Anda di halaman 1dari 24

MODUL 3

TETES MATA ATROPIN SULFAT

1. TUJUAN
Dapat mengetahui cara pembuatan obat tetes mata atropin sulfat secara umum
dan dapat menentukan formula yang cocok untuk pembuatan sediaan obat tetes mata
atropin sulfat.

2. PRINSIP
Berdasarkan cara pembuatan dengan metode sterilisasi aseptik menggunakan
zat pembawa dan zat tambahan yang sesuai dengan karakteristik atropin sulfat.

3. TEORI
3.1. Definisi sediaan tetes mata
Steril adalah keadaan suatu zat yang bebas dari mikroba hidup, baik yang
patogen (menimbulkan penyakit) maupun apotogen atau nonpatogen (tidak
menimbulkan penyakit), baik dalam bentuk vegetatif (siap untuk berkembang
biak) maupun dalam bentuk spora (dalam keadaan statis tidak dapat
berkembang biak, tetapi melindungi diri dengan lapisan pelindung yang kuat).
Tidak semua mikroba dapat merugikan, misalnya mikroba yang terdapat dalam
usus yang dapat membusukkan sisa makanan yang tidak terserap oleh tubuh.
Mikroba patogen misalnya Salmonella thyposa yang menyebabkan penyakit
tifus dan E. Coli yang menyebabkan sakit perut.
Sterilisasi adalah suatu proses untuk membuat ruang atau benda menadi
steril. Sanitasi adalaha suatu proses untuk membuat lingkungan menjadi sehat
(Syamsuni. 2007: 181). Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk
terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang
termasuk sediaan ini antara lain sediaan parental preparat untuk mata dan
preparat irigasi (misalnya infus). Sediaan parenteral merupakan jenis sediaan
yang unik diantara bentuk sediaan obat terbagi-bagi, karena sediaan ini

1
2

disuntikkan melalui kulit atau membrane mukosa ke bagian tubuh yang paling
efisien, yaitu membrane kulit dan mukosa, maka sediaan ini harus bebas dari
kontaminasi mikroba dan dari bahan-bahan toksis lainnya, serta harus memiliki
tingkat kemurnian yang tinggi. Semua bahan dan proses yang terlibat dalam
pembuatan produk ini harus dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua
jenis kontaminasi, apakah kontaminasi fisik, kimia, atau mikrobiologis
(Priyambodo, B., 2007).
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, obat tetes adalah sediaan cair
berupa larutan, emulsi atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam atau obat
luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasil
tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penates baku (FI III, 1979 : 10).
Larutan mata steril adalah steril berair atau berminyak solusi dari alkaloid,
alkalida garam, antibiotik, sulfonamida, steroid, enzim, antihistamin, pewarna,
metabolisme antagonis, atau zat lain. Solusi tersebut dimaksudkan untuk
instalasi ke dalam cul-de-sac yaitu ruang antara bola mata dan kelopak mata.
Larutan mata dapat digunakan baik sebagai tetes (tetes mata) atau sebagai
mencuci (lotion mata).
Sediaan tetes mata adalah cairan atau suspense steril yang mengandung
satu atau lebih zat aktif, tanpa atau dengan penambahan zat tambahan yang
sesuai. Sediaan ini digunakan pada mata dengan cara meneteskan obat tersebut
pada selaput lender disekitar kelopak dan bola mata. Sediaan tetes mata
merupakan larutan steril yang dalam pembuatannya memerlukan pertimbangan
yang tepat terhadap pemilihan formulasi sediaan, seperti penggunaan bahan
aktif, pengawet, isotonisitas, dapar,viskositas dan pengemasan yang cocok.
Sediaan tetes mata biasanya mengandung satu atau lebih bahan aktif, dan
merupakan elemen terpenting yang memberian efek terapeutik.

3.2. Sifat-sifat sediaan tetes mata


3.2.1. Sifat-sifat yang harus dimiliki tetes mata antara lain :
3

A. Steril ketika dihasilkan.


B. Bebas dari partikel-partikel asing.
C. Bebas dari efek mengiritasi.
D. Mengandung pengawet yang cocok untuk mencegah pertumbuhan
dari mikroorganisme yang dapat berbahaya yang dihasilkan
selama penggunaan.
E. Jika dimungkinkan larutan berair seharusnya isotonis dengan
sekresi lakrimal konsentrasi ion hidrogen sebaliknya cocok untuk
obat khusus, dan idelanya tidak terlalu jauh dari netral.
F. Stabil secara kimia.

3.3. Faktor-faktor penting sediaan tetes mata


3.3.1. Faktor-faktor yang sangat penting dalam sediaan tetes mata :
A. Ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan.
B. Sterilisasi akhir dari collyrium dan kehadiran bahan antimikroba
yang efektif untuk menghambat pertumbuhan dari banyak
mikrorganisme selama penggunaan dari sediaan.
C. Isotonisitas dari sediaan.
D. Ph yang pantas dalam pembawa untuk menghasilkan stabilitas
yang optimum.

3.4. Pengujian evaluasi terhadap sediaan tetes mata


3.4.1. Kejernihan
Larutan mata harus bebas dari partikel asing dan jernih, kejernihan
ini dapat diperoleh dengan filtrasi. Sangat penting melakukan filtrasi dan
pencucian peralatan filtrasi harus baik agar bahan-bahan partikulat tidak
ikut masuk pada larutan tetes mata. Diperlukan desain peralatan alam
proses filtrasi. Selain itu pengerjaannya harus dilakukan dilingkungan atau
ruangan yang bersih.
Penggunaan Laminar Air Flow diperlukan untuk penyiapan larutan
jernih bebas partikel asing. Penjernihan dan sterilisasi dilakukan dalam
langkah filtrasi yang sama. Penting diperhatikan, larutan jernih juga
digunakan untuk membersihkan wadah (tempat penyimpanan) dan tutup,
selain itu wadah harus bersih, steril dan tertutup rapat. Wadah dan tutup
4

seharusnya tidak membawa partikel dalam larutan tetes mata selama


kontak lama sepanjang penyimpanan. Biasanya dilakukan test sterilitas
untuk memastikannya.
3.4.2. Stabilitas
Stabilitas obat dalam larutan tergantung pada sifat kimia bahan obat,
pH produk, metode penyimpanan (khususnya pengaturan suhu), zat
tambahan larutan dan tipe pengemasan. Obat seperti pilokarpin dan
fisostigmin, aktif dan cocok pada mata pada pH 6.8. pH stabilitas kimia
(atau kestabilan) dapat diukur dalam beberapa hari atau bulan. Pada obat
ini, bahan kehilangan stabilitas kimia kurang dari 1 tahun. Sebaliknya pada
pH 5, kedua obat stabil dalam beberapa tahun. Untuk mengoptimalkan pH
ada beberapa faktor yang mempengaruhi antaralain sensitivitas oksigen dan
stabilitas adekuat antioksidan yang diinginkan. Kemasan plastik berupa
polietilen dengan densitas rendah Droptainer memberikan kenyamanan
pasien, selain itu dapat meningkatkan deksimental untuk kestabilan melalui
pelepasan oksigen menghasilkan dekomposisi oksidatif bahan-bahan obat.
3.4.3. Buffer dan pH
Idealnya, sediaan mata berada pada pH yang ekuivalen dengan cairan
mata yaitu 7,4. Dalam prakteknya, ini jarang dicapai. Mayoritas bahan aktif
dalam optalmologi adalah garam basa lemah dan paling stabil pada pH
asam. Contohnya suspensi kortikosteroid yang tidak larut biasanya paling
stabil pada pH asam. Untuk mencapai pH optimum yang diinginkan
umumnya berdasarkan kesepakatan oleh formulator. pH juga diseleksi
optimum untuk mencapai kestabilan. Sistem buffer diseleksi agar
mempunyai kapasitas adekuat untuk memperoleh pH dengan rentang
stabilitas untuk durasi umur produk. Kapasitas buffer adalah kunci utama,
situasi ini.
3.4.4. Tonisitas
Tonisitas berarti tekanan osmotik yang diberikan oleh garam-garam
dalam larutan berair, larutan mata adalah isotonik dengan larutan lain
ketika magnefudosifat koligatif larutan adalah sama. Larutan mata
dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan 0,9% larutan Na
Cl. Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas daripada suatu
5

waktu yang diusulkan. Maka mata biasanya dapat mentoleransi larutan


sama untuk range 0,5%-1,8% NaCl. Isotonisitas selalu dikehendaki dan
khususnya penting dalam larutan intraokuler. Namun demikian, hal ini
tidak dibutuhkan ketika saat mempertimbangkan total stabilitas produk.
3.4.5. Viskositas
USP mengizinkan penggunaan bahan pengkhelat viskositas untuk
memperpanjang lama kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat dan
aktivitasnya. Bahan-bahan seperti metilselulosa, polivinil alkohol dan
hidroksi metil selulosa ditambahkan secara berkala untuk meningkatkan
viskositas. Para peneliti telah mempelajari efek peningkatan viskositas
dalam waktu kontak dalam mata. umumnya viskositas meningkat 25-50 cps
range yang signifikan meningkat lama kontak dalam mata.

3.5. Syarat yang perlu diperhatikan pada sediaan tetes mata


3.5.1. Additives/Tambahan
Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata diperbolehkan,
namun demikian pemilihan dalam jumlah tertentu. Antioksidan, khususnya
natrium bisulfat atau metabisulfat, digunakan dengan konsentrasi sampai
0,3%, khususnya dalam larutan yang mengandung garam epinefrin.
Antioksidan lain seperti asam askorbat atau asetilsistein juga digunakan.
Antioksidan berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi
epinefrin. Penggunaan surfaktan dalam sediaan mata juga dibatasi.
Surfaktan nonionik, kelas toksis kecil seperti bahan campuran digunakan
dalam konsentrasi rendah khususnya suspensi hal ini berhubungan dengan
kejernihan larutan. Penggunaan surfaktan, khususnya beberapa konsentrasi
signifikan sebaiknya dengan melihat karakteristik bahan-bahah misalnya
incompatibilitas dan interaksi bahan-bahan. Sebagai contoh surfaktan
nonionik dapat bereaksi dengan adsorpsi dengan komponen pengawet
antimikroba dan inaktif sistem pengawet.
Surfaktan kationik digunakan secara bertahap dalam larutan mata
tetapi hampir invariabel sebagai pengawet antimikroba. Penggunaan
Benzalkonium klorida biasanya berada dalam range 0,01-0,02%
pembatasan konsentrasi ini berdasarakan faktor toksisitas. Benzalkonium
6

klorida sebagai pengawet digunakan dalam jumlah besar dalam larutan dan
suspensi mata
3.5.2. Isotonis
Untuk mendapatkan isotonisitas dalam larutan mata, sekresi lakrimal
sekarang dipertimbangkan untuk memperoleh tekanan osmotik yang sama
dengan cairan darah, dan kemudian menjadi isotonis dengan 0,9% larutan
natrium klorida, perhitungan untuk penyiapan larutan mata isotonis telah
disederhanakan. Farmasis selanjutnya selalu menuntut, sebagai bagian dari
praktek profesionalnya, untuk menyiapkan larutan mata yang isotonis.
Tonisitas adalah tekanan osmotik yang diberikan oleh garam dalam larutan
berair. Larutan mata adalah isotonik dengan cairan lain ketika magnetudo
sifat koligatif larutan adalah sama. Larutan yang dipertimbangkan isotonik
ketika tonisitasnya sama dengan larutan NaCl 0,9%.
Perhitungan isotonisitas dalam suatu waktu mendapat penekanan
yang lebih berat. Calon farmasis harus diajarkan persyaratan yang lebih
mendetail dan peralatan untuk mencapai tonisitas, kadang-kadang
kerusakan disebabkan oleh faktor lain seperti sterilitas dan stabilitas.
Tonisitas berarti tekanan osmotik yang dihasilkan oleh larutan dari
keberadaan padatan terlarut atau tidak larut. Cairan mata dan cairan tubuh
lainnya memberikan tekanan osmotik sama dengan garam normal atau
0,9% larutan NaCl. Larutan yang mempunyai jumlah bahan terlarut lebih
besar daripada cairan mata disebut hipertonik. Sebaliknya, cairan yang
mempunyai sedikit zat terlarut mempunyai tekanan osmotik lebih rendah
disebut hipotonik. Mata dapat mentoleransi larutan yang mempunyai nilai
tonisitas dalam range dari ekuivalen 0,5% sampai 1,6% NaCl tanpa
ketidaknyamanan yang besar.
Tonisitas pencuci mata lebih besar daripada tetes mata karena volume
larutan yang digunakan. Dengan pencuci mata dan dengan bantuan penutup
mata, mata dicuci dengan larutan kemudian terjadi overwhelming,
kemampuan cairan mata untuk mengatur beberapa perbedaan tonisitas. Jika
tonisitas pencuci mata tidak mendekati cairan mata, mata akan terasa nyeri
dan mengalami iritasi. Dalam pembuatan larutan mata, tonisitas larutan
7

dapat diatur sama cairan lakrimal dengan penambahan zat terlarut yang
cocok seperti NaCl. Jika tekanan osmotik dari obat diinginkan konsentrasi
melampaui cairan mata, tidak ada yang dapat dilakukan jika konsentrasi
obat yang diinginkan dipertahankan, ketika larutan hipertonik.

3.6. Pewadahan
Tipe wadah yang biasa digunakan untuk tetes mata adalah vertikal dilipat
ambar atau gelas botol hijau layak dengan tutup bakelite yang membawa tube
tetes dengan sebuah pentil dan kemampuan untuk ditutup sebagaimana untuk
menahan mikroorganisme. Sifat-sifat yang penting yang perlu diperhatikan
yaitu sebagai berikut :
A. Wadah dilengkapi dengan uji untuk membatasi alkali gelas. (Copper,
1963) menunjukkan bahwa kadang-kadang botol dapat dibebasalkalikan
tetapi tube tetes tidak. Ini dapat dicontohkan oleh tetes mata fisostigmin
dalam larutan dalam botol tidak berwarna tetapi pada tube tetes
berwarna merah muda.
B. Wadah melindungi isi bahan terhadap cahaya. Banyak bahan obat
sensitif terhadap cahaya.
C. Wadah mempunyai segel yang memuaskan. (Norton,1963)
menunjukkan test warna.
D. Pentil karet atau pentil dari bahan-bahan lain adalah penyerap dan
sebaiknya dijenuhkan dengan pengawet yang digunakan dalam larutan
mata dimana mereka digunakan.
E. Wadah di desain untuk penetes yang siap digunakan dan melindungi
terhadap kerusakan dan kontaminasi.
F. Wadah dilengkapi dengan pengaturan racun. Banyak obat mata adalah
racun.
G. Wadah non gelas tidak bereaksi dengan obat-obat atau partikel lain
yang menjadi isi larutan.
Larutan mata sebaiknya digunakan dalam unit kecil, tidak pernah lebih
besar dari 15 ml, selain itu wadah yang kecil lebih disukai. Botol 7,5 ml adalah
ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan larutan mata. Penggunaan
wadah kecil memperpendek waktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan
meminimalkan jumlah pemaparan kontaminasi. Larutan mata disiapkan secara
8

terus-menerus dikemas dalam wadah tetes (droptainers) polietilen atau dalam


botol tetes gelas. Wadah polietilen disterilkan dengan etilen oksida, sementara
penetes gelas dapat dengan dibungkus dan diotoklaf. Secara komersial
disiapkan unit dosis tunggal dengan volume 0,3 ml atau kurang dikemas dalam
tube polietilen steril dan disegel dengan pemanasan.
Wadah gelas sediaan mata tradisional dilengkapi penetes gelas yang telah
dilengkapi hampir sempurna dengan unit penetes polietilen densitas rendah
yang disebut Droptainer. Hanya sejumlah kecil wadah gelas yang masih
digunakan, biasanya karena keterbatasan sterilitas. Larutan intraokuler volume
besar 250-500 ml telah dikemas dalam gelas, tetapi bahkan sediaan parenteral
mulai dikemas dalam pabrik khusus wadah polietilen/polipropilen. Wadah gelas
Tipe I merupakan bahan yang bagus untuk penyiapan larutan mata secara
continue. Wadah sebaiknya dicuci dengan air destilasi steril kemudian
disterilisasi dengan otoklaf. Penetes normalnya disterilkan dan dikemas dalam
blister pack yang menyenangkan.
Botol plastik untuk larutan mata juga dapat digunakan. Meskipun beberapa
botol plastik untuk larutan mata telah dimunculkan dalam pasaran, masih
dilakukan penyempurnaan untuk mendapatkan kemasan yang terbaik. Wadah
plastik yang digunakan biasanya polietilen densitas rendah. Wadah plastik
permeabel terhadap beberapa bahan termasuk cahaya dan air. Wadah plastik
dapat mengandung variasi bahan-bahan ekstraneous seperti bahan pelepas
jamur, antioksidan, reaksi quenchers dan reaksi serupa. Lem label, tinta dan
warna juga dapat berpenetrasi polietilen dengan cepat, sebaliknya bahan-bahan
menguap dapat menyerap dari larutan ke dalam atau melalui wadah plastik.

3.7. Keuntungan dan kerugian sediaan tetes mata


3.7.1. Keuntungan dari sediaan tetes mata ini yaitu :
Secara umum tetes mata lebih stabil daripada salep mata, meskipun
salep dengan obat yang larut dalam lemak diabsorpsi lebih baik dari pada
larutan/salep yang obat-obatnya larut dalam air, hal ini tidak menganggu
penglihatan ketika digunakan. Semua bahan-bahan adalah larut dalam cair,
keseragaman tidak menjadi masalah, hanya sedikit pengaruh sifat fisika
dengan tujuan ini.
9

3.7.2. Kerugian dari sediaan injeksi steril ini yaitu :


Kerugian yang prinsipil dari larutan mata adalah waktu kontak yang
relatif singkat antara obat dan permukaan yang terabsorsi. Bioavailabilitas
obat mata diakui buruk jika larutannya digunakan secara topical untuk
kebanyakan obat kurang dari 1-3% dari dosis yang dimasukkan melewati
kornea. Sampai ke ruang anterior. Karena boavailabilitas obat sangat
lambat, hendaknya pasien mematuhi aturan dan teknik pemakaian yang
tepat.

3.8. Monografi zat aktif


Atropine Sufas (Atropina Sulfat)

Gambar 3.1. Struktur Atropine Sufas (Atropina Sulfat)


Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak
berbau; mengembang di udara kering; perlahan-lahan
terpengaruh oleh cahaya (Farmakope Indonesia IV,
1995:184).
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air; mudah larut dalam
etanol, terlebih dalam etanol mendidih; mudah larut
dalam gliserin (Farmakope Indonesia IV, 1995:184).
Titik leleh : 191-195oC (FI IV, 1995:184)
Dosis lazim : 100mg (Formularium Nasional , 1978:32)
Daftar obat : keras sediaan tetes mata
pH sediaan injeksi : 3,5-6,0 (Formularium Nasional , 1978:32)
OTT : Alkali, asam tanat dan garam interkuri( Martindale ed
28:292).

3.9. Monografi zat tambahan


3.9.1. Benzalkonium Chloridum
10

Gambar 3.2. Struktur Benzalkonium Chloridum


Pemerian : Benzalkonium chloridum sebagai serbuk amorf, putih
atau putih kekuningan, gel tebal atau serpihan agar-
agar. Higroskopis. Memiliki bau aromatik ringan, dan
rasa yang sangat pahit.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol 95%, bentuk
anhidrat mudah larut dalam benzen dan agak sukar larut
dalam eter.
Kegunaan : aluminium, surfaktan anionik, sitrat, kapas, fluoresin,
H2O2, HPMC, iodide, kaolin, lanolin, nitrat.
pH : 5-8 untuk 10%w/v larutan.
Stabilitas : bersifat higroskopis dan mungkin dipengaruhi oleh
cahaya, udara dan bahan logam. Larutannya stabil pada
rentang pH dan rentang temperatur yang lebar.
Larutannya dapat disimpan pada periode waktu yang
lama dalam suhu kamar.
OTT : aluminium, surfaktan anionik, sitrat, kapas, fluoresin,
H2O2, HPMC, iodide, kaolin, lanolin, nitrat.
Wadah : tertutup rapat dan terhindar dari cahaya (Handbook of
Pharmaceutical Excipient, 6nded: 56-58).
3.9.2. Dinatrii Edetas (Na2EDTA)

Gambar 3.3. Struktur Dinatrii Edetas (Na2EDTA)


Pemerian : serbuk kristal warna putih
Kelarutan : 1:500 dalam air
11

Stabilitas : stabil dalam bentuk padat, bentuk garam lebih stabil


daripada asam bebas
Fungsi : chelating agent
Konsentrasi : 0,005-0,1%
Sterilisasi : autoklaf
OTT : dengan zat pengoksidasi kuat dan basa kuat
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya
(Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6nded: 242-
244).
3.9.3. Natrium chloridum
Pemerian : bubuk kristal putih atau tak berwarna kristal; memiliki
rasa garam. Kisi kristal adalah wajah-berpusat struktur
kubik. Natrium klorida yang padat tidak mengandung
air meskipun, di bawah 0C, garam dapat mengkristal
sebagai dihidrat.
Kelarutan : larut dalam Etanol, larut dalam 250 bagian Etanol
(95%), larut dalam 10 bagian gliserin, larut dalam 2,8
bagian Air.
Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal :
Untuk pembuatan larutan isotonik intravena dan preparat sediaan
mata dengan konsentrasi kurang dari 0,9 % (pengisotonis).
pH : 6,7-7,3
Titik didih : 1413C
Penyimpanan: disimpan ditempat tertutp, dingin dan kering
OTT : dengan besi bereaksi membentuk endapan dengan
garam perak, timbal, dan merkuri, dengan oksidator
kuat dapat membebaskan klorin dari larutan natrium
klorida (Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6th:
637-639).
3.9.4. Aqua pro injeksi
Pemerian : cairan, jernih, tidak berwarna, tidak berbau
Kegunaan : air untuk injeksi (pembawa/pelarut)
Penyimpanan : dalam wadah dosis tunggal, botol kaca atau plastik,
tidak lebih besar dari 1 liter (Farmakope Indonesia IV,
1995: 112).
12

3.10. Aspek farmakologi Atropin Sulfat


3.10.1. Indikasi
Midriatik (melebarkan manik mata) & sikloplegik (melumpuhan
ris/selaput pelangi mata).
3.10.2. Efek samping
Peningkatan tekanan dalam bola mata, iritasi local, mata
memerah, sembab, konjungtivitis (untuk pemakaian lama),
dermatitiskontak, keracunan sistemik (pada lansia dan usia sangat
muda).
3.10.3. Kontraindikasi
Glaukoma sudut tertutup, obstruksi/sumbatan saluran pencernaan
dan saluran kemih, atoni (tidak adanya ketegangan atau kekuatan
otot) saluran pencernaan, ileus paralitikum, asma, miastenia
gravis, kolitis ulserativa, hernia hiatal, penyakit hati dan ginjal
yang serius.
3.10.4. Cara penggunaan dan dosis
Parenteral injeksi : 100-200 mg/ml (AHFS 97, hal.2805)
Dosis terapetik : 10-100 mg/hari peroral dan jika perlu i.m
dalam defisiensi diberikan hingga 600 mg/hari
Dosis profilaksis : (oral,im) 5-10 mg/hari; Dosis terapi
(oral,im,iv) 10-100 mg/hari (FI III, 1979:991).

3.11. Aspek farmakokinetik thiamini hydrochloridum


Atropin dengan cepat dan baik diserap setelah pemberian
intramuskular. Atropinmenghilang dengan cepat dari darah dan didistribusikan
ke seluruh berbagai jaringan tubuh dan cairan. Didistribusikan kedalam tubuh
melalui jaringan dan cairan tubuh. Atropin mengikat dan menghambat
reseptor asetilkolin muscarinic, memproduksiberbagai macam efek
antikolinergik. Sebagian besar obat ini dihancurkan oleh hidrolisis enzimatik,
terutama di hati. Dari 13menjadi 50% diekskresikan tidak berubah dalam urin.
(Martindale edisi 36, 2009 : 1220).

4. BAHAN DAN ALAT PERCOBAAN


4.1. Alat
13

Alat-alat yang digunakan yaitu Beaker glass, pipet tetes, labu eleyenmeyer,
syringe 10 ml, gelas ukur, pinset, batang pengaduk, kaca arloji, pH universal,
corong gelas.

4.2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan yaitu Atropin Sulfat, Benzalkonium Klorida,
Na2EDTA, NaCl, dan Aqua pro injeksi

5. PROSEDUR
5.1. Pembuatan Sediaan
Disiapkan semua bahan, dan ditimbang tiap bahan seperti Atropin Sulfat,
Benzalkonium Klorida, Na2EDTA, dan NaCl dalam kaca arloji. Kalibrasi labu
eleyenmeyer ad 10 ml. Atropin sulfat dilarutkan dengan aqua pro injeksi.
Kemudian, Na2EDTA dilarutkan dengan aqua pro injeksi. Lalu, NaCl dilarutkan
dengan aqua pro injeksi. Setelah semua nya dilarutkan, lalu dicampurkan
sampai homogen. Setelah homogen, ditambahkan benzalkonium klorida.
Setelah itu, dilakukan pengecekan pH dengan menggunakan pH universal (3,5-
6,0). Setelah semua larut di tambahkan aqua pro injeksi ad 12,5ml. Larutan
disaring dengan bakteri filter 0,45 m. Filtrat disaring kembali dengan bakteri
filter 0,20 m dan dimasukkan ke vial dan ditutup.

5.2. Prosedur Evaluasi Sediaan


5.2.1. Uji kejernihan
Pemeriksaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan dengan cara
memeriksa wadah bersih dari luar di bawah penerangan cahaya yang baik,
terhalang terhadap refleksi ke dalam matanya, dan berlatar belakang hitam
dan putih, dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar,
harus benar-benar bebas dari partikel kecil yang dapat dilihat dengan mata
(Lachman, 1994 :1355).
14

6. DATA PERCOBAAN, PERHITUNGAN


6.1. Formulasi
R/ Atropin Sulfat 1%
Benzalkonium Klorida 0,01%
NaCl 0,767 %
Na2EDTA 0,05%
Aqua Pro Injeksi ad 10 ml
6.2. Penimbangan Bahan
Tabel. 6.1. Penimbangan Bahan
15

No Bahan Kegunaan Jumlah per 1 Jumlah per 1 batch


dalam formula unit (untuk 5 Ampul)

1 Atropin Sulfat Zat aktif 125 mg 12,5 mg


2 Benzalkonium Klorida Pengawet 1,25 mg 1,25 mg
3 Na2EDTA Antioksidan 6,25 mg 6,25 mg
4 NaCl Pengisotonis 95,88 mg 95,88 mg
5 Aqua pro injeksi Pembawa Ad 12,5ml Ad 12,5ml

6.3. Hasil Evaluasi Sediaan


Tabel 6.2. Hasil Evaluasi
Jenis Evaluasi Hasil
Kejernihan Jernih
Bau Tidak berbau

7. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dibuat obat tetes mata dengan menggunakan zat aktif
atropin sulfat. Sediaan tetes mata ini digunakan untuk mediatris dan siklopegia (ISO,
2011: 414). Obat yang memiliki sifat medriatris merupakan golongan obat yang
mempengaruhi dilatasi atau ukuran pupil bola mata (dapat membesar pupil mata),
midriasis dapat mengakibatkan fotopobia. Selain itu atropin dapat digunakan untuk
siklopegia (dengan melemahkan otot siliari) sehingga memungkinkan mata untuk
fokus pada obyek yang dekat. (Siswandono et al, 1995). Atropin sulfat bekerja
dengan menghambat reseptor muskarinik constrictor pupillae dan M. ciliaris lensa
mata, sehingga menyebabkan midriasis dan siklopegia (paralisis mekanisme
akomodasi). Atropin memblok aksi kolinomimetik pada reseptor muskarinik secara
reversible (tergantung jumlahnya) yaitu, hambatan oleh atropin dalam dosis kecil
dapat diatasi oleh asetilkolin atau agonis muskarinik yang setara dalam dosis besar.
Hal ini menunjukan adanya kompetisi untuk memperebutkan tempat ikatan. Hasil
ikatan pada reseptor muskarinik adalah mencegah aksi seperti pelepasan IP3 dan
16

hambatan adenilil siklase yang diakibatkan oleh asetilkolin atau antagonis muskarinik
lainnya. (Tan Hoan. Tjay dkk, 2003). Konsentrasi atropin sulfat untuk memberikan
efek pada sediaan tetes mata yaitu 100 mg dalam 10 ml volume tetes mata (Fornas,
1979 :99).
Pada pembuatan sediaan obat tetes mata ini ada beberapa faktor yang perlu
diperhatikan yaitu: ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan, sterilitas akhir
dan kehadiran bahan antimikroba yang efektif untuk menghambat pertumbuhan dari
mikroorganisme selama penggunaan serta isotonisitas dari larutan (Muzakkar, 2007).
Berdasarkan hal tersebut pembuatan tetes mata ini dibuat dengan metode sterilitas
teknik aseptik (Fornas, 1979). Walaupun atropin sulfat merupakan senyawa yang
bersifat termostabil (tahan panas) tetapi sediaan tetes mata ini menggunakan kemasan
plastik sehingga pemilihan metodenya menjadi aseptik. Selain itu semua alat yang
akan digunakan pada pembuatan disterilkan untuk memperkecil kemungkinan
terjadinya kontaminasi pada sediaan. Keadaan steril pada tetes mata sangat
diperlukan, karena apabila tetes mata yang digunakan telah terkontaminasi
mikroorganisme maka dapat terjadi rangsangan berat yang dapat menyebabkan
hilangnya daya penglihatan atau terlukanya mata.
Atropin sulfat memiliki sifat sangat mudah larut dalam air sehingga pada
pembuatanya digunakan pembawa air yaitu a.p.i (aqua pro injeksi). Pada sediaan
tetes mata ini, selain dilakukan sterilisasi aseptik dilakukan pula proses penyaringan
dengan kertas saring untuk memastikan bahwa sediaan tidak mengandung partikulat
atau endapan yang ada pada larutan. Tetes mata steril selain harus bebas mikroba
harus isotonis dan isohidris. Sediaan tetes mata sebaiknya dibuat mendekati isotonis
agar dapat diterima tanpa rasa nyeri dan tidak dapat menyebabkan keluarnya air mata,
yang dapat mencuci keluar bahan obatnya. Larutan hipertonis relatif lebih dapat
diterima dari pada hipotonis. Jika tonisitas tetes mata tidak mendekati cairan mata,
maka pada pemakaian dapat menimbulkan rasa nyeri dan iritasi (Muzakar,2007).
Untuk mencapai hal itu pada formulasinya ditambahakan zat tambahan Natrium
klorida (NaCl) sebagai pengisotonis. Berdasarkan hasil perhitungan tonisitas maka
larutan yang dibuat memilki sifat hipotonis yaitu dengan konsentrasi tonisitas 0,83%
sehingga perlu ditambahakan NaCl agar menjadi isotonis. Untuk mencapai isohidris
17

pH sediaan harus tetap diperhatikan dalam rentang kestabilan bahan. Obat tetes mata
dengan zat aktif atropin sulfat ini memiliki stabilitas pH sediaan pada rentang 3,5-6,0
(Farmakope V, 2014: 186). Pada sediaan dilakukan cek pH setelah proses pembuatan,
dimana diperoleh pH sediaan sebesar 6 hal ini telah masuk rentang sesuai dengan pH
stabilitas tetes mata atropin sulfat yaitu 3,5-6,0. Uji Ini merupakan uji yang sangat
penting dan erat kaitannya terhadap stabilitas bahan yang terdapat dalam sediaan.
Selain NaCl, pada formulasi ini digunakan benzalkonium chloridium sebagai bahan
pengawet. Semua larutan untuk mata harus dibuat steril dan bila mungkin
ditambahkan bahan pengawet yang cocok untuk menjamin sterilitas selama
pemakaian. Walaupun Obat tetes mata yang dibuat sudah steril tetapi perlu
penambahan pengawet karena obat tetes mata yang dibuat ini digunakan dalam
multiple dose, sehingga besar kemungkinan terjadi kontaminasi mikroba dari udara
saat obat tetes mata dibuka ketika akan digunakan. Pengawet dalam Obat tetes mata
harus memenuhi syarat yaitu efektif dan efisien (harus aktif terhadap Pseudomonas
aeruginosa), tidak berinteraksi dengan zat aktif dan eksipien lain, tidak iritan terhadap
mata dan tidak toksik. Pengawet yang dipilih adalah benzalkonium klorida karena
efektif dalam dosis rendah (0,01 0,02 %) sangat aktif terhadap Pseudomonas
aeruginosa, reaksi antimikrobanya cepat dan stabilitas tinggi pada rentang pH lebar,
tetapi masih kompatibel dengan zat aktif dan eksipien lain. Zat tambahan lain yang
digunakan yaitu dinatrium edetat sebagai agen pengkhelat dengan konsentrasi 0,005-
0,1% b/v. Umumnya Na2EDTA ditambahkan untuk meningkatkan aktivitas amonium
kuartener salah satunya yaitu benzalkonium klorida. Dalam sediaan obat mata,
benzalkonium klorida adalah pengawet yang sering digunakan kombinasi dengan
pengawet atau eksipien lain, terutama dengan dinatrium EDTA untuk meningkatkan
aktivitas melawan Pseudomonas aeruginosa (Handbook of Pharmaceutical
Excipient, 2006: 56).
Tetes mata steril dikemas dalam botol plastik atau kaca yang tertutup kedap
dilengkapi dengan penetes kemudian dilakukan evaluasi sediaan. Evaluasi umum
yang dilakukan pada sediaan tetes mata yaitu uji kejernihan, penentuan bobot jenis,
pH, penentuan viskositas, penetapan bahan partikulat, volume terpindahkan, uji
sterilitas (FI IV, 1995). Namun uji yang dilakukan pada sediaan ini yaitu berupa uji
18

organoleptis dan uji kejernihan. Pengujian dilakukan setelah penyimpanan selama 3


hari. Uji Organoleptik (bau dan warna) ini mempunyai peranan penting dalam
penerapan mutu karena uji ini dapat memberikan indikasi awal kemunduran mutu dan
kerusakan lainnya dari produk secara visual. Berdasarkan uji organoleptis, tetes mata
atropin ini cenderung tidak berbau dan warnanya bening serta dapat menetes. Hal ini
menunjuka tidak adanya peubahan apapun dan sediaan berada dalam kondisi baik.
Setelah itu pada sediaan dilakukan uji kejernihan yang berfungsi untuk memastikan
bahwa seluruh partikel-partikel dalam sediaan tersebut homogen atau terlarut
sempurna dalam pelarutnya. dan pada sediaan didapat hasil yang jernih. Artinya
sediaan memenuhi syarat dengan sifat semua bahan yang terdapat dalam formula
dapat larut dengan baik.

8. KESIMPULAN
Berdasarkan pembuatan sediaan tetes mata atropin sulfat ini diperoleh tonisitas
larutan sebesar 0,83% (hipotonis), maka penambahan NaCl yang dibutuhkan dalam
10 ml yaitu sebanyak 76,7 mg. Hasil evaluasi sediaan yang didapat berupa larutan
yang jernih, tidak berbau dapat menetes selama penyimpanan 3 hari dan memiliki pH
sediaan 6.
DAFTAR PUSTAKA

Department Of Pharmaceutical Science. 2009. Martindale The Complete Drug


Reference. Edisi 36. United Kingdom: Pharmaceutical Press.

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI.

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI.

Jay, Than Hoon dan Kirana. 2002. Raharja. Obat-Obat Penting. Jakarta: Gramedia.

King, R.E,.(1984). Dispensing of Medication. Ninth Edition. Philadelphia: Marck


Publishing Company.

Lachman, L, et all. (1986). The Theory and Practise of Industrial Pharmacy. Third
Edition. Philadelphia: Lea and Febiger.

Muzakkar. 2007. Uji Sterilitas Tetes Mata yang Beredar di Kota Palu Setelah Satu
Bulan Penggunaan. Palu: Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi dan Pengetahuan
Alam (STIFA) Pelita Mas.

Parfitt,K. (1994). Martindale The Complete Drug Reference. 32nd Edition. USA:
Pharmacy Press.

Parrot, L.E.. (1971). Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics. USA:


Burgess Publishing Co.

Priyambodo, B. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Global Pustaka Utama.


Yogyakarta.

Raymond Rowe, C. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6thed, USA:


Pharmaceutical Press.

Rowe, Raymond. C, Sheskey, Paul J, and Owen Sian C. 2006. Handbook of


Pharmaceutical Excipient. Fifth edition. Pharmaceutical Press : London.

Siswandono dan Soekardjo, B. 1995. Kimia Medisinal. 28-29. Surabaya: Universitas


Airlangga Press.

Turco, S.,dkk. (1970). Sterile Dosage Forms. Philadelphia: Lea and Febiger.

19
LEMBAR DISTRIBUSI

1. Tujuan, prinsip, teori ,dapus dan editor : Sri Nurlaipah


2. Alat & bahan, prosedur, perhitungan dan kemasan : Yuliyanti Souraya M
3. Pembahasan, kesimpulan dan editor : Piolani Putri N

20
21

LAMPIRAN

1. Perhitungan tonisitas

Kesimpulan, Hipotonis.

2. Perhitungan Bahan
1. Atropin Sulfat 2,5 mg

2. Benzalkonium Klorida 0,25 mg

3. Na2EDTA 1,25 mg

4. NaCl 19,176 mg

3. Kemasan primer (label)

Tidak boleh Atrofat


digunakan lebih dari Atropin Sulfat 100 mg/10 ml
1 bulan setelah tutup
STERILE EYE TONIC
DROPS
dibuka

4. Kemasan skunder (dus)
22

5. Brosur
23

6. Keterangan
Pada kemasan obat terdapat :
a. No. Registrasi : DKL 171010121A2
Keterangan :
D : menunjukan nama dagang
24

K : menunjukan golongan obat yaitu obat K


L : menunjukan obat jadi yang diprduksi secara lokal
17 : menunjukan tahun pendaftaran obat dan disetujui pada tahun
2017.
101 : menunjukan nomor urut pabrik
012 : menunjukan nomor urut obat jadi yang disetujui oleh masing-
masing pabrik.
1 : menunjukan bentuk sediaan obat jadi yaitu tetes mata
A : menunjukan kekuatan sediaan obat jadi pertama yang disetujui
2 : menunjukan kemasan utama
b. No. Batch : A030317
Batch/bets : Sejumlah obat yang mempunyai sifat dan mutu yang seragam
yang dihasilkan dalam satu siklus pembuatan atas suatu perintah pembuatan
tertentu. Penandaan yang terdiri dari angka dan huruf atau gabungan
keduanya, yang merupakan tanda pengenal suatu bets, yang memungkinkan
untuk penelusuran kembali riwayat lengkap pembuatan bets tersebut,
termasuk seluruh tahap produksi, pengawasan dan distribusi.
c. Logo

(obat keras)
Untuk obat yang dapat hanya ibeli dengan resep dokter dan dapat dijual
hanya oleh pihak yang berhak menjual obat tersebut, mempunyai tanda
khusus berupa lingkaran bulat hitam dengan dasar merah yang didalamnya
terdapat huruf K yang menyenth garis tepi.
d. Exp. Date : 27 Maret 2017
Waktu yang tertera pada kemasan yang menunjukan batas waktu
diperbolehkannya obat tersebut dikonsumsi, karena diharapkan memenuhi
spesifikasi yang diterapkan.
e. Produsen
PT. SOUPINURFARMA
Bandung-Indonesia

Anda mungkin juga menyukai