Anda di halaman 1dari 8

KUALITAS STRUKTUR PENGENDALIAN INTERNAL DAN RELEVANSINYA

DALAM PEKERJAAN AUDIT

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Auditing

OLEH:

GAYATRI PERWITASARI
NIM 166020310111017

PROGRAM PASCA SARJANA


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2017

1
Kualitas Struktur Pengendalian Internal dan Relevansinya dalam Pekerjaan Audit

A. Pengertian Pengendalian Internal


Dalam Tuanakotta (2014) pengendalian internal merupakan jawaban
manajemen untuk menangkal risiko yang diketahui, atau dengan perkataan lain,
untuk mencapai suatu tujuan pengendalian (control objective).
Secara umum, pengendalian internal merupakan bagian dari masing-masing
sistem yang dipergunakan sebagai prosedur dan pedoman pelaksanaan operasional
perusahaan atau organisasi tertentu. Di lingkungan perusahaan, pengendalian internal
didefinisikan sebagai suatu proses yang diberlakukan oleh pimpinan (dewan direksi)
dan manajemen secara keseluruhan, dirancang untuk memberi suatu keyakinan akan
tercapainya tujuan perusahaan yang secara umum dibagi kedalam tiga kategori, yaitu
:
1. Keefektifan dan efisiensi operasional perusahaan
2. Pelaporan keuangan yang handal
3. Kepatuhan terhadap prosedur dan peraturan yang diberlakukan

B. Tujuan Pengendalian Internal


Tujuan pengendalian internal secara garis besarnya dapat dibagi dalam empat
kelompok, sebagai berikut :
1. Strategis, sasaran-sasaran utama (high-level goals) yang mendukung misi entitas
2. Pelaporan keuangan (pengendalian internal atas pelaporan keuangan)
3. Operasi (pengendalian operasional atau operational controls)
4. Kepatuhan terhadap hukum dan ketentuan perundang-undangan

C. Komponen Pengendalian Internal


Istilah internal control yang digunakan ISA 315 lebih luas dari sekedar
kegiatan-kegiatan pengendalian (control activities) seperti pemisahan tugas
(segregation of duties), proses otorisasi (authorizations), dan rekonsiliasi saldo.
Pengendalian internal (Struktur Pengendalian Intern) menurut ISA 315 terdiri atas
lima komponen, antara lain adalah sebagai berikut :
1. Control Environment (Lingkungan Pengendalian)
a. Entitas Besar
Lingkungan pengendalian merupakan dasar bagi pengendalian internal
yang efektif. Lingkungan pengendalian berurusan dengan fungsi pengelolaan
dan pengawasan di tingkat tertinggi dalam entitas. Pengendalian dalam
lingkungan pengendalian bersifat pervasif, yang berarti pengendalian tidak
secara langsung mencegah, mendeteksi, dan mengoreksi salah saji yang

2
material dalam laporan keuangan. Pengendalian ini menjadi dasar bagi seluruh
komponen pengendalian internal lainnya, karena menunjukkan pengaturan
kewenangan melalui pembagian tugas dan tanggung jawab (assignment of
authority), struktur organisasi (organizational structure), gaya kepemimpinan
dalam arti yang luas (management philosophy and operating style),
pengawasan menyeluruh dalam arti luas, termasuk praktiknya (governance
structure and practices), penyampaian nilai-nilai dan komitmen entitas
mengenai kompetensi (communication of entity values and commitment to
competence), dan kebijakan dan prosedur SDM (human resources policies and
procedures).
Relevansinya dengan pekerjaan audit, lingkungan pengendalian pada
entitas besar sebagai contoh, jika budaya jujur dan perilaku etis tidak ada
dalam entitas itu, auditor harus sungguh-sungguh mempertimbangkan apakah
prosedur auditnya masih dapat mendeteksi salah saji yang material, ataukah ia
harus mundur dari penugasan.
b. Entitas Kecil
Lingkungan pengendalian pada entitas yang lebih kecil tentu berbeda dari
entitas besar, namun peran pengendalian ini pada entitas kecil tidak kalah
pentingnya dibandingkan dengan pengendalian pada entitas besar. Keterlibatan
pemilik merangkap pengelola yang kompeten, merupakan kekuatan dalam
lingkungan pengendalian dari entitas kecil. Si pemilik mengenal dengan baik
pelanggan dan penyuplainya, mereviu semua bukti pembukuan dengan
saksama, dan dengan ketelitian yang sama ia mereviu laporan keuangan
lainnya. Kekuatan pengendalian ini mungkin lebih baik dalam mencegah dan
mendeteksi salah saji oleh beberapa orang (dalam sistem pemisahan tugas).
Sikap, perilaku, dan tindakan owner-manager menjadi dasar bagi penilai
terhadap pengendalian ini.
Relevansinya terhadap pekerjaan audit, lingkungan pengendalian pada
entitas kecil adalah jika tidak ada dokumentasi pendukung tentang komponen
lingkungan pengendalian, auditor menulis memo untuk file.
c. Risk Asessment (Penilaian Risiko)
Penilaian risiko dapat dilihat dari sisi entitas dan auditor. Entitas menilai
risiko dari sudut pandang ancaman terhadap pencapaian tujuan entitas Oleh
karena itu, entitas wajib merancang, mengimplementasikan, dan memelihara

3
pengendalian internal. Dipihak lain, auditor menilai risiko sebagai proses
auditnya.
Proses penilaian risiko pada entitas yang bersangkutan mendukung upaya
auditor untuk menilai seberapa besarnya risiko salah saji yang material dalam
laporan keuangan yang diauditnya. Dalam entitas yang lebih kecil, proses
penilaian risiko pada entitas yang bersangkutan menjadi lebih informal.
d. Information System (Sistem Informasi)
Sistem informasi adalah komponen ketiga dari pengendalian internal.
Manajemen dan TCWG (Those Charge With Governance) memerlukan
informasi yang andal untuk mengelola entitas, mencapai tujuan entitas, dan
mengidentifikasi, menilai, dan menanggapi faktor risiko. Sistem informasi
mengidentifikasi, merekam, dan menyebarkan informasi untuk mendukung
tercapainya tujuan pelaporan keuangan dan tujuan pengendalian internal. Pada
entitas besar, sistem informasi sangat kompleks, otomatisasi secara penuh dan
terintegrasi. Entitas kecil masih manual, atau jika menggunakan pengelolaan
elektronis, perangkat lunak yang digunakan masih bersifat berdiri sendiri.
Relevansinya terhadap pekerjaan auditor, dalam upaya memahami sistem
informasi, auditor perlu memerhatikan sumber informasi yang digunakan,
bagaimana informasi direkan dan diolah, serta bagaimana informasi yang
dihasilkan, kemudian digunakan.
e. Control Activities (Kegiatan Pengendalian)
Kegiatan pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang memastikan
bahwa petunjuk dan arahan manajemen dilaksanakan. Kegiatan pengendalian
dirancang untuk menganggulangi risiko yang biasa terjadi dalam kegiatan
sehari-hari. Pengendalian proses bisnis lazimnya dapat digolongkan sebagai
preventive atau mencegahm detective atau menemukan dan corrective atau
mengoreksi.
Pada entitas kecil, kegiatan pengendalian dirancang untuk langsung dan
sesegera mungkin mencegah terjadinya salah saji yang material, dan jika salah
saji itu terjadi, kegiatan pengendalian cepat menemukan dan memperbaikinya.
Dalam entitas lebih kecil, konsep yang mendasari kegiatan pengendalian
serupa dengan pada entitas besar, namun relevansinya terhadap auditor bisa
berbeda.
f. Monitoring (Pemantauan)

4
Komponen pemantauan menilai efektifnya kinerja pengendalian internal
dengan berjalannya waktu. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa
pengendalian berjalan sebagaimana harusnya, jika tidak, maka diambil
tindakan perbaikan. Pemantauan memberikan umpan balik kepada manajemen
mengenai apakah sistem pengendalian internal yang dirancang untuk mengatasi
risiko. Manajemen dapat memantau melalui kegiatan yang sedang berjalan,
dengan evaluasi terpisah, atau kombinasi keduanya.
Dalam entitas kecil, pemantauan kegiatan yang sedang berjalan bersifat
informal dan biasanya merupakan bagian dari kegiatan normal yang berulang-
ulang terjadi. Sedangkan pemantauan berkala berupa evaluasi terpisah dari
kegaiatan yang sedang berjalan.
Sumber informasi yang digunakan untuk pemantauan dihasilkan oleh
sistem informasi entitas itu sendiri. Sehingga relevansinya terhadap pekerjaan
audit, pemantauan dilakukan ketika auditor mengevaluasi pemantauan atas
pengendalian, ia perlu memahami sumber informasi yang berkaitan dengan
kegiatan pemantauan dan apa yang mendasari kesimpulan manajemen bahwa
informasi tersebut cukup andal untuk tujuan pemantauan.

D. Hubungan Pengendalian Internal dengan Ruang Lingkup (Scoope)


Pemeriksaan
Jika pengendalian intern suatu satuan usaha lemah, maka kemungkinan
terjadinya kesalahan, ketidak akuratan, ataupun kecurangan dalam perusahaan sangat
besar. Bagi akuntan publik, hal tersebut menimbulkan resiko yang besar, dalam arti
resiko untuk memberikan opinitidak sesuai dengan kenyataan, jika auditorkurang
hati-hati dalam melakukan pemeriksaan dan tidak cukup banyak mengumpulkan
bukti-bukti yang mendukung pendapat yang diberikannya.
Untuk mencegah kemungkinan tersebut, jika dari hasil pemahaman dan
evaluasi atas pengendalian intern perusahaan, auditor menyimpulkan bahwa
pengendalian intern tidak berjalan efektif, maka auditor harus memperluas scope
pemeriksaannya pada waktu melakukan substantive test. Sebaliknya jika auditor
menyimpulkan bahwa pengendalian intern berjalan efektif, maka scope
pemeriksaaan pada waktu melakukan substantive test bisa dipersempit.

E. Bagaimana Melakukan Pemahaman dan Evaluasi atas Pengendalian Internal

5
Pendokumentasian pehamaman SPI merupakan satu hal yang disyaratkan oleh
Standar Profesional Akuntan Publik. Pendokumentasian dimaksud ditujukan untuk
merencanakan audit. Ada tiga dokumentasi kertas kerja yang dapat digunakan untuk
itu, yaitu :
1. Kuisioner Pengendalian Intern
Kuisioner pengendalian intern berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai
operasi kebijakan dan prosedur pengendalian intern. Keuntungan utama
penggunaan kuisioner adalah kemampuannya untuk mendokumentasikan
pemahaman secara lengkap. Disamping itu, kuisioner dapat disiapkan dengan
cepat pada permulaan penugasan audit. Kelemahan utama kuisioner adalah bahwa
pemeriksaan bagian individual sistem klien, dilaksanakan tanpa menghasilkan
pandangan menyeluruh.
2. Bagan Alir (Flow Chart)
Bagan alir pengendalian intern merupakan representasi simbolik dalam
bentuk diagram yang menjelaskan mengenai dokumen klien dan alur dokumen
tersebut dalam organisasi. Penggunaan flow chart memungkinkan auditor untuk
melakukan penilaian secara tepat mengenai efektifitas SPI. Disamping itu, auditor
dapat menghindari penelaahan secara rinci terhadap uraian tertulis dan jawaban
yang terdapat dalam kuisioner pengendalian intern. Kelemahan cara ini adalah
biasanya memerlukan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan cara lain.
3. Narrative Memoranda (Deskripsi Naratif) yang Berisi Komentar Tertulis tentang
Pertimbangan Auditor tentang SPI
Deskripsi naratif adalah deskripsi tertulis yang berisi komentar tentang
pertimbangan atau penilaian auditor mengenai SPI. Kebijakan cara ini adalah
bahwa penggunaan deskripsi naratif merupakan hal yang umum karena mudah
dan sederhana untuk dilaksanakan. Kelemahannya adalah kesulitan
mendeskripsikan rincian SPI ke dalam kata-kata yang sederhana dan jelas.

F. Keterbatasan Pengendalian Intern Entitas


Pengendalian internal hanya dapat memberikan keyakinan memadai bagi
manajemen dan dewan komisaris sehubungan dengan pencapaian tujuan perusahaan.
Alasannya adalah karena keterbatasan bawaan (inherent limitations) pada setiap
struktur pengendalian intern perusahaan antara lain :
1. Kesalahan dalam Pertimbangan
Seringkali terjadi, manajemen dan personil lainnya melakukan pertimbangan yang
kurang matang dalam pengambilan keputusan bisnis, atau dalam melakukan

6
tugas-tugas rutin karena kekurangan informasi, keterbatasan waktu, atau penyebab
lainnya
2. Kemacetan
Kemacetan pada pengendalian yang telah berjalan bisa terjadi karena petugas
salah mengerti dengan instruksi, atau melakukan kesalahan karena kecerobohan,
kebingungan, atau kelelahan
3. Kolusi
Kolusi atau persekongkolan yang dilakukan oleh seorang pegawai dengan
pegawai lainnya, atau dengan pelanggan, atau pemasok, bisa tidak terdeteksi oleh
struktur pengendalian intern
4. Pelanggaran oleh Manajemen
Manajemen bisa melakukan pelanggaran atas kebijakan atau prosedur-prosedur
untuk tujuan-tujuan tidak sah, seperti keuntungan pribadi, atau membuat laporan
keuangan menjadi nampak baik
5. Biaya dan Manfaat
Biaya penyelenggaraan suatu struktur pengendalian intern seyogyanya tidak
melebihi manfaat yang akan diperoleh dari penerapan pengendalian intern
tersebut.

7
DAFTAR PUSTAKA

Tuanakotta, Theodorus M. 2014. Audit Berbasis ISA (International Standars on


Auditing). Jakarta : Salemba Empat.

http://putra-finance-accounting-taxation.blogspot.com/2007/11/sistem-pengendalian-
intern-spi-basic.html diakses 12 April 2017

Pengendalian Internal. https://www.scribd.com/upload-document?


archive_doc=329957268&escape=false&metadata=%7B%22context%22%3A
%22archive_view_restricted%22%2C%22page%22%3A%22read%22%2C
%22action%22%3Afalse%2C%22logged_in%22%3Atrue%2C%22platform
%22%3A%22web%22%7D diakses 12 April 2017