Anda di halaman 1dari 18

PENDALAMAAN MATERI FIKH MTs

A. Pendahuluan
Mata pelajaran Fikih merupakan bagian dari ilmu pendidikan agama islam
(PAI) yang diajarkan di seluruh lembaga pendidikan Islam (pendis), mulai dari tingkat
satuan pendidikan dasar (Madrasah Ibtidaiyah) hingga perguruan tinggi Islam (PTAI).
Sebagai mata pelajaran di madrasah, fikih merupakan salah satu dari empat materi
Pendidikan Agama Islam (Al-Quran-Hadis, AkidahAkhlak, Fikih dan Sejarah
Kebudayaan Islam), yang keberadaannya saling terkait satu dengan yang lain.
Fikih/Syariah (ibadah dan muamalah) mengacu pada Al-Quran dan Hadis sebagai
sumber syariah. Akhlak bertolak dari akidah, yakni sebagai manifestasi dan
konsekuensi dari akidah. Ia menjadi landasan etik dari syariah sebagai sistem norma
(aturan) hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (fikih ibadah) dan
hubungan manusia dengan sesama manusia (fikih muamalah). Sedangkan Sejarah
Kebudayaan Islam merupakan reportase historis yang mengungkap peristiwa masa lalu
yang dialami oleh umat Islam. Dengan mempelajari SKI dapat diperoleh informasi
tentang pertumbuhan dan perkembangan pemikiran fikih dengan karya-karya ulama
tentang fikih melalui kitab-kitab fikih.
Oleh sebab itu, dalam pembelajaran mata pelajaran fikih di madrasah (MTs)
harus diajarkan dalam konteks kesatuan pendidikan agama Islam (PAI), yakni
mendialogkan fikih dengan bidang Al-Quran-Hadis (sebagai sumbernya), Aqidah-
Akhlak sebagai landasan etiknya, dan SKI dengan perspektif historis-sosiologisnya.
Untuk itu, perlu disadari oleh para guru pemegang (pengampu) mata pelajaran
fikih, bahwa penguasaan ilmu fikih (aspek kompetensi akademis) diperlukan juga
pemahaman tentang keilmuan al-Quran-Hadis, Akidah-Akhlak, dan SKI dalam kaitan
integralisme ilmu-ilmu pendidikan agama Islam. Pembelajaran ilmu fikih di madrasah
perlu disampaikan dalam suasana yang tidak monolitik (ilmu fikih hanya dilihat
dengan kaca mata fikih saja), akan tetapi perlu diajarkan dengan mendialogkan aspek
normativitas (doktrin-doktrin hukum syari) dengan konteks historisitas (sejarah dan
sosial) umat Islam yang selalu berada dalam lingkup sejarah, dan peradaban manusia.
Fikih sebagai mata pelajaran memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda
dengan ilmu agama yang lain (al-Quran-Hadis, Akidah Akhlak, dan SKI). Ilmu Fikih
lebih menekankan pada kemampuan cara melaksanakan ibadah dan muamalah yang
benar dan baik sesuai dengan sumber utama Islam, yakni Al-Quran dan Hadis, dan

155
didasari oleh akhlak islamiyah. Dengan demikian pembelajaran fikih di madrasah,
khususnya di MTS perlu dipersiapkan secara matang dan menghindari pada situasi
pembelajaran yang formalis, hanya menjadikan ilmu fikih sebagai hafalan-hafalan
tentang ketentuan hukum, akan tetapi fikih harus menghadirkan sebuah nilai yang
menjadi dasar berperilaku peserta didik dan guru dalam kehidupan sehari-hari.

B. Tujuan Pembelajaran Fikih di MTs


Tujuan pembelajaran fikih diarahkan untuk mengantarkan peserta didik dapat
memahami pokok-pokok hukum Islam dan tata cara pelaksanaannya untuk
diaplikasikan dalam kehidupan sehingga menjadi muslim yang selalu taat menjalankan
syariat secara kffah (sempurna). Pembelajaran fikih di MTs bertujuan untuk
membekali peserta didik agar dapat: (1) mengetahui dan memahami pokok-pokok
hukum Islam yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (ibadah) dan hubungan
manusia dengan sesama yang diatur dalam fikih muamalah. (2) melaksanakan dan
mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dalam melaksanakan ibadah
kepada Allah dan ibadah sosial dengan sesama. Pengamalan tersebut diharapkan
menumbuhkan ketaatan menjalankan aturan hukum Islam, disiplin dan tanggung jawab
yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Dengan semangat yang demikian, maka modul materi fikih untuk tingkat MTs
ini perlu dibuat untuk pendalaman materi pembelajaran PAI pada PLPG dalam
kerangka meningkatan mutu profesionalisme guru, baik pada aspek kompetensi
akademik, profesional, personal, maupun sosial. Dengan mengacu pada kurikulum
pendidikan KTSP, maka pembelajaran fikih di MTs harus selalu dikembangkan oleh
setiap guru pengampu mata pelajaran fikih dan dikontekstualisasikan dengan realitas
kehidupan masyarakat sekarang.

C. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Fikih di MTs


Ruang lingkup mata pelajaran fikih di MTs meliputi ketentuan-ketentuan
hukum Islam dalam menjaga keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara
hubungan manusia dengan Allah S.W.T dan hubungan manusia dengan sesama
manusia. Adapun ruang lingkupnya meliputi:
a. Aspek fikih ibadah meliputi: ketentuan dan tata cara taharah (bersuci), salat
fardu, salat sunnah, dan salat dalam keadaan darurat, sujud, azan dan iqamah,

156
berzikir dan berdoa setelah salat, puasa, zakat, haji dan umrah, kurban dan
akikah, makanan, perawatan jenazah, dan ziarah kubur.
b. Aspek fikih muamalah meliputi: ketentuan hukum jual beli, qirad, riba, pinjam-
meminjam, hutang-piutang, gadai, dan borg (jaminan) serta upah.
D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Fikih di MTs
Kelas VII Semester I

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


1. Membiasakan bersuci (thaharah) 1.1. Menjelaskan ketentuan-ketentuan
dalam kehidupan sehari-hari sesuai bersuci
dengan tuntunan Rasul Saw 1.2. Membedakan antara hadats, najis dan
kotoran
1.3. Mendemonstrasikan tata cara bersuci
dari hadats, najis dan kotoran

2. Membiasakan berwudhu sesuai 2.1. Menjelaskan ketentuanketentuan


tuntunan Rasul Saw. berwudhu.
2.2. Menghapal niat dan doa setelah
wudhu
2.3. Mendemonstrasikan cara berwudhu

3. Memahami mandi wajib setiap 3.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan


berhadats besar mandi wajib
3.2 Membedakan antara mandi wajib dan
mandi biasa
3.3 Mensimulasikan mandi wajib
4. Membiasakan bersuci setiap selesai 4.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
haidh bersuci setelah haidh
4.2 Menjelaskan siklus haidh
4.3 Memperaktekkan tata cara bersuci
setelah selesai haidh
5. Memperaktekkan tayammum dalam 5.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
keadaan darurat bersuci dengan tayammum
5.2 Menghapal niat tayammum
5.3 Mendemonstrasikan tata cara
tayammum
6. Membiasakan shalat lima waktu 6.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
sesuai tuntunan Rasul Saw shalat lima waktu
6.2 Menghapal bacaan-bacaan shalat lima
waktu
6.3 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
waktu shalat lima waktu
6.4 Mendemonstrasikan gerakan-gerakan
dan bacaan shalat.

157
7. Memperaktekkan tayammum dalam 5.4 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
keadaan darurat bersuci dengan tayammum
5.5 Menghapal niat tayammum
5.6 Mendemonstrasikan tata cara
tayammum

6. Membiasakan shalat lima waktu 6.5 Menjelaskan ketentuan-ketentuan


sesuai tuntunan Rasul Saw shalat lima waktu
6.6 Menghapal bacaan-bacaan shalat lima
waktu
6.7 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
waktu shalat lima waktu
6.8 Mendemonstrasikan gerakan-gerakan
dan bacaan shalat.
9. Memperaktekkan tayammum dalam 5.7 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
keadaan darurat bersuci dengan tayammum
5.8 Menghapal niat tayammum
5.9 Mendemonstrasikan tata cara
tayammum
6. Membiasakan shalat lima waktu 6.9 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
sesuai tuntunan Rasul Saw shalat lima waktu
6.10 Menghapal bacaan-bacaan shalat lima
waktu
6.11 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
waktu shalat lima waktu
6.12 Mendemonstrasikan gerakan-gerakan
dan bacaan shalat.
Kelas VII Semester II

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


1. Memahami shalat dan khutbah sesuai 1.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
tuntunan Rasul Saw shalat Jumat dan khutbahnya
1.2 Mendemonstrasikan tata cara shalat
Jumat dan khutbahnya
2. Membiasakan shalat berjamaah dalam 2.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
setiap shalat lima waktu shalat berjamaah
2.2 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
makmum masbuk
2.3 Menjelaskan cara mengingatkan
imam yang lupa
2.4 Memperaktekkan shalat berjamaah
dalam setiap waktu
3. Memahami shalat qashar, jama dan 3.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
qashar jama. shalat qashar, jama dan qashar jama
3.2 Menghapal niat shalat qashar, jama
dan qashar jama
3.3 Mendemonstrasikan tata cara shalat

158
qashar, jama dan qashar jama
4. Memahami tata cara shalat dalam 4.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
keadaan darurat shalat dalam keadaan darurat
4.2 Membedakan shalat dalam keadaan
darurat ketika sedang sakit dan di
kendaraan
4.3 Mendemonstrasikan shalat darurat
dalam keadaan sakit dan sedang di
kendaraan
5. Memahami tata cara shalat Jenazah 5.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
shalat Jenazah
5.2 Menghapal bacaan-bacaan shalat
Jenazah
5.3 Mendemonstrasikan tata cara shalat
jenazah
6. Membiasakan shalat sunah malam 6.1 Menjelaskan macam-macam shalat
(lail) malam
6.2 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
macam-macam shalat malam
6.3 Mempraktekkan macam-macam
shalat malam
7. Memahami tata cara shalat Ied 7.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
shalat Ied
7.2 Menghapal bacaan niat dan bacaan
tasbih ketika shalat Ied
7.3 Mendemonstrasikan shalat Ied
8. Membiasakan shalat Dhuha 8.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
shalat Dhuha
8.2 Menghapal doa setelah shalat Dhuha
8.3 Memperaktekkan shalat Dhuha
9. Membiasakan shalat sunah Tahiyatul 9.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
masjid shalat Tahiyatul masjid
9.2 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
. Itikaf
9.3 Memperaktekkan shalat Tahiyatul
masjid dan Itikaf

10. Memahami shalat dan khutbah sesuai 1.3 Menjelaskan ketentuan-ketentuan


tuntunan Rasul Saw shalat Jumat dan khutbahnya
1.4 Mendemonstrasikan tata cara shalat
Jumat dan khutbahnya
11. Membiasakan shalat berjamaah dalam 2.5 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
setiap shalat lima waktu shalat berjamaah
2.6 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
makmum masbuk
2.7 Menjelaskan cara mengingatkan
imam yang lupa
2.8 Memperaktekkan shalat berjamaah
dalam setiap waktu
12. Memahami shalat qashar, jama dan 3.4 Menjelaskan ketentuan-ketentuan

159
qashar jama. shalat qashar, jama dan qashar jama
3.5 Menghapal niat shalat qashar, jama
dan qashar jama
3.6 Mendemonstrasikan tata cara shalat
qashar, jama dan qashar jama
13. Memahami tata cara shalat dalam 4.4 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
keadaan darurat shalat dalam keadaan darurat
4.5 Membedakan shalat dalam keadaan
darurat ketika sedang sakit dan di
kendaraan
4.6 Mendemonstrasikan shalat darurat
dalam keadaan sakit dan sedang di
kendaraan
Kelas VIII Semester I

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


1. Memahami tata cara sujud syukur dan 1.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
tilawah sujud syukur dan tilawah
1.2 Menghapal bacaan sujud syukur dan
tilawah
1.3 Mendemonstrasikan sujud syukur dan
tilawah
2. Membiasakan berdzikir dan berdoa 2.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
setelah shalat berdzikir dan berdoa
2.2 Menghapal bacaan dzikir dan doa
setelah shalat
2.3 Mempraktekkan berdoa dan berdzikir
setelah shalat
3. Memahami tata cara berpuasa 3.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
puasa
3.2 Menjelaskan macam-macam puasa
3.3 Mempraktekkan puasa Ramadhan,
nadzar dan sunah
4. Memahami tata cara zakat fitrah 4.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan zakat
fitrah
4.2 Menjelaskan akibat-akibat bagi orang
yang tidak mengeluarkan zakat fitrah
4.3 Mempraktekkan zakat fitrah
5. Membiasakan menginfaqkan harta di 5.1 Menjelaskan macam-macam cara
luar zakat membelanjakan harta di luar zakat
5.2 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
shadaqah, hibah dan hadiah.
5.3 Mendemonstrasikan shadaqah, hibah
dan hadiah
Kelas VIII Semester II

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


1. Memahami tata cara Haji 1.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan

160
ibadah haji
1.2 Membedakan macam-macam haji
1.3 Membacakan bacaan-bacaan manasik
haji
1.4 Mempraktekkan manasik haji
2. Memahami tata cara Umrah 2.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
Umrah
2.2 Mendemonstrasikan Umrah
3. Mengetahui jenis-jenis binatang yang 3.1 Menjelaskan ciri-ciri binatang yang
halal dan haram dimakan halal dan haram dimakan
3.2 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
menyembelih binatang
3.3 Mempraktekkan tata cara menyembelih
binatang
4. Memahami tata cara berqurban dan 4.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
aqiqah berqurban
4.2 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
beraqiqah
4.3 Mempraktekkan berqurban dan
mendemonstrasikan aqiqah

Kelas IX Semester I

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


1. Memahami jual beli sesuai syariat 1.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan jual
Islam beli
1.2 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
khiyar dalam jual beli
1.3 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
qiradh dalam jual beli
1.4 Mensimulasikan tata cara jual beli
2. Memahami hukum Islam tentang 2.1 Menjelaskan hukum pinjam meminjam
pinjam-meminjam dan sewa menyewa 2.2 Menjelaskan hukum sewa menyewa,
gadai dan borg
2.3 Mensimulasikan pinjam meminjam,
sewa menyewa gadai dan borg
3. Memahami tata cara pelaksanaan 3.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan upah
upah, hiwalah dan luqatah 3.2 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
hiwalah
3.3 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
luqhathah
3.4 Mendemonstrasikan pelaksanaan upah,
hiwalah dan luqathah
4. Menjauhi perbuatan riba 4.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan riba
4.2 Menjelaskan bunga bank
4.3 Menjelaskan pendapat ulama tentang
bunga bank
4.4 Mendemonstrasikan perbuatan riba
5. Memahami kewajiban-kewajiban 5.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan yang

161
terhadap orang sakit harus dilaksanakan terhadap orang
sakit
5.2 Mempraktekkan menjenguk orang sakit
6. Memahami hukum Islam tentang 6.1 Menjelaskan tata cara mengurus
jenazah jenazah
6.2 Menjelaskan tata cara taziyah dan
ziarah kubur
6.3 Mempraktekkan, tata cara mengurus
jenazah, berta'ziyah dan ziarah kubur
7. Memahami tata cara bergaul di 7.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan yang
kalangan remaja sesuai ajaran Islam berhubungan dengan akhlak pergaulan
di kalangan remaja
7.2 Membiasakan bergaul di kalangan
remaja sesuai dengan ajaran Islam

Kelas IX Semester II

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


1. Memahami hukum Islam tentang 1.1 Menjelaskan tentang jinayat dan hudud
jinayat, hudud dan diyat 1.2 Menjelaskan tentang tata cara diyat
1.3 Mendemonstrasikan tata cara jinayat,
hudud dan diyat.
2. Menjauhi meminum minumam keras 2.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan yang
berhubungan dengan minuman keras
2.2 Mendemonstrasikan akibat-akibat
orang yang meminum minuman keras
3. Menjauhi perbuatan mencopet, 3.1 Menjelaskan perbedaan antara
menjambret, mencuri, menyamun, perbuatan mencopet, menjambret,
merampok dan merompak mencuri, menyamun, merampok dan
merompak
3.2 Menjelaskan akibat orang yang
melakukan perbuatan mencopet,
menjambret, mencuri, menyamun,
merampok dan merompak
3.3 Mendemonstrasikan perbuatan
perbuatan mencopet, menjambret,
mencuri, menyamun, merampok dan
merompak
4. Menjauhi perbuatan zina 4.1 Menjelaskan hal-hal yang berhubungan
dengan zina
4.2 Menjelaskan akibat orang yang berzina
5. Memahami undang-undang Negara 5.1 Menjelaskan undang-undang negara
5.2 Menjelaskan hokum membela tanah air
5.3 Menjelaskan upaya-upaya membela
tanah air
5.4 Menghormati undang-undang negara
6. Memahami hukum Islam tentang 6.1 Menjelaskan kewajiban-kewajiban

162
kewajiban-kewajiban warga negara dan sebagai hamba Allah baik yang
kewajiban dalam memilih pemimpin berhubungan dengan hak Allah atau
dengan hak adami
6.2 Menjelaskan hukum mematuhi syariat
Islami
6.3 Menjelaskan pola kepemimpinan
dalam Islam
6.4 Mempraktekkan syariat Islam dalam
kehidupan sehari-hari
7. Membiasakan 7.1 Menjelaskan tata cara memelihara
memelihara lingkungan dan berperilaku lingkungan
yang mencerminkan kepedulian social 7.2 Menjelaskan tata cara meningkatkan
kesejahteraan sosial dan berperilaku
yang mencerminkan kepedulian sosial.
7.3 Mempraktekkan tata cara memelihara
lingkungan dan berperilaku yang
mencerminkan kepedulian sosial.

E. Contoh Pendalaman Materi Fikih

Materi Kelas VIII Semester II


BERQURBAN DAN AQIQAH

KOMPETENSI DASAR : Memahami tata cara berqurban dan aqiqah


INDIKATOR : 1. Menjelaskan pengertian qurban
2. Menjelaskan hukum qurban
3. Menyebutkan syarat dan jenis hewan qurban
4. Menyebutkan waktu cara pemotongan hewan qurban
5. Menjelaskan hikmah qurban
6. Menjelaskan pengertian aqiqah
7. Menjelaskan hukum aqiqah
8. Menjelaskan pemotongan hewan aqiqah
9. Menjelaskan hikmah aqiqah
10. Menyebutkan perbedaan qurban dan aqiqah

-QURBAN
1. Pengertian qurban
Qurban secara bahasa adalah dekat. Sedangkan secara terminologi qurban
adalah ibadah dengan cara memotong binatang untuk mendekatkan diri kepada Allah

163
SWT pada hari raya idul Adha dan tiga hari di hari tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13
Dzulhijjah).
Ajaran berqurban yang berlaku saat sekarang adalah mengikuti syariat yang
diajarkan Nabi Ibrahim a.s. ketika beliau diperintah Allah SWT dalam mimpinya untuk
menyembelih putranya, Ismail. Hal ini diceritakan dalam S. As Saffat ayat 102-107:

( ) ( ) ( )
() ( ) ( )

Artinya:
102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama
Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab:
"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu
akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".
103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas
pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
104. Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
105. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah
Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

2. Hukum qurban
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum qurban, yaitu ada yang
brpendapat bahwa hukum qurban adalah wajib dan ada yang berpendapat bahwa
hukum qurban adalah sunah muakad. Alasan Ulama yang mengatakan bahwa hukum
qurban adalah wajb adalah:
a. Firman Allah SWT dalam S. Al Kautsar ayat 1-2:
( )
Artinya:
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
b. Sabda Rasulullah SAW
( )
Artinya: Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum shalat, hendaknya
berqurban lagi.(Muttafaqun Alaih)

164
Artinya: Dari Abu Huraira bahwa Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang
berkecukupan berqurban dan dia tidak berqurban maka janganlah
mendekati tempat shalatku.

Adapun ulama yang mengatakan bahwa hukum qurban itu sunah, seperti
dalam madzhab Syafii demikian Sufyan ats-Tsauri dan Ibnu Mubarok.
Sabda Nabi:

( )

Artinya: Dari Muhammad bin Sirrin berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Umar, apakah
dia wajib. Dia menjawab: Rasulullah saw telah berqurban dan kaum muslim
setelah beliau berlaku hukum sunnah.

Para ulama sepakat bahwa qurban nadzhar hukumnya wajib dan Imam Syafii
mengatakan bahwa apabila qurban itu wajib, maka yang berqorban tidak boleh
memakan dagingnya, namun apabila ia sunnah ia boleh memakan dagingnya.
3. Syarat dan jenis hewan qurban
Tidak semua binatang binatang dapat dijadikan hewan qurban. Ulama
bersepakat bahwa qurban itu dari hewan ternak seperti unta, sapi, kerbau, kambing, dan
biri-biri (domba). Binatang yang akan dijadikan qurban harus memenuhi syarat
tertentu:
a. Binatang itu sehat dan tidak cacat
b. Binatang itu telah cukup umur
1) Biri-biri yang telah berumur satu tahun lebih atau telah tanggal giginya
2) Kambing yang telah berumur dua tahun lebih
3) Kerbau dan sapi yang telah berumur dua tahun lebih
4) Unta yang telah berumur lima tahun lebih

4. Waktu dan cara pemotongan hewan


qurban
Pemotongan hewan qurban dilakukan setelah shalat Idul Adha (10 Dzulhijjah)
dan berakhir hingga akhir hari tasyrik (13 Dzulhijjah). Waktu memotong hewan qurban
disunnahkan sebagai berikut:
a. Membaca Bismillahi Wallahu akbar

b. Membaca shalawat Nabi

165
( )
c. Membaca doa
( )
d. Hewan qurban dihadapkan ke arah qiblat
e. Menggunakan alat potong yang tajam
Orang yang berqurban dengan seorang kambing atau domba hanya berlaku
untuk satu orang sedang bila berqorban dengan unta, sapi atau kerbau dapat berlaku
untuk tujuh orang. Sabda Rasulullah:
( ) :

Artinya: Dari Jabir bin Abdillah bahwasanya dia berkata kami bersama Rasulullah saw
waktu perjanjian Hudaibiyah berqurban seekor unta untuk tujuh orang dan
seekor sapi untuk tujuh orang.

Untuk qurban dengan unta sebagian ulama menyatakan dapat digunakan untuk
10 orang. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abbas


( )

Artinya: Dari Ibnu Abbas berkata kami bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan dan
mendapati hari Nahr (qurban), maka kami bersama-sama menyembelih seekor
unta untuk 10 orang dan seekor sapi untuk 7 orang.

5. Hikmah qurban
Di antara hikmah qurban adalah sebagai berikut:
a. Mendekatkan diri kepada Allah
b. Sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang dilimpahkan oleh Allah
c. Memupuk rasa solidaritas terhadap sesama manusia sehingga meningkatkan
ukhuwah Islamiyyah
d. Salah satu solusi dalam menanggulangi kemiskinan

-AQIQAH
1. Pengertian Aqiqah
Aqiqah adalah memotong hewan ternak pada hari ketujuh dari kelahiran anak
dengan ketentuan syara.
2. Hukum Aqiqah

166
Aqiqah hukumnya sunnah muakkad yaitu sunnah yang sangat dianjurkan karena
anak yang belum dilakukan aqiqah seolah-olah masih berada dalam gadaian dan
penebusnya adalah berupa aqiqah. Sabda Nabi:
( )

Artinya: Setiap anak yang lahir itu tergadaikan sampai disembelihkan baginya
binatang aqiqah yang disembelih untuknya pada hari ketujuh, (juga ketika
itu) hendaknya diberi nama dan dicukur rambutnya (HR Abu Daud dan
Nasai)

Apabila sampai belum dewasa, belum dilaksanakan aqiqah karena belum mampu
maka dapat dilaksanakan setelah dewasa pada saat dia mampu melaksanakan
aqiqah.
3. Hikmah Aqiqah
Adapun hikmah aqiqah adalah sebagai berikut:
a. Sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan ibu dan anak
b. Sebagai bentuk rasa kasih sayang orang tua terhadap anak yang dilahirkan
c. Sebagai media memberitahukan kepada masyarakat bahwa orang tua sudah
memikul amanat Allah berupa anak
d. Sebagai pelajaran bagi orang tua bahwa nanti harus bertanggung jawab dalam
membesarkan anak
4. Perbedaan Qurban dan Aqiqah

Perbedaan qurban dan aqiqah adalah sebagai berikut:


No Qurban Aqiqah
1 Dilaksanakan pada hari raya Dilaksanakan karena ada kelahiran
qurban dan hari tasyrik anak
2 Bisa setiap tahun Sekali seumur hidup
3 Daging qurban dibagi dalam Dibagi dalam keadaan sudah dimasak
keadaan mentah

EVALUASI
Jawablah pertanyaan dibawah ini!
1. Apa yang dimaksud dengan qurban dan aqiqah?
2. Jelaskan persamaan dan perbedaan qurban dan aqiqah!

167
3. Bagaimana hukumnya orang yang melakukan aqiqah setelah
dia dewasa?
4. Mengapa Rasulullah membenci orang yang telah mampu
berqurban namun enggan melaksanakannya?
5. Salah satu hikmah qurban adalah mempererat ukhuwah
Islamiyah. Mengapa demikian?

Materi Kelas VIII Semester 1

PENGELUARAN HARTA DI LUAR ZAKAT

STANDAR KOMPETENSI
Memahami ketentuan pengeluaran harta di luar zakat
KOMPETENSI DASAR
1. Menjelaskan ketentuan sedekah, hibah, dan hadiah.
2. Menjelaskan persamaan dan perbedaan antara sedekah, hibah dan hadiah.
3. Menjelaskan manfaat dan keutamaan orang yang sedekah, hibah dan hadiah.
4. Mempraktekkan sedekah, hibah dan hadiah dalam kehidupan nyata.

SEDEKAH, HIBAH, DAN HADIAH


Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai sedekah, hibah, dan hadiah, perlu
kiranya kita mengetahui sekelumit tentang mentasarufkan harta atau mendayagunakan
harta milik dalam konteks fikih muamalah. Dalam ilmu fikih dikenal dengan istilah
infak, yang berasal kata dari anfaqa yang berarti menafkahkan dan menbelanjakan
harta. Dalam konteks ilmu fikih, infak membelanjakan harta sesuai dengan tuntunan
agama Islam. Dilihat dari motif (niat) dan sasaran infak, maka infak dapat dibedakan
dari bentuk dan tujuannya, yakni sedekah, hibah, dan hadiah.

A. Sedekah
Sedekah yang berasal dari kata shadaqah adalah memberikan sesuatu yang baik
dan halal kepada orang yang membutuhkan dengan ikhlas karena Allah semata, tanpa
mengharapkan imbalan apa pun dari orang lain. Sedekah tidak terikat oleh ruang dan
waktu, artinya, di mana saja dan tidak harus menunggu kadar tertentu (nishab) dari apa
yang disedekahkan.

168
Hukum sedekah adalah sunnah, artinya, orang yang memberi sedekah akan
mendapat pahala dari Allah, dan tidak berdosa apabila tidak melakukannya. Islam
sangat menganjurkan sedekah, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah, Q.S. Al-
Baqarah (2): 161.

Artinya: Perumpamaan orang yang bersedekah (menginfakkan) hartanya di jalan


allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap
tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang
dikehendaki. Dan Allah Mahaluas (lagi) Maha Mengetahui.

Pada ayat lain disebutkan:






Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu


dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan pemerima), seperti
orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia
dan tidak beriman kepada allah dan hari akhir, maka yang demikian itu
ibarat debu yang di atas batu yang ditiup angina, sehingga lenyap tanpa
bekas sedikit pun.

2. Hibah
Hibah adalah memberikan (melimpahkan) dengan suka rela sesuatu yang kita
miliki kepada orang lain, baik dalam bentuk benda maupun jasa, dengan tidak ada
sebab apa pun yang mengharuskan adanya pemberian tersebut. Hibah dilakukan atas
dasar keinginan sendiri tanpa karena pengaruh orang lain. Oleh sebab itu, hibah harus
dilakukan dengan ikhlas, tanpa paksaan dari siapa pun.
Hibah dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a. Ibra, yaitu hibah berupa pembebasan seseorang dari hutang.
b. Sedekah, yaitu memberikan sesuatu yang kita miliki kepada orang lain dengan
suka rela dengan tidak ada sebab apa pun yang mengharuskan adanya
pemberian tersebut.
c. Hadiah, yaitu memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan
kepada yang diberi hadiah atau sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

169
Hukun hibah adalah sunnah, apabila hibah itu berupa sedekah, dan mubah
hukumnya apabila hibahnya berupa ibra atau hadiah.

Syarat hibah
1) Benda dan jasa yang dihibahkan nyata
2) Dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku.
3) Dapat dimiliki oleh penerimanya.
4) Si penerima hibah tidak terikat lagi dengan pemberi hibah, walaupun sebagian.
5) Barang atau jasa yang dihibahkan harus berada dalam kekuasaannya (milk
sempurna), tidak tergadaikan (tidak menjadi jaminan) dengan orang lain.

Rukun Hibah
1) Pemberi
2) Penerima
3) Ijab dan qabul (serah terima)
4) Tidak ada syarat mengikat yang ditentukan oleh pemberi hibah mengenai waktu
maupun pemanfaatannya.

3. Hadiah
Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan
kepada orang yang diberi hadiah atau sebagai bentuk penghormatan kepadanya.
Sabda Rasulullah s.a.w., yang artinya: :

Dari Khalid bin Adiy, sesungguhnya Nabi s.a.w. bersabda, siapa yang
diberi kebaikan oleh saudaranya dengan tidak berlebihan dan tidak diminta,
maka hendaklah diterima jangan ditolak, karena yang demikian itu
merupakan rezeki yang diberikan oleh Allah kepadanya (Hadis Riwayat
Ahmad).

Syarat dan Rukun Hadiah


Syarat hadiah:
1) Orang yang memberi hadiah berakal sehat dan merdeka.
2) Penerima hadiah harus orang yang betul-betul membutuhkan atau yang berhak.
3) Barang atau jasa yang dihadiahkan harus bermanfaat.

170
Rukun hadiah:
1) Pemberi
2) Penerima
3) Ijab dan qabul atau serah terima
4) Benda atau jasa yang dihadiahkan

Perbedaan Sedekah, Hibah, dan Hadiah


Perbedaan antara ketiganya adalah sebagai berikut:
1. Sedekah diperuntukkan bagi orang-orang lemah yang membutuhkan, sedangkan
hadiah diperuntukkan bagi orang-orang yang berprstasi, biasanya diberikan
sebagai penghargaan atau penghormatan atas prestasinya. Adapun hibah dapat
diperuntukkan bagi siapa saja, baik lemah atau tidak.
2. Sedekah digunakan iuntuk membantu, sedangkan hadiah digunakan untuk
menghormati, dan hibah bisa untuk keduanya.
3. Sedekah hukumnya sunnah, sedangkan hadiah dan hibah hukumnya mubah.

Manfaat Sedekah, Hibah, dan Hadiah


Baik sedekah, hibah, maupun hadiah dapat memberikan manfaat, baik kepada
yang memberikan sedekah, hibah, dan hadiah maupun kepada yang menerimanya. Di
antara manfaat tersebut adalah:
1. Dapat meringankan beban dan penderitaan orang lain yang
membutuhkan
2. Mempererat tali persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.
3. Menghilangkan sifat tercela, seperti kikir dan bakhil.
4. Membersihkan diri dari sifat-sifat tercela.
5. Meningkatkan kepekaan sosial dan meratakan kesejahteraan
masyarakat.

EVALUASI
Jawablah pertanyaan dibawah ini!
1. Apa yang dimaksud dengan sedekah, hibah dan hadiah?
2. Jelaskan persamaan dan perbedaan sedekah, hibah dan
hadiah!

171
3. Salah satu manfaat sedekah adalah mempererat ukhuwah
Islamiyah. Mengapa demikian?

172