Anda di halaman 1dari 10

SEMINAR AKUNTANSI MANAJEMEN

Formula for Success : Target Costing for Cost Plus Pricing Companies

KELOMPOK 10

JERY AULIA 1210533010

FITRIA RAHMI 1410531022

SESTY REGIANI L 1410531030

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ANDALAS

2017
FORMULA FOR SUCCESS :
TARGET COSTING FOR COST PLUS PRICING COMPANIES

Akhir-akhir ini beberapa peruhaan luar negri telah mengimplementasikan target


costing. Bagaimanapun,perusahaan-perusahaan yang menggunakan sistem cost-plus pricing
menghadapi beberapa kesulitan yang tersembunyi dalam pengaplikasian tekniknya. Target
costing menghasilkan biaya-biaya yang rendah yang akan mengubah mark-up dalam cost-
plus pricing. Selanjutnya akan mengubah target laba dan harga jual akhir. Sesuatu yang
mengherankan dari proses ini adalah bahwa harga jual dibutuhkan untuk menentukan target
cost,tetapi keputusan harga jual ini sangat difokuskan pada mekanisme cost-plus pricing.

Toyota Motor Company telah mengembangkan konsep target costing lebih dari 30
tahun yang lalu.Sejak saat itu beberapa industry di negara yang berbeda telah mengadopsi
konsep ini seperti : Ford, Toyota, Mecedes, Nissan dan Daihatsu pada industry mobil.
Matsushita, Panasonic, Sharp pada industry elektronik. Apple, Compaq, Toshiba pada
industry komputer. Bagaimanapun perusahaan-perusahaan yang menggunakan sistem cost-
plus pricing menghadapi beberapa masalah besar dalam pengaplikasian pendekatan ini.
Karena plus pada cost-plus biasanya merupakan persentase dari biaya, maka ketika biaya
yang dikurangi oleh sebuah aplikasi target costing yang penambahan,harga jual,dan total
labajuga berubah, sehingga menyimpang dari target manajemen yang di tuju.

A. Definisi Target Costing dan Cost-Plus Pricing


1. Target Costing

Target costing merupakan suatu metode yang menghimbau perusahaan untuk sadar
akan biaya dan efisiensi. Tujuannya adalah untuk meminimalkan biaya dari setiap produk
yang dihasilkan. Cara untuk menentukannya adalah dengan membebankan semua biaya yang
terjadi selama proses produksi kepada setiap produk yang dihasilkan. Dalam hal ini
perusahaan juga perlu memperhatikan harga, karena harga dapat menentukan batas
maksimum biaya yang harus dikeluarkan dalam menciptakan produk, terutama jika
menggunakan metode cost plus pricing.

Target costing sendiri memiliki dua sub metode di dalam perhitungannya, yaitu:
1. Metode Additive
2. Metode Deductive
Dalam metode aditif, perusahaan memfokuskan diri pada komponen-komponen
individu dari suatu produk yang dihasilkannya. Beberapa komponen biaya dari produk
tersebut dikurangi sementara yang lainnya dinaikkan. Dengan demikian, biaya keseluruhan
produk pun akan berkurang.

Equation 1 :
TCi = Ci1 + Ci2 + ..... + Cin
Dimana :
TCi = target cost of product i
Ci1 = cost of component 1 of pruduct i
Ci2 = cost of component 2 of pruduct i
Cin = cost of component n of pruduct i
Dalam metode deduktif, perusahaan lebih fokus pada pengurangan harga jual
produk yang pada akhirnya akan menentukan target cost dari produk tersebut.

Equation 2 :
TCi = Pi mi
Dimana :
TCi = target cost per unit
Pi = unit sale price of pruduct i
Mi = unit profit of product i

2. Cost-Plus Pricing
Dalam metode cost plus pricing, harga ditentukan dengan menambahkan mark up laba
yang diinginkan dengan biaya yang telah dibebankan ke suatu produk. Mark up tersebut
merupakan persentase dari biaya yang telah dibebankan ke produk tersebut. Komponen mark
up sendiri terdiri dari biaya lainnya dari biaya variable manufacture dan target laba.

Equation 3 :
Pi = Ci + rCi
Dimana :
Pi = unit sale price of pruduct i
Ci = unit cost of product i
r = mark up sebagai suatu persentase dari Ci produk i
Misalnya :
Suatu produk dihasilkan dengan biaya $40. Jika perusahaan menginginkan laba 25%,
maka harga jual akan menjadi $50, yang diperoleh dari $40 x (1 + 25%).
Metode cost plus pricing pun memiliki dua sub metode di dalam perhitungannya,
yaitu sub metode yang didasarkan pada biaya aktual dan sub metode yang didasarkan pada
biaya estimasi, yang mana hanya salah satunya saja yang dapat digunakan.
Secara ringkas, berikut adalah perbedaan dari kedua metode yang berhubungan
dengan biaya dan harga tersebut.

TARGET COSTING COST PLUS PRICING


- Pertimbangan pasar kompetitif- Pertimbangan pasar bukan merupakan
menggerakkan perencanaan biaya bagian dari perencanaan biaya
- Biaya menentukan harga
- Harga menentukan biaya
- Akuntan biaya bertanggungjawab
- Menggunakan tim lintas fungsi untuk untuk pengurangan biaya
mengelola biaya
- Pemasok dilibatkan setelah produk
- Pemasok lebih cepat dilibatkan dirancang

- Hanya melibatkan sedikit rantai nilai


- Melibatkan rantai nilai dalam dalam perencanaan biaya atau tidak
perencanaan biaya sama sekali

B. Integritas Target Costing and Cost Plus Pricing

Kombinasi metode deduktiif target costing ditunjukan persamaan 2 dan metode cost
plus pricing ditunjukan persamaan 3, menghasilkan persamaan 4 jika target cost produk (Tci)
disubtitusi pada biaya unit cost plus pricing (Ci).

Equation 4 :

Pi = TCi + rTCi

Equation 5 :

Pi = TCi (1 + r)

Markup (r) terdiri dari 2 komponen:


1. Biaya lainnya dari biaya variabel manufaktur, termasuk biaya tetap manufaktur dan
biaya hilir (administrasi dan pemasaran)
2. Target profit

Maka markup dapat diukur seperti berikut ini :

Equation 6 :

r = Ci + Mi
TCi ( Qi )

Dimana :

Ci = biaya lain selain TCi, seperti biaya tetap manufaktur dan biaya hilir

Mi = total profit dari produk i

Qi = kuantitas produk i

Subtitusi nilai dari markup (r) ke dalam equation 5 menhasilkan equation 7

Equation 7 :

Pi = TCi 1 + Ci + Mi
TCi ( Qi )

Persamaan 7 menunjukan target dari harga penjualan (Pi) tergantung pada target biaya
total manufaktur variabel (TCi, Qi), biaya lainnya (Ci), dan target profit (Mi). Seperti yang
dijelaskan di bawah ini, namun beberapa dari variabel ini juga bergantung pada timbal balik
pada harga penjualan.

C. Evaluasi Metode Target Costing

Beberapa observasi muncul dari peninjauan kembali persamaan 1,2,3, dan 7. Dalam
periksaan awal, metode additive terlihat wajar dengan adanya mekanisme untuk mengikat
biaya komponen individual produk untuk manajemen target profit. Di sisi lain metode
deductive target costing terlihat tidak berguna untuk suatu sistem cost plus pricing karena
dalam metode deduktif harga jual harus diberikan tapi dalam cost plus pricing menentukan
harga ini adalah sasarannya. Maka persamaan 7 tidak memiliki variabel dependen atau
independen tapi membentuk suatu sistem variabel independent ( keadaan saling bergantung ).
Harga unit (Pi), target cost (TCi), kuantitas produk (Qi) dan target profit produk (Mi),
berbanding terbalik yang mengadakan pada ketentuan masing-masing satu dan yang lain.

Catatan bahwa pertukaran ini tidak diartikan bahwa metode additive target costing
hanya metode yang bisa dipakai untuk sistem cost plus pricing. Sebaliknya, metode deduktif
lebih unggul dari metode additive, karena pembentukannya:

1. Menghubungkan target biaya produk ke target profit oleh manajemen puncak


2. Sesuai dengan mekanisme dari nilai teknik, yang mana tergantung pada koneksi biaya
yang menetapkan target keuntungan. Walaupun variabel yang saling ketergantungan
terlihat menjadi suatu masalah yang tidak bisa diatasi, analisis sensetivitas bisa
digunakan untuk mengatasi hal ini.

D. Cost Plus Pricing Using The Deductive Method

Persamaan 7 diaplikasikan pada target costing dengan metode deduktif ke sistem cost
plus pricing. Persamaan 5 variabelnya unit price, target cost, kuantitas produk, biaya lain dari
target cost, dan target profit menuunjukan keadaan saling ketergantungan, tapi dalam
prakteknya boleh diprioritaskan. Secara strategi, target profit lebih penting jumlahnya dari
variabel lain.

Selanjutnya, dalam pemesanan yang penting, overhead manufaktur tetap yang mana
diantara biaya selain target biaya dalam sebuah perusahaan manufaktur modern, meliputi tata
letak pabrik,robotika asset dan fleksibel sistem manufaktur. Komponen ini adalah hasil ari
strategi, infrastruktur jangka panjang bahwa beberapa perusahaan terutama perusahaan
Jepang dengan hati-hati merancang dan mempertahankan di luar sistem target costing.
Dimulai dengan target profit (Mi) dan cost of component of product (Ci), target costing
melalui analisa sensitifitas secara efektif dapat menentukan harga satuan (Pi) dan target biaya
(TCi).

Analisis sesnsitifitas menggunakan data dalam exhibit 1, bisa menunjukan bagaimana


sistem pricing yang ditunjukan pada persamaan 7 bisa membantu dalam pengurangan biaya,
memilih harga penjualan yang sesuai, dan seperangkat level target laba perusahaan.
Suatu alternatif perhitungan (level 1) harga jual berdasarkan pada data exhibit 1 yang
ditampilkan di exhibit 2. Exhibit 3 menampilkan hasil dari perhitungan pada exhibit 2 dan
lima level analisis sensitifitas lainnya (level 3 sampai 6) memperlihatkan reaksi variabel
persamaan 7 untuk membedakan level-level target costing dan variabel lainnya. Kuantitas
produk Qi) pada contoh ini sama dengan satu karena objek kontraknya satu radar.

Exhibit 1: Cost plus pricing using deductive method: data set

Kontrak : Radar system, type XXII


Harga jual : Berdasarkan cost-plus dimana cost didefinisikan sebagai biaya variabel
manufaktur dan plus adalah markup dari biaya kontrak selain dari biaya
variabel manufaktur. Laba konsisten dengan target ROI perusahaan.
Cost
Manufacturing cost : (dalam $)
Direct material 100
Direct labor 400
Variabel OH 320 + 820
Fix OH:
Differential (required) 150
General-allocated 150 + 300
Downstream cost:
Differential (required) 100
General-allocated 100 + 200 +
Total cost 1320
Investment & ROI:
Company target ROI on average investment 20%
Average investment 8000
Percentage of average investment allocated on this contract 25%

EXHIBIT 2 : Perhitungan Target Costing Dan Target Sale Price Pada Analisis Level 1

Variable manufacturing cost (TCi) = direct material + direct labor + variable overhead

= $100 + $400 + $320 = $820

Other costs (Ci) = fixed OH + Downsteam cost


= $300 + $200 = $500

Investment allocated to contract = $8.000 x 24%

= $2.000

Target ROI on the contract = 20% x $2.000 = $400

Target sale price (Pi) of contract = $820 [ 1 + ($500 + $400)/$820] = $1.720

EXHIBIT 3 : Sensitivity Analysis For Determining Key Variable

Analysis Variable given Variable TCi Ci Mi Pi


level unknown
1 Tci, Ci, Mi Pi $820 $500 $400 $1.720
2 Tci, Ci, Mi Pi $800 $500 $400 $1.700
3 Tci, Ci, Pi Mi $800 $500 $420 $1.720
4 Tci, Ci, Mi Pi $800 $500 $410 $1.710
5 Pi, Ci, Mi TCi $800 $500 $500 $1.800
6 Pi, Ci, Mi Tci $770 $480 $450 $1.700

Dari data pada exhibit 1, harga penjualan yang ditargetkan dalam kontrak yaitu $1.720.
Harga ini memenuhi tiga target yaitu :

1. Laba sebesar $400 memenuhi 20% target return on assers (ROA)


2. Harga tersebut dapat menutupi biaya fixed manufacturing overhead sebesar $300
3. Harga tersebut juga menutupi biaya downstream sebesar $200

Sekarang untuk mencapai target, design engineer harus menyusu komponen-komponen


kontrak sehingga biaya variabel tidak melebihi $820 ($1720-($400+$300+$200).

Hasil dari exhibit 2 adalah pada level pertama dalam analisis yang digambarkan pada
baris pertama pada exhibit 3. Level2-level 6 dalam exhibit 3 memperlihatkan modifikasi data
pada exhibit 1 dan equation 7, sehingga akan menghasilkan alternatif keputusan.

Level 2 :Jika design engineer dapat menurunkan variable manufacturing cost dari $820
menjadi $800, hal ini akan mengakibatkan $20 menjadi suatu keuntungan oleh
konsumen karena harga jual produk akan menurun menjadi $1.700.

Level 3 :$20 dari penurunan variable manufacturing cost tidak dijadikan sebagai laba bagi
konsumen, namun $20 ini akan dijadikan sebagai penambahan laba $420 ($400 +
$20) dan harga jual tetap $1.720. Hal ini akan menyebabkan perusahaan dapat
menurunkan biaya dan tetap mendapatkan laba lebih dari yang ditargetkan.
Level 4 : Memperlihatkan alternatif pembagian laba dimana biaya yang dapat disimpan ($20)
ditanggung bersama-sama oleh perusahan dan konsumen, sehingga pewrusahan
mendapatkan $10 untuk penambahan laba dan $10 sebagai keuntungan konsumen.

Level 5 :Perusahaan menginginkan laba sebesar $500, namun tidak menginginkan variable
manufacturing cost tidak melebihi $800. Hal ini akan mengakibatkan peningkatan
harga jual menjadi $1.800. Hal ini dapat dilakukan jika diasumsikan bahwa tidak
ada perubahan fixed overhead dan downstream cost.

Level 6: Memperlihatkan gabungan strategi-straategi dengan tujuan akhir dari keputusan


target cost yang menyebakan harga jual lebih rendah yaitu $1.700, mewujudkan
jumlah laba meningkat $450. Perusahaan bisa mencapai target dengan menekan
variable manufacturing cost menjadi $770 dan fixed manufacturing cost dan
downtream cost menjadi $480.

Peningkatan biaya downstream activities adalah bagian dari kaizen costing.


Peningkatan biaya upstream, khususnya pada product design stage yang direncanakan hingga
value engineering. Target costing, bergantung pada value engineering dalam product design
stage. Implementasi alternatif strategi pada level 6 dibutuhkan value engineering dan kaizen
costing.

KESIMPULAN

Metode target costing deductive menghasilka harga jual yang diberikan dan
berlawanan dengan metode cost plust pricing yang menemukan harga jual tersebut.
Kombinasi dari kedua sistem tersebut memiliki peranan pada kondisi sulit yang tidak terdapat
pada literatur akuntansi manajemen. Contohnya plus pada cost plus adalah suatu fungsi biaya
dan ketika biaya berubah oleh suatu elaborasi aplikasi target costing, plus berubah terus
dengan laba yang mengandung markup dan harga jual. Dari pada suatu sistem dengan
variabel-variabel dependen dan independen, mengkombinasikan kedua variabel ini dapat
menghasilkan suatu struktur yang memberikan pengaruh timbal balik. Berdasarkan pengujian
berbagai alternatif menggunakan analisis sensitivitas, seperangkat solusi bisa menjadi alat
untuk mengatasi keanehan yang terlihat disebabkan oleh interdependensi diantrara variabel-
variabel.