Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Palpebra atau kelopak mata yang merupakan pelindung dari bola mata dapat
mengalami berbagai gangguan, baik berupa gangguan kongenital, infeksi,
inflamasi, neoplastik ataupun trauma. Salah satu gangguan kongenital pada
palpebra adalah epiblefaron. Epiblefaron adalah keadaan dimana muskulus
orbikularis dan kulit palpebra inferior berada di atas margo palpebra inferior dan
membentuk lipatan horizontal. Hal ini menyebabkan bulu mata berada pada posisi
vertikal.1 Epiblefaron sebaiknya dibedakan dengan entropion, dimana pada
entropion margo palpebra berputar kearah kornea, sedangkan pada epiblefaron,
kulit dan otot pretarsal menyebabkan bulu mata memutari tepi tarsal, dan margo
palpebra berada dalam posisi normal.1,2
Epiblefaron sering ditemukan pada anak-anak di Asia Timur (Cina, Korea,
Jepang) yaitu sebanyak 12,6 % pada rentang usia 7-14 tahun. 3 Penelitian
retrospektif di Singapura menunjukkan rata-rata usia pasien epiblefaron adalah 9
tahun, dan 51,9% dari total 108 pasien adalah laki-laki. Penelitian tersebut juga
menunjukkan bahwa 90,7% pasien memiliki epiblefaron bilateral dan 70,5%
epiblefaron terjadi di palpebra inferior. Dari seluruh pasien yang diteliti, 82,4%
diantaranya memiliki keratopati.4
Etiologi epiblefaron bervariasi, meliputi perkembangan yang buruk dari otot
retractor palpebra, kegagalan adhesi otot retraktor ke kulit, serta penempelan yang
lemah antara otot orbikularis dan kulit ke tarsus. Hal-hal tersebut menyebabkan
kulit dan otot terlipat ke atas, sehingga bulu mata mengarah ke bola mata dan
dapat menyentuh serta mengiritasi kornea.5,6 Gejala bervariasi mulai dari
asimptomatik, rasa mengganjal, gatal, perih, mata merah, berair-air dan fotofobia.
Keparahan gejala tergantung dari jumlah dan ketebalan bulu mata. Apabila bulu
mata pasien cenderung banyak dan tebal, maka gejala yang ditimbulkan akan
semakin parah.4
Penulisan telaah ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui definisi,
epidemiologi, etiologi, patofisiologi, gejala klinis, diagnosis, diagnosis banding,
dan tatalaksana epiblefaron. Telaah ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk
memberikan informasi dan menjadi salah satu sumber bacaan tentang epiblefaron.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Palpebra


Palpebra terdiri dari lapisan luar dan dalam. Lapisan luar terdiri dari kulit,
kelenjar Moll, kelenjar Zeiss, otot protaktor (Musculus orbicularis oculi), dan otot
retraktor (Musculus levator Palpebra dan Musculus muller). Lapisan dalam terdiri
dari lapisan tarsal, musculus tarsalis, konjungtiva palpebralis, dan kelenjar
Meibom.10

Gambar 1. Potongan Sagital Palpebra.1

2.1.1. Kulit
Kulit pada palpebra lebih tipis, longgar dan elastis dibandingkan kulit
pada bagian lain dari tubuh, dengan sedikit folikel rambut serta tidak memiliki
jaringan subkutan.2 Kulit pada palpebra dapat menjadi longgar seiring
bertambahnya usia dikarenakan oleh gerakan konstan pada setiap
kedipan mata. Pada kedua kelopak mata jaringan pretarsal melekat kuat
ke jaringan dibawahnya, dimana jaringan preseptal kurang kuat
melekat, sehingga dapat menjadi tempat akumulasi dari cairan. Kontur
dari kulit kelopak mata dibatasi oleh lipatan kelopak mata dan garisnya.
Lipatan kelopak mata merupakan tempat melekatnya aponeurosis dari
otot levator ke jaringan pretarsal dan kulit.1
2.1.2. Otot Protaktor

2
Otot orbikularis okuli merupakan otot protraktor utama dari
kelopak mata. Kontraksi otot ini diinervasi oleh nervus VII yang akan
menyempitkan fisura palpebra. Otot orbikularis dibagi menjadi
pretarsal, preseptal dan orbital. Bagian pretarsal dan preseptal berkaitan
dengan pergerakan involunter dari kelopak mata (berkedip) sedangkan
bagian orbital berkitan dengan kedipan mata secara sadar atau paksa.1
Bagian pretarsal dari otot orbicularis palpebra superior dan inferior
memiliki origo profunda pada sistem lakrimal posterior dan origo
superfisial pada tendon dari kantus medial. Pada daerah dekat
kanalikulus, bagian pangkal dari otot orbicularis pars pretarsal bersatu
membentuk anyaman serat yang disebut otot Horner, yang berjalan dari
belakang tendon pada kantus medial. Otot pretarsal superior dan
inferior kemudian bersatu pada sisi kantus lateral membentuk tendon
kantus lateral.1,7
Orbikularis preseptal terletak mulai dari sisi atas dan bawah dari
tendon kantus medial. Pada kelopak mata atas, otot preseptal memiliki
ujung anterior dari tendon utama dan ujung posterior baik dari tendon
pada sisi superior dan posterior. Pada sisi lateral, otot preseptal
membentuk palpebra lateral raphe.1

Gambar 2. Muskulus orbikularis dan pembagiannya.


A. Muskulus Frontalis; B. Muskulus Korugator supersilia; C. Muskulus Procerus; D.
Muskulus Orbikularis (bagian orbital); E. Muskulus Orbikularis (bagian preseptal); F.
Muskulus Orbikularis (bagian pretarsal); G. Tendon kantus medial; H. tendon kantus
lateral. 1

3
2.1.3. Septum Orbita
Septum orbita adalah jaringan fibrosa tipis dan berlapis-lapis yang
berasal dari periosteum di atas pinggiran kavum orbita superior dan
inferior pada arkus marginalis. Pada palpebra superior, septum oribita
bersatu dengan aponeurosis levator 2-5 mm diatas tepi tarsus superior.
Pada palpebral inferior, septum orbita bersatu dengan fascia
capsulopalpebra atau tepat dibawah tepi tarsus inferior. Septum orbita
yang bersatu dengan capsulopalpebra dan otot tarsus inferior menutupi
permukaan tarsus posterior dan anterior. Seiring dengan bertambahnya
usia, septum kedua palpebra menipis. Penipisan septum dan kelenturan
otot orbicularis dapat menyebabkan herniasi lemak orbita anterior pada
usia lanjut.1

2.1.4. Lemak Orbita


Lemak orbita terletak di posterior dari septum orbita dan anterior
dari aponeurosis levator pada palpebral superior atau fascia
capsulopalpebra pada palpebra inferior. Pada palpebra inferior, terdapat
3 kantung lemak yang terdiri dari nasal, sentral, dan temporal. Kantung
ini dikelilingi oleh membran fibrosa yang meneruskan sistem
orbitoseptal anterior. Kantung lemak orbital sentral penting sebagai
penanda pada pembedahan palpebra dan perbaikan dari laserasi
palpebra, karena struktur ini terletak dibawah septum orbita dan di
didepan aponeurosis levator.1
2.1.5. Otot Retraktor
Otot retraktor dari palpebral superior adalah otot levator beserta
aponeurosisnya dan otot tarsus superior (otot Muller). Pada palpebra
inferior, otot retraktornya adalah fascia capsulopalpebral dan otot tarsus
inferior.1
Otot levator memiliki origo di apex orbita, berasal dari periorbita
dari sphenoid, tepat diatas Annulus Zinn. Otot levator memiliki panjang
kira-kira 40 mm; aponeurosisnya 14-20 mm. Terdapat pula suatu
ligament transversus superior (Ligamen Whitnall) yang merupakan serat
elastis di sekitar otot levator di daerah transisional dari otot levator ke
aponeurosis levator. Ligamen ini berfungsi sebagai penahan kelopak
mata atas dan jaringan orbital superior. Ligamen Whitnall ini analog
dengan ligament Lockwood di kelopak mata inferior. Otot Levator

4
dipersarafi oleh percabagan superior dari nervus III, yang juga
mempersarafi otot rektus superior.1
Otot Muller berorigo di bawah aponeurosis levator, kira-kira
setinggi ligamen Whitnall, 12-44 mm di atas tepi tarsus superior. Otot
ini secara simpatis menginervasi otot halus yang berada di sepanjang
tarsus superior palpebral di daerah inferior. Otot ini menyebabkan
elevasi 2 mm dari palpebral superior, yang apabila terganggu maka
dapat menyebabkan ptosis ringan (sindrom Horner). Otot Muller
menempel kuat dengan konjungtiva posterior, tepatnya diatas tarsus
superior.1
Fascia capsulopalpebral di palpebra inferior analog dengan
aponeurosis levator pada palpebra superior. Fascia beriorigo di pangkal
capsulopalpebra dari perlengketan serat otot terminal di daerah inferior
otot rectus. Fascia capsulopalpebra membentang dari daerah anterior
sampai konjungtiva forniks inferior. Otot tarsus inferior di palpebral
inferior analog dengan otot Muller.1

Gambar 3. Struktur palpebra dan orbita anterior dari segi anterior.


A. Kelenjar lakrimal; B. Ligamen transversal superior (Ligamen Whitnall); C. Tendon oblik
superior; D. Aponeurosis Levator; E. Lateral horn; F. Medial horn; G. Tendon kantus lateral; H.
Tendon kantus medial; I. Kantung lakrimal; J. retraktor palpebra inferior; K. otot obliqus
inferior.1

2.1.6. Tarsus
Tarsus merupakan jaringan ikat padat dan kuat yang berfungsi
sebagai penunjang dari palpebra. Panjang tarsus palpebra superior
sekitar 10-12 mm secara vertical dari tengah palpebral. Panjang
maksimum tarsus palpebra inferior sekitar 4 mm. Tarsus memiliki
perlekatan kuat dengan periosteum melalui tendon kantus baik medial

5
maupun lateral. Tarsus ini dapat bergeser secara horizontal seiring
bertambahnya usia dengan peregangan dari tendon lateral dan medial.
Tarsus memiliki tebal sekitar 1 mm dan makin menipis pada sisi medial
dan lateral sampai mencapai tendon cantus. Dalam tarsus terdapat
kelenjar meibom yaitu kelenjar sebasea holokrin.1

Gambar 5. Struktur palpebra dari bagian dalam.1

2.1.7. Konjungtiva palpebralis


Konjungtiva terdiri dari epitel skuamosa non keratinisasi yang
membentuk lapisan posterior dari palpebra, yang mengandung sel
goblet yang menghasilkan mucin serta kelenjar lakrimal aksesorius
Wolfring dan Krause. Kelenjar lakrimal aksesorius ini terutama terdapat
di subkonjungtiva palpebral superior dan inferior. Kelenjar Wolfring
banyak ditemukan di pinggir tarsus sedangkan kelenjar Krause
ditemukan terutama pada forniks.1

2.1.8. Margo palpebra


Margo palpebra merupakan gabungan dari lapisan mukosa
konjungtiva, ujung otot orbikularis, dan epitel kutaneus. Selain itu juga
terdapat bulu mata dan kelenjar yang berfungsi melindungi permukaan
bola mata. Mucocutaneous junction dari pinggir palpebra sering disebut
sebagai Gray line. Gray line ini merupakan bagian yang terisolasi dari
otot orbikularis (Riolan) terletak anterior dari tarsus. Mucocutaneous
junction ini terletak di posterior dari muara kelenjar Meibom. Panjang
fisura palpebralis yaitu sekitar 30 mm. Bagian utama dari margo
palpebra disebut sebagai Ciliary margin yang memiliki batas tegas
antara sisi anterior dan posterior.1

6
Gambar 6. Anatomi margo palpebra1
2.1.9. Kelenjar Meibom
Kelenjar Meibom berorigo di tarsus, dengan jumlah sebanyak 25 di
palpebra superior dan 20 di palpebra inferior. Selama usia 2 bulan
kehamilan, bulu mata dan kelenjar meibom berdiferensiasi dari
pilosebasea. Hal ini menjelaskan mengapa ketika terjadi trauma atau
iritasi kronik, folikel bulu mata dapat berkembang dari kelenjar meibom
yang menyebabkan distikiasis.1

2.1.10. Sistem Vaskularisasi dan Limfatik


Suplai arteri palpebra berasal dari 2 cabang utama, yaitui arteri
karotis interna melalui arteri oftalmika dan percabangannya (lakrimal
dan supraorbita) dan arteri karotis eksterna melalui percabangan dari
wajah (angularis dan temporalis). Terdapat sirkulasi kolateral dari kedua
sistem ini, yang beranastomosis di palpebra superior dan inferior yang
membentuk cabang marginal dan perifer.1,7
Drainase vena palpebra dibagi menjadi dua yakni pretarsal dan
post-tarsal. Jaringan drainase pretarsal berjalan menuju vena angularis
pada sisi medial dan juga vena temporal superfisial pada sisi lateral.
Drainase post-tarsal berjalan menuju ke vena orbitalis dan percabangan
dari vena fasialis anterior serta pleksus pteriogoid. Pembuluh limfe pada
sisi medial menuju ke nodulus limfatikus submandibular. Pada sisi
lateral, drainase menuju ke nodus preaurikuler superfisial dan kemudian
menuju ke nodus servikal.1,7

.2 Epiblefaron
2.2.1 Definisi
Epiblefaron adalah suatu kelainan kongenital pada palpebra,
dimana muskulus pretarsal dan kulit palpebra inferior berada di atas

7
margo palpebra inferior dan membentuk lipatan horizontal, sementara
palpebra berada dalam posisi yang normal. Hal ini menyebabkan bulu
mata berada pada posisi vertikal. Epiblefaron sebaiknya dibedakan
dengan entropion, dimana pada entropion margo palpebra berputar
kearah kornea, sedangkan pada epiblefaron, kulit dan otot pretarsal
menyebabkan bulu mata memutari tepi tarsal, dan margo palpebra
berada dalam posisi normal.1,2

2.2.2 Epidemiologi
Epiblefaron sering ditemukan pada anak-anak di Asia Timur (Cina,
Korea, Jepang) yaitu sebanyak 12,6 % pada rentang usia 7-14 tahun. 3
Penelitian retrospektif di Singapura menunjukkan rata-rata usia pasien
epiblefaron adalah 9 tahun, dan 51,9% dari total 108 pasien adalah
laki-laki. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa 90,7% pasien
memiliki epiblefaron bilateral dan 70,5% epiblefaron terjadi di
palpebra inferior. Dari seluruh pasien yang diteliti, 82,4% diantaranya
memiliki keratopati.4

2.2.3 Patogenesis
Etiologi epiblefaron belum diketahui secara pasti. Walaupun
demikian, epiblefaron dianggap sebagai suatu kelainan kongenital,
dimana terdapat defek anatomis yang diyakini sebagai akibat
kegagalan adhesi otot retraktor pada palpebra inferior dengan lamela
anterior yang menyebabkan kulit dan otot terlipat ke atas.8
Otot retraktor kelopak mata bawah adalah struktur belapis ganda.
Lapisan anterior berasal dari ligament Lockwood menyatu dengan
septum orbita dan jaringan submuskular fibrosa dan melekat pada
permukaan anterior lempeng tarsal inferior dan lapisan subkutaneus
melalui otot orbikularis okuli. Lapisan posterior adalah lapisan traksi
utama pada retraktor kelopak mata bawah, termasuk serat otot halus
dan masuk ke permukaan anterior, inferior, dan posterior lempeng
tarsal inferior. Karena lempeng tarsal tidak menggulung ke dalam,
namun tetap pada posisi normal, sehingga pada epiblefaron, lapisan
posterior tidak terlalu memegang peranan yang signifikan dalam
proses terjadinya epiblefaron, dan diyakini bahwa faktor utama

8
terjadinya epiblefaron adalah lapisan anterior otot retraktor palpebra
inferior.8
Faktor lain yang diduga sebagai penyebab epiblefaron adalah
lemahnya perlekatan antara otot orbikularis okuli pars tarsalis dan
tarsus yang berada di bawah kulit, sehingga menyebabkan
terbentuknya lipatan kulit dekat margo palpebra dan mendorong bulu
mata ke arah kornea. Hal-hal tersebut menyebabkan kulit dan otot
terlipat ke atas, sehingga bulu mata mengarah ke bola mata dan dapat
menyentuh serta mengiritasi kornea.8

Gambar 6. Epiblefaron.
AL-LER (anterior layer of lower eyelid retraktor); IOM (inferior obliq muscle), IRM (inferior
rectus muscle), LL(Lockwoods ligament); OS(orbital septum); OOM (orbicularis oculi muscle);
PL-LER (posterior layer of lower eyelid retraktors); RS(redundant skin); SMFT (submuscular
fibrous tissue)8
2.2.4 Manifestasi klinis
Epiblefaron biasanya terjadi secara bilateral pada palpebra inferior. Pada
epiblefaron, dimana bulu mata mengarah ke bola mata dan dapat
menyentuh serta mengiritasi kornea, gejala yang ditemukan dapat
bervariasi. Gejala dimulai dari asimptomatik, rasa mengganjal, gatal,
perih, mata merah, berair-air dan fotofobia. Keparahan gejala
tergantung dari jumlah dan ketebalan bulu mata. 4 Apabila bulu mata
pasien cenderung banyak dan tebal, maka gejala yang ditimbulkan
akan semakin parah. Penurunan ketajaman penglihatan juga bisa
terjadi akibat astigmat yang disebabkan oleh epiblefaron.10

9
Gambar 7. Gambaran klinis epiblefaron. Kurang optimalnya adhesi dari kulit dan retraktor dari
palpebra inferior menyebabkan berputarnya bulu mata ke permukaan bola mata, terutama saat
mata melihat ke arah bawah.11

2.2.5 Penegakan diagnosis


Penegakan diagnosis epiblefaron dilakukan melalui anamnesis dan
pemeriksaan fisik pada kelopak mata.
2.2.5.1 Anamnesis
Pada epiblefaron, di mana penyebabnya adalah kongenital, maka
dalam anamnesis dapat digali informasi mengenai perkembangan
penyakit. Keluhan utama yang membawa pasien datang berobat
biasanya adanya rasa mengganjal (seperti adanya benda asing)
merupakan keluhan terbanyak. Keluhan lainnya dapat berupa adanya
kotoran mata, fotofobia, hiperlakrimasi, penurunan tajam penglihatan,
sering menggosok mata, gatal dan sering berkedip.11
2.2.5.2 Pemeriksaan Fisik
Epiblefaron adalah abnormalitas perkembangan palpebra yang
ditandai dengan adanya lipatan kulit tambahan dan adanya peregangan
otot orbikularis okuli pada pars tarsalis yang melewati dan saling
tumpang tindih dengan margo palpebra. Maka melalui inspeksi, dapat
dilihat bahwa ketika silia yang normal mengarah ke depan, maka
dengan adanya epiblefaron, maka silia akan mengarah ke
kornea.Selain itu, karena epiblefaron mendorong silia ke arah kornea
dan/atau konjungtiva, pada pemeriksaan fisik juga dapat ditemukan
gejala-gejala berupa iritasi konjungtiva atau kornea, mata merah, dan

10
epifora.1,11

Gambar 8. Epiblefaron tampak depan dan samping.12

2.2.6 Diagnosis Banding


2.2.6.1 Entropion
Entropion adalah suatu kondisi di mana margo palpebra terputar ke
arah dalam sehingga silia menyentuh bola mata dan jarang terjadi pada
anak-anak. Entropion dapat diklasifikasikan menjadi kongenital,
spastik, involusional (senile), atau sikatrikal. Pada entropion, margo
palpebra terputar ke dalam, baik oleh karena scar pada lamela
posterior, involusional retraktor, atau karena kelemahan kelopak mata
horizontal.12,13

Gambar 9. Entropion12

Involusional entropion adalah penyebab entropion terbanyak pada


orang usia lanjut, lebih sering terkena palpebra inferior karena palpebra
superior memiliki lempeng tarsal yang lebih lebar dan lebih stabil.
Tanda dan gejalanya antara lain iritasi okular, rasa mengganjal pada
mata, hiperlakrimasi, injeksi konjungtiva, palpebra inferior terlipat ke
dalam dengan bulu mata yang tersembunyi, bisa intermitten ataupun
terus-menerus yang terjadi pada saat mata ditutup paksa atau berkedip

11
dalam posisi supine.13

Gambar 10. Entropion involusional.1

2.2.6.2 Distikiasis
Distikiasis berasal dari kata di yang berarti dua dan stichos
yang berarti baris. Distikiasis merupakan suatu kelainan di mana
terdapat sebaris bulu mata tambahan yang berasal dari orifisium
glandula Meibom. Hal ini disebabkan oleh adanya pembentukan bulu
mata abnormal pada apparatus pilosebasea Meibom. Kelainan ini
bersifat dapat bersifat acquired (didapat) maupun kongenital
(autosomal dominan), dan jarang ditemukan. Glandula Meibom itu
sendiri dapat tidak berkembang sempurna, atrofi, maupun normal.
Silia pada distikiasis umumnya lebih halus, lebih pendek, dan
memiliki pigmen yang kurang.16

Gambar 11. Distikiasis dengan barisan bulu mata tidak komplit.13

Distikiasis yang didapat terjadi ketika glandula Meibom (sebasea)


yang normal pada lempeng tarsal ditransformasikan menjado folikel
rambut (unit pilosebasea) oleh stimulis mekanik ataupun kimiawi.
Stimulus ini dapat berupa kronik inflamasi seperti blefaritis dan
meibomitis, kondisi sikatrik pada mukosa seperti sindrom Steven-
Johnson, luka bakar kimia yang berat, dan trauma pada glandula
Meibom.13

12
Pertumbuhan bulu mata yang abnormal pada glandula Meibom
dapat diliat dengan lebih baik pada pemeriksaan slit lamp, di mana
bulu mata yang abnormal dapat terlihat baik pada satu atau lebih
kelopak mata, dan barisan bulu mata yang lengkap jarang ditemukan.
Pertumbuhan bulu mata yang abnormal ini dapat menyebabkan iritasi
pada kornea.13

2.2.6.3 Trikiasis

Trikiasis adalah suatu kondisi yang didapat (acquired) di mana


bulu mata terputar ke arah bola mata. Pada trikiasis, bulu mata tumbuh
secara abnormal, yang ditandai dengan adanya satu atau lebih silia
palpebra superior atau inferior yang terbalik ke dalam. Bulu mata ini
dapat sangat halus, tipis, dam tidak berpigmen (rambut lanugo), dan
hanya dapat dilihat secara mikroskopis. Pada beberapa ras, trikiasis
pada pada palpebra inferior umumnya tumbuh dekat pungtum. Pada
kebanyakan kasus, trikiasis terjadi sebagai akibat proses penuaan pada
kelopak mata, dan tidak terdapat penyakit yang mendasari.12

Gambar 12. Trikiasis13


Pada trikiasis, bulu mata berada pada arah yang salah setelah
tumbuh melalui folikel dengan sudut ganjil, baik melalui glandula
meibom, maupun melalui area pada kelopak mata maupun konjungtiva
yang normalnya bebas dari pertumbuhan bulu mata. Pada trikiasis,
margo palpebra dan barisan bulu mata berada pada posisi yang normal
(hanya bulu mata yang terputar ke dalam mengenai kornea), sedangkan
pada entropion, palpebra terbalik ke arah dalam sehingga bulu mata
menggesek bola mata.Pasien biasa mengeluhkan adanya sensasi benda
asing dalam mata dan iritasi permukaan ocular kronik. Abrasi kornea,
injeksi konjungtiva, secret mukoid, dan epifora biasa ditemukan. Pada
kasus yang berat, ulkus kornea yang nyata dapat terlihat.11

13
Gambar 13. Perbedaan Epiblefaron, Entropion, Distikiasis, dan Trikiasis .12
2.2.7 Penatalaksanaan
Pada banyak kasus, epiblefaron akan sembuh dengan spontan seiring
bertambahnya usia, umumnya pada usia enam atau tujuh tahun ketika
tulang wajah mengalami perkembangan. Pengobatan dapat dibutuhkan
apabila ditemukan gejala iritasi, yaitu dengan pemberian lubrikasi topikal
yang dapat mengurangi gejala. Akan tetapi, lubrikasi topikal tidak
melembutkan bulu mata, hanya membuat iritasi karena bulu mata.3
Indikasi intervensi operasi meliputi konjungtivitis kronik, keratopati
disertai lakrimasi dan fotofobia, kebiasaan menggosok mata akibat gatal
yang mengganggu, dan sering berkedip, serta apabila gejala masih
menetap hingga usia di atas sembilan tahun.Adapun tujuan operasi adalah
untuk menciptakan perlekatan atau adesi antara lamela anterior dengan
retraktor palpebra inferior yang dapat mendesak silia palpebra inferior
sehingga membalikkan arahnya agar tidak ke arah dalam.8
Prosedur operasi secara kosmetik meliputi insisi kulit di bawah bulu
mata (insisi subsiliar), eksisi sejumlah kecil kulit dan otot orbikularis okuli
pars tarsalis, dan kemudian fiksasi kulit yang berbantal silia ke bawah
tarsus dengan eversi (prosedur Hotz yang dimodifikasi). Tingkat
kesuksesan teknik ini adalah sebesar 90%. Prosedur ini biasanya

14
membutuhkan waktu 30 menit untuk setiap palpebra dan dilakukan
dibawah anestesi umum untuk anak-anak. Namun, terdapat angka
rekurensi sebesar 4,9% hingga 23% dengan teknik ini. Untuk mengurangi
rekurensi, dilakukan penambahan teknik, yaitu membagi margo palpebra
(lid margin splitting technique) pada operasi koreksi epiblefaron. Prosedur
ini meliputi eksisi kulit dan otot dan teknik penjahitan kulit silia (a cilia
everting suture technique).8

2.2.7.1 Teknik operasi Hotz yang dimodifikasi

Sebuah garis insisi kulit subsiliaris digambar secara horizontal dari


temporal hingga pungtum inferior sesuai sepanjang lebar kelopak
mata, 1mm di bawah garis silia. Infiltrasi local lidokain 2% dicampur
epinefin dengan rasio 1:100.000 diberikan secara subkutan sepanjang
garis yang digambar. Setelah persiapan tadi, palpebra superior di tarik
ke atas dengan menggunakan penjahitan traksi dengan benang silk 4-0
untuk menghindari kekaburan margo palpebra inferior oleh silia
superior. Pembelahan margo palpebra dilakukan pertama kali.8

Gambar 14. Gambar skematik operasi Hotz. (A) garis putus-putus mewakili garis insisi.
Margo palpebra dibelah sepanjang garis grey line sedalam 1 mm. insisi kulit dan otot
orbikularis adalah 1 mm di bawah garis silia. (B) penempatan jahitan pembalikan bulu
mata memperbaiki jaringan subkutan di atas penutupan kulit bagian atas hingga margo
tarsus bagian bawah8

15
Gambar 15. Prosedur operasi Hotz yang dimodifikasi.8
Insisi sedalam 1 mm dibuat sepanjang grey line dengan pisau
skalpel nomor 15 setelah menahan palpebra inferior dengan forsep
kalazion. Pemebedahan dilakukan mulai dari lateral pungtum ke

16
sepertiga atau setengah medial palpebra inferior sesuai dengan batas
garis horizontal epiblefaron.8
Kulit subsiliaris diinsisi dengan skalpel nomor 15 sepanjang garis
yang telah ditentukan sebelumnya sementara kelopak mata ditahan
dengan forsep kalazion. Kemudian, forsep kalazion diangkat dan
diseksi dilakukan secara inferior antara otot orbikularis dan tarsus
menggunakan kauter monopolar hingga margin tarsus tampak. Otot
orbikularis okuli pars tarsalis yang tetap berada di bawah tepi atas
insisi kulit dipotong menggunakan gunting Westcott hingga lempeng
tarsal lebih tampak. Jaringan subkutan pada tepi atas kulit subsiliaris
yang diinsisi disatukan dengan margin tarsus inferior secara interuptus
sebanyak lima hingga tujuh jahitan menggunakan nilon 8-0,
memastikan eversi silia ke arah luar. Tepi bawah kulit yang diinsisi
diangkat untuk menutupi tepi kulit atas (yang saat ini dijahit ke tarsus).
Sebuah garis dibuat pada kulit bagian bawah yang tumpang tindih
untuk menyesuaikan dengan tepi luka kulit bagian atas yang berada di
bawahnya, dan kemudian kulit yang berlebih ini dipotong dengan
menggunakan gunting Steven. Kulit lalu ditutup dengan benang 6-0
yang cepat terserap. Setelah itu, diberikan antibiotic pada luka operasi
dan kemudian diberikan kompresi dingin pada 12 jam pertama
postoperasi.8
Saat ini, terdapat beberapa variasi teknik operasi, seperti penjahitan
seluruh ketebalan kelopak mata, jahitan yang tertanam (buried suture),
eksisi kulit dan otot orbikularis dengan atau tanpa fiksasi kulit, atau
eksisi jaringan subkutaneus ke lempeng tarsal dan reposisi anterior
lamelar, dilaporkan telah digunakan sebagai teknik operasi epiblefaron.
Teknik penjahitan non insisional, bersifat sederhana, namun memiliki
angka rekurensi dan infeksi yang tinggi yaitu 23% - 29%. Modifikasi
Hotz adalah teknik yang paling banyak digunakan hingga saat ini.
Prosedur ini relative sederhana, tetapi terdapat banyak reseksi kulit
sehingga dapat menyebabkan ektropion dan retraksi kelopak mata.
Rotating suture technique secara umum berhasil dilakukan dan
memiliki komplikasi yang minimal. Prosedur ini melibatkan ekspos
lempeng tarsal dan kemudian menutupnya bersama dengan jaringan

17
subkutan.8
2.2.8 Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul akibat epiblefaron adalah akibat adanya
gesekan antara bulu mata dan permukaan bola mata, sehingga dapat
menimbulkan konjungtivitis, keratopati, keratititis, maupun ulkus kornea.
Selain itu, komplikasi yang dapat timbul adalah adanya gangguan refraksi
dalam hal ini adalah astigmat. Modifikasi Hotz adalah teknik yang banyak
digunakan saat ini, tetapi terdapat banyak reseksi kulit sehingga dapat
14
menyebabkan ektropion dan retraksi kelopak mata.
2.2.9 Prognosis
Prognosis epiblepharon adalah baik karena kebanyakan epiblefaron
akan sembuh dengan spontan seiring bertambahnya usia, umumnya pada
usia enam atau tujuh tahun ketika tulang wajah mengalami perkembangan.
Jika sudah dilakukan operasi, operasi kembali jarang dilakukan karena sekali
koreksi, epiblepharon tidak mengalami rekurensi.3,14

BAB III
KESIMPULAN

Epiblefaron merupakan kelainan kongenital pada kelopak mata di mana


terdapat lipatan kulit yang horizontal dan muskulus orbikularis di bawahnya yang
mendorong bulu mata mengarah ke bola mata dengan posisi kelopak mata yang
normal. Epiblefaron memiliki manifestasi klinis yang mirip dengan entropion,
distikiasis dan trikiasis, namun etiologinya cukup berbeda.
Etiologi epiblefaron belum diketahui secara pasti. Terdapat beberapa hal
yang diduga sebagai penyebab epiblefaron, yaitu meliputi perkembangan yang
buruk dari otot retractor palpebra, kegagalan adhesi otot retraktor ke kulit, serta
penempelan yang lemah antara otot orbikularis dan kulit ke tarsus. Hal-hal
tersebut menyebabkan kulit dan otot terlipat ke atas, sehingga bulu mata mengarah
ke bola mata dan dapat menyentuh serta mengiritasi kornea.
Diagnosis epiblefaron dapat ditegakkan melalui anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Dari anamnesis, keluhan utama yang membawa pasien datang
berobat adalah adanya sensasi mengganjal (seperti adanya benda asing) yang
merupakan keluhan terbanyak. Melalui inspeksi, dapat dilihat silia mengarah ke

18
kornea. Selain itu dapat ditemukan gejala-gejala berupa iritasi konjungtiva, mata
merah, dan epifora.

Epiblefaron dapat sembuh secara spontan seiring bertambahnya usia,


umumnya pada usia enam atau tujuh tahun ketika tulang wajah mengalami
perkembangan. Indikasi intervensi operasi meliputi konjungtivitis kronik,
keratopati disertai lakrimasi dan fotofobia, kebiasaan menggosok mata akibat
gatal yang mengganggu, serta apabila gejala masih menetap hingga usia di
atas sembilan tahun. Teknik operasi Hotz yang dimodifikasi merupakan yang
paling banyak digunakan saat ini.

19