Anda di halaman 1dari 21

BAB I

STATUS PASIEN

A. Identitas Pasien
Nama : Ny. T
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 84 tahun
Alamat : Ngroto 3/4
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam

B. Anamnesis
Autoanamnesis dan Alloanamnesis dilakukan pada tanggal 5 Desember
2016 pukul 13.00 WIB.
Keluhan Utama : nyeri tulang belakang
Riwayat Penyakit Sekarang :
3 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan nyeri tulang
belakang bagian bawah setelah pasien jatuh dengan posisi terduduk di
kamar mandi. Pasien tidak dapat berdiri dan berjalan, terdapat bekas
merah kebiruan di kaki kiri akibat terbentur saat jatuh, dan kedua kaki
bengkak.
2 hari yang lalu pasien dibawa ke IGD RSUD Dr. Soeprapto Cepu
dengan keluhan tulang belakang bagian bawah masih terasa nyeri, pasien
masih tidak dapat beraktivitas dan harus dibantu/digendong saat berjalan,
dan saat diberi pengobatan di IGD, bengkak di kedua kaki pasien
berkurang.
Pada pemeriksaan sekarang keluhan nyeri tulang belakang (+), mual (-),
muntah (-), pusing (-), bengkak di kedua kaki (-), napas terasa sesak (+)
dan sudah diberi kanul oksigen, panas (+). BAB dan BAK dalam batas
normal.

1
Riwayat Penyakit Dahulu :
Keluhan serupa : disangkal
Hipertensi : diakui, sejak 2 tahun yang lalu
Diabetes Mellitus : disangkal
Riwayat penyakit jantung : diakui, sejak 2 bulan yang lalu
Riwayat stroke : disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga :
Keluhan serupa : disangkal
Hipertensi : disangkal
Kencing manis : disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat stroke : disangkal
Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien tinggal bersama anak dan 2 cucunya. Biaya pengobatan
menggunakan BPJS Non PBI. Kesan ekonomi kurang.

C. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan tanggal 5 Desember 2016 pukul 12.00 WIB
Status Generalisata
Kesadaran : compos mentis, GCS 15 (E4V5M6)
Keadaan umum : baik
Vital sign
TD : 120/70 mmHg
Nadi : 68 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 37,8oC
Status gizi : kesan gizi kurang
VAS : 6-7
Status Internus
Kulit : warna sawo matang, turgor kulit turun (-), ikterik (-)

2
Kepala : kesan mesosefal, rambut hitam lurus, luka (-)
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat,
sentral, reguler dan isokor 3mm
Hidung : nafas cuping hidung (-), sekret (-)
Telinga : serumen (-/-), nyeri tekan tragus (-/-), nyeri tekan
mastoid (-/-)
Mulut : bibir kering (-), bibir sianosis (-), lidah kotor (-)
Leher : pembesaran kelenjar limfe (-), deviasi trakea (-)
Thorax : tidak dilakukan
Jantung : tidak dilakukan
Paru : tidak dilakukan
Abdomen : tidak dilakukan
Ekstremitas : oedema (-), hematom sepanjang os tibia sinistra
Status Neurologis
Orientasi : tempat: baik, waktu: baik, orang: baik, sekitar: baik
Jalan pikiran : baik
Kecerdasan : baik
Daya ingat baru : baik
Daya ingat lama : baik
Kemampuan bicara : baik, pelo (-)
Sikap tubuh : tidak dapat dinilai
Cara berjalan : tidak dapat dinilai
Gerakan abnormal : (-)
Nervi Cranialis :
Nn. Craniales Dekstra Sinistra
N. I (Olfactorius)
Daya Penghidu Normosmia Normosmia

3
N.II (Opticus)
a. Daya penglihatan Baik Baik
b. Pengenalan warna Baik Baik
c. Medan penglihatan Baik Baik
d. Perdarahan arteri/vena Baik Baik
e. Fundus okuli t.d.l t.d.l
f. Papil t.d.l t.d.l
g. Retina t.d.l t.d.l
N.III (Oculomotorius)
a. Ptosis (-) (-)
b. Gerak mata keatas (+) (+)
c. Gerak mata kebawah (+) (+)
d. Gerak mata media (+) (+)
e. Ukuran pupil 3 mm 3 mm
f. Bentuk pupil bulat bulat
g. Reflek cahaya langsung (+) (+)
h. Reflek cahaya konsesuil (+) (+)
i. Reflek akmodasi (+) (+)
j. Strabismus divergen (-) (-)
k. Diplopia (-) (-)
N.IV (Trochlearis) :
a. Gerak mata lateral bawah (+) (+)
b. Strabismus konvergen (-) (-)
c. Diplopia (-) (-)
N.V (Trigeminus)
a. Menggigit (+) (+)
b. Membuka mulut (+) (+)
c. Sensibilitas muka atas (+) (+)
d. Sensibilitas muka tengah (+) (+)
e. Sensibilitas muka bawah (+) (+)
f. Reflek kornea (+) (+)
g. Reflek bersin (+) (+)

4
h. Reflek masseter (+) (+)
i. Reflek zigomatikus (+) (+)
j. Trismus (-) (-)
N.VI (Abducens) :
a. Pergerakan mata (ke lateral) (+) (+)
b. Strabismus konvergen (-) (-)
c. Diplopia (-) (-)
N. VII (Facialis)
a. Kerutan kulit dahi (+) (+)
b. Kedipan mata (+) (+)
c. Lipatan nasolabia (+) (+)
d. Sudut mulut (+) (+)
e. Mengerutkan dahi (+) (+)
f. Mengangkat alis (+) (+)
g. Menutup mata (+) (+)
h. Meringis (+) (+)
i. Tik fasial (-) (-)
j. Lakrimasi t.d.l t.d.l
k. Daya kecap 2/3 depan t.d.l t.d.l
l. Reflek fasio-palpebra N N
m. Reflek glabella N N
n. Reflek aurikulo-palpebra N N
o. Tanda Myerson N N
p. Tanda Chovstek N N
N. VIII (Vestibulocochlearis)
a. Mendengarkan suara berbisik N N
b. Mendengarkan detik arloji N N
c. Tes rinne t.d.l t.d.l
d. Tes weber t.d.l t.d.l
e. Tes schwabach t.d.l t.d.l
N IX (Glossopharyngeus)
a. Arkus faring Simetris Simetris

5
b. Uvula Simetris Simetris
c. Daya kecap 1/3 belakang t.d.l t.d.l
d. Reflek muntah t.d.l t.d.l
e. Sengau (-) (-)
f. Tersedak (-) (-)
N X (Vagus)
a. Arkus faring Simetris Simetris
b. Daya kecap 1/3 belakang t.d.l t.d.l
c. Bersuara (+) (+)
d. Menelan (+) (+)
N XI (Accesorius)
a. Memalingkan muka (+) (+)
b. Sikap bahu (+) (+)
c. Mengangkat bahu (+) (+)
d. Trofi otot bahu N N
N XII (Hypoglossus)
a. Sikap lidah Lidah simetris
b. Artikulasi baik
c. Tremor lidah -
d. Menjulurkan lidah +
e. Kekuatan lidah baik
f. Trofi otot lidah N
g. Fasikulasi lidah -

ANGGOTA GERAK ATAS


Inspeksi kanan kiri
Drop hand Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Pitchers hand Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Warna kulit Dbn Dbn
Claw hand Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Kontraktur Tidak dilakukan Tidak dilakukan

6
Palpasi
Lengan kanan kiri
Gerakan + +
Kekuatan 5 5
Tonus Eutoni Eutoni
Sensibilitas (rasa) + +
Reflek fisiologis + +
Reflek patologis - -

ANGGOTA GERAK BAWAH


Inspeksi kanan kiri
Drop hand Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Pitchers hand Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Warna kulit Dbn Dbn
Claw hand Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Kontraktur Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Palpasi
Tungkai kanan kiri
Gerakan + (terbatas) + (terbatas)
Kekuatan 3 3
Tonus Eutoni Eutoni
Sensibilitas (rasa) + +
Reflek fisiologis + +
Reflek patologis - -

Status Lokalis
Palpasi vertebra : nyeri tekan di sekitar lumbal
Ketok vertebra : nyeri ketok di sekitar lumbal

Pemeriksaan Tambahan
Laseque : (-)
Kontra laseque : (-)
Sicard : (-)
Bragard : (-)
Patrick : tidak dapat dinilai

7
Kontrapatrick : tidak dapat dinilai

Fungsi Vegetatif
Miksi : dalam batas normal
Defekasi : dalam batas normal

D. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Darah rutin (4 Desember 2016)
- Hb 12,1
- Lekosit 11,100
- Trombosit 120,000
- Hematokrit 37.5
- Eosinofil 1.5
- Basofil 1.0
- N. segmen 83.0
- Limfosit 8.3
- Monosit 6.2
- Eritrosit 4.16
- MCV 90
- MCH 29
- MCHC 32
- GDS 62
Kimia Klinik (4 Desember 2016)
- Ureum 37
- Kreatinin 0.7
- AST (SGOT) 77
- ALT (SGPT) 27
- Kalium 4.4
- Natrium 133
- Clorida 104

8
- Calcium 8.7

X-Foto Vertebrae Lumbo Sacral Ap/Lateral

- Struktur trabekula tulang porotik


- Alignment LS skoliosis, kurvatura lordotik baik
- Tampak penyempitan diskus intervertebralis VL 2-3
- Tampak osteofit di corpus VL
- Tampak gamb. Schmorl node di corpus VL 2
- Pedikel baik
- Sakroiliaka joint D/S normal
- Multiple kalsifikasi di cav. Pelvis
Kesan : Skoliosis dan spondilosis lumbalis
Penyempitan diskus intervertebralis VL 2-3
Osteoporosis
Multiple kalsifikasi di cav. Pelvis

X-Foto Cruris Sinistra

9
- Tak tampak soft tissue swelling di cruris sn
- Struktur trabekula tulang minimal
- Tak tampak lesi litik / sklerotik di tulang sn
- Tak tampak fraktur di os tibia-fibula sn
- Tak tampak dislokasi sendi
Kesan : tak tampak fraktur / kelainan di os tibia-fibula sinistra

E. Resume
Wanita, 84 tahun, datang dengan keluhan nyeri tulang belakang bagian
bawah sejak 3 hari SMRS setelah pasien jatuh dengan posisi terduduk di
kamar mandi. Pasien tidak dapat berdiri dan berjalan, terdapat hematom di
sepanjang os tibia sinistra (+), dan oedem (+) pada kedua kaki.
2 hari yang lalu pasien dibawa ke IGD RSUD Dr. Soeprapto Cepu
dengan keluhan tulang belakang bagian bawah masih terasa nyeri, pasien
masih tidak dapat beraktivitas dan harus dibantu/digendong saat berjalan.
Pada pemeriksaan sekarang keluhan nyeri tulang belakang (+), nausea (-),
vomitus (-), cephalgia (-), oedem di kedua kaki (-), napas terasa sesak (+), sub
febris (+). BAB dan BAK dalam batas normal.

10
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital TD 120/70 mmHg, HR
68 kali/menit, RR 24 kali/menit, suhu 37,8 oC, VAS 6-7, ekstremitas hematom
di os tibia sinistra. Status neurologis didapatkan gerakan ekstremitas atas baik
dengan kekuatan (5/5) dan ekstremitas bawah bebas terbatas dengan kekuatan
(3/3). Refleks fisiologis (+/+), refleks patologis (-/-), nervi cranialis baik.
Palpasi vertebrae didapatkan nyeri tekan disekitar lumbal (+), dan nyeri ketok
vertebrae disekitar lumbal (+). Laseque (-), kontra laseque (-), sicard (-),
bragard (-). Sensorik ekstremitas atas dan bawah (+). Gangguan vegetatif (-).

F. Diagnosa
Diagnosis klinis : low back pain, subfebris
Diagnosis topis : spondilosis lumbalis
Diagnosis etiologi : LBP et causa spondilosis lumbalis

G. Initial Plan
IpDx : Subjektif = (-)
Objektif = MRI
IpTx : Inf RL 20 tpm
Inj. Ketorolac 30 mg
Inj. Ranitidine 2x1 amp
Neurodex 2x1 tab
Konsul Rehab Medik (fisioterapi)
IpMx : Monitoring keluhan
Monitoring fisoterapi
IpEx : Mengurangi/membatasi aktifitas berat, istirahat cukup, minum
obat sesuai advis dokter, banyak minum air putih dan makan
sehat bergizi seimbang secara teratur.

11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Spondilo berasal dari bahasa Yunani yang berarti tulang belakang.
Spondilosis lumbalis dapat diartikan perubahan pada sendi tulang belakang
dengan ciri khas bertambahnya degenerasi diskus intervertebralis yang diikuti
perubahan pada tulang dan jaringan lunak, atau dapat berarti pertumbuhan
berlebihan dari tulang (osteofit), yang terutama terletak di aspek anterior, lateral,
dan kadang-kadang posterior dari tepi superior dan inferior vertebra sentralis

12
(corpus). Secara singkat, spondilosis adalah kondisi dimana telah terjadi
degenerasi pada sendi intervertebral yaitu antara diskus dan korpus vertebra. 1

Etiologi dan Faktor Resiko


Spondilosis lumbal muncul karena proses penuaan atau perubahan
degeneratif. Spondilosis lumbal banyak pada usia 30 45 tahun dan paling
banyak pada usia 45 tahun. Kondisi ini lebih banyak menyerang pada wanita
daripada laki-laki. Faktor-faktor resiko yang dapat menyebabkan spondilosis
lumbal adalah :
a. Kebiasaan postur yang jelek
b. Stress mekanikal akibat pekerjaan seperti aktivitas pekerjaan yang
melibatkan gerakan mengangkat, twisting dan membawa/memindahkan
barang.
c. Faktor usia, beberapa penelitian pada osteoarthritis telah menjelaskan
bahwa proses penuaan merupakan faktor resiko yang sangat kuat untuk
degenerasi tulang khususnya pada tulang vertebra. Suatu penelitian otopsi
menunjukkan bahwa spondilitis deformans atau spondilosis meningkat
secara linear sekitar 0% - 72% antara usia 39 70 tahun. Begitu pula,
degenerasi diskus terjadi sekitar 16% pada usia 20 tahun dan sekitar 98%
pada usia 70 tahun.
d. Stress akibat aktivitas dan pekerjaan, degenerasi diskus juga berkaitan
dengan aktivitas-aktivitas tertentu. Penelitian retrospektif menunjukkan
bahwa insiden trauma pada lumbar, indeks massa tubuh, beban pada
lumbal setiap hari (twisting, mengangkat, membungkuk, postur jelek yang
terus menerus), dan vibrasi seluruh tubuh (seperti berkendaraan),
semuanya merupakan faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan
spondilosis dan keparahan spondilosis.
e. Peran herediter. Faktor genetik mungkin mempengaruhi formasi osteofit
dan degenerasi diskus. Progresi dari perubahan degeneratif menunjukkan
bahwa sekitar (47 66%) spondilosis berkaitan dengan faktor genetik

13
dan lingkungan, sedangkan hanya 2 10% berkaitan dengan beban fisik
dan resistance training.
f. Adaptasi fungsional. Perubahan degeneratif pada diskus berkaitan dengan
beban mekanikal dan kinematik vertebra. Osteofit mungkin terbentuk
dalam proses degenerasi dan kerusakan cartilaginous mungkin terjadi
tanpa pertumbuhan osteofit. Osteofit dapat terbentuk akibat adanya
adaptasi fungsional terhadap instabilitas atau perubahan tuntutan pada
vertebra lumbar. 2

Patofisiologi
Perubahan patologi yang terjadi pada diskus intervertebralis antara lain:
a. Annulus fibrosus menjadi kasar, kolagen fiber cenderung melonggar dan
muncul retak pada berbagai sisi.
b. Nukleus pulposus kehilangan cairan.
c. Tinggi diskus berkurang.
d. Perubahan ini terjadi sebagai bagian dari proses degenerasi pada diskus
dan dapat hadir tanpa menyebabkan adanya tanda-tanda dan gejala.
Sedangkan pada korpus vertebra, terjadi perubahan patologis berupa
adanya lipping yang disebabkan oleh adanya perubahan mekanisme diskus yang
menghasilkan penarikan dari periosteum dari annulus fibrosus. Dapat terjadi
dekalsifikasi pada corpus yang dapat menjadi factor predisposisi terjadinya crush
fractur.
Pada ligamentum intervertebralis dapat menjadi memendek dan menebal
terutama pada daerah yang sangat mengalami perubahan. Pada selaput meningeal,
durameter dari spinal cord membentuk suatu selongsong mengelilingi akar saraf
dan ini menimbulkan inflamasi karena jarak diskus membatasi canalis
intervertebralis.
Terjadi perubahan patologis pada sendi apophysial yang terkait dengan
perubahan pada osteoarthritis. Osteofit terbentuk pada margin permukaan artikular
dan bersama-sama dengan penebalan kapsular, dapat menyebabkan penekanan
pada akar saraf dan mengurangi lumen pada foramen intervertebralis. 3

14
Gejala klinis
Gambaran klinis yang terjadi tergantung pada lokasi yang terjadi baik itu
servikal, lumbal dan torakal. Untuk spondilosis daerah lumbal memberikan
gambaran klinis sebagai berikut:
a. Onset, biasanya awal nyeri dirasakan tidak ada apa-apa dan tidak menjadi
suatu masalah sampai beberapa bulan. Nyeri akut biasanya ditimbulkan
dari aktivitas tidak sesuai.
b. Nyeri, biasanya nyeri terasa disepanjang sacrum dan sacroiliac joint. Dan
mungkin menjalar ke bawah (gluteus) dan aspek lateral dari satu atau
kedua hip. Pusat nyeri berasal dari tingkat L4, L5, S1.
c. Referred pain:
- Nyeri mungkin saja menjalar ke arah tungkai karena adanya iritasi
pada akar persarafan. Ini cenderung pada area dermatomnya
- Paha (L1)
- Sisi anterior tungkai (L2)
- Sisi anterior dari tungkai knee (L3)
- Sisi medial kaki dan big toe (L4)
- Sisi lateral kaki dan tiga jari kaki bagian medial (L5)
- Jari kaki kecil, sisi lateral kaki dan sisi lateral bagian posterior kaki
(S1)
- Tumit, sisi medial bagian posterior kaki (S2)
d. Parasthesia, biasanya mengikuti daerah dermatom dan terasa terjepit dan
tertusuk, suatu sensasi kesemutan atau rasa kebas (mati rasa).
e. Spasme otot, biasanya ada peningkatan tonus erector spinae dan m.
quadratus lumborum. Seringkali terdapat tonus yang berbeda antara
abduktor hip dan juga adductor hip. Kadang-kadang salah satu otot
hamstring lebih ketat dibanding yang lainnya.
f. Keterbatasan gerakan, semua gerakan lumbar spine cenderung terbatas.
Gerakan hip biasanya terbatas secara asimetrical. Faktor limitasi pada

15
umumnya disebabkan oleh ketetatan jaringan lunak lebih dari spasme atau
nyeri.
g. Kelemahan otot, terjadi biasanya pada otot abdominal dan otot gluteal.
Kelemahan mungkin terjadi karena adanya penekanan pada akar saraf
myotomnya. Otot-otot pada tungkai yang mengalami nyeri menjalar
biasanya lebih lemah dibandingkan dengan tungkai satunya.
h. Gambaran radiografi, terdapat penyempitan pada jarak diskus dan
beberapa lipping pada korpus vertebra. 1

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologi dapat dilakukan untuk melihat gambaran seperti :
1. Penyempitan ruang diskus intervertebralis
2. Perubahan kelengkungan vertebra dan penekanan saraf
3. Osteofit/spur formation di anterior maupun posterior vertebra
4. Pemadatan korpus vertebra
5. Porotik (lubang) pada tulang
6. Vertebra tampak seperti bambu (Bamboo Spine)
7. Sendi sacroiliaca tidak tampak atau kabur
8. Celah sendi menghilang

Adapun pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan antara lain :


1. X-ray adalah gambaran radiologi yang mengevaluasi tulang maupun sendi,
merupakan tes yang sederhana dan sangat membantu untuk menunjukkan
keabnormalan pada tulang. Seringkali X-ray merupakan penunjang
diagnosis pertama untuk mengevaluasi nyeri punggung, dan biasanya
dilakukan sebelum melakukan tes penunjang lain seperti MRI atau CT
scan. Foto X-ray dilakukan pada posisi anteroposterior (AP), lateral, dan
bila perlu oblique kanan dan kiri. Foto X-ray ini berguna untuk
menunjukkan daerah lumbal, menentukan bentuk foramina intervertebralis
dan facet joint, serta menunjukkan spondilosis. 4

16
Contoh kelainan pada diskus intervertebralis

Anteroposterior view of lumbar spine 5

Perubahan kelengkungan vertebrae

17
2. CT scan adalah metode terbaik untuk mengevaluasi adanya penekanan
tulang dan terlihat juga struktur lainnya antara lain ukuran dan bentuk
kanalis spinalis, resesus lateralis, facet joint, dan juga morfologi diskus
intervertebralis. 4
3. MRI dengan jelas lebih canggih daripada CT dalam visualisasi struktur
non osseus dan saat ini merupakan metode terbaik untuk mengevaluasi isi
canalis spinalis. 3

Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis
Terdiri dari pengobatan konservatif dan pembedahan. Pada pengobatan
konservatif, terdiri dari analgesik dan memakai korset lumbal yang mana
dengan mengurangi lordosis lumbalis dapat memperbaiki gejala dan
meningkatkan jarak saat berjalan. Percobaan dalam 3 bulan direkomendasikan
sebagai bentuk pengobatan awal kecuali terdapat defisit motorik atau defisit
neurologis yang progresif.
Terapi pembedahan diindikasikan jika terapi konservatif gagal dan adanya
gejala-gejala permanen khususnya defisit motorik. Pembedahan tidak
dianjurkan pada keadaan tanpa komplikasi. Terapi pembedahan tergantung
pada tanda dan gejala klinis, dan sebagian karena pendekatan yang berbeda
terhadap stenosis spinalis lumbalis, tiga kelompok prosedur operasi yang
dapat dilakukan anatara lain: Operasi dekompresi, Kombinasi dekompresi dan
stabilisasi dari segmen gerak yang tidak stabil, dan Operasi stabilisasi segmen
gerak yang tidak stabil
b. Penatalaksanaan Fisioterapi
Tujuan tindakan fisioterapi pada kondisi ini yaitu untuk meredakan nyeri,
mengembalikan gerakan, penguatan otot, dan edukasi postur. Pada
pemeriksaan (assessment) yang perlu diidentifikasi adalah: gambaran nyeri,
faktor pemicu pada saat bekerja dan saat luang, ketidaknormalan postur,

18
keterbatasan gerak dan faktor pembatasannya, dan hilangnya gerakan
accessories dan mobilitas jaringan lunak dengan palpasi.
Program intervensi fisioterapi hanya dapat direncanakan setelah
melakukan assessment tersebut. Adapun treatment yang bias digunakan dalam
kondisi ini, adalah sebagai berikut:
- Heat, heat pad dapat menolong untuk meredakan nyeri yang terjadi
pada saat penguluran otot yang spasme.
- Ultrasound, sangat berguna untuk mengobati thickening yang terjadi
pada otot erector spinae dan quadratus lumborum dan pada ligamen
(sacrotuberus dan saroiliac)
- Korset, bisa digunakan pada nyeri akut.
- Relaxation, dalam bermacam-macam posisi dan juga pada saat
istirahat, maupun bekerja. Dengan memperhatikan posisi yang nyaman
dan support.
- Posture education, deformitas pada postur membutuhkan latihan pada
keseluruhan alignment tubuh.
- Mobilizations, digunakan untuk stiffness pada segment lumbar spine,
sacroiliac joint dan hip joint.
- Soft tissue technique, pasif stretching pada struktur yang ketat sangat
diperlukan, friction dan kneading penting untuk mengembalikan
mobilitas supraspinous ligament, quadratus lumborum, erector spinae
dan glutei.
- Traction, traksi osilasi untuk mengurangi tekanan pada akar saraf
tetapi harus dipastikan bahwa otot paravertebral telah rileks dan telah
terulur.
- Hydrotherapy, untuk relaksasi total dan mengurangi spasme otot.
Biasanya berguna bagi pasien yang takut untuk menggerakkan spine
setelah nyeri yang hebat.
- Movement, hold relax bisa diterapkan untuk memperoleh gerakan
fleksi. Bersamaan dengan mobilitas, pasien melakukan latihan
penguatan untuk otot lumbar dan otot hip.

19
- Advice, tidur diatas kasur yang keras dapat menolong pasien yang
memiliki masalah sakit punggung dan saat bangun, kecuali pada pasien
yang nyeri nya bertambah parah pada gerakan ekstensi. Jika pasien
biasanya tidur dalam keadaan miring, sebaiknya menggunakan kasur
yang lembut. 6

DAFTAR PUSTAKA

1. Sidharta, Priguna. Neurologi Klinis Dasar, edisi IV, cetakan kelima.


Jakarta : PT Dian Rakyat. 87-95. 1999
2. Isbagio, Harry. 2000. CDK: Struktur Rawan Sendi dan Perubahannya pada
Osteoartritis. Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran
3. Price, Sylvia. 2006. Herniasa Diskus Intervertebralis Dalam Patofisiologi
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC

20
4. Nursamso, Handono. 2004. Diagnosis dan Penatalaksanaan Nyeri
Pinggang. Malang: Lab/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas
Brawijaya
5. Rothschild, Bruce. 2013. Lumbar Spondylosis. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/249036-oveview#showall [cited 14
April 2014]
6. Sjahrir, Rasad. 2006. Radiologi Diagnostik. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

21