Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
instansi pendidikan adalah lembaga atau tempat berlangsungnya proses pendidikan
atau belajar mengajar yang dilakukan dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku
individu menuju ke arah yang lebih baik melalui interaksi dengan lingkungan sekitar.
Kampus merupakan salah satu intansi pendidikan yang digunakan untuk proses belajar
mengajar serta memiliki tujuan untuk mengubah pola fikir dan tingkah laku individu
menuju arah yang lebih baik melalui interaksi dengan lingkungan sekitar, sehingga
lingkungan sekitar kampus harus diperhatikan agar terciptanya lingkungan yang nyaman.
Untuk terciptanya lingkungan yang nyaman maka harus memperhatikan kualitas udara
yang bersih dan sehat.
Perwujudan kualitas udara yang bersih dan sehat khususnya di dalam ruangan
merupakan bagian pokok di bidang kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang
penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat
memberikan daya dukungan bagi makhluk hidup untuk hidup secara optimal. Kualitas
udara di luar ruangan dapat mempengaruhi kualitas udara di dalam ruangan. Saat ini,
pencemaran udara dalam ruangan (indoor pollution) perlu mendapat perhatian karena
menurut Mukono (2003), 80% kegiatan manusia dilakukan didalam ruangan yaitu di
dalam rumah, di tempat kerja dan di intansi pendidikan.
Kualitas udara di dalam ruangan di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu fisik, kimia
dan biologis. Salah satu faktor fisik yang dapat mempengaruhi kualitas udara adalah
kebisingan. Kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki dan mengganggu manusia.
BerdasarkanSK Menteri Negeri Lingkungan Hidup No. Kep.Men-48/MEN.LH/11/1996,
kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari suatu usaha atau kegiatan dalam
tingkat dan waktu tertentuyang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan
kenyamanan lingkungan, termasukternak, satwa, dan sistem alam.
Kebisingan dapat mempengaruhui kesehatan manusia baik secara fisik maupun
psikologis. WHO mengakui efek kesehatan penduduk yang berasal dari kebisingan,antara
lain ketergantungan pola tidur, kardiovaskuler, sistem pernafasan, psikologis,
fisiologis,dan pendengaran. Efek psikologis akibat kebisingan termasuk hipertensi,
takikardia, peningkatan pelepasan kortisol dan stress fisiologis meningkat.Pengukuran
kebisingan dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut Sound Level Meter.
Kebisingan yang terus menerus akan menimbulkan ketulian secara perlahan, dalam
waktu hitungan bulan sampai tahun. Dengan kondisi seperti ini jarang disadari oleh
penderita sehingga ketika penderita baru menyadari menderita ketulian stadium akhir
sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Maka akan mengganggu aktivitas manusia. disamping
itu, ketulian juga akan mengganggu komunikasi. Oleh karena itu perlu dilakukan
pengukurang kebisingan di suatu ruangan agar dapat mengambil tindakan pencegahan dari
kecacatan yang ditimbulkan akibat kebisingan.
B. Tujuan
Untuk mengetahui intensitas suara di lobi kesehatan masyarakat unsoed
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Kebisingan
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 718/Menkes/Per/XI/1987, kebisingan
adalah terjadinya bunyi yang tidak diinginkan sehingga mengganggu dan atau dapat
membahayakan kesehatan. Bising ini merupakan kumpulan nada-nada dengan
bermacam-macam intensitas yang tidak diingini sehingga mengganggu ketentraman
orang terutama pendengaran.
Kebisingan adalah bunyi yang tidak di inginkan karena tidak sesuai dengan konteks
ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan
kesehatan manusia. Bunyi yang menimbulkan kebisingan disebabkan oleh sumber suara
yang bergetar. Getaran sumber suara ini mengganggu keseimbangan molekul-molekul
udara di sekitarnya sehingga molekul-molekul udara ikut bergetar. Getaran sumber ini
menyebabkan terjadinya gelombang rambat energi mekanis dalam medium udara
menurut pola rambat longitudinal. Rambatan gelombang di udara ini dikenal sebagai
suara atau bunyi (Sasongko dkk., 2000).
B. Jenis Kebisingan
Menurut Permenkes No, 718/Menkes/Per/XI/1987, Berdasarkan frekuensi, tingkat
tekanan bunyi, tingkat bunyi dan tenaga bunyi maka bising dibagi dalam 3 kategori:
1. Occupational noise (bising yang berhubungan dengan pekerjaan) yaitu bising yang
disebabkan oleh bunyi mesin di tempat kerja, misal bising dari mesin ketik.
2. Audible noise (bising pendengaran) yaitu bising yang disebabkan oleh frekuensi
bunyi antara 31,5 8.000 Hz.
3. Impuls noise (Impact noise = bising impulsif) yaitu bising yang terjadi akibat adanya
bunyi yang menyentak, misal pukulan palu, ledakan meriam, tembakan bedil.
Berdasarkan sifat dan spektrum frekuensi bunyi, bising dapat dibagi atas:
1. Bising yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas.
Bising ini relatif tetap dalam batas kurang lebih 5 dB untuk periode 0,10 detik
berturut-turut. Misalnya mesin, kipas angin, dan dapur pijar.
2. Bising yang kontinyu dengan spektrum fekuensi yang sempit.
Bising ini juga relatif tetap, namun hanya mempunyai frekuensi tertentu saja (pada
frekuensi 500, 1000, dan 4000 Hz). Misalnya gergaji sirkuler dan katup gas.
3. Bising terputus-putus (Intermittent).
Bising ini tidak terjadi terus-menerus, melainkan ada periode relatif tenang. Misalnya
suara lalu lintas dan kebisingan di lapangan terbang.
4. Bising Impulsif.
Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu yang
sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. Misalnya tembakan, suara
ledakan, dan meriam.
5. Bising Impulsif berulang.
Bising ini identik dengan bising impulsif, hanya saja terjadi secara berulang-ulang.
Misalnya mesin tempa (Nainggolan, 2007).
Berdasarkan pengaruhnya terhadap manusia, bising dapat dibagi atas:
1. Bising yang mengganggu (Irritating noise).
Bising ini memiliki intensitas yang tidak terlalu keras, misalnya suara dengkuran.
2. Bising yang menutupi (Masking noise)
Bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas. Secara tidak langsung, bunyi ini akan
membahayakan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, karena teriakan atau isyarat
tanda bahaya tenggelam dalam bising dari sumber lain.
3. Bising yang merusak (Damaging noise)
Bunyi yang intensitasnya melampaui nilai ambang batas (NAB). Bunyi jenis ini akan
merusak atau menurunkan fungsi pendengaran (Nainggolan, 2007).
C. Pengaruh tingkat kebisingan terhadap kesehatan
Menurut Srisantyorini (2002) Setiap orang memiliki kepekaan sendiri-sendiri
terhadap kebisingan, terutama nada yang tinggi, karena dimungkinkan adanya reaksi
psikologis seperti stres, kelelahan, hilang efisiensi dan ketidaktenangan. Disamping itu
sumber kebisingan yang tinggi memberikan pengaruh sehingga dapat mengurangi
kenyamanan dalam bekerja, mengganggu komunikasi atau percakapan antar pekerja,
Mengurangi konsentrasi, Menurunkan daya dengar, baik yang bersifat sementara maupun
permanen, dan Tuli akibat kebisingan. Pengaruh utama dari kebisingan terhadap
kesehatan adalah kerusakan pada inderaindera pendengar, yang menyebabkan ketulian
progresif. Gangguan kebisingan dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Gangguan Fisiologis.
Gangguan fisiologis adalah gangguan yang mula-mula timbul akibat bising. Dengan
kata lain fungsi pendengaran secara fisiologis dapat terganggu. Pembicaraan atau
instruksi dalam ruangan tidak dapat didengar secara jelas sehingga dapat
menimbulkan kerusakan pendengaran. Pembicara terpaksa berteriak, selain
memerlukan tenaga ekstra juga menimbulkan kebisingan. Kebisingan juga dapat
mengganggu cardiac out put dan tekanan darah.
2. Gangguan Psikologis.
Gangguan fisiologis lama-lama bisa menimbulkan gangguan psikologis. Suara yang
tidak dikehendaki dapat menimbulkan stress, gangguan jiwa, sulit konsentrasi dan
berfikir.
3. Gangguan Patologis Organis.
Gangguan kebisingan yang paling menonjol adalah pengaruhnya terhadap alat
pendengaran atau telinga, yang dapat menimbulkan ketulian yang bersifat sementara
hingga permanent.
D. Nilai Ambang Batas Kebisingan
Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 718/MENKES/PER/XI/1987 menyebutkan
pembagian tingkat kebisingan menurut empat zona :
1. Zona A (Kebisingan antara 35 dB sampai 45 dB)
Zona yang diperuntukkan bagi penelitian, rumah sakit, tempat perawatan kesehatan
atau sosial dan sejenisnya.
2. Zona B (Kebisingan antara 45 dB sampai 55 dB)
Zona yang diperuntukkan bagi perumahan, tempat pendidikan, rekreasi dan
sejenisnya.
3. Zona C (Kebisingan antara 50 dB sampai 60 dB)
Zona yang diperuntukkan bagi perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar dan
sejenisnya.
4. Zona D (Kebisingan antara 60 dB sampai 70 dB).
Zona yang diperuntukkan bagi industri, pabrik, stasiun kereta api, terminal bus dan
sejenisnya.
BAB III
METODE
A. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan dalam pengukuran kebisingan ini adalah Sound Level Meter.
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam pengukuran kebisingan yaitu suara
B. Prosedur Pengukuran

Geser tombol ON Kalibrasi pada Geser ke huruf A


angka 94

Bandingkan dengan Catat hasil Ukur intensitas


peraturan NAB tiap 10 detik, tekan
tombol hold
sampai 20 kali
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Pengukuran dilakukan 20 kali yang dilihat setiap 10 detik dengan menggunakan
sound level meter, didapatkan hasil sebagi berikut:

Waktu Hasil Pengkuran


10 detik pertama 56,4 dB
10 detik kedua 62,0 dB
10 detik ketiga 57,7 dB
10 detik keempat 57,3 dB
10 detik kelima 62,1 dB
10 detik keenam 54,4 dB
10 detik ketujuh 69,7 dB
10 detik kedelapan 53,8 dB
10 detik kesembilan 72,3 dB
10 detik kesepuluh 72,4 dB
10 detik kesebelas 69,9 dB
10 detik kedua belas 99,1 dB
10 detik ketiga belas 62,8 dB
10 detik keempat belas 68,5 dB
10 detik kelima belas 57,6 dB
10 detik keenam belas 69,4 dB
10 detik ketujuh belas 59,8 dB
10 detik kedelapan belas 64,8 dB
10 detik kesembilan belas 60,5 dB
10 detik kedua puluh 83,6 dB

Perhitungan nilai rata-rata kebisingan menggunaka rumus:

Rata-rata kebisingan = jumlah 10 detik ke-6 sampai 10 detik ke-15


Jumlah item (10)

Rata-rata kebisingan = 640,5


10

Rata-rata kebisingan = 64,05

Jadi berdasarkan hasil pengukuran kebisingan di lobi kesehatan masyarakat di


peroleh rata-rata nilai kebisinganya sebesar 64,05 Dba
B. Pembahasan
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 718/MENKES/PER/XI/1987
menyebutkan bahwa tempat pendidikan termasuk zona A yang memiliki nilai ambang
batas sebesar 45-55 dBA.
Dari hasil pengukuran yang dilakukan di lobi kesehatan masyarakat unsoed
diperoleh nilai kebisinganya sebesar 64,05 sehingga dapat dikatakan kebisingan di lobi
kesehatan masyarakat unsoed melebihi standar yang di tetapkan oleh Peraturan Menteri
Kesehatan RI nomor 718/MENKES/PER/XI/1987.
Hasil pengukuran ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Eko (2014) dari
hasil pengukuran yang dilakukan di gedung halim perdana kusuma dan abdurrahman
saleh diperoleh nilai rata-rata kebisingan sebesar 72,9 sehingga dapat dikatakan tingkat
kebisingan di area gedung perkuliahan di STTA belum sesuai dengan standar baku yang
telah ditetapkan. Hal yang perlu dilakukan untuk mengendalikan tingkat kebisingan di
area gedung perkuliahan adalah menetapkan aturan dan kebijakan.
Hasil pengukuran ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Halil, dkk
(2015) yang menyatakan tingkat kebisingan di SMPN 1 Padang diukur pada 2 titik
yang berbeda, yaitu kelas yang dekat dari jalan raya dengan tingkat rerata kebisingan
sebesar 69.62 dB dan kelas yang jauh darijalan raya dengan tingkat rerata kebisingan
sebesar 72.80 dB. Dari hasil penelitian di lapangan didapatkan bahwa tingkat
kebisingan dilingkungan SMP N 1 Padang melebihi batasan nilai kebisingan untuk
kawasan sekolah atau sejenisnya yaitu 45-55 dBA.

Halil, dkk. 2015. Pengaruh Kebisingan Lalulintas terhadap Konsentrasi Belajar

Siswa SMP N 1 Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. Vol 4 No. 1


Eko. 2014. Evaluasi Faktor Kebi Singan Ruang Kuliah Di Sttapada Gedung Halim Perdana
Kusuma Dan Abdurahman Saleh. Jurnal Teknik Industri. Sekolah Tinggi Teknologi
Adisutjipto. Vol 02 No. 3

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 718/Menkes/Per/XI/1 987