Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pengembangan berkelanjutan standar profesional akuntan publik adalah
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Pengembangan ini sudah mulai
dilakukan sejak tahun 1973. Pada tahap awal perkembangannya, standar ini
disusun oleh suatu komite dalam organisasi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang
diberi nama Komite Norma Pemeriksaan Akuntan. Komite ini kemudian
menghasilkan Norma Pemeriksaan Akuntan. Seperti tercermin dari nama yang
diberikan, standar yang dikembangkan pada saat itu lebih berfokus ke jasa audit
atas laporan keuangan historis.
Respon profesi akuntan publik terhadap perkembangan dunia bisnis dan
bidang profesi akuntan publik diwujudkan dalam dua keputusan penting yang
dibuat oleh IAI pada pertengahan tahun 1994 :
1. Perubahan nama dari Komite Norma Pemeriksaan Akuntan ke Dewan
Standar Profesional Akuntan Publik dan
2. Perubahan nama standar yang dihasilkan dari Norma Pemeriksaan
Akuntan ke Standar Profesional Akuntan Publik.
Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dijabarkan ke dalam Etika
Kompartemen Akuntan Publik untuk mengatur perilaku akuntan yang menjadi
anggota IAI yang berpraktik dalam profesi akuntan publik.Nilai-nilai moral atau
yang sering lebih kita kenal dengan etika merupakan topik yang sering menyita
banyak perhatian di kalangan masyarakat sekarang ini, karena nilai etika di
kalangan masyarakat telah memudar seiring perkembangan zaman yang semakin
modern.
Perhatian ini merupakan indikasi penting berperilaku dan beretika di
kalangan masyarakat.Perilaku beretika merupakan hal penting praktik akuntan
public dan harus di tanggapi secara serius oleh para mahasiswa akuntansi sebagai
calon akuntan. Untuk itulah etika profesi akuntan dipelajari secara khusus dan bab
tersendiri di dalam mata kuliah auditing.
1.2 Rumusan Masalah
Ada pun Masalah Yang akan dibahas dalam Makalah ini sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Standar Etika ?
2. Apa saja Tipe Standar Etika Profesional ?
3. Apa yang dimaksud dengan Kode/Komitmen Profesi Akuntan Publik?

1.3 Tujuan Penulisan


Ada pun Tujuan Penulisan yang akan di bahas oleh Makalad ini Sebagai
berikut :
1. Untuk mengetahui yang dimaksud oleh Standar Etika
2. Untuk mengetahui Tipe Standar Etika Profesional
3. Untuk mengetahui apa saja yang dimaksud Kode/Komitmen Profesi
Akuntan Publik

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK
Dalam Kongres ke VII Ikatan Akuntan Indonesia tahun 1994, disahkan
Standar Profesional Akuntan Publik yang secara garis besar berisi :
1. Uraian mengenai standar profesional akuntan publik.
2. Berbagai pernyataan standar auditing yang telah diklasifikasikan.
3. Berbagai pernyataan standar atestasi yang telah diklasifikasikan.
4. Pernyataan jasa akuntansi dan review.

Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) adalah kodifikasi berbagai


pernyataan standar teknis yang merupakan panduan dalam memberikan jasa
bagi akuntan publik di Indonesia. SPAP dikeluarkan oleh Dewan Standar
Profesional Akuntan Publik Institut Akuntan Publik Indonesia (DSPAP
IAPI).Didalam SPAP terdapat beberapa tipe standar profesional yang terbagi
menjadi enam tipe standar profesional yang dikodifikasikan dalam standar
auditing, standar atestasi, standar jasa akuntansi dan review, standar jasa
konsultasi, standar pengendalian mutu, dan aturan etika kompartemen akuntan
publik.

2.2 Tipe Standar Profesional


A. Standar Auditing
Standar Auditing adalah sepuluh standar yang ditetapkan dan disahkan
oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), yang terdiri dari standar umum,
standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan beserta interpretasinya. Standar
auditing merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis.
B. Standar Atestasi
Atestasi (attestation) adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan
yang diberikan oleh seorang yang independen dan kompeten yang menyatakan
apakah asersi (assertion) suatu entitas telah sesuai dengan kriteria yang telah
ditetapkan. Asersi adalah suatu pernyataan yang dibuat oleh satu pihak yang
dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain, contoh asersi dalam laporan
keuangan historis adalah adanya pernyataan manajemen bahwa laporan keuangan
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Standar atestasi membagi tiga tipe perikatan atestasi :
1. Pemeriksaan (examination)
2. Review
3. Prosedur yang disepakati (agreed-upon procedures).

Salah satu tipe pemeriksaan adalah audit atas laporan keuangan historis yang
disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Pemeriksaan tipe ini
diatur berdasarkan standar auditing. Tipe pemeriksaan lain, misalnya pemeriksaan
atas informasi keuangan prospektif, diatur berdasarkan pedoman yang lebih
bersifat umum dalam standar atestasi. Standar atestasi ditetapkan oleh Institut
Akuntan Publik Indonesia.
C. Standar Jasa Akuntansi dan Review
Standar jasa akuntansi dan review memberikan kerangka untuk fungsi non
atestasi bagi jasa akuntan publik yang mencakup jasa akuntansi dan review.
Sifat pekerjaan non-atestasi tidak menyatakan pendapat, hal ini sangat berbeda
dengan tujuan audit atas laporan keuangan yang dilaksanakan sesuai
dengan standar auditing. Tujuan audit adalah untuk memberikan dasar memadai
untuk menyatakan suatu pendapat mengenai laporan keuangan secara
keseluruhan, sedangkan dalam pekerjaan non-atestasi tidak dapat dijadikan dasar
untuk menyatakan pendapat akuntan.

Jasa akuntansi yang diatur dalam standar ini antara lain :


1. Kompilasi laporan keuangan : Penyajian informasi-informasi yang
merupakan pernyataan manajemen (pemilik) dalam bentuk laporan
keuangan.
2. Review atas laporan keuangan : Pelaksanaan prosedur permintaan
keterangan dan analisis yang menghasilkan dasar memadai bagi akuntan
untuk memberikan keyakinan terbatas, bahwa tidak terdapat modifikasi
material yagn harus dilakukan atas laporan keuangan agar laporan tersebut
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
3. Laporan keuangan komparatif : Penyajian informasi dalam bentuk laporan
keuangan dua periode atau lebih yang disajikan dalam bentuk berkolom
Ketiga standar profesional di atas merupakan standar teknis yang bertujuan
untuk mengatur mutu jasa yang dihasilkan oleh profesi akuntan publik di
Indonesia.
Standar auditing berbeda dengan prosedur auditing yang mana berkaitan
dengan tindakan yang harus dilaksanakan, sedangkan standar berkaitan dengan
suatu kriteria ukuran mutu kinerja tindakan tersebut. Berikut akan dipaparkan
tentang standar auditing yang telah ditetapkan dan disahkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia.
1. Standar Umum
a) Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian
dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.
b) Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi
dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.
c) Dalam melaksanaan aufit dan penyusunan laporannya, auditor wajib
mengggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
2. Standar Pekerjaan Lapangan
a. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten
harus disupervisi dengan semestinya.
b. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk
merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian
yang akan dilakukan.
c. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi,
pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar yang
memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
3. Standar Pelaporan
a. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
b. Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan jika ada
ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan
laporan keuangan peride berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip
akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
c. Pengungkapan infomatif dalam laporan keuangan harus dipandang
memadai, kecuali dinyatakan lain dalam lapran auditor.
2.3 KODE ETIK/KOMITMEN PROFESI AKUNTAN PUBLIK
Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian, yaitu :
1. Prinsip Etika
Prinsip Etika memberikan kerangka dasar bagi Aturan Etika, yang
mengatur pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota. Prinsip Etika
disahkan oleh Kongres dan berlaku bagi seluruh anggota
2. Aturan Etika
Aturan Etika disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan dan hanya mengikat
anggota Himpunan yang bersangkutan
3. Interpretasi Aturan Etika
Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh
Badan yang dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari
anggota, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam
penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan
penerapannya.

Kepatuhan terhadap Kode Etik, seperti juga dengan semua standar dalam
masyarakat terbuka, tergantung terutama sekali pada pemahaman dan tindakan
sukarela anggota. Di samping itu, kepatuhan anggota juga ditentukan oleh adanya
pemaksaan oleh sesama anggota dan oleh opini publik, dan pada akhirnya oleh
adanya mekanisme pemrosesan pelanggaran Kode Etik oleh organisasi, apabila
diperlukan, terhadap anggota yang tidak menaatinya.

Menurut Mulyadi (2001: 53), Kode etik akuntan Indonesia memuat delapan
prinsip etika, yaitu :
1. Tanggung Jawab profesi
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap
anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional
dalam semua kegiatan yang dilakukannya.
2. Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka
pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan
komitmen atas profesionalisme.
Profesi akuntan memegang peran yang penting di masyarakat, dimana
publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah,
pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak
lainnya bergantung kepada obyektivitas dan integritas akuntan dalam
memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib. Untuk memelihara dan
meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung
jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
3. Integritas
Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya
pengakuan profesional.Integritas merupakan kualitas yang melandasi
kepercayaan publik dan merupakan patokan (bench mark) bagi anggota dalam
menguji keputusan yang diambilnya.Integritas mengharuskan seorang anggota
untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus
mengorbankan rahasia penerima jasa.Pelayanan dan kepercayaan publik tidak
boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi.Integritas dapat menerima
kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi
tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.
4. Obyektivitas
Obyektivitasnya adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa
yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap
adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias,
serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain.
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan
kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.Anggota bekerja
dalam berbagai kapasitas yang berbeda dan harus menunjukkan obyektivitas
mereka dalam berbagai situasi.
5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman.Setiap anggota
harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati, kompetensi dan
ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan
dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan
bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional dan
teknik yang paling mutakhir.Hal ini mengandung arti bahwa anggota
mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-
baiknya sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan
konsisten dengan tanggung jawab profesi kepada public.
6. Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh
selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau
mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak
atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.Anggota
mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang
klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang
diberikannya.Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar
anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir.
7. Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi
yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan
profesi.Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan
profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya
kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan
masyarakat umum.
8. Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan
standar teknis dan standar profesional yang relevan.Sesuai dengan keahliannya
dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan
penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan
prinsip integritas dan obyektivitas.Standar teknis dan standar professional
yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan
Akuntan Indonesia. Internasional Federation of Accountants, badan pengatur,
dan pengaturan perundang-undangan yang relevan.

Sehubungan dengan perkembangan yang terjadi dalam tatanan global dan


tuntutan transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar atas penyajian Laporan
Keuangan, IAPI merasa adanya suatu kebutuhan untuk melakukan percepatan atas
proses pengembangan dan pemutakhiran standar profesi yang ada melalui
penyerapan Standar Profesi International. Sebagai langkah awal IAPI telah
menetapkan dan menerbitkan Kode Etik Profesi Akuntan Publik, yang berlaku
efektif tanggal 1 Januari 2010. Untuk Standar Profesional Akuntan Publik, Dewan
Standar Profesi sedang dalam proses adoption terhadap International Standar on
Auditing yang direncanakan akan selesai di tahun 2010, berlaku efektif 2011.
Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang baru saja diterbitkan oleh IAPI
menyebutkan 5 prinsip-prinsip dasar etika profesi, yaitu :
1. Prinsip Integritas
Prinsip integritas mewajibkan setiap praktisi untuk tegas, jujur, dan adil
dalam hubungan profesional dan hubungan bisnisnya.
Praktisi tidak boleh terkait dengan laporan, komunikais atau informasi
lainnya yang diyakininya terdapat :
a. Kesalahan material atau pernyataan yang menyesatkan;
b. Pernyataan atau informasi yang diberikan secara tidak hati-hati; atau
c. Penghilangan atau penyembunyian yang dapat menyesatkan atas
informasi yang seharusnya diungkapkan.
2. Prinsip Objektivitas
Prinsip objektivitas mengharuskan praktisi untuk tidak membiarkan
subjektivitas, benturan kepentingan atau pengaruh yang tidak layak dari pihak-
pihak lain memengaruhi pertimbangan profesional atau pertimbangan
bisnisnya.
Praktisi mungkin dihadapkan pada situasi yang dapat mengurangi
objektivitasnya.
1. Prinsip Kompetensi serta Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian Profesional.
Prinsip kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional
mewajibkan setiap praktisi untuk :
a. Memelihara pengetahuan dan keahlian profesional yang dibutuhkan untuk
menjamin pemberian jasa profesional yang kompeten kepada klien atau
pemberi kerja; dan
b. Menggunakan kemahiran profesionalnya dengan saksama sesuai dengan
standar profesi dan kode etik profesi yang berlaku dalam memberikan jasa
profesionalnya.
Pemberian jasa profesional yang kompeten membutuhkan pertimbangan yang
cermat dalam menerapkan pengetahuan dan keahlian profesional.
Kompetensi profesional dapat dibagi menjadi dua tahap yang terpisah sebagai
berikut :
a. Pencapaian kompetensi profesional; dan
b. Pemeliharaan kompetensi profesional
Pemeliharaan kompetensi profesional membutuhkan kesadaran pemahaman
yang berkelanjutan terhdap perkembangan teknis profesi dan perkembangan
bisnis yang relevan.
Pengembangan dan pendidikan profesional yang berkelanjutan sangat
diperlukan untuk meningkatkan dan memelihara kemampuan Praktisi agar dapat
melaksanakan pekerjaannya secara kompeten dalam lingkungan profesional.Sikap
kecermatan dan kehati-hatian profesional mengharuskan setiap praktisi untuk
bersikap dan bertindak secara hati-hati, menyeluruh dan tepat waktu sesuai
dengan persyaratan penugasan.
1. Prinsip Kerahasiaanan
Prinsip kerahasiaan mewajibkan setiap praktisi untuk tidak melakukan
tindakan-tindakan sebagai berikut :
a. Mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia yang diperoleh dari
hubungan profesional dan hubungan bisnis kepada pihak di luar KAP atau
jaringan KAP tempatnya bekerja tanpat adanya wewenang khusus, kecuali
jika terdapat kewajiban untuk mengungkapkannya sesuai dengan
ketentuan hukum atau peraturan lainnya yang berlaku; dan
b. Menggunakan informasi yang bersifat rahasian yang diperoleh dari
hubungan profesional dan hubungan bisnis untuk keuntungan pribadi atau
pihak ketiga.
Setiap praktisi harus tetap menjaga prinsip kerahasiaan, termasuk dalam
lingkungan sosialnya.Setiap praktisi harus waspada terhadap kemungkinan
pengungkapan yang tidak disengaja, terutama dalam situasi yang melibatkan
hubungan jangka panjang dengan rekan bisnis maupun anggota keluarga langsung
atau anggota keluarga dekatnya.
Setiap praktisi harus menjaga kerahasiaan informasi yang diungkapkan oleh
calon klien atau pemberi kerja harus mempertimbangkan pentingnya kerahasiaan
informasi terjaga dalam KAP atau jaringan KAP tempatnya bekerja.
Setiap praktisi harus menerapkan semua prosedur yang dianggap perlu untuk
memastikan terlaksananya prinsip kerahasiaan oleh mereka yang bekerja di bawah
wewenangnya, serta pihak lain yang memberkan saran dan bantuan
profesionalnya.
Situasi-situasi yang mungkin mengharuskan praktisi untuk mengungkapkan
informasi yang bersifat rahasia atau ketika pengungkapan tersebut dianggap tepat:
a. Pengungkapan yang diperbolehkan oleh hukum dan disetujui oleh klien
atau pemberi kerja;
b. Pengungkapan yang diharuskan oleh hukum, sebagai contoh
a) Pengungkapan dokumen atau bukti lainnya dalam sidang pengadilan;
atau
b) Pengungkapan kepada otoritas publik yang tepat mengenai suatu
pelanggaran hukum; dan
c. Pengungkapan yang terkait dengan kewajiban profesional untuk
mengungkapan, selama tidak dilarang oleh ketentuan hukum :
a) Dalam mematuhi pelaksanaan penelaahan mutu yang dilakukan
oleh organisasi profesi atau regulator;
b) Dalam menjawab pertanyaan atau investigasi yang dilakukan oleh
organisasi profesi atau regulator;
c) Dalam melindungi kepentingan profesional praktisi dalam sidang
pengadilan; atau
d) Dalam mematuhi standar profesi dan kode etik profesi yang
berlaku.
Dalam memutuskan untuk mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia,
setiap praktisi harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
a. Dirugikan tidaknya kepentingan semua pihak, termasuk pihak ketiga, jika
klien atau pemberi kerja mengizinkan pengungkapan informasi oleh
praktisi;
b. Diketahui tidaknya dan didukung tidaknya semua informasi yang relevan.
Ketika fakta atau kesimpulan tidak didukung bukti, atau ketika informasi
tidak lengkap, pertimbangan profesional harus digunakan untuk
menentukan jenis pengungkapan yang harus dilakukan; dan
c. Jenis komunikasi yang diharapkan dan pihak yang dituju. Setiap praktisi
harus memastikan tepat tidaknya pihak yang dituju dalam komunikasi
tersebut.
2. Prinsip Perilaku Profesional
Prinsip perilaku profesional mewajibkan setiap praktisi untuk mematuhi
setiap ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku, serta menghindari setiap
tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
Dalam memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaannya, setiap praktisi
tidak boleh merendahkan martabat profesi. Setiap praktisi harus bersikap jujur dan
tidak boleh bersikap atau melakukan tindakan :
a. Membuat pernyataan yang berlebihan mengenai jasa profesional yang
dapat diberikan, kualifikasi yang dimiliki atau pengalaman yang telah
diperoleh; dan
b. Membuat pernyataan yang merendahkan atau melakukan perbandingan
yang tidak didukung bukti terhadap hasil perkerjaan praktisi lain.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari uraian yang telah dipaparkan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
standar professional dan kode etik sangat penting bagi akuntan publik. Akuntan
public sebagai profesi yang mengembangkan kepercanyaan masyarakat public
harus bekerja dalam peraturan perudangan , kode etik dan standar professional.
Demikianlah bahwa salah satu hal yang membedakan profesi akuntan
public dengan profesi lainnya adalah tanggung jawab public untuk melindungi
kepentingan publik. Oleh karena itu, tanggung jawab profesi akuntan public tidak
hanya terbatas pada kepentingan klien dan pemberi kerja. Ketika bertindak untuk
kepentingan public, setiap akuntan public harus mematuhi dan menerapkan kode
etik. Kode etik yang dijalankan dengan benar menjadikan sebuah profesi menjadi
terarah dan jauh dari skandal.
1.2 Saran
Kami sebagai penulis makalah ini, menyarankan kepada para pembaca
agar mencari sumber-sumber lain mengenai Standar Etika, agar lebih banyak
mengetahui dan memahami serta semakin luas wawasannya mengenai Standar
Etika.

DAFTAR PUSTAKA

Arens, Alvin A., James K. Loebbecke. 1995. Auditing: Suatu Pendekatan


Terpadu. Edisi Keempat. Erlangga: Jakarta

Guy, Dan. M., Wayne Alderman, Alan J. Winters. 2002. Auditing. Edisi
kelima (Alih Bahasa Sugiyarto). Erlangga: Jakarta

Kieso, Donald E., Jweygandt Jerry, Dwarfield Terry. 2007. Akuntansi


Intermediate. Edisi Kedua Belas. Erlangga: Jakarta

Mulyadi. 2002. Auditing. Edisi Keenam. Salemba Empat: Jakarta