Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH PATOFISIOLOGI

THE ACTIONS BUFFER OF SYSTEM

DISUSUN OLEH :

1. RAMADHAN
2. SARIFAH
3. YOLANDA AGUSTIN
4. REKA RATULIA
5. MIRA MAYA SARI
6. PATMA ALFIA

POLTEKES KEMENKES BENGKULU

DIKNAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROVINSI BENGKULU

TAHUN AJARAN 2016/2017


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh,

Segala puji bagi Allah Swt tuhan semesta alam, sholawat serta salam semoga
dilimpahkan kepada Rosulullah Saw. Dengan memanjatkan kehadirat illahi rabbi yang
telah memberikan hidayah serta taufik-Nya kepada kita semua, sehingga makalah ini
dapat di selesaikan dengan baik.

Makalah yang berjudul tindakan sistem penyangga ini di susun guna memenuhi
tugas kelompok Mata Kuliah Patofisiologi yang diampu oleh Mam. Widia Lestari.

Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih kepada Mam. Widia Lestari yang
telah membimbing kami dalam proses pembelajaran. Semoga kami dapat mendapatkan
ilmu yang bermanfaat bagi pengembangan keilmuan dan kepribadian kami.

Tak lupa, kami juga menyadari dalam penyusunan makalah ini pasti tidak lepas
dari kekurangan dan kesalahan. Baik dari segi isi, tata bahasa, sistematika makalah, dan
sebagainya. Karena itu, kami mohon maaf dengan keterbatasan kami. Kritik dan saran
akan kami terima bila ada yang memberi kritik dan saran.

Akhir kata,
Wassalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh

Penyusun,
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.

Daftar Isi..

BAB I PENDAHULUAN..

1.1 Latar Belakang.


1.2 Rumusan Masalah.
1.3 Tujuan..

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Penjelasan tentang peta konsep..


2.2 pegertian dari larutan penyangga
2.3 jenis-jenis larutan penyangga..
2.4 cara kerja larutan penyangga
2.5 perhitungan pH pada larutan penyangga.
2.6 fungsi larutan penyangga
2.7 pengaruh larutan penyangga dalam darah
2.8 air ludah dapat menjaga kerusakan gigi
2.9 manfaat larutan penyangga pada bidang industri farmasi
2.10 manfaat larutan penyangga pada bidang industri pembuatan shampo bayi

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Larutan penyangga, larutan dapar, atau buffer adalah larutan yang digunakan
untuk mempertahankan nilai pH tertentu agar tidak banyak berubah selama reaksi
kimia berlangsung. Sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah pH-nya hanya
berubah sedikit dengan pemberian sedikit asam kuat atau basa kuat. Buffer terdiri dari
asam lemah dan garam/basa konjugasinya atau basa lemah dan garam/asam konjug
asi
Sangat banyak penggunaan larutan penyangga dalam kehidupan sehari-hari,
karena fungsinya yang sangat penting. Salah satu contoh larutan buffer dalam
kehidupan sehari-hari adalah buffer dalam air ludah, buffer dalam darah, buffer pada
bidang industri farmasi, buffer pada bidang industri pembuatan shampo bayi, dll.
Larutan peyangga dalam darah terdiri dari 3 macam, yaitu larutan penyangga
kabonat, larutan peyangga hemoglobin dan larutan peyangga fosfat. Larutan peyangga
karbonat dan Larutan peyangga fosfat berfungsi untuk mengontrol dan mengatur pH
darah agar tetap stabil. Larutan peyangga hemoglobin berperan dalam proses
mengikatan oksigen oleh darah.
Air ludah mengandung larutan penyangga fosfat yang dapat menjaga
kerusakan gigi dari kikisan asam-asam yang terbentuk dari sisa-sisa makanan disela-
sela gigi yang membusuk.
Larutan penyangga juga banyak digunakan dalam reaksi-reaksi kimia terutama
dalam bidang kimia analitis, biokimia, bakteriologi, dan bidang kesehatan. Dalam
reaksi-reaksi kimia tersebut dibutuhkan pH yang stabil. Oleh karena itu, dibutuhkan
larutan penyangga untuk mempertahankan pH suatu zat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Penjelasan tentang peta konsep !
2. Apa pegertian dari larutan penyangga ?
3. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis larutan penyangga ?
4. Jelaskan cara kerja larutan penyangga ?
5. Jelaskan perhitungan pH pada larutan penyangga ?
6. Sebutkan dan jelaskan fungsi larutan penyangga ?
7. Bagaimana pengaruh larutan penyangga dalam darah?
8. Mengapa air ludah dapat menjaga kerusakan gigi?
9. Apa manfaat larutan penyangga pada bidang industri farmasi?
10. Apa manfaat larutan penyangga pada bidang industri pembuatan shampo bayi?

1.3 tujuan
1. mengetahui pengertian larutan penyangga
2. mengetahui jenis-jenis dan fungsi larutan penyangga
3. mengetahui cara kerja dan perhitungan pH pada larutan penyangga
4. Mengetahui pengaruh larutan penyangga didalam darah,
5. Mengetahui air ludah dapat menjaga kerusakan gigi,
6. Mengetahui manfaat larutan penyangga pada bidang industri farmasi,
7. Mengetahui manfaat larutan penyangga pada bidang industri pembuatan shampo
bayi.
BAB II
PEMBAHASAN

PETA KONSEP

Larutan Penyangga
mempertahankan
berupa
pH

Larutan Penyangga Asam Larutan Penyangga Basa

mengandung mengandung

Asam lemah Basa konjugasi Asam konjugasi Basa lemah

CH3COOH CH3COO- NH3 NH4+

contoh contoh contoh contoh

1 Pengertian Larutan Penyangga


Sebelum kita membahas pengertian larutan penyangga, simaklah gambar di
bawah ini!

Ditambahkan

0,1 mL 1 M HCl Penambahan 0,1 mL larutan HCl


0,1 M ke dalam 1 L air suling
mengubah pH-nya dari 7 menjadi
4.

Lar. HCl Bila larutan HCl yang sama


Air
suling
1x10-4M banyaknya ditambahkan ke dalam
pH=4 1 L air laut, perubahan pH-nya
lebih kecil, yaitu dari 8,2 menjadi
7,6.

Ditambahkan Larutan yang seperti air laut inilah


yang merupakan larutan
0,1 mL 1 M HCl penyangga karena dapat
mempertahankan nilai pH.

Air Air
laut laut
pH=8, pH=7

Ingat!!!

Menurut Bronsted dan Lowry, asam adalah suatu zat yang dapat memberi proton (donor
ion H+), sedangkan basa adalah suatu zat yang dapat menerima proton (akseptor ion
H+). Berdasarkan definisi tersebut dapat dikatakan bahwa jika terdapat zat yang bersifat
asam, harus terdapat zat yang bersifat basa. Demikian pula sebaliknya. Hal inilah yang
dinamakan asam-basa konjugasi.

Larutan buffer adalah larutan yang dapat menyangga (mempertahankan) pH. Larutan
buffer memiliki pH yang konstan, terhadap pengaruh pengenceran atau ditambah sedikit
asam atau basa. Secara teoritis berapa pun diencerkannya pH tidak akan berubah, tetapi
dalam praktiknya jika pengenceran besar sekali, jelas pH-nyaakan berubah.

Larutan penyangga disebut juga larutan buffer atau larutan dapar. Jika dilihat dari
komponen penyusunnya, larutan penyangga merupakan campuran asam lemah dengan
basa konjugasinya atau campuran basa lemah dengan asam konjugasinya.

lemah dan basa konjugasinya atau basa lemah dan asam konjugasinya. Larutan buffer
mempunyai sifat menyangga usaha untuk mengubah pH seperti penambahan asam, basa,
atau pengenceran. Artinya, pH larutan buffer praktis tidak berubah walaupun kepadanya
ditambahkan sedikit asam kuat atau basa kuat atau bila larutan diencerkan.

1 Jenis-jenis Larutan Penyangga


a Larutan Penyangga Bersifat Asam
Larutan penyangga yang bersifat asam terbentuk dari suatu asam lemah dan
basa konjugasinya. Apabila larutan ini ditambahkan dengan sedikit asam atau basa
maupun diencerkan, maka pH larutan ini relatif tidak berubah dan tetap bersifat
asam (pH <7). Sehingga, larutan ini dapat berfungsi sebagai larutan penyangga atau
buffer.
Salah satu komponen pembentuk larutan penyangga yang bersifat asam
adalah asam lemah, misalnya CH3COOH, bila dilarutkan dalam air akan sedikit
terionisasi. Reaksinya adalah sebagai berikut:
CH3COOH (aq) CH3COO- (aq) + H+(aq)

Pada reaksi di atas, CH3COOH merupakan suatu asam lemah, dengan basa
konjugasi CH3COO-.

Komponen lain yang membentuk larutan penyangga yang bersifat asam


adalah basa konjugasi. Basa konjugasi ini dapat berasal dari garam basa, misalnya
CH3COONa, CH3COOK atau (CH3COO)2Ba yang diperoleh dari reaksi antar asam
lemah dengan basa kuat.

Contoh:

CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O(l)


asam lemah basa kuat garam basa

Di dalam larutannya, suatu garam basa misalnya CH3COONa, akan


terionisasi sempurna menjadi ion-ionnya membentuk basa konjugasi kembali.
Sehingga, garam basa ini merupakan suatu spesi yang bertindak sebagai basa
konjugasi dari suatu asam lemah. Reaksinya adalah sebagai berikut:

CH3COONa (aq) Na+(aq) + CH3COO-(aq)

Dengan demikian, suatu larutan penyangga yang bersifat asam merupakan


campuran dari :

Asam lemah dengan garamnya yang berasal dari basa kuat.


HA + LA

Asam lemah garam basa

Contoh:

- HCN + NaCN
- CH3COOH + CH3COONa

Asam lemah dengan basa kuat, dimana jumlah asam lemah dibuat berlebih.
Sehingga pada keadaan setimbang dalam larutan tersebut terdapat sisa asam
lemah dengan garamnya yang berasal dari basa kuat.
HA + LOH LA + H2O

asam lemah basa kuat garam basa

Contoh:

- 100 mL HF 0,1 M + 50 mL NaOH 0,1 M


- 0,1 mol HCN + 0,05 mol KOH
Garam-garam yang berasal dari asam poliprotik

Contoh:

NaH2PO4(aq) + Na2HPO4 (aq)

Di dalam larutannya, garam-garam tersebut akan terionisasi menjadi:

NaH2PO4 (aq) Na+(aq) + H2PO4 -(aq)

Na2HPO4 (aq) 2Na+(aq) + HPO42-(aq)

H2PO4- merupakan spesi asam dan HPO42- merupakan spesi basa konjugasi dari
H2PO4-.

b Larutan Penyangga Bersifat Basa


Larutan penyangga yang bersifat basa terbentuk dari basa lemah dan asam
konjugasinya. Apabila larutan ini ditambahkan dengan sedikit asam atau basa maupun
diencerkan, maka pH larutan ini relatif tidak berubah dan tetap bersifat basa (pH >7).
Sehingga, larutan ini dapat berfungsi sebagai larutan penyangga atau buffer.

Salah satu komponen pembentuk larutan penyangga bersifat basa adalah basa
lemah. Suatu basa lemah, misalnya NH3. Bila NH3 dilarutkan dalam air maka akan
sedikit terionisasi. Reaksinya adalah sebagai berikut:

NH3 (aq) + H2O(l) NH4+(aq) + OH-(aq)

Pada reaksi di atas, NH3 merupakan suatu basa lemah, dengan asam
konjugasinya yaitu NH4+.

Komponen lain pembentuk larutan penyangga bersifat basa adalah asam


konjugasi. Asam konjugasi ini dapat berasal dari garam asam, misalnya NH 4Cl, NH4Br
atau (NH4)2SO4 yang diperoleh dari reaksi antara basa lemah dengan asam kuat.

Contoh:

NH3 (aq) + HCl(aq) NH4Cl(aq)


basa lemah asam k garam asam

Di dalam larutannya, suatu garam asam misalnya NH 4Cl, akan terionisasi


menjadi ion-ionnya membentuk asam konjugasi kembali. Sehingga, garam asam ini
merupakan suatu spesi yang bertindak sebagai asam konjugasi dari suatu basa
lemah. Reaksinya adalah sebagai berikut:

NH4Cl (aq) NH4+ (aq) + Cl-(aq)

Dengan demikian, suatu larutan penyangga yang bersifat basa merupakan


campuran dari:

Basa lemah dengan garamnya yang berasal dari asam kuat.


LOH + LA

basa lemah garam asam

Contoh:

- NH3 + NH4Cl
- NH3 + NH4Br
Basa lemah dengan asam kuat, dimana jumlah basa lemah dibuat berlebih. Sehingga
pada keadaan setimbang dalam larutan tersebut terdapat sisa basa lemah dengan
garamnya yang berasal dari asam kuat.
LOH + HA LA + H2O

basa lemah asam kuat garam asam

Contoh:

- 100 mL NH3 0,1 M + 50 mL HCl 0,1 M


- 0,1 mol NH3 + 0,05 mol H2SO4

2 Cara Kerja Larutan Penyangga


Seperti yang kita ketahui bersama bahwa terdapat dua jenis larutan penyangga,
yaitu larutan penyangga bersifat asam dan larutan penyangga bersifat basa.

Ingat!!
Menurut Arrheniuss, asam dapat didefinisikan sebagai senyawa yang dapat
menghasilkan ion hidrogen jika dilarutkan dalam air.

Contoh:
CH3COOH (aq) CH3COO- (aq) + H+(aq)
HCl (aq) Cl- (aq) + H+(aq)
Basa dapat didefinisikan sebagai zat yang terdisosiasi dalam air menghasilkan ion
OH- sebagai ion negatifnya.
Contoh:
NH3 (aq) + H2O(l) NH4+(aq) + OH-(aq)
NaOH (aq) Na (aq) + OH-(aq)
+

Suatu larutan penyangga dapat mempertahankan pHnya dengan cara


menghilangkan ion Hidrogen, H+ atau ion hidroksida, OH- ketika ditambahkan sedikit
asam atau basa.

a. Larutan Penyangga Bersifat Asam


Untuk mengetahui bagaimana larutan penyangga bersifat asam dapat
mempertahankan pH, mari kita perhatikan contoh berikut:
Contoh:
Larutan penyangga yang mengandung CH3COOH dan CH3COO-

Asam asetat merupakan asam lemah, bila dilarutkan dalam air maka akan
terionisasi sebagian membentuk suatu kesetimbangan seperti ditunjukkan oleh
persamaan reaksi berikut:

CH3COOH (aq) CH3COO- (aq) + H+(aq)

Untuk membentuk larutan penyangga, maka larutan CH3COOH ini


ditambahkan dengan basa konjugasinya yaitu ion asetat, CH 3COO-, yang berasal
dari garamnya seperti natrium asetat, CH3COONa. Hal ini mengakibatkan
kesetimbangan bergeser kearah pereaksi.

Akibatnya, larutan tersebut akan mengandung:

Sejumlah asam asetat, CH3COOH, yang tidak terionisasi


Sejumlah ion asetat, CH3COO-, yang berasal dari garamnya
OH-

Jumlah ion hidrogen, H+ yang lebih banyak daripada ion OH- membuat larutan
ini bersifat asam
Sejumlah ion Na+ yang berasal dari CH3COONa dan air, namun keberadaannya
tidaklah penting.

Penambahan Asam
Penambahan Asam ke dalam air murni akan menyebabkan pH turun secara
drastis. Untuk menghindari hal tersebut, suatu larutan penyangga harus menghilangkan
ion Hidrogen baru yang berasal dari penambahan Asam.
Ion Hidrogen, H+, yang ditambahkan akan menggeser kesetimbangan ke arah
pereaksi. Oleh karena itu, agar pH larutan penyangga tidak turun secara drastis maka ion
Hidrogen ini akan berikatan dengan komponen basa dalam larutan, yaitu CH 3COO-
membentuk CH3COOH.

CH3COO- (aq) + H+(aq) CH3COOH (aq)

Sebagian besar ion H+ akan dihilangkan melalui reaksi ini sehingga pH larutan
tidak akan berubah secara drastis. Meskipun demikian, karena reaksinya merupakan
reaksi kesetimbangan, pH larutan akan sedikit berubah.

Mekanisme penambahan asam ke dalam larutan penyangga ditunjukkan sebagai


berikut:
Penambahan Basa
Jika larutan penyangga ditambahkan suatu basa, maka ion OH - yang berasal dari
basa harus dihilangkan dengan cara bereaksi dengan komponen asam dalam larutan
penyangga yaitu CH3COOH maupun ion H+. Proses penghilangan ion OH- ini sedikit
rumit karena dapat bereaksi dengan kedua komponen asam dalam larutan penyangga.

Penghilangan ion OH- melalui reaksi dengan asam asetat


Saat basa ditambahkan, ion OH- dari basa akan dinetralkan oleh H+ dari asam asetat
dalam larutan.

Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

OH-(aq) + CH3COOH (aq) CH3COO- (aq) + H2O(l)


asam lemah basa kuat

Oleh karena CH3COOH merupakan asam lemah, basa konjugasinya, yaitu ion
CH3COO- dapat mengambil H+ dari molekul air untuk kembali membentuk molekul
CH3COOH .

Sebagian besar ion OH- telah dihilangkan sehingga perubahan pH larutan tidak akan
terlalu besar.

Penghilangan ion OH- melalui reaksi dengan ion H+


Ingat bahwa larutan penyangga yang kita miliki bersifat asam, artinya mengandung
ion H+ yang cukup, yang berasal dari ionisasi asam lemah, asam asetat. Reaksinya:

CH3COOH (aq) CH3COO- (aq) + H+(aq)

Kesetimbangan bergeser ke arah hasil pereaksi untuk


menggantikan ion H+ yang diikat oleh OH-

CH3COOH (aq) CH3COO- (aq) + H+(aq)


Ion H+ berikatan dengan
ion OH- membentuk H2O

Ion H+ dapat bergabung dengan OH- membentuk H2O. Akibatnya kesetimbangan


akan bergeser kearah hasil pereaksi, ion H+ yang hilang kembali digantikan. Ini terus
belangsung sampai ion Hidroksida hilang.

Seperti penjelasan sebelumnya, karena sistemnya merupakan sistem


kesetimbangan, tidak semua ion Hidroksida dihilangkan, hanya sebagian besar saja.
Untuk memudahkan dalam memahami pengaruh penambahan asam atau basa ke
dalam larutan penyangga, perhatikan gambar berikut.

a OH- H X H+ H (b) X

HX
Keterangan:
OH- + HX
X -
H2O+X- H+ + X- HX
Larutan penyangga yang terdiri atas campuran Asam Lemah dan Basa Konjugasinya.
a Ketika ditambahkan basa, konsentrasi HX menurun dan konsentrasi X- meningkat
b Ketika ditambahkan asam, konsentrasi X- menurun dan konsentrasi HX meningkat

b. Larutan Penyangga Bersifat Basa


Untuk mengetahui bagaimana larutan penyangga bersifat basa dapat
mempertahankan pH, mari kita perhatikan contoh berikut:
Larutan penyangga yang mengandung NH3 dan NH4+
Amonia merupakan basa lemah, bila dilarutkan dalam air maka akan terionisasi sebagian
membentuk suatu kesetimbangan seperti ditunjukkan oleh persamaan reaksi berikut:

NH3 (aq) + H2O (l) NH4+ (aq) + OH- (aq)

Untuk membentuk larutan penyangga, maka larutan NH3 ini ditambahkan dengan
basa konjugasinya yaitu ion amonia, NH4+, yang berasal dari garamnya seperti amonium
klorida, NH4Cl. Hal ini mengakibatkan kesetimbangan bergeser kearah pereaksi.
Akibatnya, larutan tersebut akan mengandung:

Sejumlah amonia, NH3, yang tidak terionisasi


Sejumlah ion amonia, NH4+, yang berasal dari garamnya
Jumlah ion hidroksida, OH- yang lebih banyak daripada ion H+ membuat larutan ini
bersifat basa
Sejumlah ion Cl- yang berasal dari NH4Cl dan air, namun keberadaannya tidaklah
penting.

Penambahan
Basa
Penambahan
basa ke dalam air
murni akan
menyebabkan pH
larutan naik
secara drastis. Untuk
menghindari hal tersebut, suatu larutan penyangga harus menghilangkan ion hidroksida
baru yang berasal dari penambahan basa.
Ion hidroksida, OH-, yang ditambahkan akan menggeser kesetimbangan ke arah
pereaksi. Oleh karena itu, agar pH larutan penyangga tidak naik secara drastis maka ion
hidroksida ini akan berikatan dengan komponen asam dalam larutan, yaitu NH4+
membentuk NH3.

NH4+ (aq) + OH-(aq) NH3 (aq) + H2O(l)

Sebagian besar ion OH- akan dihilangkan melalui reaksi ini sehingga pH larutan
tidak akan berubah secara drastis. Meskipun demikian, karena reaksinya merupakan reaksi
kesetimbangan, pH larutan akan sedikit berubah.

Penambahan Asam
Jika larutan penyangga ditambahkan suatu asam, maka ion H + yang berasal dari
asam harus dihilangkan dengan cara bereaksi dengan komponen basa dalam larutan
penyangga yaitu NH3 maupun ion OH-. Proses penghilangan ion H + ini sedikit rumit
karena dapat bereaksi dengan kedua komponen basa dalam larutan penyangga.
Penghilangan ion H+ melalui reaksi dengan amonia
Saat asam ditambahkan, ion H+ dari asam akan dinetralkan oleh OH- dari amonia
dalam larutan.

Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

NH3 (aq) + H+(aq) NH4+(aq)

Sebagian besar, tetapi tidak seluruhnya ion H+ dapat dihilangkan. Ion amonium
merupakan asam lemah dan sebagian dari ion H+ akan dilepaskan kembali.

Penghilangan ion H+ melalui reaksi dengan ion OH-


Ingat bahwa dalam larutan, tersedia ion-ion hidroksida yang berasal dari reaksi dari
amonia dan air.

NH3 (aq) + H2O(l) NH4+(aq) + OH-(aq)

Kesetimbangan bergeser ke arah hasil pereaksi untuk menggantikan ion OH - yang


diikat oleh H+

NH3 (aq) + H2O(l) NH4+(aq) + OH-(aq)


Ion H+ berikatan dengan
ion OH- membentuk H2O

Ion H+ dari asam dapat bergabung dengan OH- membentuk H2O. Ketika ini terjadi,
kesetimbangan akan bergeser ke arah hasil pereaksi untuk mengganti ion hidroksida yang
diikat oleh ion hidrogen. Namun demikian, tidak seluruh ion hidrogen dapat dihilangkan,
hanya sebagian besar saja.

3 Perhitungan pH Larutan Penyangga


a Larutan Penyangga Bersifat Asam
Asam lemah dengan garamnya yang berasal dari basa kuat
Marilah kita perhatikan larutan penyangga yang terdiri dari CH3COOH dan
CH3COONa. Asam asetat mengion sebagian menurut reaksi kesetimbangan
(persamaan 4.1), sedangkan Natrium asetat mengion sempurna (persamaan 4.2). Misal
jumlah CH3COOH yang dilarutkan adalah a mol dan jumlah yang mengion adalah x
mol, maka susunan kesetimbangan dapat dirinci sebagai berikut:

CH3COOH (aq) H+(aq) + CH3COO-(aq) .(4.1)


Awal : a mol - -
Terionisasi : -x mol + x mol + x mol
Setimbang : a-x mol x mol x mol

Misalkan jumlah mol CH3COONa yang dilarutkan adalah b mol. Dalam larutan,
garam ini mengion sempurna membentuk b mol ion Na+ dan b mol ion CH3COO-.

CH3COONa (aq) Na+(aq) + CH3COO-(aq) .(4.2)


Awal : b mol - -
Terionisasi : -b mol + b mol + b mol
Akhir : - b mol b mol

Tetapan ionisasi asam asetat, sesuai dengan persamaan 4.1 adalah:

+


CH 3 COO

H
.(4.3)

K a=

Maka, konsentrasi H+ dalam larutan akan ditentukan oleh persamaan berikut:

+

CH 3 COO
.(4.4)
[CH 3 COOH ]
H =K a x

+
H
.(4.5)


Jumlah ion CH 3 COO dalam larutan = (b + x) mol, sedangkan jumlah

CH3COOH = (a x) mol. Oleh karena dalam larutan terdapat banyak ion CH3COO-
yang berasal dari CH3COONa, maka kesetimbangan (4.1) akan terdesak ke arah
pereaksi, sehingga jumlah mol CH3COOH dalam larutan dapat dinggap tetap a mol (a-
x a; jumlah mol CH3COOH yang mengion diabaikan). Dengan alasan yang sama,
jumlah mol ion CH3COO- dalam larutan dianggap = b mol (b+x b; CH3COO- yang
berasal dari persamaan 4.1 diabaikan). Dengan asumsi-asumsi tersebut, persamaan 4.5
dapat ditulis sebagai berikut.

+
H

+
Jadi, untuk menentukan konsentrasi H untuk larutan penyangga yang bersifat

asam adalah:

+
[asamlemah]
H =K a x
[basa konjugasi]

Ka = tetapan ionisasi asam lemah


+
H
Maka
pH=log

Asam lemah dengan basa kuat, dimana jumlah asam lemah dibuat berlebih
Contoh:
100 mL larutan CH3COOH 0,1 M + 50 mL larutan NaOH 0,1 M
Jumlah mol CH3COOH = 100 mL x 0,1 mmol mL-1
= 10 mmol
Jumlah mol NaOH = 50 mL x 0,1 mmol mL-1
= 5 mmol
Campuran akan bereaksi menghasilkan 5 mmol CH3COONa, sedangkan CH3COOH
bersisa 5 mmol dengan rincian sebagai berikut.

CH3COOH (aq) + OH-(aq) CH3COO-(aq) + H2O(l)


Asam lemah basa konjugasi
Awal : 10 mmol 5 mmol -
Reaksi : -5 mmol -5 mmol +5 mmol
Sisa : 5 mmol - 5 mmol

Langkah selanjutnya sama dengan penentuan pH larutan penyangga yang berasal dari
Asam lemah dengan garamnya yang berasal dari basa kuat.
b Larutan Penyangga Bersifat Basa
Basa lemah dengan garamnya yang berasal dari asam kuat
Marilah kita perhatikan larutan penyangga yang terdiri dari NH3 dan NH4Br.
Dalam larutan, NH3 mengion sebagian menurut reaksi kesetimbangan, sedangkan
NH4Br mengion sempurna.
NH3 (aq) + H2O(l) NH4+(aq) + OH-(aq)
NH4Br (aq) NH4+ (aq) + Br-(aq)
Sama halnya dengan penurunan persamaan 4.6, maka untuk larutan penyangga dari
basa lemah dan asam konjugasinya berlaku rumus berikut.


[basa lemah]
OH =K b x .(4.8)
[asam konjugasi ]

dengan, Kb = tetapan ionisasi basa lemah

dan


+ OH
H =
Kw .(4.9)

+
Maka H
pH=log
Basa lemah dengan asam kuat, dimana jumlah basa lemah dibuat berlebih
4 Fungsi Larutan Penyangga
Larutan penyangga dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, antara lain
sebagai berikut :

A. Larutan Penyangga Dalam Darah


Larutan buffer dalam darah adalah zat yang dapat mempertahankan pH
ketika ditambahkan sedikit asam/basa atau ketika di encerkan. Larutan peyangga
dalam darah terdiri dari 3 macam, yaitu larutan penyangga karbonat, larutan
peyangga hemoglobin dan larutan peyangga fosfat. Larutan peyangga karbonat
dan Larutan peyangga fosfat berfungsi untuk mengontrol dan mengatur pH darah
agar tetap stabil. Larutan peyangga hemoglobin berperan dalam proses
mengikatan oksigen oleh darah.

Buffer dalam darah termasuk buffer asam. Buktinya, jika darah tidak
memiliki buffer, maka ketika minum jus jeruk yang kecut, tubuh kita dapat
mengalami asidosis (pH darah asam). pH pada plasma darah berada pada pH
berkisar 7,3 7,4, yaitu dari ion HCO 3- dengan ion Na+. Apabila pH darah lebih
dari 7,4 akan mengalami alkalosis, akibatnya terjdi hiperventilasi/ bernapas
berlebihan. Apabila pH darah kurang dari 7,3 akan mengalami acidosis akibatnya
jantung, ginjal, hati dan pencernaan akan terganggu. Kesetimbangan asam basa
darah dikendalikan secara seksama, karena perubahan pH yang sangat kecilpun
dapat memberikan efek yang serius terhadap beberapa organ.

Kondisi darah ber-pH asam menunjukkan gejala-gejala berikut:


1. Kulit tidak bersinar.
2. Penyakit kaki karena kutu air.
3. Cepat merasa lelah setelah olahraga ringan dan mengantuk setelah naik bis.
4. Setelah naik turun tangga terengah-engah.
5. Gemuk dengan perut buncit.
6. Lamban bergerak dan lesu.

Tubuh menggunakan 3 mekanisme untuk mengendalikan kesetimbangan


asam basa darah :
1. Kelebihan asam akan dibuang oleh ginjal, sebagian besar dalam bentuk
ammonia. Ginjal memiliki kemampuan untuk merubah jumlah asam atau basa
yang dibuang. Yang biasanya berlangsung beberapa hari.
2. Tubuh menggunakan penyangga pH (buffer) dalam darah manusia sebagai
pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah.
Suatu penyangga pH bekerja secara kimiawi untuk meminimalkan perubahan
pH suatu larutan penyangga, pH yang paling penting dalam darah
menggunakan bikarbonat. Bikarbonat suatu komponen basa berada dalam
kesetimbangan dengan karbondioksida suatu komponen asam. Jika lebih
banyak asam yang masuk kedalam aliran darah maka akan dihasilkan lebih
banyak bikarbonat dan lebih sedikit karbondioksida. Jika lebih banyak basa
yang masuk kedalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak
karbondioksida dan lebih sedikir bikarbonat.
3. Pembuangan karbondioksida, karbondioksida adalah hasil tambahan penting
dari metabolisme oksigen dan terus menerus yang dihasilkan oleh sel. Darah
membawa karbondioksida keparu-paru dan diparu-paru karbondioksida
tersebut dikeluarkan. Pusat pernapasan di otak mengatur jumlah
karbondioksida yang dihembuskan dengan mengendalikan kecepatan dan
kedalaman pernapasan. Jika pernapasan meningkat, kadar karbondioksida
darah meningkat dan darah menjadi lebih asam. Dengan mengatur kecepatan
dan kedalaman pernapasan, maka pusat pernapasan dan paru-paru mampu
mengatur pH darah menit demi menit. Adanya kelainan pada satu atau lebih
mekanisme pengendalian pH tersebut, bisa menyebabkan salah satu dari 2
kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis/alkalosis.
Asidosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak mengandung
asam (terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan turunnya pH
darah. Alkalosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak
mengandung basa (sedikit mengandung asam) dan kadang menyebabkan
meningkatnya pH darah.
B. Larutan Penyangga Dalam Air Ludah
Air ludah selain berfungsi untuk menjaga kelembaban mulut ternyata berperan
sebagai larutan peyangga. Email gigi yang rusak dapat menyebabkan kuman masuk ke
dalam gigi. Air ludah dapat mempertahankan pH dalam mulut tetap berada pada
kisaran 6,8. Air ludah mengandung larutan penyangga fosfat yang dapat menjaga
kerusakan gigi dari kikisan asam-asam yang terbentuk dari sisa-sisa makanan disela-
sela gigi yang membusuk.

C. Larutan Penyangga Pada Bidang Industri Farmasi


Dalam bidang farmasi (obat-obatan) banyak zat aktif yang harus berada dalam
keadaan pH stabil. Perubahan pH akan menyebabkan khasiat zat aktif tersebut
berkurang atau hilang sama sekali. Untuk obat suntik atau obat tetes mata, pH obat-
obatan tersebut harus disesuaikan dengan pH cairan tubuh. pH untuk obat tetes mata
harus disesuaikan dengan pH air mata agar tidak menimbulkan iritasi yang
mengakibatkan rasa perih pada mata. Suasana pH pada obat tetes mata tersebut
disesuaikan dengan kondisi pH manusia agar tidak menimbulkan bahaya. Begitu juga
obat suntik, harus disesuaikan dengan pH darah agar tidak menimbulkan alkalosis atau
asidosis pada darah.
Dalam bidang obat-obatan misalnya obat tetes mata.
D. Larutan Penyangga Pada Industri Pembuatan Shampo Bayi
Rambut tersusun dari protein keratin. Ikatan kimia pada protein rambut, antara
lain ikatan hidrogen dan ikatan disulfida. Ikatan tersebut stabil pada pH 4,6 6,0. pH
shampo yang terlalu tinggi atau rendah akan memutuskan ikatan pada protein rambut.
Akibatnya, rambut dapat rusak. Shampo dengan pH seimbang mengandung larutan
penyangga supaya pH shampo sama dengan pH rambut.
Bayi memiliki rambut yang lebih halus, daripada rambut orang dewasa. Selain
itu, kelenjar minyak dan keringat pada kulit kepala bayi belum berfungsi sempurna.
Oleh karena itu, shampo bayi harus mengandung sedikit bahan aktif dan memiliki pH
seimbang. Alasan lain untuk memilih shampo bayi dengan pH seimbang ialah shampo
tidak pedih jika terkena mata karena menggunakan larutan penyangga.

BAB III
PENUTUP

3.1 SIMPULAN

Dari makalah diatas kita dapat menyimpulkan bahwa:


1. Adanya larutan buffer ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari seperti pada
obat-obatan, fotografi, industri kulit dan zat warna.
2. Larutan penyangga karbonat, hemoglobin dan fosfat, dapat menjaga pH darah
yang hampir konstan yaitu sekitar 7,3-7,4. Apabila pH darah lebih dari 7,4 akan
mengalami alkalosis, akibatnya terjadi hiperventilasi / bernapas berlebihan.
Apabila pH darah kurang dari 7,3 akan mengalami acidosis akibatnya jantung,
ginjal ,hati dan pencernaan akan terganggu.
3. Air ludah dapat mempertahankan pH dalam mulut tetap berada pada kisaran 6,8
karena mengandung larutan penyangga fosfat yang dapat menjaga kerusakan gigi.
4. Suasana pH pada bidang industri disesuaikan dengan kondisi pH manusia agar
tidak menimbulkan bahaya.
5. Ikatan kimia pada protein rambut, stabil pada pH 4,6 6,0. Shampo dengan pH
seimbang mengandung larutan penyangga supaya pH shampo sama dengan pH
rambut agar rambut tidak rusak.
DAFTAR PUSTAKA

Alfa, 2014. Pengenceran-Larutan. http://alfakece.blogspot.com/. [10 Februari, 2014],


Makassar. Andy, 2009. Larutan Penyangga Buffer. http://andykimia03.wordpress.com. [10
Februari, 2014], Makassar.