Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 16 No.

2, Juli 2013, hal 93-100


pISSN 1410-4490, eISSN 2354-9203

KOMPRES DINGIN DAPAT MENURUNKAN NYERI ANAK USIA


SEKOLAH SAAT PEMASANGAN INFUS
Puji Indriyani1,2* , Happy Hayati3 , Siti Chodidjah3

1. Akademi Keperawatan Yakpermas , Banyumas 53181, Indonesia


2. Program Studi Magister, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
3. Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia

*E-mail: puji.dwiyantoro@yahoo.com

Abstrak

Prosedur pemasangan infus dapat menimbulkan nyeri dan trauma pada anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh kompres hangat dan dingin terhadap skala nyeri anak usia sekolah saat pemasangan infus. Desain
penelitian yang digunakan kuasi eksperimen post test only non equivalent control group yang terbagi dalam tiga
kelompok yaitu kompres hangat (15 responden), kompres dingin (15 responden), dan kontrol (15 responden). Hasil uji
statistik dengan Anova menunjukkan ada perbedaan bermakna antara pengaruh pada ketiga kelompok terhadap skala
nyeri (p= 0,0001; = 0,05) dan hasil uji post hock menunjukkan bahwa pemberian kompres dingin mempunyai mean
difference paling besar yaitu -4,267. Berdasarkan hasil penelitian ini maka kompres dingin lebih efektif menurunkan
nyeri, oleh karena itu kompres dingin lebih disarankan untuk digunakan dalam menurunkan nyeri pada anak yang
dilakukan prosedur pemasangan infus.

Kata kunci: kompres dingin, kompres hangat, skala nyeri

Abstract

The Effect of Cold Compress in Reducing Pain Related to IV Cannule Insertion in Children. Intravena canule
insertion procedure could cause pain and trauma in children. The purpose of this study was to determine the effect of
warm and cold compress on pain scale of school-age children IV canule insertion. The study design used a quasi-
experiment post-test only non-equivalent control group, which were divided into three groups: warm compress (15
respondents), a cold compress (15 respondents) and control (15 respondents). Anova analysis showed that there were
significant differences in the effect of the three groups on the pain scale( p= 0.0001; = 0.05) and post hock test results
showed that administration of cold compresses has the greatest mean difference ( -4.267). The result suggests that a
cold compress is more effective in reduce pain, therefore, it is recommended to be applied in reducing pain related to
IV canule insertion among children.

Keywords: cold compress, pain rating scale, warm compress

Pendahuluan kronik, penyakit kongenital, jantung maupun


infeksi (Potter & Perry, 2005; Mathews,
Anak merupakan individu yang unik dan 2011). Hampir 80% kasus disebabkan karena
berbeda dengan orang dewasa. Berdasarkan penyakit infeksi dengan prevalensi terbanyak
sensus penduduk tahun 2010, jumlah anak di pada infeksi pernafasan (Potter & Perry, 2005).
Indonesia usia 0-17 tahun mencapai 81 juta jiwa
lebih (34,26%) dari total penduduk (Badan Pusat Tingginya tingkat morbiditas semakin men-
Statistik, 2011). Anak selain sebagai tumpuan dorong tingginya rawat inap anak di rumah
dan masa depan bangsa juga termasuk kelompok sakit. Anak-anak yang datang ke unit gawat
yang rentan terhadap berbagai masalah kesehatan. darurat, hampir 90% dilakukan pemasangan
infus (Farion, et al., 2008). Di Amerika Serikat
Setiap tahun sekitar 1,5 juta anak usia sekolah sekitar 150 juta anak yang dirawat di rumah
dirawat di rumah sakit karena cedera, penyakit sakit mendapatkan tindakan pemasangan infus
94 Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 16, No. 2, Juli 2013, hal 93-100

(Gallant & Schulttz, 2006). Pemasangan infus Margono Soekarjo Purwokerto, dengan non
merupakan sumber kedua dari nyeri yang probability sampling jenis consecutive sampling.
paling dirasakan anak setelah penyakit yang Besar sampel 45 Anak yang terbagi dalam 3
dideritanya (Kennedy, Luhmann & Zempsky, kelompok yaitu 15 kelompok kompres hangat,
2008). 15 kelompok kompres dingin dan 15 untuk
kelompok kontrol.
Nyeri yang terjadi menimbulkan masalah baru
akibat perasaan yang tidak menyenangkan, Pengumpulan data menggunakan instrumen
distress dan ketidaknyamanan (Cheng, Foster kuesioner (karakteristik responden), dan penilaian
& Huang, 2003). Nyeri yang dirasakan dan skala nyeri (Numeric Rating Scale). Etika
tidak diatasi menimbulkan dampak negatif pengumpulan data meliputi beneficence dan
yang lama seperti sensitivitas nyeri yang tetap, non maleficence, respect for human dignity
penurunan fungsi kekebalan tubuh dan neuro- dan justice.
fisiologi, perubahan sikap serta perubahan
perilaku kesehatan (Young, 2005 dalam Cohen, Hasil
et al. 2007). Dampak lanjut berupa hambatan
perkembangan secara kognitif, fisik, emosional Karakteristik responden pada penelitian ini
maupun sosial (Aley, 2002 dalam Salmela- meliputi 66,7% berjenis kelamin laki-laki,
Aro, Nurmi, Saisto, & Halmesmaki, 2010). 82,2% berasal dari suku/budaya Jawa, 57,8%
berpenyakit infeksi, 53,3% anak mempunyai
Penelitian Cohen (2008) telah menunjukkan pengalaman pemasangan infus sebelumnya serta
dan merekomendasikan perlunya pendekatan 51,1% ada kehadiran dari orang yang berarti.
perilaku pada penerapan manajemen nyeri untuk Pada skala nyeri responden saat penusukan
meminimalkan kecemasan dan rasa sakit pada jarum infus dinilai dengan menggunakan skala
anak terkait dengan penusukan vena. Penata- Numerical Rating Scale (NRS). Nilai rerata
laksanaan nyeri yang efektif perlu dikelola secara skala nyeri pada kelompok kompres hangat 3,47
proaktif melalui pendekatan terapeutik yang (95% CI), kelompok kompres dingin rerata skala
melibatkan kombinasi farmakologi, perilaku- nyeri 2,53 (95% CI), dan rerata skala nyeri pada
kognitif, dan juga terapi fisik (AAP & APS, kelompok kontrol adalah 6,93 (95% CI). Tabel
2001). 1 menunjukkan distribusi skala nyeri pada
masing-masing kelompok. Perbedaan rerata
Teknik nonfarmakologi ini merupakan suatu skala nyeri pada kelompok kompres hangat,
strategi koping yang mampu mengurangi kompres dingin dan kontrol.
persepsi nyeri sehingga nyeri dapat ditoleransi,
kecemasan menjadi menurun dan efektivitas Tabel 1. Distribusi Rerata Skala Nyeri pada Ketiga
analgesik menjadi meningkat (Hockenberry & Kelompok
Wilson, 2009). Salah satu teknik yang dapat
digunakan adalah stimulasi cutaneus. Stimulasi Min
Kelompok Mean SD 95% CI
Max
cutaneus ini merupakan stimulasi fisik pada
kulit yang dapat mengurangi nyeri seperti Kompres hangat 3,47 1,767 16 2,494,45
pemberian kompres hangat atau kompres dingin. Kompres Dingin 2,53 1,407 15 1,753.31
Kontrol 6,93 1,981 410 5,848,03

Metode
Tabel 2. Perbedaan Rerata Skala Nyeri
Penelitian ini menggunakan desain quasi-
experiment dengan jenis post test only non Variabel Kelompok Mean SD p
equivalent control group (Dharma, 2011). Skala Nyeri Kompres Hangat 3,47 1,767
Populasinya adalah anak usia sekolah usia 6 Kompres dingin 2,53 1,407 0,0001
Kontrol 6,93 1,981
12 tahun yang dirawat di RSUD Prof. Dr.
Indriyani, et al., Kompres Dingin dapat Menurunkan Nyeri Anak 95

Tabel 3. Pengaruh Kompres Hangat, Dingin dan Kontrol kompres dingin dengan kelompok kontrol yaitu
sebesar -4,267.
Mean
Variabel Antar Kelompok p
Difference
Pengaruh karakteristik anak (jenis kelamin,
Skala Kompres HangatDingin 0,867 0,181
pengalaman infus sebelumnya dan kehadiran
Nyeri
Kompres HangatKontrol -3,400 0,0001 orang yang berarti) terhadap skala nyeri pada
kelompok intervensi (kompres hangat dan
Kompres DinginKontrol -4,267 0,0001 kompres dingin) dapat dilihat pada Tabel 4.

Hasil analisis pada Tabel 5 menunjukkan jenis


Tabel 4. Rerata Skala Nyeri Anak pada Kompres kelamin, pengalaman infus sebelumnya (pernah
Hangat atau tidak pernah) dan kehadiran orang yang
berarti (ada atau tidak ada) pada kelompok
Variabel N Mean SD p
intervensi tidak menunjukkan adanya pengaruh
Laki-laki 10 3,60 1,955 0,695 yang signifikan terhadap skala nyeri (p> 0,05).
Perempuan 5 3,20 1,483

Pernah 7 3,43 1,618 0,941 Pembahasan


Tidak pernah 8 3,50 2,00

Ada 8 3,38 2,066 0,839 Jenis kelamin anak dalam penelitian ini
Tidak Ada 7 3,57 1,512 sebagian besar adalah laki-laki. Di Indonesia
berdasarkan hasil pengolahan data Susenas
(2010) bahwa persentase anak laki-laki usia
Tabel 5. Rerata Skala Nyeri Anak pada Kompres Dingin kurang dari 17 tahun yang mempunyai keluhan
kesehatan dan terganggu dalam aktivitas sehari-
Variabel n Mean SD p
harinya lebih banyak yaitu sebesar 17,54%
Laki-laki 11 2,55 1368 0,958 daripada anak perempuan yang sebesar 17,13%
Perempuan 4 2,50 1,732 (BPS, 2011). Fenomena ini mendukung bahwa
Pernah 9 2,44 1,509 0,777 pada penelitian ini jenis kelamin laki-laki lebih
Tidak pernah 6 2,67 1,366 banyak dibandingkan dengan jenis kelamin
perempuan.
Ada 6 2,33 1,366 0,670
Tidak Ada 9 3,67 1,500
Asal suku terbesar pada ketiga kelompok adalah
berasal dari suku Jawa dimana responden lebih
banyak berasal dari wilayah di sekitar rumah
Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sakit Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
yang bermakna skala nyeri pada ketiga Menurut Nayak, et al. (2000) dalam Callister
kelompok (p= 0,0001; = 0,05) (lihat pada (2003) orang-orang dari budaya Timur memiliki
Tabel 2). Untuk mengetahui yang paling ber- toleransi yang lebih tinggi terhadap rasa nyeri
pengaruh dapat dilihat pada Tabel 3. bila dibandingkan dengan orang-orang dari
budaya Barat, sehingga responden pada pene-
Tabel 4 menunjukkan bahwa pengaruh antara litian ini baik yang berasal dari suku/budaya
kelompok kompres hangat dengan kompres Jawa maupun Sunda cenderung mempunyai
dingin tidak berbeda signifikan (p= 0,181; = toleransi yang tinggi terhadap rasa nyeri.
0,05). Perbedaan skala nyeri antara kelompok Karakteristik responden berdasarkan penyakit
kompres hangat dengan kontrol dan kelompok pada kelompok kompres dingin diperoleh
kompres dingin dengan kontrol menunjukkan sebagian besar responden menderita penyakit
ada perbedaan yang bermakna (p= 0,0001; = infeksi, dimana anak usia sekolah sudah mulai
0,05). Melihat hasil mean difference/perbedaan memasuki dunia yang lebih luas yaitu ber-
yang paling besar adalah antara kelompok teman dan masuknya anak ke lingkungan yang
96 Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 16, No. 2, Juli 2013, hal 93-100

lebih luas seperti lingkungan sekolah dan sebesar 0,0001 artinya terdapat perbedaan
lingkungan sekitarnya (Dewit, 2009). Kondisi pengaruh yang signifikan pada ketiga kelompok
ini memungkinkan anak berisiko mengalami terhadap skala nyeri anak usia sekolah yang
penyakit menular. dilakukan pemasangan infus. Dari ketiga
kelompok tersebut setelah dianalisis dengan
Pengalaman pemasangan infus sebelumnya lebih menggunakan uji Post Hoc Test ditemukan
banyak dikarenakan pada pengumpulan data bahwa antara kompres hangat dan kompres
untuk kelompok kompres hangat dilakukan di dingin menunjukkan tidak adanya perbedaan
ruang Unit Gawat darurat (UGD) dimana calon yang signifikan terhadap skala nyeri dengan
responden yang datang sebagian besar adalah p= 0,181(p> 0,05). Sedangkan kelompok yang
pasien baru dan belum mempunyai pengalaman paling berpengaruh terhadap skala nyeri adalah
pemasangan infus. Pada kelompok kompres kelompok kompres dingin dimana p= 0,0001
dingin calon responden yang datang melalui dan mean difference paling besar -4,26 dengan
poliklinik umumnya sudah pernah mempunyai kelompok kontrol.
pengalaman dirawat dan sudah pernah mempunyai
pengalaman pemasangan infus. Penelitian ini menunjukkan bahwa kompres
hangat dan kompres dingin dapat menurunkan
Pada karakteristik kehadiran orang yang berarti nyeri. Kompres hangat dapat menurunkan nyeri
hasil penelitian menunjukkan lebih banyak pada dengan memberikan energi panas melalui proses
kelompok kontrol yaitu sebesar 60%. Berdasar- konduksi, dimana panas yang dihasilkan akan
kan pada tahapan perkembangan anak, anak menyebabkan vasodilatasi yang berhubungan
usia sekolah sudah mencapai tahap kecakapan pelebaran pembuluh darah lokal. Kompres hangat
motorik dimana anak telah mencapai keman- dapat memberi rasa hangat untuk mengurangi
diriannya dalam menyesuaikan diri dengan nyeri dengan adanya pelebaran pada pembuluh
lingkungan sekitar (Dewit, 2009; Mathews, darah yang mampu meningkatkan aliran darah
2011), sehingga pada penelitian ini anak telah lokal dan memberikan rasa nyaman (Price,
mencapai tahapan tersebut yaitu anak lebih 2005). Hal ini sesuai dengan penelitian Jolly,
siap dengan keadaannya. Zgonis, dan Hendrix (2005) menjelaskan bahwa
pemberian kompres hangat selama 5 menit
Skala nyeri responden pada saat dilakukan sebelum injeksi Glatirames Asetat, sebagian
pemasangan infus menunjukkan hasil bahwa besar pasien dapat mentoleransi rasa nyeri
rata-rata skala nyeri kelompok kompres hangat selama penyuntikan dan tidak ditemukan adanya
adalah 3,47 dengan nilai skala nyeri 1-6, inflamasi/kemerahan pada bekas suntikan.
kelompok kompres dingin rata-rata skala
nyerinya 2,53 dengan nilai skala nyeri 1-5, Pada penelitian ini, dari 15 responden yang
sedangkan kelompok kontrol rata-rata skala diberikan kompres hangat selama 5 menit tidak
nyerinya 6,93 dengan nilai skala nyeri 4-10. ada yang drop out ataupun minta dihentikan
Hal ini dikarenakan kompres hangat dan pemberian kompresnya, hal ini karena responden
kompres dingin kering mampu memblok sudah merasa nyaman. Wagner, Byrne, dan
transmisi dan durasi impuls nyeri pada pintu Kolcaba (2006) mengungkapkan bahwa upaya
dorsal berdasarkan pada teori gate control menghangatkan memiliki dampak yang positif
sehingga dapat meminimalkan sensasi nyeri pada kenyamanan suhu pasien, rasa kesejahtera-
akibat penusukan jarum saat pemasangan infus. an, yang akhirnya dapat menurunkan kecemasan.
Menurut Berman, Synder, Kozier dan Erb
(2009) bahwa kedua tindakan tersebut mampu Penelitian dari Saeki (2002) tentang penerapan
menurunkan nyeri pada area tubuh tertentu. panas dan dingin terhadap sensasi nyeri dengan
penusukan buatan menunjukkan hasil bahwa
Hasil uji statistik Anova dari ketiga kelompok penerapan dari stimulasi panas sedikit mem-
terhadap skala nyeri diperoleh nilai p value berikan respon terhadap pengurangan rasa nyeri
Indriyani, et al., Kompres Dingin dapat Menurunkan Nyeri Anak 97

bila dibandingkan dengan stimulasi dingin. rusakan pada jaringan tubuh, peningkatan
Dengan kompres dingin lebih dapat meng- denyut jantung dan tekanan darah sehinggga
hilangkan sensasi nyeri akibat penusukan dan hasil akhirnya adalah terjadi ketegangan pada
mampu menekan respon otonom, sedangkan sistem kekebalan tubuh yang dapat memper-
pada kompres panas tidak memberikan efek sulit efek dari cedera dan memperlambat
seperti pada kompres dingin. pemulihan (Zengerle-Levy, 2005).

Penelitian dari Saeki (2002) tersebut memperkuat Kolcaba dan DiMarco (2005) juga menyatakan
hasil penelitian ini yaitu walaupun kompres bahwa nyeri yang muncul akibat suatu tindakan
hangat dan kompres dingin tidak ada perbedaan invasif merupakan mekanisme fisiologis yang
yang signifikan terhadap skala nyeri, namun berisiko terhadap kenyamanan fisik yang ber-
jika dibandingkan dengan kelompok kontrol, dampak pada lama rawat anak di rumah sakit.
kompres dingin lebih menunjukkan hasil yang Lamanya perawatan di rumah sakit mengakibat-
lebih besar perbedaannya jika dibandingkan kan tingginya biaya yang harus dikeluarkan oleh
dengan kompres hangat dengan mean different keluarga, sehingga baik secara langsung maupun
sebesar -4,267. Oleh karena itu kompres dingin tidak langsung akan mempengaruhi institutional
lebih memberikan pengaruh terhadap pengurang- integrity pada rumah sakit yang bersangkutan.
an rasa nyeri saat pemasangan infus. Pemberian Oleh karena itu berdasarkan pada comfort
kompres dingin dapat mengurangi intensitas theory aspek health care need (kebutuhan akan
rangsangan kulit yang dirasakan dimana aplikasi rasa nyaman) pada anak dan keluarga menjadi
dingin pada kulit secara lokal dapat menimbul- dasar dalam menentukan tindakan keperawatan
kan analgesik ketika kulit didinginkan pada suhu dengan memperhatikan prinsip atrumatic care.
di bawah 13,6 C (Willer, et al. 1987 dalam Saeki, Salah satu tindakan atraumatic care adalah
2002). Sulistiyani (2009) melakukan penelitian melalui pemberian kompres hangat maupun
tentang pengaruh kompres es batu terhadap skala kompres dingin ketika melakukan tindakan
nyeri anak usia prasekolah yang dilakukan yang menimbulkan rasa nyeri. Memberikan
prosedur pemasangan infus dengan hasil 83,3% rasa nyaman pasien perlu memperhatikan latar
mengalami nyeri ringan. Aminabadi dan belakang semua tingkat kebutuhan dari tingkat
Farahani (2009) merekomendasikan pemberian relief sampai transcendence. Hal ini dapat
es batu dengan suhu 0 C untuk menurunkan nyeri mendorong peningkatan kepuasan anak dan
namun tergantung pada waktu dan ambang batas keluarga selama perawatan di rumah sakit.
yang digunakan.
Berdasarkan hasil analisis uji statistik pengaruh
Berdasarkan teori gate control, kompres dingin jenis kelamin terhadap skala nyeri anak usia
merupakan sesuatu yang tidak berbahaya yang sekolah menunjukkan tidak ada pengaruh yang
disampaikan dengan cepat oleh serabut myelin signifikan jenis kelamin terhadap skala nyeri.
kecil dan nonmyelin serabut C dihambat Abolfasl dan Mahdi (2012) telah mengevaluasi
sehingga mengurangi kenaikan jumlah rang- hubungan antara jenis kelamin dan intensitas
sangan nociceptive. Berdasarkan dari hasil nyeri pada anak akibat injeksi intramuskular
penelitian dan penelitian sebelumnya, didapatkan yang menyatakan tidak ada perbedaan yang
pemberian kompres dingin lebih memberikan siginifikan antara intensitas nyeri akibat injeksi
pengaruh terhadap penurunan skala nyeri baik dalam kelompok anak perempuan dengan anak
secara klinik maupun uji statistik, namun laki-laki. Menurut McGrath dan Hiller (2003)
keduanya sama-sama memberikan pengaruh dalam Oakes (2011) menyatakan hubungan
terhadap kenyamanan anak saat akan dilakukan antara jenis kelamin dengan bagaimana anak
tindakan pemasangan infus daripada tidak diberi merespon rasa sakit kurang begitu dapat di-
perlakuan apapun yang dapat menimbulkan nyeri jelaskan, namun banyaknya variabel situasional
dan kecemasan. Nyeri yang ditimbulkan dapat seperti sensitivitas, pengalaman, dan ekspresi
menyebabkan pelepasan hormon stres dan ke- yang kompleks juga mempengaruhi respon nyeri.
98 Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 16, No. 2, Juli 2013, hal 93-100

Menurut Potter dan Perry (2006), toleransi membuat penilaian dari setiap kejadian ber-
individu terhadap nyeri dipengaruhi oleh adanya dasarkan kemampuan analisis anak terhadap
faktor-faktor biokimia tubuh yang merupakan kejadian yang dialami saat ini dan yang akan
sesuatu hal yang unik dengan tidak memperhati- datang.
kan adanya penggolongan jenis kelamin.
Penelitian ini juga sesuai dengan penelitian
Berdasarkan analisis uji statistik pengalaman Mariyam (2011) yang menjelaskan bahwa tidak
infus sebelumnya terhadap skala nyeri, dalam ada perbedaan yang signifikan rata-rata tingkat
penelitian ini diperoleh hasil bahwa tidak ada nyeri pada anak usia 7-13 tahun yang memiliki
pengaruh yang signifikan pengalaman infus pengalaman pemasangan infus sebelumnya
sebelumnya terhadap skala nyeri baik pada dengan yang tidak memiliki pengalaman infus
kelompok kompres hangat maupun dingin (p= sebelumnya (p= 0,166). Hasil analisis kehadir-
0,941;0,777). Hasil penelitian ini tidak sesuai an orang yang berarti terhadap skala nyeri anak
penelitian Biermeier, Sjoberg, Dale, Eshelman, usia sekolah menunjukkan tidak ada pengaruh
dan Guzzetta (2007), bahwa ada hubungan yang signifikan. Anak bisa jadi merasa ada
bermakna antara pengalaman nyeri sebelumnya orang yang lebih memberi rasa nyaman
dengan rasa takut pada tindakan pungsi vena. daripada orang tuanya, misalnya seperti nenek,
kakek, kakak, paman atau bibi. Hal ini sesuai
Menurut Ball dan Blinder (2003), pengalaman dengan Hockenberry dan Wilson (2009) yang
rasa sakit sebelumnya akan berpengaruh ter- menyatakan bahwa kehadiran dari orang dekat
hadap persepsi seseorang tentang nyeri yang lainnya juga dapat memberikan kenyamanan
menyebabkan perasaan takut ketika menghadapi selama hospitalisasi (Hockenberry & Wilson,
tindakan pada masa yang akan datang. Namun 2009).
Potter dan Perry (2005) menyatakan bahwa
pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu Kolcaba dan DiMarco (2005) juga menyatakan
memberikan arti yang sama bahwa individu bahwa kehadiran orang yang spesial akan
akan dengan mudah menerima nyeri dimasa memberikan kenyamanan pada psikospiritual
yang akan datang dan apabila munculnya nyeri anak. Pada anak usia sekolah, hubungan
yang terus menerus tanpa pernah sembuh, maka dengan teman sebaya dan lingkungan sekolah
kecemasan dan rasa takut juga tetap muncul. jauh lebih penting dibanding dengan keluarga.
Pernyataan tersebut dipertegas oleh Walco Pada penelitian ini, kehadiran orang yang
(2008) dimana pengalaman nyeri pada anak berarti diartikan sebagai orang yang paling
merupakan pengaruh dari interaksi genetik, dirasakan memberi ketenangan dan kenyamanan
pengalaman dan juga faktor perkembangan. psikis pada anak. Orang yang dimaksud oleh
responden diantaranya adalah guru, teman
Menurut Hockenberry dan Wilson (2009), bermain, nenek/kakek, kakak maupun bibi/
anak usia sekolah sudah mulai memperoleh pamannya.
kemampuan menghubungkan suatu kejadian
untuk mengambarkan mental anak yang di- Nyeri yang muncul akibat tindakan invasif
ungkapkannya secara verbal ataupun simbolik. tidak dipengaruhi oleh ada tidaknya kehadiran
Adanya kejadian/peristiwa yang menimpa, dari orang yang berarti. Anak usia sekolah tidak
membentuk anak untuk mampu menggunakan begitu khawatir terhadap nyeri yang dirasakan
proses berpikirnya dalam menilai peristiwa atau selama hospitalisasi, namun lebih mengkhawatir-
tindakan yang dialaminya. Anak usia sekolah kan pada keterbatasan fisik, pemulihan yang tidak
juga sudah meninggalkan pemikiran egosentris pasti dan kemungkinan kematian (Hockenberry
dan beralih pada proses pemikiran yang & Wilson, 2009). Berdasarkan pada perkembang-
memungkinkan anak melihat sesuatu/kejadian an usianya, sebagian besar anak usia sekolah
dari sudut pandang orang lain, sehingga anak menunjukkan ketakutan yang lebih sedikit jika
dapat menerima penjelasan dan mampu untuk dibandingkan dengan anak yang lebih kecil,
Indriyani, et al., Kompres Dingin dapat Menurunkan Nyeri Anak 99

karena secara umum anak sudah mulai ber- pediatric pain perception during the
kembang kemampuan mekanisme kopingnya administration of local anesthesia. The
untuk mengatasi masalah atau ketidaknyamanan Journal of Contemporary Dental Practice, 10
yang dirasakan (Hockenberry & Wilson, 2009). (3), 5350.
Oleh karena itu, anak sekolah sudah mampu Badan Pusat Statistik. (2011). Kependudukan
mentoleransi rasa nyerinya sendiri. Indonesia menurut desa tahun 2010.
Diperoleh dari http://sirusa.bps.go.id
Kesimpulan
Badan Pusat Statistik. (2010). Survey sosial
Karakteristik responden pada penelitian ini ekonomi nasional kor tahunan. Diperoleh dari
lebih banyak pada jenis kelamin laki-laki, http://sirusa.bps.go.id/.
suku/budaya Jawa, menderita penyakit infeksi,
Ball, J. W. & Blinder. R. C. (2003). Pediatric care
pernah mendapatkan pengalaman pemasangan of chldren: Principle & practice (3th Ed.). St
infus sebelumnya dan adanya kehadiran orang Louis: Saunders Elsevier.
yang berarti saat pemasangan infus. Rata-rata
skala nyeri anak yang diberikan kompres hangat Berman, A., Snyder, S., Kozier, B., & Erb, G.
3,47, kompres dingin 2,53 dan tanpa perlakuan (2009). Kozier and Erb's techniques in
6,93. Skala nyeri anak usia sekolah yang clinical nursing (5th Ed.). Eni Meiliya, dkk,
dilakukan pemasangan infus tidak dipengaruhi penerjemah. Jakarta: EGC.
oleh adanya jenis kelamin, pengalaman infus
sebelumnya dan kehadiran orang yang berarti Biermeier, A.W., Sjoberg, I., Dale, J.C., Eshelman, D.,
(YR, NN). & Guzzetta, C.E. (2007). Effects of
distraction on pain, fear, and distress during
venous port access and venipuncture in
Ucapan Terima Kasih children and adolescents with cancer. Journal
of Pediatric Oncology Nursing, 24, 819.
Penelitian ini dapat terlaksana dengan lancar
atas bantuan dari berbagai pihak, peneliti Callister, L.C. (2003). Cultural Influences on pain
mengucapkan banyak terima kasih kepada perceptions and behaviors. Home Health
Yayasan Kesejahteraan Perawat Banyumas Care Management & Practice, 15(3), 207
yang telah memberikan dukungan baik moril 211.
maupun materiil.
Cheng, S.F., Foster, R.L., & Huang, C. (2003).
Concept analysis of pain. Diperoleh dari
Referensi http://www.tzuchi.com.tw/file/divintro/nursin
g/content/92-3/3.pdf.
Abolfazl, F & Mahdi, E. (2012). Evaluation of
relationship between the childrens gender Cohen, L.L., MacLaren, J.E., & Lim, C.S. (2007).
and pain intensity due to intramuscular Pain and pain management. In Steele, R.G.,
injection. International Journal of Current Elkin, T.D., & Roberts, M.C. (Eds.),
Research, 4 (1), 9395. Handbook of evidence based therapies for
children and adolescents. New York:
American Academy of Pediatrics & Committe on Springer Publishers, In press.
Psychososial Aspect of Chil and Family Health;
American Pain Society Task Force on Pain in Dewit, S.C. (2009). Fundamental concept and
infant, Children, and Adolescent. (2001). The skills for nursing. Canada: Saunders, An
assessment and management of acute pain in Imprint of Elsevier.
infants, children and adolescents. Pediatrics,
108 (3), 793797. Dharma, K.K. (2011). Metodologi penelitian
keperawatan: Pedoman melaksanakan dan
Aminabadi, N.A. & Farahani, R.M.Z. (2009). The menerapkan hasil penelitian. Jakarta: Trans
effect of pre-cooling the injection site on Info media.
100 Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 16, No. 2, Juli 2013, hal 93-100

Farion, K.J., Splinter, K.L., Newhook, K., nurses. New York: Springer Publishing
Gaboury, I., & Splinter, W.M. (2008). The Company.
effect of vapocoolant spray on pain due to
intravenous cannulation in children: A Potter, P.A., & Perry, A.G. (2005). Fundamental of
randomized controll trial. Canadian Medical nursing: Concepts, process,and practice (6th
Assosiation or its Licensors, CMAJ, 179 (1), Ed.). St. Louis: Mosby Year Book, Inc.
316.
Potter, P.A., & Perry, A.G. (2006). Clinical
Gallant, P., & Schultz, A. (2006). Evaluation of a nursing skills and techniques (3rd Ed.).
visual infusion phlebitis scale for determining St.Louis: Mosby Company.
appropriate discontinuation of pheripheral
intravenous catheter. Journal of Infusion Price, S.A. (2005). Patofisiologi: Konsep klinis
Nursing, 29, 338-345. proses penyakit. Jakarta: EGC.

Hockenberry, M.J., & Wilson, D. (2009). Wong's Saeki, Y. (2002). Effect of local application of cold
essentials of pediatric nursing. St. Louis: or heat for relief of pricking pain. Nurse
Mosby. An Affiliate of Elseiver . Health Science, 4(3), 97105.

Jolly, G.P., Zgonis, T., & Hendrix, C.L. (2005). Salmela-Aro, K., Nurmi, J.E., Saisto, T., &
Neurogenic heel pain. Clinics in Pediatric Halmesmaki, E. (2010). Spousal support for
Medicine and Surgery. 22 (1), 101113. personal goals and relationship satisfaction
among women during the transition to
Kennedy, R.M., Luhmann, J., & Zempsky, W.T. parenthood. International Journal of
(2008). Clinical implications of unmanaged Behavioral Development, 34 (3), 229237.
needle-insertion pain and distress in children, doi: 10.1177/0165025409350956.
Pediatrics, 122(3), S130S133. American
Academy of Pediatrics. Sulistiyani, E. (2009). Pengaruh pemberian
kompres es terhadap respon nyeri anak usia
Kolcaba, K., & DiMarc, M.A. (2005). Comfort pra sekolah di ruang bedah anak RSUPN
theory and its application to pediatric Cipto Mangunkusumo (Tesis, tidak
nursing. Diperoleh dari http://www. dipublikasikan). Fakultas Ilmu Keperawatan,
thecomfortline.com/comfort_theory. Universitas Indonesia, Depok.

Mariyam. (2011). Efektivitas guided imagery Wagner, D., Byrne, M., & Kolcaba, K. (2006).
terhadap tingkat nyeri anak usia 37 tahun Effects of comfort on preoperative patients.
yang dilakukan pemasangan infus di RSUD Association of PeriOperative Registered
Kota Semarang (Tesis, tidak dipublikasikan). Nurses Journal, 84(3), 427448.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia, Depok. Walco, G.A. (2008). Needle pain in children:
Contextual factors. Pediatrics,122, S125.
Mathews, L. (2011). Pain in children: Neglected,
unaddressed and mismanaged. Indian Journal Zengerle-Levy, K. (2005). Nursing the child who
of Palliative Care, S703. doi: 10.4103/0973- is alone in the hospital. Pediatric Nursing, 32
1075.76247. (3), 226231.

Oakes, L.I. (2011). Infant and child pain


management: An evidence based approach for