Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

MANAJEMEN KEBUN KELAPA SAWIT

DISUSUN OLEH

MUHAMMAD KHAIRUL ABDUL KARIM


NPM. 14.42.0049

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN (UNISKA)
MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI
BANJARMASIN
2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmatnya kami dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya tanpa halangan
suatu apapun. Kami juga mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu tersusunnya laporan ini. Tugas yang kami susun ini masih banyak
kekuranngan dan hal-hal yang perlu disempurnakan, oleh sebab itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi sempurnanya tugas ini.

Banjarmasin, April 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..i

DAFTAR ISI....ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah....1

B. Tujuan Penulisan2

BAB II PEMBAHASAN...............3

A. Input System..............3

B. Proceessing System.......................................................................3

C. Production System.........................................................................5

D. Marketing System.........................................................................6

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN.......7

A. Kesimpulan................8

B. Saran..............................................................................................8

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Seiring dengan berkembangnya kemajuan dan berkembangnya persaingan
terhadap usaha yang kita lakukan, sehingga memacu kita untuk berusaha keras
supaya tidak kalah saing dalam berusaha. Tidak terbatasi dalam usaha apapun,
terutama dalam hal ini dalam usaha perkebunan kelapa sawit.Oleh karena itu untuk
mencapai tujuan kita dalam bidang perkebunan sawit ini kita perlu suatu metode yaitu
penerapan manajemen dalam perkebunan kelapa sawit.Kemajuan teknologi juga
dalam perkebunan kelapa sawit ini sangat membutuhkan adanya manajemen terutama
dalam pemakaian mesin-mesin dalam perkebunan sehinggga kita dapat
menyeimbangkan daya manusia dengan alat mesin (Setyamidjaja,1991).
Manajemen pada perkebunan kelapa sawit juga mampu dalam:
1. meningkatkan pendapatan produsen;
2. meningkatkan penyerapan tenaga kerja;
3. meningkatkan perolehan devisa; dan
4. menambah jumlah agroindustri baru.
Untuk itu pengalaman juga menunjukkan bahwa hal tersebut disebabkan
didukung oleh strategi pertanian tangguh. Petaninya, pembinanya dan lembaganya

4
harus tangguh. Ini artinya SDM dan lembaga pendukungnya (agrisupport activities)
harus tangguh.
Prospek usaha dan budi daya kelapa sawit telah memunculkan para petani dan
pebisinis kelapa sawit menjadi pengusaha sukses. Kebutuhan kelapa sawit untuk
berbagai komoditas membuat produksi kelapa sawit masih kekurangan. Hal ini,
tentunya kelapa sawit seolah menjadi barang yang diburu oleh kalangan industri, baik
lokal maupun pasar luar negeri (ekspor). Secara ekonomis, profit yang diperoleh para
pengusaha kelapa sawit pun semakin tinggi.Namun, terjun di bidang usaha
perkebunan kelapa sawit membutuhkan pengelolaan yang tidak sederhana. Di
samping lahan yang luas, juga dikarenakan membutuhkan manajemen yang baik
dalam mengatur roda produksi dan sumber daya. Selain itu, juga dikarenakan
rawannya konflik yang berkaitan dengan hukum, politik, ekonomi, dan budaya
masyarakat. Oleh sebab di atas, perlunya membangun manajemen yang kuat dan
mapan untuk menghadapi berbagai persoalan yang kerap dihadapi. Solusi terbaik dari
hal ini ialah dengan membangun sistem kemitraan. Yakni, untuk membangun
harmonisasi hubungan yang saling menguntungkan, khususnya antara perusahaan
perkebunan dan masyarakat di sekitarnya (Mangoensoekarjo,2000).

B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui betapa pentingnya dilakukan
manajemen dalam perkebunan kelapa sawit

5
BAB II
PEMBAHASAN

Suatu kegiatan dalam bidang perkebunan sawit yang menerapkan manajemen


dengan melaksanakan fungsi fungsi perencanaan,fungsi pengorganisasian,fungsi
pengarahan dan pengendalian dan fungsi pengawasan dan pengendalain dengan
menggunakan sumber daya yang tersedia untuk menghasilkan produk pertanian dan
keuntungan yang maksimal.
Dalam menerapkan suatu program manajemen dalam perkebunan kelapa
sawit diperlukan suatu system yaitu:
1. Input system
Adalah System yang menghasilkan barang-barang sebagai modal bagi kegiatan
pertanian.
Contoh :
- Tanah,yaitu media tempat kelapa sawit tumbuh,dimana tanah tersebut harus
sesuai dengan kondisi bagi kelapa sawit untuk tumbuh dengan tingkat
keasaman (pH) yang optimum untuk sawit adalah 5,0-5,5. Kelapa sawit
menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase (beririgasi) baik
dan memiliki lapisan solum cukup dalam (80 cm) tanpa lapisan padas.
Kemiringan lahan pertanaman kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 150.

6
- Bibit, Bibit Unggul yaitu Biji yang belum berkecambah pada umur 10-14
hari ,Kecambah yang tumbuh normal dan sehat, warnanya kekuning-
kuningan, tumbuhnya lurus.
2. Processing system
Adalah kegiatan yang menggunakan barang-barang modal dan sumberdaya
alam untuk menghasilkan komoditas pertanian primer.
1. Pengolahan Lahan
- Lahan diolah sebaik mungkin, dibersihkan dari semak-semak
dan rumput-rumputliar.
- Buatlah lobang tanam dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm atau 60 x 60 x
60 cm, 2 minggu sebelum tanam dengan jarak 9 x 9 x 9 m membentuk
segitiga sama sisi.
- Tanah galian bagian atas dicampur dengan pupuk fosfat sebanyak 1
kg/lobang.
- Lobang tanam ditutup kembali dan jangan dipadatkan.
2. Penanaman
- Masukkan bibit ke dalam lobang dengan hati-hati dan kantong plastik
dibuka.
- Lobang ditimbun dengan tanah, tidak boleh diinjak-injak agar tidak
terjadi kerusakan.
- Bibit yang tingginya lebih dari 150 cm, daunnya dipotong untuk
mengurangi penguapan.
- Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan.
3. Pemeliharaan tanaman
- Lakukan penyulaman untuk mengganti tanaman yang mati dengan
tanaman baru yang seumur dengan tanaman yang mati.
- Cadangan bibit untuk penyulaman terus dipelihara sampai dengan umur
3 tahun dan selalu dipindahkan ke kantong plastik yang lebih besar.
- Penyiangan gulma dilakukan 1bulan sekali.
- Lakukan perawatan dan perbaikan parit drainase.
- Anjuran pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
- Sedangkan pemupukan Tanaman Menghasilkan (TM), kebutuhan
pupuk berkisar antara 400 1000 kg N, P, K, Mg, Bo per Ha/tahun.
- Lakukan pemupukan 2 kali dalam satu tahun; pada awal dan akhir
musim penghujan dengan cara menyebar merata di sekitar piringan
tanaman.

7
- Hama-hama yang sering menyerang tanaman kelapa sawit adalah Ulat
Kantong; Metisaplama, Mahasena Coubessi dan Ulat Api; Thosea
asigna, Setora nitens, Dasna trina. Sedangkan penyakitnya busuk
tandan Marasmius sp. Hama ulat kantong dikendalikan dengan
insektisida yang mengandung bahan aktif metamidofos 200/liter atau
600 g/liter, hama ulat api dengan insektisida yang mengandung bahan
aktif permetrin 20 g/liter dan monokrotofos 600 g/lite.
- Potonglah daun yang sudah tua, agar penyebaran cahaya matahari lebih
merata, mempermudah penyerbukan alami, memudahkan panen dan
mengurangi penguapan.

3. Production system
Adalah system yang mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk
olahan berupa produk antara dan produk akhir.
Panen
- Telah dapat menghasilkan pada umur 30 bulan setelah tanam.
- Jumlah pohon yang dapat dipanen per hektar sebanyak 60%.
- Dipilih tandan yang buahnya sudah masak dengan tanda adanya sejumlah
buah merah yang jatuh (brondol ).
- Cara panen dengan memotong tandan buah.
- Pemanenan dilakukan 1 kali seminggu.

Pada usia tujuh sampai sepuluh tahun disebut sebagai periode matang
(the mature periode), dimana pada periode tersebut mulai menghasilkan buah
tandan segar ( Fresh Fruit Bunch). Tanaman kelapa sawit pada usia sebelas
sampai dua puluh tahun mulai mengalami penurunan produksi buah tandan
segar. Dan terkadang padausia 20-25 tahun tanaman kelapa sawit mati buah
sawit memiliki daging dan biji sawit (kernel), dimana daging sawit dapat diolah
menjadi CPO (crude palm oil) sedangkan buah sawit diolah menjadi PK (kernel
palm). Ekstraksi CPO rata-rata 20 % sedangkan PK 2.5%. Sementara itu serta
dan cangkang biji sawit dapat dipergunakan sebagai bahan bakar ketel uap.
Minyak sawit dapat dipergunakan untuk bahan makanan dan industri
melalui proses penyulingan, penjernihan dan penghilangan bau atau RBDPO

8
(Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil). Disamping itu CPO dapat
diuraikan untuk produksi minyak sawit padat (RBD Stearin) dan untuk
produksi minyak sawit cair (RBD Olein). RBD Olein terutama dipergunakan
untuk pembuatan minyak goreng. Sedangkan RBD Stearin terutama
dipergunakan untuk margarin dan shortening, disamping untuk bahan baku
industri sabun dan deterjen. Pemisahan CPO dan PK dapat menghasilkan
oleokimia dasar yang terdiri dari asam lemak dan gliserol.

4. Marketing system
Pemasaran adalah aliran produk secara fisis dan ekonomik dari
produsen melalui pedagang perantara ke konsumen. Kegiatan-kegiatan dalam
usaha pemasaran tidak hanya kegiatan memindahkan barang /jasa dari tangan
produsen ke tangan konsumen saja dengan sistem penjualan, tetapi banyak
kegiatan lain yang juga dijalankan dalam kegiatan pemasaran
1. Product (Produk)
Kelapa sawit adalah penghasil minyak nabati yang memiliki
berbagai keunggulan dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan oleh
tanaman lain. keunggulan tersebut di antaranya memiliki kadar kolesterol
rendah bahkan tanpakolesterol, dapat menghasilkan berbagai produk turunan
baik di bidang pangan.Maupun non pangan yang dapat memenuhi
kebutuhan hidup manusia, danmerupakan salah satu sumber bahan bakar
alternatif.Minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit
berupaminyak sawit mentah (CPO atauCrude Palm Oil ) yang berwarna
kuning danminyak inti sawit (PKO atau Palm Kernel Oil ) yang tidak
berwarna/jernih. CPOatau PKO banyak digunakan sebagai bahan industri
sabun (bahan penghasil busa),industri baja (bahan pelumas),industri tekstil,
kosmetik, dan sebagai bahan bakar alternatif. Keuntungan yang diinginkan
produsen. Dimana hargadari petani kepada pedagang di desa / KUD adalah
Rp 1150/kg. Kemudianpedagang pengumpul ini menjual kembali kepada Sub-
District Seller sebesar Rp1.300/kg. Akhir dari rantai tataniaga ini adalah

9
penjualan Kelapa Sawit dalambentuk CPO seharga Rp 6.650 kepada
pedagang di dalam maupun di luar negeri.

2. Price (harga)
Penentuan harga dari suatu produk akan sangat mempengaruhi dari
keberhasilansuatu perusahaan dalam memperoleh keuntungan yang akan
didapatkan oleh suatuperusahaan. Penentapan harga dari suatu produk, akan
sangat dipengaruhi dariseberapa besar pengorbanan yang telah dilakukan
dalam memproduksi produk itusendiri.Penetapan harga kelapa sawit
berdasarkan pada besarnya biaya produksi yangdikeluarkan dengan mark up.

3. Place (sistem distribusi)


Distribusi merupakan bagian yang vital dari bagian strategi pemasaran
itusendiri. Pemilihan strategi dengan tepat akan dapat membantu produk
sampai kekonsumen dengan harga yang sesuai dengan harga yang telah
ditentukan olehperusahaan.Hasil budidaya kelapa sawit di Riau pada umunya
didistribusikan ke industripengolahan kelapa sawit yang terdapat di Riau dan
sekitarnya. Saluran distribusiyang umum terdapat di Riau adalah dari petani
ke tengkulak dan didistribusikan keindustri pengolahan oleh pedagang
pengumpul.

4. Promotion (kegiatan promosi)


Kegiatan promosi merupakan komponen prioritas dari kegiatan
pemasaran dengan menganalisis keungulan produk, modal lain yang dimiliki
oleh perusahaan,dan segmen pasar yang dibidik. Kegiatan promosi sangat erat
kaitannya denganpenyebaran informasi untuk disampaikan ke konsumen
mengenai keunggulan produk, harga, cara memperoleh serta informasi lain
yang dibutuhkan konsumen.Pada perkebunan kelapa sawit biasanya petani
kurang memperhatikan aspek promosi karena para tengkulak atau pedagang
akan datang dengan sendirinya kekebun sawit untuk melihat kualitas dan
melakukan kerja sama.

10
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dalam perkebunan sawit juga harus membutuhkan suatu manajemen karena
usaha dalam perkebunan ini sudah termasuk/tergolong usaha besar yang perlu adanya
penataan kerja.

B. Saran
Adapun saran yang saya sampaikan bahwa dalam penyusunan tugas ini
masih banyak kesalahan dan kekurangannya, maka dari itu penulis sangat
mengharapkan kritikan dan saran dari teman-teman sebagai bahan ajaran penulis
dalam penyusunan tugas kedepannya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Mangoensoekarjo,S. dan H. Semangun. 2000. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit.


Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2006. Budidaya Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit.

Setyamidjaja, D. 1991. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta.

12