Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia dilahirkan didunia ini dibekali akal, pikiran dan perasaan.


Dengan bekal itulah manusia disebut sebagai makluk yang paling sempurna
dan diberi amanat oleh Sang Pencipta sebagai pemimpin di muka bumi. Akan
tetapi seiring dengan bekal akal, pikiran dan perasaan itu, manusia diselimuti
berbagai macam masalah, bahkan ada yang mengatakan bahwa manusia
merupakan makhluk dengan segudang masalah (human with multiproblem).
Dengan berbagai masalah tersebut ada yang bisa mereka atasi dengan
sendirinya atau mereka memerlukan bantuan orang lain
(konselor), pemberian bantuan dari orang yang ahli (konselor) kepada
individu yang membutuhkan (klien) itulah yang dinamakan konseling.

Proses konseling adalah suatu proses bersifat sistematis yang


dilakukan oleh konselor dank lien untuk memecahkan masalah klien. Ada
tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk sampai pada pencapaian konseling
yang sukses. Tetapi sebelum memasuki tahapan tersebut, sebaiknya konselor
memperoleh data mengenai diri klien melalui wawancara pendahuluan
(intake interview). Gunarsa (1996) mengatakan bahwa manfaat dari intake
interview adalah memperoleh data pribadi hasil pemeriksaan klien. Setelah
itu, konselor dapat memulai langkah yang selanjutnya.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian konseling dewasa?

2. Bagaimana bentuk dan cara konseling dewasa?

1
C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian konseling keluarga.

2. Untuk mengetahui bagaimana proses dan tahapan konseling keluarga.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian konseling pada orang dewasa.


Konseling atau sering disebut sebagai bimbingan atau penyuluhan
adalah suatu proses memberikan bantuan kepada individu agar dengan
potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan
jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna
menentukan rencana masa depan yang lebih baik.

Konseling pada orang dewasa juga dibutuhkan, karena pada masa


dewasa akan terus berlanjut dan terjadi banyak konflik intrapersonal dan
interpersonal yang mengganggu proses adaptasi. Dalam hal ini tugas konselor
adalah memaksimalkan pertumbuhan dan kemampuan coping pada klien dan
membantu mengeksplorasi berbagai area dalam kehidupan yang dirasakan
tidak berfungsi dengan baik.

B. Bentuk dan cara konseling pada orang dewasa


Bentuk konseling yaitu menggunakan komunikasi verbal langsung
dalam kelompok atau secara individual yang meliputi permainan atau
aktivitas yang dapat menimbulkan efek terapeutik, penggunaan seni,
musik, dan literatur. Standar konseling secara umum adalah melalui
bahasa, karena bahasa adalah sarana komunikasi yang efektif dalam
konseling orang dewasa.

C. Kalifikasi dewasa awal, madya dan akhir ( lansia)


1. Dewasa Awal
Dewasa Awal merupakan masa dewasa atau satu tahap yang
dianggap kritikal selepas alam remaja yang berumur dua puluhan (20-an)
sampai tiga puluhan (30 an). Ia dianggap kritikal karena disebabkan pada

3
masa ini manusia berada pada tahap awal pembentukan karir dan keluarga.
Pada peringkat ini, seseorang perlu membuat pilihan yang tepat demi
menjamin masa depannya terhadap pekerjaan dan keluarga. Pada masa ini
juga seseorang akan menghadapi dilema antara pekerjaan dan keluarga.
Berbagai masalah mulai timbul terutama dalam perkembangan karir dan
juga hubungan dalam keluarga.Dan masalah yang timbul tersebut
merupakan salah satu bagian dari perkembangan sosio-emosional.
Sosioemosional adalah perubahan yang terjadi pada diri setiap
individu dalam warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku
individu. Menurut Teori Erikson, Tahap Dewasa Awal yaitu mereka di
dalam lingkungan umur 20 an ke 30 an. Pada tahap ini manusia mulai
menerima dan memikul tanggungjawab yang lebih berat. Pada tahap ini
juga hubungan intim mulai berlaku dan berkembang
2. Dewasa Madya
Masa Dewasa Madya adalah masa peralihan dewasa yang berawal
dari masa dewasa muda yang berusia 40- 65 tahun. Pada masa dewasa
madya, ada aspek- aspek tertentu yang berkembang secara normal, aspek-
aspek lainnya berjalan lambat atau berhenti. Bahkan ada aspek- aspek
yang mulai menunjukkan terjadinya kemunduran- kemunduran.
Aspek jasmaniah mulai berjalan lamban, berhenti dan secara
berangsur menurun. Aspek- aspek psikis (intelektual- sosial- emosional-
nilai) masih terus berkembang, walaupun tidak dalam bentuk penambahan
atau peningkatan kemampuan tetapi berupa perluasan dan pematangan
kualitas. Pada akhir masa dewasa madya (sekitar usia 40 tahun), kekuatan
aspek- aspek psikis ini pun secara berangsur ada yang mulai menurun, dan
penurunannya cukup drastic pada akhir usia dewasa. Untuk lebih jelasnya,
berikut ini akan disajikan uraian secara lebih rinci tentang perkembangan
fisik, intelektual, moral, dan karier pada masa dewasa.
Menurut Lavinson, Masa Dewasa Madya berusia 40-50 tahun.
Masa Dewasa Madya adalah masa peralihan dari masa dewasa awal. Pada
usia 40 tahun tercapailah puncak masa dewasa. Setelah itu mulailah

4
peralihan ke masa madya (tengah baya antara usia 40-45 tahun), dalam
masa ini seseorang memiliki tiga macam tugas:
a. Penilaian kembali pada masa lalu.
b. Perubahan struktur kehidupan.
c. Proses individuasi.
Artinya seseorang menilai masa lalu dengan kenyataan yang ada
saat ini, dan dengan pandangan ke depan seseorang merubah struktur
kehidupannya dengan penyesuaian pemikiran rasional pada zaman ini
pula. Proses individuasi akan membangun struktur kehidupan baru yang
berlangsung sampai fase penghidupan yang berikutnya yaitu permulaan
masa madya (45-50 tahun)
3. Dewasa Lanjut atau Lansia
Masa dewasa lanjut usia merupakan masa lanjutan atau masa
dewasa akhir (60 ke atas). Perlu memperhatikan khusus bagi orangtuanya
yang sudah menginjak lansia dan anaknya yang butuh dukungan juga
untuk menjadi seorang dewasa yang bertanggungjawab. Di samping itu
permasalahan dari diri sendiri dengan perubahan fisik, mulai tanda
penuaan yang cukup menyita perhatian. Saat individu memasuki dewasa
akhir, mulai terlihat gejala penurunan fisik dan psikologis, perkembangan
intelektual dalam lambatnya gerak motorik, pencarian makna hidup
selanjutnya. Menurut erikson tahap dewasa akhir memasuki tahap integrity
vs despair yaitu kemampuan perkembangan lansia mengatasi krisis
psikososialnya. Banyak stereotip positif dan negatif yang mampu
mempengaruhi kepribadian lansia. Integritas ego penting dalam
menghadapi kehidupan dengan puas dan bahagia. Hal ini berdampak pada
hubungan sosial dan produktivitasnya yang puas. Lawannya adalah
despair yaitu rasa takut mati dan hidup terlalu singkat, rasa kekecewaan.
Beberapa cara hadapi krisis dimasa lansia adalah tetap produktif dalam
peran sosial, gaya hidup sehat, dan kesehatan fisik. Akibat perubahan Fisik
yang semakin menua maka perubahan ini akan sangat berpengaruh
terhadap peran dan hubungan dirinya dengan lingkunganya. Dengan
semakin lanjut usia seseorang secara berangsur-angsur ia mulai

5
melepaskan diri dari kehidupan sosialnya karena berbagai keterbatasan
yang dimilikinya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial para lansia
menurun, baik secara kualitas maupun kuantitasnya sehingga hal ini secara
perlahan mengakibatkan terjadinya kehilangan dalam berbagai hal yaitu:
kehilangan peran ditengah masyarakat, hambatan kontak fisik dan
berkurangnya komitmen.Menurut Erikson, perkembangan psikososial
masa dewasa akhir ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman,
generatif, dan integritas. Menurut Erikson, perkembangan psikososial
masa dewasa akhir ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman,
generatif, dan integritas.

6
BAB III

KASUS

A. Masalah/Kasus dan Penyelesaiannya

Masalah diambil dari sebuah buku berjudul Beautiful Boy yang ditulis
oleh David Sheff, buku ini terdiri dari 2(dua) buah masalah yang diangkat,
yang pertama masalah seorang ayah yang ingin memberhentikan masalah
kecanduan obat anak laki-lakinya dan yang kedua masalah seorang anak yang
mengalami kencanduan, masalah akan difokuskan oleh konselor untuk
kepada satu orang saja yaitu anak dari David Sheff yang bernama Nicolas
Sheff.

Nic adalah seorang pria yang menuju dewasa, dia berusia 18 tahun
dan memiliki segudang prestasi di bidang olah raga saat di sekolah
menengah, dalam bidang akademik Nic juga termasuk pemuda yang
berprestasi, ayah dan ibunya cerai semenjak ia masih kecil dan hak asuh
dipegang oleh ayahnya, namun ia masih sering bertemu dengan ibunya setiap
liburan musim panas.

kemudian ayahnya menikah lagi dan ia memiliki 2 orang adik yang


sangat dia sayangi. garis besar permasalah anak ini adalah apada usianya
yang ke 18 tahun dia lulus dari sekolah menengah atas di Amerika, pada
saat lulus ia merayakan kelulusan bersama teman-temannya dengan menginap
bersama, mulai dari situ ia menggunakan mariyuana yang mana menurut
ayahnya adalah pintu menuju obat-obatan terlarang, dari merokok mariyuana
Nic (panggilan dari Nicolas) mulai mencoba obat-obatan terlarang lainnya
ketika dia masuk perkuliahan di California, kuliahnya menjadi tidak karuan,
prestasinya menurun, dia bukan seorang olahragawan lagi di kampusnya, dia
mulai mencuri uang orang tuanya, dia mulai berperilaku aneh di depan

7
keluarganya, dan bahkan dia mulai menghilang dan beberapa kali dia baru
menelpon ayahnya dalam keadaan sakau atau kencanduan berlebih, Nic sudah
jauh berubah.

Pada saat menemukannya ayahnya selalu meminta dia masuk panti


rehabilitas namun ia merasa bahwa ia tidak kecanduan cukup parah, dan pada
akhirnya dia mulai merasakan bahwa ia butuh panti rehabilitasi, Nic sudah
masuk dan merasa sudah sembuh, ia kembali lagi ke kampusnya dan malahan
kencanduan lagi, terus begitu sampai akhirnya dia merasa dirinya bodoh
karena sudah memakai cukup banyak obat-obatan kemudian dia kembali lagi
kepada orang tuanya, namun dia pergi lagi dan kecanduan lagi, dia merasa
dirinya tidak bisa lepas dari obat-obatan terlarang, sampai pada akhirnya dia
memutuskan untuk jadi pemakai, namun Nic bingung dan merasa
membohongi dirinya sendiri karena sebenarnya dia menyesal telah memakai
barang itu namun dia membutuhkannya.

B. Kesimpulan dari Masalah/kasus

Usia Nic adalah usia dewasa dini dan dalam buku Psikologi
Perkembangan, Hurlock (2009: 245-252) mengungkapkan bahwa masa
dewasa dini adalah masa: pengaturan, produktifitas, bermasalah, ketegangan
emosional, keterasingan sosial, masa komitmen, ketergantungan, perubahan
nilai, penyesuaian diri dengan cara hidup baru, dan kreatif.

Dalam masa perkembangannya Nic dapat melewati semua itu, namun


cara yang dia pakai untuk melewati masa perkembangannya salah, ada
beberapa yang ia lewati dan pada akhirnya berlebihan, seperti masa
bermasalah, pada usianya Nic wajar bermasalah dengan orang tua, masa
ketegangan emosi Nic tercurahkan melalui mariyuana awalnya, dan masa-
masa diatas telah dilewati Nic dengan menimbulkan kekacauan kepada
keluarganya dan masa depannya. Nic memiliki banyak masalah sejak kecil

8
yang kemungkinan dipendam oleh keceriaannya, Nic memiliki adik tiri dan
dia terlihat sayang dengan mereka. Nic sudah harus melihat orang tuanya
berpisah sejak kecil. Masalah terakhir yang dihadapi Nic adalah dia merasa
bodoh dengan dirinya sebagai pecandu namun dia merasa kalau dia sudah
tidak bisa lepas dari kecanduannya.

Dari titik ini dapat dilihat bahwa Nic memiliki keinginan untuk keluar
dari kecanduannya, dan merasakan kelegaan.

Dari kesimpulan masalah Nic maka dapat ditarik kesimpulan mengenai


masalah yang dihadapi Nic, yaitu:

a) Orang tua terpisah dari kecil

b) Memiliki ibu tiri

c) Memiliki saudara dan saudari tiri

d) Kecanduan

e) Merasa bersalah dan bodoh dengan kencanduannya

f) Ingin Keluar dari kencanduan

g) Usianya pada masa bermasalah

h) Pergaulan yang buruk

i) tidak dapat menerima kehidupannya

j) dia butuh bantuan

Dari hasil kesimpulan mengenai masalahnya, konselor dengan konseli


akan focus kepada satu atau dua masalah saja yang akan diselesaikan agar
konseli dapat menyelesaikan apa yang ia masalahnya dan yang lain akan

9
berturut-turut menyusul untuk menghilang dan tidak menjadi beban konseli
lagi.

C. Penyelesaian Masalah/Kasus

Penyelesaian masalah kasus Nic butuh waktu yang sangat panjang, kali
ini penyelesaiannya akan digunakan hanya untuk membuat Nic mau
mendapatkan bantuan di panti rehabilitasi untuk penyakit kecanduannya.

1. Tahap 1 : Pembukaan

Di dalam proses ini, Nic baru datang kepada konselor dan mulai
berkenalan, begitu juga konselor mulai mendekatkan diri kepada Nic dan
menganalisis kepribadian konseli dan apa yang sedang Nic alami,

Konselor : Hai, selamat datang, apa kabar?

Nic : Hai, ya, kabar saya lumayan baik.

Konselor : Lho kok lumayan baik?

Nic : yah, nanti akan saya ceritakan. Ms. Sudah berapa lama
menjadi konselor?

Konselor : sekitar 1 tahun, kamu sendiri pekerjaannya apa? Atau


masih sekolah?

Nic : Yah, saya masih sekolah.

Dan seterusnya sampai menuju tahap kedua.

2. Tahap 2 : Penjelasan

10
Di tahap ini Nic mulai mengungkapkan pikiran dan perasaannya tentang
apa yang menjadi masalah yang ia ingin ceritakan kepada konselor, dan
konselor menerima serta mendengarkan dengan penuh perhatian,
konselor juga menganalisis masalah yang ada pada Nic dan mulai
menganalisis teknik apa yang bisa diambil dan cocok untuk membantu
Nic.

Nic : (pembicaraan sebelumnya) dan dari hal itu saya merasa


bodoh, sudah mengecewakan diri saya dan keluarga saya,
dan saya merasa tidak dapat keluar dari ikatan itu.

Konselor : (mendengarkan) lalu?

Nic : saya menggunakan obat-obatan terlarang itu, sehingga


sekarang saya sudah merasa terlanjur dan tidak bisa
keluar, saya merasa bodoh. Saya bodoh, dan tidak tahu bagaimana
ingin keluar dari masalah ini, saya merasa sudah terjerat dan ini memang
jalan hidup saya, saya sudah putus asa dan tidak bisa lagi
mengehentikannya. (mulai meluapkan emosinya dan menangis.)

Konselor : (mulai berpikir bahwa teknik yang cocok untuk Nic


adalah beberapa teknik dari Rational Emotive Therapy)

Terus berlanjut hingga proses konseling masuk ke tahapan ke tiga.

3. Tahap 3 : Penggalian Latar Belakang Masalah

Konselor mulai memikirkan teknik yang cocok untuk Nic dan


menganalisis lebih dalam, kemudian dia memilih beberapa teknik dari
Rational Emotive Therapy karena ada beberapa yang harus didiskusikan
seperti kepribadian Nic yang sedikit terbuka dan demokratis, teknik
relaxsasi juga dilakukan agar Nic lebih relax/tenang, kemudian teknik

11
self control dan assertive training, konselor berpikir bahwa masalah dari
Nic tidak dapat dilakukan selama satu hari saja, melainkan harus ada
follow up untuk melihat keinginan Nic dan masalah yang dia hadapi
sudah selesai atau belum.

Konselor :oke, saya mengerti masalah kamu, kamu ingin keluar dari
kecanduan dan kamu merasa tidak bisa? Apa itu masalah
keseluruhan kamu?

Nic : (mengangkat bahu) saya tidak tahu, tapi saya merasa bodoh
karena sudah memakai obat-obatan itu.

Konselor : oke, kalau begitu kamu mulai duduk dan pejamkan mata
kamu daN tenangkan pikiran kamu, ingat hal yang paling
indah yang pernah kamu alami tanpa obat-obatan itu.

Nic : (mulai memejamkan mata)

Konselor : sudah ?

Nic : (membuka mata)

Konselor : sekarang kamu bisa berpikir?

Nic : Ya, saya ingin keluar dari jerat obat-obatan itu, saya tidak
mau hidup seperti ini lagi,saya tidak mau kecanduan lagi.

Konselor : kalau begitu ada banyak cara yang bisa dilakukan karena
kamu pasti bisa kalau kamu sudah mau lebih dulu.

4. Tahap 4

Konselor membutuhkan bantuan tenaga lain untuk masalah Nic, namun


konselor juga bisa terus memantu Nic, bantuan untuk masalah Nic adalah

12
Panti Rehabilitasi, walaupun Nic sudah bosan itu harus dilakukan, kalau
memang ia mau menghentikan kecanduannya namun konselor tidak bisa
memaksa, maka dari itu konselor akan memberikan pilihan, pembicaraan
terus berlanjut, sampai mereka ke tahap selanjutnya.

Nic : lalu apa yang bisa saya lakukan?

Konselor : ada beberapa pilihan untuk kamu, kamu bisa memilih


untuk ke panti rehabilitasi kalau kamu ingin sembuh dan
niat di hati kamu untuk itu, atau kamu bisa tidak pergi ke panti
rehabilitasi, keduanya memiliki kemungkinan untuk tetap bisa
kencanduan lagi, keduanya sama, kalau memang kamu benar-benar muak
dengan obat itu dan benar-benar mau berhenti, semuanya dari kamu Nic.
Kelebihan panti rehabilitasi kamu bisa Lebih terjaga dan terjamin untuk
tidak kena obat-obatan itu kekurangannya adalah kamua akan bosan di
tempat yang sama, dan kelebihan tidak di panti rehabilitasi adalah kamu
dapat melakukan apa saja sesukamu dan bisa terus tidak dikurung,
kekurangannya adalah kesempatan kamu untuk memakai obat-obatan itu
semakin besar.

Nic : (mulai berpikir) teknik relaxsasi mulai membuatnya


dapat berpikir jernih. Saya mau ke panti rehabilitasi

5. Tahap 5 : Penutup

Konselor mulai menanyakan kemantapan atas keputusan yang diambil


oleh Nic dan menunggu Nic benar-benar ingin ke panti rehabilitasi
dengan kerelaan tanpa paksaan.

Konselor : kamu yakin dengan pilihan kamu?

13
Nic : ya. (mengangguk..)

Konselor : meskipun kamu harus terkurung selama hampir 3 bulan?

Nic : Ya, saya yakin.

Konselor ; Kalau begitu mari kita daftarkan dirimu di panti


rehabilitasi, dan saya akan terus follow up kamu nantinya,
setelah kamu keluar terus temui saya sampai kamu benar-
benar pulih, bagaimana?

Nic : ya. Saya akan menghubungi anda.

Tahap terkhir sudah selesai dalam konseling pertama nic, selanjutnya Nic
harus benar-benar dipantau dalam panti rehabilitasi, dan sampai dia
benar-benar pulih, konselor juga harus bisa menjadi temannya.

14
BAB IV

15
PENUTUP

A. Kesimpulan

Konseling pada orang dewasa juga dibutuhkan, karena pada masa


dewasa akan terus berlanjut dan terjadi banyak konflik intrapersonal dan
interpersonal yang mengganggu proses adaptasi. Dalam hal ini tugas konselor
adalah memaksimalkan pertumbuhan dan kemampuan coping pada klien dan
membantu mengeksplorasi berbagai area dalam kehidupan yang dirasakan
tidak berfungsi dengan baik.
B. Saran

Jika kita melakukan konseling pada dewasa harus menggunakan cara-cara


pendekatan tertentu agar kita dapat membantunya mengambil keputusan secara
mandiri. Dalam konseling juga kita sebagai konseli harus mempunyai sikap mau
menerima dan mendengarkan konselor dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

16
Winkel, W.S. & M.M. Sri Hastuti (2007). Bimbingan dan Konseling di Institusi
Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi
Hurlock, Elizabeth B. (2009). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga
Sheff, David (2009). Beautiful Boy. Jakarta: Elex Media Komputindo

17