Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah unit pelaksana teknik

Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan

Pembangunan kesehatan suatu atau sebagian wilayah kecamatan. Dan Puskesmas

sebagai unit organisasi fungsional dibidang kesehatan dasar yang berfungsi sebagai

pusat pembangunan kesehatan, membina peran serta masyarakat dan pelayanan

kesehatan dasar secara menyeluruh dan terpadu. Untuk mewujudkan pelaksanaan

fungsi dan program kegiatan puskesmas, maka telah dilengkapi dengan sistem

menejemen seperti , Mini lokakarya, SP2TP, Monitoring bulanan,laporan bulanan,

laporan triwulan, laporan tahunan dan hal yang menunjang pelaksaanannya.

Profil UPT Puskesmas Batua adalah gambaran situasi kesehatan di UPT

Puskesmas Batua yang diterbitkan setiap tahun sekali, Dalam Profil ini memuat

berbagai data tentang kesehatan, yang meliputi data derajat kesehatan, upaya

kesehatan dan sumber daya kesehatan. Profil kesehatan juga menyajikan data

pendukung lain yang berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan, data

sosial ekonomi, data lingkungan dan data lainnya. Data dianalisis dengan analisis

sederhana dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik.

Penerbitan profil UPT Puskesmas Batua tahun 2015 ini adalah agar diperoleh

gambaran keadaan kesehatan di UPT Puskesmas Batua khususnya tahun 2015 dalam

bentuk narasi, tabel, dan gambar.

Profil UPT Puskesmas Batua tahun 2015 diharapkan dapat memberikan data yang

akurat, untuk mengambil keputusan berdasarkan fakta. Selain itu profil ini dapat

1
digunakan sebagai penyedia data dan informasi dalam rangka evaluasi perencanaan,

pencapaian Program kegiatan di UPT Puskesmas Batua tahun 2015 dengan mengacu

kepada Visi Indonesia Sehat 2015 .

B. Tujuan Penyusunan Profil

1. Tujuan Umum

Tujuan dari penyusunan Profil UPT Puskesmas Batua ini adalah untuk

memperoleh dan menghadirkan informasi kesehatan serta faktor-faktor kesehatan

lainnya yang dapat dijadikan sebagai bahan penilaian tercapai atau tidaknya target

kegiatan, yang kelak dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan

langkah-langkah perencanaan selanjutnya

2. Tujuan Khusus

Diperolehnya data/informasi kesehatan di tingkat UPT Puskesmas Batua, yang

menyangkut data-data sebagai berikut : 1. data/informasi derajat kesehatan masyarakat

2. data/informasi perilaku masyarakat di bidang kesehatan 3. data/informasi kesehatan

lingkungan 4. data/informasi yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan

2
BAB II
GAMBARAN UMUM

A. Geografi

Luas Wilayah kerja Puskesmas Batua adalah 1017,01 km dengan batas-

batas adminsistrasi sebagai berikut :

1. Sebelah utara berbatasan dengan kelurahan panaikang

2. Sebelah timur berbatasan dengan kelurahan antang

3. Sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan tamalate

4. Sebelah barat berbatasan dengan kelurahan pandang dan kelurahan

karapuang

Wilayah kerja puskesmas Batua terdiri atas 3 kelurahan Yaitu :

1. Kelurahan Batua terdapat 11 RW dan 53 RT

2. Kelurahan Borong terdapat 11 RW dan 58 RT

3. Keluarahan Tello baru terdapat 11 RW dan 48 RT

Luas tanah Puskesmas Batua adalah 4500 M2, terdiri dari 2 gedung dengan

luas bangunan 147 M2 dan 422 M2. Terdapat 3 rumah dinas dan 1 mobil ambulans.

Puskesmas Batua memiliki 30 posyandu balita, 9 posyandu lansia, 1 poskesdes dan 2

posbindu yang tersebar di 3 kelurahan.

B. Demografi

Wilayah kerja Puskesmas Batua berpenduduk 51.654 jiwa yang terdiri dari

laki-laki 24.157 jiwa dan 26.864 jiwa perempuan, serta jumlah Kepala keluarga

sebanyak 20.832 KK berikut distribusi jumlah penduduk berdasarkan kelurahan

3
Tabel 1.1
Distribusi Penduduk berdasarkan Kelurahan
di Wilayah kerja Puskesmas Batua
tahun 2015
No Kelurahan Jumlah Penduduk Laki laki Perempuan
1 Batua 22.592 10.942 11.650

2 Borong 17.958 7.314 10.644


2 Tello Baru 11.104 5.901 5203
JUMLAH 51.654 24.157 26.864
Sumber Data : Data Penduduk Kelurahan

C. Keadaan Sosial Budaya dan Ekonomi

Penduduk wilayah kerja Puskesmas Batua mayoritas berlatar belakang suku

Makassar dan sebagian besar beragama islam. Perilaku masyarakat Sangat

dipengaruhi oleh adat istiadat setempat, seperti persatuan yang diwujudkan dalam sikap

kegotong royongan yang kokoh. Ini terlihat pada acara-acara seperti selamatan,

pernikahan dan masih banyak lagi acara-acara lain yang sangat mencerminkan budaya

atau adat istiadat setempat. Mata pencaharian penduduk pada umumnya adalah

pegawai dan pekerja swasta. Sarana transportasi yang digunakan adalah angkutan

umum (pete-pete).

D. Keadaan Fasilitas Pendidikan

Tingkat pendidikan/Sumber Daya Manusia sangat berpengaruh terhadap

kesehatan, baik kesehatan secara personal maupun kesehatan lingkungan. Untuk

menunjang sumber daya manusia maka diperlukan sarana pendidikan sebagai sarana

pengembangan sumber daya manusia secara formal.

Berikut adalah tabel distribusi sarana pendidikan yang ada di wilayah kerja Puskesmas

Perawatan Batua.

4
Tabel 2.1
DISTRIBUSI SARANA PENDIDIKAN
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATUA
TAHUN 2015

NO KELURAHAN TK SD/MI SMP SMA/SMK


1. Batua 10 7 3 3

2. Borong 6 4 2 4
3. Tello Baru 5 6 3 3
JUMLAH 21 17 8 10

Sumber Data : Profil PKM Batua 2015

Sebagai faktor predisposisi terhadap perubahan perilaku khususnya bagi pengetahuan

tentang kesehatan, maka diharapkan masyarakat yang berpendidikan tinggi memiliki

kesadaran yang tinggi pula dalam perilaku hidup sehat.

E. Keadaan Fasilitas Kesehatan

Untuk menunjang peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,

maka sangat dibutuhkan fasilitas kesehatan. Fasilitas kesehatan di wilayah kerja

Puskesmas Batua terdiri atas :

Sarana Kesehatan

Puskesmas Batua berlokasi di Jl. Abdullah Daeng Sirua No 338. Terbagi atas ruang

rawat jalan dengan luas bangunan 147 M2 dan ruang rawat inap dengan luas bangunan

422 M2.

Ruang rawat jalan, terdiri dari :

o Ruang Ka. UPT.

o Ruang Tata Usaha

o Loket Kartu

o Kamar Periksa/Poli Umum

o Poli Gigi

5
o Poli Tindakan

o Kamar Obat

o Ruang Imunisasi

o Ruang P2PL

o Laboratorium Sederhana

o Ruang KIA/KB

Ruang Rawat Inap, Terdiri dari :

o Rawat Inap Umum

Kapasitas tempat tidur 10

Tiang Infus

Kamar Mandi

o Rawat Inap Bersalin

Ruang Bersalin dengan kapasitas 3 tempat tidur dan 1 kamar mandi

Ruang Nifas dengan kapasitas 10 tempat tidur dan 2 kamar mandi

o Ruang UGD 24 jam dengan kapasitas 3 tempat tidur dan 1 kamar mandi

o Ruang Perawat/Bidan dengan 1 kamar mandi

o Dapur dengan 1 kamar mandi

30 Unit Posyandu :

Kelurahan Batua : 11 Posyandu

Kelurahan Borong : 12 Posyandu

Kelurahan Tello Baru : 7 Posyandu

9 Unit Posyandu Lansia

Kelurahan Batua : 4 Posyandu

Kelurahan Borong : 2 Posyandu

Kelurahan Tello Baru : 3 Posyandu

2 Unit Posbindu PTM


6
1 Unit kendaraan roda empat sebagai Ambulance.

1 Unit kendaraan roda empat sebagai Mobil Layanan Homecare.

4 Unit kendaraan roda dua ( motor dinas )

Sarana Kesehatan Lainnya :

RSB :1

Bidan Praktek :7

Pengobatan Tradisional :8

Apotik : 20

Tenaga Kesehatan

Jenis Tenaga Jumlah Jenis Tenaga Jumlah

Dokter Umum 3 orang Sanitarian 2 orang

Tata Usaha 1 orang Gizi 3 orang

Dokter Gigi 2 orang Perawat Gigi 1 orang

Dokter Specialist 2 orang Laboran 2 orang

Apoteker 2 orang vssBidan 7 orang

Perawat Umum 16 orang Promkes 1 orang

Assisten Apoteker 1 orang Magang 15 orang

Sumber Data : Tata Usaha PKM Batua

150 Kader Kesehatan Posyandu status aktif, 9 Kader Kesehatan Posyandu

lansia status aktif.

STRUKTUR ORGANISASI

7
BAB III
PEMBANGUNAN KESEHATAN

1. VISI, MISI DAN STRATEGI UPT PUSKESMAS BATUA

Sejak dilantik menjadi Menteri Kesehatan, dr. Endang R. Sedyaningsih, MPH, Dr.

PH. telah menetapkan program jangka pendek 100 hari dan program jangka menengah

tahun 2010 2014 yang disusun dalam sebuah rencana strategis Depkes.

Program 100 hari Menkes mengangkat 4 isu, yaitu (1) peningkatan pembiayaan

kesehatan untuk memberikan Jaminan Kesehatan Masyarakat, (2) peningkatan

kesehatan masyarakat untuk mempercepat pencapaian target MDGs, (3) pengendalian

penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana, serta peningkatan

ketersediaan, pemerataan dan kualitas tenaga kesehatan.

Untuk meningkatkan kinerja Puskesmas Batua, telah ditetapkan Visi dan Misi untuk

mendukung Rencana Strategis Depkes.

1.1. Visi

8
Menjadi Puskesmas dengan pelayanan terbaik yang sehat, nyaman dan mandiri

untuk semua

1.2. Misi

1. Profesinalisme sumber daya manusia

2. Penyediaan sarana prasaran sesuai standar puskesmas

3. Penggunaan sistem informasi manajemen berbasis informasi teknologi

4. Penajaman program pelayanan kesehatan dasar berupa upaya promotif,

preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif

5. Pengembangan program inovasi unggulan

6. Peningkatan upaya kemandirian masyarakat

7. Pererat kemitraan lintas sentor

1.3. Tujuan

Meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat serta

memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi masyarakat diwilayah kerja

Puskesmas Batua.

1.4. Strategi

1. Meningkatkan pelayanan kesehatan (kuratif dan rehabilitatif) di Puskesmas induk

2. Meningkatkan pelayanan promotif dan preventif.

3. Meningkatkan pelayanan kesehatan (kuratif dan rehabilitatif) di Puskesmas

Pembantu dan Puskesmas Keliling.

4. Memperkuat jaringan komunikasi dan koordinasi dengan stake holder

5. Memperkuat jaringan peran serta masyarakat di bidang kesehatan


9
1.5. Budaya Puskesmas

Bekerja Dengan ikhlas, Efisien, Profesional dan Mempunyai Komitmen

Yang Kuat Demi Kepuasan Pasien.

II. BENTUK KEGIATAN

A. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan (kuratif dan

rehabilitatif) di Puskesmas

Mengoptimalkan bentuk pelayanan kesehatan sesuai dengan fasilitas dan

kemampuan yang tersedia

1. Pelayanan registrasi

2. Pelayanan Umum

3. Pelayanan KIA KB

4. Pelayanan gigi

5. Pelayanan imunisasi

6. Pelayanan laboratorium

7. Pelayanan farmasi

B. Mengoptimalkan pelayanan UGD 24 Jam

C. Mengoptimalkan peran SDM sesuai dengan tupoksi pelayanan yang ada

D. Melengkapi fasilitas penunjang pelayanan medis secara bertahap

10
E. Mengoptimalkan pelayanan : secara tepat waktu, standar mutu, efisien

dan dengan keramah tamahan

F. Mengoptimalkan pelayanan rujukan terutama rujukan horisontal (antar lini

pelayanan di puskesmas) dalam rangka mendorong optimaliasi pelayanan

dengan tetap mengoptimalkan pelayanan rujukan vertikal.

G. Mengoptimalkan koordinasi pada semua lini pelayanan puskesmas.

H. Meningkatkan pelayanan promotif dan preventif.

I. Mengoptimalkan petugas jaga layanan klinik sehat meliputi :

1. Konsultasi gizi

2. Konsultasi sanitasi

3. Konsultasi PHBS

4. Konsultasi medis

5. Konsultasi gigi

6. Konsultasi KIA dan KB dll.

J. Meningkatkan pelayanan kesehatan (kuratif dan rehabilitatif) di

Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling.

Mengoptimalkan peranan SDM sesuai dengan tupoksi pelayanan yang

ada

11
Mengoptimalkan pelayanan Puskesmas keliling terutama pada wilayah

yang kesulitan mengakses pelayanan kesehatan ke Puskesmas.

K. Memperkuat jaringan komunikasi dan koordinasi dengan stake holder

Mengoptimalkan koordinasi lintas sektoral tingkat kecamatan , secara aktif

maupun pasif

Membangun komunikasi dengan aparat dan lembaga tingkat kelurahan

dalam rangka memperoleh dukungan untuk implementasi program

kesehatan di tingkat kelurahan

Membangun dan meningkatkan tingkat kepercayaan pelayanan puskesmas

pada masyarakat melalui tokoh masyarakat.

L. Memperkuat jaringan peran serta masyarakat di bidang kesehatan

Membangun komunikasi dan koordinasi dengan kader sebagai jaringan

program dan layanan kesehatan pada masyarakat.

Mengoptimalkan pembinaan petugas puskesmas ke posyandu

Mengoptimalkan peran petugas penanggunjawab wilayah desa

Mengoptimalkan kerja sama lintas program dalam memberdayakan

masyarakat

Mengoptimalkan jaringan komunikasi dan koordinasi serta pelayanan

kesehatan pada institusi pendidikan.

12
BAB IV
SITUASI UPAYA KESEHATAN

Dalam upaya pelaksanaan program kesehatan Puskesmas, ada dua upaya

kesehatan Puskesmas yaitu :

A. Upaya Kesehatan wajib ( Basic six ) puskesmas meliputi :

Kesehatan Ibu, Anak dan KB

Peningkatan Gizi

Promasi Kesehatan

Pemberantasan Penyakit

Penyehatan Lingkungan

Pengobatan

B. Upaya Kesehatan Pengembangan Puskesmas

Upaya kesehatan pengembangan puskesmas dilaksanakan sesuai dengan

masalah kesehatan masyarakat yang ada dan kemampuan puskesmas. Upaya

kesehatan pengembangan Puskesmas Batua yaitu :

Upaya Kesehatan Lansia

Upaya Kesehatan Jiwa

UKS, UKGM

Program penyakit tidak menular

Kesehatan Olahraga

Berikut hasil cakupan upaya program kesehatan Puskesmas Batua mulai bulan

Januari sampai dengan Desember 2015 sebagai berikut

13
A. Hasil Cakupan KIA

Kegiatan KIA terdiri dari kegiatan pokok dan integratif. Kegiatan integratif adalah

kegiatan program lain (misalnya kegiatan imunisasi merupakan kegiatan pokok P 2M)

yang dilaksanakan pada program KIA karena sasaran penduduk program P 2M (ibu

hamil dan anak-anak) juga menjadi sasaran program KIA. Ruang lingkup kegiatan

1. Pemeriksaan Kesehatan Bumil (ANC).

Pemeriksaan kehamilan diukur berdasarkan jumlah pemeriksaan kehamilan

ibu di tempat pelayanan kesehatan. Untuk pertama ( kontak pertama ) disingkat dengan

K1 sedangkan yang lengkap K 4. Berdasarkan data tahun 2014 dari Program KIA

diperoleh K1 dengan persentase cakupan 100% dan K4 dengan persentase cakupan

98.63%. Kondisi ini memberikan gambaran pencapaian sudah memenuhi target. Berikut

adalah grafik pencapaian program KIA tahun 2015.

Gambar 1.1
CAPAIAN PROGRAM KIA
PUSKESMAS BATUA TAHUN 2015

Sumber : Data KIA

14
2. Mengamati perkembangan dan pertumbuhan anak-anak balita, integrasi

dengan program gizi.

3. Memberikan nasihat tentang makanan, mencegah timbulnya masalah gizi

karena kekurangan protein dan kalori dan memperkenalkan jenis makanan

tambahan (vitamin dan garam beryodium). Integrasi program PKM (konseling)

dan Gizi.

4. Memberikan pelayanan KB kepada pasangan usia subur. (Integrasi program

KB).

5. Merujuk ibu-ibu atau anak-anak yang memerlukan pengobatan. Integrasi

program pengobatan.

6. Memberikan pertolongan persalinan dan bimbingan selama masa nifas.

Integrasi dengan program perawatan kesehatan masyarakat.

Angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sepanjang tahun 2015 mulai

Januari s/d Desenber cenderung mengalami peningkatan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi yaitu masyarakat sedikit lebih mengerti akan

pentingnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.

B. Hasil Cakupan KB

Tujuan jangka panjang program KB adalah menurunkan angka kelahiran dan

meningkatkan kesehatan ibu sehingga di dalam keluarganya akan berkembang Norma

Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).

Ruang lingkup kegiatan :

15
1. Mengadakan penyuluhan KB, baik di Puskesmas maupun di masyarakat (pada saat

kunjungan rumah, Posyandu, pertemuan dengan kelompok PKK, dasa wisma dan

sebagainya). Termasuk dalam kegiatan penyuluhan ini adalah konseling untuk

PUS.

2. Penyediaan dan pemasangan alat-alat kontrasepsi, memberikan pelayanan

pengobatan efek samping KB. Dari hasil pendataan yang dilakukan, menunjukkan

bahwa Jumlah Pus tahun 2015 sebanyak 9.802, Peserta KB paling banyak

menggunakan suntikan 1.153 akseptor (76%), menyusul akseptor yang

menggunakan pil 278 akseptor (18 %), IUD 23 akseptor (2%), Implant 63 akseptor

(4 %), Kondom 5 akseptor (0.05 %), sedangkan jenis alat kontrasepsi yang paling

sedikit dipilih adalah MOP/MOW 5 akseptor (0,05 %). Total pencapaian KB

88.37%

Gambar 1.2
CAPAIAN PESERTA KB
PUSKESMAS BATUA TAHUN 2015

16
Sumber : Data KB

2. Mengadakan pembinaan keluarga berencana untuk para dukun bersalin. Dukun

diharapkan dapat bekerja sama dengan petugas kesehatan dan bersedia menjadi

motivator KB untuk ibu-ibu yang mencari pertolongan pelayanan dukun. (Kegiatan

KB di puskesmas diintegrasikan ke dalam program KIA).

C. Hasil Cakupan Pemberantasan Penyakit Menular (P 2M)

Tujuan P2M adalah menemukan kasus penyakit menular sedini mungkin, dan

mengurangi berbagai faktor resiko lingkungan masyarakat yang memudahkan

terjadinya

penyebaran penyakit menular di suatu wilayah, memberikan proteksi khusus kepada

kelompok masyarakat tertentu agar terhindar dari penularan penyakit.

Kasus Penyakit menular yang terdapat di Puskesmas Batua tahun 2015 adalah :

1. Penyakit Menular bersumber pada binatang / Zonosis Disease

a). Rabies

Penyakit ini menular melalui gigitan hewan penular rabies ( anjing, kucing, kera dan

hewan lainnya)

Penyakit Rabies ini adalah penyakit yang memiliki IR yang rendah tetapi memiliki CFR (

Case Fatality Rate ) yang tinggi sehingga penyakit ini sangat berbahaya bila tidak

segera diatasi.

Dari Surveylans Puskesmas Batua pada tahun 2015 ditemukan adanya penderita

sebanyak 4 gigitan anjing , namun tidak ada orang meninggal dengan diagnosa rabies.

17
Tabel 2.1
Distribusi Penderita Gigitan Binatang menurut Kelurahan
di Wilayah kerja Puskesmas Batua
tahun 2015
No Kelurahan Gigitan Binatang
1 Batua 9
2 Borong -
3 Tello Baru 1
JUMLAH 10
Sumber : Data P2 Rabies

b). Malaria

Malaria adalah penyakit menular dan menyerang semua golongan umur

yaitu bayi, anak-anak dan orang dewasa. yang ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Setiap tahun terdapat 300-500 juta kasus malaria di dunia dan penyebab 1 juta

kematian anak. Di daerah yang terjangkit malaria dapat menjadi penyebab utama

kematian dan penghambat pertumbuhan anak.

Di Indonesia , angka penderita Malaria cukup tinggi, mencapai 70 juta atau

35 % dari penduduk Indonesia. Dimasa yang akan datang , penderita malaria akan

meningkat akibat mobilitas penduduk yang relative cepat, perubahan lingkungan antara

lain karena pembagunan wilayah yang kurang memperhatikan aspek kualitas

lingkungan.

Berdasarkan data dari program P2M tahun 2015 , kasus malaria klinis di

wilayah kerja Puskesmas Batua adalah 1 Kasus

Tabel 2.2
Distribusi Penderita Malaria menurut Kelurahan
di Wilayah kerja Puskesmas Batua
tahun 2015

No Kelurahan Jml Malaria klinis


1 Tello Baru 1
JUMLAH 18 1
Sumber : Data P2 Malaria

c). Demam Berdarah Dengue ( Dengue fever )

Penyakit Demam Berdarah Dengue ( DBD ) merupakan penyakit memiliki

kasus yang rendah namun memiliki CFR yang tinggi. Lokasi yang paling sering

mewabah adalah daerah yang berpenduduk padat dengan sanitasi yang buruk.

Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang menular yang

sifatnya akut dan disebabkan oleh virus dengue, yang ditularkan melalui perantaraan

vector nyamuk Aedes Aegypti.

Angka CFR yang tinggi dari penyakit ini sehingga dengan 1 penderita saja

dinyatakan KLB. Sepanjang tahun 2015 sebanyak 17 kasus .

Tabel 2.3
Distribusi Penderita Demam Berdarah menurut Kelurahan
di Wilayah kerja Puskesmas Batua
tahun 2015
No Kelurahan Jml DBD klinis

1 Batua 3

2 Borong 2
2 Tello Baru 12
JUMLAH 17
Sumber : Data P2 DBD

d). Filariasis

Filariasis atau penyakit kaki gajah yang penularannya melalui nyamuk

sebagai vektor. Endemik pada sebagian besar daerah panas lembab di dunia. Tingginya

prevalensi tergantung kepada besarnya infeksi dari reservoir dan vector yang

berlebihan.

Untuk periode tahun 2015, Puskesmas Batua dinyatakan bebas dari kasus

penyakit filariasis.

19
2. Penyakit Menular langsung ( Direct Communicable Disease )

a). Diare

Penyakit diare adalah penyakit yang disebabkan antara lain vibrio, E.Choli,

klostridia dan intoksikasi / keracunan makanan. Merupakan penyakit yang mudah

menular dan sering menimbulkan wabah penyakit terutama pada awal musim

penghujan. Lingkungan yang terkendali, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sangat

berpengaruh terhadap kesehatan seseorang.

Untuk tahun 2015, kasus diare pada BALITA yang ditangani sebanyak 494 kasus,

namun semuanya dapat diatasi dengan baik tanpa menimbulkan korban jiwa.

Tabel 2.4
Distribusi Kasus Diare Pada Balita Yang Tatangani
di Wilayah Kerja Puskesmas Batua
Tahun 2015
No Kelurahan Jml Diare
1 Batua 217
2 Borong 136
2 Tello Baru 141
JUMLAH 494
Sumber : P2 Diare

b). Kusta ( Lepra )

Penyakit Kusta adalah penyakit menular cronis dan disebabkan oleh kuman

kusta mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh

lainnya.

Jumlah kasus penyakit kusta di wilayah kerja Puskesmas Batua selama

tahun 2015 sebanyak 4 kasus yang berada di kelurahan Batua

20
c). Tifoid

Penyakit Typhoid merupakan penyakit yang menyerang system pencernaan

manusia. Penyakit ini dapat ditularkan melalui air dengan lingkungan yang tercemar.

Oleh karena itu sering mewabah pada daerah yang sulit mendapatkan air bersih untuk

dikomsumsi masyarakat.

Berdasarkan data, bahwa jumlah penderita Tifoid di wilayah kerja

Puskesmas Batua tahun 2015 sebanyak 230 penderita.

Tabel 2.5
Distribusi Penderita Tifoid Yang di Tangani Menurut
Kelurahan di Wilayah Kerja Puskesmas Batua
Tahun 2015
No Kelurahan Jml Penderita
1 Batua 89
2 Borong 80
3 Tello Baru 61
JUMLAH 230
Sumber : data P2 Tipoid

d). ISPA ( Infeksi Saluran Pernafasan Akut )

Infeksi Saluran Pernafasan Atas atau yang lebih dikenal dengan ISPA lebih

banyak mengenai kelompok usia muda yang rawan, khususnya Bayi dan Anak Balita.

Dalam program ISPA Penyakit ini digolongkan menjadi tiga, Bukan Pneumonia,

Pneumonia dan Pneumonia berat.

Di dunia, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) jadi penyebab kematian

dari 2 Juta Anak Balita pada tahun 2000. Di Indonesia , ISPA merupakan penyebab

36,4% kematian bayi tahun 1992 dan 32,1 % kematian bayi pada tahun 1995, serta

penyebab 18,2 % kematian pada balita tahun 1992 dan 38,8% tahun 1995.

21
Berdasarkan data dari program ISPA Puskesmas Batua tahun 2015,

Cakupan penderita ISPA bukan pneumoni 378 kasus, dan pneumoni 27 kasus

Penyakit ini ditimbulkan terutama perumahan yang tidak layak, polusi udara

sehingga memungkinkan penularan penyakit ini. Dan faktor resiko lainnya seperti; Gizi

kurang, Status Imunisasi yang tidak lengkap, Menbedung Anak, Pemberian ASI

tidak/kurang Memadai, Riwayat penyakit cronis, dan Orang tua perokok.

e). Tubercolusis (TB)

Penyakit Tuberkulosis disebabkan oleh kuman tuberculosis dengan gejala khas.

Pada umumnya diderita oleh masyarakat yang berpenghasilan rendah dan menyerang

kelompok usia produktif 15 tahun keatas.

Penyakit memiliki daya tular yang tinggi dan untuk mengetahuinya, dideteksi

melalui pemeriksaan dahak di laboratorium terhadap kuman BTA positif.

Fenomena yang terjadi pada penyakit TBC ini dikenal dengan istilah Ice Berg

Phenomena , dimana jumlah penderita yang tidak terlaporkan (muncul) lebih banyak

dari pada yang terlaporkan, sehingga memerlukan perhatian khusus dalam upaya

penemuan kasus.

Di Puskesmas Batua, pada tahun 2015 Angka temuan suspek sebanyak 391 orang

dan 46 orang diantaranya BTA Positif.

22
Tabel 2.6
Hasil Pencapaian Program P2 TB Paru
Periode Januari-Desember 2015
di Wilayah Kerja Puskesmas Batua
NO BULAN SUSPEK BTA (+) KATEGORI I,II,III, ANAK
1. JANUARI 28 7 6,1,2,0
2. FEBRUARI 25 4 3,1,4,0
3. MARET 34 4 4,0,5,0
4. APRIL 26 3 3,0,2,0
5. MEY 29 2 2,0,2,1
6. JUNI 36 5 4,1,6,0
7. JULI 28 4 3,1,1,0
8. AGUSTUS 46 7 6,1,7,0
9. SEPTEMBER 37 3 3,0,9,0
10. OKTOBER 25 1 1,0,4,0
11. NOPEMBER 28 3 2,1,2,1
12. DESEMBER 49 3 2,1,11,0
JUMLAH 391 46 39,7,55,2
Sumber : Data P2 TB Paru

3. Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi

Ada tujuh penyakit infeksi pada anak-anak yang dapat menyebabkan

kematian atau cacat, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal.

Ketujuh penyakit tersebut adalah Poliomyelitis (kelumpuhan), Measles ( Campak ),

Difteri (indrak), Pertusis (batuk rejan ; batuk seratus hari), Tetanus, Tuberculosis (TBC),

Hepatitis B.

a). Poliomyelitis

Penyakit ini adalah merupakan suatu infeksi menular yang terutama mengenai

dan merusak sel-sel motorik dikurno anterior medulla spinalis dan inti motorik batang

otak sehingga menimbulkan kelumpuhan dan atrofi otot.

Pada tanggal 21 April 2005 Indonesia mengalami importasi virus dari Afrika Barat.

23
Menteri Kesehatan melakukan upaya penanggulangan KLB Poliomyelitis di

Indonesia dengan :

1.Memutuskan mata rantai penularan polio (1) dengan

a. Outbreak Response Immunizattion (ORI) :

b. Mopping Up

2. Memutuskan mata Rantai Penularan (2) yaitu dengan PIN ( Pekan Imunisasi Nasional)

a. Campak

Campak Ialah infeksi akut menular yang disebabkan oleh virus. Terutama mengenai

anak umur 6 bulan 5 tahun.

b. Diftheri

Ialah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium

Diftheriae. Sangat mudah menular terutama mengenai anak-anak umur 2 bulan 5

tahun.

c. Pertusis

Adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh Bordetella Pertusis. Nama lain

penyakit ini adalah tussis quinta, whooping cough, batuk rejan, batuk seratus hari.

d. Tetanus

Adalah penyakit toksemia akut yang disebabkan oleh Clostridium Tetani yang

mengeluarkan eksotoksin. Seperti halnya penyakit Rabies, Penyakit tetanus juga

memiliki kasus yang jarang namun mempunyai CFR yang tinggi.

e. TBC

Tuberkulosis anak masih merupakan problema yang kompleks terutama di Negara yang

sedang berkembang. Morbiditas tuberculosis anak merupakan parameter daripada

berhasil atau tidaknya pemberantasan tuberculosis di suatu daerah atau suatu Negara.

f. Hepatitis-

Grafik 2.1
Capaian Imunisasi
Puskesmas Batua Tahun 2015
24
Sumber : Data P2 Imunisasi

D. Hasil Cakupan Peningkatan Gizi

Masalah gizi masih cukup rawan di beberapa wilayah Indonesia, tidak

terkecuali wilayah kerja Puskesmas Batua. Penyebab langsung adalah komsumsi zat

gizi kurang dan infeksi penyakit. Sedangkan penyebab tidak langsung yaitu

ketersediaan pangan ditingkat rumah tangga, asuhan Ibu dan anak . Disisi lain yang

menjadi penyebab utama yakni, kemiskinan , pendidikan, ketersediaan pangan.

Puskesmas harus mengatasi masalah gizi, khususnya pada kelompok ibu hamil dan

balita. Tujuan Upaya Peningkatan Gizi di Puskesmas yaitu meningkatkan status gizi

masyarakat melalui usaha pemantauan status gizi kelompok-kelompok masyarakat

yang mempunyai risiko tinggi (ibu hamil dan balita), pemberian makanan tambahan

(PMT) baik yang bersifat penyuluhan maupun pemulihan.

25
Ruang lingkup kegiatan program gizi:

1. Menimbang berat badan Balita untuk memantau pertumbuhan anak. Dilakukan secara

rutin setiap bulan, baik di Puskesmas maupun di Pos timbang/Posyandu.

2. Pemeriksaan HB (dan BB) pada ibu hamil secara rutin. Kunjungan ibu hamil ke

Puskesmas untuk ANC dilakukan minimal 4 kali sepanjang kehamilannya.

3. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita yang kurang gizi. PMT penyuluhan

(pemberian makanan tambahan) dilakukan melalui demonstrasi pemilihan bahan

makanan yang bergizi dan cara memasaknya. PMT pemulihan dilakukan melalui

pemberian makanan yang sifatnya suplementasi (Vitamin A, Sulfas Ferrosus, Susu dan

sebagainya).

4. Memberikan penyuluhan gizi kepada masyarakat. Kegiatan gizi diintegrasikan ke dalam

program KIA baik di gedung Puskesmas maupun di Posyandu.

5. Pembagian vitamin A untuk Balita 2 x setahun, suplemen tablet besi (sulfas ferrosus)

untuk ibu hamil yang datang ke puskesmas untuk ANC dan pemberian obat cacing

untuk anak yang kurang gizi karena gangguan parasit cacing.

Target program perbaikan gizi telah ditetapkan meliputi, Cakupan distribusi Vitamin A,

cakupan Fe, Kapsul Yodium.

1) Cakupan distribusi Vitamin A

a) Ibu Nifas

Target Cakupan Distribusi Vitamin A tahun 2015 pada Bufas adalah 100 %,

sedangkan cakupan distribusi Vitamin A pada ibu nifas pada tahun 2015

adalah 92,41%.

b) Balita

Cakupan pemberian Vitamin A kepada anak Balita di Puskesmas Batua pada

tahun 2015 adalah 89,2%. Artinya cakupan pemberian Vit. A belum mencapai

26
target 100 %. Berikut adalah grafik cakupan pemberian Vitamin A pada Balita di

wilayah kerja Puskesmas Batua.

Grafik 2.2
Capaian Pemberian Vitamin A

Puskesmas Batua Tahun 2015


Sumber Data : Program Gizi

2) Cakupan Tablet Fe

Target pemberian tablet Fe1 dan Fe3 pada Bumil 80 %, sedangkan pencapaian

Puskesmas Batua Tahun 2015 adalah 100.29% ( Fe1) dan 98.73% (Fe3). Artinya

pencapaian pemberian tablet Fe pada bumil di atas target. Berikut adalah grafik

cakupan tablet Fe pada Bumil tahun 2015.

Grafik 2.3
Capaian Pemberian Tablet FE1 dan FE3

Puskesmas Batua Tahun 2015

27
Sumber: DataProgram Gizi

Indikator status kesehatan juga diukur berdasarkan gizi penduduk menurut ;

Status Gizi, Anemia, KEK, BBLR, GAKI.

1) Status Gizi

Berdasarkan data petugas gizi, akhir Desember 2015 status gizi balita paling banyak

adalah Baik dengan persentase 87.36%. Untuk lebih jelas dapat di lihat pada grafik di

bawah ini :

Grafik 2.4
Capaian Status Gizi
Puskesmas Batua Tahun 2014

28
Sumber: Data program gizi

2) Anemia

Salah satu penyebab kematian pada ibu melahirkan adalah anemia

yang disebabkan kekurangan zat besi (Fe). Dari data KIA diperoleh informasi bahwa

tahun 2014 angka kematian ibu menurun.

Upaya penanggulangan tersebut dilakukan dengan pemberian tablet Fe selama hamil

sebanyak 90 tablet.

3) Bumil KEK dan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah)

Bayi yang dilahirkan dibawah 2500 gram disebut dengan BBLR.

Berbagai faktor penyebab terjadinya BBLR, namun faktor utama adalah gizi ibu selama

hamil kurang (Bumil KEK). Pada masa kehamilan ibu perlu mendapat perhatian khusus

oleh karena dampak yang ditimbulkan bukan

saja pada berat yang tidak cukup, tetapi dengan bayi BBLR memiliki kemungkinan kecil

untuk tumbuh dengan baik, dan akan lebih mudah terserang penyakit

4) GAKI

Dalam rangka penanganan kasus Gizi Kurang khususnya Ibu Hamil

Puskesmas telah melakukan beberapa hal antara lain :

a. Memberikan penyuluhan baik secara perorangan maupun kelompok pada

puskesmas dan posyandu mengenai hal-hal yang akan terjadi apabila kondisi gizi

buruk tidak ditangani atau diatasi dengan tepat.

b. Mengadakan pemantauan melalui kunjungan rumah.

29
c. Mengadakan pengawasan akan kemungkinan-kemungkinan terjadinya kasus-kasus

penyakit sehubungan dengan kondisi kurang gizi.

E. Hasil Kegiatan Kesehatan Lingkungan

Environment atau Lingkungan adalah situasi atau kondisi diluar host dan

agent yang memudahkan interaksi antara keduanya. Faktor ini juga dapat menjadi risiko

timbulnya gangguan penyakit pada host karena lingkungan memberikan peluang agent

untuk berkembang (breeding).

Tujuan Upaya Kesehatan Lingkungan adalah menanggulangi dan

menghilangkan unsur-unsur fisik pada lingkungan sehingga faktor lingkungan yang

kurang sehat tidak menjadi faktor resiko timbulnya penyakit menular di masyarakat.

Ruang lingkup kegiatan ;

a. Inspeksi Sarana Air Bersih

b. Pemeriksaan dan Pengawasan system pembuangan kotoran manusia.

c. Inspeksi Sanitasi Rumah

d. Pemeriksaan dan Pengawasan Sarana pengolahan sampah yang baik

e. Pemeriksaan dan Pengawasan Sarana Pembuangan Air Limbah

f. Pemeriksaan dan Pengawasan terhadap Tempat-Tempat Umum.

g. Melakukan pemberantasan jentik dan pengendalian vektor.

a. Sarana Air Bersih.

30
Air merupakan unsur yang sangat esensial bagi pemeliharaan berbagai bentuk

kehidupan semua mahluk termasuk manusia. Pemenuhan kebutuhan akan air haruslah

memenuhi dua syarat yaitu kuantitas dan kualitas.

Kuantitas air yang diperlukan untuk berbagai penggunaan oleh masyarakat

adalah berbeda-beda, tergantung pada tingkat sosial budaya, suhu atau iklim, dan

ketersediaanya yang ditentukan oleh berbagai faktor. Syarat kualitas meliputi

persyaratan fisik, kimiawi dan bakteriologik.

Gambar 3.1
PERSENTASE AKSES SARANA AIR BERSIH BERDASARKAN JENISNYA
PUSKESMAS BATUA TAHUN 2015

Sumber : p2 kesling

Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan terhadap sarana air bersih di wilayah

kerja Puskesmas Batua, yang memenuhi syarat fisik adalah sebagai berikut : air ledeng

84 %, Sumur gali 11%, Sumur Bor 5 %, dan Sumur Pompa Tangan 0%

b. Jamban keluarga

31
Jamban penting dalam kehidupan kita, seperti pentingnya makan dan minum,

karena kita setiap hari makan dan minum, maka kitapun harus mengeluarkannya setiap

hari. Untuk mengeluarkannya harus mempunyai tempat khusus, tempat itulah yang

disebut jamban.

Membuang tinja di sembarang tempat dapat menularkan penyakit , seperti

Diare, Disentri dan Kolera. Berikut adalah grafik distribusi akses jamban keluarga di

wilayah kerja Puskesmas Batua tahun 2015.

GRAFIK 3.2
DISTRIBUSI AKSES JAMBAN KELUARGA

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATUA TAHUN 2015

32
Sumber : Dataprogram Sanitasi

c. Sarana Pembuangan Air Limbah ( SPAL )

Menurut Anwar (2001) yang dimaksud degan air limbah atau air kotor adalah air

yang tidak bersih dan mengandung berbagai zat yang bersifat membahayakan

kehidupan manusia atau hewan dan lasimnya muncul karena hasil perbuatan manusia

dan industrialisasi.

Untuk mencegah penyakit serta pencemaran akibat air limbah, maka perlu

dibuatkan Saluran Pembuangan Air Limbah dari rumah-rumah/ sumber-sumber air

limbah sebelum di lakukan pengolahan lebih lanjut. Air limbah yang dibiarkan tergenang,

akan menimbulkan pencemaran tanah serta menjadi tempat berkembang biaknya bibit

penyakit. Berikut adalah grafik distribusi pemanfaatan SPAL menurut jenisnya di wilayah

kerja Puskesmas Batua tahun 2015.

GRAFIK 3.3
DISTRIBUSI PENGELOLAAN LIMBAH KELUARGA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATUA

33
TAHUN 2015

Sumber: data program sanitasi

d. Sarana Pengolahan Sampah

Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan dua tujuan:

34
1. Mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis

2. Mengolah sampah agar menjadi material yang tidak akan bagi lingkungan

hidup.

Cara-cara Pengelolaan Sampah

1. Daur-ulang

2. Pengkomposan

3. Pengurugan sampah

Berikut adalah grafik distribusi sarana penanganan sampah di wilayah kerja Puskesmas

Batua tahun 2015

GRAFIK 3.4
DISTRIBUSI SARANA KEPEMILIKAN TEMPAT SAMPAH
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATUA

TAHUN 2015

35
Sumber: data program sanitasi

e. Pemeriksaan dan Pengawasan TTU

Tempat-tempat umum merupakan lingkungan dimana banyak dilakukan interaksi/

aktifitas oleh banyak orang, sehingga perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan untuk

menjaga agar tempat-tempat umum tersebut tetap terpelihara kebersihan lingkungannya.

Lingkungan yang tidak saniter akan memudahkan penularan penyakit yang membahayakan

keselamatan banyak orang.

F. Pengobatan

Program pengobatan di Puskesmas Batua merupakan bentuk pelayanan

kesehatan dasar yang bersifat kuratif. Masyarakat cenderung memanfaatkan pelayanan

Puskesmas hanya untuk mendapat pelayanan pengobatan.

Ruang lingkup kegiatan :

Pelayanan pengobatan rawat jalan terdiri dari poli umum, poli gigi, KIA/KB dan

pelayanan pengobatan rawat Inap yang terbagi atas rawat inap umum dan rawat inap

bersalin

a) Rawat Jalan

TABEL 4.1
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN
DI PUSKESMAS BATUA
TAHUN 2015
JUMLAH JENIS KUNJUNGAN

NO BULAN TOTAL
UMUM JKN LUAR WILAYAH

36
1. JANUARI 1557 2241 473 4271
2. FEBRUARI 1612 2232 181 4025
3, MARET 1742 2434 486 4662
4 APRIL 1684 2387 311 4382
5 MEI 1542 2021 231 3794

6 JUNI 1542 2038 203 3783


7 JULI 1300 1782 236 3318
8 AGUSTUS 1517 2010 268 3795
9 SEPTEMBER 1515 1857 216 3588
10 OKTOBER 1506 2031 180 3717
11 NOVEMBER 1330 1956 200 3486
12 DESEMBER 1315 1557 183 3055
JUMLAH 18162 24546 3168 45876

Sumber: data kunjungan pengobatan

GRAFIK 4.1
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATUA


TAHUN 2015

Sumber: data kunjungan pengobatan


b) Rawat Inap Umum
TABEL 4.2
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT INAP UMUM
DI PUSKESMAS BATUA TAHUN 2015
JUMLAH JENIS KUNJUNGAN

37
NO BULAN TOTAL

UMUM JKN
1. JANUARI 61 29 90
2. FEBRUARI 39 25 64
3, MARET 39 26 65
4 APRIL 26 23 49
5 MEI 36 26 62
6 JUNI 32 21 53
7 JULI 30 23 53
8 AGUSTUS 31 19 50
9 SEPTEMBER 35 17 52
10 OKTOBER 32 15 47
11 NOVEMBER 30 13 43
12 DESEMBER 25 18 43
JUMLAH 416 255 671
Sumber: data pasien rawat inap

GRAFIK 4.2
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT INAP UMUM
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATUA

TAHUN
2015

Sumber: data pasien rawat inap

b) Rawat Inap Bersalin

TABEL 4.3
38
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT INAP BERSALIN
DI PUSKESMAS BATUA TAHUN 2015
JUMLAH JENIS KUNJUNGAN

NO BULAN TOTAL
UMUM JKN
1. JANUARI 22 22 44
2. FEBRUARI 15 22 37
3, MARET 21 33 54
4 APRIL 17 25 42
5 MEI 20 33 53
6 JUNI 28 32 60
7 JULI 30 31 61
8 AGUSTUS 29 30 59
9 SEPTEMBER 28 19 47
10 OKTOBER 30 17 47
11 NOVEMBER 26 17 43
12 DESEMBER 21 23 44
JUMLAH 287 308 595
Sumber: data pasien rawat inap

GRAFIK 4.3
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT INAP BERSALIN
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATUA

TAHUN 2015

39
Sumber: data pasien rawat inap

Grafik 4.4
10 besar penyakit di wilayah kerja Puskesmas Batua
Tahun 2015

Sumber: data penyakit LB1


G. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

40
Tujuan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat adalah untuk meningkatkan

kesadaran , melalui upaya promosi kesehatan sehingga masyarakat dengan sadar mau

mengubah perilakunya menjadi perilaku sehat.

Penyuluhan Kesehatan Masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan

dari tiap-tiap program puskesmas. Kegiatan penyuluhan kesehatan dilakukan pada

setiap kesempatan oleh petugas , apakah di klinik, rumah dan kelompok-kelompok

masyarakat.

Di tingkat Puskesmas Batua, semua kegiatan penyuluhan kesehatan dikoordinir

oleh petugas Promkes.. Koordinator membantu para petugas puskesmas dalam

mengembangkan teknik dan materi penyuluhan.

H. Usaha Kesehatan Sekolah

Tujuan UKS adalah meningkatkan derajat kesehatan anak dan lingkungan sekolah.

Ruang lingkup kegiatan :

Membina sarana keteladanan gizi berupa kantin dan sarana keteladanan

kebersihan lingkungan.

Membina kebersihan perseorangan peserta didik.

Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan secara aktif dalam

pelayanan kesehatan melalui kegiatan dokter kecil.

Penjaringan kesehatan peserta didik kelas I

Pemeriksaan kesehatan periodic sekali setahun untuk kelas II sampai VI dan

guru berupa pemeriksaan kesehatan sederhana.

Immunisasi peserta didik kelas I dan VI

Pengobatan ringan pertolongan pertama

Penanganan kasus anemia gizi

41
Penjaringan kesehatan peserta didik di wilayah kerja Puskesmas Batua

tahun 2015 dapat di lihat pada grafik berikut:

Grafik 5.1
Cakupan Pelayanan Kesehatan Peserta Didik Siswa SD/MI Di
Wilayah Kerja Puskesmas Batua

Sumber: Data Program UKS

I. Perawatan Kesehatan Masyarakat

Tujuan :

o Memberikan pelayanan perawatan secara menyeluruh (comprehensive health

care) kepada pasien dan keluarganya di rumah pasien.

o Memberikan konseling kepada anggota keluarga untuk mengenali kebutuhan

kesehatannya sendiri dan cara-cara penanggulangannya disesuaikan dengan

batas-batas kemampuan mereka.

42
o Menunjang program kesehatan lainnya dalam usaha pencegahan penyakit,

peningkatan dan pemulihan kesehatan masyarakat.

Ruang lingkup kegiatan ;

Melaksanakan perawatan kesehatan perorangan, keluarga dan kelompok-

kelompok masyarakat lainnya. Semua kegiatannya dilakukan di luar gedung puskesmas

yaitu di tingkat rumah tangga.

J. Kesehatan Gigi

Tujuan Usaha Kesehatan Gigi adalah untuk menghilangkan dan mengurangi

gangguan kesehatan gigi dan mempertinggi kesadaran kelompok masyarakat tentang

pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi.

Ruang lingkup kegiatan ;

a. Melakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan perawatan gigi secara rutin untuk

anak-anak sekolah dan ibu hamil.

b. Penyuluhan kesehatan gigi di sekolaH

c. Pelayanan medik gigi dasar, meliputi

d. Pencatatan dan Pelaporan

BAB V
MASALAH DAN HAMBATAN

A. MASALAH

1. Pencatatan : Sejalan dengan perkembangan teknologi masa kini, sistem

pencatatan semua unit kegiatan masing program harusnya sudah dilakukan dengan

sistem koputerisasi, namum sarana computer masih terbatas dan dalam


43
pengoperasiannya dibutuhkan latihan untuk bisa melakukan pencatatan dengan

baik, hal inilah yang menjadi kendala di Puksemas Perawatan Batua bahwa tidak

semua penanggung jawab program mampu mengoperasikan komputer dengan

baik, sehingga pencatan masih dilakukan secara manual.

2. Pelaporan : pelaksanaan pelaporan masih sangat bersifat rutinitas ( tergantung

permintaan data sesuai format ) sehingga petugas tidak dapat mengoreksi hasil

kerjanya, sama halnya dengan pencatatan seperti diatas perlu juga adanya

pelaporan dengan komputerisasi untuk menjaga dan memberikan kualitas dan

faliditas dari perlaporan.

3. Hasil : Hasil kegiatan setiap program, baik di dalam gedung maupun di luar gedung

seharusnya di catat sebagai bahan pembuatan laporan yang kemudian akan

dilakukan sebagai bahan evaluasi, namun tidak jarang kegiatan yang dilakukan

tidak di dokumentasikan dalam bentuk catatan, sehingga pada saat dilakukan

pemeriksaan, petugas tidak bisa memberikan penjelasan yang disertai bukti

pencatatan. pencatatan dan pelaporan program pada tiap-tiap unit sangat bervariasi

bahkan banyak terjadi penurunan sehigga hal-hal ini perlu dievaluasi secara

seksama factor penyebabnya.

4. Pembinaan dan Pelatihan staf : Perlu adanya peningkatan pembinaan staf

puskesmas baik dalam bentuk bimbingan maupun dalam bentuk pelatihan pada

semua program. Walaupun sudah ada pelatihan yang dilaksanakan oleh dinas

kesehatan kabupaten dan dinas kesehatan Propinsi, tapi tidak semua program

sehingga hanya beberapa staf yang dapat mengikuti pelaksanaannya. Atau

pengadaan instruktur computer untuk tiap puskesmas bila akan diprogramkan

system pencatatan dan pelaporan secara komputerisasi dipuskesmas.

44
5. Peralatan Medis : peralatan dan perlengkapan medis untuk ukuran puskesmas

sudah boleh di bilang lengkap, namun yang menjadi masalah ialah kedisiplinan dan

kesadaran dari petugas kesehatan dalam menggunakan dan memelihara perlatan

tersebut, sehingga banyak peralatan yang tidak bisa lagi difungsikan.

6. Sarana sanitasi Puskesmas : sarana sanitasi puskesmas seperti Jamban, Saluran

Pemuangan Air Limbah ada yang tidak berfungsi dengan baik karena mengalami

kerusakan.

B. HAMBATAN

1. Lintas Sektor : kerja sama lintas sector belum terpadu dengan sempurna antara

instansi terkait seperti Kecamatan, Kelurahan, Diknas, serta PKK sehingga

kegiatan belum berjalan sebagai mana yang diharapkan. Selain institusi terkait

yang dimaksud di atas, kerjasama dengan pemerintah setempat juga perlu lebih di

tingkatkan untuk mendukung setiap program kesehatan di lapangan.

2. Tokoh Masyarakat : organisasi yang ada dimasyarakat seperti LKMD adalah

tempat tokoh masyarakat, tapi karena belum berfungsinya peranan LKMD dengan

baik dimana masih banyak tokoh masyarakat yang kurang berperan dalam

kegiatan kesehatan. Masih kurangnya partisipasi masyarakat untuk menjadi kader

serta banyaknya kader yang drop out sehingga ada beberapa posyandu yang

kurang maju dalam perkembangan kegiatan kesehatan.

3. Data Penduduk : Pencatatan jumlah penduduk menurut golongan umur baik

ditingkat kecamatan maupun ditingkat kelurahan tidak sesuai dengan data yang

ada di Puskesmas, hal ini disebabkan oleh karena kerjasama dalam melakukan

validasi data sasaran setiap tahun antara data Puskesmas dengan pemerintah

setempat belum berjalan dengan baik.

45
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

1. Pada tahun 2015 Puskesmas Batua telah melaksanakan 6 program pokok

(Basic Six Program) ditambah 5 program tambahan

2. Pengukuran pencapaian hasil kegiatan untuk beberapa program seperti KIA,

GIZI, Imunisasi, telah dapat dievaluasi karena adanya target yang telah

46
ditetapkan oleh Dinas kesehatan tetapi untuk program-program lainnya yang

belum punya target agak sulit dievaluasi sehingga pelaksanaan evaluasi hanya

dengan menggunakan perbandingan hasil kegiatan tahun lalu untuk mengukur

keberhasilan program tersebut.

3. Dalam pelaksanaan evaluasi laporan tahunan, digunakan taget dengan

mengacu pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) agar lebih mudah dalam

meningkatkan hasil kerja program tersebut, walaupun beberapa program dapat

diukur melalui stratifikasi.

B. SARAN

1. Perlu adanya motivasi atau pembinaan bagi setiap petugas program dalam

bentuk pelatihan baik dipuskesmas maupun di Dinas Kesehatan pada masing-

masing penanggung jawab program.

2. Untuk pelaksanaan pencatatan dan pelaporan sekiranya dilakukan pelatihan

komputer untuk penanggungjawab tiap-tiap program dalam rangka pencapaian

faliditasi data.

3. Peningkatan supervisi dan bimbinngan dari setiap seksi dari dinas kesehatan

dalam upaya peningkatan kualitas dan cakupan program.

4. Perlu adanya Umpan balik serta tanggapan dari tingkat dinas atas laporan rutin

yang dibuat puskesmas baik laporan bulanan dan triwulan juga teguran tertulis

bila terjadi kesalahan dan kekeliruan dalam pencatatan serta pelaporan,

sehingga petugas dapat memperbaiki dalam rangka peningkatan program

selanjutnya.

5. Penambahan petugas tehnisi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap

program yang ada sehingga tidak terjadi banyaknya tugas rangkap.

6. Dalam pelaksanaan program-program baru perlu dibentuk Tim perumus agar

dapat memantau dan mengevaluasi kemajuan pelaksanaan program tersebut.

47
7. Diharapakan kepada pemerintah setempat ( Camat dan Lurah ) serta institusi

lintas sektor untuk senantisa mendukung dan menjalin kerjasama yang baik

dalam melaksanakan program kesehatan di masyarakat.

BAB VII
PENUTU P

Evaluasi bidang kesehatan dengan menilai derajat kesehatan dari beberapa

aspek diantaranya angka kematian, angka kesakitan dan status gizi. Aspek ini

dipengaruhi oleh upaya kesehatan yang dilakukan melalui upaya peningkatan,

pemerataan pelayanan kesehatan

Sedangkan upaya kesehatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu

sumber daya manusia, sumber daya sarana dan prasarana dan sumber dana.

48
Di era Desentralisasi, data dan Informasi kesehatan sangat penting artinya

baik dalam menunjang perencanaan kesehatan maupun sebagai bahan pertimbangan

dalam pengambilan keputusan. Untuk menjawab kepentingan diatas, maka profil ini

disusun setiap tahunnya yang memberikan gambaran tentang kondisi kesehatan di

wilayah kerja Puskesmas Batua dalam bentuk persentase pencapaian Upaya Program

Puskesmas. Profil ini disajikan dalam bentuk teks, table, gambar ( grafik ) untuk

mempermudah menganalisis masalah kesehatan.

Progam kesehatan di era Desentralisasi terjadi beberapa perubahan terutama

dalam hal perencanaan kesehatan yang semakin dibutuhkan. Sementara dalam hal

pendanaan kondisinya masih jauh dari anggaran yang layak untuk bidang kesehatan.

Demikian hasil sajian kami, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

49