Anda di halaman 1dari 14

MODUL 6 TAHAP OUTPUT PENGUAT DAYA

Angellina Trisno Putri (18015001)


Asisten: Fadilah Nur A.
Tanggal Percobaan: 06/04/2017
EL2205-Praktikum Elektronika
Laboratorium Dasar Teknik Elektro - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB

Abstrak
+VCC
Pada modul kali ini praktikan melakukan
beberapa percobaan mengenai penguat Q1
daya. Penguat daya terbagi menjadi 4
kelas, yaitu kelas A, B, AB, dan C. Dalam vIN +
modul ini, hanya ada 3 kelas yang IBIAS RL vO
diamati yaitu penguat kelas A, B, dan -
AB. Perbedaan antar kelas penguat -VCC
terletak pada output swing, distorsi, dan
daya disipasi maksimum. Selain itu juga Gambar 1 Rangkaian tahap output penguat
kelas A
diamati rangkaian termal sederhana
Transistor Q1 selalu konduksi pada seluruh
untuk transistor daya.
selang sinyal input sinusoid. Sumber arus I Bias
Kata kunci: penguat daya, swing, menarik arus dari transistor Q1 dan beban RL.
distorsi, daya disipasi maksimum, Saat tegangan input sekitar nol, arus yang
rangkaian termal ditarik sumber IBias akan diberikan oleh
transistor Q1 sehingga beban mendapat arus
1. PENDAHULUAN dan tegangan mendekati nol. Dalam keadaan
Pada Praktikum Elektronika modul ini, tanpa input transistor pada tahap penguat
bertujuan agar praktikan dapat melakukan kelas A menghantarkan arus sebesar arus
percobaan dan pengamatan secara langsung biasnya.
mengenai karakteristik dari tiap kelas tahap
output penguat daya. Dari praktikum ini Saat tegangan input terendah maka arus
tujuan yang ingin dicapai adalah: yang ditarik sumber akan datang dari beban
1) Mengamati dan mengenali klasifikasi RL sehingga beban akan mendapat tegangan
penguat berdasarkan bagian fungsi terendah negatif Ibias RL. Saat tegangan input
sinusoidal saat transistor konduksi tertinggi maka transistor Q1 akan
memberikan arus lebih dari yang ditarik
2) Mengukur dan menganalisa distorsi sumber arus sehingga beban akan
pada tahap output penguat pada memberoleh arus dan tegangan tertinggi
kelas A, B, dan AB. positif. Untuk memperoleh ayunan tegangan
tertinggi pada beban maka digunakan arus
3) Mengukur dan menganalisa daya dan
bias dan beban yang memenuhi hubungan
efisiensi penguat kelas A, B, dan AB.
sebagai berikut

4) Mengamati, mengukur, dan I Bias R L =V CC V CEsat


menganalisa rangkaian termal
sederhana untuk transistor daya Persamaan 1
(opsional). Arus yang diberikan oleh transistor Q 1 akan
berkisar dari 0 hingga 2xIBias.
2. STUDI PUSTAKA
Distorsi pada penguat kelas A yang paling
TAHAP OUTPUT PENGUAT KELAS A menonjol adalah distorsi saturasi. Distorsi ini
Tahap output penguat kelas A untuk terjadi ketika isinyal input sangat besar
konfigurasi Emitor Bersama (Common sehingga tegangan kolektor-emitor transistor
Emitter) tampak pada Gambar 1 di bawah mencapai nilai tegangan saturasi dan
ini.
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 1
tegangan output sudah mendekati tegangan
+VCC
catu dayanya.

Rangkaian bias berupa sumber arus untuk


tahap output penguat kelas A dapat QN
direalisasikan dengan berbagai jenis sumber
arus, misalnya dengan cermin arus. Pada
percobaan ini digunakan rangkaian sumber +
arus dengan seperti digambarkan pada vIN RL vO
Gambar 2.
QP -

IBIAS
R1 -VCC
QBIAS
Gambar 3 Penguat pushpull kelas B
Pada penguat pushpull kelas B transistor NPN
dan PNP bekerja bergantian. Saat siklus
R2 R3
tegangan input positif maka junction base-
emitter transistor QN akan mendapat
tegangan maju sehingga transistor QN
-VCC konduksi sedangkan junction base-emitter
transistor QP akan mendapat tegangan
Gambar 2 Rangkaian sumber arus untuk mundur sehingga transistor QP dalam
bias tahap output penguat kelas A keadaan cut-of. Sebaliknya saat siklus
Arus bias untuk rangkaian tersebut dapat tegangan input negatif junction base-emitter
diperkirakan dengan memanfaatkan transistor QP yang akan mendapat tegangan
persamaan berikut maju dan transistor QP konduksi dan QN
dalam keadaan cut-off.
( V CC R2V BE ( R 1 + R2 ) )
I Bias= Adanya tegangan cut-in pada perilaku
R1 R 2+ ( +1 ) R3 ( R1 + R2 )
junction menyebabkan proses transisi
Persamaan 2 transistor yang konduksi dari QN ke QP dan
Pada penguat daya kelas A sumber arus bias sebaliknya akan melalui saat kedua transistor
akan selalu mendisipasikan daya mendekati dalam keadaan cut-off. Keadaan tersebut
VCC IBIAS. Daya yang terdisipasi pada transistor menyebabkan sinyal output terdistorsi.
tahap output akan berkisar dari VCC IBIAS saat
amplituda tegangan input nol hingga V CC Pada penguat kelas B, dengan menganggap
IBIAS/2 saat amplituda input maksimum tegangan cut-in nol, arus yang diberikan catu
(mendekati VCC). daya dapat didekati sebagai half wave
rectifed sinusoidal wave untuk masing-
PENGUAT KELAS B PUSH-PULL masing transistor. Dengan demikian daya
Penguat kelas B pushpull menggunakan rata-rata yang diberikan catu daya akan
pasangan transistor NPN dan PNP (juga nMOS mendekati
dan pMOS) yang seimbang dengan
konfigurasi emitor bersama. Rangkaian dasar 2V^O
PS = V Persamaan 3
untuk tahap ouput penguat kelas B pushpull R L CC
tampak pada Gambar 3.
Daya yang disampaikan pada beban

1V^ O2
PL = Persamaan 4
2 RL
Dengan demikian daya terdisipasi pada
masing-masing transistor akan bergantung

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 2


pada amplituda tegangan output atau
tegangan inputnya.

1 V^ O 1V^ O2
PDQ = V CC Persamaan
RL 4 RL
5
Ouput pada penguat kelas B pushpull
mengalami distorsi cross over saat
pergantian transistor yang konduksi akibat
adanya tegangan cut-in pada transistor vIN
tersebut. Untuk menghilangkan distorsi vE
tersebut dapat digunakan rangkaian umpan vO
balik dengan penguat operasional. Rangkaian
penguat kelas B seperti ini tampak pada
Gambar 4. Umpan balik dengan penguat
operasional ini tidak hanya menekan distorsi
cross over tetapi juga menekan distorsi
akibat ketidakseimbangan penguatan arus
transistor NPN dan PNP. Penguat operasional
pada rangkaian ini akan menjaga tegangan
output sama dengan tegangan inputnya.
Selesih tegangan input dan output akan
membuat penguat operasional memmberikan
tegangan lebih tinggi bila tegangan pada
beban ternyata lebih rendah dari input dan +VCC
+VCC
begitu pula sebaliknya.

VIN
RL
-VCC
-VCC

Gambar 4 Rangkaian penguat pushpull


kelas B dengan umpanbalik dengan opamp

PENGUAT KELAS AB PUSH-PULL


Cara lain untuk memekan distorsi cross over
pada penguat B adalah dengan kedua
transistor tetap konduksi saat tegangan input
sekitar nilai nol. Untuk itu transistor diberikan
tegangan bias yang cukup pada junction
base-emitor. Pada cara ini transistor bekerja
pada kelas AB.

Cara sederhana untuk memperoleh tegangan


bias yang menjamin transistor dalam
keadaan konduksi saat tegangan input
kurang dari tegangan cut-in adalah dengan

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 3


menggunakan dioda seperti ditunjukkan pada
Gambar 5.

BACAAN LANJUT
Sedra, A dan Smith, K. Microelectronic
Circuits, International 6th Edition, Oxford
University Press, 2011 Bab 4 Transistor BJT
dan Bab 13 Tahap Output dan Penguat Daya.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 4


Gambar 5 Penguat pushpull kelas AB
+VCC dengan dioda untuk pemberi tegangan bias

R1 2.1 JUDUL SUB-BAB


QN Sub-bab pada modul kali ini yaitu:
Penguat kelas A
D1
RS Penguat Pushpull kelas B
Penguat Pushpull kelas AB
D2
RL Disipasi pada Transistor dan
VIN
QP Rangkaian Termal

R2 3. METODOLOGI
Alat dan komponen yang digunakan adalah:
-VCC
Kit praktikum penguat daya 1
Generator signal 1
Osiloskop digital dengan fungsi FFT 1
Multimeter (minimum 2)
Catu daya te-regulasi 2
Kabel dan aksesori pengukuran
Thermometer inframerah
Memulai Percobaan

1. Penguat Kelas A
Menyusun rangkaian

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 5


Pengamatan Kualitatif Linearitas dan VTC

Pengamatan Linearitas Kuantitatif

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 6


2. Penguat Pushful Kelas B
Menyusun rangkaian

Pengamatan Kualitatif Linearitas dan VTC

Pengamatan Linearitas Kuantitatif


Pengamatan Daya Disipasi Penguat dan
Beban

Pengamatan Daya Disipasi Penguat dan


Beban

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 7


Menyusun rangkaian

Pengamatan tahap output kelas B dengan Pengamatan Kualitatif Linearitas dan VTC
umpan balik Penguat Operasional

Pengamatan Linearitas Kuantitatif

Pengamatan Daya Disipasi Penguat dan


Beban

3. Penguat pushful kelas AB


Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 8
4. HASIL DAN ANALISIS

4.1 PENGUAT KELAS A


Pengamatan Kualitatif Linearitas
dan VCT
Pada percobaan pertama ini dilakukan
pengamatan kualitratif linieritas dan VTC
pada penguat kelas A. Dibuat rangkain
penguat kelas A terlebih dahulu dengan nilai-
nilai komponen sesuai dengan metodologi.
4. Disipasi pada Transistor dan Lalu diberikan input penguat yang berasal
Rangkaian Thermal dari generator sinyal sinusoidal dengan input
tegangan sebesar 2 Vpp dan frekuensi 1 kHz.
Kemudian diperoleh hasil sinyal sebagai
berikut :

Mengakhiri Percobaan

.
Dari gambar diatas (Gambar 7 dan 8) terlihat
bahwa sinyal input hampir identic dengan
sinyal
output, dimana tegangan output memiliki
peak to
peak yang sama (hanya bergeser kebawah)
dengan tegangan inputnya. Hal ini berarti
bahwa
penguatan yang dihasilkan pada penguat
kelas A
adalah mendekati 1. Selain itu terlihat pula
dari
kutva karakteristik VTC yang dihasilkan
berbanding lurus (linier) atau memiliki
kemiringan 1 V/V.
Pada saat tegangan output diperbesar hingga
mendekati batas saturasinya, tegangan
inputnya

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 9


yaitu sebesar 7.28 Vpp. Berikut kurva saturasi untuk RL 56 dan 33 diketahui
karakteristik bahwa semakin kecil nilai resistansi beban
VTC dan sinyal input-output mode dual trace (RL) maka semakin kecil pula swing
saat outputnya sehingga batas saturasinya
terjadinya saturasi : semakin turun.
Pengamatan Linearitaas Kualitatif
Dikembalikan beban pada nilai resistansi
beban
sebesar 56 . Lalu diturunkan tegangan input
menjadi dibawah 7.2 Vpp. Dengan
menggunakan
mode Fast Fourier Transfor (FFT) pada
osiloskop,
kita dapat mengamati sinyal penjumlahan
dari
berbagai sinyal sinusoidal.

Frekuensi Sinyal input Sinyal output


1 kHz 4,92 dB 4,84 dB
Table 2 pengukuran amplitude spectrum
pada saat Vin << V batas saturasi dan saat
Vin >> V batas saturasi

Frekuensi / Vin kecil Vin besar


spektrum
1 kHz -3,5 dB 15,2 dB
2kHz Tidak tercatat -7,13 dB
3 kHz Tidak tercatat Tidak tercatat
Pada pengamatan linieritas kuantitatif ini,
diperolehh tiga kondisi sinyal input yang
berbeda
yaitu saat sinyal input berada dibawah batas
saturasi, pada batas saturasi dan diatas
batas
saturasi. Saat sinyal input berada dibawah
batas
saturasi, sinyal output masih berbentuk
sinusoidal
dan pada FFT nya hanya menghasilkan
amplitude
sinyal pada frekuensi dasar saja. Berbeda
halnya
ketika kita mengamati saat sinyal berada
pada
batas saturasi dan diatas daerah saturasi,
sinyal
Besarnya tegangan input saat outputnya output menjadi terpotong atau dengan kata
berada lain
pada batas saturasi yaitu sebesar 2,8 Vpp. sinyal output sudah mulai mengalami
Pada Gambar 10 terlihat bahwa sinyal output distorsi.
terpotong pada bagian bawah. Batas saturasi Sinyal output tidak berbentuk sinyal
bawah pada penguat kelas A bergantung sinusoidal lagi, sehingga pada FFT nya tidak
pada besarnya nilai resistansi beban. Apabila hanya menghasilkan amplitude sinyal
dibandingkan besarnya tegangan saat

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 1


0
frekuensi dasar saja tetapi juga amplitude
pada frekuensi harmonic kedua dan ketiga.
Karakteristik lain dari sinyal spectrum yang
dihasilkan yaitu amplitude sinyal
harmoniknya
menjadi semakin mengecil. Hal tersebut
menandakan distorsi semakin terlihat saat
tegangan melebihi daerah saturasi. Selain itu
semakin besar frekuensi, maka semakin kecil
pula
spectrum amplitudenya. Karaketeristik ini
menjelaskan mengapa untuk nilai tegangan
input yang berbeda-beda menghasilkan nilai
penguatan Untuk tegangan input dan output yang kecil,
yang berbeda-beda pula meskipun menghasilkan daya beban dan disipasi yang
perbedaannya kecil
sangat kecil. pula. Sehingga dapat dikatakan bahwa daya
beban dan daya disipasi berbanding lurus
Pengamatan Daya disipasi dan daya dengan nilai tegangan input dan outputnya.
beban Berdasarkan
Selanjutnya dilakukan pengukuran nilai arus perhitungan daya diatas, diperoleh bahwa
pada daya
bjt yang dihubungkan dengan catu daya disipasi rata-rata transistor adalah sebesar
positif, 0.583 W.
arus pada bjt yang dihubungkan dengan catu Untuk input paling besar 10 Vpp
daya negative, serta dilakukan pengukura menghasilkan
tegangan output pada beban. Berikut data daya disipasi yang cukup kecil yaitu 11.58 %.
yang diperoleh : Sehingga diperoleh pula range efisiensi yaitu
sekitar 0.4 11.58 %. Teori pada referensi [2]
menyatakan bahwa efisiensi untuk penguat
kelas A berselang antara 10-20 % dan
efisiensi maksimum 25 %. Apabila
Vinput I+ (mA) I- (mA) Vo (V) dibandingkan, maka hasil percobaan dapat
Vmin 1,188 x Tidak 1,07 dikatakan sudah mendekati teori. Namun
10^-3 terbaca karena beberapa kesalahan yang mungkin
terjadi saat percobaan (seperti ketidak
2Vpp 0,724 2,04 1,42 telitian praktikan dalam pengukuran nilai
4Vpp 1,101 10,46 1,67 arus dan tegangan) sehingga menghasilkan
data yang tidak sama persis dengan teori.
6Vpp 1,208 19,37 2,93
10Vpp 1,301 32,46 3,74 4.2 PENGUAT PUSHFUL KELAS B
Setelah data I+, I-, serta Vo seperti table Pengamatan Kualitatif Linearitas
diatas, dan VCT
dengan menggunakan rumus (F 2) (F 5)
dilakukan perhitungan untuk mencari daya Pada percobaan kedua ini dilakukan
sumber, daya beban, daya disipasi, dan pengamatan kualitatis linieritas dan VTC
efisiensi sama seperti pada percobaan 1 namun
penguat sebagai berikut : dengan rangkaian penguat kelas B. Berikut
hasil pengamatan yang diperoleh :

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 1


1
6 46,625 59 1,29
10 54,316 59,3 2,81

Pada Gambar 12 dan 13 diatas dapat terlihat


bahwa sinyal input dan output tidak linier.
Meskipun sinyal input diatur pada nilai yang
masih berada dibawah nilai saturasi, namun
sinyal output yang dihasilkan sudah
mengalami distorsi cross-over (sesuai dengan
teori). Terjadnya distorsi ini disebabkan
karena terdapat tegangan cut-in junction
pada transistor yang menyebabkan
perpindahan kondisi aktif transistor dari
transistor NPN ke transistor PNP dan
sebaliknya. Sehingga untuk nilai input pada Dapat dilihat bahwa pada tegangan input dan
range batas tegangan VBE (-0.7 V sampai 0.7 output yang kecil, menghasilkan daya beban
V), transistor tidak diperkuat karena dan
transistor berada pada daerah cut-of. disipasi yang kecil pula. Sehingga dapat
dikatakan
Pengamatan Linearitas Kualitatif bahwa daya beban dan daya disipasi
Selanjutnya dilakukan perngamatan linieritas berbanding lurus (linier) dengan nilai tegangan
kuantitatif seperti pada penguat kelas A, dan input dan
diperoleh data sebagai berikut : outputnya. Berdasarkan data perhitungan daya
diatas, didapatkan daya disipasi rata-rata
sebesar
63.6 mW. Selain itu, ada input maksimum
sebesar
Frekuensi/spectrum Input Output 10 Vpp diperoleh nilai efisiens yang cuku besar
yaitu 58.14 %. Berdasarkan teori pada referensi
1kHz 7,22 dB 6,86 dB
[2]
Saat Vin minimum FFT tidak terlihat. menyatakan bahwa untuk penguat kelas B,
Berdasarkan teori, pada keadaan sinyal input memiliki nilai maksimum efisiensi sebesar /4
berada dibawah nilai batas saturasinya , FFT atau
nya menghasilkan amplitude sinyal pada 78.5 %. Jika membandingkan kedua nilai
frekuensi dasar, harmonic pertama, dan efisiensi
harmonic kedua. Hal ini dikarenakan pada tersebut maka dapat dikatakan bahwa
keadaan tersebut sinyal output sudah praktikum
mengalami distorsi. Sehingga jika sinyal input telah berhasil karena data yang diperoleh telah
terus dinaikan pada nilai batas saturasi atau sesuai dengan referensi teori yang ada.
melebihinya, maka nilai amplitude
frekuensinya akan semakin besar. Selain itu, Pengamatan Tahap output Kelas B
pada penguat kelas B ini range nilai sebelum dengan feedback dari op-amp
batas saturasinya lebih lebar dari penguat Selatelah dilakukan pengamatan pada
kelas A. penguat
Pengamatan daya disipasi dan keas B, juga dilakukan pengamatan pada
penguat
daya pada beban
kelas B yang diberi umpan balik (feedback)
penguat
operasional. Berikut hasil yang diperoleh :

Vin (Vpp) I+ (mA) I- (mA) Vo (V)


Minimum 46,94 59,8 5,0
2 45,948 58,8 0,15
4 45,84 58,7 0,73

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 1


2
inputnya. Tidak hanya itu, op amp juga
berperan
untuk menekan distorsi akibat ketidak
seimbangan penguatan arus transistor NPN
dan PNP.
Dilihat dari kurva karakteristik tegangan,
output
op amp terlihat sebagai komplemen dari
sinyal
distrosi cross-over sehingga apabila kedua
sinyal
dijumlahkan maka diperoleh kurva
karakteristik
yang linier.
Untuk hasil FFT saat sinyal input berada
dibawah
nilai batas saturasi hanya memiliki frekuensi
dasar.
Lalu sinyal input yang melewati nilai batas
saturasinya memiliki frekuensi dasar,
harmonic kedua, dan harmonic ketiga.
Table 9 pengamatan spektrum FFT penguat
kelas B dengan feedback opamp

Frekuensi desibel
1 kHz 7,26 dB
3,1 kHz -18,7 dB
4,1 kHz Tidak tercatat
Berdasarkan data pengamatan kualitatif pada
percobaan diatas diketahui bahwa penguatan
tidak murni linier. Hal ini karena yang
semakin besar frekuensi harmoniknya,
amplitude sinyal yang dihasilkan menjadi
semakin kecil. Sehingga ketidaklinieraan
lebih kecil jika dibandingkan dengan penguat
kelas B tanpa menggunakan feedback
dengan op amp
Daya beban dan disipasi pada
penguat kelas B dengan feedback
opamp
Percobaan ini dan selanjutnya tidak
mendapatkan data karena kehabisan waktu
saat praktikum. Tetapi berdasarkan simulasi,
didapatkan sifat dari penguat kelas B dengan
feedback opamp yaitu efisiensinya
Berbeda dengan hasil penguatan kelas B berkurang.
sebelumnya, penguat kelas B dengan umpan
balik
op amp menghasilkan sinyal output yang
4.3 PENGUAT PUSHFULL KELAS AB
Percobaan ini tidak sempat dilakukan karena
hampir
sama dengan sinyal inputnya (penguatan 1) kehabisan waktu. Berdasarkan simulasi, sifat
dan dari penguat kelas AB adalah batas Vin agar
tidak terdapat distorsi. Penambahan op amp terjadi distorsi pada output menjadi lebar dan
pada tidak ada cross-over distorsion seperti pada
penguat kelas B ini berfungsi untuk menjaga penguat kelas B.
tegangan output agar sama dengan
tegangan
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 1
3
4.4 DISIPASI PADA TRANSISTOR DAN dihasilkan pada penguat kelas B
RANGKAIAN TERMAL berbanding lurus dengan inputnya.
Distorsi cross-over yang terjadi pada
Percobaan ini tidak sempat dilakukan dan penguat kelas B ini, dapat
tidak dapat disimulasikan di rumah. minimalisasi dengan penambahan
rangkaian umpan balik (feedback)
5. KESIMPULAN operasional amplifier . Namun dengan
Percobaan yang dilakukan pada praktikum 6 penambahan feedback ini dapat
tahap output penguat daya ini bertujuan mengurangi sedikit efisiensi dari
antara lain untuk mengamati karakteristik rangkaian
dari ketiga kelas penguat yaitu kelas A, B, Penguat kelas AB merupakan kelas
dan AB. Setelah yang
dilakukan pengamatan, maka diperoleh mengkombinasikan kelebihan-
kesimpulan sebagai berikut : kelebihan
Tahap output penguat daya terdiri dari dari penguat kelas A dan penguat
beberapa kelas yang tiap-tiap kelas kelas B.
tersebut memiliki kelemahan dan Dari rangkain penguat kelas AB hasil
kelebihan masing-masing. Faktor yang yang diperoleh yaitu sinyal output
memberdakan tiap kelas tersebut dengan swing yang baik serta
yaiut dilihat dari batas penguatannya, linieritas yang baik namun dengan
linieritas (kualitatif dan kuantitatif), tidak adanya distorsi cross-over.
daya disipasinya, serta efiensi yang Secara garis besar dapat disimpulkan
dihasilkan. bahwa untuk batas penguatan,
Kelas penguat yang linier secara linieritas, daya disipasi, dan efisiensi
kualitatif dari suatu penguatan paling baik
belum tentu dapat dikatakan linier adalah penguat kelas AB., dan
secara penguat kelas A lebih baik daripada
kuantitatif. penguat kelas B.

Penguat kelas A memiliki swing sinyal DAFTAR PUSTAKA


yang baik, namun untuk batas bawah
sinyalnya masih terpengaruh oleh nilai [1] Mervin T.,Hutabarat, Praktikum
RL Rangkaian Elektrik, Laboratorium
yang digunakan (apabila arus bias Dasar Elektro ITB, 2017
tidak
[2] Adel S. Sedra and Kennet C. Smith,
mencukupi). Distorsi saturasi terjadi
ketika rangkaian diberi tegangan input Microelectronic Circuits, Oxford
yang terlalu besar. Pada penguat kelas University Press,
A, daya disipasi yang dihasilkan cukup USA, 2004.
besar [3] https://arhild.wordpress.com/2012/
sedangkan efisiensi maksimumnya
01/07/penguat-kelas-a/, 9 April
cukup
kecil (berkisar antara 10 20 %). 2017, 10:40.

Penguat kelas B terjadi distorsi cross- [4] https://tektro2011.files.wordpress.c


over om/2013/02/chapter_7_output_peng
yang disebabkan karena adanya uat_daya.pdf, 9
tegangan April 2017, 10:39.
cut-in pada transistor. Daya disipasi
yang

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB 1


4