Anda di halaman 1dari 37

PENDAHULUAN

BAB I

1.1 Latar Belakang

Transfusi darah telah diselenggarakan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) sejak tahun 1950
dalam rangka membantu rumah sakit militer dan sipil setelah diserahkan oleh tentara Belanda
dan Pemerintah sipilnya. Sebelumnya transfusi darah diselenggarakan oleh NERKAI
(Nederlandse Rode Kruis Afdeling Indonesie = Palang Merah Belanda Bagian Indonesia)
yang dimulai pada tahun 1945. Sebagai usaha rutin pekerjaan tersebut diteruskan oleh Palang
Merah Indonesia dan pada mulanya tidak menemukan hambatan. Setelah Reglement op den
Dienst der Volksgezondheid yang berasal dari Pemerintah Kolonial Belanda diganti dengan
Undangundang tentang Kesehatan dikeluarkan, namun ketentuan khusus mengenai usaha
transfusi darah belum diatur, maka perlu usaha tranfusi darah tersebut diatur secara tersendiri
dengan suatu Peraturan Pemerintah. Pada hakekatnya upaya transfusi darah merupakan
bagian penting dari tugas Pemerintah di bidang pelayanan kesehatan rakyat dan juga
merupakan suatu bentuk pertolongan sesama umat manusia. Disamping aspek pelayanan
kesehatan, terkait pula aspek sosial, organisasi, interdependensi Nasional dan Internasional
yang luas, baik dalam rangka kerjasama antar Pemerintah maupun antar Perhimpunan-
perhimpunan Palang Merah Nasional.

Pemakaian darah sebagai salah satu obat yang belum ada gantinya semakin meningkat,
sedangkan sumber darah itu masih tetap manusia sendiri hal mana menimbulkan kepincangan
antara pengadaan darah dan kebutuhan darah yang dapat menimbulkan terjadinya jual beli
darah yang tidak sesuai dengan falsafah bangsa dan tidak sesuai pula dengan resolusi yang
diambil Kongres Internasional Palang Merah ke XXII di Teheran pada tahun 1973 maupun
World Health Assembly ke XXVIII tahun 1974. Sehubungan hal tersebut di atas maka
ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 yang mengatur pengadaan dan
penyumbangan darah, pengolahan dan pemindahan darahnya sendiri dalam arti yang luas dan
mengingat faktor-faktor kesukarelaan donor, larangan untuk memperdagangkan darah dan
pengawasan tentang pelaksanaannya. Peraturan Pemerintah tersebut telah ditindaklanjuti
dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 478/Menkes/Per/X/1990 tentang Upaya

1
Kesehatan Tranfusi Darah. Namun Peraturan Pemerintah tersebut saat ini sudah harus
disesuaikan dengan perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi di bidang kesehatan.

Sebagai penjabaran dari visi Departemen Kesehatan yaitu masyarakat yang mendiri untuk
hidup sehat, maka tujuan yang ingin dicapai adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan
secara berhasilguna dan berdayaguna dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya. Dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
diatur dalam pasal 35 bahwa transfusi darah hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan
yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu serta harus dipenuhi ketentuan syarat
dan tata cara transfusi darah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Transfusi darah bila
digunakan dengan benar dapat menyelamatkan jiwa pasien dan meningkatkan derajat kesehatan.
Indikasi tepat transfusi darah dan komponen darah adalah untuk mengatasi kondisi yang
menyebabkan morbiditas dan mortalitas bermakna yang tidak dapat diatasi dengan cara lain.

WHO telah mengembangkan strategi untuk transfusi darah yang aman dan meminimalkan resiko
transfusi. Strategi tersebut terdiri dari pelayanan transfusi darah yang terkoordinasi secara nasional,
pengumpulan darah hanya dari donor sukarela dari populasi resiko rendah, pelaksanaan skrining
terhadap semua donor dari penyebab infeksi antara lain HIV/AIDS, virus hepatitis, sifilis dan lainnya,
serta pelayanan laboratorium yang baik disemua aspek termasuk golongan darah, uji kompatibilitas,
persiapan komponen, penyimpanan dan transportasi darah/komponen darah, mengurangi transfusi
darah yang tidak perlu dengan penentuan indikasi transfusi darah dan komponen darah yang tepat, dan
indikasi cara alternatif transfusi. Pada tahun 1988, WHO mengeluarkan rekomendasi Developing a
National Policy and Guidelines on the Clinical Use of Blood. Rekomendasi ini membantu negara
anggota dalam mengembangkan dan implementasi kebijakan nasional dan pedoman serta menjamin
kerjasama aktif diantara pelayanan transfusi darah dan klinisi dalam mengelola pasien yang
memerlukan transfusi.

Dalam penyelenggaraan upaya transfusi darah, Departemen Kesehatan mempunyai peranan sebagai
berikut :

Departemen Kesehatan mempunyai peranan yang penting, utama dan pertama dalam
memantau penyelenggaraan upaya transfusi darah.
Departemen Kesehatan mempunyai kewenangan untuk membina, mengawasi dan mengatur
segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya transfusi darah.
Departemen Kesehatan berkewajiban untuk berdaya upaya mencukupi kebutuhan darah untuk
transfusi darah.

Dalam memainkan peranan tersebut, Departemen Kesehatan juga secara terus menerus

2
Membina dan mengawasi UTD PMI yang ada.
Membuat, menggerakkan adanya UTD Departemen Kesehatan atau Pemerintah
Daerah bila tidak ada/tidak sanggup dilakukan oleh PMI.
Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan penyelenggaraan UTD di Indonesia.
Memonitor dan mengevaluasi penggunaan dana yang dikeluarkan berdasarkan
APBN/BLN

Departemen Kesehatan untuk kegiatan transfusi darah. Berdasarkan hal tersebut diperlukan penataan
ulang melalui Peraturan Pemerintah sebagai perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980
tentang Transfusi Darah.

1.2 Tujuan

Tujuan disusunnya Naskah Akademik RPP tentang Pelayanan Darah adalah sebagai
bahan/masukan/materi muatan bagi penyusunan RPP tentang Pelayanan Darah sebagai revisi
dari Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1980. Pengaturan kembali peraturan perundang-
udangan ini juga bertujuan:

Memberikan perlindungan kepada penerima jasa pelayanan darah.


Memberikan kepastian hukum kepada pendonor darah dan penerima pelayanan darah.
Memberikan perlindungan hukum kepada pelaksana pelayanan (UTD, BDRS,
Klinisi).
Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan darah.
Memperjelas peran dan fungsi serta tanggung jawab masing-masing stakeholder
(Departemen Kesehatan, PMI, Pemerintah Daerah, dan Rumah Sakit)

BAB II
3
PELAYANAN DARAH

Darah adalah materi biologis yang diproduksi oleh tubuh manusia dalam jumlahyang terbatas
dan belum dapat disintesis di luar tubuh. Pengadaannya hanyalah dari donasi secara sukarela
yang dilakukan para donor darah. Di luar tubuh manusia, darah merupakan materi biologis
yang labil. Untuk mempertahankan viabilitasnya diperlukan nutrien dan antikoagulan serta
persyaratan suhu tertentu. Disamping itu melalui darah transfusi dapat ditularkan beberapa
penyakit yang disebut dengan istilah Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD).
Penyakit yang banyak ditemui adalah HIV/AIDS, Hepatitis C, Hepatitis B, Sifilis disamping
Malaria dan Jamur. Oleh sebab itu penyelenggaraan pelayanan darah melibatkan banyak
sektor dan harus dilakukan sebaik mungkin. Secara keseluruhan hal ini merupakan tanggung
jawab Pemerintah untuk melindungi masyarakat dari segala resiko penyelenggaraan yang
tidak bertanggung jawab.

Untuk mendapatkan darah yang siap ditranfusikan diperlukan upaya-upaya, mulai dari
penggalangan masyarakat agar rela menyumbangkan sebagian darahnya (recruitment donor),
masyarakat yang mau menyumbangkan darahnya ini masih perlu disaring lagi (seleksi donor)
untuk menghindari resiko bagi penyumbang darah maupun penerima. Darah yang didapat
dari para donor sukarela (collecting blood), hatus dilakukan pengamanan dengan melakukan
seleksi melalui pemeriksaan skreening darah terhadap penyakit IMLTD, meski hasil
skreening non aktif, belum berarti darah terjamin bebas, karena pada window period belum
bisa terdeteksi. Pemeriksaan skreening darah transfusi ini dilakukan di Unit Transfusi Darah
(UTD). Darah yang telah dinyatakan aman untuk transfusi disimpan dan didistribusikan
kepada sarana pelayanan kesehatan (Bank Darah RS) sebagai stok persiapan penggunaan
setiap saat. Seluruh kegiatan harus dilakukan oleh petugas yang memiliki kompetensi dan
mengikuti standar operasional prosedur dengan ketat dalam manajemen yang tersistem,
lengkap dengan pencatatan dan pelaporan. Pencatatan dan pelaporan merupakan bagian yang
penting untuk kepentingan penelusuran kembali dan perbaikan kualitas. UTDRS merupakan
bagian dari manajemen RS, maka seluruh kegiatan mulai dari penggalangan donor,
penyediaan darah aman sampai pada tindakan medis pemberian darah transfusi adalah
tanggung jawab RS tersebut. Agar stok darah dan kualitas pelayanan terjamin maka BDRS
harus membuat kesepakatan tertulis dengan UTD pemasok darah transfusi yang aman serta
ikut aktif dalam jejaring pelayanan darah setempat. Kebutuhan darah transfusi akan selalu
ada pada sarana-sarana pelayanan kesehatan terutama RS, sehingga perlu kepastian bahwa
RS tersebut mampu menyediakan darah transfusi yang aman. Sepanjang kepastian

4
pemenuhan prediksi kebutuhan dapat dipenuhi oleh UTD diluar RS, maka yang terbaik
adalah RS hanya memiliki Bank Darah Rumah Sakit (BDRS), namun bila hal tersebut tidak
dapat dipenuhi maka RS mempunyai kewajiban untuk mengupayakan sendiri ketersediaan
darah transfusi yang aman dengan mengambil darah dari vena donor (afftap), melakukan
pengamanan darah, pengolahan (bila perlu) serta penyimpanan sebagai stock. Seluruh
kegiatan tersebut harus sesuai standar.

BAB III

5
LANDASAN HUKUM

Undang undang Dasar 1945 mengamanatkan agar Negara menjamin hak-hak untuk
memperoleh pelayanan kesehatan serta jaminan sosial tanpa diskriminasi, baik bagi yang
secara ekonomi mampu maupun yang miskin dan anak-anak terlantar, sebagaimana
tercantum dalam :

a. Pasal 28 H berbunyi :
1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan
mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan.
2) Setiap orang berhak mendapatkan kemudahan perlakuan khusus untuk
memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan
dan keadilan.
3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan
dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.
4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak
boleh diambil secara sewenang-wenang oleh siapapun.
b. Pasal 34 berbunyi :
1) Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara.
2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan
martabat kemanusiaan
3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan
fasilitas pelayanan umum yang layak.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dengan Undang-
undang.

Peraturan Perundang-Undangan Terkait Dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992


tentang Kesehatan disebutkan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam
memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Berkaitan dengan kesehatan, Pemerintah
mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut : Pemerintah bertugas mengatur,
membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan. Pemerintah bertugas
menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat. Pemerintah
bertugas menggerakkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan dan pembiayaan
kesehatan, dengan memperhatikan fungsi sosial sehingga pelayanan kesehatan bagi

6
masyarakat yang kurang mampu tetap terjamin. Pemerintah bertanggung jawab untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pelayanan darah antara lain : Undang
Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Pasal 33

1) Dalam penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat dilakukan transplantasi


organ dan atau jaringan tubuh, transfusi darah, implan obat dan atau alat kesehatan,
serta bedah plastik dan rekonstruksi.
2) Transplantasi organ dan atau jaringan tubuh serta transfusi darah sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang
untuk tujuan komersial. Pasal 35 (1) Transfusi darah hanya dapat dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu.
3) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara transfusi darah sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) ditetapkan dengan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 80 ayat
4) Barang siapa dengan sengaja melakukan perbuatan dengan tujuan komersial dalam
pelaksanaan transplantasi organ tubuh atau jaringan tubuh atau transfusi darah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2), didenda dengan pidana penjara paling
lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga
ratus juta rupiah). Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 tentang Transfusi
Darah Peraturan Pemerintah ini perlu diubah dengan perkembangan yang ada pada
saat ini dan disesuaikan dengan Undang-undang Kesehatan dan Iptek transfusi darah
antara lain meliputi :
Pengamanan darah dari proses pengerahan, pengambilan darah, pengolahan darah,
penyimpanan darah dan pendistribusian darah.
Sarana pelayanan transfusi darah.
Perizinan sarana pelayanan transfusi darah.
Tenaga transfusi darah.
Pengiriman dan penerimaan darah dari dan ke Indonesia.

Demikian juga perlu dikaji berbagai peraturan pelaksanaan upaya transfusi darah yang
meliputi :

Permenkes Nomor : 478/Menkes/Per/X/1990 tentang Upaya Kesehatan di Bidang


Transfusi Darah.
Kepmenkes Nomor : 622/Menkes/SK/VII/1992 tentang Kewajiban Pemeriksaan HIV
pada Darah Donor.

7
Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medik Nomor 1147/Yanmed/RSKS/1991
tentang Petunjuk Pelaksanaan Permenkes Nomor : 478/Menkes/Per/X/1990 tentang
Upaya Kesehatan di Bidang Transfusi Darah.

BAB IV

MATERI MUATAN PELAYANAN DARAH

4.1. Ketentuan Umum

8
Ketentuan umum ini memberikan pengertian-pengertian, atau batasan-batasan terhadap
istilah ilmiah, terminologi, yang dimuat dalam rancangan PP Pelayanan Darah. Batasan yang
digunakan dalam Rancangan PP ini diupayakan dengan :

(1) Menggunakan bahasa yang positif,

(2) Jelas, tidak ditafsirkan lain, dan

(3) Hal-hal yang sudah jelas, umum tidak perlu diberikan definisi.

4.2. Rumusan Pengertian

Pengertian yang terdapat dalam rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pelayanan Darah
ini, antara lain :

a) Pelayanan Darah adalah upaya pelayanan kesehatan melalui pengambilan dan


pemberian darah dan atau komponennya untuk tujuan penyelamatan nyawa manusia.
b) Transfusi darah adalah upaya kesehatan yang terdiri dari serangkaian kegiatan mulai
dari pengerahan dan pelestarian donor, pengamanan, pengolahan darah dan tindakan
medis pemberian darah kepada resipien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan.
c) Pelayanan Apheresis adalah teknologi medis yang merupakan proses pengaliran darah
dari donor atau pasien melalui suatu alat yang memisahkan salah satu pilihan dan
mengembalikan selebihnya ke dalam sirlulasi.
d) Pelayanan Fraksionasi Plasma adalah tindakan pemilahan derivat plasma.
e) Pelayanan Stemcel Darah adalah pelayanan kesehatan yang memanfaatkan sel induk
darah untuk kepentingan pengobatan, penelitian dan pengembangan.
f) Darah adalah darah manusia yang terdiri dari komponen sel dan komponen cair berupa
plasma.
g) Darah transfusi adalah darah yang diambil dan diolah secara khusus untuk transfusi.
h) Produk plasma adalah produk protein sebagai hasil penguraian plasma, seperti albumin,
globulin, faktor VIII, faktor IX, dan lain-lain.
i) Donor darah adalah orang yang menyumbangkan darahnya untuk maksud dan tujuan
transfusi darah.
j) Resipien adalah orang yang menerrima darah atau komponennya melalui tindakan
medis.
k) Fasilitas pelayanan kesehatan adalah rumah sakit atau sarana kesehatan lain yang
memenuhi persyaratan dan mempunyai kewenangan untuk melaksanakan tindakan medis
pelayanan darah.

9
l) Unit Transfusi Darah disingkat UTD adalah sarana kesehatan yang melaksanakan
kegiatan pengumpulan darah dari donor darah, pengamanan darah serta mendistribusikan
darah yang aman. m. Palang Merah Indonesia disingkat PMI adalah Organisasim.
m) Palang Merah Indonesia disingkat PMI adalah Organisasi Kepalangmerahan yang
salah satu kegiatannya adalahmenyelenggarakan pengerahan dan pelestarian donor dan
diserahi tugas oleh Menteri untuk membentuk UTD.
n) Bank Darah Rumah Sakit disingkat BDRS adalah unit kerja Rumah Sakit yang
menerima dan menyimpan darah dari UTD untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan
pelayanan Rumah Sakit
o) Pemerintah Daerah adalah pemerintah propinsi dan pemerintah Kabupaten/Kota.
p) Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya dibidang kesehatan.

4.3. Tanggung Jawab

Tanggung jawab masing-masing stakeholder perlu digariskan untuk memberikan kepastian


hukum. Stakeholder dan tanggung jawab dimaksud adalah :

a) Pemerintah bertanggung jawab atas penyediaan darah yang aman dalam jumlah yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
b) Menteri dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan pelayanan
darah.
c) Palang Merah Indonesia bertanggung jawab atas pelaksanaan transfusi darah.
d) Dalam melaksanakan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada poin (b), Menteri
membentuk Komite Transfusi Darah.
e) Keanggotaan Komite Transfusi Darah terdiri dari unsur Departemen Kesehatan,
Departemen/ Badan terkait, PMI, Pemerintah Daerah, perguruan Tinggi, Organisasi
Profesi, Lembaga Swadaya Masyarakat dan lain-lain.
f) Fungsi Komite Transfusi Darah adalah merumuskan kebijakan dan strategi nasional
transfusi darah.
g) Dalam melaksanakan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada poin (b),
Pemerintah Daerah dapat membentuk Komite Transfusi Darah.

4.4 Pengorganisasian

a) UTD PMI adalah unit milik PMI yang melaksankan tugas sebagai UTD yaitu
mengumpulkan darah dari para donor, melakukan pengamanan terhadap darah donor
agar aman bagi pasien penerima transfusi darah (tidak tertular penyakit IMLTD).
b) URD Rumah Sakit (UTDRS) merupakan salah satu bidang di RS yang bertanggung
jawab atas pelaksanaan tugas pengumpulan darah dari donor, pengamanan darah,

10
pengolahan darah menjadi komponen, melakukan penyimpanan, uji silang serasi,
distribusi ke ruang perawatan serta pencatatan dan pelaporan.
c) Bank darah RS (BDRS) merupakan suatu unit pelayanan di RS yang menerima dan
menyimpan darah dari UTD untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan pelayanan RS
d) Balai Besar Darah merupakan suatu unit yang menlakukan koordinasi pelaksanaan
pelayanan darah.

4.5. Pengamanan Darah

Pengamanan darah dimulai dari pengerahan donor darah sukarela yang berasal dari
masyarakat yang sehat dengan pola hidup yang tidak beresiko untuk mendapatkan darah
donor dengan resiko rendah. Hal ini dilakukan dengan mengingat adanya window period atau
waktu tenggang dari masuknya virus ke dalam darah manusia sampai terdeteksi melalui test
uji saring. Dengan adanya waktu tenggang ini, meskipun hasil test uji saring tidak terdeteksi,
kemungkinan darah tercemar tercemar virus masih ada. Pengerahan donor dapat dilakukan
oleh seluruh stakeholder.

Petugas UTD melakukan seleksi terhadap calon donor yang dikerahkan untuk
mendapatkan donor yang sehat dengan resiko rendah. Selanjutnya petugas UTD melakukan
pengambilan darah dari vena donor lalu dikumpulkan dalam kantong darah dan sebagian (10
15 cc) dikumpulkan dalam tabung khusus untuk sampel. Pada kantong darah dilakukan
labeling yang sesuai denganlabel di tabung sampel. Proses pengambilan darah dari donor
harus memenuhi standar tertentu untuk menghindari resiko bagi donor maupun pasien yang
akan menerima darah. Pelaksanaan proses ini harus mengikuti Standard Operating Prosedur
(SOP) dan standar kantong darah yang menjamin terhindarnya darah dari infeksi virus,
kuman, atau jamur.

Darah yang diterima dari donor disimpan dalam blood refrigerator dengan suhu 2-6 C.
Pendistribusian darah juga harus dilakukan dengan Standard Operating Prosedur (SOP) yang
berlaku dan tetap dijaga dalam suhu 2-6 0C. Pemberian darah atau komponen darah kepada
pasien berdasarkan indikasi yang rasional dan tindakan medis, transfusi darah dilakukan
mengikuti Standard Operating Prosedur (SOP) tertentu. Seluruh proses dilaksanakan oleh
petugas yang memiliki kompetensi dan berwenang untuk itu.

4.6. Sarana Dan Tenaga

11
Mengingat proses pengaman darah merupakan proses yang penting dalam menjamin
keamanan pasien dan donor, maka perlu didukung oleh sarana yang memenuhi standar
keamanan dan dilakukan oleh tenaga yang terlatih.

4.7. Pembiayaan

Pembiayaan dalam pengadaan darah yang aman sejak dari rekruitmen donor sampai kepada
tindakan medis transfusi darah berasal dari subsidi pemerintah dan masyarakat.

4.8. Perizinan

Perizinan yang diperlukan terhadap UTD dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan melalui
Dinas Kesehatan Provinsi.

4.9. Akreditasi

Akreditasi perlu dilakukan oleh Departemen Kesehatan terhadap UTD yang telah
beroperasional.

4.10. Penelitian Dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan pelayanan darah dilakukan oleh UTD maupun RS Pendidikan
yang mampu, untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik.

4.11. Pengawasan

Pembinaan dan pengawasan dilakukan secara berjenjang dari Dinas Kesehatan


Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan.

4.12. Ketentuan Peralihan

Dalam rangka untuk mengatasi terjadinya kekosongan hukum apabila peraturan pemerintah
telah disahkan tetapi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pelayanan darah
tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan dan belum dicabut. Maka perlu dibunyikan dalam
pasal peralihan perauran pemerintah ini. Pada saat diundangkannya Peraturan Pemerintah ini
semua peraturan perundang-undangan yang merupakan pelaksanaan transfusi darah masih
tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan atau belum diganti berdasarkan Peraturan
Pemerintah ini. Pelaksanaan transfusi darah sesuai PP Nomor 18 tahun 1980 tentang
Transfusi Darah, masih tetap berlaku.

12
4.13. Ketentuan Penutup

Materi yang diatur biasanya menyangkut pencabutan materi suatu peraturan pemerintah dan
pemberlakuan peraturan pemerintah yang baru.

BAB V
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bank Darah Rumah Sakit (BDRS)


Bank Darah Rumah Sakit merupakan suatu unit pelayanan di rumah sakit yang
bertanggung jawab atas tersedianya darah untuk tranfusi yang aman, berkualitas dan dalam
jumlah yangcukup untuk mendukung pelayanan kesehatan di rumah sakit.Bank Darah Rumah
Sakit yang didirikan dan dikelola oleh Rumah Sakit yang berkewajiban menyimpan darah
yang telah diuji saring oleh UTD PMI dan melakukan uji cocok serasi berdasarkan perjanjian
kerjasama antara UTD PMI dan Rumah Sakit.
Fungsi BDRS adalah sebagai pelaksana dan penanggung jawab pemenuhan kebutuhan
darahuntuk transfusi di rumah sakit sebagai bagian dari pelayanan rumah sakit secara

13
keseluruhan.BDRS menyimpan darah dan mengeluarkannya bagi pasien yang memerlukan
darah di rumahsakit yang bersangkutan. PMI berkewajiban membantu pendirian Bank Darah
Rumah Sakit yangdikelola oleh Rumah Sakit.

Tugas Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) yaitu:


Menyiapkan SPO setiap langkah kegiatan
Merencanakan kebutuhan darah di RS bersangkutan.
Menerima darah dari UTD yang telah memenuhi syarat uji saring (non reaktif) dan
telahdikonfirmasi golongan darah.
Menyimpan darah dan memantau suhu simpan darah
Memantau persediaan darah harian/mingguan.
Melakukan pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus pada darah donor dan darah
resipien
Melakukan uji silang serasi
Melakukan rujukan uji silang serasi dan golongan drah ABO/ Rhesus ke UTD secara
berjenjang
Menyerahkan darah yang cocok untuk pasien para dokter yang meminta atau petugas
rumah sakit yang diberi wewenang
Melacak penyebab terjadinya reaksi transfusi
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas BDRS dalam pendidikan dan
pelatihan dibidng transfusi darah
Melaksanakan penelitian praktis untuk peningkatan mutu pelayanan.transfusi darah
Melakukan pencatatan, dan pelaporan.
2.1.2 Pelayanan Transfusi Darah
1. Pengertian/definisi
Pelayanan transfusi darah adalah upaya pelayanan kesehatan yang terdiri dari
serangkaian kegiatan mulai dari pengarahan dan pelestarian donor, proses pengambilan
darah,pencegahan penulran penyakit, pengamanan, pengolahan darah, pendistribusian darah,
penyimpanan darah, pemeriksaan serologi golongan darah dan uji silang serrasi serta
tindakan medis pemberian darah kepada resipien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan. Setiap kegiatan pelayanan transfusi darah harus dikerjakan sesuai
Standar Prosedur Operasional (SPO) karena kesalahan yang terjadi pada setiap langkah
kegiatan tersebut akan berakibat fatal bagi resipien, dan juga dapat membahayakan pendonor
maupun petugas kesehatan yang melaksanakan.
Rangkaian kegiatan ditribusi darah sampai ke pasien/resipien harus dilakukan hanya
oleh petugas dengan menggunakan peralatan khusus (coolbox) dan sesuai SPO. Unit

14
Transfusi Darah adalah unit yang berfungsi sebagai pengelolaan penyediaan darah transfusi
yang aman, berkualitas dan efektif, mulai dari pengarahan donor darah sukarela resiko rendah
sampai dengan pendistribusiannya kepada rumah sakit. Bank Darah Rumah Sakit merupakan
suati unit pelayanan di Rumah sakit yang bertanggung jawab atas tersedianya darah yang
telah di uji saring dan dalam jumlah yang cukup di Rumah sakit untuk memenuhi kebutuhn
tindakan medis transfusi yang aman, berkualitas sebagai pendukung pelayanan kesehatan di
Rumah Sakit.

Pelayanan transfusi darah aman harus memenuhi beberapa prinsip yaitu:


a. Darah berasal dari donor sukarela, sehat dan memenuhi kriteria sebagai donor darah resiko
rendah (low risk donor) terhadap tertular penyakit infeksi menular lewat transfusi darah.
b. Seluruh proses pengamanan, pengolahan dan peynimpanan serta kualitas bahan habis pakai
sesuai standar.
c. Distribusi dilakukan dengan rantai dingin oleh petugas yang berwenang serta mengikuti
standar prosedur operasional (sistem distribusi tertutup).
d. Pemakaian secara rasional, indikasi dan pemilihan komponen berdasarkan analisa medis
yang tepat.

2. Proses Penyediaan Darah


Pelayanan transfusi darah dimulai dengan melakuakan pengarahan calon donor yaitu
mengumpulkan orang-orang yang bersedia menjadi donor darah, dapat dilakukan oleh PMI,
UTD, RS, masyarakat, termasuk Perhimpunan Donor Darah Indonesia, LSM, Puskesmas
maupu istansi-instansi sebagai upaya membantu kelancaran tugas UTD.
Setelah donor dicatat selanjutnya dilakukan seleksi donor darah untuk mendapatkan
donor darah sukarela dengan resiko rendah. Seleksi dilakukan melalui anamnesia dan
menganalisa gaya hidup calon donor serta menentukan bahwa calon donor darah bukan dari
golongan resiko tinggi pengidap penyakit infeksi yang dapat ditularkan melalui transfusi
darah maupun penyakit-penyakit yang dapat membahayakan pendonor bila darahnya di
ambil, diikuti dengan pemeriksaan fisik leh petugas kesehatan/ dokter serta pemeriksaan
kadar Hemoglobin. Bila calon donor dinilai sehat pada saat itu dan siap mendonorkan
darahnya maka dilakukan pengambilan darah donor dan ditampung dalam kantong darah
sesuai kebutuhan (single, double, triple/quadtriple bag) sebanyak 250/350cc dan sebagian (5
-10cc) disimpan dalam tabung kecil sebagai sampel darah untuk pemeriksaan golongan darah

15
ABO, Rhesus dan uji saring Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) yaitu sifilis,
Hepatitis B, Hepatitis C, Anti-HIV dan lain-lain sesuai kebutuhan. Untuk daerah yang
prevalensi malarianya tinggi dapat ditambah dengan pemeriksaan malaria darah. Kantong
darah dan tabung sampel diberi kode khusus yang sama. Sementara pemeriksaan dilakukan
terhadap sampel darah, kantong darah dikarantina. Setelah hasil pemeriksaan didapat maka
selanjutnya dilakukan pencatatan dan tindak lanjut terhadap kantong darah yaitu
dimusnahkan bila hasil uji saring reaktif dan disimpan atau dilakukan pemisahan komponen
bina non reaktif.
Kantong darah yang dinyatakan non reaktif terhadap penyakit IMLTD tersebut baik
dalam bentuk komponen ataupun masih dalam bentuk whole blood siap didistribusikan atau
dilakukan penyimpanan sementara di UTD sebelum didistribusikan ke BDRS. Penyampaian
darah kerumah sakit harus dilakukan oleh petugs UTD atau BDRS dengan
menggunakan coolbox, semua kegatan di atas harus sesuai dengan Standar Prosedur
Operasional (SPO). Penyerahan darah yang aman dari UTD ke BDRS harus sesuai SPO dan
dilengkapi dengan berita acara penyerahan.

3. Pedoman Transfusi Darah Aman


Rumah sakit harus selalu mempunyai stock darah aman siap pakai di unit BDRSnya
untuk memudahkan dan memotong waktu bila ada pasien yang membutuhkan transfusi.
Proses yang terjadi di rumah sakit adalah dimulai dari penentuan indikasi yang tepat
oleh dokter, serta penentuan jenis komponen darah yang dibutuhkan. Dokter akan mengisi
formulir permintaan darah yang disiapkan oleh rumah sakit dengan format standar UTD.
Formulir permintaan tersebut disampaikan ke BDRS disertai dengan sampel darah resipien
yang terbaru. Selanjutnya, petugas BDRS akan melakukan pemeriksaan golongan darah
(ABO da Rhesus) resipien dan pemeriksaan konfirmasi golongan darah pada kantong donor
darah yang ada dalam stock. Selanjutnya dilakukan uji silang serasi antara darah resipien dan
darah dari kantong darah yang diberikan. Kantong darah yang kompetibel diserahkan oleh
BDRS kepada perawat bangsal dengan memperhatikan prinsip rantai dingin darah (darah
dijaga selalu berada disuhu 40 C) disertai formulir laporan yang harus dikembalikan ke BDRS
setelah tindakan medis selesai dilakukan.
Kantong darah yang dinyatakan kompetibel tersebut diserahkan kepada perawat yang
diberi kewenangan melakukan tindakan transfusi darah pada resipien dibawah pengawasan
dokter. Perawat ruangan harus melakukan pemantauan reaksi transfusi, minimal 15 menit
pertama pada setiap pemberian kantong darah yang ditransfusikan. Bila terjadi reaksi

16
transfusi darah maka harus segera dilakukan penanganannya sesuai dengan SPO dan
pelaporannya kepada BDRS sebagai feedbback.selanjutnya secara berkala BDRS melaporkan
kejadian treaksi transfusi ke UTD pengirim sebagai feedback.
Untuk mewujudkan pelayanan transfusi darah yang aman dan berkualitas
membutuhkan peran aktif dari berbagai stekholder. Salah satu yang sangat mempengaruhi
kualitas pelayanan adalah sistem distribusi tertutup.
Dalam sistem ini, darah dari donor sukarela maupun penggganti yang telah melalui
proses seleksi, disadap kedalam kantong darah, dan dilakukan uji saring terhadap IMLTD dan
pengolahan darah sesiau dengan standar prosedur operasional UTD. Darah yang telah
dinyatakan memenuhi kriteria aman, disimpan dalam Blood Bank Refrigenerator dan jumlah
tertentu didistribusikan dengan rantai dingin ke BDRS sebagai stock di RS untuk memenuhi
kebutuhan pasien.

4. Proses pelayanan

17
Garis Besar Proses Pelayanan Darah

Pendonor -Rekriutment donor - Bank darah :


Sukarela -seleksi donor - penyimpanan stock - biaya
Pengganti -pengambilan darah darah yang telah - ketepatan indikasi dan
- Pengilahan darah aman waktu pemberian
-Penyimpanan - cross match - manfaat dan side efek
-Pengamanan
-Distribusi/transportasi - penentuan indikasi
-Pencatatan dan - pemberian transfusi
- Pelaporan - reaksi transfusi
-pencatatan dan
pelaporan

18
FORMULIR PELAYANAN DARAH

19
20
5. Tugas Pokok dan Fungsi
Adapun tugas pokok dan fungsi unsur-unsur terkait dalam pelayanan transfusi darah:
a. Kementrian kesehatan:
Menyusun kebijaksanaan, standar, pedoman
Fasilitator
Regulator
Monitoring dan evaluasi
Pembinaan dan pengawasan
b. Dinas kesehatan:

21
Fasilitator dan regulator dalam perwujudan pelayanan transfusi darah yang
berkualitas didaerahnya
Melakukan pembinaan dan pengawasan secara berjenjang
Memberikan izin sementara/rekomendasi
c. Palang merah indonesia: bertanggung jawab mengerahkan dan melestarikan donor darah
d. UTD PMI/UTD Pemda:
Pelaksanaan penyediaan darah transfusi yang aman, berkualitas dan efektif, serta
sesuai standar, mulai dari rekruitment donor, pengmbilan darah, uji saring
IMLTD, pemisahan komponen, penyimpanan sementara sampai pada
pendistribusiannya ke BDRS.
Melaksanakan tugasnya secara terstandar dan terintegrasi dengan jajaran
kesehatan lainnya diawah koordinator Dinkes.
Melakukan penelitian dan pengembangan dan fungsi rujukan
e. BDRS: menjalin hubungan kerjasama dengan UTD untuk menyediakan darah transfusi yang
aman, berkualitas dan jumlah yang cukup di rumah sakit. Kegiatan yang dilakukan adalah
menghitung prediksi keutuhan, melakukan permintaan drah ke UTD, menerima/memperoleh
darah dari UTD, melayani permintaan dari klinisi di ruangan, pencatatan dan pelaporan
termasuk kejadian reaksi ttransfusi.
f. UTDRS: mempunyai peran gabungan antara UTD dan BDRS dengan tupoksi sbb: mulai dari
pengambilan/rekriutment donor darah, uji saring IMLTD, pemisahan komponen sampai
dengan uji cocok serasi, pemeriksaan golongan darah, perencanaan kebutuhan, melayani
permintaan para klinisi, pencatatan pelaporan dan rujukan.
g. PDDI: perhimpunan donor darah indonesia, mempunyai fungsi sebagai pelstarian donor
termasuk motivator dan rekriutment donor darah.

Rancangan Peraturan Pemerintah RI Tentang Pelayanan Darah

22
RANCANGAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR.TAHUN
TENTANG
PELAYANAN DARAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :

a) bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan pasal 35 ayat (2) UndangUndang Nomor 23


Tahun 1992 tentang Kesehatan perlu ditetapkan Peraturan Pemerintah tentang
transfusi darah termasuk sarana pelayanannya;
bahwa mengatur tentang transfusi darah adalah Peraturan Pemerintah Nomor 18
Tahun 1980 sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu kedokteran dan
teknologi kedokteran;
b) bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b
perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pelayanan Darah.
Mengingat :
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun


1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495);

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran


Negara Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821);

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran


Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437);

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara


Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4493);

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran


Negara Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3637);

Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi


dan Alat Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 138, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3781);

23
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah
antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4737);

MEMUTUSKAN
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PELAYANAN
DARAH
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :


1. Pelayanan Darah adalah upaya pelayanan kesehatan melalui pengambilan dan
pemberian darah dan atau komponennya untuk tujuan penyelamatan nyawa manusia.
2. Transfusi darah adalah upaya kesehatan yang terdiri dari serangkaian kegiatan mulai
dari pengerahan dan pelestarian donor, pengamanan, pengolahan darah dan tindakan
medis pemberian darah kepada resipien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan.
3. Pelayanan Apheresis adalah teknologi medis yang merupakan proses pengaliran
darah dari donor atau pasien melalui suatu alat yang memisahkan salah satu pilihan
dan mengembalikan selebihnya ke dalam sirlulasi.
4. Pelayanan Fraksionasi Plasma adalah tindakan pemilahan derivat plasma.
5. Pelayanan Stemcell Darah adalah pelayanan kesehatan yang memanfaatkan sel
induk darah untuk kepentingan pengobatan, penelitian dan pengembangan.
6. Darah adalah darah manusia yang terdiri dari komponen sel dan komponen cair
berupa plasma.
7. Darah transfusi adalah darah yang diambil dan diolah secara khusus untuk transfusi
8. Produk plasma adalah produk protein sebagai hasil penguraian plasma, seperti
albumin, globulin, faktor VIII, faktor IX, dan lain-lain.
9. Donor darah adalah orang yang menyumbangkan darahnya untuk maksud dan tujuan
transfusi darah.
10. Resipien adalah orang yang menerrima darah atau komponennya melalui tindakan
medis.
11. Fasilitas pelayanan kesehatan adalah rumah sakit atau sarana kesehatan lain yang
memenuhi persyaratan dan mempunyai kewenangan untuk melaksanakan tindakan
medis pelayanan darah.
12. Unit Transfusi Darah disingkat UTD adalah sarana kesehatan yang melaksanakan
kegiatan pengumpulan darah dari donor darah, pengamanan darah serta
mendistribusikan darah yang aman.

24
13. Palang Merah Indonesia disingkat PMI adalah Organisasi Kepalangmerahan yang
salah satu kegiatannya adalah menyelenggarakan pengerahan dan pelestarian donor
dan diserahi tugas oleh Menteri untuk membentuk UTD.
14. Bank Darah Rumah Sakit disingkat BDRS adalah unit kerja Rumah Sakit yang
menerima dan menyimpan darah dari UTD untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan
pelayanan Rumah Sakit.
15. Pemerintah adalah pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
16. Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya dibidang kesehatan.

BAB II

TANGGUNG JAWAB

Pasal 2

1) Pemerintah bertanggung jawab atas penyediaan darah yang aman dalam


pembiayaannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
2) Menteri dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan pelayanan
darah.
3) Dalam melaksanakan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Menteri
dapat menunjuk unit tertentu untuk melaksankan pelayanan darah. Pasal 3 Dalam
melaksanakan pengawasan dan pembinaan pelayanan darah, Menteri membentuk
badan/unit di lingkungan Departemen Kesehatan. Badan/unit sebagimana dimaksud
pada ayat (1) bertugas membantu Menteri dalam menyelenggarakan pelayanan darah.

BAB III
PELAYANAN DARAH
Bagian Kesatu Umum
Pasal 4
Pelayanan darah merupakan bagian dari pelayanan kesehatan yang terintegrasi dengan
sistem kesehatan. Pelayanan darah bersifat sosial dan tidak dipergunakan untuk
mencari keuntungan. Jenis pelayanan darah terdiri dari pelayanan transfusi darah,
apheresis, fraksionasi plasma dan pelayanan stemcell darah.
Pasal 5
Pengiriman atau penerimaan darah dan atau komponennya dari dan ke Indonesia
hanya dapat dilakukan dengan izin Menteri. Izin sebagaimana dimaksud ayat (1)
diberikan atas permintaan tertulis disertai penjelasan yang menyangkut antara lain :
Jenis dan jumlah darah.
Tujuan pengiriman dan penerimaan.
Negara tujuan atau negara asal.

25
Tata cara pelaksanaan sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan
oleh Menteri.

Bagian Kedua

Organisasi Pelayanan Darah

Pasal 6

Organisasi pelayanan darah terdiri dari organisasi di tingkat pusat dan daerah.
Organisasi di tingkat pusat meliputi Departemen Kesehatan dan Badan/unit yang
dibentuk Menteri.
Organisasi di tingkat daerah meliputi Dinas Kesehatan Propinsi, Kabupaten/Kota,
Rumah Sakit dan Unit Transfusi Darah.
Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2) dan ayat (3)
ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

BAB IV

PELAYANAN TRANSFUSI DARAH

Bagian Kesatu Umum

Pasal 7

Pelayanan transfusi darah meliputi rangkaian kegiatan pengerahan dan pelestarian donor,
pengambilan, pengamanan, pengolahan, penyimpanan, pendistribusian, pemeriksaan uji
silang serasi dan tindakan medis pemberian darah kepada resipien. Bagian Kedua Pengerahan
dan Pelestarian Donor

Pasal 8

Menteri mengatur pengerahan dan pelestarian donor darah serta membina dan mengawasi
kelompok donor darah sukarela. Dalam rangka pelestarian donor darah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) menteri dapat menunjuk instansi atau organisasi lain.

Pasal 9

Dalam melaksanakan pengerahan dan pelestarian donor darah harus memperhatikan etika dan
norma yang berlaku dalam masyarakat.

26
Bagian Ketiga

Pengamanan

Pasal 10

Pengamanan pelayanan transfusi darah harus dilaksanakan pada kegiatan pengerahan dan
pelestarian donor, pengambilan darah, pengolahan darah, penyimpanan darah,
pendistribusian, dan pemberian darah. Pengamanan darah harus dilaksanakan untuk menjaga
keselamatan pasien, petugas dan donor serta masyarakat dari penularan penyakit akibat
transfusi darah.

Bagian Keempat

Pengambilan Darah

Pasal 11

Proses pengambilan darah memperhatikan keselamatan donor dan petugas. Donor darah
dilakukan secara sukarela tanpa pamrih. Darah dilarang diperjual belikan dengan alasan
apapun.

Pasal 12

Petugas wajib memberikan informasi terlebih dahulu kepada donor mengenai resiko
pengambilan darah. Donor harus memberikan informasi yang benar perihal kesehatan dan
perilaku hidupnya. Donor wajib diperiksa kesehatannya terlebih dahulu oleh dokter yang
berkompeten dan berwenang. Darah hanya dapat diambil dari donor sukarela sehat dan
berperilaku sehat serta memenuhi kriteria seleksi dan mendapat persetujuan tertulis dari
donor dan dilakukan sesuai dengan standar pengambilan darah. Ketentuan lebih lanjut
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) ditetapkan dengan
peraturan Menteri.

Bagian Kelima

Pengolahan Darah

Pasal 13

27
Pengolahan darah harus dilaksanakan sesuai dengan standar, meliputi uji saring terhadap
infeksi penyakit menular lewat transfusi darah, pengolahan komponen darah, pengolahan
produk plasma dan menjamin pengamanan kerahasiaan hasil pemeriksaan darah. Pengolahan
darah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menyiapkan darah yang aman
dan siap pakai untuk transfusi atau pengolahan lain menjadi komponenkomponen darah,
sesuai dengan kebutuhan pelayanan darah. Dalam hal terdapat hasil pengolahan darah yang
tidak memenuhi syarat sesuai dengan standar harus dilakukan pemusnahan sesuai persyaratan
kesehatan lingkungan. Penggunaan metode uji saring terhadap infeksi penyakit menular perlu
dievaluasi secara berkala sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi uji
saring. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan
ayat (4) ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Bagian Keenam

Penyimpanan Darah

Pasal 14

Penyimpanan darah harus memenuhi persyaratan teknis penyimpanan yang meliputi suhu,
tempat, lama penyimpanan dan persyaratan lain untuk memelihara mutu darah. Ketentuan
lebih lanjut mengenai standar penyimpanan darah ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Bagian Ketujuh

Pendistribusian Darah

Pasal 15

Untuk menjamin keamanan dan kelancaran pelayanan darah maka pendistribusian harus
dilakukan secara tertutup. Pendistribusian darah harus sesuai standar dan memperhatikan
pemerataan pelayanan sesuai dengan kebutuhan. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Bagian Kedelapan

Pemberian Darah

Pasal 16

28
Pemberian darah aman hanya dilaksanakan untuk mengatasi kondisi yang dapat
menyebabkan kesakitan atau kematian yang tidak dapat dicegah atau diatasi secara tindakan
medis. Untuk keamanan pasien harus dilakukan uji saring serasi antara darah donor dengan
darah resipien sesuai dengan standar sebelum tindakan medis transfusi darah. Pemberian
darah hanya dapat dilaksanakan di fasilitas pelayanan kesehatan dan harus dilakukan
pemantauan sesuai standar. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Bagian Kesembilan

Fasilitas Pelayanan Transfusi Darah

Pasal 17

Penyelenggaraan penyediaan darah transfusi ditugaskan kepada UTD yang ditetapkan oleh
Menteri. UTD menyerahkan darah yang telah dinyatakan aman kepada Bank Darah Rumah
Sakit (BDRS) sebagai persediaan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan di Rumah Sakit.
Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) harus memenuhi
stndar pelayanan UTD dan BDRS yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 18

Penanggung jawab unit transfusi darah adalah dokter yang kompeten dan berwenang dalam
bidang transfusi darah. Penanggung jawab tindakan medis pemberian darah kepada resipien
adalah dokter yang kompeten dan berwenang dalam bidangnya yang mengacu kepada
Pedoman Penggunaan Darah Rasional yang ditetapkan oleh Menteri. Pelaksanaan penyediaan
darah aman oleh UTD harus dilakukan oleh tenaga teknisi transfusi darah dan tenaga
kesehatan lainnya yang berwenang. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknisi transfusi
darah, pemerintah harus menyediakan tenaga transfusi darah sesuai dengan kebutuhan
pelayanan transfusi darah. Pelaksanaan tindakan medis transfusi darah harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang.

Pasal 19

Pendidikan dan latihan untuk tenaga pelaksana transfusi darah diselenggarakan oleh badan
atau institusi yang kompeten dan mendapat persetujuan Menteri.

Bagian Kesepuluh

29
Jejaring Pelayanan Transfusi Darah

Pasal 20

Untuk menjamin mutu, keamanan, akses, rujukan dan efisiensi pelayanan darah perlu
dibentuk jejaring pelayanan transfusi darah. Jejaring sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi semua institusi terkait dengan pelayanan transfusi darah. Jejaring sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), terdiri dari jejaring tingkat Nasional, Propinsi dan Kabupaten/Kota.
Pembentukan jejaring sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didukung oleh sistem informasi
yang efektif dan efisien sesuai perkembangan teknologi. Bimbingan teknis pelayanan
transfusi darah. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3) dan ayat (4)
ditetapkan oleh Menteri.

BAB V

PELAYANAN APHERESIS

Pasal 21

Pelayanan apheresis meliputi tindakan seleksi donor, persetujuan donor, pengambilan


komponen tertentu dan pemberian komponen kepada resipien.

Pasal 22

Seleksi donor meliputi tindakan seleksi secara umum bagi donor, pemeriksaan fisik dan
laboratorium, serta riwayat kesehatan donor bebas dari penyakit. Persetujuan donor adalah
persetujuan yang diberikan oleh donor secara tertulis setelah mendapatkan informasi tentang
tindakan medis dan risikonya. Risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah risiko
tertular penyakit dan gangguan fungsi organ. Tindakan medis sebagaimana dimaksud ayat (2)
merupakan tindakan pengaliran darah donor kedalam mesin apheresis dan pengembalian
darah setelah komponen tertentu dipisahkan.

Pasal 23

Tenaga pelaksana pelayanan apheresis dilakukan oleh dokter yang kompeten dan berwenang.
Pelayanan apheresis hanya dapat dilakukan di rumah sakit sesuai ketentuan yang berlaku.
Sarana, prasarana dan peralatan yang digunakan dalam pelayanan apheresis berdasarkan
standar. Penyelenggaraan pelayanan apheresis berdasarkan standar dan persyaratan.

30
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) ditetapkan
oleh Menteri.

BAB VI

PELAYANAN FRAKSIONASI

Pasal 24

Pelayanan fraksionasi plasma adalah tindakan pemilahan pemilahan derivat plasma.

Pasal 25

Pelayanan fraksionasi plasma meliputi kegiatan pemeriksaan plasma, pemilahan derivat


plasma dan pemanfaatan hasil fraksionasi.

Pasal 26

Pemeriksaan plasma meliputi tindakan seleksi uji saring dengan teknologi tinggi. Bahan baku
produk plasma harus diperoleh dari donor sukarela dan tanpa pamrih serta dijamin
keamanannya. Pemilahan derivat plasma merupakan penguraian protein plasma menjadi
proteinprotein sesuai kebutuhan. Pengolahan plasma menjadi produk plasma hanya dapat
dilakukan di sarana fraksionasi yang telah memiliki izin oleh Menteri. Produk plasma dapat
diperjualbelikan sesuai aturan yang ditetapkan oleh Menteri. Pengiriman plasma untuk
kepentingan fraksionasi dan proses produksi serta jenis produk plasma yang dihasilkan harus
mendapat persetujuan Menteri.

Pasal 27

Tenaga pelaksana pelayanan fraksionasi oleh dokter atau tenaga ahli yang kompeten dan
berwenang. Pengumpulan plasma untuk kepentingan pelayanan fraksionasi dilakukan di unit
transfusi darah sesuai standar. Sarana, prasarana dan peralatan yang digunakan dalam
pelayanan fraksionasi plasma harus sesuai standar. Penyelenggaraan pelayanan fraksionasi
plasma berdasarkan standar dan persyaratan. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) ditetapkan oleh Menteri.

BAB VII

PELAYANAN STEMCELL DARAH

31
Pasal 28

Pelayanan stemcell darah (sel induk darah) meliputi rangkaian kegiatan yang terdiri dari
penyiapan sel induk, penyimpanan, pengolahan dan pemberian sel induk darah kepada
resipien. Pasal 29 Penyiapan sel induk darah dapat dilakukan dari darah tali pusat, darah tepi
dan sum sum tulang. Penyiapan sel induk darah dilakukan atas persetujuan donor.
Penyimpanan, pengolahan dan pemberian sel induk darah sesuai standar.

Pasal 30

Tindakan medis merupakan tindakan pengambilan sel induk darah. Persetujuan donor adalah
persetujuan yang diberikan oleh donor secara tertulis setelah mendapatkan informasi tentang
tindakan medis dan risikonya. Risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah risiko
tertular penyakit dan gangguan fungsi organ.

Pasal 31

Tenaga pelaksana pelayananan sel induk darah dilakukan oleh dokter yang kompeten dan
berwenang. Pelayanan sel induk darah hanya dapat dilakukan di Rumah Sakit tertentu sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Sarana, prasarana dan peralatan yang digunakan dalam
pelayanan sel induk darah berdasarkan standar. Penyelenggaraan pelayanan sel induk darah
berdasarkan standar dan persyaratan. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat
(2), ayat (3) dan ayat (4) ditetapkan oleh Menteri.

BAB VIII

TANDA PENGHARGAAN

Pasal 32

Menteri memberikan tanda penghargaan kepada donor darah sukarela. Tata cara pemberian
tanda penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.

BAB IX

PEMBIAYAAN

Pasal 33

32
Biaya pengganti pengolahan darah diperoleh dari pasien dengan tidak untuk mencari
keuntungan (nirlaba). Biaya penggantian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatas
diperhitungkan sesuai dengan biaya yang diperlukan untuk komponen kegiatan yang meliputi
pendistribusian/penyampaian darah, pembinaan donor, administrasi dan pemakaian
bahan/alat habis pakai. Biaya penggantian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan
berdasarkan pola perhitungan yang ditetapkan oleh Menteri. Besaran biaya penggantian
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi atas
usul dari jejaring UTD di wilayah tersebut, yang berpedoman pada pola perhitungan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) serta dengan memperhatikan kemampuan masyarakat
setempat. Dalam hal masyarakat setempat dinilai tidak mampu menggantikan besaran biaya
tersebut dalam ayat (4), maka pemerintah daerah mempunyai kewajiban untuk memberikan
subsidi.

BAB X PERIZINAN

Pasal 34

Setiap Kabupaten/Kota harus memiliki UTD, yang pendiriannya memenuhi persyaratan


bangunan, peralatan dan tenaga pengelola serta manajemen penggalangan donor. Setiap UTD
harus memiliki izin pendirian dan izin operasional. Izin pendirian sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diberikan selama 1 tahun. Izin operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
terdiri dari izin operasional sementara selama 2 (dua) tahun dan izin operasional tetap selama
5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang kembali selama memenuhi persyaratan. Izin pendirian
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota. Izin operasional sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberikan
oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. Izin operasional tetap sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) diberikan oleh Menteri.

BAB XI

AKREDITASI PELAYANAN TRANSFUSI DARAH

Pasal 35

Sarana pelayanan transfusi darah wajib diakreditasi untuk meningkatkan mutu pelayanan
transfusi darah. Akreditasi dilakukan 3 (tiga) tahun sekali oleh Tim Akreditasi yang
ditetapkan oleh Menteri. BAB XII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

33
Pasal 36

Pembinaan dan pengawasan pelayanan darah dilakukan oleh Menteri, Kepala Dinas
Kesehatan Propinsi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan fungsi dan
tugas masingmasing. Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
diarahkan untuk : Memberikan perlindungan kepada masyarakat. Meningkatkan keamanan
dan mutu pelayanan darah. Menjamin ketersediaan darah aman sesuai kebutuhan. (3).
Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) diatur oleh Menteri.
BAB XIII

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 37

Semua peraturan perundangundangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari


Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 tentang Transfusi Darah yang mengatur transfusi darah
masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini dan belum
dicabut dengan peraturan yang baru sesuai Peraturan Pemerintah ini. Semua UTD harus
menyesuaikan diri dengan Peraturan Pemerintah ini dalam waktu 1 (satu) tahun sejak tanggal
diundangkan.

BAB XIV

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 38

Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini maka Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun
1980 tentang Transfusi Darah, dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 39 Peraturan Pemerintah
ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar supaya setiap orang mengetahuinya,
memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam
Lembaran Negara Republik Indonesia.

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

ANDI MATALATTA

34
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN NOMOR
RANCANGAN PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
INDONESIA NOMOR.TAHUN TENTANG PELAYANAN DARAH

I. UMUM

Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan


meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar
terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut
merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun
pemerintah.

Dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya,


diselenggarakan berbagai upaya kesehatan antara lain upaya pelayanan darah meliputi upaya
transfusi darah, pelayanan apheresis, fraksionasi, plasma dan stemcell darah. Upaya
kesehatan transfusi darah harus memperhatikan keamanan dan leefektifan transfusi darah
yang berkaitan dengan faktor tersedianya darah dan komponen darah yang aman, mudah
didapat, harga terjangkau dan jumlah yang cukup memenuhi kebutuhan nasional serta harus
didukung dengan indikasi transfusi darah dan komponen darah yang tepat. Kegiatan
pengamanan darah dilaksanakan dari pengerahan donor, pengambilan darah, pengolahan
darah, penyimpanan darah, pendistribusian darah dan pemberian darah.

Transfusi darah telah diselenggarakan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) sejak tahun
1950, namun merupakan tugas pemerintah untuk menyediakan darah yang aman dalam
jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, oleh karena itu Pemerintah perlu
mengatur, membina dan mengawasi sehingga upaya kesehatan transfusi darah dapat
terlaksana dengan baik. Keberhasilan pelaksanaan upaya kesehatan transfusi darah sangat
tergantung pada ketersediaan sarana, tenaga, dana dan pengelolaannya. Sesuai dengan pasal
35

UndangUndang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, transfusi darah hanya


dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk
itu. Oleh karena itu perlu diatur syarat dan tata cara pengambilan, pengolahan, penyimpanan,

35
dan distribusi serta sarana pelayanan transfusi darah. Pelayanan Apheresis meliputi tindakan
seleksi donor, persetujuan donor, pengambilan komponen tertentu dan pemberian komponen
kepada resipien.

Pelayanan Apheresis memerlukan tenaga dan sarana prasarana yang memenuhi


stndar dan persyaratan yang ditentukan. Pelayanan Plasma Fraksionasi meliputi kegiatan
pemeriksaan plasma, pemilahan derivat plasma, pemanfaatan hasil fraksionasi. Pelayanan
Plasma Fraksionasi memerlukan tenaga dan sarana prasarana yang memenuhi stndar dan
persyaratan yang ditentukan.

Pelayanan Stemcell Darah (sel induk darah) meliputi rangkaian kegiatan yang terdiri
dari penyiapan, pengolahan, dan pemberian sel induk darah kepada resipien. Pelayanan
Stemcell Darah (sel induk darah) ini memerlukan tenaga dan sarana prasarana yang
memenuhi stndar dan persyaratan yang ditentukan. Mengingat tindakan medik transfusi
darah mengandung resiko maka tidak seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dapat
diperbolehkan menyelenggarakan pelayanan tersebut, yang dapat menyelenggarakan
pelayanan tersebut adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang memenuhi persyaratan dan
mempunyai kewenangan untuk melaksanakan tindakan medis pemberian darah.

Salah satu Standar Pelayanan Minimal di Rumah Sakit adalah Pelayanan Transfusi
Darah, pelayanan ini membutuhkan manajemen pelayanan tersendiri. Manajemen pelayanan
darah rumah sakit meliputi pengaturan dan pelaksanaan tentang ketersediaan darah aman di
rumah sakit, pemeriksaan sebelum dilakukan tindakan medis transfusi darah, penanganan
reaksi transfusi serta pencatatan dan pelaporan. Selanjutnya disamping pelayanan darah, perlu
juga ditata berbagai unsur penunjang dalam rangka mendukung penyelenggaraan darah
maupun untuk mendukung ditegakkannya ketentuan tersebut. Beberapa substansi penting
dalam ketentuan ini adalah pembinaan dan pengawasan, pemberdayaan masyarakat,
ketentuan peralihan dan ketentuan penutup.

36
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pelayanan transfusi darah adalah upaya pelayanan kesehatan yang meliputi
perencanaan, pengerahan dan pelestarian pendonor darah, penyediaan darah, pendistribusian
darah, dan tindakan medis pemberian darah kepada pasien untuk tujuan penyembuhan
penyakit dan pemulihan kesehatan. Keberhasilan pengelolaan pelayanan darah sangat
tergantung pada ketersediaan pendonor darah, sarana, prasarana, tenaga, pendanaan, dan
metode. Oleh karena itu pengelolaannya harus dilakukan secara terstandar, terpadu dan
berkesinambungan serta dilaksanakan secara terkoordinasi antara Pemerintah, pemerintah
daerah, dan partisipasi aktif masyarakat termasuk organisasi sosial yang tugas pokok dan
fungsinya di bidang kepalangmerahan sebagai mitra Pemerintah.

37