Anda di halaman 1dari 4

REVIEW JURNAL: Isolasi, identifikasi and evaluasi

antimikobacteri piperine dari piper longum

Review jurnal oleh:

Nama : Nur Elida

No. Bp : 1511012033

Shift : jumat siang

I. Identifikasi Jurnal

Judul : Isolasi, identifikasi and evaluasi antimikobacteri


piperine dari piper longum

Jurnal : Der Pharmacia Lettre

Volume dan halaman : volume 4 Hal. 863-868

Tahun : 2012

Penulis : Deepthi Swapna P, Junise V, Shibin P, Senthila S,


Rajesh R S

II. Review Jurnal

Pada pendahuluan penulis menjelaskan bahwa tuberkolosis merupakan


masalah kesehatan di dunia yang disebabkan oleh basil mycobacterium
tubercolosis . Hal ini telah di coba diatasi dengan pemberian Isoniazid,
rifampisin, etambutol dan piramizid yang merupakan obat oral paling efektif
sebagai anti-TB . namun munculnya Multi Drug Resisten (MDR) dan Ekstensif
Drug Resisten (XDR), efek samping pada agen anti TBC dan degradasi obat
sebelum mencapai target menjadi kelemahan utama dari terapi
konvensional.

Dalam study farmakologi telah diungkapkan bahwa piperin Piperin ini


menimbulkan beragam efek aktivitas farmakologi, analgesik, antipiretik, anti
inflamasi, anticonvulsant, aktivitas CNS-depresan dan aktivitas
antimikobaKteri. Piperin diisolasi dari Piper longum Linn dari famili
piperaceae. Oleh karena itu penulis melakukan penelitian ini dengan tujuan
untuk mengisolasi, mengidentifikasi piperin alkaloid dari Piper longum dan
untuk memastikan kemurniannya dengan berbagai metode seperti FTIR, UV
dan DSC dan juga evaluasi sifat antimikobakteri.
Dalam penelitiaan ini digunakan buah piper lingnum yang telah dikeringkan
dan digerus menjadi bubuk kasar.kemudian di ekstraksi dengan cara
tempatkan 15g lada dalam 250ml peralatan soklet, lalu tambahkan 15o ml
etanol 95% dan 5 chip pendidih dan di panaskan pada refluks selama 2 jam.
Hasil pencampuran disaring oleh filtrasi hisap lalu konsentrasi filtrat untuk
volume 10-15 ml dengan destilasi sederhana atau menggunakan rotavapor.

Etanol 95% dari ekstrak buah kering piper longum dites kimia secara
terpisahuntuk identifikasi alkaloid. Disini peneliti melakukan 4 macam tes,
yaitu:

a. Mayer Test: untuk 1ml ekstrak ditambahkan ke dalam 2ml pereaksi


Mayer's, terbentuknya presipitan putih menunjukkan kehadiran alkaloid.

b. reagen Dragendroff: untuk 1ml ekstrak ditambahkan reagent 1ml


Dragendroff, terbentuknya merah oranye menunjukkan kehadiran alkaloid.

c. hager Test: untuk 1ml ekstrak ditambahkan 3ml reagen hager,


terbentuknya warna kuning menunjukkan kehadiran alkaloid.

d. Wagner Test: untuk 1ml ekstrak ditambahkan ke 2ml pereaksi Wagner,


terbentuknya warna coklat kemerahan menunjukkan kehadiran alkaloid.

Selanjutnya dilakukan proses isolasi. Untuk 10mL dari campuran 10% KOH
dalam 95% ethanol dicampurkan dalam erlemeyer 125mL lalu ta,bahkan
konsentrat ekstrak lada. Panaskan hasil larutan dan tambahkan ait etes
demi tetes. Akan terbentuk presipitat kuning. Tambahkan air hingga tidak
lebih padat nampaknya dan kemudian biarkan campuran semalaman untuk
mengumpulkan padatan oleh filtrasi hisap lalu di rekristalisasi dengan
aseton 10-20 ml

Lalu piperin diidentifikasi dengan beberapa cara

1. Kromatografi lapis tipis


Piperin ditotolkan dan diaktifkan plate silika gel KLT. Fasa gerak yang
digunakan adalah toluena: etil asetat 70:3 dan agen pendeteksi adalah
reagen asam Vanillin Sulfur. Setelah dilakukan KLT terlihat bintik-bintik
kuning Piperine yang dapat dilihat secara visual. Lalu nilai rf dihitung.
2. Spektroskopi FTIR
15mg hasil isolasi Piperine dan 300 mg KBr (kalium bromida) diambil di
sebuah mortir dan dicampur. Campuran ditempatkan ke dalam
evacuable die di laboratorium hidrolik dan dikompresi di bawah tekanan
10 ton untuk membentuk pelet transparan. tempatkan KBr pellet dalam
dudukan pelet dan masukkan ke dalam spectrophotometer IR. Spektrum
pellet diambil dari 4000 cm-1 sampai 400 cm-1.
3. Spektroskopi UV
Larutkan 100mg Piperine terisolasi dalam labu Volumetrik 100ml lalu
buat volume sampai tanda dengan ethanolic HCl (1:1) (100g/ml). dari
campuran diambil 5ml untuk labu Volumetrik 100ml dan membuat
volume (50g/ml). Sampel dipindai di spectrophotometer UV. Puncak-
puncak yang diperoleh dalam spektrum dibandingkan.
4. Colorimeter
Sampel (3-5 mg) ditempatkan di panci aluminium dan tutup lalu
dipanaskan dengan pemanasan konstan 15 C/menit, meliputi Rentang
suhu 300 c. Nitrogen digunakan sebagai gas pembersih melalui sel
colorimeter. Instrumen akan mengukur perbedaan dalam aliran panas
antara sampel dan referensi.

Studi ANTI-MIKOBAKTERI

Kegiatan anti-TB senyawa diuji oleh Resazurin Microplate Assay (REMA)


sesuai Martin et al (2003) dengan sedikit modifikasi. Resazurin, pewarna
redoks, membentuk warna biru dalam keadaan teroksidasi. Hasil akan
tereduksi menjadi resorufin, membenttuk warna pink. M. TBC H37Rv
tumbuh di kaldu Middlebrook 7H dilengkapi dengan 10% OADC dan gliserin
0,5%. Optik kepadatan budaya bakteri telah disesuaikan untuk unit
McFarland 1.0 dan 50 L penangguhan ini digunakan sebagai inoculum. Lalu
dibuat solusion. sampel diuji pada Dimethyl Formamide (DMF) dan
ditambahkan ke media yang segar di microplate 96 untuk 50L inoculum
dan membuat total assay volume 200 L. Akhir tes molekul adalah 1, 10
dan 100 g/ml. Rifampicin (1.0 g/ml) digunakan sebagai positif control
untuk penghambatan pertumbuhan. Negatif kontrol terdapat pada volume
tertinggi DMF yang digunakan dalam tes tanpa senyawa apapun. Setelah
inkubasi 370 c selama 7 hari, 15 L dari 0,01% resazurin solusi dalam air
steril ditambahkan ke kontrol pertumbuhan pertama dan diinkubasi selama
24 jam. Setelah set pertama pertumbuhan kontrol berubah merah muda,
solusi pewarna yang ditambahkan ke set kedua pertumbuhan kontrol dan
sumur tes, dan diinkubasi selama 24 jam pada 370 C. Warna biru pada
sumur yang mengandung senyawa tes menunjukkan penghambatan
pertumbuhan dan merah muda akan menunjukkan kurangnya
penghambatan pertumbuhan M. TBC

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hasil klt bernila 0,245 dengan panjang
gelombang 343nmhal ini hampir sama dengan referensi yang menunjukkan
nilai rf seharusnya adalah 0,25. Dari STUDI FTIR yang dilakukan diperoleh
puncak murni piperin. Pada pengujian anti-mikobakteri diperoleh warna biru
pada mikroplate yang menunjukkan adanya penghambatan pertumbuhan
M. TBC H37Rv strain dalam semua konsentrasi Rifampicin (1g/ml, 10g/ml,
100 g/ml).

Sehingga dari penelitian yang dilakukan peneliti dapat mengukuhkan


Kemurnian terisolasi piperine oleh FTIR dan DSC studi. Dari Anti-mikobakteri
studi disimpulkan piperine terisolasi memiliki aktivitas anti-mikobakteri lebih
baik bila dibandingkan dengan riampicin