Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Secara umum terapi cairan dan elektrolit bias secara enteral maupun
parenteral. Dalam konteks perawatan anak sakit maka pembahasan terutama pada
terapi secara parenteral, karena biasanya intake peroral sangat tidak memadai dan hal
ini hampir rutin dikerjakan dalam sehari-hari di ruang perawatan anak.

Dalam keadaan sakit sering didapatkan gangguan metabolism termasuk


metabolisme air dan elektrolit. Dikatakan bahwa perburukan maupun perbaikan
keadaan klinis penderita berjalan parallel dengan perubahan-perubahan pada variable
fisiologis. Sebagaimana kita ketahui bahwa anak bukanlah miniature dewasa,
sehingga terapi cairan dan elektrolit pada anak haruslah didasarkan pada prinsip-
prinsip fisiologi sesuai tahapan tumbuh kembangnya dan patofisiologi terjadinya
gangguan metabolism air dan elektrolit.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan


sebagai berikut:

1. Apa saja Komposisi cairan tubuh?

2. Apa fungsi cairan tubuh?

3. Apa saja yang mempengaruhi cairan tubuh?

4. Bagaimana Pergerakan cairan tubuh?

5. Bagaimana Rumus Menghitung IWL ( Insensible Water Loss) ?

6. Masalah Keseimbangan cairan?

C. Tujuan Penulisan

1
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui Komposisi cairan tubuh

2. Mengetahui fungsi cairan tubuh

3. Mengetahui apa yang mempengaruhi cairan tubuh

4. Memahami Pergerakan cairan tubuh

5. Mengetahui Rumus Menghitung IWL ( Insensible Water Loss)

6. Mengetahui masalah keseimbangan cairan

D. Manfaat Penulisan

Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat dengan pertimbangan


sebagai berikut:

1. Sebagai informasi mengenai kebutuhan cairan pada anak.

2.Menjadi pembelajaran bagi penulis agar lebih baik dalam penulisan-penulisan


berikutnya.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Komposisi Cairan Tubuh

Aspek Fisiologis

- air tubuh

- Lean Body Mass (tubuh tanpa jaringan lemak) : air(73 %), Tulang, jaringan
bukan lemak.

- Jaringan Lemak

Aspek patologis

Asidosis : konsentrasi ion hidrogen dlm cairan tubuh naik, karena faktor
metabolik atau respiratorik.

1. Asidosis metabolik

- Kehilangan fixed base melalui traktus digestivus.

- Penyakit yg menyebabkan suhu tubuh naik dan nafsu makan berkurang

- Kegagalan homeostasis ginjal

2. Asidosis respiratorik : tek. Parsial CO2 dlm darah naik, kadar asam karbonat
juga naik.

- Obstruksi dinding alveolus

- Penyakit Ssp

- Aliran darah ke paru berkurang.

3
Gejala asidosis :

Apatis atau gelisah, kadang koma, hiperventilasi, pernafasan


kussmaul, kulit kering, bibir warna merah buah cerry, nafas mungkin berbau
aseton, mual, nyeri perut, nyeri kepala

Pemeriksaan :

- CO2 combining power atau CO2 content rendah

- pH

- Klorida

- pH urine rendah, ketonuria, kenaikan keton dlm darah.

Alkalosis

Konsentrasi ion hidrogen turun dlm cairan tubuh akibat faktor


metabolik atau respiratorik.

1. Alkalosis metabolik

- Kehilangan klorida o/ muntah-muntah

- Terlalu banyak makan bikarbonas natrikus atau alkali lain.

2. Alkalosis respiratorik : hiperventilasi, hiperpnu o/ perangsangan pusat


pernafasan, terlampau banyak CO2 dikeluarkan

- Infeksi ssp

- Keracunan salisilat.

Gejala : pernafasan dangkal dan lambat pada alkalosis metabolik.mual,

4
muntah, kesadaran dpt menurun sampai stupor, parestesi, nyeri kepala.

Tabel 1 : perbandingan lemak dan air dalam tubuh(dalam

persentase berat badan

Lemak % Air %
Orang gemuk 50 50
Orang normal 16 60
Orang Kurus 7 67
Bayi - 78

Air intrasel dan ekstrasel

Air intrasel

35-40% dari berat badan orang sehat, kation terpentingnya kalium, magnesium
sedangkan anion utama : fosfat organik, protein, sulfat

Air ekstrasel

20-25%, plasma darah dan cairan interstitial, komposisi sama dengan plasma, kation
terpenting: natrium, anion terpenting: klorida dan bikartbonat.pd anak sehat pH
berkisar 7,35-7,45

Kation dan Anion dalam cairan Tubuh :

Kation Anion
Na 142 mEq/1 HCO3 27 mEq/1
K 5 mEq/1 Cl 103 mEq/1
Ca 5 mEq/1 SO4 1 mEq/1
Mg 3 mEq/1 HPO 42 mEq/1
Asam Organis 6 mEq/1
Protein 16 mEq/1

Hubungan berat badan dan luas permukaan badan

Berat badan (kg) Luas permukaan badan (m2)


3,3 0,20

5
5 0,25
8 0,35
10 0,45
15 0,60
20 0,80
30 1,05
60 1,70

B. Fungsi Cairan Tubuh

Sebagian besar komponen dalam tubuh kita berupa cairan. Karena itu asupan
cairan yang sehat sangat penting bagi kelangsungan hidup yang sehat. Sebenarnya
seberapa besar peran cairan bagi kehidupan kita? Jika diuraikan tentu saja sangat
banyak, namun secara garis besar fungsi cairan ada 3, diantaranya:\

1.MENGATUR SUHU TUBUH

Seseorang yang mengalami kekurangan cairan, suhu tubuhnya akan


meningkat atau menjadi panas. Bila kebutuhan konsumsi cairan itu tercukupi, suhu
tubuhpun akan normal kembali.

2. MENJAGA KELEMBABAN DAN METABOLISME

Bila organ di dalam tubuh kekurangan air, bentuknya akan mengempis akibat
kehilangan kelembaban. Kondisi kulit sebagai pembungkus tubuh juga sangat
bergantung pada kecukupan cairan tubuh. Kulit bisa menjadi kasar, keriput, dan
cepat tua bila tubuh kekurangan cairan. Seimbangnya cairan di dalam tubuh juga
memberikan kondisi yang ideal bagi metabolisme yang baik.

3. TRANSPORTASI NUTRISI DAN OKSIGEN

Cairan tubuh diperlukan untuk memperlancar distribusi berbagai zat gizi atau
nutrisi serta oksigen ke seluruh tubuh. Jika konsumsi cairan tidak memenuhi
kebutuhan, organ-organ tubuh akan kekurangan pasokan nutrisi serta oksigen dan
akibatnya bisa terjadi gangguan kesehatan.

C. YANG MEMPENGARUHI CAIRAN TUBUH

6
1. Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan
berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan
anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia
dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan
gangguan fungsi ginjal atau jantung

2 .Iklim
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban
udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui
keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat
kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.

3. Diet
Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake
nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan
serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat
diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan
edema.
4. Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan
glykogen otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga
bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.

5. Kondisi Sakit
Kondisi sakit sangat b3erpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh Misalnya:
- Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL.
- Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh

7
- Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan
intake cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri.

6. Tindakan Medis
Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh seperti : suction, nasogastric tube dan lain-lain.

7. Pengobatan
Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh pada
kondisi cairan dan elektrolit tubuh.

8. Pembedahan
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan darah
selama pembedahan.

D. PERGERAKAN CAIRAN TUBUH

Perpindahan air dan zat terlarut di antara bagian-bagian tubuh melibatkan


ekanisme transpor pasif dan aktif. Mekanisme transpor pasif tidak membutuhkan
energi sedangkan mekanisme transpor aktif membutuhkan energi. Difusi dan
osmosis adalah mekanisme transpor pasif. Sedangkan mekanisme transpor aktif
berhubungan dengan pompa Na-K yang memerlukan ATP.

Proses pergerakan cairan tubuh antar kompertemen dapat berlangsung secara:

1. Osmosis

Osmosis adalah bergeraknya molekul (zat terlarut) melalui membran


semipermeabel (permeabel selektif) dari larutan berkadar lebih rendah menuju
larutan berkadar lebih tinggi hingga kadarnya sama. Seluruh membran sel dan
kapiler permeabel terhadap air, sehingga tekanan osmotik cairan tubuh seluruh

8
kompartemen sama. Membran semipermeabel ialah membran yang dapat dilalui
air (pelarut), namun tidak dapat dilalui zat terlarut misalnya protein.

Tekanan osmotik plasma darah ialah 285+ 5 mOsm/L. Larutan dengan


tekanan osmotik kira-kira sama disebut isotonik (NaCl 0,9%, Dekstrosa 5%,
Ringer laktat). Larutan dengan tekanan osmotik lebih rendah disebut hipotonik
(akuades), sedangkan lebih tinggi disebut hipertonik

2. Difusi

Difusi ialah proses bergeraknya molekul lewat pori-pori. Larutan akan


bergerak dari konsentrasi tinggi ke arah larutan berkonsentrasi rendah.
Tekanan hidrostatik pembuluh darah juga mendorong air masuk berdifusi
melewati pori-pori tersebut. Jadi difusi tergantung kepada perbedaan
konsentrasi dan tekanan hidrostatik

3. Pompa Natrium Kalium

Pompa natrium kalium merupakan suatu proses transpor yang


memompa ion natrium keluar melalui membran sel dan pada saat bersamaan
memompa ion kalium dari luar ke dalam. Tujuan dari pompa natrium kalium
adalah untuk mencegah keadaan hiperosmolar di dalam sel.

E. IWL ( Insensible Water Loss)

*Rumus menghitung balance cairan

CM CK IWL

Ket:

CM : Cairan Masuk

CK : Cairan Keluar

9
*Rumus IWL

IWL = (15 x BB )

24 jam

Cth: Tn.A BB 60kg dengan suhu tubuh 37C

IWL = (15 x 60 ) = 37,5 cc/jam

24 jam

*dalam 24 jam ----> 37,5 x 24 = 900cc

*Rumus IWL Kenaikan Suhu

[(10% x CM)x jumlah kenaikan suhu] + IWL normal

24 jam

Cth: Tn.A BB 60kg, suhu= 39C, CM= 200cc

IWL = [(10%x200)x(39C-37C)] + 37,5cc

24 jam

= (20x2) + 37,5cc

24

= 1,7 + 37,5 = 39cc/jam

Tehnik Menghitung Balance Cairan (Anak)

10
Menghitung Balance cairan anak tergantung tahap umur, untuk menentukan Air
Metabolisme, yaitu:
Usia Balita (1 - 3 tahun) : 8 cc/kgBB/hari
Usia 5 - 7 tahun : 8 - 8,5 cc/kgBB/hari
Usia 7 - 11 tahun : 6 - 7 cc/kgBB/hari
Usia 12 - 14 tahun : 5 - 6 cc/kgBB/hari

Untuk IWL (Insensible Water Loss) pada anak = (30 - usia anak dalam tahun) x
cc/kgBB/hari
Jika anak mengompol menghitung urine 0,5 cc - 1 cc/kgBB/hari
CONTOH :
An X (3 tahun) BB 14 Kg, dirawata hari ke dua dengan DBD, keluhan pasien
menurut ibunya: "rewel, tidak nafsu makan; malas minum, badannya masih hangat;
gusinya tadi malam berdarah" Berdasarkan pemeriksaan fisik didapat data: Keadaan
umum terlihat lemah, kesadaran composmentis, TTV: HR 100 x/menit; T 37,3 C;
petechie di kedua tungkai kaki, Makan /24 jam hanya 6 sendok makan, Minum/24
jam 1000 cc; BAK/24 jam : 1000 cc, mendapat Infus Asering 1000 cc/24 jam. Hasil
pemeriksaan lab Tr terakhir: 50.000. Hitunglah balance cairan anak ini!

Input cairan: Minum : 1000 cc


Infus : 1000 cc
AM : 112 cc + (8 cc x 14 kg)
-------------------------
2112 cc

Out put cairan: Muntah : 100 cc


Urin : 1000 cc
IWL : 378 cc + (30-3 tahun) x 14 kg
-----------------------------
1478 cc

11
Balance cairan = Intake cairan - Output Cairam
2112 cc - 1478 cc
+ 634 cc

F. Masalah Keseimbangan Cairan

1. Dehidrasi
2. Syok hipovolemik
Gangguan Keseimbangan Elektrolit :
1. Hiponatremia
Definisi : kadar Na+ serum di bawah normal (<>
Causa : CHF, gangguan ginjal dan sindroma nefrotik, hipotiroid, penyakit Addison
Tanda dan Gejala :
Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam, pasien mungkin mual, muntah,
sakit kepala dan keram otot.

Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu jam, bisa terjadi sakit kepala hebat,
letargi, kejang, disorientasi dan koma.

Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti gagal jantung, penyakit
Addison).

Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan, mungkin ada tanda-tanda
syok seperti hipotensi dan takikardi.

2. Hipernatremia
Definisi : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L)
Causa : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik, diuresis
osmotik, diabetes insipidus, sekrosis tubulus akut, uropati pasca obstruksi, nefropati
hiperkalsemik; atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain.
Tanda dan Gejala : iritabilitas otot, bingung, ataksia, tremor, kejang dan koma yang
sekunder terhadap hipernatremia.

12
3. Hipokalemia
Definisi : kadar K+ serum di bawah normal (<>
Etiologi
Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntah-muntah, sedot
nasogastrik, diare, sindrom malabsorpsi, penyalahgunaan pencahar)

Diuretik

Asupan K+ yang tidak cukup dari diet

Ekskresi berlebihan melalui ginjal

Maldistribusi K+

Hiperaldosteron

Tanda dan Gejala :


Lemah (terutama otot-otot proksimal), mungkin arefleksia, hipotensi
ortostatik, penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus.
Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut
ektopik ventrikel, reentry phenomena, dan kelainan konduksi. EKG sering
memperlihatkan gelombang T datar, gelombang U, dan depresi segmen ST.

4. Hiperkalemia
Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5,5 mEq/L)
Etiologi :
Ekskresi renal tidak adekuat; misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik, diuretik
hemat kalium, penghambat ACE.

beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries),
pembedahan mayor, luka bakar, emboli arteri akut, hemolisis, perdarahan saluran
cerna atau rhabdomyolisis. Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan
pengganti garam, transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan.

13
Perpindahan dari intra ke ekstraseluler; misalnya pada asidosis, digitalisasi, defisiensi
insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah.

Insufisiensi adrenal

Pseudohiperkalemia. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan


torniket terlalu lama

Hipoaldosteron

Tanda dan Gejala :


Efek terpenting adalah perubahan eksitabilitas jantung. EKG memperlihatkan
perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan peninggian kalium serum. Pada
permulaan, terlihat gelombang T runcing (K+ > 6,5 mEq/L). Ini disusul dengan
interval PR memanjang, amplitudo gelombang P mengecil, kompleks QRS melebar
(K+ = 7 sampai 8 mEq/L). Akhirnya interval QT memanjang dan menjurus ke pola
sine-wave. Fibrilasi ventrikel dan asistole cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L.
Temuan-temuan lain meliputi parestesi, kelemahan, arefleksia dan paralisis ascenden.
Penanganan Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

TERAPI CAIRAN
Terapi cairan adalah tindakan untuk memelihara, mengganti milieu interiur
dalam batas-batas fisiologis.
Indikasi, antara lain:
Kehilangan cairan tubuh akut

Kehilangan darah

Anoreksia

Kelainan saluran cerna

14
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Penderita anak sering mengalami gangguan homeostasis, termasuk


homeostasis air dan elektrolit. Perbaikan maupun perburukan keadaan klinis berjalan
parallel dengan perubahan-perubahan pada variable fisiologis.

Total cairan tubuh dapat diperkirakan dari berat badan. Kebutuhan rumatan air
dan elektrolit tergantung pada banyaknya air yang keluar melalui urine, feses, dan
insensible losses. Jumlah total air dan elektrolit dalam tubuh merupakan hasil dari
pengaturan keseimbangan antara intake dan output.

15
Penatalaksanaan cairan dan elektrolit pada penderita anak didasarkan pada
prinsip-prinsip fisiologi. Meskipun demikian ini tidaklah sama halnya dengan
membuat normal semua variable fisiologis, tetapi harus mempertimbangkandasar
penyebab gangguannya. Kegagalan dalam melakukan ini dapat
mengakibatkan harm kepada penderita.

B. SARAN

Kebutuhan cairan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, oleh karena
itu kita sebagai manusia harus selalu bisa menjaga keseimbangan cairan di dalam
tubuh. Jika terdapat ketidakseimbangan dalam cairan dan elektrolit di dalam tubuh
akan berakibat pada terganggunya semua sistem yang berkerja karena
ketidakseimbangan ini akan langsung mengganggu kerja sel yang merupakan
penyusun terkecil dari jaringan. Penjagaan keseimbangan cairan dalam tubuh ini bisa
dimulai dengan minum air putih 18 gelas sehari. Karena lebih baik mencegah
daripada mengobati.

16