Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

STARTING GENERATOR 3 FASA


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Tenaga Listrik

Disusun oleh :
Anugerah Fajar Ramadhan
D4 SKL 3C
1341150047 / 04

PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2015
Laporan Praktikum Starting Generator Sinkron

STARTING GENERATOR 3 FASA


1. Tujuan
1.1 Mahasiswa dapat mengetahui dan mengerti MG-set (motor generator
set up).
1.2 Mahasiswa dapat menentukan regulasi tegangan alternator 3 fasa
dibawah kondisi berbagai macam beban.

2. Teori Dasar
Power system simulator menggunakan 3 MG-set untuk mensuplai
daya ke beban. Untuk itu penting sekali memahami dan megerti
alternator 3 fasa tersebut.
Pengerak jutama atau prime mover dari masing masing MG adalah
motor DC. Alternator MG adalah generator sinkron dengan penguat
medan terpisah. Control dari MG terdiri atas :
a. Sumber DC 125 volt, untuk mencatu jangkar motor DC.
b. Rheostat terhubung seri dengan belitan medan motor DC
c. Sumber tegangan DC 0 18 volt untuk mensuplai belitan medan
generator
d. Saklar pemutus medan generator untuk masing masing MG-set.

Kecepatan putar motor Dc dapat diubah ubah melalui rheostat,


semakin cepat putaran motor Dc semakin besar frekuensi tegangan
generator dan tegangan keluaran juga semakin besar. Jika tegangan
penguatan semakin besar, maka teganagan keluaran generator
semakin besar. Ada yang menyebabkan drop tegangan pada genitor
sinkron penguatan terpisah, yaitu :
a. Resistansi belitan jangkar
b. Reaktansi belitan jangkar
c. Reaksi jangkar
Poin a dan b adalah dua factor yang selalu menyebabkan drop
tegangan. Sedangkan poin c, reaksi jangkar, dapat menyebabkan

Kelas 3C 2
Laporan Praktikum Starting Generator Sinkron

tegangan keluaran naik atau turun, tergantung pada power factor


beban. Drop tegangan adalah fungsi arus beban.
Hal ini akan berdampak pada pengaturan tegangan, yaitu :
1. Power factor leading, tegangan akan naik dari kondisi tanpa
beban ke beban penuh.
2. Power factor lagging, tegangan akan turun dari kondisi tanpa
beban ke beban penuh.
Pengaturan tegangan (%) = (V no load V full load / V full
load) x 100 %
3. Peralatan Yang Digunakan
Hampden Power System Simulator
4. Prosedur Percobaan
1. Pisahkan output generator no 2 dari simulator dengan membuka CB
isolasi saluran. Cek tegangan eksitasi medan generator 0 18untuk
memastikan bahwa :
- Simulator dalam kondisi off
- Saklar pemutus penguatan medan dalam kondidi terbuka
- Suplai penguatan medandalam kondisi setting minimum
- Semua CB yang tidak sedang digunakan dalam kondisi off
2. Cek CB suplai tegangan DC 125 DC untuk generator 2 . rheostat
belitan medan kondisi minimum.
3. Set saklar pemilih dari frekuensi meter pada posisi generator no 2 set
saklar voltmeter gen 2 ke posisi L1 L2.
4. Jalankan motor DC sebagai eksitasi
5. Memberikan penguatan medan alternator 3 fasa
6. Sesuaikan rheostat medan motor DC
7. Arahkan saluran ke beban yang sudah ditentukan
8. Gunakan tes beban seimbang
9. Gunakan beban kapasitif, induktif atau kombinasi untuk mengecek
power factor

Kelas 3C 3
Laporan Praktikum Starting Generator Sinkron

Atau dalam singkatnya seperti dibawah ini :


Menghidupkan generator
- Hidupkan power supply
- Kemudian prime mover motor DC
- Eksitasi dimasukkan sampai tegangan tertentu
- Mengatur kecepatan hingga frekuensi 50 Hz
- Sambung ke beban ( sambungan ke beban DS dulu yang diaktifkan
kemdian baru MCB sesuai jalur beban.)
Mematikan generator
- DS beban dinonaktifkan semua
- MCB semua jalur beban dinonaktifkan semua
- Eksitasi dinonaktifkan
- Prime mover dinonaktifkan
- Yang terakhir power supply

Kelas 3C 4
Laporan Praktikum Starting Generator Sinkron

5. Data Hasil Percobaan


TEGANGAN
NO BEBAN ARUS SALURAN (A) SALURAN ( V ) GENERATOR 2
L1 L2 L3 L1 L2 L3 pf DAYA (kW)
STASION SERVICE 0,19 0,19 0,19
1 (SS) 5 5 5 390 390 390 0,98 0,13
0,18 0,18 0,18
2 AGRICULTURE (AG) 5 5 5 375 375 375 0,98 0,28
3 AG + SS 0,4 0,4 0,4 350 350 350 0,98 0,24
RESIDENTAL 1
4 (RS1) 0,5 0,5 0,5 375 375 375 0,82 0,18
5 AG + RS 1 0,64 0,64 0,64 340 340 340 0,97 0,27
6 SS + RS 1 0,6 0,6 0,6 350 350 350 0,98 0,24
7 RS1 + RS2 0,44 0,44 0,44 335 335 335 0,86 0,26
8 AG + RS2 0,28 0,28 0,28 330 330 330 0,98 0,27
9 SS + RS2 0,2 0,2 0,2 335 335 335 0,97 0,23
10 AG + SS + RS1 0,72 0,72 0,72 315 315 315 0,94 0,3
AG + STREET
11 LIGHT 0,3 0,3 0,3 350 350 350 0,99 0,26

6. Analisa Data dan Pembahasan


PENGATURAN
POWER DAYA TEGANGAN TEGANGAN
NO BEBAN
FACTOR (kW) TANPA
(%)
BERBEBAN BEBAN
STASION SERVICE
1 (SS) 0,98 0,13 390 400 0,03
2 AGRICULTURE (AG) 0,98 0,28 375 400 0,07
3 AG + SS 0,98 0,24 350 400 0,14
RESIDENTAL 1
4 (RS1) 0,82 0,18 375 400 0,07
5 AG + RS 1 0,97 0,27 340 400 0,18
6 SS + RS 1 0,98 0,24 350 400 0,14
7 RS1 + RS2 0,86 0,26 335 400 0,19
8 AG + RS2 0,98 0,27 330 400 0,21
9 SS + RS2 0,97 0,23 335 400 0,19
10 AG + SS + RS1 0,94 0,3 315 400 0,27
11 AG + STREET LIGHT 1,10 0,26 350 400 0,14

Kelas 3C 5
Laporan Praktikum Starting Generator Sinkron

7. Dari table data percobaan dan data analisa percobaan gambarkan grafik tegangan
dan arus berbagai macam beban yang berbeda

8. Pertanyaan dan Kesimpulan


1. Bandingkan hasil percobaan dari prosedur langkah ke-8 dan ke 9. Apa
yang menyebabkan terjadinya perbedaan nilai pengaturan tegangan ?

2. Dari analisa data , apakah hubungan antara power factor dan regulasi
tegangan ?

Kelas 3C 6
Laporan Praktikum Starting Generator Sinkron

3. Pada percobaan ini , kenapa kecepatan prime mover harus tetap dijaga
konstan ?

9. Kesimpulan

Kelas 3C 7