Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FISIK II

KINETIKA REAKSI ION PERMANGANAT DENGAN ASAM


OKSALAT

NamaPraktikan : Mohamad Jamaludin


NIM : 141810301016
Kelompok : 4 (empat)
Fak/Jurusan : MIPA/KIMIA
Nama asisten : ARDI BUDIANTO

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Reaksi kimia yang ada di lingkungan sekitar dapat berjalan secara cepat
ataupun lambat. Reaksi yang cepat hanya membutuhkan waktu yang relatif
singkat untuk memperoleh hasil reaksinya, hal ini berbanding terbalik dengan
reaksi yang berjalan lambat. Reaksi penggaraman atau penetralan asam basa
merupakan salah satu rekasi yang berjalan cepat dan reaksi pengaratan besi oleh
udara merupakan contoh reaksi yang berjalan lambat. Salah satu indikator suatu
reaksi telah selesai atau telah menghasilkan produk dapat diketahui dengan
perubahan intensitas warna, jika tidak ada perubahan warna selama reksi berjalan,
laju masih dapat diperoleh jika terdapat perubahan pada spektrum absorpsi suatu
pereaksi ataupun produk ketika reaksi berjalan. Tingkat reaksi dapat dibagi
menjadi berbagai macam orde.
Perubahan kimia secara umum akan memiliki sensitivitas yang lebih besar
terhadap adanya perlakuan atau variabel suhu yang diterapkan. Penentuan suatu
orde reaksi bisa dilakukan dengan adanya data yang diperoleh dari suatu
eksperimen. Berdasarkan keterangan tersebut diperlukan analisis mengenai
tingkat reaksi suatu zat mengingat tingkat reaksi masing-masing zat berbeda.
Perubahan warna dapat dijadikan indikator suatu rekasi telah selesai atau belum
pada reaksi kalium permanganat dan asam oksalat. Warna ungu yang dimiliki ion
permangatan mempermudah penentuan jalannya reaksi, warna ungu yang hilang
menunjukkan reaksi telah berjalan seluruhnya.
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui laju serta tingkat reaksi (orde)
yang diperoleh dari eksperimen. Percobaan ini dilakukan dengan menentukan
tingkat reaksi MnO4- dengan H2C2O4. Reaksi antara ion permangat dan asam
oksalat dalam suhu kamar akan berlangsung lambat sehingga laju reaksinya dapat
diamati.
1.2 Tujuan Percobaan
Percobaan ini mempunyai tujuan, yaitu menentukan tingkat reaksi (orde)
MnO4- dengan H2C2O4.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)


2.1.1 Akuades
Akuades atau air distillasi merupakan H2O murni. Akuades juga biasa
disebut dengan air. Akuades jika mengenai mata, kulit, tertelan, atau juga terhisap
tidak menimbulkan gejala serius atau tidak berbahaya. Namun jika terjadi iritasi
segera dibawa ke pihak medis. Air dianggap sebagai non-diatur produk, namun
dapat bereaksi keras dengan beberapa spesifik bahan. Hindari kontak dengan
semua bahan sampai investigasi menunjukkan substansi kompatibel. Akuades
merupakan cairan tidak berwarna dan tidak berbau. Derajat keasaman (pH) dari
akuades adalah netral yaitu 7,0. Titik didih dan titik lebur dari akuades berturut-
turut adalah 100oC dan 0oC. Tekanan uap dari akuades pada suhu 20oC adalah
17,5 mmHg. Massa jenis dari akuades adalah 1,00 gram/cm3. Rumus formula dari
akuades adalah H2O dengan berat molekul 18,0134 gram/mol. Air memiliki
tegangan permukaan yang besar disebabkan oleh kuatnya sifat kohesi antar
molekul-molekul air. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, dan
dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat pada kondisi standar,
yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) dan temperatur 273,15 K (0 C). Air dalam
bentuk ion dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion hidrogen (H+) yang
berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion hidroksida (OH-). Air adalah pelarut
yang kuat, dapat melarutkan banyak jenis zat kimia (Anonim, 2017).

2.1.2 Asam Oksalat


Asam oksalat merupakan senyawa turunan dari asam karboksilat. Senyawa
kimia ini memiliki rumus H2C2O4 dengan nama sistematis asam etanadioat. Asam
oksalat juga mempunyai titik didih berkisar antara 101-102oC dengan wujud
padatan berwarna kristal putih. Massa molar untuk asam oksalat anhidrat
(C2H2O4) adalah 90,03 gram/mol dan untuk asam oksalat dihidrat (C2H2O4.2H2O)
adalah 126,07 gram/mol. Besarnya konstanta disosiasi (K1 = 6,24.10-2 dan K2 =
6,1.10-5). Massa jenis pada keadaan anhidrat adalah 1,90 gram/cm3 sedangkan
pada keadaan dihidrat adalah 1,653 gram/cm3. Kepadatan dalam air dengan suhu
15oC adalah 9,5 gram/100 mL, 14,30 gram/100 mL pada suhu 25 oC, dan 120
gram/100 mL pada suhu 100oC. Asam oksalat mempunyai toksisitas menengah
bila terhirup ataupun tertelan. Asam ini juga bersifat korosif dan dapat
menyebabkan luka bakar jika terkena kulit. Mata yang terkontaminasi harus
segera dibilas dengan air bersih selama kurang lebih 15 menit. Asam oksalat
ketika terhirup maka diusahakan agar menghirup udara yang segar dan beri
bantuan pernafasan jika membutuhkan, jika terkena kulit maka segera bilas kulit
dengan air hingga bersih. Asam oksalat jika tertelan maka diberikan susu atau air
putih 1-2 gelas kemudian diberikan obat antacid dan segera hubungi petugas
medis. Penyimpanan dari asam oksalat sebaiknya dikumpulkan bersama
senyawa asam yang lain, di tempatkan di daerah yang sejuk, tertutup, dan kering.
Asam ini diusahakan jauh dari logam-logam (Anonim, 2017).

2.1.3 Kalium Permanganat


Kalium permanganat adalah senyawa kimia anorganik dengan rumus
KMnO4. Ini adalah garam yang terdiri dari K+ dan MnO4- ion. Kalium
permanganat atau kristal Condy adalah oksidator yang kuat. Larut dalam air dan
memberikan warna ungu yang relatif pekat.Massa molar dari kalium permanganat
adalah 158,034 g/mol dengan massa jenis 2,703 g/mL. Titik leburnya 240oC
dengan kelarutan dalam air 6,38 g/100 mL air pada suhu 20oC.Kalium
permanganat merupakan oksidator yang kuat. Pertolongan pertama yang dapat
dilakukan jika terjadi kontak antara kulit dengan senyawa ini yaitu kulit segera
dibasuh dengan banyak air selama minimal 15 menit. Mata yang terkena senyawa
ini harus segera dibasuh dengan air yang banyak selama minimal 15 menit,
sesekali kelopak mata dikedip-kedipkan. Senyawa ini jika terhirup dalam jumlah
yang cukup banyak sebaiknya segera berpindah ke tempat yang udaranya lebih
segar dan jika tidak bisa bernafas, napas buatan dapat diberikan. Selama iritasi
atau efek yang dihasilkan semakin parah, sebaiknya segera meminta pertolongan
medis (Anonim, 2017).
2.2 Dasar Teori
Laju reaksi suatu reaksi kimia dinyatakan sebagai fungsi konsentrasi zat
pereaksi yang berperan serta dalam reaksi tersebut. Mekanisme reaksi merupakan
faktor yang sangat berperan pada penetuan tingkat reaksi suatu reaksi kimia.
Mekanisme ini tidak dapat ditentukan hanya dengan meninjau saja, melainkan
harus ditentukan secara experimental. Oleh karena itu tingkat reaksi suatu reaksi
kimia harus ditentukan percobaan (Hiskia, 1992).
Kinetika reaksi merupakan cabang ilmu kimia yang membahas tentang
laju reaksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Laju (kecepatan) reaksi
dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi terhadap
satuan waktu. Laju rekasi suatu reaksi kimia dapat dinyatakan dengan persamaan
laju reaksi. yaitu:
A + BAB...............................................2.1
Persamaan laju reaksi secara umum ditulis sebagai berikut:
R = k [A]m [B]n..........................................2.2
K sebagai konstanta laju reaksi, m, dan n orde parsial masing-masing pereaksi
(Petrucci, 1987).
Kinetika reaksi kimia dapat dinyatakan ke dalam suatu persamaan yang
disebut dengan hukum laju. Hukum laju merupakan suatu persamaan yang
menghubungkan laju reaksi dengan konstanta laju dan konsentrasi reaktan.
Hukum laju dapat ditetapkan dari ekperimen. Penetapan konstanta laju dan orde
reaksi dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya dengan metode
fitting. Metode fitting ialah pencocokan antara grafik data eksperimen dengan
grafik suatu hukum laju misalnya orde satu atau orde dua. Apabila grafik yang
digunakan berupa linear, maka disebut dengan analisa linear. Setiap orde reaksi,
harga konstanta k dapat diperoleh dengan kemiringan atau slope grafik. Harga
[A]0 dapat diperoleh dari intersep grafik terhadap koordinat sumbu y (Chang,
2005).
Kecepatan reaksi bergantung pada banyak faktor. Konsentrasi reaktan
memainkan peranan penting dalam mempercepat atau memperlambat reaksi
tertentu. Banyak reaksi yang sangat peka terhadap suhu,sehingga pengendalian
suhu sangat penting untuk pengukuran kuantitatif dalam kinetika kimia. Akhirnya,
bentuk fisik reaktan juga berperan penting dala laju yang di amati. Sebuah paku
besi sangat lambat teroksidasi menjadi besi oksida di udara kering, tetapi serat
baja mudah sekali terbakar terutama karena adanya oksigen. Kajian kuantitatif
atas reaksi heterogen (yang melibatkan dua fasa atau lebih, seperti antara solid dan
gas) memang sulit, sehingga kita mulai dengan reaksi homogen (yang seluruhnya
berlangsung dalam fasa gas atau larutan). Jumlah molekul pereaksi yang ikut
dalam reaksi disebut Molekul Aritas. Jumlah molekul pereaksi yang
konsentrasinya menentukan kecepatan reaksi, disebut tingkat reaksi.
Molekularitas dan tingkat reaksi tidak selalu sama, karena tingkat reaksi
tergantung dari mekanisme reaksinya. (Sukardjo, 1989).
Kecepatan reaksi atau laju reaksi dapat dipengaruhi beberapa faktor.
Faktor tersebut antara lain adalah:
2.2.1 Konsentrasi
larutan dengan konsentrasi yang besar (pekat) mengandung partikel yang
lebih rapat, jika dibandingkan dengan larutan encer. Semakin tinggi konsentrasi
berarti semakin banyak molekul-molekul dalam setiap satuan luas ruangan,
akibatnya tumbukan antar molekul makin sering terjadi dan reaksi berlangsung
semakin cepat. Semakin tinggi konsentrasi suatu larutan, makin besar laju
reaksinya.
2.2.2 Luas permukaan sentuh
Suatu zat akan bereaksi apabila bercampur dan bertumbukan. Pada
pencampuran reaktan yang terdiri dari dua fasa atau lebih, tumbukan berlangsung
pada bagian permukaan zat. Padatan berbentuk serbuk halus memiliki luas
permukaan bidang sentuh yang lebih besar daripada padatan berbentuk lempeng
atau butiran. Semakin luas permukaan partikel, maka frekuensi tumbukan
kemungkinan akan semakin tinggi sehingga reaksi dapat berlangsung lebih cepat.
Laju reaksi berbanding lurus dengan luas permukaan reaktan.
2.2.3 Temperatur
Setiap partikel selalu bergerak. Dengan naiknya suhu, energi gerak
(kinetik) partikel ikut meningkat sehingga makin banyak partikel yang memiliki
energi kinetik di atas harga energi aktivasi (Ea). Kenaikan suhu akan
memperbesar laju reaksi. Harga tetapan laju reaksi (k) akan berubah jika suhunya
berubah. Berdasarkan hasil percobaan, laju reaksi akan menjadi 2 kali lebih besar
untuk setiap kenaikan suhu 10oC.
2.2.4 Katalisator
Katalis adalah zat yang dapat memperbesar laju reaksi, tetapi tidak
mengalami perubahan kimia secara permanen, sehingga pada akhir reaksi zat
tersebut dapat diperoleh kembali. Katalis mempercepat reaksi dengan cara
menurunkan harga energi aktivasi (Ea). Katalisis adalah peristiwa peningkatan
laju reaksi sebagai akibat penambahan suatu katalis. Meskipun katalis
menurunkan energi aktivasi reaksi, tetapi ia tidak mempengaruhi perbedaan energi
antara produk dan pereaksi. Penggunaan katalis tidak akan mengubah entalpi
reaksi
(Keenan, 1990).
Orde reaksi terhadap suatu komponen merupakan pangkat dari konsentrasi
komponen. Orde suatu reaksi nilainya ditentukan secara percobaan dan tidak
dapat diturunkan secara teori, walaupun stoikiometri reaksinya telah diketahui.
Molekularitas suatu reaksi adalah jumlah molekul yang terlibat dalam tiap tahap
reaksi. Kebanyakan reaksi bersifat bimolekular. Beberapa reaksi ada yang bersifat
unimolekular tetapi reaksi yang bersifat termolekular sangat jarang ditemui. Suatu
reaksi terdiri dari beberapa tahap, gagasan molekularitas hanya dapat diterapkan
pada tiap tahap, gagasan ini tidak dapat diterapkan pada reaksi secara keseluruhan.
Molekularitas dapat ditentukan dengan cara pertama harus ditentukan adalah
apakah reaksi berlangsung dalam satu tahap atau dalam beberapa tahap (Alberty,
1983).
Mekanisme reaksi merupakan faktor yang sangat berperan pada penentuan
tingkat reaksi suatu reaksi kimia. Mekanisme reaksi tidak dapat ditentukan hanya
dengan meninjau reaksi saja, melainkan harus ditentukan secaea eksperimental.
Oleh karena itu tingkat reaksi suatu reaksi kimia harus ditentukan melalui
percobaan. percobaan kinetika reaksi ion permanganat dengan asam oksalat ini
akan ditentukan tingkat reaksi:
5C2O42-(L) + 2MnO-4(L) + 16 H+ 10CO2(L) + 8H2 O(L) + 2Mn2+
Jika reaksi ini merupakan reaksi tingkat m terhadap H2C2O4 dan tingkat n
terhadap KMnO4, maka laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan:
R = K H2 C2 O4m MnO4-n............................2.3
Andaikan suatu reaksi mempunyai tingkat rekasi n terhadap suatu zat pereaksi,
maka laju pereaksinya akan sebanding dengan konsentrasi n dan berbanding
terbalik dengan waktu (t).
r C n.....................................................................................................2.4
r 1/t......................................................................................................2.5
dimana
C = konsentrasi
n = tingkat reaksi
t = waktu
Oleh karena itu Cn 1/t (Tim Kimia Fisik, 2017).
BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
- Ball pipet
- Buret 50 mL
- Corong
- Erlenmeyer 9 buah
- Gelas beaker 100 mL
- Pipet volume 2 mL
- Pipet volume 5 mL
- Pipet volume 10mL
- Pipet tetes
- statif
- Stopwatch
3.1.2 Bahan
- Akuades
- Asam Oksalat 0,7 N
- Kalium Permanganat 0,1 N
3.2 Skema Kerja

KMnO4 0,1 N
-
- dimasukkan kedalam buret 50 mL.
- dicampurkan terlebih dahulu H2C2O4 dengan akuades ke
dalam erlenmeyer dengan kombinasi volume masing-
masing larutan berdasarkan tabel berikut
Pereaksi Erlenmeyer
1 2 3 4 5
VH2C2O4 10 15 20 25 20
(ml)
VKMnO4 2 3 4 5 2
(ml)
VH2O (ml) 2 2 2 2 2

- digoyang larutan agar homogen.


- direaksikan dengan KMnO4 dengan volume sesuai
dengan tabel percobaan.
- dicatat waktu yang diperlukan mulai dari penambahan
KMnO4 sampai hilangnya warna ungu dalam erlenmeyer.
- diulangi percobaan 1-5 sebanyak 2 kali.
- ditentukan orde reaksinya dengan grafik C vs 1/t, C2 vs 1/t
dan ln C vs t.

Hasil
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1. Data percobaan
Percobaan H2C2O4 KMnO4 Waktu
pada
(mL) 0,1 M (mL) Detik Rata-rata
erlenmeyer
21,15 (1269)
1 15 2 1182 detik
18,25 (1095)
12,10 (726)
2 15 3 726 detik
12,10 (726)
9,08 (544,8)
3 15 4 583,8 detik
10,38 (622,8)
8,02 (481,2)
4 15 5 497,7 detik
8,57 (514,2)
7,25 (436,8)
5 15 6 415,2 detik
6,56 (393,6)

4.1.2. Penentuan konsentrasi


Erlenmeyer Konsentrasi asam Konsentrasi
Ke- t oksalat dan air atau campuran atau
H2C2O4(M) KMnO4(M)
1 1182 0,309 0,0105
2 726 0.309 0,015
3 583,8 0,309 0,019
4 497,7 0,309 0,0227
5 415,2 0,309 0,026

4.1.3. Penetuan orde reaksi


No. Zat Orde
1. KMnO4 (kurva 1) 1
2. KMnO4 (kurva 2) 1
Orde total 2
4.2 Pembahasan
Percobaan kali ini yaitu mengenai kinetika reaksi ion permanganat
dengan asam oksalat. Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk menentukan tingkat
reaksi ion permanganat dengan asam oksalat. Laju reaksi suatu reaksi kimia
dinyatakan sebagai fungsi konsentrasi zat-zat pereaksi yang berperan serta dalam
reaksi tersebut. Laju reaksi dapat didefinisikan laju berkurangnya zat reaktan per
satuan waktu atau laju bertambahnya konsentrasi produk per satuan waktu. Laju
reaksi suatu zat ditentukan melalui data percobaan seperti halnya yang dilakukan
pada percobaan kali ini yaitu mengetahui tingkat reaksi asam oksalat dan kalium
permanganat dengan cara mengukur waktu yang diperlukan untuk bereaksi.
Indikator selesainya reaksi yang ada dalam KMnO4 dan H2C2O4 dapat diamati
dengan perubahan warna. Orde reaksi merupakan pangkat dari konsentrasi
komponen, sedangkan orde reaksi total adalah penjumlahan dari semua orde
reaktan pada sistem tersebut.
Percobaan pertama yang dilakukan adalah penambahan akuades sebanyak
2 mL ke dalam 5 erlenmeyer yang telah dimasukkan sejumlah larutan asam
oksalat dengan volume 15 mL. Menurut Mastuti (2005), pengenceran asam
oksalat menggunakan akuades menghasilkan panas, apabila konsentrasi asam
oksalat besar. Akuades yang ditambahkan ke dalam asam oksalat akan
melepaskan sejumlah kalor (panas) yang cukup besar, sehingga dapat
menyebabkan akuades mendadak mendidih dan menyebabkan asam oksalat
memercik. Asam oksalat seharusnya ditambahkan pada akuades untuk
menghindari percikan selama proses pengenceran berlangsung. bukan
menambahkan akuades pada asam oksalat. Kedua zat tersebut pada saat
dicampurkan tidak menghasilkan suatu reaksi apapun. Penambahan ini hanya
menyebabkan semakin bertambahnya volume oksalat dimana dengan
bertambahnya volume asam oksalat, maka konsentrasi asam oksalat menjadi
semakin kecil (larutan menjadi encer).
Penambahan sejumlah volume tertentu kalium permanganat pada masing-
masing erlenmeyer dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh
konsentrasi pada suatu reaksi. Variasi konsentrasi yang dilakukan ini akan
menentukan pengaruh perubahan konsentrasi terhadap laju reaksi.. Penambahan
KMnO4 ini dilakukan secara perlahan-lahan dengan menggunakan buret. buret
disini berfungsi sebagai pengganti dari pipet volume sehingga prosesnya dapat
berlangsung cepat dan buret memiliki nilai akurasi yang tinggi. Konsentrasi hasil
pengenceran ini dapat dihitung menggunakan persamaan mol sebagai berikut:
1 1 = 2 2

penambahan KMnO4 juga dilakukan dengan variasi volume tertentu. Volume


pada erlenmeyer pertama ditambahkan 2 mL, erlenmeyer kedua sebanyak 3 mL,
erlenmeyer ketiga sebanyak 4 mL, erlenmeyer keempat sebanyak 5 mL dan
erlenmeyer kelima sebanyak 6 mL. Penambahan volume yang berbeda bertujuan
untuk membuat variasi konsentrasi dan mengetahui pengaruh perubahan
konsentrasi terhadap laju reaksi. KMnO4 memiliki warna ungu sebelum
direaksikan dengan asam oksalat. KMnO4 berwarna ungu, hal tersebut disebabkan
karena dalam senyawa tersebut mengandung unsur Mn yang memiliki bilangan
oksidasi +7 yang menyerap energi pada panjang gelombang di kisaran 560-590
nm. Penyerapan pada panjang gelombang tersebut terjadi pada range visible ray
dengan warna serapnya adalah kuning yang menghasilkan warna komplementer
ungu atau violet. Fenomena yang terjadi pada erlenmeyer pertama warna awal
penambahan terjadi perubahan warna dari bening menjadi ungu, kemudian
berubah menjadi merah bata, lama-kelamaan menjadi bening dan terdapat
endapan. Fenomena pada erlenmeyer ke dua sampai ke lima sama, yang
membedakan endapan yang terbentuk dan waktu perubahan. Endapan yang
terbentuk pada erlenmeyer dua lebih banyak, erlenmeyer tiga endapan lebih
banyak dari pada erlenmeyer dua, erlenmeyer empat endapan lebih banyak dari
pada erlenmeyer tiga, dan pada erlenmeyer kelima endapan yang terbentuk seperti
pada erlenmeyer dua. Persamman reaksinya adalah sebagai berikut:
5C2O42- (aq) + 2MnO-4 (aq) + 16 H+(l) 10CO2(g) + 8H2 O (l)+ 2Mn2+(aq)
Reaksi redoks yang terjadi pada percobaan ini adalah sebagai berikut.
Reduksi : MnO4- + 8H+ + 5e Mn2+ + 4H2O |x 2
Oksidasi : C2O42- 2CO2 + 2e |x5
+
5C2O42-+ 2MnO-4 + 16 H+(l) 10CO2 + 8H2 O + 2Mn2+

Terbentukya gelembung-gelembung dari larutan menandakan bahwa


adanya gas CO2 yang terbebas dari larutan. Kalium permanganat merupakan
penentu laju reaksi karena berfungsi sebagai zat pengoksidasi kuat yang dapat
mengoksidasi asam oksalat menjadi produk gas CO2 dan H2O. Percobaan
dilakukan duplo, yaitu dilakukan pengulangan selama dua kali. Penambahan
kalium permanganat juga berpengaruh pada warna yang dihasilkan. Semakin
banyak konsentrasi yang dicampurkan seharusnya semakin pekat larutan yang
didapatkan. Hal ini dikarenakan jumlah komposisi kalium permanganat yang
sedikit, sehingga ketika terbentuk Mn2+ akan larut dalam air.
Hasil waktu perubahan rata-rata larutan berturut-turut dalam erlenmeyer
1 sampai 5 adalah 19,7 menit; 12,10 menit; 9,73 menit; 8,29 menit; dan 6,9 menit.
Berdasarkan percobaan, waktu rata-rata yang dibutuhkan pada setiap labu
erlenmeyer berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena volume kalium permanganat
yang digunakan berbeda-beda pada setiap labu erlenmeyer. Semakin banyak
kalium permanganat yang digunakan maka waktu yang diperlukan semakin
singkat. Hal ini sudah sesuai dengan liteatur. Menurut Chang (2005), semakin
tinggi konsentrasi maka reaksi yang terjadi semakin cepat dan waktu yang
dibutuhkan semakin cepat karena konsentrasi berbanding terbalik dengan waktu
dan konsentrasi berbanding lurus dengan laju reaksi. Semakin besar konsentrasi
maka jumlah partikel yang terlibat dalam reaksi semakin banyak sehingga
tumbukan antar partikel akan semakin sering terjadi. Hal ini menyebabkan reaksi
berjalan lebih cepat.
Tingkat reaksi atau orde reaksi dapat ditentukan dengan menggunakan
grafik lnC versus t dan 1/C versus t. C merupakan konsentrasi dari asam oksalat
dan kalium permanganat. Grafik yang diperoleh yaitu sebagai berikut:
1. Grafik ln C (konsentrasi campuran) vs t

Kurva ln C vs t y = -0.0012x - 3.2434


R = 0.9513
0
-0.5 0 200 400 600 800 1000 1200 1400
ln C (konsentrasi campuran)

-1
-1.5
-2
-2.5 ln C
-3 Linear (ln C)
-3.5
-4
-4.5
-5
t (waktu) dalam sekon

2. Grafik 1/C (konsentrasi campuran) vs t

y = 0.0745x + 8.6847
Kurva 1/C vs t R = 0.9893
120
1/C (konsentrasi campuran)

100

80

60
1/c
40 Linear (1/c)
20

0
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
t (waktu) dalam sekon
Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui konsentrasi berbanding terbalik
dengan t. Hasil percobaan ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa
konsentrasi akan berbanding terbalik dengan t. Orde reaksi dicari dengan
menggunakan persamaan r = k [H2C2O4]m [MnO4-]n .Orde reaksi yang diperoleh
pun juga sesuai dengan literatur,dimana menurut literature yang ada yaitu orde
reaksi dari campuran asam oksalat dan KmnO4 adalah orde 1
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan untuk praktikum kali ini yaitu semakin besar konsentrasi maka
waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi semkain singkat sehingga laju reaksi
semakin cepat. Orde reaksi dari Kalium permanganat dihitung secara matematis
dari grafik lnC versus t dan 1/C versus t. C. Hasil perhitungan orde reaksi kalium
permanganat yaitu 1.
5.2 Saran
Percobaan tentang kinetika reaksi ion permanganat dengan asam oksalat ini
membeutuhkan ketelitian dalam menitrasi dan menghitung waktu yang
dibutuhkan masing-masing larutan. Praktikan harus jeli dalam menentukan kapan
stopwatch harus dihentikan apabila sudah terjadi peubahan warna. Praktikan
diharapkan juga menguasai teknik penitrasian seingga larutan bercampur secara
homogen. Praktikan diharapkan mematuhi petunjuk dan tatatertib dalam
laboratorium agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan dan didapatkan hasil
yang akurat.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. MSDS Akuades. www.sciencelab.com.[Serial Online diakses, pada


tanggal 20 maret 2017].
Anonim. 2017. MSDS Asam Oksalat. www.sciencelab.com.[Serial Online diakses,
pada tanggal 20 maret 2017].
Anonim. 2017. MSDS Kalium Permanganat. www.sciencelab.com.[Serial Online
diakses, pada tanggal 20 maret 2017].
Alberty, A.R. 1987. Kimia Fisik Jilid I Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar. Jakarta. Erlangga
Keenan, C.W. 1999. Kimia Untuk Universitas Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Petrucci. 1992. Kimia Dasar: Prinsip-Prinsip dan Terapan Modern.
Jakarta:Erlangga.
Sukardjo, 1989. Kimia fisika. Yogakarta : Rineka Cipta.
Tim Kimia Fisik. 2017.Penuntun Praktikum Kimia Fisik II. Jember: Universitas
Jember.

LAMPIRAN
Perhitungan
Volume Volume Pengulangan Waktu rata-rata
Waktu (s)
H2C2O4 KmnO4 ke- (s)
1 1269
15 mL 2 mL 1182
2 1095
1 726
15 mL 3 mL 726
2 726
1 544,8
15 mL 4 mL 583,8
2 622,8
1 481,2
15 mL 5 mL 497,7
2 514,2
1 436,8
15 mL 6 mL 415,2
2 393,6

a. Molaritas H2C2O4 dan KMnO4


H2C2O4 0,7 N
0,7
M = = = 0,35
2

KMnO4 0,1 N
0,1
M = = = 0,10
1

b. Konsentrasi Asam Oksalat + Air


Catatan:
M1= konsentrasi asam oksalat
V1 = volume asam oksalat (15 mL)
M2 = konsentrasi asam oksalat + air
V2 = volume asam oksalat + air
M1 x V1 = M2 x V2
0,35 M x 15 mL = M2 x 17 mL
M2 = 0,309 M
c. Konsentrasi Campuran
Catatan:
M1= konsentrasi KMnO4 (0,10 M)
V1 = volume KMnO4
M2 = konsentrasi campuran (C)
V2 = volume KMnO4 + H2C2O4 + H2O

Erlenmeyer 1 : Volume KMnO4 2 mL


M1 x V1 = M2 x V2
0,10 M x 2 mL = M2 x 19 mL
M2 = 0,0105 M
Erlenmeyer 2 : Volume KMnO4 3 mL
M1 x V1 = M2 x V2
0,10 M x 3 mL = M2 x 20 mL
M2 = 0,015 M
Erlenmeyer 3 : Volume KMnO4 4 mL
M1 x V1 = M2 x V2
0,10 M x 4 mL = M2 x 21 mL
M2 = 0,019 M
Erlenmeyer 4 : Volume KMnO4 5 mL
M1 x V1 = M2 x V2
0,10 M x 5 mL = M2 x 22 mL
M2 = 0,0227 M
Erlenmeyer 5 : Volume KMnO4 6 mL
M1 x V1 = M2 x V2
0,10 M x 6 mL = M2 x 23 mL
M2 = 0,026 M

3. Grafik ln C (konsentrasi campuran) vs t


ln C t
- 4,556 1182
- 4,199 726
- 3,963 583,8
- 3,785 497,7
- 3,649 415,2

Kurva ln C vs t y = -0.0012x - 3.2434


R = 0.9513
0
-0.5 0 200 400 600 800 1000 1200 1400
ln C (konsentrasi campuran)

-1
-1.5
-2
-2.5 ln C
-3 Linear (ln C)
-3.5
-4
-4.5
-5
t (waktu) dalam sekon

4. Grafik 1/C (konsentrasi campuran) vs t


1/C t
95,238 1182
66,667 726
52,632 583,8
44,053 497,7
38,461 415,2
y = 0.0745x + 8.6847
Kurva 1/C vs t R = 0.9893
120
1/C (konsentrasi campuran)

100

80

60
1/c
40 Linear (1/c)
20

0
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
t (waktu) dalam sekon

Penentuan Orde atau Tingkat Reaksi KMnO4 ( Kurva 1 )


y = -0,0012x - 3,2434
R = 0,9513
R = [H2C2O4]m [MnO4-]n
y = -0,0012x - 3,2434
C = [MnO4-]n + c
- 4,556 = -0,0012 [1182]n - 3,2434
- 1,3126 = -0,0012 [1182]n
1093,83 = [1182]n
Log 1093,83 = n + log[1182]
3,039 = n + 3,073
n = 0,98
Orde konsentrasi MnO4- adalah 1
Penentuan Orde atau Tingkat Reaksi KMnO4 ( Kurva 2 )
y = 0,0745x + 8,6847
R = 0,9893
R = [H2C2O4]m [MnO4-]n
y = 0,0745x + 8,6847
C = [MnO4-]n + c
95,238 = 0,0745 [1182]n + 8,6847
86,553 = 0,0745 [1182]n
1161,78 = [1182]n
Log 1161,78 = n x log[1182]
3,065 = n x 3,073
n = 0,99
Orde konsentrasi MnO4- adalah 1