Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gagal nafas pada neonatus merupakan masalah klinis yang sangat serius,
yang berhubungan dengan tingginya morbiditas, mortalitas dan biaya perawatan.
Faktor resiko utama gagal nafas pada neonatus adalah prematuritas, bayi berat
badan lahir rendah, dan penelitian menunjukkan kejadiannya lebih banyak terjadi
pada golongan sosioekonomi rendah.
Di Indonesia, sepertiga dari kematian bayi terjadi pada bulan pertama
setelah kelahiran, dan 80% diantaranya terjadi pada minggu pertama dengan
penyebab utama kematian diantaranya adalah infeksi pernafasan akut dan
komplikasi perinatal. Pada suatu studi kematian neonatal di daerah Cirebon tahun
2006 disebutkan pola penyakit kematian neonatal 50% disebabkan oleh gangguan
pernapasan meliputi asfiksia bayi baru lahir (38%), respiratory distress 4%, dan
aspirasi 8%.
Gangguan nafas dapat diakibatkan banyak faktor. Penyebab gangguan
napas dapat dibagi menurut masa gestasi yaitu pada bayi kurang bulan dan bayi
cukup bulan. Pada bayi cukup bulan antara lain sindrom aspirasi mekonium,
pneumonia, transient tachyphea of the newborn (TTN), asidosis, malformasi
kongenital serta inaktivasi surfaktan karena berbagai penyebab.Pada bayi kurang
bulan dapat disebabkan karena kekurangan surfaktan, pneumonia, kelemahan otot
dan dinding dada maupun karena susunan saraf pusat yang belum matang
Sindroma Aspirasi Mekonium merupakan masalah kegawatan respirasi
bagian perinatologi dan secara khusus didefinisikan sebagai adanya mekonium di
bawah pita suara.
Dalam case ini akan dibahas mengenai definisi, etiologi, diagnosis dan
penatalaksanaan gagal nafas pada neonatus khususnya yang disebabkan oleh
sindrom aspirasi mekonium.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

DEFENISI

Gagal nafas (respiratory failure) dan distress nafas (respiratory distress)


merupakan diagnosis yang ditegakkan secara klinis dimana sistem pernafasan
tidak mampu untuk melakukan pertukaran gas secara normal tanpa bantuan.
Terminologi respiratory distress digunakan untuk menunjukkan bahwa pasien
masih dapat menggunakan mekanisme kompensasi untuk mengembalikan
pertukaran gas yang adekuat, sedangkan respiratory failure merupakan keadaan
klinis yang lanjut akibat kegagalan mekanisme kompensasi dalam
mempertahankan pertukaran gas atau tercukupinya aliran oksigen.
Gagal nafas merupakan kegagalan sistem respirasi dalam memenuhi
kebutuhan pertukaran gas oksigen dan karbondioksida antara udara dan darah,
sehingga terjadi gangguan dalam asupan oksigen dan ekskresi karbondioksida,
keadaan ini ditandai dengan abnormalitas nilai PO2 dan PCO2

ETIOLOGI

Bayi khususnya neonatus rentan terhadap kejadian gagal nafas akibat:


(1) ukuran jalan nafas yang kecil dan resistensi yang besar terhadap aliran udara,
(2) compliance paru yang lebih besar
(3) otot pernafasan dan diafragma cenderung yang lebih mudah lelah
(4) predisposisi terjadinya apnea yang lebih besar.
Gagal nafas pada neonatus dapat disebabkan oleh hipoplasia paru (disertai hernia
diafragma kongenital), infeksi, aspirasi mekoneum, dan persistent pulmonary
hypertension.

2
Tabel 1. Etiologi gagal nafas pada neonatus
Paru-paru Aspirasi, pneumonia, transient tachypnea of the
newborn, persistent pulmonary hypertension,
pneumotoraks, perdarahan paru, edema paru, displasia
bronkopulmonal, hernia diafragma, tumor, efusi pleura,
emfisema lobaris congenital
Jalan nafas Laringomalasia, trakeomalasia, atresia/stenosis choana,
Pierre Robin Syndrome, tumor dan kista
Otot-otot respirasi Paralisis nervus frenikus, trauma medulla spinalis,
miasthenia gravis
Sistem saraf pusat Apnea of prematurity, obat: sedatif, analgesik,
(SSP) magnesium; kejang, asfiksia, hipoksik ensefalopati,
perdarahan SSP
Lain-lain Penyakit jantung bawaan tipe sianotik, gagal jantung
kongestif, anemia/polisitemia, tetanus neonatorum,
immaturitas, syok, sepsis

ASPIRASI MEKONIUM

Cairan amnion yang terwarnai-mekonium ditemukan pada 5-15% kelahiran,


tetapi sindrom ini biasanya terjadi pada bayi cukup bulan atau lewat bulan. Pada
5% bayi yang demikian berkembang pneumonia aspirasi, dimana 30% darinya
memerlukan ventilasi mekanis dan 5-10%-nya dapat meninggal.Biasanya, tetapi
tidak selalu, kegawatan janin dan hipoksia terjadi bersama dengan masuknya
mekonium ke dalam cairan amnion. Bayi ini terkena mekonium dan bisa
mengalami depresi serta memerlukan resusitasi pada saat lahir.

Mekonium

3
Berasal dari bahasa Yunanu yaitu mekoni yang berarti opium atau seperti
opium. Mekonium merupakan hasil pengeluaran saluran cerna (isi usus janin)
yang dapat diamati pada bayi baru lahir memiliki konsistensi sangat kental,
berwarna hijau tua terdiri dari sel epitel skuamosa, lanugo, mukosa, dan sekresi
saluran percernaan seperti empedu, enzim, protein plasma, mineral, lipid, debris
seluler darah dan vernik. Mekonium pertama kali ada di ileum fetus kira-kira
minggu ke 10 dan minggu ke 16 kehamilan. Komponen utama mekonium adalah
air yaitu sebesar 85-95 %.

Faktor Risiko

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Sindrom Aspirasi Mekonium


antara lain: faktor ibu, faktor janin, penolong persalinan.

Faktor Ibu :
Adanya penyakit kronik
Preeklamsia/eklamsia
Hipertensi
Diabetes Melittus
Merokok

Faktor janin :
Gawat janin/hipoksia akut intrauterin,adanya kesulitan dalam melahirkan
Intra Uterine Growth Retardation
Aterm dan Posterm

Faktor Penolong :
Ketersediaan alat suction
Keterampilan penolong

4
Pada penelitian Khazardoost dkk menemukan bahwa resiko terjadinya
sindrom aspirasi mekonium pada air ketuban keruh bercampur mekonium adalah
konsistensi mekoniam, APGAR skor yang rendah pada menit ke 5 (< dari 5) dan
peningkatan denyut jantung janin.

Patofisiologi

Keluarnya mekonium ke dalam air ketuban oleh karena proses fisiologis


maupun patologis menyebabkan air ketuban keruh bercampur mekonium.Adanya
gasping intra uterine dan aspirasi pasca lahir menyebabkan terjadinya aspirasi
mekonium. Mekanisme terjadinya sindrom aspirasi mekonium sangat kompleks
sdan waktu kapan menyebabkan terjadinya SAM masih kontroversial, namun
diketahui adanya mediator vasoaktif yang berperan dan aktivasi sitokin.
1. Fetal Gasping
Sebagian besar kasus SAM, fetal gasping terjadi di dalam kandungan
sesaat sebelum lahir karena hipoksia akut. Bukti menunjukkan adanya
mekonium di distal saluran nafas khususnya alveoli pada bayi yang lahir
mati dan meninggal beberapa jam setelah persalinan menunjukkan SAM
terjadi karena manajemen jalan nafas yang tidak benar.
2. Obstruksi Mekanik Jalan Nafas
Obstruksi jalan nafas besar total oleh mekonium kental sangat jarang.
Biasanya, sejumlah kecil mekonium berpindah ke jalan nafas perifer yang
lebih sempit.
3. Inaktivasi Surfaktan
SAM pada manusia, sebagian disebabkan karena inaktivasi surfaktan
endogen, sehingga terjadi ateletaksis paru, penurunan compliance paru,
dan hipoventilasi.

Aspirasi mekonium terjadi jika janin mengalami stres selama proses


persalinan berlangsung. Bayi seringkali merupakan bayi post-matur (lebih dari 40

5
minggu). Selama persalinan berlangsung, bayi bisa mengalami kekurangan
oksigen. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya gerakan usus dan pengenduran
otot anus, sehingga mekonium dikeluarkan ke dalam cairan ketuban yang
mengelilingi bayi di dalam rahim. Cairan ketuban dan mekoniuim becampur
membentuk cairan berwarna hijau dengan kekentalan yang bervariasi.
Jika selama masih berada di dalam rahim janin bernafas atau jika bayi menghirup
nafasnya yang pertama, maka campuran air ketuban dan mekonium bisa terhirup
ke dalam paru-paru.
Mekonium yang terhirup bisa menyebabkan penyumbatan parsial ataupun total
pada saluran pernafasan, sehingga terjadi gangguan pernafasan dan gangguan
pertukaran udara di paru-paru.
Selain itu, mekonium juga menyebabkan iritasi dan peradangan pada saluran
udara, menyebabkan suatu pneumonia kimiawi.
Cairan ketuban yang berwarna kehijauan disertai kemungkinan terhirupnya cairan
ini terjadi pada 5-10% kelahiran. Sekitar sepertiga bayi yang menderita sindroma
ini memerlukan bantuan alat pernafasan.
Aspirasi mekonium merupakan penyebab utama dari penyakit yang berat dan
kematian pada bayi baru lahir

Diagnosa:

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan


penunjang.
Anamnesis didapatkan adanya : umur gestasi aterm atau posterm, dan air
ketuban berwarna kehijauan dengan viskositas kental.
Pemeriksaan Fisik didapatkan : adanya obstruksi jalan lahir besar yang
ditandai dengan apnue, gasping, sianosis dan staining di kuku, kulit maupun
umbilikal.Ditemukan juga tanda-tanda distress respirasi sekunder karena
peningkatan resistensi jalan nafas, penurunan compliance,nafas cuping
hidung, retraksi interkostal, sianosis dan peningkatan diameter antero
posterior.

6
Pemeriksaan lainnya yang biasanya dilakukan:
- Analisa gas darah (menunjukkan kadar pH yang rendah, penurunan pO2 dan
peningkatan pCO2)
- Rontgen dada ditandai adanya hiperinflasi seluruh lapangan paru, diafragma
mendatar
-Bila terjadi asfiksia biasanya ada asidosis metabolik

Resiko aspirasi mekonium dapat berkurang bila dilakukan perhatian yang cermat
yaitu segera memulai persalinan bila ada sidosis janin,perlambatan janin atau
variabilitas denyut ke denyut jelek.Segera siapkan infus amnion dan pengisapan
DeLee orofaring sesedah kepala dilahirkan dapat mengurangi resiko.

Pengobatan

Tergantung pada berat ringannya keadaan bayi, mungkin saja bayi akan dikirim ke
unit perawatan intensif neonatal (neonatal intensive care unit [NICU]). Tata
laksana yang dilakukan biasanya meliputi :
1. Umum
Jaga agar bayi tetap merasa hangat dan nyaman, dan berikan oksigen.
2. Farmakoterapi
Obat yang diberikan, antara lain antibiotika. Antibiotika diberikan untuk
mencegah terjadinya komplikasi berupa infeksi ventilasi mekanik.
3. Fisioterapi
Yang dilakukan adalah fisioterapi dada. Dilakukan penepukan pada dada
dengan maksud untuk melepaskan lendir yang kental.

Pada SAM berat dapat juga dilakukan:Pemberian terapi surfaktan.

Pemakaian ventilator khusus untuk memasukkan udara beroksigen tinggi


ke dalam paru bayi.

7
Penambahan nitrit oksida (nitric oxide) ke dalam oksigen yang terdapat di
dalam ventilator. Penambahan ini berguna untuk melebarkan pembuluh
darah sehingga lebih banyak darah dan oksigen yang sampai ke paru bayi.

Bila salah satu atau kombinasi dari ke tiga terapi tersebut tidak berhasil, patut
dipertimbangkan untuk menggunakan extra corporeal membrane oxygenation
(ECMO). Pada terapi ini, jantung dan paru buatan akan mengambil alih sementara
aliran darah dalam tubuh bayi. Sayangnya, alat ini memang cukup langka.

Prognosis

Diperkirakan bahwa bayi yang tercat mekonium memiliki mortalitas lebih tinggi
dan aspirasi mekonium biasanya menyebabkan proporsi kematian neonatus yang
bermakna.
Progonosis akhir tergantung pada luasnya jejas sistem saraf pusat akibat asfiksia,
dan adanya masalah-masalah terkait seperti adanya sirkulasi janin

KASUS

8
IDENTITAS PASIEN
Nama anak : By.PA
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 4 hari
Suku bangsa : Minangkabau
Alamat : Surau Gadang,Padang

ALLO ANAMNESA : Ibu kandung

Seorang pasien bayi laki-laki umur 4 hari masuk bagian COVISE anak
RSUP M.Djamil tanggal 1Desember jam 15.00 wib dengan :

KELUHAN UTAMA :
Sesak nafas sejak lahir

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Neonatus berat badan lahir cukup 2886 gram, Panjang Badan 47
cm, lahir secara sesio Caesaria dengan indikasi bekas SC, ibu
anemia gravidarum, ketuban hijau, kental dan tidak berbau
.Ketuban pecah 10 jam sebelum persalinan
Sesak nafas sejak lahir
Kebiruan ada, berkurang dengan pemberian O2
Demam tidak ada, muntah tidak ada
Injeksi vitamin K sudah diberikan
Belum ada diberi minum
BAK ada jumlah dan warna biasa
Riwayat ibu sering demam selama hamil/persalinan tidak ada
Riwayat ibu keputihan tidak ada

RIWAYAT KEHAMILAN IBU : G2P2A0H2

9
Pemeriksaan Ante Natal : Dokter Umum
Penyakit Selama Hamil : tidak ada
Komplikasi Kehamilan : tidak pernah mengalami pendarahan

PEMERIKSAAN WAKTU HAMIL


TD : 120/80 mmHg
Suhu : anfebric
Hb : 10,1 gr%
Leukosit : 8700/mm3

KEBIASAAN IBU WAKTU HAMIL


Kualitas dan kuantitas makan baik
Ibu tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan selama kehamilan
Ibu tidak memiki riwayat merokok

RIWAYAT PERSALINAN
Berat Badan ibu : 50 kg
Persalinan di : M.Djamil
Jenis Persalinan : Sesio Caesaria
Ketuban : hijau,kental dan tidak berbau
Dipimpin oleh : dokter
Indikasi : Bekas SC

SKOR Ballard : 17
APGAR SKOR : 5/6

KEADAAN BAYI SAAT LAHIR


Lahir tanggal : 1 desember 2011
Jenis Kelamin : laki-laki
Jam 15.00 WIB
Kondisi saat lahir : Hidup

10
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : kurang aktif
Berat badan : 2886 gram
Frekuensi nadi : 110x /menit
Frekuensi nafas : 62x /menit
Suhu : 36 C
Sianosis : Ada
Ikterus : tidak ada
Kepala : Bentuk simetris, rambut hitam, tidak mudah dicabut.
Ubun-ubun besar : 1,5 x 1,5 cm
Ubun-Ubun kecil : 0,5 x 0,5 cm
Mata : Konjungtiva : tidak anemis, sklera tidak ikterik
Telinga : tidak ada kelainan
Hidung : nafas cuping hidung ada.
Mulut : sianosis sirkum oral ada
Bibir : kering, mukosa basah.
Leher : tidak ditemukan kelainan
Kelenjar getah bening : tidak membesar
Thorak :
Bentuk : retraksi epigastrium
Jantung : irama teratur,bising tidak ada
Paru :bronkovesikuler,ronkhi tidak ada,wheezzing : tidak
ada
Abdomen
Permukaan : datar
Kondisi : lemas
Hati :x
Limpa : S0

11
Tali pusat : segar warna kehijauan, jumlah pembuluh darah 1 vena
umbilikus dan 2 arteri umbilikalis
Umbilikalis : Mekonium stain ada
Genitalia : Tidak ditemukan kelainan
Extremitas :
Atas : Akral dingin,perfusi baik
Bawah : Akral dingin,perfusi baik
Kulit : Teraba dingin
Anus : ada
Tulang-tulang : tidak ada kelainan
Refleks :
Moro : (+)
Rooting : (+)
Isap : (+)
Pegang : (+)
Ukuran :
Lingkar kepala : 34 cm
Lingkar dada : 32 cm
Lingkar perut : 29 cm
Simpisis-kaki : 17 cm
Panjang lengan : 20 cm
Panjang kaki : 19 cm
Kepala-simpisis : 30 cm

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Hb : 15,2 gr/dl
Leukosit : 25.200/mm3
Trombosit : 298.000
Ht : 46%

12
DIAGNOSA KERJA
Respiratory Distress ec susp Aspirasi Mekonium

Therapy
S/O2 1L/menit
IVFD D10% =60cc/kgBB/hr 7 cc/jam
Sementara puasa
Ampicilin-Sulbactam 2x140 mg IV
Gentamisin 1x 14 mg

PEMERIKSAAN ANJURAN
Roentgen thorak
Kirim kultur darah
AGD

FOLLOW UP
Tanggal 2 Desember 2011
Anamnesis : Demam (-), sesak nafas (+),kebiruan (-), anak masih puasa,BAK dan
mekonium ada
Pemeriksaan Fisik :
KU Kes Nd Nf T
Kurang aktif sadar 120x/mnt 64x/mnt 37C
Mata : conjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Kulit : teraba hangat
Thoraks : Retraksi epigastrium (+)
Abdomen : Distensi (-), BU (+)N
Ekstremitas : Akral hangat,perfusi baik
Terapi :

13
S/O2 1L/menit
IVFD D10% =60cc/kgBB/hari7cc/jam
Sementara puasa
Ampicilin-Sulbactam 2x140 mg IV
Gentamisin 1x 14 mg IV

Tanggal 3 Desember 2011


Anamnesis : Sesak nafas masih ada tapi berkurang,Demam (-), kebiruan(-), anak
masih dipuasakan,BAK jumlah cukup,BAB biasa
Pemeriksaan Fisik :
KU Kes Nd Nf T
Kurang aktif sadar 128x/mnt 64x/mnt 37C
Mata : conjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Kulit : teraba hangat
Thoraks : Retraksi epigastrium (+),cor irama teratur,bising (-)
Abdomen : Distensi (-), BU (+)N
Ekstremitas : Akral hangat,perfusi baik
Terapi :
S/O2 2L/menit (nasal)
IVFD D12,5%
ASI 10cc/kg4x3 dan 4x5/NGT
Aminoseril infan 6 %,24 cc/hari=1cc/jam
Ampicilin-Sulbactam 2x140 mg IV
Gentamisin 1x 14 mg
Rencana : Tropic feeding ASI 4x3cc dan 4x5ccNGT

14
DISKUSI

Telah dilaporkan suatu kasus seorang pasien anak perempuan berumur 3


hari dengan diagnosis kerja fetal distress ec aspirasi mekonium.
Dasar diagnosis pasien ini adalah :
Anamnesis didapatkan adanya : umur gestasi aterm atau posterm, dan air
ketuban berwarna kehijauan dengan viskositas kental tidak berbau
Pemeriksaan Fisik didapatkan : adanya obstruksi jalan lahir besar yang
ditandai dengan apnue, gasping, sianosis dan staining di kuku, kulit maupun
umbilikal.Ditemukan juga tanda-tanda distress respirasi sekunder karena
peningkatan resistensi jalan nafas, penurunan compliance,nafas cuping
hidung, retraksi interkostal, sianosis dan peningkatan diameter antero
posterior.
Rontgen dada ditandai adanya hiperinflasi seluruh lapangan paru, diafragma
mendatar
Pada pasien ditemukan tanda-tanda respiratory distress ec suspec aspirasi
meconium.Dasar diagnosis ini dari hasil anamnesis,pemeriksaan fisik dan
penunjangnya.
Pengobatan yang diberikan sesuai untuk penyakit ini.
S/O2 2L/menit (nasal)
IVFD D12,5%
ASI 4x3cc dan 4x5cc / NGT
Aminoseril intan 6 %,24 cc/hari=1cc/jam
Ampicilin-Sulbactam 2x140 mg IV
Gentamisin 1x 14 mg
Rencana : Tropic feeding ASI 4x3cc dan 4x5ccNGT

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. Dalam buku Kuliah Ilmu Kesehatan
2. Nelson. Aspirasi Mekonium Behram RE, Kliegman R, Arvin AM, Penyunting.
Nelson Textbook of pediatrics. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Wahab AS,
Penterjemah. Jakarta EGC, 2000 : 2059-60..
3. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUP. Dalam: Pedoman Diagnosis dan
Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Edisi ke-2. Bandung: Bagian Ilmu Kesehatan
Anak FKUP,2000: 478-79.
4. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUNAND. Pedoman Diagnosis dan
Terapi Ilmu Kesehatan Anak.. Padang: Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FKUNAND

16
Persentasi Kasus

RESPIRATORY DISTRESS EC SUSPEC


ASPIRASI MEKONIUM

Oleh :
Prima Della Fegita
07923035

PRESEPTOR:dr.Rinang Mariko,Sp.A

17
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2011

18