Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di negara maju, pasien sudah terbiasa mendapatkan analgetika untuk mengurangi
rasa sakit pada saat persalinan, yaitu dengan penggunaan anestesia lokal dan umum. Di
Indonesia, rasa sakit waktu persalinan masih dapat ditolerir ibu sampai saat persalinan
bayi berlangsung, tetapi (pada umumnya) parturien tidak dapat menahan rasa sakit pada
waktu dilakukan penjahitan terhadap luka episiotomi, dan parturien minta dipati-rasa. Di
samping itu, anestesia lokal atau umum memang diperlukan oleh operator (penjahit luka),
sehingga ia dapat melakukan tugasnya dengan baik, tenang dan aman (Catterall, 2001).
Sebaiknya, tindakan anestesia lokal maupun umum ini dapat dilakukan sendiri oleh
dokter yang menolong persalinan. Hal ini mengingat bahwa tindakan-tindakan ringan
(yang dilakukan oleh seorang ahli penyakit kandungan) sering kali hanya memerlukan
waktu anestesia yang sangat singkat. Terlebih lagi, bila tempat dimana ia bekerja belum
ada seorang teman sejawat yang ahli anstesia (Catterall, 2001).
Ahli obstetri dan ginekologi seringnya semata-mata bertanggung jawab terhadap
anelgesia/sedasi dan blok regional sepanjang prosedur rawat jalan dan berbasis jasa.
Petunjuk The American Society of Anesthesiologists untuk ketetapan analgesia/sedasi
bagi kalangan non-ahli anestesi memberikan rekomendasi yang bermanfaat untuk
memaksimalkan keamanan pasien selama prosedur rawat jalan dan berbasis jasa
(Gmyrek, 2005).
Tehnik analgesia untuk pasien-pasien obstetri dan ginekologi termasuk infiltrasi lokal
dan blok regional dengan atau tanpa sedasi, agen parenteral dan blokade neuraksial
sepanjang persalinan, dan anestesi umum untuk pembedahan yang lebih ekstensif dan,
adakalanya, untuk persalinan sesar. Meskipun the American College of Obstetricians and
Gynecologists (ACOG) dan the American Society of Anesthesiologists (ASA) telah
menetapkan tujuan untuk memastikan ketetapan yang tepat pada layanan anestesi di
seluruh rumah sakit yang menyediakan perawatan obstetri memastikan layanan seperti itu
menyisakan tantangan, khususnya pada rumah sakit yang lebih kecil atau di daerah
pedesaan (Gmyrek, 2005).

1
B. Tujuan

1. Mahasiswa dapat mengetahui jenis jenis anasteti lokal


2. Mahasiswa dapat mengetahui Indikasi dan kontraindikasi anastesi lokal serta
indikasi dan kontraindikasi anastetikum lokal
3. Mahasiswa dapat mengetahui efek samping dari anastesi lokal
4. Mahasiswa dapat mengetahui mekanisme kerja obat anatsi lokal
5. Mahasiswa dapat mengetahui penggunaan anastesi lokal di bidang obgyn

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Jenis-jenis anastesi lokal


Pada anastesi lokal terdapat beberapa anastetikum berdasarkan rumus kimianya yang
digolongkan menjadi dua golongan yaitu:
a. Golongan ester (-COOC-)
Kokain, benzokain (amerikain), ametocaine, prokain (novocaine), tetrakain
(pentocaine), kloroprokain (nesacaine).
b. Golongan amida (-NHCO-)
Lidokain (xylokaine, lignocaine, mepivakain (carbocaine), prilokain (citanest),
bupivakain (marcaine), etidokain (duranest), dibukain (nupercaine), ropikaine
(naropin), levobupicaine (chirocaine).

Golongan ester
Kokain
Kokain atau benzoilmetilekgonin didapat dari daun Erythroxylon coca dan spesies
Erythroxylon lain, yaitu pohon yang tumbuh di Peru dan Bolivia, dimana selama
berabad-abad lamanya daun tersebut dikunyah oleh penduduk asli untuk menambah
daya tahan terhadap kelelahan (Catterall, 2001).
Kokain atau benzoilmetilekgonin di dapat dari daun erythoxylon coca
dan spices erythroxylonlain, yaitu pohon yang tumbuh di Peru dan Bolivilia.
Efek kokain yang paling penting yaitu menghambat hantaran saraf, bila dikenakan
secara lokal. Efek sistemiknya yang paling mencolok yaitu rangsangan SSP. Kokain
sering menyebabkan keracunan akut (Matarasso, 1996).

Prokain
Prokain disintesis dan diperkenalkan tahun 1905 dengan nama dagang novokain.
Obat ini merupakan obat terpilih untuk anastesi lokal suntikan, maupun
kegunaannya terdesak oleh obat anastetik lain, lidokain yang ternyata lebih kuat
dan lebih aman dibanding dengan prokain (Gmyrek, 2005).

3
Prookain pernah digunakan untuk anestesia infiltrasi, anastesi blok saraf, anatesi
spinal, dan anastesi kaudal. Namun karena potensianya rendah, mula kerja lambat
serta masa kerjanya pendek, maka penggunaannya sekarang ini hanya hanya
terbatas untuk anestesia infiltrasi dan kadang-kadang untuk anatesi blok saraf
(Matarasso, 1996).

Benzokain
Benzokain absorsinya lambat Karen sukar larut dalam air, sehingga relative tidak
toksik. Benzokain dapat digunakan lansung pada luka degan ulerasi dan
menimbulkan anastesia yang cukup lama. Selain sebagai salep dan supoituria, obat
ini juga sebagai bedak (Matarasso, 1996).

Tetrakain
Tetrakain adalah derivat asam paraaminobenzoat. Zat ini 10 kali lebih aktif dan
lebih toksik darpada prokain. Obat ini digunakan untuk segala macam anastesia :
untuk pemakaian topikal pada mata digunakan larutan tetrakain 0,5 %, untuk
hidung dan tenggorok larutan 2%. Pada anastesia spinal, dosis total 10-20 mg
(Matarasso, 1996).

Golongan amida
Lidokain
Lidokain (xilokain) adalah anastetik lokal kuat yang digunakan secara luas
dengan pemberian topikal dan sutikan. Anastesia terjadi lebih cepat, kuat, lebih
lama dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain pada kosentrasi
yang sebanding. Lidokain merupakan aminoetilamid dan merupakan prototip dari
anastetik lokal golongan amida. Larutan lidokain 0,5% digunakan untuk anastesia
blok dan topikal. Anastetik ini efektif digunakan apabila digunakan tanpa
vasokontriktor, tetapi kecepatan absorbs dan toksisitasnya bertambah dan masa
kerjanya lebih pendek. Hipersensitif terhadap anastetik lokal golongan ester.
Lidokain dapat menimbulkan kantuk. Sediaan berupa larutan 0,5-5% dengan atau
tanpa epinefrin (1;50.0000 sampai 1 : 200.000) (Gmyrek, 2005).

4
Lidokain sering digunakan secara suntikan unyuk anastesia infiltrasi, blokade
saraf, anestesia spinal, anestesia epidural ataupun anestesia kaudal dan secara
setempat untuk anastesia selaput lendir. Pada anestesia infiltrasi biasanya
digunakan larutan 0,25-0,50 % dengan atau tanpa epinerfrin. Tanpa epinerfrin dosis
total tidak boleh melebihi 200mg dalam waktu 24 jam, dan dengan epinefrin tidak
boleh melebihi 500 mg untuk jangka waktu yang sama. Dalam bidang kedokteran
gigi, biasanya digunakan larutan 1-2 % dengan epinefrin; untuk anestesia infiltrasi
dengan mula kerja 5 menit dan masa kerja kira-kira 1 jam dibutuhkan dosis 0,5-1,0
Ml. Untuk blokade saraf digunakan 1-2 Ml (Gmyrek, 2005).
Lidokain dapat pula digunakan untuk anestesia permukaan. Untuk anastesia
rongga mulut, kerongkongan dan saluran cerna bagian 1-4% dengan dosis
maksimal 1 gram sehari dibagi dalam beberapa dosis. Aritmia jantung. Lidokain
juga dapat menurunkan iritabilitas jantung, karena itu juga digunakan sebagai
antiaritmia (Gmyrek, 2005).

Mepivikain
Anastetik lokal golongan amide ini sifat farmakologiknya mirip lidokain.
Mepivakain ini digunakan untuk anastesi infiltrasi, blokade saraf regional dan
anastesi spinal. Sediaan untuk suntikan berupa larutan 1 , 1,5 dan 2 %.
Mepivakain lebih toksik terhadap neonatus, dan
karenanya tidak digunakan untuk anastesia obsterik. Mungkin ini
ada hubungannya dengan PH darah neonatus yang lebih rendah,
yang menyebabkan ion tersebut terperangkap dan
memperlambat metabolismenya. Pada orang dewasa, indeks terapinya
lebih tinggi daripada lidokain, mula kerjanya hampir sama dengan lidokain,
tetapi lama kerjanya hampir sama dengan lidokain, tetapi lama kerjanya lebih
panjang sekitar 20 %. Mepivakain tidak efektif sebagai anastetik topikal
(Gmyrek, 2005).

Prilokain

5
Prilakian adalah devirat yang mula kerja dan kekuatannya sama dengan lidokain.
Toksisitasnya lebih rendah daripada lidokain, efek vasodilatasinya lebih
rendah lebih ringan sehingga reaksinya juga lebih lambat dan perombakannya lebih
cepat. Di dalam hati zat ini dirombak menjadi o-toluidin dan metabolit lain.
Ekskresinya melalui saluran kemih kurang dari 1%. Obat ini digunakan untuk
anastesi permukaan 4% dan secara paretal 1-15% dengan atau tanpa adrenalin.
Prilokain HCL. Anastetik lokal golongan amida ini efek farmakologinya
mirip lidokain, tetapi mula kerja dan masa kerjanya lebih lama daripada
lidokain. Efek vasodilatasinya lebih kecil daripada lidokain, sehingga tidak
memerlukan vasokontriktor. Toksisitasnya terhadap SSP lebih ringan, sehingga
lebih aman dari dalam penggunaan intravena blokade regional (Gmyrek, 2005).

Bupivakain
Struktur mirip dengan lidokain, kecuali gugus yang mengandung amin adalah
butyl piperidin. Merupakan anastetik lokal yang mempunyai masa kerja panjang,
dengan efek blockade terhadap sensorik lebih besar daripada motorik. Karena efek
ini, bupivakain lebih popular digunakan untuk memperpanjang analgesia selama
persalinan dan masa pascapembedahan caesar. Suatu penelitian menunjukkan
bahwa bupivakain lebih kardiotoksik daripada lidokain (Gmyrek, 2005).

Ropikakain
Ropivakain juga merupakan anastetiklokal yang mempunyai masa kerja panjang,
dengan tosisitas terhadap jantung lenih rendah daripada bupivakain. Pada dosis
efektif yang sebanding, namun sedikit kurang kuat dalam menimbulkan anestesia
dibandingkan bupivakain (Gmyrek, 2005).

Beberapa anastetik lokal yang sering digunakan :


1. Kokain

6
Hanya dijumpai dalam bentuk topikal semprot 4% untuk mukosa jalan napas atas.
Lama kerja 20-30 menit.
2. Prokain (novakain)
Untuk inviltrasi: larutan 0,25-0,5 %
Blok saraf: 1-2 %
Dosis 15 mg/kg BB dan lama kerja 30-60 menit
3. Kloroprokain (nesakain)
Derivate prokain dengan masa kerja lebih pendek.
4. Lidokain (lignocaine, xylocain, lidonest)
Konsentrasi efektif minimal 0,25%
Infiltrasi, mula kerja 10 menit, relaksasi otot cukup baik
Kerja sekitar 1-1,5 jam tergantung konsentrasi larutan
Larutan standar 1 atau 15% untuk blok perifer
0,25-0,5% + adrenalin 200.00 untuk infiltrasi
0,5% untuk blok sensorik tanpa blok motorik
1,0% untuk blok motorik dn sensorik
2,0% untuk blok motorik pasien berotot (muscular)
4,0% atau 10% untuk topikal semprot faring-larig (pump spray)
5,0% bentuk jeli untuk dioleskan di pulpa trakea
5,0% lidokain dicampur 5,0% prilokain untuk topikal kulit
5,0% hiperbarik untuk analgesia intratekal (subaraknoid, subdural)
5. Bufikain (macrain)
Konsentrasi efektif minimal 0,125%
Mula kerja lebih lambat dibanding lidokain, tetapi lama kerja sampai 8 jam, Setelah
suntikan kaudal, epidural, atau infiltrasi, kadar plasma puncak dicapai dalam 45
menit. Kemudian menurun perlahan-lahan dalam 3-8 jam. Untuk anastesia spinal
0,5% volum antara 2-4 ml isoatau hiperbarik.untuk blok sensorik epidural 0,375%
dan pembedahan 0,75% (Whiteside, 2000).

Prosedur konsentrasi% volume


Infiltrasi 0,25-0,50 5-60ml

7
Blok minor perifir 0,25-0,50 5-30ml
Blok mayor perifir 0,25-0,50 20-40ml
Blok intrakostal 0,25-,050 3-8ml
Blok epidural
Lumbal 0,5 15-20ml
Kaudal 0,25-0,50 5-60ml
Analgesi poslop 0,5 4-8ml/4-8 jam
(itermitan)
0,125 15ml/jam (kontinyu)
Spinal intralekal 0,5 2-4ml

6. EMLA (eutectic mixture of local anesthetic)


Campuran emulsi minyak dalam air (krem) antara lidokain dan prilokain masing-
masing 2,5%atau masing-masing 5%, EMILA dioleskan di kulit intak 1-2 jm
sebelum tindakan untuk mengurangi nyeri akibat kanulasi pada vena atau arteri atau
untuk mengurangi nyeri akibat kanulasi pada vena ata arteri atau untuk miringotomi
pada anak,mencabut bulu halus atau bang tato. Tidak dianjurkan untuk mukosa atau
kulit terluka (Whiteside, 2000).

7. Ropivakain (naropin) dan levobupivakain (chirokain)


Penggunaanya seperti bupivakain, karena kedua obat tersebut merupakan isomer
bagian kiri dari bupivakain yang dampak sampingnya lebih rigan dibandingkan
bupivakain. Bagia isomer kanan dari bupivakain damapak sampingnya lebih besar.
Konsentrasi efektif minimal 0,25% (Whiteside, 2000).

c. Penggolongan obat anastesi lokal


Secara kimiawi obat anestesi lokal dibagi dalam dua golongan besar, yaitu
golongan ester dan golongan amide. Perbedaan kimia ini direfleksikan dalam perbedaan
tempat metabolisme, dimana golongan ester terutama dimetabolisme oleh enzim pseudo-
kolinesterase di plasma sedangkan golongan amide terutama melalui degradasi enzimatis
di hati. Perbedaan ini juga berkaitan dengan besarnya kemungkinan terjadinya alergi,

8
dimana golongan ester turunan dari pamino-benzoic acid memiliki frekuensi
kecenderungan alergi lebih besar (Whiteside, 2000).
Untuk kepentingan klinis, anestesi lokal dibedakan berdasarkan potensi dan lama
kerjanya menjadi 3 group. Group I meliputi prokain dan kloroprokain yang memiliki
potensi lemah dengan lama kerja singkat. Group II meliputi lidokain, mepivakain dan
prilokain yang memiliki potensi dan lama kerja sedang. Group III meliputi tetrakain,
bupivakain dan etidokain yang memiliki potensi kuat dengan lama kerja panjang.
Anestesi lokal juga dibedakan berdasar pada mula kerjanya. Kloroprokain, lidokain,
mepevakain, prilokain dan etidokain memiliki mula kerja yang relatif cepat. Bupivakain
memiliki mula kerja sedang, sedangkan prokain dan tetrakain bermula kerja lambat
(Whiteside, 2000).
Obat anestesi lokal yang lazim dipakai di negara kita untuk golongan ester adalah
prokain, sedangkan golongan amide adalah lidokain dan bupivakain. Secara garis besar
ketiga obat ini dapat dibedakan sebagai berikut :
Tabel Jenis anestesi lokal

Prokain Lidokain Bupivakain


Golongan Ester Amide Amide
Mulai Kerja 2 menit 5 menit 15 menit
Lama Kerja 30-45 menit 45-90 menit 2-4 jam
Metabolisme Plasma Hepar Hepar
Dosis maksimal 12 6 2
(mg/kgBB)
Potensi 1 3 15
Toksisitas 1 2 10

(Whiteside, 2000).

d. Indikasi dan kontraindikasi


Indikasi:
a) Jika nyawa penderita dalam bahaya karena kehilangan kesadarannya, sebagai
contoh sumbatan pernapasan atau infeksi paru.
b) Kedarutan karena tidak ada waktu untuk mengurangi bahaya anastesi umum. Hal
ini terjadi pada beberapa kasus, seperti lambung penuh, dan partus obstetrik

9
operatif, dan pada kasus-kasus diabetes, miestenia gravis, penyakit sel bulan sabit,
usia yang sangat lanjut, atau debil, serta pembedahan yang lama pada reimplantasi
jari-jari yang cedera
c) Menghindari bahaya pemberian obat anastesi umum. Sebagai contoh pada porfiria
intermiten akut, anastesi denganhalotan berulang, miotonia dan gagal ginjal atau
hepar.
d) Prosedur yang membutuhkan kerja sama dengan penderita,seperti pada perbaikan
tendo, pembedahan mata, serta pemeriksaan gerakan faring.
e) Lesi superfisialis minor dan permukaan tubuh, seperti ekstrasi gigi tanpa penyulit,
lesi kulit, laserasi minor dan revisi jaringan perut.
f) Pemberian analgesi pascabedah. Contoh utama adalah sirkumsisi,
torakotomi,herniorafi, tempat donor cangkok kulit, serta pembedahan abdomen.
g) Untuk menimbulkan hambatan simpatik, seperti pada free flap atau pembedahan
reimplantasi atau iskemia ekstremitas.
h) Jika penderita atau ahli bedah atau ahli anestesi lebih menyukai anestesi lokal serta
dapat meyakinkan para pihak lainnya bahwa anestesi lokal saja cukup (Whiteside,
2000).

Kontraindikasi terhadap pemggunaan anastesi lokal


a) Alergi atau hipersensivitas terhadap obat anestesi lokal yang telah diketahui.
Kejadian sepertinini langka sebagian besar reaksi disebabkan baik oleh kelebihan
dosis atau suntikan intravaskular.
b) Kurangnya tenaga terampil yang mampu mengatasi dan atau mendukung teknik
tertentu. Terdapat beberapa teknik yang membutuhkan hanya pengetahuan dan
latihan yang tidak terlalu banyak, sebagai contoh, teknik infiltrasi, potong dan
jahit, atau penerapan anastesi topikal. Juga terdapat teknik lain yang setelah
dipelajari dengan baik, dapaat dilakukan berulang kali dengan mudah disertai dengan
tingkat keberhasilan yang tinggi karena penempatan jarum yang tepat, yang
ditunjukkan oleh tanda-tanda tertentu---sebagai contoh dengan penarikan darah pada
anastesi intravena regional atau cairan cerebrospinalis (LCS) pada anastesi spinalis.

10
Sebagian besar hambatan saraf perifer dan lumbalis atau epidural kaudal (sakralis)
yang membutuhkan latihan, ketekunan dan praktik terus-menerus.
c) Kurangnya prasarana resusitasi. Memang sulit dipercaya bahwa penyulit tidak akan
terjadi (Sebagai contoh hipersensitifitas, kelebihan dosis relatif, pneumotoraks
penghambat supraklavikula atau intercostalis, kegagalan manset arteri pada anastesi
intravena regional, atau fungsi dura selama percobaan anastesi epidural), sudah
menjadi keharusan dalam praktik bahwa peralatan resusitasi dan berbagai obat-obat
kedaruratan tersedia pada rumah sakit modern. Jumlah yang dibutuhkan pada setiap
keadaan tergantung pada teknik yang dipilih dan regio anatomi tempat dilakukannya
pembedahan.
d) Infeksi lokal atau iskemia pada tempat suntikan. Asidosis lokall dapat mengurangi
pengaruh agen anastesi lokal yang disuntikkan, yang berbeda dari bahaya penyebaran
infeksi.
e) Pembedahan luas yang membutuhkan dosis toksis anastesi lokal. Keadaannya
dalam darah pada blok lapangan abdomen bisa tidak berbahaya pada penderita yang
sehat, tetapi dapat menyebabkan reduksi curah jantung yang berbahaya pada
penderita yang lanjut usia dengan keadaan obat jantung yang tidak baik.
f) Distorsi anatomik atau pembentukan sikatriks.
g) Resiko hematoma pada tempat-tempat tertentu (Sebagai contoh ruang epidura)
akibat pengobatan dengan anti koangulan, kecenderungan pendarahan atau hemofilia.
h) Jika dibutuhkan anastesi segera (Sebagai contoh partus sungsang yang terhambat)
atau tidak cukup waktu bagi anastesi lokal untuk bekerja dengan sempurna.
i) Kurangnya kerjasama atau tidak adanya persetujuan dari pihak penderita. Karena
ahli anastesi Inggris telah begitu meyakinkan, maka sebagian besar penderita di
Inggris biasanya menerima nasehat untuk melakukan anastesi lokal, terutama jika
terdapat alasan yang tepat untuk menghindari anastesi umum. Adalah tidak bijaksana
untuk membujuk penderita untuk menerima anastesi lokal. Jika satu-satunya alasan
adalah memenuhi kebutuhan ahli anastesi untuk pelatihan suatu teknik anastesi
tertentu. Sebaliknya, menurut hukum kerajaan Inggris, proses mendapatkan surat izin
operasi tertulis tidak memerlukan penerangan dari ahli anastesi tentang segala
kemungkinan penyulit yang mungkin terjadi, sehingga dapat mengkhawatirkan

11
penderita pada saat ahli anastesi akan memberikan baik anastesi lokal maupun
anastesi umum. Sudah cukup jika ahli anastesi menasehatkan bahwa, menurut
pandangan profesionalnya, dan di dalam tanggung jawabnya, maka prosedur yang
dia usulkan aman dan beralasan sesuai situasinya.
Anastesi lokal tidak selalu merupakan alternatif yang baik dibandingkan anastesi
umum pada penderita yang menderita kelainan jiwa atau penakut yang patologis.
Seseorang perantara harus dapat menerjemahkan pesan ahli anastesi dengan baik
kepada penderita. Penggunaan anastesi lokal saja pada anak tidak bisa dilakukan di
Inggris, kecuali pada sebagian tindakan kedokteran gigi dan pembedahan minor,
tetapi dalam tangan yang simpatik dan terampil, anastesi lokal dapat digunakan
secara memuaskan tanpa menimbulkan trauma kejiwaan.
Bila ada injeksi pada daerah injeksi atau pada titik dimana anatetikum akan
dideponirkan, bila terdapat injeksi Vincent atau injeksi mulut yang luas, bila pasien
masih terlalu kecil (anak-anak) sehingga sulit kooperatif (Whiteside, 2000).

e. Efek samping obat anastesi lokal


Obat anestesi lokal mempengaruhi fungsi semua organ dengan menghambat
transmisi dan konduksi impuls, oleh karena itu obat anestesi lokal mempunyai efek
penting pada susunan saraf pusat, ganglion otonom, neuromuscular junction dan
semua jenis otot. Efek toksik yang terjadi berbanding lurus dengan
dosis/konsentrasi obat anestesi lokal yang masuk ke dalam sirkulasi (Gmyrek,
2005).

Sistem saraf pusat


Obat anestesi lokal dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat (SSP),
kelelahan dan tremor, serta kejang klonik. Secara umum, obat anestesi lokal yang lebih
poten lebih cepat menyebabkan kejang. Stimulasi diikuti oleh depresi SSP dapat
menyebabkan kematian yang biasanya disebabkan oleh kegagalan pernafasan.

12
Gejala stimulasi diikuti depresi SSP disebabkan obat anestesi lokal
menekan aktifitas neuron pada fase eksitasi. Penggunaan obat anestesi secara sistemik
dengan cepat dapat menyebabkan kematian dengan atau tanpa tanda awal stimulasi SSP.
Konsentrasi obat mungkin meningkat secara cepat sehingga mencapai seluruh saraf
yang tertekan secara simultan. Jalan nafas harus diperhatikan dan pemberian oksigen
merupakan langkah terapi terpenting pada intoksikasi lanjut. Benzodiazepin atau
barbiturat intravena merupakan obat pilihan untuk mencegah dan menghilangkan kejang
(Gmyrek, 2005).
Keluhan yang sering ditemukan pada penggunaan obat anestesi lokal adalah
mengantuk, sedangkan lidokain dapat menyebabkan euforia dan kejutan otot. Lidokain
dan prokain dapat menyebabkan kehilangan kesadaran yang ditandai dengan gejala
sedasi. Kokain secara khusus mempengaruhi tabiat dan perilaku, oleh karena itu kokain
sering disalahgunakan (Gmyrek, 2005).

Vasovagal
Vasovagal merupakan efek samping anestesi karena stimulasi N. Vagus, hal ini
disebabkan peningkatan tonus saraf parasimpatis. Manifestasi reaksi vasovagal adalah
rasa cemas, nyeri kepala, sinkop, diaforesis, bradikardi dan hipotensi. Posisi
trendelenburg dapat mengurangi gejala vasovagal dengan cepat, sedangkan untuk
menghindari reaksi vasovagal dianjurkan dalam posisi berbaring (Gmyrek, 2005).

Sistem kardiovaskuler
Obat anestesi lokal mempengaruhi sistem kardiovaskuler karena absorbsi sistemik.
Tempat kerja utama obat anestesi lokal adalah pada miokardum yaitu dengan cara
menurunkan eksitasi listrik, frekuensi konduksi, dan kekuatan kontraksi. Kebanyakan
obat anestesi lokal menyebabkan dilatasi arteriol. Efek terhadap kardiovaskuler
biasanya ditemukan pada konsentrasi tinggi dalam sirkulasi. Dosis rendah obat anestesi
lokal dapat menyebabkan kolaps kardiovaskuler dan kematian, hal ini disebabkan
karena pengaruhnya pada pacemaker atau awitan mendadak fibrilasi ventrikel.
Bupivakain dapat menyebabkan takikardi dan fibrilasi ventrikel. Lidokain dan prokain
dapat juga digunakan sebagai obat antiaritmia.1

13
Otot polos
Obat anestesi lokal menekan kontraksi otot polos usus, dan menyebabkan
relaksasi otot polos pembuluh darah dan bronkus, meskipun pada konsentrasi rendah
awalnya menyebabkan kontraksi. Obat anestesi lokal dapat meningkatkan bising usus
dan menurunkan kontraksi otot uterus (Gmyrek, 2005).

Neuromuscular junction dan ganglion sinapsis


Obat anestesi lokal mempengaruhi transmisi pada neuromuscuaer junction.
Sebagai contoh, prokain dapat menghambat respons otot skeletal pada motor-neuron
dan terhadap asetilkolin pada konsentrasi di mana otot memberi respons secara normal
oleh rangsangan listrik secara langsung; efek tersebut disebabkan hambatan pada kanal
ion reseptor asetilkolin karena konsentrasi tinggi obat anestesi lokal (Gmyrek, 2005).

Hipersensitifitas terhadap obat anestesi lokal.


Obat anestesi lokal jarang menyebabkan reaksi hipersensitifitas. Reaksi dapat
berupa dermatitis kontak alergika atau berupa serangan asma. Reaksi alergi harus
dibedakan dengan efek samping toksik atau akibat vasokonstriktor yang ditambahkan
pada obat anestesi lokal. Reaksi hipersensitivitas sering ditemukan akibat obat anestesi
lokal golongan ester dan turunannya. Sebagai contoh, individu yang sensitif terhadap
prokain juga bereaksi terhadap obat anestesi lokal dengan struktur kimia yang sama,
misalnya tetrakain, serta metabolitnya. Golongan amida jarang menyebabkan reaksi
hipersensitifitas, kecuali metilparaben. Obat anestesi lokal yang mengandung
vasokonstriktor juga dapat menyebabkan reaksi alergi karena mengandung sulfida
(Gmyrek, 2005).

f. Mekanisme kerja obat anastesi lokal


Obat anestesi lokal mencegah hantaran dan konduksi impuls saraf. Lokasi utama
kerja obat anestesi lokal adalah pada membran sel. Obat anestesi lokal mencegah
konduksi dengan menurunkan atau mencegah peningkatan permeabilitas membran sel
terhadap ion natrium. Perbedaan potensial transmembran sel saraf perifer dalam keadaan
istirahat adalah sebesar 70 mV, di dalam sel bermuatan negatif dan di luar sel bermuatan

14
positif. Banyak faktor berpengaruh pada potensial membran istirahat, tetapi pengaruh
utama adalah pada permeabilitas membran sel saraf. Difusi ion natrium ke luar sel
menurunkan gradient konsentrasi dan potensial membran menjadi negatif, kemudian ion
kalium yang bermuatan positif menurunkan gradient elektrokimia. Potensial membran
dalam keadaan istirahat menunjukkan keseimbangan antara konsentrasi dan gradient
elektrokimia ion kalium.8 Pada keadaan istirahat, ion natrium yang masuk tidak dapat
menurunkan konsentrasi dan gradient elektrokimia karena membran sel impermeable,
tetapi pada serabut saraf membuka kanal ion natrium di membran sel, sehingga natrium
masuk dan meningkatkan potensial membran sebesar +20mV. Kanal natrium selanjutnya
tertutup dan kalium bergerak keluar menyebabkan kembali ke potensial membran
istirahat. Pompa natrium-kalium mengatur distribusi ion selama fase aksi potensial
membran istirahat. Dalam serabut saraf perubahan bifasik potensial membran
berlangsung singkat yaitu 1-2 milidetik, dan ini merupakan bukti transmisi impuls listrik.
Kunci proses hantaran dan konduksi impuls adalah pembukaan kanal natrium.
Pembukaan kanal ion natrium pada membran akson dan membran saraf pada sinaptik
dipicu oleh substansi neurotransmitter, dan di sepanjang serabut saraf oleh muatan listrik
dari depolarisasi pada segmen yang berdekatan. Obat anestesi lokal dapat menghambat di
mana saja, obat anestesi lokal terbaru yang digunakan menghambat kanal natrium dan
mencegah depolarisasi membran sel.
Terdapat dua teori mekanisme kerja obat anestesi lokal dalam menghambat kanal
natrium. Teori pertama, obat anestesi lokal berikatan dengan reseptor spesifik di kanal
natrium dan ikatan ini mengubah struktur serta fungsi kanal natrium dan menghambat
pergerakan ion natrium ke luar sel. Teori ini disebut natrium trap. Teori kedua dikenal
sebagai teori ekspansi/expantion, obat anestesi lokal diabsorbsi pada membran sel
sehingga terjadi pembengkakan membran dan menyebabkan penyempitan kanal natrium
(Whiteside, 2000).

15
Untuk meningkatkan kerja obat, obat harus larut dalam lemak agar dapat
berdifusi ke dalam membran sel saraf dan mielin serabut saraf perifer. Bahan yang larut
dalam lemak akan kurang larut dalam air sehingga menyulitkan formulasi obat, oleh
karena itu ditambahkan garam hidroklorida yang dapat larut dalam air pada pH 4-7.
Formulasi ini mengandung fraksi ion yang seimbang dengan sedikit fraksi bebas dalam
larutannya. Setelah disuntikkan, larutan ini menyebabkan pH jaringan meningkat dan
menambah fraksi lipofilik non-ion yang dapat berdifusi ke dalam membran sel saraf. Di
dalam cairan intrasel pH sedikit lebih asam sehingga gugus aktif obat anestesi lokal
dapat menghambat kanal natrium (Gmyrek, 2005).
Obat anestesi lokal dibedakan dalam awitan, durasi dan potensinya. Perbedaan ini
bergantung pada komposisi kimiawi khas masing-masing, misalnya konstanta disosiasi
(pKa), daya larut dalam lemak, dan daya ikat dengan protein. Nilai pKa merupakan
konstanta disosiasi asam; pKa menunjukkan kekuatan relatif dari gugus amin untuk
berdisosiasi. Nilai pKa rendah berarti awitan anestesi cepat karena sebagian besar
anestesi akan terionisasi menjadi bentuk aktif. Daya larut dalam lemak tinggi berarti
anestesi berpotensi tinggi dan mudah berpenetrasi ke dalam membran sel saraf. Durasi
menunjukkan lama ikatan anestesi dengan reseptor kanal natrium (Usatine, 1998).

16
BAB II

PEMBAHASAN

Anastesia untuk kasus obstretri


Pertimbangan : Fisiologi Kehamilan / Persalinan (Maternal Physiology)

Sistem pernapasan
Perubahan pada fungsi pulmonal, ventilasi dan pertukaran gas. Functional residual
capacity menurun sampai 15-20%, cadangan oksigen juga berkurang. Pada saat persalinan,
kebutuhan oksigen (oxygen demand) meningkat sampai 100%.
Menjelang / dalam persalinan dapat terjadi gangguan / sumbatan jalan napas pada 30%
kasus, menyebabkan penurunan PaO2 yang cepat pada waktu dilakukan induksi anestesi,
meskupun dengan disertai denitrogenasi. Ventilasi per menit meningkat sampai 50%,
memungkinkan dilakukannya induksi anestesi yang cepat pada wanita hamil (Skinner, 2000).

Sistem kardiovaskular
Peningkatan isi sekuncup / stroke volume sampai 30%, peningkatan frekuensi denyut
jantung sampai 15%, peningkatan curah jantung sampai 40%. Volume plasma meningkat sampai
45% sementara jumlah eritrosit meningkat hanya sampai 25%, menyebabkan terjadinya
dilutional anemia of pregnancy.
Meskipun terjadi peningkatan isi dan aktifitas sirkulasi, penekanan / kompresi vena cava
inferior dan aorta oleh massa uterus gravid dapat menyebabkan terjadinya supine hypertension
syndrome. Jika tidak segera dideteksi dan dikoreksi, dapat terjadi penurunan vaskularisasi uterus
sampai asfiksia janin.
Pada persalinan, kontraksi uterus / his menyebabkan terjadinya autotransfusi dari plasenta
sebesar 300-500 cc selama kontraksi. Beban jantung meningkat, curah jantung meningkat,
sampai 80%.
Perdarahan yang terjadi pada partus pervaginam normal bervariasi, dapat sampai 400-600
cc. Pada sectio cesarea, dapat terjadi perdarahan sampai 1000 cc. Meskipun demikian jarang
diperlukan transfusi. Hal itu karena selama kehamilan normal terjadi juga peningkatan faktor

17
pembekuan VII, VIII, X, XII dan fibrinogen sehingga darah berada dalam hypercoagulable state
(Skinner, 2000).

Ginjal
Aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 150% pada trimester
pertama, namun menurun sampai 60% di atas nonpregnant state pada saat kehamilan aterm. Hal
ini kemungkinan disebabkan oleh aktifitas hormon progesteron.
Kadar kreatinin, urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap
normal.
Pasien dengan preeklampsia mungkin berada dalam proses menuju kegagalan fungsi
ginjal meskipun pemeriksaan laboratorium mungkin menunjukkan nilai "normal" (Skinner,
2000).

Sistem gastrointestinal
Uterus gravid menyebabkan peningkatan tekanan intragastrik dan perubahan sudut
gastroesophageal junction, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya regurgitasi dan
aspirasi pulmonal isi lambung. Sementara itu terjadi juga peningkatan sekresi asam lambung,
penurunan tonus sfingter esophagus bawah serta perlambatan pengosongan lambung. Enzim-
enzim hati pada kehamilan normal sedikit meningkat.
Kadar kolinesterase plasma menurun sampai sekitar 28%, mungkin akibat hemodilusi
dan penurunan sintesis. Pada pemberian suksinilkolin dapat terjadi blokade neuromuskular untuk
waktu yang lebih lama. Lambung harus selalu dicurigai penuh berisi bahan yang berbahaya
(asam lambung, makanan) tanpa memandang kapan waktu makan terakhir (Skinner, 2000).

Sistem saraf pusat


Akibat peningkatan endorphin dan progesteron pada wanita hamil, konsentrasi obat
inhalasi yang lebih rendah cukup untuk mencapai anestesia; kebutuhan halotan menurun sampai
25%, isofluran 40%, metoksifluran 32%. Pada anestesi epidural atau intratekal (spinal),
konsentrasi anestetik lokal yang diperlukan untuk mencapai anestesi juga lebih rendah. Hal ini
karena pelebaran vena-vena epidural pada kehamilan menyebabkan ruang subarakhnoid dan
ruang epidural menjadi lebih sempit.

18
Faktor yang menentukan yaitu peningkatan sensitifitas serabut saraf akibat meningkatnya
kemampuan difusi zat-zat anestetik lokal pada lokasi membran reseptor (enhanced diffusion)
(Skinner, 2000).

Transfer obat dari ibu ke janin melalui sirkulasi plasenta


Hal ini menjadi pertimbangan, karena obat-obatan anestesia yang umumnya merupakan
depresan, dapat juga menyebabkan depresi pada janin. Harus dianggap bahwa SEMUA obat
dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin. (baca juga catatan special aspects of
perinatal pharmacology (Skinner, 2000).

19
BAB III
KESIMPULAN

Anestesi lokal adalah hilangnya sensasi pada bagian tubuh tertentu tanpa kehilangan kesadaran
atau kerusakan fungsi kontrol saraf pusat dan bersifat sementara. Obat anestesi lokal pertama yang
ditemukan pada tahun 1860 oleh Albert Neimann adalah kokain.

Obat anestesi lokal diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu golongan amida dan ester.
Golongan ester dihidrolisis dalam plasma dan hepar oleh enzim kolinesterase dan diekskresikan melalui
ginjal, sedangkan golongan amida dihidrolisis oleh enzim mikrosom hepar dan diekskresikan melalui
ginjal.
Mekanisme kerja obat anestesi lokal adalah melalui hambatan hantaran dan konduksi impuls
saraf. Obat anestesi lokal menghambat kanal natrium dan mencegah depolarisasi membran sel. Terdapat
dua teori tentang cara kerja obat pelali lokal dalam menghambat kanal natrium, yaitu pertama bekerja
melalui reseptor spesifik, dan kedua terjadi akibat penyempitan kanal natrium.
Efek samping obat anestesi lokal dapat mempengaruhi beberapa organ, misalnya sistem saraf
pusat, kardiovaskuler, otot polos, dan neuromuscular junction, selain dapat menyebabkan reaksi
hipersentivitas dan refleks vasovagal. Teknik anestesi lokal yang sering digunakan adalah teknik infiltrasi.
Penggunaan analgesia dibidang obstretri harus mempertimbangkan perubahan fisiologi baik

pada ibu dan janin yang dikandungnya. Karena obat-obatan anestesia yang umumnya merupakan
depresan, dapat juga menyebabkan depresi pada janin.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Catterall W, Mackie K. Lokal Anesthetics. Dalam: Goodman & Gilman`s, editor The
Pharmacological Basis of Therapeutics. Edisi ke-9. Milan: Mc Graw-Hill; 2001.h.367-79.
2. Gmyrek R, Ratner D, Butler DF, Albertini JG, Quirk C, Elston DM. Local Anesthesia
and Regional Nerve Block Anesthesia. February 24, 2005. URL
http://www.emedicine.com/emerg/topic383.htm
3. Matarasso SL, Glogau RG. Lokal Anesthesia. Dalam: Lask GP, Moy RL, editor.
Principles and Techniques of Cutaneous Surgery. Singapore: Mc Graw-Hill;1996.h.63-74.
4. Skinner IJ. Lokal Anaesthetics and their uses. Dalam: Basic Surgical Skill Manual. Hong
Kong: Mc Graw-Hill;2000.h.171-84.
5. Usatine RP, Moy RL. Anesthesia. Dalam: Usatine RP, Moy RL, Tobinick EL, Siegel DM.
Skin Surgery a Practical Guide. London: Mosby;1998.h.20-30.

6. Whiteside JB, Wildsmith JAW. Lokal Anaesthetics. July 2000. URL


http://www.rcoa.ac.uk/docs/B2 Primary.pdf

21