Anda di halaman 1dari 29

UNIVERSITAS INDONESIA

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN MASTIKASI DENGAN


KUALITAS HIDUP MASYARAKAT INDONESIA

SKRIPSI

ADE AMALIA RIZQI

1306366501

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


JAKARTA

2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kehilangan gigi merupakan titik akhir kondisi patologis yang


terjadi pada rongga mulut dan bersifat irreversible. Hingga kini,
kehilangan gigi tercatat sebagai salah satu penyakit utama rongga mulut di
seluruh dunia, walaupun pada beberapa dekade terakhir prevalensinya
mengalami penurunan.1 Besarnya prevalensi di negara maju dan
berkembang bervariasi karena berkaitan dengan pendidikan, keadaan
ekonomi, gaya hidup, pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut,
kepercayaan, serta kepeduliannya terhadap perawatan dental. Negara maju
seperti Kanada, pada tahun 2010 telah melakukan survei mengenai kasus
kehilangan gigi pada masyarakatnya. Dari keseluruhan rata-rata kasus
kehilangan mencapai angka 6,4% dimana 21,7% terjadi pada usia 60-79
tahun dengan kondisi sosiodemografis yang rendah. 1Lain halnya dengan
negara berkembang seperti Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2013, indeks M-T (Missing Teeth) di Indonesia
mencapai angka 2,9 yang berarti masyarakat Indonesia mengalami
kehilangan gigi sebanyak 290 buah per 100 orang atau sekitar 3 gigi per
orang. Jumlah kehilangan gigi ini akan terus meningkat seiring
pertambahan usia. Menurut kelompok umur, indeks kehilangan gigi pada
penduduk Indonesia kelompok umur 35-44 tahun sebanyak 3 gigi
perorang, kelompok umur 45-54 tahun sebanyak 6 gigi per orang,
kelompok umur 55-64 tahun sebanyak 10 gigi per orang, dan kehilangan
gigi paling tinggi pada kelompok lebih dari 65 tahun yaitu mencapai 17
gigi per orang. 2 Hal ini tidak jauh berbeda dengan data yang tercatat dalam
WHO Global Oral Health Data Bank tahun 2001 dimana prevalensi kasus
kehilangan gigi di Indonesia pada kelompok usia 65 tahun keatas
mencapai angka 24% sehingga menduduki peringkat kedua terbanyak di
Asia Tenggara setelah negara Sri Lanka yang mencapai angka 37%. 3

Gigi memiliki fungsi utama dalam hal mastikasi, yang merupakan


kemampuan untuk memecah makanan menjadi bagian-bagian yang
terpisah, melalui pengunyahan, sehingga memungkinkan terjadinya proses
penelanan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kung-Jun Shu,
et.al, faktor yang mempengaruhi kemampuan mastikasi diantaranya
jumlah gigi posterior yang tersisa, functional units (didefinisikan sebagai
kontak antar gigi asli atau gigi tiruan), dan unit oklusal atau functional
tooth units (didefiniskan sebagai kontak antar gigi asli posterior atau gigi
tiruan dimana kontak antar gigi molar bernilai 2 dan kontak antar gigi
premolar bernilai 1).4 Terkait dengan jumlah yang tersisa, Gotfredsen dan
Walls dalam penelitiannya, mengemukakan bahwa jumlah gigi kurang dari
20 gigi dengan minimal 9-10 pasang gigi yang berkontak, akan
menurunkan efisiensi mastikasi dan berpengaruh terhadap keinginan untuk
menggigit, mengunyah, dan menelan makanan.1 Ditambah dengan hasil
dari studi postulat yang menemukan bahwa jumlah dari variasi tipe gigi
yang tersisa memiliki juga efek yang signifikan terhadap kemampuan
4
mastikasi. Namun Ikebe K et.al dalam penelitiannya menyimpulkan
bahwa faktor terpenting yang mempengaruhi mastikasi adalah kekuatan
otot mastikasi dan laju alir saliva dibandingkan jumlah gigi tiruan yang
tersisa dimana tidak terdapat kontak antar gigi asli.5

Kasus kehilangan memungkinkan terjadi perubahan pada aspek-


aspek dalam penilaian kualitas hidup (seperti kelemahan mastikasi, trauma
gigi, perhatian estetik, atau persepsi negatif terhadap diri sendiri). Dalam
kehidupan sosialnya, individu dengan kasus kehilangan gigi cenderung
menghindari aktivitas sosial karena malu untuk berbicara, tersenyum, atau
makan di depan orang banyak, dan sikap inilah yang mengarah pada
isolasi diri sedangkan dalam aspek kesehatan kehilangan gigi akan
menyebabkan kurangnya asupan makanan karena turunnya kemampuan
1
mastikasi sehingga pola makan menjadi tidak baik. Berdasarkan survei
pada beberapa populasi terkait dengan jumlah gigi yang tersisa yang
berdampak pada kualitas hidup, tidak selalu terlihat sebagai parameter
yang prominen. Sebagai contoh, dalam populasi lanjut usia di Sri Lanka,
Ekanayake menemukan hubungan yang lemah antara kehilangan gigi
dengan parameter klinis dan dampak kesehatan oral yang lain. Terdapat
faktor-faktor lain seperti umur, jenis kelamin, latar belakang budaya yang
memainkan peranan penting dalam persepsi kesehatan. Di sisi lain, Ide et
al, dalam survei nya menemukan hubungan yang kuat antara jumlah
kehilangan gigi dengan skor kualitas hidup yang berhubungan dengan
kesehatan gigi dan mulut. 7

Dari perbedaan pendapat yang telah diuraikan tersebut, maka perlu


dilakukan penelitian mengenai hubungan antara kemampuan mastikasi
dengan kualitas hidup pada masyarakat Indonesia. Penilaian ini menjadi
penting berkaitan dengan upaya untuk mendapatkan data yang akurat
dalam rangka pembuatan program preventif, sarana edukasi masyarakat
untuk memperbaiki konsep kesehatan gigi dan mulutnya, juga pembuatan
kebijakan yang tepat sasaran terkait kasus kehilangan gigi berhubungan
dengan kemampuam mastikasi dan kualitas hidup.

Di Indonesia, penelitian mengenai kemampuan mastikasi


berdasarkan persepsi pasien belum banyak dilakukan, umumnya yang
penelitian yang dilakukan praktisi kesehatan adalah menggunakan opini
sendiri. Dalam penelitian ini, kemampuan mastikasi diukur dengan
kuisioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan analisis
jumlah gigi yang tersisa menggunakan skor Funtional Tooth Units (FTUs)
yang merupakan modifikasi dari indeks Eichner. Functional Tooth Units
(FTUs) menilai secara objektif status oklusi berdasarkan tipe kontak
jumlah gigi psoterior yang tersisa (kontak dengan gigi asli atau gigi tiruan)
pada kedua sisi yang berbeda sehingga dalam 1 rongga mulut memiliki
8
skor FTUs 12 sedangkan kualitas hidup yang berhubungan dengan
kesehatan gigi dan mulut diukur dengan menggunakan instrumen OH-QoL
(OHIP-49) untuk melihat keterkaitan antara kualitas hidup dengan
kemampuan mastikasi, mengingat pentingnya kemampuan mastikasi
dalam menunjang kesehatan gigi dan mulut. 6

1.2 Rumusan Masalah

Kehilangan gigi dapat berdampak pada menurunnya kemampuan


mengunyah makanan. Faktanya, kemampuan mengunyah makanan
menjadi salah satu indikator tingkat kesehatan gigi dan mulut. Apabila
kemampuan mengunyah makanan menurun maka pola makan menjadi
tidak baik dan membatasi asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk menjaga
kesehatan secara umum. Kondisi tersebut diduga mempengaruhi kualitas
hidup pasien dewasa. Kemampuan mastikasi dan kualitas hidup juga
dipengaruhi oleh banyak faktor. Penelitian ini menitikberatkan pada
hubungan antara variasi tipe jumlah gigi posterior yang tersisa (kontak
dengan gigi asli dan/atau gigi tiruan) dengan kemampuan mastikasi dan
kualitas hidup masyarakat Indonesia secara umum baik pasien dewasa
perempuan maupun laki-laki menggunakan alat ukur yang sudah
tervalidasi dan teruji reliabilitasnya. Beberapa keterbatasan informasi yang
telah disebutkan diatas membuat peneliti merumuskan pertanyaan-
pertanyaan penelitian sebagai berikut.

1.3 Pertanyaan Penelitian

1.3.1 Pertanyaan Umum

Apakah terdapat hubungan antara kemampuan mastikasi yang


dilihat dari variasi tipe jumlah gigi posterior yang tersisa dengan
kualitas hidup masyarakat Indonesia?

1.3.2 Pertanyaan Khusus

Bagaimana proporsi skor FTUs untuk menilai variasi tipe


jumlah gigi posterior yang tersisa (kontak antara gigi asli
dengan gigi asli, kontak antara gigi asli dengan gigi tiruan,
dan kontak antara gigi tiruan dengan gigi tiruan) berdasarkan
usia?
Bagaimana hubungan antara skor FTUs dengan kemampuan
mastikasi?
Bagaimana hubungan antara skor FTUs dengan kualitas
hidup yang berhubungan dengan kesehatan gigi dan mulut?

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum

Menganalisis hubungan antara kemampuan mastikasi dengan


kualitas hidup masyarakat Indonesia

1.4.2 Tujuan Khusus

Mengetahui besar proporsi skor FTUs berdasarkan usia


Mengetahui hubungan antara skor FTUs dengan kemampuan
mastikasi
Mengetahui hubungan antara skor FTUs dengan kualitas
hidup yang berhubungan dengan kesehatan gigi dan mulut
1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Peneliti

Memperoleh pengalaman dan pengetahuan dalan melakukan


penelitian bidang kedokteran gigi umumnya da protodonsia
khususnya

1.5.2 Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Hasil penelitian ini dapat memperluas khasanah bidang


Prostodonsia di Indonesia, sehingga dapat memberikan
gambaran hubungan kemampuan mastikasi dengan kualitas
hidup yang berhubungan dengan kesehatan gigi dan mulut
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai basis data atau
referensi penelitian lanjutan untuk mengetahui proporsi variasi
tipe jumlah gigi posterior yang tersisa (kontak antara gigi asli
dengan gigi asli, kontak antara gigi asli dengan gigi tiruan, dan
kontak antara gigi tiruan dengan gigi tiruan) pada pasien
dewasa dan hubungannya kemampuan mastikasi juga kualitas
hidup berhubungan dengan kesehatan gigi dan mulut

1.5.3 Masyarakat

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada


masyarakat Indonesia agar selalu menjaga kesehatan gigi dan
mulut terkait pengaruhnya terhadap kualitas hidup
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai
pentingnya memakai gigi tiruan untuk menunjang kemampuan
mastikasi pada pasien dengan kehilangan gigi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kehilangan Gigi

2.1.1. Definisi Kehilangan Gigi

Menurut Emami E, et.al., kehilangan gigi merupakan titik akhir kondisi


patologis yang terjadi pada rongga mulut dan bersifat irreversible. 1Selain itu,
Dalam Oxford Dictionary of Dentistry (2010), kehilangan gigi didefinisikan
sebagai terpisahnya gigi dengan jaringan di sekitarnya. 9 Kehilangan gigi termasuk
dalam kondisi kronis dimana gigi yang hilang tidak dapat diganti dengan gigi asli
atau membawa kesehatan gigi dan mulut pasien kembali seperti awal sebelum gigi
hilang. 10 Kejadian hilangnya gigi normal pada anak-anak mulai usia 6 tahun yang
mengalami hilangnya gigi sulung yang kemudian digantikan dengan gigi
permanen sedangkan kehilangan gigi permanen pada orang dewasa tidaklah
diinginkan terjadi karena tidak dapat diganti dengan gigi asli. 11

Dalam tingkat internasional, World Health Organization (WHO)


menetapkan tujuan dari kesehatan gigi dan mulut tahun 1982 yaitu retensi,
sepanjang hidup, dari gigi asli yang fungsional dan estetik tidak kurang dari 20
gigi serta tidak membutuhkan gigi tiruan. Selain itu, The Federation Dentaire
Internationale (FDI) juga merekomendasikan 50% dari individu yang berusia 65
tahun ke atas memiliki 20 atau lebih gigi asli sebagai tujuan dari kesehatan gigi
dan mulut. Pada tahun 2000, program nasional Healthy Japan 21 berfokus pada
promosi kesehatan dan peningkatan harapan hidup. Rencana tersebut termasuk
promosi kesehatan gigi dan mulut yang lebih baik untuk mencapai tujuannya,
yaitu membantu masyarakat mencegah kehilangan gigi sehingga mereka dapat
mempertahankan setidaknya 20 gigi asli sepanjang hidupnya. 11

2.1.2 Etiologi dan Faktor Risiko Kehilangan Gigi

2.1.2.1 Penyakit Periodontal12

Kehilangan gigi juga dapat disebabkan oleh penyakit periodontal seperti


periodontitis yang bersifat merusak jaringan penyangga. Penyebab periodontitis
adalah dental plak sebagai media bakteri patogen berkembang dan selanjutnya
terjadi respon inflamasi. Seiring berjalannya waktu, terjadilah resorpsi ligamen
periodontal dan tulang alveolar yang nantinya dapat berlanjut hingga sokongan
tulang tidak cukup lagi sehingga gigi lepas dari soketnya.

2.1.2.2 Karies12

Karies didefinisikan sebagai penyakit pada gigi yang ditandai dengan


demineralisasi jaringan keras gigi (enamel dan dentin) oleh asam laktat sebagai
produk bakteri kariogenik S.mutans. Produk tersebut membuat suasana rongga
mulut menjadi asam hingga mencapai pH kritis yaitu di bawah 5,5. Kristal
hidroksiapatite terus larut tanpa diimbangi remineralisasi hingga bermanifestasi
menjadi lubang pada gigi (kavitas). Perkembangan dari kavitas yang telah
terbentuk sangatlah cepat terlebih pada orang dengan risiko karies tinggi. Apabila
tidak segera dihentikan prosesnya maka akan berlanjut hingga gigi berlubang
besar dan nekrosis. Tidak jarang karies hanya meninggalkan sisa akar bahkan
karies juga dapat menyebabkan infeksi yang signifikan pada tulang di sekeliling
ujung akar sehingga gigi yang bersangkutan harus diekstraksi untuk mencegah
komplikasi seperti kista odontogenik, abses, dan lain-lain.

2.1.2.3 Trauma13

Trauma dapat menyebabkan kehilangan gigi secara langsung maupun tidak


langsung. Pada kejadian tertentu, misalnya kecelakaan motor, jatuh dari bidang
yang keras, atau saat olahraga, gigi dapat lepas dari soketnya atau terjadi avulsi.
Faktanya, gigi yang mengalami avulsi dapat dikembalikan ke soketnya dengan
syarat tertentu, namun belum banyak yang mengetahui mengenai prosedur darurat
ini dengan tidak langsung dimasukkan kembali ke soketnya sehingga jaringan
periodontal di sekeliling akar gigi nekrosis dan tidak dapat dikembalikan ke
rongga mulut. Trauma juga dapat menimbulkan efek tidak langsung yaitu saat
berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian. Hal ini dapat terjadi karena timbul
komplikasi misalnya pulpa dan jaringan periodontal tidak membaik secara
sempurna atau fraktur akar yang tidak terdeteksi sebelumnya.

2.1.2.4 Faktor Lain


Secara umum, kesehatan secara umum, gaya hidup, berbagai macam
demografik, dan status sosial ekonomi berkontribusi dalam menyebabkan
kehilangan gigi.17 Kehilangan gigi dapat dihubungkan dengan berbagai faktor
risiko lain seperti merokok, kesehatan gigi dan mulut buruk, konsumsi alkohol,
obesits, status nutrisi, mengunyah sirih, status sosio-ekonomi, dan penyakit
14,15
sistemik seperti diabetes, hipertensi, artritis rheumatoid. Pada usia dewasa
muda, seringnya faktor yang berperan berhubungan dengan status sosio-
demografik, status sosio-ekonomi, gaya hidup dan kebersihan gigi dan mulut
sedangkan pada lansia faktor yang berperan penting adalah penyakit sistemik.
Berdasarkan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan klinis, merokok dapat
16
merusak jaringan periodontal yang menyebabkan kehilangan gigi. Penelitian
yang dilakukan pada masyarakat lansia di Brazil mendapatkan korelasi antara
kehilangan gigi lebih dari 4 pada orang dengan sosial ekonomi rendah, perokok
17
berat, memiliki riwayat karies. Aurora et al., menyebutkan bahwa perokok yang
berhenti merokok akan mengalami penurunan risiko kehilangan gigi yang
signifikan.14 Kebiasaan menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan menyikat gigi
setelah makan dan sebelum tidur, menggunakan benang gigi (dental floss) atau
obat kumur secara rasional, secara rutin periksa gigi 6 bulan sekali mampu
meningkatkan kesehatan gigi dan mulut termasuk retensi gigi. 17

Wang Tze-Fang et.al. dalam penelitiannyan menyebutkan bahwa terdapat


korelasi positif antara kesehatan secara umum dengan kehilangan gigi artinya
semakin buruk kesehatan umum seseorang maka semakin sedikit pula jumlah gigi
asli yang tersisa.17 Selain itu, banyaknya konsumsi obat-obatan yang
menyebabkan xerostomia (xerogenic drugs) juga mempercepat kehilangan gigi
18
karena memiliki risiko karies tinggi. Golongan obat yang termasuk xerogenic
drugs antara lain, antihistamin, antidepresan, antihipertensi, dan sedatif.

2.1.3.1 Dampak Kehilangan Gigi

Gigi yang hilang dan tidak diganti dapat menyebabkan berbagai kerugian.
Pada awalnya, yang umum terjadi adalah timbul ketidaknyamanan. 21 Selanjutnya,
terjadi ketidakseimbangan gaya yang diterima pada gigi antagonis, gigi
sebelahnya, dan jaringan penyangga, yang nantinya akan mengakibatkan
pergerakan gigi antagonis mendekati ruang kosong, miringnya gigi-gigi d
sebelahnya, dan hilangnya kontak proksimal.22 Kehilangan gigi juga memberikan
efek negatif pada individu karena hilangnya gigi akan menyebabkan terganggunya
fungsi yang seharusnya dimiliki oleh gigi. Dampak-dampak tersebut antara lain,
sebagai berikut:

2.1.4.1 Dampak Estetik 19,20

Gigi yang hilang akan menimbulkan celah dan ruangan kosong yang
menimbulkan ketidakpuasan dari segi estetika bagi pasien. Terutama dampak ini
dirasakan wanita yang mana sangat memperhatikan penampilan. Secara tidak
langsung, kehilangan gigi akan berpengaruh terhadap psikologis dan kepercayaan
diri yang berdampak pada kehidupan sosialnya. Kebanyakan wanita dengan
kehilangan gigi terutama gigi anterior enggan untuk tersenyum dan malu
berinteraksi dengan orang lain. Hilangnya gigi dan berkurangnya residual ridge
dapat menyebabkan perubahan wajah karena berubahnya dukungan bibir dan
berkurangnya dimensi vertikal. Tampilan wajah menjadi lebih cekung dan terlihat
tua.

2.1.4.2 Dampak Fungsional

Kehilangan gigi akan memberikan dampak terhadap mastikasi. Kontak


oklusal posterior dari gigi geligi yang tersisa merupakan kunci dalam
memprediksi penurunan kemampuan mastikasi.11 Menurut penelitian Ikebe et al.,
kehilangan kontak oklusal pada gigi premolar berkontribusi pada pengurangan
23
kekuatan oklusal sehingga menurunkan kemampuan mastikasi. Beberapa studi
menggunakan metode yang berbeda mendemonstrasikan indikasi penting dari
mastikasi yang efisien adalah jumlah gigi yang tersisa. Berdasarkan data statistik,
terdapat hubungan antara fungsi gigi dengan jumlah gigi dibawah 20 dengan 10
pasang gigi yang berkontak, dengan penurunan efektivitas mastikasi.1 Pada
penelitian Ueno, et al pada tahun 2009 mengenai hubungan antara keadaan,
jumlah dan kategoru unit gigi yang berfungsi terhadap kemampuan mastikasi juga
menunjukkan bahwa mempertahankan sebaganyak mungkin gigi asli lebih baik
untuk fungsi mastikasi. 11
Fungsi lain yang terganggu oleh hilangnya gigi adalah fungsi bicara.
Hilangnya gigi anterior dapat menyebabkan pelafalan dari huruf-huruf yang
memerlukan kontak antara lidah dan gigi anterior atau kontak antar gigi anterior
menjadi sulit, seperti s, sh, f, dan v. 24Akibatnya, individu tersebut menjadi tidak
jelas dalam berbicara.

2.1.4.3 Dampak Sistemik

Dengan kemampuan mastikasi menurun maka akan menimbulkan asupan


nutrisi berkurang sehingga kesehatan umum pun menurun. Tingginya asupan
lemak dan karbohidrat pada individu dengan jumlah gigi minim dikaitkan dengan
25
pengingkatan risiko kardiovaskular, saluran pencernaan, dan kanker. Individu
dengan fungsi mastikasi yang kurang cenderung mengalami masalah pencernaan.
Selain itu, kehilangan gigi juga dihubungkan dengan kesehatan umum, status
mental, dan kemampuan kognitif yang menurun. 1

2.2 Keadaan Gigi Geligi

Keadaan gigi geligi dapat dievaluasi dengan melihat jumlah gigi geligi
yang ada di rongga mulut dan jumlah unit fungsional gigi (FTUs). Dengan
berkurangnya jumlah gigi geligi yang ada di rongga mulut, maka kemampuan
mastikasi akan menurun. Hilangnya jumlah gigi fungsional di dalam rongga mulut
akan menyebabkan penurunan kemampuan mastikasi.

2.2.1 Jumlah Gigi Geligi1,8,11

Di Jepang, The Ministry of Health and Welfare dan The Japan Dental
Association bersama-sama memulai kampanye 8020 pada tahun 1989 untuk
mendorong penduduk Jepang mempertahankan setidaknya 20 gigi asli atau lebih
sampai usia 80 tahun untuk meningkatkan harapan hidup. Jumlah gigi geligi yang
sedikit akan menghasilkan kemampuan mastikasi yang berpengaruh pada
pemilihan jenis makanan sehingga asupan nutrisi berkurang dan kesehatan umum
pun menurun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Melissa terlihat bahwa
72% populasi mengalami kehilangan gigi dan 18% nya mengalami kehilangan
keseluruhan gigi. Banyaknya populasi kehilangan gigi sebanding dengan populasi
yang menurun kemampuan mastikasinya. 8Oleh sebab itu mempertahankan gigi
geligi dapat memberikan kenyamanan dalam pengunyahan sehingga asupan
nutrisi juga seimbang. Menurut Ueno et al., individu yang memiliki 20 gigi geligi
atau lebih akan memiliki kemampuan mastikasi yang lebih baik bila dibandingkan
dengan individu yang memiliki 19 gigi geligi atau kurang. 11Dalam penelitiannya
Kayser melaporkan bahwa paling tidak terdapat 12 gigi anterior dan 8 premolar
untuk memperoleh kepuasaan menggigit dan mengunyah.11 Writter juga
menyarankan bahwa sepanjang hidup individu yang menjaga ketersediaan 20 gigi
asli akan teradaptasi dengan baik untuk memelihara fungsi oral. Di sisi lain,
penurunan kemampuan matikasi terjadi ketika jumlah gigi kurang dari 20.
Kesimpulan yang sama terjadi masyarakat Jepang bahwa menjaga ketersediaan
lebih dari 20 gigi sangat penting untuk kemampuan mastikasi dan individu dengan
setidaknya sisa 20 gigi asli atau lebih dapat memakan berbagai varian masakan
Jepang. Individu yang memiliki setidaknya 20 gigi asli juga menunjukkan kondisi
oral dan status kesehatan yang baik daripada kurang dari 20 gigi. Berdasarkan
survei di Jepang tahun 2005, rata-rata jumlah gigi yang tersisa pada udia lanjut
(65 tahun ke atas) kurang dari 20 gigi. Oleh karena itu peningkatan status
kesehatan gigi dan mulut sangat perlu dilakukan. 11

2.2.2 Jumlah Unit Fungsional Gigi (FTUs)11

FTUs didefinisikan sebagai gigi pasangan gigi posterior yang berkontak


dengan gigi antagonisnya. Gigi geligi yang dimaksud adalah gigi geligi asli tanpa
karies yang telah merusak mahkota, gigi tiruan (cekat atau lepasan), gigi artificial,
dan implan. Kehilangan FTUs merupakan faktor yang menyebabkan penurunan
kemampuan mastikasi karena oklusi merupakan faktor penting dalam melakukan
pengunyahan makanan. Dalam penelitian Ueno et.al., FTUs sangat berpengaruh
terhadap kemampuan mastikasi dimana jumlah FTUs yang besar dapat
mengunyah lebih baik daripada jumlah FTUs kecil. Jumlah FTUs lebih akurat
dalam menggambarkan kemampuan mastikasi dibandingkan dengan jumlah gigi
geligi karena jumlah gigi asli dapat memberikan estimasi yang terlalu tinggi dari
kemampuan mastikasi pada orang tertentu karena nilai tersebut tidak
memperhitungka fungsional dari gigi. Perhitungan FTUs hanya melihat gigi
posterior tanpa mengikutsertakan gigi molar ketiga. Bila gigi premolar atas
berkontak dengan premolar bawah didefinisikan sebagai 1skor FTUs dan bila gigi
molar atas dan molar bawah didefinisikan sebagai 2 skor FTUs (tidak termasuk
gigi molar 3). Oleh karena itu, bila seseorang memiliki gigi lengkap mulai dari
premolar satu hingga molar dua kiri dan kanan maka akan memiliki 12 FTUs.
Total jumlah FTUs dibagi menjadi 3 kategori yaitu gigi asli-gigi asli, gigi tiruan-
gigi asli, gigi tiruan-gigi tiruan, dievaluasi dengan level subyek dan level
pasangan gigi yang berkontak (seperti 17/47, 16/46, 15/45, 14/44, 24/34, 25/35,
26/36 dan 27/37)

Gambar2.2.1 Delapan buah gigi yang diperiksa untuk perhitungan FTUs

2.2 Mastikasi

2.2.1 Definisi Mastikasi

Mastikasi merupakan proses penghancuran makanan secara mekanik yang


terjadi di dalam rongga mulut. Mastikasi dapat dikatakan juga sebagai aktivitas
motorik yang dapat dipengaruhi oleh tekstur bolus yang dikonsumsi. Glossary of
Prosthodontis Terms 2005 menyatakan bahwa sistem mastikasi terdiri dari organ-
organ dan struktur terutama berfungsi dalam mastikasi yang meliputi gigi serta
jaringan pendukung, sendi temporomandibular, mandibula, otot wajah, lisah,
bibir, pipi, mukosa mulut, dan sistem neurologis terkait. Mastikasi merupakan
tugas kompleks berkaitan dengan kerja berbagai komponen anatomi, fisiologis,
dan psikologis. Mengingat kemampuan luar biasa dari individu untuk beradaptasi
dan melakukan kompensasi, kekurangan di salah satu komponen mastikasi dapat
dikompensasi oleh komponen lainnya. 26,27,28

Mastikasi terdiri dari ritme membuka dan menutup rahang yang terkontrol
dengan baik melibatkan proses biofisika dan bikimia untuk mempersiapkan
penelanan.29 Setiap gerakan membuka dan menutup mulut disebut chewing stroke.
Chewing stroke memiliki pola pergerakan yang terlihat seperti air mata. Chewing
stroke dapat dibagi menjadi fase membuka dan menutup. Fase menutup dapat
dibagi menjadi fase menghancurkan dan menggiling. Selama proses
penghancuran makanan gerakan chewing stroke terus berulang. Ketika mandibula
direkam jejaknya dari bidang frontal, terlihat tahapan sebagai berikut: (1) saat fase
membuka, mandibular jatuh ke bawah dari posisi intercuspal hingga titik dimana
jarak tepi insisal gigi berpisah sekitar 16-18mm. Setelahnya mandibula bergerak
secara lateral sekitar 5-6mm dari midline. (2) Pada tahap pertama fase menutup,
yaitu menjebak makanan dibawah gigi disebut fase menghancurkan. Ketika gigi
kembali mendekat satu sama lain, perpindahan lateral berkurang. Ketika gigi
hanya berjarak 3mm, rahang menempati posisi yang hanya berjarak 3-4mm lateral
dari posisi awal. Pada titik ini cusp bukal dari gigi geligi mandibula berada hampir
tepat dibawah cusp bukal dari gigi geligi maksila pada sisi dimana mandibular
tersebut bergeser. Ketika mandibula terus menutup, bolus makanan pada akhirnya
terjebak di bawah gigi dan fase menggiling dimulai. Selama fase menggiling,
mandibula diarahkan oleh permukaan oklusal untuk mengembalikan gigi ke posisi
intercuspal yang menyebabkan kemiringan cusp dari gigi melewati satu sama lain
dan memungkinkan pemotongan dan penggilingan makanan. 29

Gambar 2.2.1 Tampak


Frontal Chewing Stroke
2.2.2 Kemampuan Mastikasi

Kemampuan mastikasi merupakan suatu komponen penilaian subyektif


berdasarkan persepsi individual mengenai kemampuan masing-masing dalam
menghaluskan makanan serta kenyamanan saat mengunyah. Writter et al., tahun
1990 dalam penelitiannya menyatakan bahwa gangguan pada kemampuan
mastikasi biasanya muncul pada individu yang memiliki gigi kurang dari 20 yang
terdistribusi dengan baik, atau kurang dari 10 pasang gigi yang beroklusi dengan
baik. 1

2.2.3 Struktur yang Berperan dalam Mastikasi

Proses mastikasi melibatkan organ di dalam rongga mulut seperti gigi


geligi, otot mastikasi, pergerakan rahang dan sendi temporomandibular, saraf,
saliva, lidah, bibir, palatum, dan pipi. Uraiannya sebagai berikut:

2.3.3.1 Gigi Geligi

Gigi geligi memiliki peran utama dalam berbagai tahap mastikasi. Pada
orang dewasa terdapat 32 buah gigi pada rongga mulut dengan 16 gigi pada
rahang atas dan 16 gigi pada rahang bawah. Setiap sisi dari rahang memiliki 8
buah gigi, 12 buah gigi terletak di depan disebut gigi anterior dan 20 sisanya
disebut gigi posterior. Fungsi Gigi adalah untuk memotong, menghancurkan, dan
mengunyah atau menggiling makanan. Gigi inisisif berada di anterior dan
befungsi untuk memotong makanan yang tidak memerlukan kekuatan besar. Gigi
kaninus berada pada sudut dari lengkung rahang dan didesain untuk memotong
dan memisah-misahkan makanan. Gigi premolar memiliki dua ujung cusp yang
lancip dan permukaan yang lebih luas untuk menahan dan mengunyah makanan.
Gigi molar adalah gigi yang paling besar dibandingkan gigi lainnya dan memiliki
cusp yang lebih dari dua yang digunakan untuk mengunyah atau menggiling
makanan. 30Selama proses mastikasi, kekuatan gigit terbesar terdapat pada regio
molar pertama. Mastikasi umumnya berlangsung pada area gigi premolar dan
molar. 29

2.3.3.2 Otot-otot Mastikasi

Otot mastikasi terbagi menjadi grup posterior yaitu otot masseter, otot
temporalis, otot pterigoid lateral dan medial, dan grup anterior yaitu otot
mylohyoid, otot geniohyoid dan anterior belly dari otot digastric. Otot-otot grup
posterior memiliki perlekatan terhadap ramus mandibula, sementara otot-otot
31,32
anterior memiliki perlekatan terhadap badan mandibular dan tulang hyoid.
Otot lain yang juga berperan antara lain otot buccinator, otot bibir, otot stylohyoid,
otot infrahyoid serta otot lidah. 32

2.3.3.3 Pergerakan Rahang dan Sendi Temporomandibular

Rahang dalam proses mastikasi berperan sebagai tempat melekatnya gigi


geligi. Ada 3 gerakan rahang saat mastikasi berlangsung yaitu gerakan menutup
ke atas yang mengakibatkan gigi berkontak dengan makanan, gerakan menekan
makanan dengan lambat, gerakan membuka pada saat rahang bawah bergerak
lambat dan perlahan membuka. Saat fase lambat ini, tulang hyoid bergerak naik
dan maju dan ketika tulang hyoid maju lebih ke depan rahang maka rahang
terbuka lebih cepat. 33

2.3.3.4 Saraf
Proses mastikasi dikendalikan oleh sistem saraf pusat dan dipengaruhi oleh
rangsangan sensorik dari jaringan yang terlibat. Otot-otot mastikasi diinervasi
oleh saraf kranial ke-5 (trigeminal) divisi mandibula. Pusat dari proses fisiologis
berada di batang otak. Di dalam batang otak terdapat CPG (Central Pattern
Generator) yang berfungsi untuk menerima input sensorik dari rongga mulut,
mengolahnya kemudian meneruskan ke otot-otot mastikasi untuk memperoleh
fungsi tertentu. Pengunyahan merupakan kegian bawah sadar namun dapat dibawa
pada kendali kesadaran setiap saat. 34

2.3.3.5 Saliva

Saliva merupakan cairan bening, tidak berwarna yang disekresi ke rongga


mulut oleh kelenjar ludah. Fungsi dari saliva yaitu menjaga kelembaban rongga
mulut, membantu proses bicara, sebagai retensi dari gigi tiruan lepasan, menjaga
kebersihan rongga mulut dan membantu proses pengecapan, pengunyahan serta
penelanan. Saliva terdiri dari 99% air dan 1% zat padat yang terdiri dari protein,
mucin, dan ion-ion anorganik (Na, K, Ca, Chloride, Bicarbonate, Thiocynate,
Urea). Protein pada saliva berupa enzim ptialin yang berfungsi untuk memecah
makanan dan mencerna karbohidrat. Mucin berperan sebagai pelumas agar
makanan mudah ditelan. 32

2.3.3.4 Lidah, Palatum, Bibir, dan Pipi

Peran lidah dalam mastikasi antara lain sebagai penghancurmakanan


langsung dengan cara menekan makanan ke palatum, mendorong makanan ke
permukaan oklusal gigi, membantu mencampurkan makanan dengan saliva,
32
membersihkan mulut dan sebagai indera pengecap. Lidah juga menentukan
apakah bolus sudah cukup kecil dan cukup lembut untuk ditelan. 31

Bibir dan pipi merupakan area yang sensitif terhadap sentuhan dan suhu
32
sehingga berperan dalam mengontrol suhu makanan. Selain membantu lidah
31
menjaga bolus makanan untuk tetap berada di permukaan oklusal. Pipi dan bibir
juga mencegah makaan dan cairan keluar dari mulut. 32

2.3.4 Faktor yang Mempengaruhi Frekuensi Gerakan Mastikasi


2.3.4.1 Konsistensi Makanan

Struktur mastikasi kurang dapat melakukan mastikasi apabila konsistensi


makanan cair. Namun, apabila konsistensinya keras, maka struktur mastikasi akan
bekerja lebih keras.

2.3.4.2 Kontak Gigi Geligi

Akibat adanya gerakan searah ataupun berlawanan arah dari gigi di rahang
atas dan rahang bawah maka terjadilah proses penghancuran makanan. Individu
yang memiliki gigi lengkap biasanyan memiliki efektivitas tinggi dalam proses
mastikasi dibandingkan dengan individu lanjut usia atau individu yang hanya
memiliki beberapa gigi atau tidak bergigi.

Permukaan oklusal menjadi hal yang penting saat terjadinya proses


mengunyah karena jumlah gigi memperngaruhi pemecahan makanan, area
permukaan oklusal, dengan bantuan dari lidah dan pipi telah diduga memiliki
peranan fungsional tidak langsung dalam reposisi lateral dan mengamankan bolus
saat terjadi fase-fase yang berbeda pada proses mastikasi. 35

2.3.4.3 Usia

Akibat yang ditimbulkan oleh proses penuaan pada saat proses matikasi
adalah terganggunya proses penghancuran makanan menjadi suatu partikel yang
lebih kecil karena pada lansia efisiensi pengunyahannya sangat kecil. Jumlah
siklus yang diperlukan untuk mengunyah makanan normal meningkat secara
progresif dengan bertambahnya usia, dengan meningkatnya pengurangan ukuran
partikel dan durasi urutan proses pengunyahan yang lebih lama. 36

2.3.4.4 Faktor Lain

Faktor-faktor lain yang dipercayai dapat memperngaruhi performa


mastikasi yaitu kehilangan dan restorasi gigi caninus, kekuatan gigit, tingkat
keparahan maloklusi, sensitivitas taktil, area kontak oklusal, ukuran tubuh, dan
fungsi motorik oral. 37
Mastikasi dianggap sebagai langkah awal untuk mendapatkan pencernaan
dan penyerapan nutrisi. Selain itu, diketahui juga bahwa wanita yang lebih tua
yang menggunakan gigi tiruan namun masih tetap kesulitan dalam mengunyah
makanan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami malnutrisi, kelemahan
fisik, dan kematian. Kondisi xerostomia dan disfungsi lain yang berhubungan
dengan ketersediaan saliva dapat mempengaruhi secara negatif terhadap proses
mastikasi karena lebih sulit untuk mengubah makanan menjadi bentuk bolus
sebelum menelan. Seiring bertambahnya usia dari subyek, kinerja mastikasi
38
subyek menurun. Penurunan paling signifikan dalam kemampuan mastikasi
adalah pada populasi orang tua atau lansia yang kehilangan gigi keseluruhan. 39

2.3.5 Mengukur Kemampuan Mastikasi

Penelitian Tsuga, Carlsson, dan Karlsson (1998) memeriksa kekuatan


40
kunyah sebagai parameter pengukuran fungsi mastikasi. Penelitian ini bersifat
subyektif karena pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuisioner oleh
lansia di Swedia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran status gigi
dan mulut juga kemampuan mastikasi subyektif, serta menganalisis hubungan
antara kedua faktor ini. Kuisioner Tsuga terdiri atas 13 item pilihan berganda,
yang meliputi pertanyaan kemampuan mengunyah makanan, jenis makanan yang
mampu dikunyah, ada tidaknya rasa nyeri saat makan, penyebab nyeri,
kenyamanan gigi tiruan, rasa tidak nyaman pada sendi, kesulitan menelan,
kekeringan mulut, waktu yang dibutuhkan untuk mengunyah makanan, serta
interaksi sosial makan bersama. Sistem penilaian kuisioner Tsuga et.al.,
berdasarkan banyaknya kelainan yang ditemukan dalam mulut serta menggunakan
indeks Eichner sebagai pembanding. 40

Untuk penelitian ini menggunakan kuisiner dalam penelitian Hanin,


dilakukan modifikasi pada bahasa dan susunan kata kuisioner agar dapat lebih
dimengerti subyek, jumlah pertanyaan dipersingkat dengan menghilangkan
pertanyaan yang berkaiatan dengan rasa tidak nyaman pada sendi, kesulitan
menelan, dan kekeringan mulut. Pengisian kuisioner dilakukan dengan metoda
wawancara agar subyek dapat mengerti tiap item pertanyaan dengan jelas dan
pengambil data dapat menggali jawaban suyek. Modifikasi penilaian kuisioner
juga dilakukan dengan memberikan skor terendah 0 dan tertinggi 2 untuk setiap
pilihan jawaban. Setiap skor jawaban dijumlahkan. Apabila skor diatas atau sama
dengan 12 maka dapat dikatakan kemampuan mastikasinya baik, namun apabila
dibawah 12 maka dapat dikatakan kemampuan mastikasinya buruk. 41

2.4 Kualitas Hidup yang Berhubungan dengan Kesehatan Gigi dan Mulut

Konsep sehat dan kualitas hidup merupakan sesuatu yang abstrak, sulit
didefinisikan, kompleks, dan multidimensional. Selain itu, konsep sehat dan
kualitas hidup merupakan sesuatu yang berubah secara konstan, dimana yang
dimaksud definisi sehat saat ini bisa saja berbeda dengan definisi sehat di masa
yang akan datang. Apa yang dimaksud dengan sehat dapat berbeda dalam konteks
sosial, kultural, politik, dan praktik, bergantung pada konsep mana yang dipakai
dan diukur. 42,43,44

Menurut World Health Organization (WHO), kualitas hidup merupakan


cara pandang individu terhadap keadaan hidup mereka, dalam ruang lingkup
budaya, nilai-nilai sosial dimana mereka tinggal, berkaitan dengan tujuan,
harapan, standar, serta prioritas hidup. Kualitas hidup dimodifikasi oleh kesehatan
secara umum (ada tidaknya penyakit), status fungsional, kesempatan sosial,
kemampuan mengatasi masalah, dan adaptasi masing-masing individu. Dari
definisi tersebut, kualitas hidup dapat dilihat sebagai konsep yang luas dan
kompleks untuk menilai apakah kesehatan dan keterbatasan individ
mempengaruhi kemampuan individu tersebut dalam aktivitas normal sehari-hari,
serta memberikan gambaran mengenai kebutuhan hidup inividu yang tidak selalu
sama. Memahami mekanisme bagaimana faktor penentu seperti kesehatan, ada
tidaknya penyakit, dan akses terhadap pelayanan kesehatan dalam mempengaruhi
kualitas hidup, dapat memberikan gambaran mengenai cara meningkatkan
peranan faktor-faktor penentu tersebut. 44,45,46,47

Secara umum, sehat dapat didefinisikan sebagai pengalaman persepsi


subjektif individu terhadap kondisi fungsional, sosial, dan psikologisnya. Dengan
kata lain, dapat dikatakan bahwa sehat berhubungan dengan keadaaan fisik yang
dirasakan oleh seseorang yang apabila terdapat gangguan akan berdampak pada
aktivitas sehari-hari. 43,44

Konsep kontemporer dalam kesehatan umum memperlihatkan bahwa


kesehatan umum memperlihatkan bahwa kesehatan mulut harus dilihat
keterkaitannya dengan kesehatan fisik, psikologis, dan kesejahteraan sosial karena
kesehatan mulut besar pengaruhnya terhadap aspek fisik dan psikologis individu
yang mempengaruhi perkembangan hidupnya, kemampuan menikmati hidup,
penampilan, kemampuan makan dan berbicara, serta kesehatan secara umum.
Dalam penelitiannya, Yewe dan Deyer mendefinisikan kesehatan mulut yaitu
keadaan mulut dan struktur terkait dengan kelainan yang dapat diatasi, kelainan
yang akan terjadi dapat dicegah, terdapat oklusi yang cukup untuk mengunyah
makanan, dan penampilan gigi geligi yang dapat diterima secara sosial
26,27
sedangkan World Health Organization (WHO) mendefinisikan kesehatan
mulut sebagai tahapan dimana bebas dari penyakit kronik mulut dan nyeri wajah,
kanker rongga mulut dan tenggorokan, lesi mulut, atau cacat lahir seperti cleft
palate and lip, penyakit periodontal, kehilangan gigi, karies, dn penyakit lain dan
gangguan yang berdampak pada kavitas rongga mulut. 46

Cohen & Jago (1976) berpendapat bahwa kontribusi terbesar dalam bidang
kesehatan gigi dan mulut adalah peningkatan kualitas hidup. Oleh karena itu,
kesehatan gigi dan mulut harus dianggap sebagai satu kesatuan dalam menilai
kesehatan secara umum. Terganggunya kesehatan gigi dan mulut menyebabkan
rasa sakit dan ketidaknyamanan yang dapat memperngaruhi pemilihan jenis
makanan, kemampuan bicara, kualitas hidup dan kesejahteraan individu. Melalui
integrasi kesehatan gigi dan mulut dalam penerapan kebijakan promosi kesehatan
umum dengan melibatkan aspek sosial dan dental, pembuat kebijakan dapat
merumuskan langkah-langkah intervemsi yang tepat sasaran. 43,46

Penilaian kesehatan gigi dan mulut yang sering dilakukan biasanya hanya
menggunakan indeks klinis sehingga seringkali tidak memperhatikan keteribatan
fakto lain. 29Oleh karena itu, dalam penelitian kesehatan mulut, gangguan aspek
fisik, psikis, dan fungsi sosial harus disertakan. Berbagai metoda dikembangkan
dan digunakan untuk mengukur status kesehatan gigi dan mulut berkaitan dengan
kualitas hidup (OHRQoL). Metode yang tersedia saat ini antara lain: 43,48,49

Penulis Nama Parameter


Cushing et al, 1968 Social Impacts of Dental Disease
Atchison and Dolan, 1990 Griatric Oral Health Assesment Index
(GOHAI)
Strauss and Hunt, 1993 Dental Impact Profile
Slade and Spencer, 1994 Oral Health Impact Profile (OHIP)
Locker and Miller. 1994 Subjective Oral Health Status Indicators
Leao and Sheiham, 1996 Dental Impact on Daily Living
Adulyanon and Sheiham, 1997 Oral Impacts on Daily Performances
Mc Frath and Bedi, 2000 OH-QoL UK

Dari berbagai metoda pengukuran OHRQoL, Oral Health Impact Profile


(OHIP-49) merupakan salah satu indeks yangs sering digunakan dan memiliki
reliabilitas dan validitas tinggi serta sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
50
Indonesia. OHIP-49 dikembangkan di Australia berdasarkan model kesehatan
mulut Locker. OHIP dikembangkan dengan tujuan untuk memberikan penilaian
komprehemsif mengenai disfungsi, ketidaknyamanan, dan ketidakmampuan yang
diakibatkan oleh kondisi rongga mulut lansia. OHIP berisi 49 pertanyaan, yang
terbagi menjadi 7 dimensi, yaitu: limitasi fungsional, rasa nyeri, ketidaknyamanan
psikologis, ketidakmampuan fisik, ketidakmampuan psikologis, ketidakmampuan
sosial, dan kecacatan. Frekuensi pengaruh dikalkulasi dengan menjumlahkan
43
respon negatif yang dilaporkan dari 49 pertanyaan. Keuntungan utama dari
pengukuran ini adalah pernyataan-pernyataan yang digunakan diambil dari
kelompok subyek yang representatif dan bukan merupakan hasil sekelompok
peneliti kedokteran gigi. Hal ini memperbesar kemungkinan alat ukur ini mampu
merefleksikan konsekuensi sosial kelainan rongga mulut yang dianggap penting
oleh subyek. Indeks ini dianggap terbaik untuk mengukur kesehatan mulut.
Untuk menjawab pertanyaan digunakan skala Likert (0=tidak pernah, 1=jarang,
2=kadang, 3=cukup sering, 4=sangat sering, 5=selalu)43,50

2.5 Kerangka Teori

Penduduk Sosiodemograf
k KUALITAS HIDUP
KEMAMPUAN KEHILANGAN GIGI YANG
Usia Dewasa
Jumlah
Jumlah
yang MASTIKASI Dampak BERHUBUNGAN
Pemakaian Gigi
Dampak
Jenis Estetik
Kelamin Pra Lansia
DENGAN
Gigi Functional
Tersisa
Gigi asli-gigi
asli-gigi
tiruan-gigi
asli
tiruan
tiruan
(N-N)
Derajat (N- Fungsional Tiruan
Sosio-Ekonomi Lansia
KESEHATAN GIGI
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep


VARIABEL KONFONDING
VARIABEL INDEPENDEN VARIABEL DEPENDEN
YANG DIPERHATIKAN:
KEMAMPUAN 1. Usia KUALITAS HIDUP YANG
MASTIKASI BERHUBUNGAN
2. Jumlah Kehilangan DENGAN
Gigi KESEHATAN GIGI DAN
3. Pemakaian Gigi Tiruan MULUT
4. Penyakit Sistemik
3.2 Hipotesis Penelitian

3.2.1 Hipotesis Mayor

Terdapat hubungan antara kemampuan mastikasi dengan kualitas hidup


masyarakat Indonesia

3.2.2 Hipotesis Minor

3.2.2.1 Proporsi skor FTUs pada lansia lebih kecil dibandingkan pra lansia dan
dewasa

3.2.2.2 Terdapat hubungan antara skor FTUs dengan kemampuan mastikasi

3.2.2.3 Terdapat hubungan antara skor FTUs dengan kualitas hidup yang
berhubungan dengan kesehatan gigi dan mulut

DAFTAR PUSTAKA
1. Enami E, De Souza RF, Kabawat M, Feine JS. The Impact of Edentulism
on Oral and General Health. Int J Dent. 2013
2. Badan Pusat Statistik. Statistik Penduduk Lanjut Usia Indonesia 2010.
Badan Pusat Statistik, Jakarta. 2011
3. Moynihan P, Petersen PE. Diet, Nutrition, and The Prevention of Dental
Disease. Public Health Nutr. 2007;7(1a):201-226
4. Kun-Jung Shu et al. Relationship between Remaining Teet and Self-Rated
Chewing Ability Among Population Aged 45 years or older in Kaohsing
City, Taiwan
5. Ikebe K, Matsuda K, Kagawa R, et al. Mascticatory Performance in Older
Subjects with Varying Degress of Tooth Loss. J Dent. 2012; 40(1): 71-6
6. Ikebe K. Impact of Masticatory Performance on Oral Health-Related
Quality of Life for Erderly Japanese
7. Anneloes E Gerritsen. Tooth Loss and Oral Health-Related Quality of
Life: a systematic review and meta-analysis
8. Melissa Adiatman et al. Functional Tooth Units and Nutritional Status of
Older People in Care Homes in Indonesia
9. Ireland, R. Oxford Dictionary of Dentistry.pdf. Oxford: Oxford University
Press;2010
10. Borges TDF, Mendes FA, de Oliveita TRC, et al,. Overdenture with
Immediate Load: Mastication and Nutrition. Br J Nutr. 2011;105(7):990-4
11. Ueno M, Yanagisawa T, Shinada K, et al,. Category of The Number of
Functional Tooth Units in Relation to The Number of Teeth and
Masticatory Ability in Japanese Adults. Clin Oral Investig.
2010';14(1):113-9
12. Bales C, Ritchie CS. Handbook of Clinical Nutrition and Aging. 2 nd ed.
Spriger:2009-> kak melia 16
13. Andreasen JO, Bakland LK, Flores MT, et al. Traumatic Dental Injures: A
Manual. 3rd ed. John Wiley % Sons: 2013. kak melia 17
14. Wang TF, Chen YY, Liou YM, et al. Investigating Tooth Loss and
Associated Factors Among Older Taiwanese Adults. Arch Gerontol
Geriatr. 2014;58(3):446-453
15. Jiang Y, Okoro C, Fuller D. Sociodemographic and Health-Related Risk
Factors Associated with Tooth Loss Among Adults in Rhode Island. Prev
Chronic Dis. 2013;10
16. Hsu Kun-Jung, Yen Yea-Yin, Lan Shou-Jen, et al. Impact of Oral Health
Behaviours and Oral Habits on the Number of Remaining Teeth in Older
Taiwanese Dentate Adults. Oral Health Prev Dent. 2013;11:121-130
17. Wang Tze-Fang, Yu Shu, Chou Chyuan. Risk Factors for Tooth Loss
Among Adults Aged 18 to 64 years in Taiwan. Asian Biomedicine.
2013;257-265
18. Muller F, Schimmel M. Masticatory Function and Nutrition in Old Age.
Swiss Dental Journal SSO. 2015;449-454
19. Carr AB, Brown DT. Mc Cracken's Removable Partial Prosthodontics.
12th ed. St. Louis: Mosby;2011
20. Craddock HL. Consequences of Tooth Loss: 1. The Patients Perspective-
Aesthetic and Functional Implications. Dent Updat. 2009; 36:616-
21. Zarb G, Horbirk J, Eckert S, et al. Prosthodontics Treatment for
Edentulous Patients. 13 th ed. Mosby;2012
22. Rosenstiel, Land, Fujimoto. Contermporary Fixed Prosthodontics. 4th ed.
St. Louis: Mosby; 2006
23. Ikebe K, Matsuda K, Murai S, et.al,. Validation of The Index in Relation to
Occlusal Force and Masticatory Performance. Int J Prosthodont.
2010;23(6):521-4
24. Owen CP. Fundamentals of Removable Partial Dentures.2nd ed. Juta and
Company Ltd;2000
25. Touger-Decker R, Sirois D Mobley CC. Nutrition and Oral Medicine.
Volume 1. Totowa: Humawa Press; 2005
26. Buschang PH. Masticatory Ability and Performance: The Effects of
Multilated and Maloccluded Dentitions. Semin Orthod 2006;12:92-101
27. Elias AC, Sheiham A. The Relationship Between Satisfication with Mouth
and Number and Position of Teeth. Joural of Oral Rehabilitation
1998;25:649-661
28. Hirano K, Hirano S, Hayakawa I, et al. The Role of Oral Sensorimotor
Function in Masticatory Ability. Journal of Oral Rehabilitation
2004;31:199-205
29. Okeson JP. Management of Temporomandibular Disoreder and Occlusion.
7th ed. Missouri: Elsevier Mosby;2013
30. Manjunatha BS. Textbook of Dental Anatomy and Oral Physiology. New
Delhi: Jaypee Brothers Medical Publisher;2013
31. Kileast D. Texture in Food. Cambridge: Woodhead Publishing Ltd;2004
32. Soratur SH. Essentials of Prosthodontics. New Delhi:Jaypee Brohers
Medical Publishers;2006
33. Ningsih DS. Pengaruh Mastikasi Terhadap Kecepatan Aliran Saliva
[thesis]. Medan: Universitas Sumatera Utara;2004.halaman 1-2,12-22
34. Soboleva U, Laurina L, Slaidina A. The Masticatory System-An Overview.
Balt Dent Maxillofac J. 2005;7:77-80
35. Bourdiol P, Mioche L. Correlations Between Functional and Occlusal
Tooth-Surface Areas and Food Texture During Natural Chewing
Sequences in Humans Arch Oral Biol. 2000;45:691-9
36. Woda A, et al. Adaptation of Healthy Mastication to Factors Pertaining to
The Individual or to The Food. Physiology & Behaviour. 2006;89:28-35
37. Hatch JP, et al. Determinants of Masticatory Performance in Dentate
Adults. Arch Oral Bio. 2000;46:641-8
38. Ikebe K, et al. Association of Masticatory Performance with Age, Gender,
Number of Teeth, Occlusal Force and Salivary Flow in Japanese Older
Adults: Is Ageing a Risk Factor for Masticatory Dysfunction? Arch Oral
Biol. 2011;56(1):991-6
39. Weijenberg RAF, et al. Masticatio for the Mind-The Relationship Between
Mastication and Cognition in Ageing and Dementia. J Neu Bio Rev.
2011;35:483-97
40. Tsuga K, Carlsson E, Osterberg T, et al. Self-assessed Masticatory Ability
in Relation to Maximal Bite Force and Dental State in 80 years old
subjects. journal of Oral Rehabilitation 1998;25:117-124
41. Hanin Isya. Hubungan Kemampuan Mastikasi dengan Kualitas Hidup Pra
Lansia dan Lansia[thesis]. Jakarta: Universitas Indonesia;2012
42. Ikebe K, Matsuda K, Morii K, Yoshinaka MF et al. Associations of
Mastivatory Performance with Age, Posterior Occlusal Contacts, Occlusal
Force, and Salivary Flow in Older Adults. J Prosthodont 2006;19:475-481
43. Allen PF. Assesment of Oral Health Related Quality of Life. Health and
Quality of Life Outcomes 2003;1:40, www.hqlo.com
44. McEntee Michael I. Quality of Life as an Indicator of Oral Health in Older
People. J Am Dent Assoc 2007; 138: 47S-52
45. Measuring Oral Health and Quality of Life. Departemen of Ecology
School of Dentistry, University of North Caroline, 1997
46. http://www.who.int/topics/oral_health/en/
47. http://komnaslansia.go.id/d0wnloads/KomnasLansia[1].rev3.pdf
48. Petersen PE, Yamamoto T. Improving the oral health of older people: the
approach of the WHO Global Oral Health Program. Community Dent Oral
Epidemiol 2005; 33:81-92
49. Chalmers JM. Public Health Issue in Geriatric Dentistry in the United
States. Dent Clin N Am 2008; 52: 423-446
50. Ariani Nina. Hubungan Status Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Kualitas
Hidup Pasien Lansia [thesis]. Jakarta:Universitas Indonesia. 2006