Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan
makalah dengan judul Good Corporate Governance dan Komite Audit menurut
kami dibuat dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga
makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun
pedoman bagi pembaca.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk
maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Jambi, 4 April 2017

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Munculnya Good Corporate Governance (GCG)

Mulai populernya istilah tata kelola perusahaan yang baik atau yang lebih
dikenal dengan istilah asing good corporate governance (GCG) tidak dapat
dilepaskan dari maraknya skandal perusahaan yang menimpa perusahaan-
perusahaan besar, baik yang ada di Indonesia maupun yang ada di Amerika
Serikat.

Runtuhnya system ekonomi komunis menjelang akhir abad ke-20,


menjadikan system ekonomi kapitalis sebagai satu-satunya system ekonomi yang
paling dominan di seluruh dunia. System ekonomi kapitalis makin kuat mengakar
berkat arus globalisasi dan perdagangan bebas yang mampu dipaksakan oleh
Negara-negara maju penganut system ekonomi kapitalis. Ciri utama system
ekonomi kapitalis adalah kegiatan bisnis dan kepemilikan perusahaan dikuasai
oleh individu-individu/ sector swasta. Dalam perjalanannya, beberapa perusahaan
akan muncul sebagai perusahaan-perusahaan swasta raksasa yang bahkan aktivitas
dan kekuasaannya telah melibihi batas-batas suatu Negara. Para pemilik dan
pengelola kelompok perusahaan-perusahaan raksasa ini bahkan mampu
mempengaruhi dan mengarahkan berbagai kebijakan yang diambil oleh para
pemimpin politik suatu Negara untuk kepentingan kelompok perusahaan mereka
dengan kekuatan uangnya.

Sebagiman dikatakan oleh Joel bajan (2002), perusahaan (korporasi) saat ini
telah berkembang dari sesuatu yang relative tidak tidak jelas menjadi institusi
ekonomi dunia yang amat dominan. Kekuatan dan pengaruh perusahaan ini
sedemikian besarnya sehingga telah menjelma menjadi monster raksasa yang
mendikte hampir seluruh hidup kita, mulai dari apa yang kia pakai, apa yang kita
hasilkan dan apa yang kita kerjakan. Itulah sebabnya, sering kali terjadi
pemerintah suatu Negara yang seharusnya menjadi kekeuatan terakhir sebagai
pengawas, penegak hokum, dan pengendali perusahaan-perusahaan tidak berdaya
menghadapi penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh para pelaku bisnis yang
berpengaruh tersebut.

Sistem perbankan di Indonesia yang pada akhirnya menimbulkan krisis


ekonomi, politik, dan sosial yang sangat kompleks.Beberapa perusahaan besar di
Indonesia ada yang bermasalah dan bahkan tidak mampu lagi meneruskan
kegiatan usahanya akibat menjalankan praktik tata kelola kerja yang buruk (bad
corporate governance).Contohnya antara lain: bank-bank pemerintah yang telah
dilikuidasi/demerger (Bank Pembangunan Indonesia-Bapindo, Bank Dagang
Negara- BDN, Bank Bumi Daya- BBD, Bank Export Import- Bank Exim); PT
Indorayon (Sebuah pabrik kertas di Sumatra Utara); PT Dirgantara Indonesia
(Sebuah pabrik pesawat terbang yang berkantor pusat di Bandung); dan PT
Lapindo Brantas (Sebuah pabrik eksplorasi minyak dan gas di Sidoarjo,Jawa
Timur). Kejatuhan bank pemerintah pada awal abad ke-21 ini lebih disebabkan
oleh kebijakan ekspansi kredit direksi bank tersebut yang tidak bijaksana
(imprudential credit policy). Kredit diberikan dalam jumlah besar kepada
beberapa kelompok usaha besar tanpa melalui suatu kajian yang cermat dan
objektif atas studi kelayakan mereka.Akibatnya,bank-bank pemerintah tersebut
mengalami kesulitan keuangan karena kelompok usaha besar ini tidak mampu
mengembalikan pinjaman dan bunganya.

Kebangkrutan PT Indorayon, sebuah perusahaan pabrik kertas yang


tergolong besar,lebih disebabkan oleh tata kelola yang buruk oleh perusahaan
tersebut dalam mengelolah hutan pinus di sekitar danau Toba yang menjadi
sumber utama bahan baku kertas perusahaan ini.Akibat pengelolahan hutan pinus
yang buruk itu telah menimbulkan kerusakan lingkungan htan dan mengganggu
system tata air disekitar danau Toba.Permukaan air danau Toba sempat mengalami
penurunan tajam sehingga memengaruhi penghasilan masyarakat ternak ikan di
sekitar danau Toba.Masyarakat sekitar danau Toba menjadi marah dan mereka
menghentikan secara paksa aktivitas perusahaan di sekitar danau Toba
tersebut.Akibatnya,PT Indorayon tidak dapat beroperasi karena hubungan yang
tidak baik dengan masyarakat di sekitar lokasi pasokan bahan baku.
Hal yang sama terjadi pada kasus PT Lapindo Brantas. Kecerobohan PT
Lapindo Brantas dalam melakukan eksplorasi minyak dan gas di Sidoarjo bukan
saja menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup pada area yang
sangat luas,tetapi juga mematikan sumber pencarian sebagaian besar masyarakat
di daerah yang tercemar tersebut.Hal ini dapat saja menimbulkan potensi tuntutan
hukum dari masyarakat,yang pada gilirannya dapat mengancam keberadaan
perusahaan.

Pada intinya,timbulnya krisis ekonomi di Indonesia ini disebabkan oleh tata


kelola perusahaan yang buruk (bad corporate governance) dan tata kelola
pemerintahan yang buruk pula (bad government governance) sehingga memberi
peluang besar timbulnya praktik-praktik korupsi,kolusi,dan nepotisme (KKN).Hal
ini dapat ditunjukan pada beberapa fakta berikut :

a) Mudahnya para spekulan mata uang untuk mempermainkan pasar valuta


asing karena tidak adanya alat kendali yang efektif.Sifat para spekulan ini
selalu mementing diri sendiri tanpa peduli kepentingan masyarakat
ataupun Negara.
b) Mudahnya para konglomerat memperoleh dana pinjaman dari
perbankan.Hal ini dimungkinkan karena para konglomerat itu sekaligus
juga menjadi pemilik bank-bank swasta ternama.Melalui rekayasa studi
kelayakan dan laporan keuangan, para konglomerat ini menarik pinjaman
dari bank miliknya untuk membiayai proyek-proyek usaha yang masih
berada dalam kelompok usahanya. Para direksi bank ini tidak dapat
bersikap independen karena ditempatkan di bank tersebut oleh para
konglomerat tersebut. Para konglomerat ini banyak yang sekaligus
merangkap fungsi sebagai pemegang saham,komisaris,dan direksi di
kelompok usaha mereka.
c) Banyak direksi di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) termasuk di bank-
bank pemerintah juga tidak independen. Dalam mengambil berbagai
kebijakan selalu ada campur tangan dari oknum pejabat pemerintahan,Hal
ini tidak mengherankan karena para direksi ini sering kali merupakan
kepanjang tangan kepentingan kelompok oknum pejabat tertentu.Kalaupun
mereka bersifat professional,mereka sering mendapat tekanan oknum
pejabat.
d) Para komisaris di BUMN sering kali bukan orang yang professional,
melainkan oknum-oknum birokrasi yang telah memasuki usia pension.
Mereka ditempatkan bukan karena kemampuan dan pengalaman mereka
dalam mengelola perusahaan,tetapi lebih karena sekedar balas jasa setelah
memasuki usia pension.
e) Banyaknya profesi yang terkait dengan kegiatan bisnis ini- seperti:
akuntan publik,perusahaan penilai,konsultan keuangan,dan sebagainya-
yang mudah diajak bekerja sama untuk merekayasa laporan audit,laporan
keuangan,dan laporan penilaian harta (asset) perusahaan untuk berbagai
keperluan- seperti: tender,aplikasi kredit bank,penerbitan saham di
bursa,dan sebagainya.
f) Pada saat timbul krisis moneter,Bank Indonesia mengucurkan dana berupa
bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang mencapai triliunan rupiah
kepada sector perbankan nasional dalam upaya membantu perbankan agar
tidak ambruk akibat penarikan dana nasabah secara besar-besaran. Namun
itikad baik BI ini banyak disalahgunakan oleh pemilik bank dengan
memindahkan dana ini ke rekening pribadinya dan membiarkan bank
mereka sendiri tetap ambruk. Kalaupun para pemilik bank ini mempunyai
itikad baik,merka tidak mampu lagi untuk mengembalikan dana BLBI
tersebut.Sampai saat ini belum ada penyelesaian tuntas tentang kasus
BLBI ini.
1.2 Sejarah Komite Audit

Komite Audit memegang peran penting dalam menciptakan good


corporate governance pada entitas-entitas bisnis. Pada mulanya memang
diwajibkan hanya pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek untuk menjaga
kepercayaan pasar terhadap kinerja keuangan dan kepatuhan perusahaan tersebut,
saat ini karena dirasa manfaatnya semakin diperlukan, Komite Audit malah sudah
banyak juga dibentuk di entitas Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK)
dan organisasi nir laba. Perkembangan ini membuktikan bahwa fungsi
pengawasan yang diemban Komite Audit terbukti memberikan nilai tambah bagi
entitas/organisasi tersebut.
1.3 Rumusan Masalah

Rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut :


1. Apakah pengertian GCG dan Komite Audit?
2. Apa saja konsep dan prinsip GCG ?
3. Apa saja tujuan dan manfaat GCG ?
4. Bagaimana contoh kasus GCG?
5. Bagaimana komite audit di Indonesia ?
1.2 TUJUAN PENULISAN
Dari uraian yang dikemukakan sebelumnya dan mengingat begitu
pentingnya GCG dan Komite Audit didalam dirumuskan tujuan penulisan
makalah ini, yaitu :
1. Menemukan pengertian GCG dan Komite Audit?
2. Mengetahui bagaimana prinsip dan konsep GCG?
3. Mengetahui apasaja tujuan dan manfaat GCG?
4. Memaparkan contoh kasus GCG ?
5. Mengetahui bagaimana komite audit di Indonesia ?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN GCG


Walaupun istilah GCG dewasa ini sudah sangat popular,namun sampai
saat ini belum ada definisi baku yang dapat disepakati oleh semua pihak. Istilah
corporate governance pertama kali diperkenalkan oleh Cadbury
Committee,Inggris di tahun 1922 yang menggunakan istilah tersebut dalam
laporannya yang kemudian dikenal sebagai Cadbury Report (dalam Sukrisno
Agoes,2006). Istilah ini sekarang menjadi sangat popular dan diberi banyak
definisi oleh berbagai pihak.DIbawah ini diberikan beberapa definisi dari beerapa
sumber yang dapat dijadikan acuan.

1. Cadbury Committee of United Kingdom:

A set of rules that define the relationship between shareholders,


managers, creditors, the government, employees, and other internal and external
stakeholders in respect to their right and responsibilities,or the system by which
companies are directed and controlled.

[Seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang


saham,pengurus perusahaan,pihak kreditur, pemerintah,karyawan,serta para
pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-
hak dan kewajiban mereka; atau dengan kata lain suatu sistem yang mengarahkan
dan mengendalikan perusahaan.]

2. Forum of Corporate Governance in Indonesia FCGI (2006) tidak


membuat definsi tersendiri tetapi mengambil definisi dari Cadbury Committee of
United Kingdom,yang kalau diterjemahkan adalah: seperangkat peraturan yang
mengatur hubungan antara pemegang saham,pengurus perusahaan,pihak
kreditur,pemerintah,karyawan,serta para pemegangan kepentingan internal dan
eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka; atau
dengan kata lain suatu sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan.

3. Sukrisno Agoes (2006) mendefinisikan tata kelola perusahaan yang baik


sebagai suatu sistem yang mengatur hubungan peran Dewan Komisaris, peran
Direksi, pemegang saham, dan pemangku kepentingan lainnya. Tata kelola
perusahaan yang baik juga disebut sebagai suatu proses transparan atas penentuan
tujuan perusahaan,pencapaiannya, dan penilaian kinerjanya.
4. Organization for Economic Coorperation and Development OECD (dalam
tjager dkk.,2004) mendefinsikan GCG sebagai: The structure through which
shareholders,directors,managers,set of the board objectives of the company,the
means of attaining those objectives and monitoring performance. [Suatu
struktur yang terdiri atas para pemegang saham,direktur,manajer,seperangkat
tujuan yang ingin dicapai perusahaan,dan alat-alat yang digunakan dalam
mencapai tujuan dan memantau kinerja.]

5. Wahyudi Prakasa (dalam Sukrino Agoes,2006) mendefinsikan GCG sebagai :


mekanisme administrative yang mengatur hubungan-hubungan antara
manajemen perusahaan,komisaris,direksi,pemegang saham,dan kelompok-
kelompok kepentingan (stakeholders) yang lain. Hubungan-hubungan ini
dimanifestasikan dalam bentuk berbagai aturan permainan dan sistem insentif
sebagai kerangka kerja (framework) yang diperlukan untuk mencapai tujuan-
tujuan perusahaan dan cara-cara pencapaian tujuan-tujuan serta pemantauan
kinerja yang dihasilkan.

Jadi Good governance dapat diartikan sebagai kepemerintahan yang baik


atau penyelenggaraan pemerintahaan yang bersih dan efektif, sesuai dengan
peraturan dan ketentuan yang berlaku. Pemerintahan mencakup ruang lingkup
yang luas, termasuk bidang politik, ekonomi dan sosial mulai dari proses
perumusan kebijakan dan pengmbilan keputusan hingga pelaksanaan dan
pengawasan. Political governance mengacu pada proses pembuat kebijakan.
Economic governance mengacu pada proses pembuatan keputusan di bidang
ekonomi guna meningkatkan kesejahteraan, pemerataan, penurunan kemiskinan
dan peningkatan kualitas hidup. Administrative governance berarti, bahwa
penyelenggara setiap bidang dan tahapan pemerintahan harus dilakukan dengan
bersih, efisien, dan efektif.

Dalam bahasa sederhana, governance berarti proses pengambilan


keputusan dan proses pelaksanaan atau implementasinya. Secara umum dapat
dikatakan, bahwa good governance adalah penyelenggaraan pemerintahan
berdasarkan prinsip : partisipasi maksimal dari semua pemangku kepentingan
(stackholder), hukum da aturan (rule of law), transparansi, responsivitas, orientasi
consensus, keadilan dan kewajaran, efisiensi dan efektivitas, akuntabilitas dan visi
strategis.

2.2 KONSEP GCG.

Wadah terdiri dari :

1. Organisasi (perusahaan, sosial, pemerintahan)


2. Model
Suatu sistem, proses, dan seperangkat peraturan, termasuk prinsip-
prinsip, serta nilai-nilai yang melandasi praktik bsnis yang sehat.

Tujuan terdiri dari :

a. Meningkatkan kinerja organisasi


b. Menciptakan nilai tambah bagi semua pemangku kepentingan
c. Mencegah dan mengurangi manipulasi serta kesalahan yang signifikan
dalam pengelolaan organisasi
d. Meningkatkan upaya agar para pemangku kepentingan tidak dirugikan

Mekanisme terdiri dari :

Mengatur dan mempertegas kembali hubungann, peran, wewenang, dan


tanggung jawab :

a. Dalam arti sempit : antar pemilik/ pemegang saham, dewan komisaris, dan
dewan direksi.
b. Dalam arti luas : antar seluruh pemangku kepentingan.

2.3 PRINSIP-PRINSIP GCG

Penggunaan prinsip good governance dalam dunia usaha disebut Good


Corporate Governance (GCG). Dengan kata lain, bahwa dunia usaha harus juga
membangun dan memelihara prinsip-prinsip good corporate governance yaitu :
partisipasi, hukum dan aturan, transparasi, respontative, orientasi konsesus,
keadilan dan kewajarana, efisiensi dan efektivitas, akuntabilitas dan visi strategis.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, konsep CGC memperjelas dan


mempertegas mekanisme hubungan antar para pemangku kepentingan di dalam
organisasi. The Organization for Economic Cooperation and Development
(OECD) juga telah menciptakan prinsip-prinsip good corporate governance
dengan harapan dapat dipergunakan sebagai bahan acuan internasional
(internasional benchmark) bagi para perusahaan Negara, investor, perusahaan dan
para stackeholder perusahaan (termasuk pemegang saham, baik Negara-negara
anggota OECD maupun bagi Negara non-anggota.

Harapan OECD menyajikan bahan acuan internasional tersebut telah


membawa hasil. Pada tahun 2004 Donald J.Johson, OECD Secretary General
mengutarakan, sejak beberapa tahun terakhir para pengusaha, pemerintahan dan
madyarakat bisnis di banyak Negara mulai menyadari bahwa good corporate
governance dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap stabilitas
perkembangan pasar modal, iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Prinsip-prinsip governance yang diterbitkan OECD itu mencakup hal-hal


berikut :

1. Landasan hukum yang diperlukan untuk menjamin penerapan good


corporate governance secara efektif (ensuring the basis for an effective
corporate governance framework); menurut OECD apabila pemerintah
suatu negara menginginkan prinsip-prinsip good corporate governance
diterapkan secara efektif dinegaranya, mereka wajib membangun landasan
hukum yang memungkinkan hal itu terjadi.

Tanpa landasan hukum yang kuat salah satu tujuan utama good corporate
governance, yaitu melindungi hak dan kepentingan para pemegang saham dan
stakeholders yang lain sulit dilaksanakan. Landasan hukum tersebut antara lain
berupa penciptaan

a. Undang-undang tentang perseroan terbatas (corporate laws),


b. Undang-undang perburuhan,
c. Undang-undang tentang kredit perbankan,
d. Ketentuan tentang standar akuntansi keuangan dan standar audit,
e. Syarat dan prosedur pendaftaran saham perusahaan di bursa efek.

OECD menyarankan dalam menyusun undang-undang atau ketentuan hukum


lain yang bersangkutan dengan penerapam prinsip good corporate governance,
pemerintah hendaknya melakukan komunikasi dan konsultasi dengan perusahan-
perusahaan lokal. Di samping itu pemerintah negara yang menerapkan prinsip-
prinsip good corporate governace disarankan memonitor penerapan prinsip-
prinsip tersebut di dunia bisnis negaranya.

2. Hak pemegang saham dan fungsi pokok kepemilikan perusahaan (the


rights of shareholders and key ownership function); para pemegang saham
mempunyai hak-hak tertentu. OECD menyarankan hak-hak tersebut
dilindungi, baik secara hukum maupun oleh masing-masing perusahaan.
3. Perlakuan yang adil terhadap para pemegang saham (the equiptable
treatment of shareholders); perusahaan wajib menjamin perlakuan yang
adil terhadap semua pemegang saham perusahaan, termasuk pemegang
saham minoritas dan pemegang saham asing. Pemegang jenis saham yang
sama (misalnya saham biasa) wajib mendapat jaminan memperoleh
pelakuan yang sama. Dalam kaitannya dengan perlakuan adil itu sebelum
menjadi saham yang diperdagangkan di bursa efek, setiap investor berhak
mendapatkan informasi tentang hak dan perlindungan terhadap saham
yang akan mereka beli.
4. Peranan the stakeholders dalam corporate govarnance (the role of
stakeholders in corporate governance); OECD juga menyarankan adanya
perlindungan hak dan kepentingan para anggota the stakeholders non
pemegang saham. Hal itu disebabkan karena keberhasilan operasi bisnis
perusahaan ditentukan oleh hasil kerjasama para anggota stakeholders,
termasuk para pemegang saham, karyawan, kreditur pelanggan, dan para
pemasok layanan jasa, baha baku, dan bahan pembantu.
5. Prinsip pengungkapan informasi secara transparan (disclosure and
transparency); Prinsip good corporate governance lain yang
disosialisasikan OECD kepada negara-negara anggota dan negara-negara
non-anggota adalah pengungkapan informasi perusahaan secara
transparan. Menurut OECD Board of Directors perusahaan wajib
melaporkan kepada pemegang saham secara akurat, transparan dan tepat
waktu, hal-hal yang bersangkutan dengan kondisi keuangan, perubahan
kepemilikan, kinerja bisnis dan hal-hal penting lainnya yang dapat
mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan.
6. Tanggung jawab Dewan Pengurus (the responsibilities of the Board);
Tanggung jwab dewan pengurus, organisasi dewan pengurus atau Board of
Directors di banyak negara terdiri dari dua lapis. Di Indonesia lapis
pertama disebut dewan komisaris, sedangkan lapis kedua disebut direksi,
lapis pertama Board of Directors berfungsi sebagai pengarah dan
pengawas jalannya operasi bisnis perusahaan dan kinerja direksi.

Sedangkan fungsi utama lapis kedua Board of Directors adalah mengelola


harta, utang dan kegiatan bisnis perusahaan sehari-hari. Board of Directors
bertanggung jawab atas kepatuhan perusahaan yang mereka kelola terhadapa
undang-undang atau ketentuan hukum yang berlaku, termasuk undang-undang
perpajakan, perburuhan, persaingan, perkreditan, lingkungan hidup secara lebih
rinci fungsi dan tanggung jawab Board of Directors dalam kerangka corporate
governance.

Adapun prinsip Corporate governance yang diterbitkan oleh OECD dalam


hubungannya dengan tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri
Negara BUMN juga mengeluarkan keputusan Nomor Kep-117/M-MBU/2002
tentang Penerapan GCG (Tjager dkk., 2003).

Ada lima prinsip menurut keputusan ini, yaitu :

a. Kewajaran (fairness)
b. Tranparansi
c. Akuntabilitas
d. Pertanggungjawaban
e. Kemandirian

Tranparansi berarti keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan dalam


mengemukakan informasi mengenai perusahaan.Kemandirian berarti pengelolaan
perusahaan secara prosfesional sesuai dengan peraturan perundang-undangan
tanpa benturan kepentingan dan tekanan dari pihak lain. Akuntabilitas berarti
memberikan pelaporan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas secara periodic,
termasuk mengenai penggunaan dan sumber-sumber dana. Kewajaran (fairness)
berarti keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak masing-masing
stakeholders sesuai kontribusi yang diberikan kepada perusahaan, serta perjanjian
dengan perundang-undangan yang berlaku.

Dengan kriteria tersebut, penerapan GCG di lingkungan BUMN diharapkan


dapat mencapai tujuan perusahaan :

a. Memaksimalkan nilai BUMN;


b. Mendorong pengelolaan BUMN secara professional;
c. Mendrong proses pengambilan keputusan berlandakan nilai moral yang
tinggi, kepatuhan atas peraturan perundang-undangan yang berlaku,
pertanggungjawaban social kepada semua stakeholders, dan kelestarian
lingkungan hidup;
d. Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional;
e. Meningkatkan investasi nasional;
f. Mensukseskan program privatisasi.

2.4 TUJUAN GCG

GCG bukanlah seata-mata persoalan membentuk organ-organ perusahaan


seperti komisaris independen dan komite audit, tapt GCG adalah sebagaimana
menciptakan pengelolaan perusahaan yang professional melalui penerapan system
akunting dan keuangan yang memenuhi standar serta bagaimana manajemen
dilengkapi dengan system teknologi informasi yang mendukung operasional
perusahaan.

Good corporate governance mempunyai 5 tujuan utama yaitu :

a. Melindungi hak dan kepentingan pemegang saham;


b. Melindungi hak dan kepentingan stakeholders lainnya;
c. Meningkatkan nilai saham dan perusahaan;
d. Meningkatkan kinerja Dewan Komisaris dan Manajemen;
e. Meningkatkan mutu hubungan Dewan Komisaris dan Manajemen.

Semua kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan diselEnggarakan dengan sIstem


pengendalian internal yang mencakup :

a) Pengendalian terstruktur terrdiri atas :


1. Intergritas, nilai etika dan kompetensi karyawan
2. Filosofi dan gaya manajemen
3. Keseimbangan tanggung jawab dan kewenangan
4. Pengembangan sumberdaya manusiwa
5. Arahan dari direksi
b) Pengkajian dan pengelolaan resiko Usaha;
c) Pengendalian menyeluruh di setiap unit, aspek dan tingkatan;
d) Ketaatan pada peraturan dalam pelaksanaan, pelaporan dan
pertanggungjawaban;
e) System monitoring dengan dukungan audit internal.

2.5 MANFAAT GCG

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, tujuan penerapan GCG


adalah untuk meningkatkan kinerja organisasi serta mencegah atau memperkecil
peluang praktik manipulasi dan kesalahan signifikan dalam pengelolaan kegiatan
organisasi.

Tjager dkk (2003) mengatakan bahwa paling tidak ada lima alasa mengapa
penerapan GCG itu bermanfaat, yaitu :

1. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh McKinsey&Company


menunjukan bahwa para investor institusional lebih menaruh kepercayaan
terhadap perusahaan-perusahaan di Asia yang telah menerapkan GCG.
2. Berdasarkan berbagai analisis, ternyata ada indikasi keterkaitan antara
terjadinya krisis finansial dan krisis berkepanjangan di Asia dengan
lemahnya tata kelola perusahaan.
3. Internasioanlisasi pasar termasuk liberalisasi pasar finansial dan pasar
modal menuntut perusahaan untuk menerapkan GCG.
4. Kalaupun GCG bukan obat mujarab untuk keluar dari krisis, system ini
dapat menjadi dasar bagi berkembangnya system nilai baru yang lebih
sesuai dengan lanskap bisnis yang kini telah banyak berubah.
5. Secara teoretis, praktik GCG dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Indra Surya dan Ivan yustiavandana (2007) mengatakan bahwa tujuan dan
manfaat dari penerapan GCG adalah :

1. Memudahkan askes terhadap investasi domestic maupun asing


2. Mendapatkan biaya modal (cost of capital) yang lebih murah
3. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja
ekonomi perusahaan
4. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari para pemangku
kepentingan terhadap perusahaan
5. Melindungi direksi dan komisaris dari tuntunan hukum.

2.6 ORGAN KHUSUS DALAM PENERAPAN GCG

Meskipun ketentuan mengenai organ perseroan telah diatur dalam undang-


undang perseroan terbatas Nomor 40 Tahun 2007 dan selanjutnya dituangkan
kembali di dalam anggaran dasar perseroan, namun dalam praktiknya organ ini
belum mampu menjamin terselenggaranya tata kelola perusahaan yang sehat. Hal
ini karena sifat undang-undang mengatur ketentuan-ketentuan secara garis besar
saja sehingga ada ketentuan-ketentuan dalam undang-undang yang memerlukan
petunjuk pelaksanaan (juklak) atau petunjuk teknis (juknis) lebih lanjut dalam
bentuk peraturan dan pedoman yang dil\keluarkan pleh instansi pemerintah yang
berwenang serta institusi atau organisasi prosfesi terkait.

Indra Surya dan Ivan Yustiavananda (2006) meneyebutkan paling tidak


diperlukan organ tambahan untuk melengkapi penerapan GCG, yaitu :

a. Komisaris dan Direktur Independen

Komisaris dan direktur independen ialah seseorang yang ditunjuk untuk


mewakili pemegang saham independen (pemegang saham minoritas). Sebagaiman
diatur dalam undang-undang perseroan \, anggota Direksi dan Komisaris diangkat
dan diberhentikan oleh RUPS, sedangkan keputusan yang diambil dalam RUPS
didasarkan atas perbandingan jumlah suara para pemegang saham.

b. Komite Audit

Undang-undang Perseroan Terbatas Pasal 121 memungkinkan Dewan


Komisaris untuk membentuk komite tertentu yang dianggap perlu untuk
membantu tugas pengwasan yang diperlukan. Salah satu komite tambahan yang
kini banyak muncul untuk membantu fungsi Dewan komisaris adalah Komite
Audit. Munculnya Komite Audit ini barang kali disebabkan oleh kecenderungan
makin meningkatnya berbagai skandal penyelewengan dan kelalaian yang
dilakukan oleh para direktur dan komisaris perusahaan besar baik yang terjadi di
AS maupun Indonesia yang menandakan kurang memadainya fungsi pengawasan.
Sebagaimana dinyatakan oleh Hasnati (dalam Indra Surya dan Ivan
Yustiavanadana,2006), tugas, tanggung jawab, dan wewenang Komite Audit
adalah membantu Dewan Komisaris, antara lain :

1. Mendorong terbentuknya struktur pengendalian intern yang memadai


(prinsip tanggung jawab);
2. Meningkatkan kualitas keterbukaan dan laporan keuangan (prinsip
transparasi);
3. Mengkaji ruang lingkup dan ketepat audit eksternal, kewajaran biaya audit
ekternal, serta kemandirian dan objektivitas audit eksternal (prinsip
akuntabilitas);
4. Mempersiapkan surat uraian tugas dan tanggung jawab komite audit
selama tahun buku yang sedang diperiksa eksternal audit (prinsip
tanggung jawab).
c. Sekretaris Perusahaan

Jabatan sekretaris perusahaan menempati posisi yang sangat tinggi dan


strategis karena orang dalam jabatan ini berfungsi sebagai penghubung (liason
officer) atau semacam public relation/investor relation antara perusahaan deng
pihka luar perusahaan, khususnya bagi perusahaan-perusahaan besar yang telah
mendaftarkan sahamnya di bursa.

2.7 CONTOH KASUS

Dugaan Korupsi VLCC

Mantan komisaris Pertamina yang saat ini menjabat Deputi Menteri


Negara BUMN, Roes Aryawijaya kembali diperiksa penyidik bagian Tindak
Pidana Khusus kejaksaan agung sebagai saksi dugaan korupsi dalam penjualan
kapal tanker raksasa atau very large crude carrier (VLCC) Pertamina.

Seusai pemeriksaan, Roes yang ditanya wartawan soal keputusan


penjualan dua kapal tanker raksasa Pertamina tahun 2004 itu menjawab,
Penjualan tersebut sebenarnya ususlan Direksi Pertamina. Oleh Komisaris dikaji
dan dilihat. kan kalau tidak dijual perusahaannya bangkrut, kata Roes.
Keputusan menjual VLCC itu melibatkan seluruh direksi dan komisaris
Pertamina. Dalam siaran pers yang dikeluarkan Pusat Penerbangan Hukum
Kejaksaan Agung, disebutkan bahwa direksi Pertamina bersama Komisaris Utama
Pertamina, tanpa persetujuan Menteri Keuangan pada 11 Juni 2004 telah
melakukan divestasi dua tanker VLCC milik Pertamina nomor Hull 1540 dan
1541 kepada Frontline dengan harga US$184 juta.

Hal tersebut bertentangan dengan keputusan Menteri Keuangan Nomor 89


Tahun 1991 Pasal 12 ayat 1 karena persetujuan Menteri Keuangan baru terbit 7
Juli 2004. Secara terpisah, Jaksa Agung Henarman Supandji menyatakan bahwa
tersangka kasusu dugaan korupsi penjualan VLCC itu ternyata banyak dari yang
semula disebutkan.

Sumber : Kompas, 3 Oktober 2007

2.8 Komite Audit di Indonesia

Di Indonesia, keberadaan Komite Audit dimulai sejak tahun 2001 melalui


Surat Edaran Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal, sekarang berubah menjadi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)) No: SE-03/PM/2000 yang berisi himbauan
perlunya Komite Audit dimiliki oleh setiap Emiten. Bursa Efek Jakarta (sekarang
Bursa Efek Indonesia) selanjutnya mengeluarkan surat No: Kep. 339/BEJ/07-
2001 mengenai kewajiban perusahaan tercatat untuk memiliki Komite Audit serta
jumlah keanggotaan dari komite itu sendiri.

Pada tahun 2003, keberadaan Komite Audit untuk BUMN diatur melalui
Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-117/M-MBU/2002 yang berisi bahwa
dalam membantu Komisaris/Dewan Pengawas, Komite Audit bertugas :

a. Menilai pelaksanaan kegiatan serta hasil audit yang dilakukan oleh Satuan
Pengawasan Intern maupun Auditor Eksternal sehingga dapat dicegah
pelaksanaan dan pelaporan yang tidak memenuhi standar;
b. Memberikan rekomendasi mengenai penyempurnaan sistem pengendalian
manajemen perusahaan serta pelaksanaannya;
c. Memastikan bahwa telah terdapat prosedur review yang memuaskan
terhadap informasi yang dikeluarkan BUMN, termasuk brosur, laporan
keuangan berkala, proyeksi/forecast dan informasi keuangan lainnya yang
disampaikan kepada pemegang saham;
d. Mengindentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Komisaris/Dewan
Pengawas;
e. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Komisaris/Dewan Pengawas
sepanjang masih dalam lingkup tugas dan kewajiban Komisaris/Dewan
Pengawas berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Kemudian, Bapepam melalui suratnya Nomor: Kep-29/PM/2004 tanggal 24


September 2004 mengeluarkan Peraturan Nomor IX.I.5 tentang Pembentukan dan
Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit yakni dalam bagian 1.b mengenai
definisi Komisaris Independen adalah anggota Komisaris yang:

Berasal dari luar Emiten atau Perusahaan Publik antara lain :

a. Tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung pada


Emiten atau Perusahaan Publik;
b. Tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Emiten atau Perusahaan
Publik, Komisaris, Direksi, atau Pemegang Saham Utama Emiten atau
Perusahaan Publik;
c. Tidak memiliki hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung
yang berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik.

Pada tanggal 7 Desember 2012, Bapepam dan LK telah menerbitkan satu


peraturan yaitu Peraturan Nomor IX.I.5, lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan
LK Nomor: Kep-643/BL/2012 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan
Kerja Komite Audit. Penerbitan peraturan ini menyempurnakan sekaligus
mencabut Keputusan Ketua Bapepam Nomor: KEP-29/PM/2004 tanggal 24
September 2004 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite
Audit.

Penyempurnaan Peraturan ini dimaksudkan untuk meningkatkan


independensi, peran dan kewenangan Komite Audit dalam membantu pelaksanaan
tugas dan fungsi pengawasan Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik.
Dalam Peraturan ini diatur mengenai ketentuan umum, struktur dan keanggotaan,
persyaratan keanggotaan, masa tugas, tugas dan tanggung jawab, wewenang,
rapat, dan pelaporan Komite Audit, serta sanksi.
Beberapa pokok penyempurnaan yang diatur dalam peraturan dimaksud antara
lain:

a. Penegasan pengertian Komite Audit dan Komisaris Independen dan


independensinya dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab;
b. Kewajiban untuk memiliki piagam Komite Audit (audit committee charter)
dan pemuatannya pada website Emiten atau Perusahaan Publik;
c. Penambahan dan penyempurnaan persyaratan keaggotaan, tugas dan
tanggung jawab, serta wewenang Komite Audit;

Pengaturan mengenai pelaksanaan rapat Komite Audit secara berkala paling


kurang satu kali dalam 3 (tiga) bulan, jumlah quorum peserta rapat, pengambilan
keputusan yang dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat, dan risalah rapat,
termasuk penuangan adanya perbedaan pendapat (dissenting opinions); dan

Pengaturan mengenai sistem pelaporan terkait informasi pengangkatan/


pemberhentian Komite Audit kepada Bapepam dan LK, yang juga wajib dimuat
dalam laman (website) bursa dan/ atau laman (website) Emiten atau Perusahaan
Publik.

2.9 Komite Audit Sebagai Organ Dewan Komisaris dalam Pemenuhan GCG

Komite Audit adalah sebuah komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris.
Komite Audit membantu Dewan Komisaris untuk memenuhi tanggung jawab
pengawasannya. Dalam kapasitasnya, Komite Audit bertanggung jawab untuk
membuka dan memelihara/menjaga komunikasi antara Komite Audit dengan
Dewan Komisaris, Direksi, unit audit internal, akuntan independen dan manajer
keuangan. Dilihat dari sisi keanggotaan, Anggota Komite Audit diangkat dan
diberhentikan oleh Dewan Komisaris dan dilaporkan kepada Rapat Umum
Pemegang Saham.

Selain itu Komite Audit juga membantu Direksi yang memiliki tanggung
jawab dalam hal pengawasan. Komite juga membuat rekomendasi untuk suatu
tindakan kepada keseluruhan direksi, dengan kata lain menyimpan sejumlah
tanggung jawab untuk pengambilan keputusan.
Komite Audit memiliki peran penting untuk membantu direksi dalam hal
pemenuhan tata kelola perusahaan yang baik. Direksi sendiri dibutuhkan untuk
menyatakan laporan keuangan dan catatan-catatan yang mengikuti standar
akuntansi serta memberikan pandangan yang benar dan adil terhadap posisi dan
performa keuangan dari sebuah perusahaan.

2.9.1 Audit Committee Charter

Piagam Komite Audit menjadi landasan dan legitimasi bekerjanya Komite


Audit dalam organisasi. Oleh karena itu biasanya dipublikasikan di website
organisasi tersebut sebagai simbol bahwa organisasi tersebut telah menjalankan
tata kelola perusahaan yang baik.

Dalam piagam ini diatur kewenangan yang dimiliki Komite Audit untuk
melakukan atau mengizinkan penyelidikan dalam setiap hal dalam ruang lingkup
tanggung jawab yang dimilikinya, termasuk di dalamnya untuk:

a. Menunjuk, memberikan kompensasi, dan mengawasi pekerjaan auditor


eksternal yang ditunjuk organisasi
b. Menyelesaikan perbedaan yang ada antara management dengan auditor
eksternal terkait dengan pelaporan keuangan
c. Menyetujui penunjukan perikatan jasa audit dan non audit
d. Menyewa penasihat independen, akuntan, atau orang lain untuk
menyarankan pembentukan panitia atau membantu dalam melakukan
penyelidikan.
e. Mencari informasi apapun yang diperlukan oleh karyawan, yang
semuanya diarahkan untuk bekerja sama dengan permintaan Komite Audit
atau pihak eksternal.
f. Bertemu dengan pejabat perusahaan, auditor eksternal, atau penasihat luar
lainnya yang diperlukan.

Komposisi audit komite juga diatur dalam piagam ini, biasanya terdiri
minimal tiga orang dan tidak lebih dari lima orang, termasuk asalnya dari dalam
atau luar organisasi. Setiap anggota komite haruslah independen dalam hal
keuangan, minimal satu orang haruslah ahli dalam bidang keuangan seperti yang
didefinisikan oleh undang-undang dan peraturan yang berlaku.
Biasanya dalam piagam ini juga diatur rapat minimum yang harus dilakukan
oleh Komite Audit. Termasuk didalamnya cara pengambilan keputusan rapat. Juga
diatur rapat-rapat dengan auditor internal, auditor eksternal atau pihak-pihak lain
yang diperlukan.

Terakhir diatur mengenai tugas dan tanggung jawab Komite Audit, bisanya
dan tidak terbatas pada: review laporan keuangan, mempertimbangkan efektifitas
pengendalian internal, mitra internal audit, menunjuk dan mengawasi proses audit
oleh eksternal audit, pelaporan secara regular kepada dewan komisaris dan
pemegang saham, dan tanggung jawab lainnya.

2.9.2 Peran Komite Audit dalam Penerapan Enterprise Risk Management

Komite Audit tidak lepas dari konteks penerapan Enterprise risk


management (ERM) bagi perusahaan. ERM dalam bisnis meliputi metode dan
proses yang digunakan oleh organisasi untuk mengelola risiko dan menangkap
peluang yang terkait dengan pencapaian tujuan mereka. ERM menyediakan
kerangka kerja untuk manajemen risiko, yang terkait dengan tugas dan tanggung
jawab Komite Audit diantaranya mengidentifikasi peristiwa tertentu atau keadaan
yang berdampak pada pencapaian tujuan organisasi (risiko dan peluang), menilai
mereka dalam hal kemungkinan dan besarnya dampak, menentukan strategi
respon, dan memantau kemajuan yang dapat menjadi pertimbangan saat akan ada
penentuan keputusan. Dengan mengidentifikasi dan proaktif dalam menangani
risiko dan peluang, perusahaan dapat melindungi dan menciptakan nilai bagi para
pemangku kepentingan, termasuk pemilik, karyawan, pelanggan, regulator, dan
masyarakat secara keseluruhan.

Keterkaitan antara ERM yang diterapkan pada perusahaan dengan tugas dan
peranan Komite Audit pada umumnya tertera pada piagam Komite Audit masing-
masing organisasi.

2.9.3 Mitra Auditor Internal

Dalam praktiknya Satuan Pengawas Internal (SPI) sering kehilangan


taring dalam menjalankan tugasnya. Auditee sering sekali tidak mau
bekerjasama dengan auditor internal, demikian juga jika terjadi temuan, maka
temuan itu sering sekali tidak ditindak lanjuti oleh manajemen karena bersifat
korektif terhadap diri manajemen sendiri.

Meski organisasi SPI berada langsung dibawah direksi, namun posisi


struktural itu acapkali masih sering diabaikan oleh manajemen sendiri karena ke-
tidak independenan-nya di dalam organisasi. Untuk mengatasi hal ini, maka
didalam piagam Komite Audit harus diatur bahwa Komite Audit harus bermitran
dengan SPI. Dimulai dari pengengasan rencana kerja tahunan internal audit,
laporan temuan serta rekomendasi kepada manajemen harus direview terlebih
dahulu oleh Komite Audit. Jika ada beberapa temuan yang tidak ditindaklanjuti
manajemen, maka Komite Audit dapat melakukan eskalasi untuk mengatasinya,
termasuk melalui mekasinisme rapat komisaris.

2.9.4 Nilai Tambah yang diberikan Komite Audit

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Komite Audit memiliki


peran yang sangat besar bagi organisasi. Dimulai dari kebutuhan dibentuknya
Komite Audit karena memang diperlukan organ khusus yang mengawasi
pengelolaan organisasi terutama dalam hal keuangan. Selanjutnya dalam proses
pengawasannya diperlukan counterpart bagi auditor internal, meskipun auditor
internal telah diberikan posisi yang pantas di leher nya direktur utama, tetapi
tetap saja independensi dan taring auditor internal masih dirasa kurang, oleh
karena itu biasanya auditor internal bermitra dengan Komite Audit dalam setiap
tugas dan laporan temuannya.

Demikian juga dengan auditor eksternal, Komite Audit berperan sejak dalam
penunjukan mereka, pengawasan pekerjaan mereka, sampai pada pelaporan
laporan keuangan, termasuk didalamnya jika terjadi dispute/perbedaan dengan
manajamen, maka Komite Audit harus tampil sebagai penengah.

Keahlian spesifik yang dimiliki oleh Komite Audit khususnya dalam bidang
akuntansi dan keuangan menjadi faktor penentu bagi berjalannya proses
pengawasan tersebut, oleh karena itu untuk dapat memberikan nilai tambah bagi
organisasi, ada baiknya Komite Audit diisi oleh para professional handal
dibidangnya. Tidak hanya kompeten, tetapi juga independen, itulah yang
diperlukan bagi proses pengawasan.

Hal ini membuka peluang yang begitu bagi para professional untuk
mengemban amanah sebagai komite audit. Kedepannya peran Komite Audit
semakin dibutuhkan di seluruh Organisasi, oleh karena itu semakin dibutuhkan
juga para profesional untuk mengemban amanah
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Good governance dapat diartikan sebagai kepemerintahan yang baik atau


penyelenggaraan pemerintahaan yang bersih dan efektif, sesuai dengan peraturan
dan ketentuan yang berlaku. Pemerintahan mencakup ruang lingkup yang luas,
termasuk bidang politik, ekonomi dan sosial mulai dari proses perumusan
kebijakan dan pengmbilan keputusan hingga pelaksanaan dan pengawasan.
Political governance mengacu pada proses pembuat kebijakan. Economic
governance mengacu pada proses pembuatan keputusan di bidang ekonomi guna
meningkatkan kesejahteraan, pemerataan, penurunan kemiskinan dan peningkatan
kualitas hidup. Administrative governance berarti, bahwa penyelenggara setiap
bidang dan tahapan pemerintahan harus dilakukan dengan bersih, efisien, dan
efektif.

Adapun prinsip Corporate governance yang diterbitkan oleh OECD dalam


hubungannya dengan tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri
Negara BUMN juga mengeluarkan keputusan Nomor Kep-117/M-MBU/2002
tentang Penerapan GCG (Tjager dkk., 2003).

Ada lima prinsip menurut keputusan ini, yaitu :a)Kewajaran (fairness),


b)Tranparansi, c)Akuntabilitas ,d)Pertanggungjawaban ,e)Kemandirian. Banyak
sudah terjadi kejahatan ekonomi dan kecurangan bisnis yang dilakukan oleh
banyak korporasi atau pelaku bisnis dan ekonomi yang telah merugikan warga
negara, masyarakat bahkan merugikan Negara, setidaknya dalam segi finansial
(pajak) dan kepercayaan public terhadap peranan Negara (pemerintah) dalam
mengawasi dinamika ekonomi, khususnya proses produksi, eksplorasi, dan
eksploitasi sumber-sumber kekayaan alam dan pelestarian lingkungan hidup.

Fenomena ini terjadi karena banyak korporasi, terutama para pimpinanya


tidak memiliki komitmen yang kuat untuk memberantas kejahatan bisnis.
Penyelewengan, penyalahgunaan otoritas, korupsi, dan kolusi juga sulit diatasi.
Penipuan sistematis terhadap masyarakat yang dilakukan beberapa pebisnis juga
sering terjadi.

3.2 SARAN

Untuk mengatasi kejahatan bisnis atau ekonomi yang terjadi seiring


dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang telah melahirkan revolusi industry
perdagangan, perbankan dan khusunya korporasi, dalam skala global, sebaiknya
semua Negara memperkuat komitmen politiknya untuk lebih memartabatkan
kegiatan ekonomi dan bisnis.

Dengan begitu, kemakmuran dan kesejahteraan dapat terwujud. Selain itu


perlu juga diperkuat komitmen moralnya untuk tetap konsisten menjalankan
sebuah misi penting, yaitu mewujudkan keadilan, kebenaran, kejujuran, penegak
hokum, penegak etika dan peningkatan ras kompetensi secara fair rasional dan
berkemanusiaan.
DAFTAR PUSTAKA

Arens, Alvin A., James K. Loebbecke. 1995. Auditing: Suatu Pendekatan


Terpadu. Edisi Keempat. Erlangga: Jakarta

Guy, Dan. M., Wayne Alderman, Alan J. Winters. 2002. Auditing. Edisi
kelima (Alih Bahasa Sugiyarto). Erlangga: Jakarta

Kieso, Donald E., Jweygandt Jerry, Dwarfield Terry. 2007. Akuntansi


Intermediate. Edisi Kedua Belas. Erlangga: Jakarta

Mulyadi. 2002. Auditing. Edisi Keenam. Salemba Empat: Jakarta

Pieris, John & Wiryawan, N J. 2007. Etika Bisnis dan Good Corporatr
Governance. Jakarta: Pelangi Cendekia.