.
750.
751.

38