Anda di halaman 1dari 12

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Oleh

Kelompok 4

Deverlye Belalana

Dhanang Aprilianto

Feby Indah Widiarti

Kalamsyah Hidayat

M Iqbal Rachmatullah

Muhammad Rifaldi

Kelas : XI IIS 2

SMA Negeri 2 Banjarbaru


KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena


berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang KESADARAN
POLITIK.Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan (PKN).
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi seluruh siswa dan bermanfaat
untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Banjarbaru ,10 Mei


2016

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB 1

PENDAHULUANiii

RUMUSAN MASALAH..iiii

TUJUANiiii

BAB 2

1. Makna kesadaran politik 1

2. Mekanisme sosialisasi budaya


politik. 1

3. Bentuk bentuk budaya politik


partisipan.2

BAB 3

PENUTUP..iiiii

KESIMPULAN..iiiii
BAB 1

PENDAHULUAN

Manusia dalam kedudukannya sebagai makhluk sosial, senantiasa akan


berinteraksi dengan manusia lain dalam upaya mewujudkan kebutuhan
hidupnya. Kehidupan manusia di dalam masyarakat, memiliki peranan penting
dalam sistem politik suatu negara. Setiap warga negara, dalam kesehariannya
hampir selalu bersentuhan dengan aspek-aspek politik praktis baik yang
bersimbol maupun tidak. Dalam proses pelaksanaannya dapat terjadi secara
langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik politik. Jika secara tidak
langsung, hal ini sebatas mendengar informasi, atau berita-berita tentang
peristiwa politik yang terjadi. Dan jika seraca langsung, berarti orang tersebut
terlibat dalam peristiwa politik tertentu. Kehidupan politik yang merupakan
bagian dari keseharian dalam interaksi antar warga negara dengan pemerintah,
dan institusi-institusi di luar pemerintah (non-formal), telah menghasilkan dan
membentuk variasi pendapat, pandangan dan pengetahuan tentang praktik-
praktik perilaku politik dalam semua sistem politik. Oleh karena itu, seringkali
kita bisa melihat dan mengukur pengetahuan-pengetahuan, perasaan dan sikap
warga negara terhadap negaranya, pemerintahnya, pemimpim politik dan lain-
lain.
RUMUSAN MASALAH

1. Apakah yang di maksud kesadaran politik itu ?

1. Bagaimana cara membangkitkan kesadaran politik masyarakat?

1. Apa saja bentuk bentuk dari Budaya politik partisipan?

TUJUAN

1. Mencari maksud dari kesadaran politik politik.

1. Mencari cara agar masyarakat memiliki kesadaran politik yang tinggi.

1. Mencari bentuk bentuk partisipan yang sering dilakukan oleh warga .


BAB 2

1.MAKNA KESADARAN POLITIK

kesadaran politik merupakan proses batin yang menampakan keinsyafan dari


setiap warga negara akan pentingnya urusan kenegaraan dalam kehidupan
bernegara. Kesadaran politik atau keinsyafan hidup bernegara menjadi penting
dalam kehidupan kenegaraan, mengingat begitu kompleks dan beratnya tugas
yang dipikul negara dalam hal ini para penyelenggara negara.Kesadaran politik
masyarakat tidak hanya diukur dari tingkat partisipasi mereka dalam kegiatan
pemilihan umum. Akan tetapi diukur juga dari peran serta mereka dalam
mengawasi atau mengoreksi kebijakan dan perilaku pemerintah selama
memegang kekuasaan pemerintahan. Setiap masyarakat mempunyai kesadaran
politik yang berbeda-beda. Kesadaran politik masyarakat sangat tergantung
pada latar belakang pendidikannya.
Masyarakat yang mempunyai tingkat pendidikantinggi cenderung mempunyai
kesadaran politik yang relatif tinggi.Sebaliknya, kelompok masyarakat yang
tingkat pendidikannya rendah, maka kesadaran politiknya pun relatif rendah
sehingga memerlukan pembinaan
Budaya politik yang berkembang di masyarakat akan selalu berkaitan dengan
kesadaran politik. Pada hakekatnya budaya politik merupakan cerminan dari
kesadaran politik suatu masyarakat terhadap sistem politik yang sedang berlaku.

2.MEKANISME SOSIALISASI BUDAYA POLITIK

Mekanisme sosialisasi budaya politik Dengan terjadinya gerakan reformasi


Indonesia dimana ada perubahan politik secara siginifikan baik di tingkat
nasional maupun lokal, maka perlu juga adanya perubahan dalam sikap dan
budaya politik di tingkat implementasinya.

Oleh karena itu, arus sentralisasi yang dibangun oleh Orde Baru di mana segala
sesuatunya selalu menuju ke pusat (Jakarta), sekarang arusnya terbalik menjadi
divergan, di mana daerah-daerah dapat menjadi pusat-pusat pertumbuhan dan
kebijakan itu sendiri. Sehingga orang-orang yang potensial atau sumber daya
alam yang dimiliki daerah dapat dikembangkan di daerah itu sendiri dan tidak
harus menuju pusat.
Pemilu merupakan salah satu momentum strategis yang akan menentukan masa
depan bangsa Indonesia, karena di dalamnya terletak keputusan politik rakyat
untuk memilih presiden, wakil presiden, dan wakil rakyat yang akan
menentukan jalannya pemerintahan. Hasil pemilu diharapkan benar-benar
menjadi jalan konstitusional bagi perubahan-perubahan politik dan kehidupan
nasional untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Untuk itulah rakyat dituntut memiliki kesadaran politik yang tinggi. Kesadaran
bahwa pemilihan umum adalah arena demokrasi yang menuntut sikap kritis,
rasional, terbuka, toleran, serta menghargai pluralitas dan pilihan politik orang
lain.

Oleh karena itu, kesadaran politik rakyat harus dibangkitkan agar tumbuh
masyarakat politik yang kritis. Seorang individu tersosialisasikan di bidang
politik tidak hanya melalui satu sarana saja. Seorang individu dapat
bersosialisasi politik melalui berbagai macam sarana atau agen, seperti berikut :

1. Keluarga

Keluarga merupakan lembaga atau kelompok sosial paling awal dijumpai


seorang anak (individu). Nilai, sikap, kaidah yang diperkenalkan kepada anak
tidak secara eksplisit mengenai masalah politik. Dalam keluarga yang
demokratis anak akan lebih banyak mendapat kebebasan, sedangkan di dalam
keluarga yang tidak demokratis, anak akan lebih banyak tertekan.

Wadah penanaman (sosialisasi) nilai-nilai politik yang paling efisien dan efektif
adalah keluarga. Dalam keluarga, orang tua dan anak sering melakukan obrolan
ringan tentang segala hal menyangkut politik, sehingga tanpa disadari terjadi
transfer pengetahuan dan nilai-nilai politik tertentu yang diserap oleh si anak.

2. Sekolah

Di sekolah, melalui pelajaran civics education (pendidikan kewarganegaraan),


siswa dan gurunya saling bertukar informasi dan berinteraksi dalam membahas
topik-topik tertentu yang mengandung nilai-nilai politik dan praktis. Dengan
demikian, siswa telah memperoleh pengetahuan awal tentang kehidupan
berpolitik secara dini dan nilai-nilai politik yang benar dari sudut pandang
akademis.
Selain melalui sarana keluarga, sekolah dan partai politik, sosialisasi politik
juga dapat dilakukan melalui peristiwa sejarah yang telah berlangsung
(pengalaman tokoh-tokoh politik yang telah tiada). Melalui berbagai seminar,
dialog, debat, dan sebagainya yang disiarkan ke masyarakat, tokoh-tokoh politik
juga secara tidak langsung melakukan sosialisasi politik.

3. Kelompok bermain

Seorang individu akan tertarik kepada masalah politik apabila teman-temannya


dalam kelompok itu tertarik kepada masalah politik.

4. Pekerjaan

Organisasi yang dibentuk atas dasar pekerjaan dapat berfungsi sebagai saluran
informasi tentang hal yang menyangkut masalah politik dengan jelas, atau
paling tidak akan mempunyai pengaruh apabila yang bersangkutan terjun secara
aktif di dalam organisasi politik.

5. Media massa

Melalui media massa masyarakat dapat memperoleh informasi politik, di mana


media massa dapat mempengaruhi sikap dan keyakinan politik ataupun ideologi
seseorang.
3.BENTUK BENTUK BUDAYA POLITIK PARTISIPAN

Budaya partisipan yaitu budaya dimana masyarakat sangat aktif dalam


kehidupan politik, dan masyarakat yang bersangkutan sudah relatif maju baik
sosial maupun ekonomi, tetapi masih bersifat pasif.
Contoh budaya politik partisipan ini antara lain adalah peran serta masyarakat
dalam pengembangan budaya politik yang sesuai dengan tata nilai budaya
bangsa Indonesia.

Budaya politik partisipan dapat di artikan sebagai orang orang dengan budaya
politik yang selalu ikut serta dalam proses pengambilan keputusan public untuk
menentukan tujuan dan cara cara mencapai tujuan bersama. Focus perhatian
budaya politik partisipan adalah partisipan politik, yaitu usaha terorganisir oleh
para Negara untuk memilih pimpinan pimpinan mereka dan mempengaruhi
bentuk dan jalannya kebijaksanaan umum. Usaha ini di dasarkan atas kesadaran
dan tanggung jawab partisipan terhadap kehidupan bersama sebagai suatu
bangsa dan Negara.

Bentuk-Bentuk Budaya Partisipan


Partisipan politik merupakan penentuan sikap dan keterlibatan setiap individu
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam rangka mencapai-capai cita-
cita bangsa. Bentuknya di bedakan dalam kegiatan politik berbentuk
konvensional dan non konvensional.
Menurut Almond, Bentuk politik di bedakan :
a. Konvensional
~ Pemberian suara (voting)
~ Diskusi kelompok
~ Kegiatan Kampanye
~ Membentuk dan bergabung dalam kelompok kepentingan
~ Komunikasi individual dengan pejabat politik/admistrasi
~ pengajuan Petisi

b. Non Konvensional
~ Demokrasi
~ Konfrontasi
~ Mogok
~ Tindak kekerasan politik terhadap harta
~ Tindak kekerasan politik terhadap Manusia
~ Perang gerilya/revolusi

c. Budaya politik tidak sesuai dengan semangat pembangun politik bangsa

Adapun budaya politik yang bertentangan dengan semangat pembangunan


politik bangsa antara lain :
1. Terjadi demonstrasi yang mengganggu ketemtraman umum
2. Timbul konflik di berbagai wilayah karena ketidak adilan.
3. tindak kekerasan
4. Aksi mogok oleh elemen masyarakat
5. Berbagai macam pelanggaran HAM

d. Budaya politik partisipan dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan


bernegara
Contohnya :
1. menjauhkan diri dari perbuatan perbuatan yang melanggar perbuatan
hukum
2. menciptakan disiplin dalam segala aspek kehidupan
3. berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pembangunan
4. membangun hak pilih dengan sebaik-baiknya
5. bermusyawarah untuk menyelesaikan segala permasalahan
6. taat dan patuh terhaddap aturan yang berlaku.
Contoh lainnya adalah:
1. kritis memilih partai politik anggota parlemen
2. kritis memilih presiden dan wakil presiden
3. kritisme dalam mewujudkan pemilu Luber dan Jurdil
Untuk mewujudkan pemilu yang luber dan jurdil diantaranya sebagai berikut :
1. peraturan pemilu tidak membuka peluang untuk kecurangan
2. peraturan pelaksanaan pemilu yang membuat petunjuk teknis dan petunjuk
pelaksanaan pemilu tidak membuaka peluang kecurangan
3. harus mandiri dan independen
4. parpol harus memiliki persiapan yang memadai
5. lembaga pemilu harus aktif

BAB 3

PENUTUP

Semoga materi yang kami buat ini bermanfaat, dan dapat memberikan inspirasi
agar kita lebih maju dan dapat menciptakan teknologi yang baru. Semoga
budaya politik di Indonesia semakin berkembang dan dapat mensejahterakan
rakyatnya.

Terima kasih atas segala bantuan yang diberikan sehingga makalah ini dapat
diselesaikan pada waktunya. Mohon maaf apabila ada kekurangan
dalampembuatan makalah ini. Kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk
menyempurnakan makalah ini.Sekian makalah dari kami, terima kasih atas
segala perhatian, kritik, dan sarannya.Akhir kataWassalamualaikum
warahmattullahiwabarakatuh.

KESIMPULAN

Kehidupan politik yang merupakan bagian dari keseharian dalam interaksi antar
warga negara dengan pemerintah, dan institusi-institusi di luar pemerintah (non-
formal), telah menghasilkan dan membentuk variasi pendapat, pandangan dan
pengetahuan tentang praktik-praktik perilaku politik dalam semua sistem
politik. Oleh karena itu, seringkali kita bisa melihat dan mengukur pengetahuan-
pengetahuan, perasaan dan sikap warga negara terhadap negaranya,
pemerintahnya, pemimpin politik dan lai-lain.

Budaya politik, merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dengan ciri-ciri


yang lebih khas. Istilah budaya politik meliputi masalah legitimasi, pengaturan
kekuasaan, proses pembuatan kebijakan pemerintah, kegiatan partai-partai
politik, perilaku aparat negara, serta gejolak masyarakat terhadap kekuasaan
yang memerintah.

Kegiatan politik juga memasuki dunia keagamaan, kegiatan ekonomi dan sosial,
kehidupan pribadi dan sosial secara luas. Dengan demikian, budaya politik
langsung mempengaruhi kehidupan politik dan menentukan keputusan nasional
yang menyangkut pola pengalokasian sumber-sumber masyarakat.