Anda di halaman 1dari 24

ELEKTROKARDIO

GRAM

By :
LENTA FERNANDO,S.Kep
ELEKTROKARDIOGRAFI
PENDAHULUAN

Elektrokardiografi, adalah ilmu yang mempelajari aktifitas listrik jantung. Sedangkan


Elektrokardiogram (EKG) adalah suatu grafik yang mengambarkan rekaman listrik
jantung.kegiaan listrik jantung dalam tubuh dapat dicata dan di rekam melalui elektroda-
elektroda yang dipasang pada permukaan tubuh. Kelainan susunan listrik jantung akan
meninbulkan kelainan gambaran EKG. Ekg sangat berguna dalam membanu menegakkan
diagnose beberapa penyakit jantun, akan tetapi klinis pasien tetap lebih penting dibandingkan
dengan EKG, sebap sering kelainan EKG ditemukan pada orang normal atau kebalikan
gambaran EKG normal didapakan pada orang yang menderita kelainan jantung.

EKG sangat berguna dalam menentukan kelainan seperti berikut : Gangguan irama
jantung (disritmia) , Hipertrofi Atrium & Ventrikel, Iskemia/infark otot Jantung, Perikarditis dan
efek beberapa obat obatan , kelainan elektrolit, serta penilaian fungsi pacu jantung.

ANATOMI JANTUNG DAN SISTEM KONDUKSI

Jantung terdiri dari empat ruang yang berfungsi sebagai pompa yaitu Atrium kanandan
Atrium kiri serta Ventrikel kanan dan Ventrikel kiri. Hubungan fungsional antara Atrium
dan Ventrikel diselenggarakan oleh suatu system jaringan susunan hantar khusus yang
menghantarkan impuls listrik dari atrium ke Ventrikel. System tersebut terdiri dari Nodus
SA (SA Node), Nodus AV (AV node), berkas His dan serabut purkinye.

1. NODUS SA (SA Node)


Terletak pada pertemuan antara vena kava superior dengan atrium kanan. Sel-sel
dalam Nodus SA secara otomatis dan teratur mengeluarkan impuls dengan
frekuensi 60-100 x/mnt
2. NODUS AV (AV Node)
Terletak di atas sinus koronarius pada dinding posterior Atrium kanan. Sel-sel
dalam Nodus AV mengeluarkan impuls lebih rendah dari Nodus SA yaitu 40-60
x/mnt.
3. BERKAS HIS (His Bundle)
Nodus AV kemudian menjadi berkas HIS yang menembus jaringan pemisah
Miokardium Atrium dan Miokardium Ventrikel, dan berjalan pada septum Ventrikel
yang kemudian bercabang dua menjadi berkas kanan ( Right Bundle Branch ) dan
berkas kiri (Left bundle Branch). RBB dab LBB kemudian menuju Endokardium
Ventrikel kanan dan kiri. Berkas tersebut bercabang-cabang menjadi serabut
purkinje.
4. Serabut purkinje mampu mengeluarkan impuls dengan frekuensi 20-40 x/menit.

ELEKTROFISIOLOGI SEL OTOT JANTUNG


Sel otot jantung dalam keadaan istirahat permukaan luarnya bermuatan positif dan
bagian dalamnya bermuatan negative. Perbedaan potensial muatan melalui membrane sel ini
kira-kira 90 mv.
Terdapat 3 ion yang mempunyai fungsi penting dalam elektrofisiologi sel, yaitu ; Kalium,
Narium, dan Kalsium. Rangsangan listrik dapat secara tiba-tiba menyebapkan masuknya ion
natrium dengan cepat dari cairan ekstrasel ke dalam sel, sehingga menyebapkan muatan
dalam sel lebih positif jika di bandingkan dengan luar sel.
Proses terjadinya perubahan muatan akibat rangsangan dinamakan DEPOLARISASI,
setelah depolarisasi sel terjadi pengembalian muatan ke keadaan semula yang disebut
REPOLARISASI. Seluruh proses tersebut dinamakan AKSI POTENSIAL.
Aksi potensial dibagi atas 5 fase sesuai dengan elektrofisiologi yang terjadi.

Potensial aksi terdiri dari 5 (lima) fase, yaitu :

a. Fase Istirahat ( Fase 4 )


Pada keadaan istirahat bagian luar sel jantung bermuatan positif dan bagian dalam
bermuatan negative. Sel tersebut mengalami polarisasi. Dalam keadaan polarisasi sel
lebih permeable terhadak K+ dari pada Na+, Sehingga sebagian kecil K+ merembes ke
luar sel. Dengan hilangnya K+, maka bagian dalam sel menjadi negative.

b. Fase depolarisasi cepat (Fase 0)


Depolarisasi sel disebabkan oleh meningkatnya permeabilitas membrane terhadap Na +
sehingga Na+ mengalir dari luar kedalam sel lebih cepat. Akibatnya muatan didalam sel
menjadi positif sedangkan di luar sel menjadi negative.

c. Fase polarisasi partial (Fase I)


Segera setelah terjadi depolarisasi terdapat sedikit perubahan akibat masuknya Cl-
kedalam sel sehingga muatan positif didalam sel menjadi berkurang.

d. Fase Plateu atau Stabil (Fase II)


Fase I diikuti keadaan stabil yang agak lama sesuai dengan masa refrakter absolute
dari miokardium. Selama fase ini tidak ada perubahan muatan listrik. Terdapat
keseimbangan antara ion positif yang masuk dan keluar. Yang menyebabkan fase
plateu ini adalah aliran Ca++ dan Na+ kedalam sel secara perlahan-lahan yang
diimbangi keluarnya K+ dari dalam sel.

e. Fase repolarisasi cepat (Fase III)


Pada fase ini muatan Ca++ dan Na+ secara berangsur-angsur tidak mengalir lagi dan
permeabilitas terhadap K+ sangat meningkat sehingga K+ keluar dari sel dengan cepat.
Akibatnya muatan positif didalam sel menjadi sangat berkurang sehingga pada
akhirnya muatan didalam sel menjadi relative negative dan muatan diluar sel menjadi
relative positif.

1. Potensial Aksi Otot Jantung


Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung, yaitu sel-sel otoritmik dan sel-sel kontraktil. Sel
otoritmik (10% dari sel otot jantung), tidak berkontraksi tetapi mengkhususkan diri
mencetuskan dan menghantarkan potensial aksi yang bertanggung jawab untuk kontraksi
sel-sel pekerja. Sedangkan sel kontraktil (90% dari sel-sel otot jantung), Yang melakukan
kerja mekanis (memompa). Sel-sel ini dalam keadaan normal tidak menghasilkan sendiri
potensial aksi.
A. Potensial aksi sel-sel otoritmik
Disel-sel otoritmik jantung, potensial membrane tidak menetap antara potensial-
potensial aksi. Setelah suatu potensial aksi, membrane secara lambat mengalami
depolarisasi atau bergeser ke ambang akibat inaktivasi saluran K+. Pada saat yang
sama ketika sedikit K+ ke luar sel karena penurunan K+ dan Na+, yang
permeabilitasnya tidak berubah , terus merembes masuk kedalam sel. Akibatnya
bagian dalam secara perlahan menjadi kurang negative, yaitu membrane secara
bertahap mengalami depolarisasi menuju ambang. Setelah ambang tercapai, dan
saluran Ca++ terbuka, terjadi influks Ca++ secara cepat, menimbulkan fase naik dari
potensial aksi spontan. Fase turun disebabkan oleh efluks cepat K+ akibat pengaktifan
saluran K+. Inaktivasi saluran-saluran ini setelah potensial aksi usai menimbulkan
depolarisasi lambat berikutnya mencapai ambang.

Sebuah potensial aksi yang dimulai di Nodus SA pertama kali menyebar ke dua atrium.
Penyebaran impuls tersebut di permudah oleh dua jalur penghantar atrium khusus, Jalur antar
atrium dan jalur antar nodus. Nodus AV adalah satu-satunya titik tempat potensial aksi dapat
manyebar dari atrium ke ventrikel diperlancar oleh system penghantar ventrikel khusus yang
terdiri dari dari berkas his dan serat-serat purkinye.

Setelah dimulai dinodus SA potensial aksi menyebar keseluruh jantung. Agar jantung berfungsi
secara efisien, penyebar rangsangan (eksitasi) harus memenuhi tiga criteria :
Eksitasi dan kontraksi atrium harus selesai sebelum kontraksi ventrikel dimulai.
Eksitasi serat-serat otot jantung harus dikoordinasi untuk memastikan bahwa setiap bilik
jantung berkontraksi sebagai satu kesatuan untuk menghasilkan daya pompa yang efisien.
Pasangan atrium dan pasangan ventrikel harus secara pungsional terkoordinasi, sehingga
ke dua anggota pasangan tersebut berkontraksi secara simultan.

B. Potensial aksi sel-sel kontraktil


Potensial aksi di sel kontraktil jantung cukup berbeda dari potensial aksi di sel otoritmik
jantung. Potensial membrane sel kontraktil jantung tetap berada dalam potensial istirahat
sebesar -90 mV sampai tereksitasi. Serupa dengan sel-sel yang dapat tereksitasi lainnya,
fase naik pada potensial aksi disebabkan oleh masuknya (influks) cepat Na+ dan fase turun
oleh keluarnya (efluks) cepat K+. Yang khas untuk sel kontraktil jantung adalah bahwa
potensial membrane dipertahankan dekat dengan potensial aksi selama beberapa ratus
milidetik. Fase datar dari potensial aksi selama beberapa ratus milidetik. Fase datar dari
potensial aksi ini terjadi akibat influks lambat Ca++ disertai dengan penurunan mencolok
permeabilitas K+.

2. Pengaturan irama dan konduksi dalam jantung oleh syaraf jantung.


Jantung dipersyarafi oleh syaraf parasimpatis dan syaraf simpatis. Syaraf parasimpatis
( vagus) terutama disebarkan ke SA node dan AV node sebagian kecil akan menyebar ke
otot kedua atrium dan ke otot ventikel dalam jumlah yang sangat sedikit. Sebaliknya,syaraf
simpatis di sebarkan ke semua bagian jantung, disertai dengan pengaruh yang kuat pada
otot ventrikel demikian juga dengan semua bagian lain.
A. Syaraf Parasimpatis
Pengaruh rangsangan syaraf parasimpatis adalah memperlambat atau bahkan
menghambat irama jantung dan konduksi (ventikular ascape). Rangsangan syaraf-
syaraf parasimpatis yang menuju ke jantung akan menyebabkan pelepasan hormone
asetilkolin pada ujung syaraf vagus yang akan menyebabkan :
Menurunnya frekwensi irama nodus sinus
Menurunnya eksatibilitas serat-serat penghubung A-V yang terletak diantara otot-otot
atrium dan nodus A-V , sehingga akan memperlambat kecepatan pompa jantung
sering sampai setengah dari normal. Tetapi rangsang vagus yang kuat dapat
menghentikan rangsangan ritmik dari nodus sinus atau menghambat penjalaran
impuls jantung yang melalui penghubung A-V.
B. Syaraf Simpatis
Pada dasarnya, rangsangan saraf simpatis pada jantung akan menimbulkan pengaruh
yang berlawanan dengan pengaruh yang di timbulakan akibat rangsangan vagus, yaitu
sbb:
Meningkatkan kecepatan lepasan nodus SA
Meningkatkan kecepatan konduksi serta tingkat eksatibilitas disemua bagian jantung
Meningkatkan kekuatan kontraksi semua otot jantung, baik otot atrium maupun otot
ventrikel.

Secara ringkas dapat di jelaskan bahwa rangsangan saraf simpatis akan meningkatkan seluruh
aktifitas jantung. Rangasangan yang maksimal hamper dapat meningkatkan frewkensi denyut
jantung samapi 3 kali lipat dan dapat meningkatkan seluruh kekuatan kontraksi sampai 2 kali
lipat.

E INT E
X
145Mm RA-
15Mm 70
N T CE
m
C 3Mm 10 13
mv
aK+ R
5 LL.
-7 2m
145 -100mv
a+ A
M M v
+
+ C
m m
EL
L.

SADAPAN EKG
Dinamakan sadapan bipolar karena sadapan ini hanya merekam perbedaan potensial
dari 2 elektroda, sadapan ini ditandai dengan angka romawi I, II, dan III.

Sadapan I : Merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan tangan
kiri (LA), dimana tangan kanan bermuatan (-) dan tangan kiri bermuatan
(+).

Sadapan II : Merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan kaki kiri
(LF) , di mana tangan kanan bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+)

Sadapan III : Merekam beda potensial anara tangan kiri (LA) dengan kaki kiri (LF)
Dimana tangan kiri bermuatan (-) dan kaki kiri bermuata (+).

Ketiga sadapan ini dapat digambarkan sebagai sebuah segitiga sama sisi ( segitiga
EINTHOVEN )

SADAPAN UNIPOLAR
Sadapan Unipolar ini terdiri dari 2, yaitu sadapan unipolar ekstremitas dan unipolar prekordial.

Sadapan unipolar ektremitas


Merekam besar potensial listrik pada satu ekstremitas, elektroda eksplorasi diletakkan pada
ekstremitas yang akan di ukur. Gabungan elektroda elektroda pada ektremitas lain membentuk
elektroda indiferen ( potensial 0 ).

Sadapan aVR : merekam potensial listrik pada tangan kanan (RA), di mana tangan
kanan bermuatan (+), tangan kiri dan kaki kiri membentuk
elektroda indiferen.

Sadapan aVL : Merekam potensial listrik jantung pada tangan kiri (LA), di mana tangan
kiri bermuatan (+) tangan kanan dan kaki kiri membentuk elektroda
indeferen.
Sadapan aVF : Merekam potensial listrik pada kaki kiri (LF), dimana kaki kiri bermuatan
(+), tangan kanan dan tangan kiri membentuk elektroda indeferen.

Sadapan unipolar prekordial


Merekam besar potensial listrik jantung dengan bantuan elektroda eksplorasi yang di tempakan
di beberapa tempat pada dinding dada. Elektroda indeferen diperoleh dengan menggabungkan
ketiga elektroda ekstremitas.

Sadapan V1 : Ruangan interkosta IV garis sternal kanan


Sadapan V2 : Ruang interkosta IV garis sterna kiri
Sadapan V3 : Pertengahan antara V2 dan V4
Sadapan V4 : Ruang interkosta V garis midklavikula kiri
Sadapan V5 : Sejajar V4 garis aksila depan
Sadapan V6 : Sejajar V4 garis aksila tengah

Umumnya perekaman EKG lengkap di buat 12 lead, akan tetapi pada keadaan tertentu
perekaman di buat V7,V8, V9 atau V3R, V4R.

SADAPAN BIPOLAR EKREMITAS


SADAPAN UNIPOLAR EKSTREMITAS

SADAPA UNIPOLAR PERICORDIAL


KERTAS EKG
Kertas EKG merupakan kertas grafik yang terdiri dari garis horizontal dan vertical dengan jarak
1 mm. garis yang lebih tebal terdapat pada setiap 5 mm. garis horizontal menggambarkan
waktu dimana 1mm = 0,04 det , 5 mm = 0,20 detik. Garis vertical menggambarkan voltase
dimana 1 mm = 0,1 mv, 10 mm = 1mv.
Pada praktek sehari hari perekaman di buat dengan kecepatan 25 mm/det. Kalibrasi yang bias
dilakukan adalah 1 mv yang menghasilkan defleksi setiap 10 mm. pada keadaan tertentu
kalibrasi dapat di perbesar yang akan menghasilkan defleksi 20 mm atau di perkecil yang akan
menghasilkan defleksi setinggi 5 mm. hal ini harus di catat pada kertas hasil rekaman EKG,
sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang salah bagi yang membacanya.
KURVA EKG
Kurva EKG menggambarkan proses listrik yang terjadi pada atrium dan ventrikel Proses listrik
ini terdiri dari :
1. Depolarisasi Atrium
2. Repolarisasi Atrium
3. Depolarisasi Ventrikel
4. Repolarisasi ventrikel

Sesuai dengan proses listrik jantung, setiap hantaran pada EKG normal memperlihatkan 3
proses listrik yaitu ; depolarisasi Atrium, depolarisasi Ventrikel dan repolarisasi Ventrikel.
Repolarisasi Atrium umumnya tidak terlihat pada EKG karena disamping intensitasnya kecil
juga repolarisasi Atrium waktunya bersamaan dengan depolarisasi Ventrikel yang mempunyai
intensitas yang jauh lebih besar.

Kurva EKG normal terdiri dari gelombang P,Q,R,S dan T serta kadang-kadang terlihat
gelombang U. selain itu juga ada beberapa interval dan segmen EKG.

Gelombang P

merupakan gambaran proses depolarisasi Atrium

nilai normal :

Lebar 0,12 detik


Tinggi o,3 milivolt
Selalu positif (+) di lead II
Selalu negative (-) di lead aVR

Gelombang QRS

Merupakan gambaran proses depolarisasi Ventrikel

Nilai normal

Lebar 0,06 0,12 detik


Tinggi tergantung sadapan (lead)

Gelombang QRS terdiri dari gelombang Q,R, dan S

Gelombang Q adalah defleksi negative pertama pada gelombang QRS.

Nilai normal gelombang Q adalah :


Lebar < 0,04 detik
Dalamnya < 1/3 R

Gelombang Q adnormal di sebut gelombang Q pathologis.

Gelombang R adalah defleksi positif pertama pada gelombang QRS. Umumnya gelombang
QRS positif di Lead I, lead II, V5 dan V6. Di lead aVR, V1 dan V2 biasanya hanya kecil atau
tidak sama sekali.

Gelombang S adalah defleksi negative setelah gelombang R

Di lead aVR, V1, V2 gelombang S terlihat lebih dalam , di lead V4,V5 dan V6 makin menghilang
atau berkurang dalamnya.

Gelombang T

Merupakan gambaran proses repolarisasi Ventrikel. Umumnya gelombang T positif, di hamper


semua lead kecuali di aVR

Gelombang U

Adalah defleksi positif setelah gelombang T dan sebelum gelombang P berikutnya. Penyebab
imbulnya gelombang U masih belum di ketahui , namun di duga timbul akibat repolarisasi
lambat system konduksi interventrikuler.

Interval PR

Interval PR diukur dari permulaan gelombang P sampai permulaan gelombang QRS. Nilai
normal berkisar antara 0,12-0,20 detik. Ini merupakan waktu yang dibutuhkan untuk
depolarisasi Atrium dan jalanya impuls melalui berkas His sampai permulaan depolarisasi
Ventrikel.

Segmen ST

Segmen ST diukur dari akhir gelombang QRS sampai permulaan gelombang T.segmen ini
normalnya isoelektris, tetapi pada lead prekordial dapat bervariasi dari -0,5 sampai +2
mm.segmen ST yang naik di atas garis isoelektrik di sebut ST elevasi dan yang turun dibawah
garis isoelektris di sebut ST depresi.
CARA MENILAI EKG

1.Tentukan frekwensi ( Heart rate)


2.Tentukan irama jantung (Rhythm)
3.Tentukan sumbu jantung ( axis )
4.Tentukan ada tidaknya tanda-tanda hipertrofi atrium atau ventrikel
5.Tentukan dad tidaknya tanda-tanda akibat gangguan lain efek obat-obatan
Gangguan elektrolit, gangguan fungsi pacu jantung pada pasien terpasang
Pacu jantung.
1. MENETUKAN FREKUENSI JANTUNG
Cara menemtukan frekuensi jantung melalui gambaran EKG dapat dilakukan dengan 3
cara yaitu :

Menentukan frekuensi
jantung
A. 300 = ( jml kotak
besar dlm 60 detik )
Jml kotak besar
antara R R

B. 1500 = (jml kotak


kecil dlm 60 detik )
Jml kotak kecil
2.
antara
MENENTUKAN IRAMA JANTUNG
Dalam menetukan R yang
irama jantung urutan harus
R di tentukan adalah sebagai berikut
- Tentukan apakah denyut jantung berirama teratur atau tidak
- Tentukan berapa frekuensi jantung (HR)
C. Ambil EKG strip
-
-
Tentukan gelombang P ada/tidak dan normal/tidak
Tentukan interval PR normal aau tidak
sepanjang 6 detik,
- Tentukan gelombang QRS normal atau tidak

hitung
Irama Ekg yang normal impuls (sumber jumlah QRS
listrik) berasal dari Nodus SA, maka irama di

dan kalikan 10.


EKG YANG TERATUR.
RUMUS C UNTUK YANG
TIDAK TERATUR.
sebut dengan irama sinus ( Sinus Rhythm ).

Criteria irama sinus adalah :

-. Irama teratur

-. Frekuen

si
jantung (HR) 60 100 X/mnt

- gelombang P normal, setiap gelombang P selalu diikuti gel QRS,T

- interval PR normal ( 0,12 0,20 detik )

- gelombang QRS normal ( 0,06 0,20 detik)

Irama yang tidak mempunyai criteria tersebut di atas disebut ARITMIA atau DISRITMIA.
Aritmia terdiri dari aritmia yang disebabkan oleh terganggunya pembentukan impuls atau
aritmia dapat terjadi juga dikarenakan oleh gangguan penghantaran impuls.

DISRITMIA YANG DISEBABKAN OLEH GANGGUAN PEMBENTUKAN IMPULS TERDIRI


DARI :
1. Nodus SA
- Takikardi sinus (ST)
- Bradikardi sinus (SB)
- Aritmia sinus
- Sinus arrest
2. Atrium
- ekstrasistol atrium (AES/PAB/PAC)
- takikardi arium (PAT)
- Flutter Atrial
- Fibrilasi atrial

3. Nodus AV ; - ekstrasistol junctional (JES/PJB/PJC)


- Irama juncttional
- Akikardi juncional

3. Supraventrikel - Ekstrasistol supravenrikel (SVES)


- Takikardi supraventrikel

4. Ventrikel ; - Ekstrasistol ventrikel (VES/PVC)


- Irama idioventrikuker (IVR)
- Takikardi ventrikel (VT)
- Fibrilasi ventrikel (VF)

DISRITMIA YANG DISEBABKAN OLEH GANGGUAN PENGHANTARAN LISTRIK TERDIRI


DARI

1. Nodus SA ; - Blok sino atrial (SA Blok)

2. Nodus AV ; - Blok AV derajad I ( First degree AV block ),


- Blok AV derajad II (second degree AV Block),
Tipe mobitz I (wenchebach)
Tipe mobitz II
- Blok AV derajad 3 ( total AV blok)

3. Interventrikuker,
- Right bundle branch block
- Left bundle branch block

BEBERAPA CONTOH GAMBARAN IRAMA JANTUNG

TAKIKARDI SINUS (ST)


Kriteria :

- Irama : teratur
- Frekuensi : > 100 150 x/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti QRS,T
- Interval PR : Normal (0,12-0,20 detik)
- Gelombang QRS : Normal (0,6 0,12 detik)

BRADIKARDI SINUS (SB)


Krieria
- Irama : teratur
- Frekuensi : < 60 x/mnt
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal (0,12 0,20 detik)
- Gelombang QRS : Normal (0,06 0,12 detik )

ARITMIA SINUS
Kriteria ;
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi : biasanya anara 60 100 x/mnt
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal (0,12 0,20 detik)
- Gelombang QRS : Normal (0,06-0,12 detik)

SINUS ARREST
Kriteria :
- Terdapat episode hilanganya 1 atau lebih gelombang P,QRS dan
T
- Irama : Teratur, kecuali pada yang hilang
- Frekuensi : Biasanya < 60 x/mnt
- Gelombang P : Normal, setiap gel P diikuti QRS
- Interval PR : Normal (0,12 -0,20)
- Gelombang QRS : Normal (0,06 -0,12)
- Hilangnya gelombang P,QRS,T tidak merupakan kelipatan jarak R
R interval

EKSRASISTOL ATRIAL (PAC)


Kriteria :
- Eksrasistol selalu mengikuti irama dasar
- Irama : Tidak teratur, karena adanya
gelombang yang timbul lebih dini
- Frekuensi (HR) : Tergantung irama dasar
- Gelombang P : Bentuknya berbeda dari gel P
Irama dasarnya
- Interval PR : Biasanya normal, bias juga memendek
- Gelombang QRS : Normal

TAKIKARDI ATRIAL
Krieria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi (HR) : 150 250 x/mnt
- Gelombang P : Sukar dilihat, kadang terlihat tetapi
Kecil
- Interval PR : Tidak dapat dihitung atau memendek
- Gelombang QRS : Normal (0,06 0,12detik)
FLUTER ATRIAL (AFL)
Krieria ;
- Irama : Biasanya teratur
- Frekuensi : berfariasi
- Gelombang P : bentuk seperti gigi gergaji, dimana gelombang
P timbulnya teratur dan dapat dihitung P:QRS
= 2:1,3:1 atau 4:1
- Interval PR : Tidak dapat dihitung
- Gelombang QRS normal

FIBRILASI ATRIAL

Kriteria :

- Irama : Tidak teratur


- Frekuensi : Bervariasi
- Gelombang P : Tidak dapat teridentifikasi
- Interval PR : Tidak dapat dihitung
- Gelombang QRS : Normal
WANDERING ATRIAL PACE MAKER (WAP)

Kriteria :

- Irama : Sedikit tidak teratur


- Frekuensi (HR) : Berfariasi
- Gelombang P : Berubah ubah bentuknya
- Interval PR : Berubah ubah
- Gelombang QRS : Normal

IRAMA JUNCTIONAL (JR)

Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi : 40 60 x/mnt
- Gelombang P : Terbalik di depan, dibelakang
atau menghilang
- Interval PR : Kurang dari 0.12 detik atau tidak ada
- Gelombang QRS : Normal
EKSTRASISTOL JUNGTIONAL (JT)

Kriteria

- Irama : Tidak teratur karena ada gelombang


Yang timbul lebih dini
- Frekuensi (HR) : Tergantung irama dasar
- Gelombang P : Tidak normal, sesuai dengan letak
Asal impuls
- Interval PR : Memendek atau tidak ada
- Gelombang QRS : Normal

TAKHIKARDI JUNCTIONAL (JT)

Kriteria

- Irama : Teratur
- Frekuensi (HR) : > 100 x/mnt
- Gelombang P : Terbalik di depan, belakang atau
Menghilang
- Interval PR : < 0,12 detik aau tidak ada
- Gelombang QRS : Normal
TAKHIKARDI SUPRAVENTRIKEL (SVT)

Kriteria

- Irama : Teratur
- Frekuensi : 150 250 x/mnt
- Gelombang P : Sukar dilihat, kadang dilihat tetapi
Kecil
- Interval PR : Tidak dapat di hitung atau memendek
- Gelombang QRS : Normal (0,06 0,12 detik)

IRAMA IDIOVENTRIKULER (IVR)


EKSTRASISTOL VENTRIKULER

Kriteria :

- Irama : Tidak teratur, karena ada gelombang yang


Timbul dini
- Frekuensi : Tergantung irama dasar
- Gelombang P : tidak ada
- Interval PR : tidak ada
-

Gelombang QRS : >0,12 detik