Anda di halaman 1dari 4

Tujuan

1. Memberi wawasan tentang keanekaragaman plankton yang hidup


bergantung pada ekosistem sungai.
Alat dan Bahan

Tabel 1. Nama Alat

No Nama Alat Jumlah


.
1. Plankton net 1 buah
2. Buku identifikasi 1 buah
plankton
3. Mikroskop stereo 1 buah
4. Gayung 1 buah
5. Botol vial Secukupnya
6. Kertas Label Secukupnya
7. Ember 1 buah
8. Pipet tetes 1 buah
9. Kamera digital 1 buah
10. Tabel pengamatan 1 buah

Tabel 2. Nama Bahan

No Nama Bahan Jumlah


.
1. Formalin 4% 1 tetes/vial

Langkah Kerja
S
v
0
1
jL
y
A
u
b
%
f4
.T
s
ro
k
g
itn
-
ld
e
p
m
a
c
h Bagan 1. Langkah Kerja Pengamatan Planton

Hasil Pengamatan Plankton

Nama Plankton
Phyllum Class
- -

Keterangan : (-) = Tidak ada/ tidak menemukan

Pembahasan
Lokasi Hulu
(Spesies/jumlah)
- -

Berdasarkan observasi plankton di lokasi hulu, kami tidak menemukan


beberapa keanekaragaman plankton. Plankton dalam perairan dapat menyebar
secara acak atau mengelompok. Keberadaan plankton dipengaruhi oleh
lingkungan sekitarnya seperti kondisi fisika, kimia dan biologi perairan. Kegiatan
manusia seperti transportasi, budidaya, pariwisata secara langsung atau tidak
langsung dapat mengakibatkan perubahan badan air. Hal tersebut menyebabkan
perubahan struktur komunitas biota di dalamnya yang diantaranya adalah
plankton.

Plankton sebagai bioindikator kualitas suatu perairan terutama perairan


mengenang dapat di tentukan berdasarkan fluktuasi populasi plankton yang
mempengaruhi tingkat tropik perairan tersebut. Fluktuasi dari populasi plankton
sendiri dipengaruhi terutama perubahan berbagai faktor lingkungan yang telah
disebutkan. Salah satu faktor yang mempengaruhi populasi plankton adalah
ketersedian nutrisi di suatu perairan. (Umar, 2002)

Kondisi fisika air pada lokasi hulu ini bersih dan bening, kecepatan air
cukup deras 0,15 m/s sehingga ketika mengambil plankton semakin terhambat.
Kemudian di liat dari luas penampang sungai di lokasi hulu ini memiliki panjang
12,06 m dengan lebar 21,47 m ini panjang dan luas dan hal ini menjadi salah satu
faktor kami ketika mengambil sampel.

Berdasarkan literatur yang kami baca mengenai sifat fisika air


menunjukkan bahwa suhu, kecerahan, dapat berkorelasi negatif (berlawanan)
terhadap keanekaragaman plankton dengan demikian semakin tinggi nilai suhu,
kecerahan maka keanekaragaman plankton semakin rendah dan sebaliknya.
Berdasarkan nilai korelasi yang diperoleh diketahui suhu memiliki korelasi kuat
terhadap keanekaragaman plankton. (Asmara, 2005). Namun sayangnya kami
tidak mengamati suhu dan kecerahan, dikarenakan keterbatasan alatnya.

Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, kami tidak menemukan


beberapa keanekaragaman plankton. Faktor yang dapat dijadikan acuan antara lain
yaitu kondisi air sungai yang sudah keruh, arus air yang tidak tenang, dan jarak
antara lokasi pengambilan plankton dengan lokasi pengamatan yang tidak dekat
mengakibatkan plankton ada mati.

DAFTAR PUSTAKA

Asmara. A. 2005. Hubungan Struktur Komunitas Plankton dengan


Struktur Komunitas Plankton dengan Kondisi Fisika-Kimia Perairan
Pulau Pramuka dan Pulau panggang, kepulauan seribu. [Online].Tersedia
dihttp://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/11323/2/C05aan.pd
f

Umar N.A. 2002. Hubungan antara kelimpahan Fitoplankton dan

Zooplankton (Kopeoda) dengan larva kepiting di perairan Teluk siddo


Kabupaten barru Sulawesi Selatan. Bogor : Institut Pertanian Bogor.