Anda di halaman 1dari 8

Prosiding Seminar Nasional XIX "Kimia dalam Pembangunan"

Hotel Phoenix Yogyakarta, 26 Mei 2016 JSSN :0854-4778

PALINOLOGI: SEBUAH TEKNIK PREPARASI MURAH & AMAN

Woro Sri Sukapti

Laboratorium Palinologi, Pusat Survei Geologi - Badan Geologi, Bandung

ABSTRAK
Meskipun penelitian pa/inologi di Indonesia telah dirintis sejak tahun 1933, perkembangan ilmu
palinologi di Indonesia hingga saat ini masih terhitung lamban.Salah satu p enyebabnya adalah biaya
preparasi yang mahal dan sulitnya mendapatkan beberapa jenis bahan kimia y ang digunakan dalam
preparasi dengan metode preparasi standar.Mahalnya biaya preparasi ini bukan hany a menghambat
pengembangan i/mu palinologi di universitas-universitas tapi juga menghambat pemakaian ana/isis
pa/ino/ogi secara luas baik di dunia eksplorasi hidrokarbon, dunia arkwlogi maupun industri
pertanian seperti industri madu. Untuk mempercepat perkembangan ilmu palinologi, teknik preparasi
palinologi dan teknik determinasi baru yangjauh Jebih murah dan terjangkau bagi mahasiswa maupun
bagi para pengguna ana/isis pa/inologi lainnya te/ah dikembangkan.Tulisan ini memaparkan beberapa
teknik baru yang lebih murah dan aman untuk preparasi palinologi.

Kata-kata kunci: preparasi, standar, pa/ino/ogi, determinasi, polen

ABSTRACT
In spite of its long history of application, pollen analysis shows relatively slow developmentin
Indonesia. Difficulties in getting several chemicals, their high cost and high risk due to high
concentration of chemicals in pollen preparation are the main obstacles for the wider application of
pollen analysis in universities and industries. Overcoming this problem, a new pollen preparation
technique that implies lower cost and risk has been proposed. This paper presents this new pollen
preparation technique.

Keywords: preparation, standards, Palynology, determination, pollen

PENDAHULUAN maupun dalam bentuk preparat. Referensi ini


menjadi kunci penting sebagai acuan dalam
D i Indonesia penelitian palinologi dirintis
oleh Polak (l933).Setelah itu penelitian
palinologi di Indonesia dan wilayah sekitamya
determ inasi butiran polen, baik yang tersimpan
sebagai fosil dalam sedimen maupun yang
tersimpan dalam media lain seperti madu
terus Q~rlanjut meski dengan frekuensi yang
(melisopalinologi) atau bahkan untuk
sangat rendah. Pada dekade 60-an penelitian
kepentingan forensik di dunia kepolisian.
palinologi di Indonesia dan sekitamya
Kesulitan ini membatasi kapasitas determinasi
menelorkan beberapa publikasi diantaranya
polen di Indonesia dan menjadi salah satu
oleh Muller (1964, 1969,)Flenley, (1968),
penyebab rendahnya minat mahasiswa dan
Germeraad (1968), Powell (1970), dan Walker
peneliti untuk memilih polen sebagai bidang
(1974). Pada dekade 70-an beberapa orang
yang digelutinya secara profesional.
Indonesia mulai menggeluti disiplin ini.
Disamping referensi-referensi polen
Namun, perkembangan ilmu palinologi di
modern Indonesia, referensi polen fosil
Indonesia hingga saat ini masih terhltung
Indonesia juga tidak tersedia.Detenninasi
lamban.Salah satu alasan yang menjadi
polen fosil selama ini hanya didasarkan pada
sebabnya adalah ketiadaan referensi-referensi
likasi-publikasi polen fosil yang
polen Indonesia baik dalam bentuk buku
ebanyakan tidak berasal dari Indonesia.

Woro Sri Sukapti 225 Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia

I
/

226 Prosiding Seminar Nasional XIX "Kimia dalam Pembangunan"


ISSN :0854-4778 Hotel Phoenix Yogyakarta, 26 Mei 2016

Konsultan-konsultan eksplorasi minyak bumi sebabnya adalah ketiadaan referensi-referensi


di Indonesia yang selama ini menyediakan jasa polen Indonesia baik dalam bentuk buku
analisis pol en juga tidak atau setidaknya san gat maupun dalam bentuk preparat. Referensi ini
jarang mempublikasikan referensi polen-polen menjadi kunci penting sebagai acuan dalam
fosil yang sudah mereka ketahui dan miliki. detenninasi butiran polen, baik yang tersimpan
sebagai fosil dalam sedimen maupun yang
Alasan kedua lambannya perkembangan
tersimpan dalam media lain seperti madu
ilmu palinologi di Indonesia adalah biaya
(melisopalinologi) atau bahkan untuk
preparasi yang mahal dan sulitnya
kepentingan forensik di dunia kepolisian.
mendapatkan beberapa jenis bahan kimia yang
Kesulitan ini membatasi kapasitas detenninasi
digunakan dalam preparasi dengan metode
polen di Indonesia dan menjadi salah satu
preparasi standar saat ini.Mahalnya biaya
penyebab rendahnya minat mahasiswa dan
preparasi disebabkan oleh beragamnya bahan
peneliti untuk memilih polen sebagai bidang
kimia yang digunakan dalam teknik preparasi
yang digelutinya secara profesional.
standar yang selama ini masih digunakan di
Jaboratorium-laboratorium palinologi di Lambannya perkembangan ilmu
Indonesia.Kesulitan mendapatkan bahan kimia, palinologi di Indonesia adalah biaya preparasi
asam anhidrit sebagai contoh, karena asam ini yang mahal dan sulitnya mendapatkan
telah disalah gunakan oleh orang-orang yang beberapa jenis bahan kimia yang digunakan
tidak bertanggung jawab untuk mengekstrasi dalam preparasi dengan metode preparasi
obat-obatan terlarang yaitu ekstasi.Akibatnya standar saat ini.Mahalnya biaya preparasi
aparat kepolisian memperketat aturan disebabkan oleh beragamnya bahan kimia yang
penjualan asam anhidrit oleh toko-toko bahan digunakan dalam teknik preparasi standar yang
kimia.Mahalnya biaya preparasi ini bukan setania ini masih digunakan di laboratorium-
hanya menghambat pengembangan ilmu laboratorium palinologi di lndonesia.Kesulitan
palinologi di universitas-universitas tapi juga mendapatkan bahan kimia, asam anhidrit
menghambat pemakaian analisis palinologi sebagai contoh, karena asam ini telah disalah
secara luas baik di dunia eksplorasi minyak gunakan oleh orang-orang yang tidak
bumi dan batubara, dunia arkeologi maupun bertanggung jawab untuk mengekstrasi obat-
industri pertanian seperti industri madu. obatan terlarang yaitu ekstasi.Akibatnya aparat
kepolisian memperketat aturan penjualan asam
Untuk mempercepat perkembangan ilmu
anhidrit oleh toko-toko bahan kimia.Mahalnya
palinologi, kesulitan-kesulitan di atas harus
biaya preparasi ini bukan hanya menghambat
diatasi.Referensi-referensi polen Indonesia
pengembangan ilmu palinologi di universitas-
baik untuk polen modem maupun polen fosil
universitas tapi juga menghambat pemakaian
harus dibuat disediakan.Teknik preparasi
analisis palinologi secara luas baik di dunia
palinologi dan teknik determinasi baru yang
eksplorasi minyak bumi dan batubara, dunia
jauh lebih murah dan terjangkau bagi
arkeologi maupun industri pertanian seperti
mahasiswa maupun bagi para pengguna
industri madu.
analisis palinologi Jainnya harus segera di
kembangkan. HASIL KEG lATAN DAN PEMBAHASAN
Preparasi palinologi pada prinsipnya
METODOLOGI
adalah mengekstak/ mengeluarkan polen dan
Pengembangan teknik preparasi yang spora dari sedimen atau dari bunga
lebih murah dan aman akan dilakukan secara segar.Preparasi palinologi standar yang
empiris. Untuk tujuan ini, beberapa teknik dipakai sejak 1993masih digunakan di seluruh
preparasi dirancang dan diujicobakan. Hasil Laboratorim palinologi yang ada di
ujicoba akan dibandingkan dengan basil dari lndonesia.Namun dengan berjalannya waktu
teknik preparasi standar yang ada saat ini. maka preparasi tersebut mengalami
perkembangan.Berikut adalah perbandingan
PERMASALAHAN hagan preparasi palinologi standar dan
Perkembangan ilmu palinologi di pengembangan preparasi untuk sedimen yang
Indonesia hingga saat ini masih terhitung sudah mengalami modifikasi.
Iamban.Salah satu alasan yang menjadi

Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia Woro Sri Sukapti


Prosiding Seminar Nasional XIX "Kimia dalam Pembangunan" 227
Hotel Phoenix Yogyakarta, 26 Mei 2016 ISSN :0854-4778

b. Tabap Pengbancuran
Pada tahap ini sampel batuan yang telah
Teknlk dibersihkan dihancurkan dan dihaluskan
..,.___. Pallnolotli dengan alat penwnbuk hingga berupa butiran,
saring dengan saringan yang lubangnya ukuran
12 mm, kemudian ditimbang 15 gram dan
......... .ut tr dimasukkan kedalam tabung polyetilen yang

J ... IICI.,_
IICitJ,at
.....
---

tahan asam dan tertutup. Sampel yang telah
ditimbang dan dalam botol ini dipergunakan
...
~., ~.~
.......
~ r ZIICI,.,~.~
untuk proses selanjutnya yaitu pemisahan fosil
polen dan spora dari substansi pengikatnya
' 1 !niCOIIII ~..ot ~ secara kimia.

-.. --..r..... c. Tabap Pemisahan Secara Kimiawi
Tahap pemisahan secara kimia ini dibagi
dalam beberapa tahap untuk menghilangkan
unsur pengikatnya(Erdtman, 1953; Faegri &
Gambar 1. Perbandingan Bagan Preparasi Iversen, 1975 ; Fegri & Iversen, 1964)
palinologi standar dan yaitupenghilangan garam terlarut dengan
termodifikasi menggunakan asam K.hlorida (HCl) p.a.37 %,
Dalam preparasi harus dihindarkan penghilangan unsur silka dengan
kontaminasi sampel oleh polen dan spora menggunakan asam Flourida(HF) p.a. 40
modem dari vegetasi sekitar. Untuk tujuan %.Untuk memisahkan unsur mineral berat
tersebut maka sangat diperlukan pengetahuan dipergunakanSeng Klorida (ZnCh)dengan
tentang vegetasi daerah p~nelitian. Tidak berat jenis 2,2. Kemudian residu yang terapung
semua tipe sedimen yang dimungkinkan dipindahkan ke tabung yang baru dan diproses
mengandung fosil polen ataupun spora. Hanya lebih lanjut.
sampel sedimen yang tepat bagi analisa polen Residu tersebut selanjutnya diproses
dan sporaadalah sedimen darat (dominan) dan untuk dihilangkan unsur selulosa
beberapa tipe sedimen !aut (litoral, neritik) denganmetodeasetolisis menggunakan
yang bisa mengandung fosil polen dan spora, campuranasam anhidrit dan aam sulfat
sesui dengan sifat penyebaran polen dan spora ((CH3COhO (p.a) + H2 S04(p.a))dengan
terse but. perbandingan 9:1. Kemudian dilanjutkan
a. Tabap Pencucian dan Pembersiban penghilangan asam humus menggunakan
kalium hidroksida (KOH p.a).Bila diperlukan
Untuk menghindari kotoran yang pewarnaan bisa menggunakan safranin dan
menempel pada waktu pengambilan sampel di terakhir adalah pembuatan preparat dengan
lapangan,sampel batuan yang dianalisis di menggunakan glycerin jelly.
laboratorium harus dalam keadaan
bersih.Untuk itu dilakukan pengupasan di Preparasi palinologi yang termodiftkasi
seluruh permukaan batuan. Hal ini dilakukan dilakukan dengan menggunakan beberapa zat
karena bagian inti dari conto batuan tersebut teknis (KOH,HCl,HF).Preparasi yang
diharapkan kondisinya Jebih segar dari yang di termodifikasi sudah diujicobakan terutama
permukaan. untuk sedimen berumur Holosen. Hasilnya
sama dengan preparasi standar. Hal ini sangat
menguntungkan karena bisa menghemat biaya
preparasi palinologi

Woro Sri Sukapti Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia


I

228 Prosiding Seminar Nasional XIX "Kimia dalam Pembangunan"


JSSN :0854-4778 Hotel Phoenix Yogyakarta, 26 Mei 2016

Tabel I. Perbandingan Harga Zat Kimia Teknis dan Pro Anal is

30.000
2. lit 490.000
35.000
3. lit 1.842.000

4. lkg 391.000
50.000
5. lit 273.000

6. lit 4.500.000

Gambar 2. Pembuatan seng klorida (ZnC1 2)daur ulang.

Pengembangan preparasi palinologi, diperiksa dibawah mikroskop. Apabila


selain menggunakan zat kimia teknis juga ZnC1 2daur ulang bersih dan tidak mengandung
menggunakanseng klorida (ZnCh)daur ulang. kotoran maka ZnChdaur ulang tersebut bisa
Selain itu urutan preparasi diubah untuk lebih digunakan lagi.
menghemat biaya.Prinsip pembuatan
ZnChdaur ulang sangat mudah yaitu dengan d. Tabap Pengembangan Teknik Swirling
menampung sisa ZnChhabis pakai kedalam Teknik pengembangan preparasi lainnya
gelas kimia.Sisa ZnChdisaring kemudian yaitu teknik swirling.Teknik swirling adalah
dipanaskan, dan diukur BJ dengan teknik pemusingan cawan yang berisi
pignometer.Penyaringan ZnChdaur ulang residu.Residu yang terapung setelah
dimaksudkan supaya ZnChdaur ulang tidak pemusingan ditampung di cawan lainnya.
mengandung polen dan spora. Untuk Dengan memakai teknik ini basil preparat
mengeceknya yaitu dengan cara meneteskan polen akan lebih bersih dan memudahkan
ZnChdaur ulang diatas kaca preparat lalu untuk determinasi polen (Gambar 3).

Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia Woro Sri Sukapti


Prosiding Seminar Nasiona/ XIX "Kimia dalam Pembangunan" 229
Hotel Phoenix Yogyakarta, 26 Mei 2016 ISSN :0854-4778

Gambar 3. Gambar atas adalah basil residu polen yang sebelum dilakukan teknikswir/ing memperlihat
kan residu polen masib banyak kotorannya. Gambar bawah adalah basil residu polen
setelah dilakukan teknik swirling yang menghasilkan residu polen yang lebih bersih.

d. Tabap Pengembangan Teknik Preparasi dengan menambahkan bensinke residu dan


Bunga Segar dengan menambahkanasam glacial kemudian
dipanaskan.Penambahan bensin menjadikan
BungasegarDurio zibethinusmengandung
residu berwarna hitam pekat dan mengental
banyak sekali getah sehingga polennyasulit
sehingga metode ini dinilai gagal. Sedangkan
diekstraksi dengan metode standar preparasi
penambahan asam glacialyang dipanaskan
polen untuk bunga segar. Preparasi standar
berhasil menghilangkan getah yang
menghasilkan polen yang masih diselubungi
menyelimuti pol en Durio zibethinus.
getah.Selubung getah ini harus dihilangkan
supaya butiran polen terekstraksi dengan
sempurna.Metode yang diujicobakan adalah

Gambar 4. Hasil ekstraksi polen Durio zibethinusdari bunga segar dengan penambahan bensin (kiri
bawab), dan asam glacialyang dipanaskan (kanan bawah).

Woro Sri Sukapti J ringan Kerjasama Kimia Indonesia


I

230 Prosiding Seminar Nasional XIX "Kimia dalam Pembangunan.,


ISSN :0854-4778 Hotel Phoenix Yogyakarta, 26 Mei 2016

. ;.
... '

. y

. ..
\.
'

Gambar 5. Hasil preparasi standar (atas) dan pengembangan (bawah).

e. Tabap Pengembangan Teknik ditumpuk (stacking) untuk menghasilkan foto


Pemotretan yang bagus.Pada pemotretan denganfocus
layer secara manual, putarannya sangat kasar
Untuk pemotretan polen dan spora
sehingga layer foto yang dihasilkan lebih
digunakan Mikroskop BX 53, Cellsens
sedikit. Pada kondisi demikian penumpukan
Dimension 1.8. Sebenamya Mikroskop BX 53
foto basil pemotretan itu tidak mampu
sudah cukup bagus, namun permasalahannya
memberikan hasilyang maksimal.Untuk
ada di focus layer. Penggunaan focus layer
memperbaiki teknik itu, pemotretan focus
dimaksudkan untuk mengbasilkan foto polen
layer diubah dengan mengembangkan teknik
dan spora yang bagus. Cara bekerjafocus layer
mekanik. Pemutaran mekanis bisa dilakukan
adalah dengan mengambil foto obyek polen
secara hidrolik maupun menggunakan motor.
berkali-kali dan kemudian foto tersebut

..
-._,

\~~~t~i'~
IIIIJ1illtiJ. ;..... m~k
~ ..;~ "'tc- ,'~~

Gambar 6. Mikroskup BX 53, Cellsens Dimension 1.8 dan langkah yang menggambarkan
pengembangan teknik pemotretan bertumpuk (stacking).

Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia Woro Sri Sukapti


Prosiding Seminar Nasional XIX "Kimia dalam Pembangunan" 231
Hotel Phoenix Yogyakarta, 26 Mei 2016 ISSN :0854-4778

KESIMPULAN 5. Germeraad, J., Hopping, C.A., and


Muller, J., 1968. Palynology of
Sebuah teknik preparasi palinologi . baru
Tertiary sediments from tropical
dikembangkan untuk mengatasi persoalan pada
areas. Review of Paleobotany
penggunaan teknik preparasi palinologi
and Palynology, v.6.p 189-348.
standar. Hasil percobaan menunjukkan bahwa
teknik preparasi palinologi baru yang 6. Gray, J., 1965. Extraction techniques. In:
diusulkan memiliki !criteria sebagai berikut: B. Kummel and D. Raup (eds),
Handbook of Paleontological
Biaya preparasi Jebih murah karena
Techniques. Freeman, San
menggunakan beberapa zat kimia teknis
Francisco, CA, pp. 530-587.
seperti (KOH,HCI,HF) danZnChdaur
ulang. 7. Muller, J. 1964. A palynological
contribution to the history of the
Pada beberapa polen segar yang banyak
mangrove vegetation in Borneo.
mengandung getah bisa ditambahkan lagi
In: L.M. Cranwell (ed.). Ancient
acetik glacial yang dipanaskan.
Pacific Floras. University of
Teknik swirling bisa menghasilkan Hawaii Press, Honolulu, pp.33-
preparat polen lebih bersih sehingga 42.
memudahkan untuk determinasi.
8. Muller, J .1969Pollen-morphological
Pemotretan teknik bertumpuk (stacking) notes on Ochnaceae. Rev.
bisa dilakukan secara mekanik sehingga Palaeobot. Palynol. 9:149-173.
memberikanfocus layeryang lebih
9. Polak, E. 1933. Ueber Torf und Moor in
banyak. Dengan demikianhasil
Niederlandisch Indien.
pemotretan polen akan menjadi lebih
Verhandlingen der
bagus.
KoninklijkeAca damie van
DAFTAR PUSTAKA Wetenschappen Tiveede Sectie
30(3): 1-85.
1. Erdtman, G. 1953. Morphology and Plant
Taxonomy Angiospremae (An 10. Powell, J.M. 1970. The impact of man on
Introduction to Palynology I). the vegetation of the Mt. Hagen
The Botanica Company Wather. region, New Guinea. Unpub.
Massachusetts, USA. Ph.D. Thesis, Australian
National University, Canberra.
2. Faegri, K. and J. Iversen. 1975. Texbook
of Pollen Analysis. Haffner 11. Walker, D. 1974. Primitively
Press. A Division of Me Millan columellaless pollen: a new
Publishing Co.Inc. New York. concept in the evolutionary
morphologyof angiospeims.
3. Fegri, K. and Iversen, J., 1964. Textbook
Amer. Jour.Bot. 61(5,
of Pollen Analysis. Hafuer, New
supplement):5 I. [Abstract.]
York, NY, 237 pp.

4. Flenley, J.R. 1968. The problem ofpollen


recognition. In: Clowes, M.B. TANYAJAWAB
and Penny, J.P. (eds), Problems Lenny M.E
in Picture Interpretation, pp.
};> Bagaimana cara membuat daur ulang
141-145. CSIRO, Canberra.
ZnCC2? Apakab bisa dipakai berkali-kali?

Woro Sri Sukapti Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia


232 Prosiding Seminar Nasional XIX "Kimia dalam Pembangunan"
Hotel Phoenix Yogyakarta, 26 Mei 2016
ISSN :0854-4778

Woro Sri Sukapti


Pembuatan daur ulang ZnCE2 caranya
dengan menampung sisa ZnCE 2 yang
sudah terpakai disuatu tabung eleniyer.
Kemudian dipanaskan, sehingga aimya
menguap, sisa ZnCt2 selanjutnya
disaring, kemudian dicek kualitasnya
dengan cara residu ZnCt 2 diperiksa
dibawah mikroskop. Jika tidak didapat
kotoran maka ZnCt 2 tersebut dinyatakan
bersih, tahap selanjutnya ZnCC 2 diukur
dengan pignometer sampai berat jenis
menunjukkan 2.0.

Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia Woro Sri Sukapti

Anda mungkin juga menyukai