Anda di halaman 1dari 28

KLASIFIKASI BELANJA

MAKALAH INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS

MANAJEMEN KEUANGAN NEGARA DAN DAERAH

KELOMPOK

NAMA NIM
1 ANUGERAH AKBAR A.P 15043069
2 M. NUR CANIAGO 15043059
3 RIFANDRA ADWITIYA 15043099

DOSEN MATA KULIAH :

VITA FITRI SARI, S.E.,M.SI.

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2017
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang,kami mengucapkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya,yang telah
melimpahkan rahmat,hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Klasifikasi Belanja Daerah.

Adapun makalah tentang Klasifikasi Belanja Daerah ini telah kami


usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak,
sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa
menyampaikan, menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami sadar sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa maupun dari segi lainnya. Oleh
karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-
lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami
sehingga kami dapat memperbaiki masalah ini.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah tentang


Klasifikasi Belanja Daerah ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga
dapat memberikan inspirasi kepada pembaca.

Padang, 15 Maret 2017

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Perencanaan dan Pengendalian belanja merupakan aktivitas penting yang
harus dilakukan oleh pemerintah, sebab belanja tidak terencana dan terkendali
dengan baik akan menjadi sumber inefisiensi dan pemborosan uang negara
yang sangat merugikan masyarakat. Sebaliknya, pengelolaan keuangan
Negara yang dilakukan secara ekonomis, efisien, dan efektif akan memberikan
dampak bagi kesejahteraan masyarakat. Agar pemerintah dapat mengelola
belanja secara baik yaitu memenuhi prinsip value for money (penghargaan
atas setiap rupiah uang Negara), maka hal penting yang harus diketahui oleh
manajer publik adalah pemahaman tentang konsep belanja. Dengan memenuhi
konsep belanja maka perencanaan dan pengendalian pengeluaran Negara
menjadi lebih mudah dilakukan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
makalah ini adalah:
a. Pengertian biaya, belanja, dan pengeluaran ?

b. Konsep biaya/belanja?

c. Klasifikasi biaya/belanja ?

C. Tujuan Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis membuatnya yaitu bertujuan
untuk memenuhi Tugas kuliah Manajemen Keuangan Negara dan Daerah. Dan
juga penulis membuat makalah ini, membantu para pembaca untuk
mengetahui lebih dalam lagi mengenai Klasifikasi Belanja Daerah sehingga
para pembaca tidak hanya membaca saja tetapi berharap untuk lebih
mengetahui apa pengertian biaya, belanja dan pengeluaran, konsep
biaya/belanja, dan klasifikasi biaya/belanja.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Biaya, Belanja, dan Pengeluaran

Pengertian Biaya

Istilah biaya banyak dijumpai di sektor bisnis (komersial) dibandingkan disektor


publik, sebab biaya merupakan salah satu informasi penting yang yang akan
dilaporkan dalam laporan laba rugi (income statement). Sektor bisnis, karena
karakteristiknya yang bertujuan mencari laba (profit oriented), sangat berkepentingan
dengan informasi biaya karena jumlah biaya tersebut akan menentukan besarnya
laba/rugi yang diperoleh. Laba/rugi perusahaan dapat diketahui dengan cara
menghitung seluruh pendapatan yang diperoleh dalam satu periode akuntansi
kemudian dikurangi dengan-dengan biaya yang telah dikeluarkan selama periode
yang sama. Biaya dalam hal ini dipahami sebagai pengeluaran yang dilakukan dalam
rangka memperoleh pendapatan. Di dalam akuntansi, biaya didefinisikan sebagai.
pengorbanan sumber daya ekonomi yang dilakukan untuk meperoleh manfaat
dimasa sekarang dan yang akan datang
Istilah biaya itu sendiri masih menimbulkan keraguan dibeberapa ilmuwan,
misalnya apakah biaya yang dimaksud adalah expense atau cost. Dua istilah tersebut
sebenarnya memiliki makna yang sangat berbeda tetapi diterjemahkan sama dalam
bahsa indonesia, yaitu biaya. Expense merupakan biaya yang sudah terjadi dan oleh
karenanya dilaporkan dalam laporan aktivitas yang dalam organisasi bisnis berupa
laporan laba rugi (income statement). Cost adalah biaya yang masih tersimpan yang
belum menjadi biaya (inventoriable expense), oleh karenanya dilaporkan dalam
neraca. Jadi biaya (expense) pada dasarnya merupakan cost yang sudah habis masa
simpannya (expired cost). Istilah biaya juga seringkali rancu dengan istilah beban
yang digunakan di beberapa literatur.
Manajer keuangan publik perlu memahami konsep biaya karena beberapa alasan :
a. Beberapa organisasi sektor publik tertentu menghasilkan barang atau jasa
pelayanan publik yang bisa dijual, misalnya pelayanan pengumpulan dan
pengolahan sampah, penyediaan jasa tol, penyediaan air minum dan
sebagainya. Produksi pelayanan produksi tersebut membutuhkan nilai impas
(break even) yang berarti pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk
pelayanan minimal sama dengan biaya produksi pelayanan agar penyediaan
pelayanan publik dapat berlanjut dan berkesinambungan. Dalam hal ini
penjualan produk pelayanan publik minimal dapat untuk menutup biaya (cost
recovery). Untuk itu kemampuan menghitung biaya produksi pelayanansecara
tepat sangat pnting dalam rangka pembuatan kebijakan tentang penentuan
harga pelayanan yang akan dibebankan kepada pengguna layanan.
b. Biaya dapat digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi. Dengan informasi
yang akan dapat diketahui apakah sumber daya publik telah digunakan secara
efisiensi, tidak terjadi pemborosan dan penyalahgunaan.
c. Penggunaan sistem penggangaran berbasis kinerja (perfomance based
budgeting) membutuhkan serangkaian indikator kinerja dan target kinerja.
Indikator kinerja tersebut meliputi indikator input (masukkan), output
(keluaran), dan outcome (hasil). Salah satu indikator input yang perlu diukur
adalah biaya atau anggaran. Untuk itu target biaya atau anggaran masing-
masing kegiatan, program, dan organisasi sangat penting untuk nantinya
digunakan sebagai tolok ukur kinerja kegiatan, program dan organisasi.
d. Informasi biaya sangat penting dalam pembuatan keputusan tender,
outsourcing, atau privatisasi.

Pengertian Belanja

Istilah belanja pada umumnya digunakan di sektor publik, tidak di sektor


bisnis. Belanja di sektor publik terkait dengan penganggaran, yaitu menunjukkan
jumlah uang yang telah dikeluarkan selama satu tahun anggaran. Belanja pada
organisasi sektor publik menjadi ciri khas tersendiri yang menunjukkan keunikan
sektor publik dibandingkan sektor bisnis karena belanja disektor publik secara konsep
berbeda dengan biaya yang lebih umum digunakan di sektor bisnis. Belanja yang
dalam bahasa inggrisnya expenditure memiliki makna yang lebih luas karena
mencakup biaya (expense) dan sekaligus cost. Belanja dapat berbentuk belanja
operasi (operation expenditure) yang pada hakikatnya merupakan biaya (expense)
maupun belanja modal (capital expenditure) yang merupakan belanja investasi yang
masih berupa cost sehingga nantinya diakui dalam neraca. Belanja modal dalam
konteks akuntansi bisnis bukan merupakan aktivitas yang mempengaruhi neraca.

Pengertian pengeluaran
Pengeluaran merupakan komponen pos pembiayaan dalam struktur APBD yang
dimaksudkan untuk memanfaatkan surplus anggaran yang terjadi. Pengeluaran
pembiayaan dapat berupa :
Pembentukan dana cadangan
Penyertaan modal misalnya penambahan modal pada BUMD
Pembelian surat berharga seperti surat berharga seperti surat utang negara (SUN)
atau obligasi pemerintah daerah
Pelunasan utang
Pemberian pinjaman
Pengeluaran pembiayaan ini meskipun menggunakan uang kas daerah tidak dapat
dikategorikan belanja, sebab tujuan dan mekanisme pengeluaran kasnya dari rekening
kas umum daerah berbeda. Pengeluaran pembiayaan merupakan suatau bentuk
pengeluaran uang dari rekening kas umum daerah.

BELANJA
(EXPENDITURE

BELANJA BELANJA
OPERASI MODAL

BIAYA INVESTASI
(EXPENSE) (COST)

Contoh Belanja Operasi: Contoh Belanja Modal:

Belanja gaji, tunjangan, Belanja pengadaan tanah


honorarium dan upah pegawai Belanja pengadaan gedung
Belanja bahan pakai habis Belanja pengadaan jalan dan
Belanja perjalanan dinas jembatan
Belanja sewa Belanja pengadaan kendaraan
Belanja subsidi Belanja pengadaan mesin
Belanja hibah dan bantuan sosial Belanja pengadaan peralatan
Belanja bunga kantor
Belanja bantuan keuangan Belanja pengadaan meubelair
Yang
Belanja pada kerja/dinas
pakaian suatu saat akan diterima kembali, sedangkan belanja
Belanja adalah pengeluaran
pengadaan buku
Belanja pendidikan
uang dari rekaning kas umum negara/daerah yang tidak
& pelatihan Belanja pengadaan
akan diterima komputer
kembali. Jika
dilihat dari mekanisme pencairan dananya dari rekening kas umum daerah, maka
terdapat perbedaan yang jelas antara belanja dengan pembiayaan. Untuk mengajukan
belanja harus dilakukan melalui mekanisme pengajuan SPP LS/UP/GU/TU kepada
pengguna anggaran/pengguna barang (PA/PB) yang kemudian yang dilanjutkan
dengan pengeluaran SPM LS/UP/GU/TU oleh PA/PB selanjutkan dajukan ke
Bendahara Umum Daerah (BUD)untuk dikeluarkan Surat Perintah Pencairan Dana
(SP2D) yang berfunsgsi sebagai cek. Pengeluaran belanja hanya melibatkan
eksekutif, setelah APBD disahkan dewan maka berarti eksekutif diberi kewenangan
untuk melaksanakan belanja sesuai dengan jumlah yang dianggarkan pengeluaran
pembiayaan tidak dilakukan melalui mekanisme sebagaimana pengeluaran belanja.
Pengeluaran pembiayaan harus melalui persetujuan dewan. Oleh karena itu
diperlukan dokumen berupa bukti memorial, misalnya hasil kesepakatan (MoU)
antara eksekutif dengan legislatif. Pengeluaran pembiayaan ini pun juga hanya bisa
dilakukan oleh BUD, sedangkan SKPD tidak memiliki kewenangan melakukan
pengeluaran pembiayaan.

B. Konsep biaya belanja

Objek biaya

Objek biaya adalah segala sesuatu yang menjadi tujuan pembebanan biaya. Objek
biaya bisa berupa produk barang atau jasa, program, kegiatan, fungsi, unit kerja, atau
organisasi secara keseluruhan. Untuk menjalankan suatu program, kegiatan, fungsi,
dan organisasi juga diperlukan biaya, sebab tanpa dibiayai maka hal-hal tersebut
tidak akan terlaksana secara baik. Pemahaman mengenai objek biaya penting untuk
menentukan biaya tertentu akan dilekatkan atau dibebankan kemana, siapa yang akan
menanggung biaya tersebut. Kesalahan dalam mengenali objek biaya bisa berakibat
kesalahan dalam menentukan jumlah total biaya yang harus dibebankan atau
dipertanggungjawabkan oleh suatu produk, program, kegiatan, fungsi, unit kerja, atau
organisasi. Bisa jadi suatu produk, program, kegiatan, fungsi, unit kerja, atau
organisasi harus menaggung biaya yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.
Pemahaman tentang objek biaya ini mengantarkan kita pada pemahaman tentang
konsep different cost for defferent purposes, yaitu setiap biaya yang dikeluarkan
harus memiliki tujuan inilah yang kemudian menjadi dasar penentun objek biaya.

Penurutan biaya
Hubungan antara biaya dengan objek biaya perlu dianalisis secara cermat untuk
memperoleh keakuratan dalam pembebanan biaya. Jika dilihat kaitannya dengan
objek biaya, maka biaya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu biaya yang memiliki
keterkaitan langsung dengan objek biaya atau disebut biaya langsung (direct cost),
dan biaya yang tidak memiliki kaitan langsung dengan objek biaya atau disebut biaya
tidak langsung (indirect cost). Biaya langsung memiliki hubungan yang jelas dengan
objek biaya, sehingga dapat dihitung secara lebih akurat. Biaya langsung ini dapat
dirunut ke objek biaya dengan mudah berdasarkan hubungan sebab-akibat. Perunutan
biaya (cost tracing) adalah upaya untuk mengetahui asal muasal biaya dan mengapa
biaya tersebut terjadi. Perunutan biaya dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu
melalui pelacakan langsung (direct tracing) dan pelacakan pemacu biaya (driver
tracing). Pelacakan langsung adalah proses identifikasi dan pembebanan biaya yang
miliki hubungan dengan objek biaya secara eksklusif.
Penurutan biaya melalui pemacu biaya dilakukan dengan cara mencari variabel
yang menjadi pemacu biaya (driver cost). Pemacu biaya menunjukkan variabel yang
menyebabkan suatu biaya bertambah atau berkurang. Pemacu biaya bisa berupa
jumlah jam kerja, jumlah pegawai, jumlah kegiatan dan sebagainya.

Contoh :
Pemerintah daerah memutuskan untuk memasang jaringan internet yang
mencakup seluruh satuan kerja di lingkungannya sebagai bagian dari upaya
mewujudkan program e-goverment. Dalam hal ini telah diputuskan untuk membeli
bandwidth dari perusahaan internet service provider (ISP) sebesar 100 mega bit
dengan harga Rp100 juta per bulan. Kapasitas bandwidth yang ada akan dibagi untuk
15 satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang ada secara proporsional sesuai dengan
beban kerja serta tugas pokok dan fungsi masing-masing satuan kerja. Untuk
implementasi e-government tersebut, pemerintah daerah akan membeli 50 unit
komputer seharga Rp250 juta yang akan dibebankan ke anggaran SKPD yang
menggunakan komputer tersebut. Sepuluh SKPD dengan pembagian bandwidth dan
komputer adalah sebagai berikut:

No Satuan Kerja Perangkat Daerah Komputer Bandwidth


1 Kantor kepala daerah & wakil KDH 4 Unit 10 MB
2 Sekretariat daerah 4 Unit 10 MB
3 Sekretariat DPRD 4 Unit 10 MB
4 Dinas pendidikan 4 Unit 10 MB
5 Dinas kesehatan 3 Unit 5 MB
6 Dinas kimpraswil 4 Unit 5 MB
7 Dinas pertanian 2 Unit 5 MB
8 Dinas perekonomian 3 Unit 5 MB
9 Dinas kesejahteraan sosial 2 Unit 5 MB
10 Dinas pariwisata dan budaya 3 Unit 5 MB
11 BAPPEDA 3 Unit 5 MB
12 Badan pengawasan daerah 3 Unit 5 MB
13 Badan pengelolaan keuangan daerah 4 Unit 5 MB
14 Badan kepegawaian daerah 2 Unit 5 MB
15 Badan informasi daerah 5 Unit 10 MB
TOTAL 50 Unit 100 MB

Untuk keperluan pemasangan jaringan internet tersebut juga dibutuhkan


pemasangan antena yang akan dipasang di gedung badan informasi daerah. Biaya
pemasangan per satu rangkaian antena adalah Rp6.000.000 yang akan dibebankan
pada badan informasi daerah sebagai penaggung jawab sistem informasi di pemda.
Jika di asumsikan sewa bandwith dan komputer tersebut akan dibebankan ke masing-
masing SKPD, maka perhitungan biaya per SKPD untuk tahun pertama melalui
proses perunutan biaya berupa direct tracing dan driver tracing adalah sebagai
berikut:

SKPD Direct Driver Traicing Total


Traicing
Antena Komputer Bandwith
Kantor kepala daerah & - 20.000.000 10.000.000 30.000.000
wakil KDH
Sekretariat daerah - 20.000.000 10.000.000 30.000.000
Sekretariat DPRD - 20.000.000 10.000.000 30.000.000
Dinas pendidikan - 20.000.000 10.000.000 30.000.000
Dinas kesehatan - 15.000.000 5.000.000 20.000.000
Dinas kimpraswil - 20.000.000 5.000.000 25.000.000
Dinas pertanian - 10.000.000 5.000.000 15.000.000
Dinas perekonomian - 15.000.000 5.000.000 20.000.000
Dinas kesejahteraan social - 10.000.000 5.000.000 15.000.000
Dinas pariwisata dan budaya - 15.000.000 5.000.000 20.000.000
BAPPEDA - 15.000.000 5.000.000 20.000.000
Badan pengawasan daerah - 15.000.000 5.000.000 20.000.000
Badan pengelolaan keuangan - 20.000.000 5.000.000 25.000.000
daerah
Badan kepegawaian daerah - 10.000.000 5.000.000 15.000.000
Badan informasi daerah 6.000.000 25.000.000 10.000.000 41.000.000
TOTAL 6.000.000 250.000.000 100.000.000 356.000.000

Alokasi Biaya

Pembebanan biaya kepada objek biaya dilakukan melalui dua tahap


,yaitu :1) pembebanan biaya lagsung ke objek biaya (cost tracing) ,2)
mengalokasikan biaya biaya tidak langsung ke objek biaya (cost allocation).
Alokasi biaya adalah upaya untuk membagi biaya (cost sharing) di antara
berbagai produk, program,kegiatan,fungsi, dan organisasi karena telah
mengkonsumsi biaya secara bersama-sama. Alokasi biaya ini pada umumnya
dilakukan untuk mengalokasikan biaya tidak langsung (overhead), seperti
biaya listrik,air,pemeliharaan,dan biaya penolong lainnya. Tujuan alokasi
biaya adalah untuk menilai kinerja masing masing unit kerja serta untuk tujan
pembebanan biaya. Dasar alokasi biaya yang paling sederhana adalah dengan
menggunakan nilai rata-rata yaitu membagi biaya yang terjadi dengan jumlah
lini produk, program,kegiatan,fungsi, atau unit organisasi yang ada. Metode
kedua adalah dengan pendekatan activity based costing (ABC).Saat ini, sistem
ABC juga sudah mulai banyak digunakan di sektor publik meskipun masih
terdapat modifikasi yang harus disesuaikan dengan karakterstik oraganisasi
sektor publik.

Akumulasi biaya

Akumulasi biaya adalah penjumlahan seluruh biaya sehingga


menghasilkan informasi tentang total biaya yang dikonsumsi oleh suatu
produk, program,kegiatan,fungsi, atau organisasi. Akumulasi biaya tersebut
meliputi biaya langsung maupun tidak langsung ke objek biaya.
C. Klasifikasi Biaya / Belanja

Biaya merupakan ukuran financial atas sumber daya yang dikonsumsi atau
digunakan untuk membuat suatu produk, memberikan pelayanan publik,
melaksanakan program dan kegiatan. Biaya dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa jenis tergantung pada sudut pandang yang digunakan.

Pengklasifikasikan biaya dapat dilakukan berdasarkan karakteristik berikut :

1. Berdasarkan waktu terjadinya biaya


2. Berdasarkan reaksinya terhadap perubahan tingkat aktivitas
3. Berdasarkan hubungannya dengan aktivitas
4. Berdasarkan pengaruhnya terhadap pembuatan keputusan
5. Berdasarkan pengaruhnya terhadap pengendalian manajemen
6. Berdasarkan masa manfaat biaya

1. Klasifikasi Biaya Berdasarkan Waktu Terjadinya

Jika dilihat waktu terjadinya biaya, maka biaya dapat diklasifikasikan menjadi
tiga yaitu :

a. Biaya Historis (Historical Cost) yaitu biaya yang sudah terjadi di masa
lampau yang sudah dibukukan dalam sistem akuntansi. Biaya historis ini tdiak
berubah dan akan selalu tetap jumlahnya sepanjang waktu selama tidak
dilakukan revaluasi
b. Biaya sekarang (Current Cost) sering disebut juga dengan biaya pengganti
(replacement cost) yaitu biaya yang terjadi saat sekarang yang diukur
berdasarkan nilai pasar sekarang. Atau jika nilai pasarnya tidak diketahui,
maka diukur berdasarkan biaya penggantinya, biaya produksi sendiri, nilai
jual, nilai bersih yang dapat direalisasi, atau Net Present Value (NPV) dari
arus kas di masa mendatang.
c. Biaya dianggarkan (Budgeted Cost) yaitu biaya yang direncanakan terjadi di
masa mendatang. Biaya yang dianggarkan ini merupakan biaya yang
dinyatakan dalam anggaran (APBN/APBD) yang menunjukkan batas
maksimal biaya yang semestinya terjadi di masa yang akan datang untuk pos
anggaran bersangkutan.

2. Klasifikasi Biaya Berdasarkan Reaksinya Terhadap Perubahan Tingkat


Aktivitas

Jika dilihat dari reaksi biaya terhadap perubahan tingkat aktivitas, maka biaya
dapat diklasifikasikan :

Biaya Tetap (Fixed Cost) yaitu biaya yang jumlahnya tetap tidak terpengaruh
oleh tingkat aktivitas.
Biaya Variabel (Variable Cost) yaiyu biaya yang jumlah totalnya dipengaruhi
oleh tingkat aktivitas, semakin besar volume aktivitas maka semakin besar
biayanya.
Biaya Campuran (Mixed Cost) yaitu biaya memiliki karakteristik biaya tetap
dan biaya variable. Untuk aktivitas hingga level tertentu jumlah biaya tetap,
tetapi lebih dari level tertentu bersifat variable.Biaya campuran disebut juga
biaya bertahap (Step Cost)

Biaya Tetap

Besar kecilnya jumlah biaya tetap tidak dipengaruhioleh perubahan kegiatan


yang dilakukan. Artinya baik terdapat banyak maupun sedikit kegiatan, jumlah
biaya tettapnya sama. Biaya tetap mempunyai sifat

Jumlah totalnya tidak berubah walaupun kegiatan berubah


Biya per unit makin kecil apabila volume kegiatan makin besar.

Pada dasarnya biaya tetap tidak berubah jumlahnya dalam jangka waktu
tertentu,namun dalam jagka panjang biaya ini akan berubah.Biaya tetap akan tetap
jumlahnya pada tingkat kapasitas tertentu, apabila tingkat kapasitas yang
ditetapkan tidak mencukupi lagi maka biaya tetap akan berubah jumlahnya.
Contoh : biaya tetap sebuah gedung pertemuan milik pemerintah adalah sebesar
Rp 10 juta per tahun . Besarnya biaya tetap tersebut untuk asumsi gedung
digunakan untuk 1000 kali pertemuan dalam setahun, jika lebih dari itu maka
biaya tetapnya akan menjadi Rp 12 juta . Kapasitas maksimal penggunaan
gedung untuk pertemuan adalah sebanyak 180 pertemuan dalam setahun. Biaya
tetap total dan biaya per unit dapat ditunjukkan dalam grafik

Rp

120.000

100.000

0 100 180 Volume Kegiatan

Biaya tetap yang jumlah totalnya tidak berubah pada jenjang tertentu
mempunyai grafik per unit

Rp

250.000..

200.000......

100.000
40 50 100 Volume

Implikasi bagi tujuan perencanaan dan pengendalian biaya adalah perlunya


manajer publik adalah memaksimalkan kapasitas yang ada agar tanggungan beban
atas biaya tetap per unitnya kecil.Harus diupayakan supaya tidak terjadi kapasitas
menganggur (idle capacity) atas asset asset produktif yang dimiliki, serta
mendayagunakan asset yang tidak produktif. Bisa saja untuk menghemat biaya
tetap,manajer publik menyewakan atau menjual asset yang tidak produktif yang
terus membebani anggaran. Atau alternative lainnya yang dapat dilakukan
pemerintah adalah melakukan kemitraan dengan pihak ketiga melalui skema
leasing, kerjasama operai, Built-Operate_Transfer(BOT) yang sebgainya
pemerintah membebaskan pemerintah dari tanggungan beban biaya tetap.

Biaya Variabel

Biaya variabel adalah biaya per unitnya tetap, tidak dipengaruhi oleh
perubahan kegiatan operasi tetapi jumlah totalnya bervariasi atau berubah ubah
secara proporsional dengan volume kegiatan; apabila kegiatan bertambah maka
biaya totalnya ikut bertambah dalam persentase yang sama dengan penambahan
kegiatan, sebaliknya apabila kegiatan berkurang maka jumlah biaya akan
berkurang sebesar persentase turunnya kegiatan.

Secara umum, biaya variable memiliki sifat :

1. Jumlah total berubah proporsonal dengan perubaha kegiatan


2. Per unit tidak dipengaruhi oleh kegiatan

Contoh : biaya bahan/material;biaya honorarium dan upah tenaga kerja/pegawai


langsung; dan biaya barang dan jasa.
Volume Kegiatan Biaya Variabel Total Biaya Variabel Per unit
(Jumlah Peserta)
50 orang (50 Rp 50.000) = Rp 2.500.000 (Rp 2.500.000 : 50) =Rp 50.000

60 orang (60 Rp 50.000) = Rp 3.000.000 (Rp 3.000.000: 60) =Rp 50.000


70 orang (70 Rp 50.000) = Rp 3.500.000 (Rp 3.500.000: 70) =Rp 50.000
80 orang (80 Rp 50.000) = Rp 4.000.000 (Rp 4.000.000: 80) =Rp 50.000
90 orang (90 Rp 50.000) = Rp 4.500.000 (Rp 4.500.000: 90) =Rp 50.000

Impikasi bagi perencanaan dan pengendalian keuangan adalah perlunya manajer


keuangan di pemerintahan untuk memperhatikan biaya variable totalnya. Biaya
variable ini merupakan biaya yang sifatnya fleksibel dan termasuk dalam
golongan biaya kebijakan yang besar kecilnya dapat dikendalikan oleh manajer
publik. Untuk tujuan perencanaan dn pengendalian pengeluaran keuangan daerah
yang terkait dengan biaya variable ini,manajer publik perlu memperhatikan
volume kegiatan dan biaya variable total. Besar kecilnya pengeluaran dipengaruhi
oleh volume kegiatan oleh karena itu,, jika hendak melakukan penghematan
pengeluaran yang dapat dilakukan adalah mengurangi volume kegiatan.Selain itu,
jika masih memungkinkan dapat dilakukan adalah berupaya mengurangi biaya
variable per unit pada level paling ekonomis dengan tetap menjaga kualitas.

Biaya Semi Variabel

Dalam beberapa kasus, terdapat perilaku biaya yang pada keadaan tertentu
memenuhi sifat sebagai biaya tetap, tetapi pada keadaan yang lai berprilaku
seperti biaya variable.Biaya jenis ini tidak murni variable dan tidak murni tetap,
sehingga sering disebut sebagai biaya semi variable.

Biaya Total
Berdasarkan klasifikasi biaya berdasarkan perilakunya, maka biaya total suatu
aktivitas ,program, fungsi, atau organisasi dapat dirumuskan sebagai berikut
BIAYA TOTAL = BIAYA TETAP + BIAYA VARIABEL

Contoh : Pemerintah daerah melakukan program pembangunan kembali rumah


penduduk yang menjadi korban gempa bumi. Berikut informasi biaya untuk
pelaksanaan program.

Unit Biaya Biaya Biaya Tetap Biaya Total Biaya Per


Rumah Variabel Per Variabel Total Unit
Unit Total
100 Rp2.000.000 Rp200.000 Rp500.000 Rp700.000 Rp7.000.000
200 Rp2.000.000 Rp400.000 Rp500.000 Rp900.000 Rp4.500.000
250 Rp2.000.000 Rp500.000 Rp500.000 Rp1.000.0000 Rp4.000.000
400 Rp2.000.000 Rp800.000 Rp500.000 Rp1.300.000 Rp3.250.000

Untuk tujuan perencanaan dan pengendalian aggaran, ketika manajer publik


dihadapkan pada data biaya dengan klasifikasi biaya tetap, biaya variabel,biaya
total,dan biaya per unit maka yang terpenting diperhatikan adalah biaya totalnya.
Sebab biaya total inilah yang sebenarnya langsung terkait dengan kapasitas
anggaran dan informasi tersebut akan menuntun untuk merumuskan perhitungan
biaya tetap dan biaya variable

3. Klasifikasi Biaya Berdasarkan Hubungannya dengan Aktivitas

Jika dilihat dari hubungan biaya dengan suatu aktivitas, maka biaya dapat
diklasifikasikan menjadi dua yaitu :

1. Biaya Langsung (Direct Cost) yaitu biaya yang langsung terkait dengan
kegiatan. Artinya suatu kegiatan tidak akan terlaksana tanpa biaya
tersebut. Biaya langsung meliputi :
Biaya Tenaga Kerja Langsung yaitu tenaga kerja (personil) yang
terlibat langsung dalam pelaksanaan kegiatan . Belanja tenaga kerja
langsung ini perilaku biayanya bersifat variable yakni jumlahnya
berfluktuasi mengikuti volume kegiatan.Termasuk biaya tenaga kerja
langsung adalah :1) honorarium dan upah, 2) lembur,dan 3) biaya
personil lainnya. Manajer Keuangan Publik, bertanggung jawab untuk
menentukan tariff honorarium dan upah yang wajar, tariff lembur
,serta biaya yang terkait dengan tenaga kerja langsung lainnya yang
nanti dituangkan dalam standar tariff tenaga kerja langsung
Biaya Barang dan Jasa, yaitu biaya biaya yang dikeluarkan untuk
pembelian barang atau jasa yang digunakan untuk pelaksanaan
kegiatan. Biaya barang dan jasa ini, meliputi : 1) biaya alat tulis
kantor ,2) biaya bahan/material, 3) biaya sewa gedung, kendaraan,dan
peralatan,4) biaya perjalanan, 5) biaya cetak dan penggandaan, 6)
biaya kontrak hokum (notaris)
Belanja Modal yaitu biaya yang dikeluarka untuk pembelian barang
barang modal yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan, antara lain
pembelian tanah, gedung, mesin dan kendaraan, peralatan, instalasi
dan jaringan, furniture,software dan sebagainya.
2. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) yaitu biaya yang tidak terkait
secara langsung dengan suatu kegiatan yang dilaksanakan. Kaitan biaya ini
dengan kegiatan bersifat tidak langsung,artinya suatu kegiatan masih dapat
berjalan meskipun biaya tidak langsung tersebut tidak dilakukan. Namun
secara keseluruhan biaya tidak langsung ini memiliki andil untuk ikut
memperlancar dan menyukseskan kegiatan, hanya saja seandainya biaya
tidak langsung tersebut tidak dikeluarkan, tidak akan menggagalkan
pelaksanaan kegiatan. Termasuk dalam biaya tidak langsung antara lain :

Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung


Biaya Pendidikan, Pelatihan, dan Pindah Tugas Pegawai
Biaya Riset dan Pengembangan
Biaya Administrasi dan Umum
Biaya Penyusutan
Pengklasifikasian biaya langsung dan tidak langsung ini digunakan dalam
sistem penganggaran pemerintah baik pusat maupun daerah, yaitu sejak
penerapan PP No. 105 Tahun 2000 tentang Pertanggungjawaban Pengelolaan
Keuangan Daerah dan Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 yang kemudian
direvisi memnjadi PP No.58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuanga Daerah
dan Permendgri No.59 Tahun 2007 sebagai revisi Permendagri No. 13 Tahun
2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Dalam peraturan yang lama sebagimana diatur dalam Kepmendagri No.29


Tahun 2002, belanja daerah diklasifikasikan sebagai berikut:

a) Belanja Administrasi Umum (BAU) merupakan belanja tidak langsung


kegiatan yang jelas belanjanya terdiri atas:
Belanja Pegawai dan Personalia
Belanja Barang dan Jasa
Belanja Perjalanan Dinas
Belanja Pemeliharaan
b) Belanja Operasi dan Pemerintahan (BOP) , merupakan belanja langsung
kegiatan yang jenis belanjanya terdiri atas :
Belanja Pegawai dan Personalia
Belanja Barang dan Jasa
Belanja Perjalanan Dinas
Belanja Pemeliharaan
c) Belanja Modal, yaitu belanja yang menambah asset tetap pemerintah
d) Belanja Tidak Tersangka
e) Belanja Bantuan Keuangan

Kemudian, berdasarkan peraturan yang baru yaitu Permendagri No. 59 Tahun


2007 (Revisi atas Permendagri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah), klasifikasi belanja dalam sistem anggaran diperbaiki. Belanja
daerah tidak lagi diklasifikasikan berdasarkan belanja BAU, BOP, dan Modal
tetapi dikelompokkan menjadi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung.

Belanja Tidak Langsung yaitu belanja yang tidak terkait langsung dengan program
dan kegiatan.
a. Belanja Tidak Langsung dirinci lagi menurut jenis, objek dan rincian objek
belanja. Adapun jenis Belanja Tidak Langsung terdiri atas:
1. Belanja Pegawai, dengan objek belanja meliputi:
Gaji dan tunjangan
Tambahan Penghasilan PNS
Belanja Penerimaan Lainnya Pimpinan dan Anggota DPRD
Biaya Pemungutan Pajak Daerah
2. Belanja Bunga
3. Belanja Subsidi
4. Belanja Hibah
5. Belanja Bantuan Keuangan
6. Belanja Bantuan Sosial
7. Belanja Tidak Terduga
b. Belanja Langsung, yaitu belanja yang terkait langsung dengan program dan
kegiatan. Jenis belanja langsung meliputi:
1. Belanja Pegawai, dengan objek belanja meliputi:
Honorarium PNS
Honorarium Non-PNS
Uang Lembur
Belanja Beasiswa Pendidikan PNS
Belanja Kursus, Pelatihan, Sosialisasi dan Bimbingan Teknis PNS
2. Belanja Barang dan Jasa, dengan objek belanja antara lain:
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Bahan/Material
Belanja Jasa Kantor
Belanja Premi Asuransi
Belanja Perawatan Kendaraan Bermotor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Sewa Rumah/Gedung/Gudang/Parkir
Belanja Sewa Sarana Mobilitas
Belanja Sewa Alat Berat
Belanja Sewa Perlengkapan dan Peralatan Kantor
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Pakaian Dinas dan Atribut
Belanja Pakaian Kerja
Belanja Pakaian Khusus dan Hari-hari Tertentu
Belanja Perjalanan Dinas
Belanja Perjalana Pindah Tugas
Belanja Pemulangan Pegawai
3. Belanja Modal, dengan objek belanja antara lain:
Belanja Modal Pengadaan Tanah
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Berat
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Angkutan Darat Bermotor
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Angkutan Darat Tidak Bermotor
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Angkutan di Air Bermotor
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Angkutan di Air Tidak Bermotor
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat AngkutanUdara
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Bengkel
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Pengolahan Pertanian dan
Perternakan
Belanja Modal Pengadaan Peralatan Kantor
Belanja Modal Pengadaan Perlengkapan Kantor
Belanja Modal Pengadaan Komputer
Belanja Modal Pengadaan Mebel
Belanja Modal Pengadaan Peralatan Dapur
Belanja Modal Pengadaan Penghias Ruangan Rumah Tangga
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Studio
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Komunikasi
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Ukur
Belanja Modal Pengadaan Alat Kedokteran
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Laboraturium
Belanja Modal Pengadaan Kontruksi Jalan
Belanja Modal Pengadaan Kontruksi Jembatan
Belanja Modal Pengadaan Kontruksi Jaringan air
Belanja Modal Pengadaan Penerangan Jalan, Taman, dan Hutan Kota
Belanja Modal Pengadaan Instalasi Listirk dsn Telepon
Belanja Modal Pengadaan Pengadaan Kontruksi/Pembelian Bangunan
Belanja Modal Pengadaan Buku/Kepustakaan
Belanja Modal Pengadaan Barang Bercorak Kesenian, Kebudayaan
Belanja Modal Pengadaan Hewan/Ternak dan Tanaman
Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Persenjataan/Keamanan

4. Klasifikasi Biaya Berdasarkan Pengaruhnya terhadap Pengambilan


Keputusan dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu:
1) Biaya Tertanam (Sunk Cost), yaitu biaya-biaya yang sudah dikeluarkan
sehingga apapun keputusan yang dibuat saat ini tidak dapat mempengaruhi
biaya yang sudah dikeluarkan karena biaya tersebut sudah terjadi dan tidak
mungkin dikembalikan lagi. Termasuk dalam kategori biaya tertanam
adalah biaya-biaya historis (historical cost)
2) Biaya Relevan (Relevan Cost), yaitu biaya-biaya yang masih akan
dikeluarkan sehingga jadi tidaknya biaya tersebut dikeluarkan sangat
tergantung pada keputusan yang dibuat. Seluruh biaya yang masih
dianggarkan (budgeted cost) dapat dikategorikan sebagai biaya relevan.
3) Biaya Oportunitas (Oppurtunity Cost) merupakan suatu bentuk
pendapatan yang dikorbankan sehingga seolah-oleh muncul biaya atas
kesempatan yang dikorbankan itu. Meskipun biaya ini tidak riil tetapi
sangat penting untuk pertimbangan pembuatan keputusan karena
menyangkut alokasi biaya yang paling efisien dan efektif.

Implikasi biaya-biaya tersebut dalam perencanaan dan pengendalian


keuangan adalah perluya manajer keuangan publik memperhitungkan dengan
cermat biaya- biaya yang masuk dalam kategori biaya relevan serta biaya
opurtunitas yang ada sebab jenis biaya ini masih dalam wilayah kendali
manajemen, sehingga besar kecil pengeluaran masih dapat dipengaruhi. Tetapi
untuk jenis belanja yang tertanam apa sudah dibelanjakan, maka sulit untuk
dikembalikan lagi sehingga yang bisa dilakukan manajemen adalah mengelola
dana yang masih ada dan belum dibelanjakan.

5. Klasifikasi Biaya berdasarkan pengaruhnya terhadap pengendalian


manajemen. Dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
1) Biaya Terkendali (Control Lable Cost), yaitu biaya yang dapat
dikendalikan oleh manajemen melalui kebijakan yang ditetapkan. Biaya
terkendali ini juga sering disebut biaya kebijakan (Discretionary
Cost/Expense) karena beasar kecilnya biaya sangat dipengaruhi oleh
kebijakan manajemen. Biaya terkendali ini antara lain:
a. Biaya Perjalanan Dinas
b. Biaya Promosi dan Pemasaran
c. Belanja Tamu
d. Biaya Makan dan Minum
e. Biaya Komunikasi
Untuk mengendalikan jenis biaya terkendali, yang harus dilakukan
oleh manajer publik adalah menerapkan anggaran ketat (Hard
Budget/Tight Budget), yaitu melakukan efisiensi dan penghematan secara
ketat.

2) Biaya Tidak Terkendali (Uncontrolable Cost), yaitu biaya yang tidak


dibawah kendali manajemen. Biaya tidak terkendali ini juga sering disebut
biaya teknik (Engineered Cost/Expense) karena sifatnya yang relatif pasti
atau tertentu. Termasuk biaya teknik adalah:
a. Biaya-biaya yang masuk dalam kategori biaya tetap
b. Biaya-biaya produksi
c. Biaya tenaga kerja langsung

Untuk menghemat biaya tidak terkendali ini yang harus dilakukan oleh
manajer publik adalah membuat standar biaya yang baik. Oleh karena itu,
pembuatan Analisis Standar Belanja (ASB), Standar Satuan Harga (SSH),
dan Penetapan Harga Perhitungan Sendiri (HPS) atau Owner Estimate
sangat penting dalam rangka menghemat biaya tidak terkendali ini.

6. Klasifikasi Biaya berdarkan Masa Manfaat dapat diklasifikasikan


menjadi 2 yaitu:
1) Biaya Operasi (Operation Cost), yaitu biaya yang masa manfaat
pengeluaran biaya tersebut kurang dari 1 tahun anggaran. Biaya operasi
merupakan pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari atau yang
bersifat rutin. Biaya operasi meliputi:
a. Biaya Pegawai
b. Biaya Administrasi dan Umum
c. Biaya Pemasaran
d. Biaya Bunga
e. Biaya Subsidi
f. Biaya Hibah dan Bantuan Sosial
g. Biaya Bantuan Keuangan (Transfer)
2) Biaya Modal (Capital/Investment Cost), yaitu biaya yang masa
manfaatnya lebih dari 1 tahun.
Pengklasifikasin belanja ke dalam belanja operasi dan belanja modal
diterapkan dalam PP No. 24 tahun 2005 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Dalam PP No. 24 tahun 2005 tersebut dijelaskan bahwa belanja diklasifikasikan
menurut klasifikasi ekonomi, organisasi, dan fungsi. Klasifikasi ekonomi yaitu
pengelompokkan belanja berdasarkan jenis belanja untuk melaksanakan suatu
aktivitas yang dikelompokkan menjadi belanja operasi, belanja modal dan belanja
lain-lain/tak terduga. Belanja operasi meliputi belanja pegawai, belanja barang,
bunga, subsidi, hibah, dan bantuan sosial. Belanja modal meliputi belanja aset
tetap dan belanja aset lainnya, sedangkan belanja tak terduga antara lain belanja
untuk penanggulangan bencana alam, bencana sosial, dan pengeluaran tidak
terduga lainnya.

Pengklasifikasian belanja berdasarkan PP No. 58 Tahun 2005 dan


Permendagri No. 59 Tahun 2007 memang sedikit berbeda dengan klasifikasi
dengan belanja menurut PP No. 24 tahun 2005. Perbedaan tersebut dapat dilihat
sebagai berikut.

KETERANGAN PP 58/2005 DAN PP 24 TAHUN 2005


PERMENDAGRI 59/2007
Dasar pengklasifikasian belanja Belanja diklasifikasikan Belanja diklasifikasikan
berdasarkan hubungannya berdasarkan masa manffat
dengan aktivitas, sehingga belanja, sehingga belanja
belanja dikelompokkan dikelompokkan menjadi:
menjadi: 1. Belanja Operasi
2. Belanja Modal
1. Belanja Tidak Langsung
3. Belanja Tidak Terduga
2. Belanja Langsung
Jenis Belanja Jenis belanja untuk masing- Jenis belanja untuk masing-
masing kelompok belanja terdiri masing kelompok belanja terdiri
atas: atas:
Belanja Tidak Langsung: Belanja Operasi:
Belanja pegawai Belanja pegawai
Belanja bunga Belanja barang dan jasa
Belanja subsidi Belanja bunga
Belanja hibah Belanja subsidi
Belanja bantuan Belanja hibah
keuangan Belanja bamtuan
Belanja bantuan sosial
keuangan
Belanja tidak terduga
Belanja bantuan sosial
Belanja Langsung:
Belanja Modal:
Belanja pegawai
Belanja aset teap
Belanja barang dan jasa
Belanja aset lainnya
Belanja modal
Belanja Tidak Terduga
Transfer ke Kab/Kota/Desa Dimasukkan dalam belanja Tidak dimasukkan dalam
tidak langsung yaitu belanja belanja operasi tatapi
bantuan keuangan. dipisahkan sendiri dalam pos
transfer.
Pengakuan Belanja Modal Barang modal yang Barang modal yang
dalam Neraca diakui/dicatat dalam neraca diakui/dicatat dalam neraca
adalah sebesar nilai barang meliputi niai barang modal yang
modalnya daja, tidak termasuk dibeli/diadakan ditambah
biaya pengadaannya. Belnja dengan biaya-biaya yang terjadi
pegawai dan belanja barang dan terkait dengan pengadaan
jasa yang terkait dengan barang modal.
pengadaan barang modal tidak
diakumulasikan dalam barang
modal.

PP No. 58 Tahun 2005 dan Permendagri No. 59 Tahun 2007 lebih ditujukan
untuk pengelolaan keuangan oleh pihak internal pemerintah daerah (eksekutif),
sedangkan PP No. 24 tahun 2005 lebih ditujukan untuk pelaporan keuangan
kepada pihak eksternal. Oleh karena itu, kedua peraturan tersebut sebenarnya
tidaklah saling bertentangan hanya saja karena peraturan-peraturan tersebut harus
dilaksanakan, makan untuk menyikapinya adalah pada saat perencaan dan
implementasi anggaran menggunakan dasar PP No. 58 Tahun 2005 dan
Permendagri No. 59 Tahun 2007, sedangkan pada saat penyusunan laporan
realisasi anggaran menggunakan aturan dalam PP No. 24 tahun 2005. Untuk itu,
pada saat akan disusun LRA perlu dilakukan pemetaan (mapping) dari format
belanja menurut PP No. 58 Tahun 2005 dan Permendagri No. 59 Tahun 2007 ke
dalam format LRA menerut PP No. 24 tahun 2005

PP 58/2005 & Permendagri PP No. 24 Tahun 2005


59/2007
BELANJA OPERASI
BELANJA TIDAK LANGSUNG
Belanja Pegawai
Belanja Pegawai
Belanja Barang
Belanja Bunga
Belanja Bunga
Belanja Subsidi
Belanja Subsidi
Belanja Hibah
Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bantuan
Keuangan BELANJA MODAL

Belanja Tidak Terduga


Berdasarkan PP 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan
BELANJA LANGSUNG BELANJA TAK TERDUGA
Belanja diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :
Belanja Pegawai
1. Belanja Diklasifikasikan Menurut Klasifikasi Ekonomi (Jenis Belanja)
Belanja Barang dan Jasa TRANSFER
Klasifikasi ekonomi adalah pengelompokan belanja yang didasarkan pada
Belanja Modal
jenis belanja untuk melaksanakan suatu aktivitas. Klasifikasi ekonomi untuk
pemerintah pusat yaitu belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, bunga,
subsidi, hibah, bantuan sosial, dan belanja lain-lain. Klasifikasi ekonomi untuk
pemerintah daerah meliputi belanja pegawai, belanja barang, belanja modal,
bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, dan belanja tak terduga.
Belanja operasi adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari
pemerintah pusat/daerah yang memberi manfaat jangka pendek. Belanja operasi
antara lain meliputi belanja pegawai, belanja barang, bunga, subsidi, hibah,
bantuan sosial.
Belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan
aset lainnya yang memberi manfaatlebih dari satu periode akuntansi. Belanja
modal meliputi antara lain belanja modal untukperolehan tanah, gedung dan
bangunan, peralatan, aset tak berwujud.
Belanja lain-lain/tak terduga adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan
yang sifatnya tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan
bencana alam, bencana sosial, dan pengeluaran tidak terdugalainnya yang sangat
diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenanganpemerintah pusat/daerah.
Contoh klasifikasi belanja menurut ekonomi (jenis belanja) adalah sebagai
berikut:

Belanja Operasi:
- Belanja Pegawai xxx
- Belanja Barang xxx
- Bunga xxx
- Subsidi xxx
- Hibah xxx
- Bantuan Sosial xxx
Belanja Modal
- Belanja Aset Tetap xxx
- Belanja Aset Lainnya xxx
Belanja Lain-lain/Tak Terduga xxx
Transfer xxx
2. Belanja Diklasifikasikan Menurut Organisasi

Klasifikasi menurut organisasi yaitu klasifikasi berdasarkan unit organisasi


pengguna anggaran. Klasifikasi belanja menurut organisasi di lingkungan
pemerintah pusat antara lain belanja per kementerian negara/lembaga beserta unit
organisasi di bawahnya. Klasifikasi belanja menurut organisasi di pemerintah
daerah antara lain belanja Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
,Sekretariat Daerah pemerintah provinsi/kabupaten/kota, dinas pemerintah tingkat
provinsi/kabupaten/ kota,dan lembaga teknis daerah provinsi/kabupaten/kota

3. Belanja Diklasifikasikan Menurut Fungsi


Klasifikasi menurut fungsi adalah klasifikasi yang didasarkan pada fungsi-
fungsi utama pemerintah pusat/daerah dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat.
Contoh klasifikasi belanja menurut fungsi adalah sebagai berikut:
Belanja :
- Pelayanan Umum xxx
- Pertahanan xxx
- Ketertiban dan Keamanan xxx
- Ekonomi xxx
- Perlindungan Lingkungan Hidup xxx
- Perumahan dan Permukiman xxx
- Kesehatan xxx
- Pariwisata dan Budaya xxx
- Agama xxx
- Pendidikan xxx
- Perlindungan sosial xxx

BAB III
KESIMPULAN

Terdapat 3 istilah yang semuanya menunjjukan pengeluaran anggaran, yaitu


biaya, belanja, dan pengeluaran. Manajer keuangan publik perlu memiliki
pemahaman yang mendalam tentang konsep biaya agar dapat membuat keputusan
anggaran secara tapat.

Untuk bisa memmahami lebih dalam tentang konsep biaya, maka perlu
dipahami tentang objek biaya (cost object), perunutan biaya (cost tracing), alokasi
biaya (cost alocation), dan akumulasi biaya (cost accumulation).

Biaya dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yaitu berdarkan waktu


terjadinya biaya, berdasarkan reaksinya terhadap perubahan tingkat aktivitas,
berdasarkan hubungannya dengan aktivitas, berdasarkan pengaruhnya terhadap
pembuatan keputusan, berdarakan pengaruhnya terhadap pengendalian
manajemen, dan berdasarkan masa manfaat biaya.

Klasifikasi biaya berdasarkan waktu terjadinya biaya dapat dibagi menjadi 3,


yaitu biaya historis, biaya sekarang dan biaya dianggarkan.

Klasifikasi berdarkan reaksinya terhadap perubahan tingkat aktivitas dapat


dibagi menjadi 3, yaitu biaya tetap, biaya variabel, dan biaya campuran.

Klasifikasi biaya berdasarkan hubungannya dengan aktivitas terdiri atas 2,


yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung.

Klasifikasi biaya berdasarkan pengaruhnya terhadap pengambilan keputusan


terdiri atas biaya tertanam, biaya relevan, dan biaya opurtunitas.

Klasifikasi biaya berdasarkan pengaruhnya terhadap pengendalian manajemen


dibedakan menjadi 2 yaitu biaya terkendali dan biaya tidak terkendali.

Klasifikasi biaya bersasarkan masa manfaat dapat dibedakan menjadi 2 yaitu


biaya opeasi dan biaya modal.

DAFTAR PUSTAKA

Mahmudi.2010.Manajemen Keuangan Daerah.Jakarta: Erlangga


Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010