Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cedera kepala akibat trauma sering kita jumpai di lapangan. Di

indonesia, kejadian cedera kepala setiap tahunnya diperkirakan mencapai

500.000 kasus. Dari jumlah di atas, 10% penderita meninggal sebelum tiba

di rumah sakit dan lebih dari 100.000 penderita menderita berbagai

tingkat kecacatan akibat cedera kepala tersebut. Di negara berkembang

seperti Indonesia, perkembangan ekonomi dan industri memberikan

dampak frekuensi cedera kepala cenderung semakin meningkat1,2.


Distribusi kasus cedera kepala terutama melibatkan kelompok usia

produktif antara 1544 tahun dan lebih didominasi oleh kaum laki-laki

dibandingkan dengan perempuan. Penyebab cedera kepala terbanyak

adalah akibat kecelakaan lalu lintas, disusul dengan jatuh (terutama pada

anak-anak). Cedera kepala berperan pada hampir separuh dari seluruh

kematian akibat trauma. Karena itu, sudah saatnya seluruh fasilitas

kesehatan yang ada, khususnya Rumah Sakit sebagai layanan terdepan

pelayanan kesehatan, dapat melakukan penanganan yang optimal bagi

penderita cedera kepala.


Penanganan yang kurang tepat pada pasien cidera kepala akan

berdampak fatal dan bahkan sampai pada kematian. Dalam pengambilan

diagnose keperawatanpun haruslah tepat sehingga pasien dapat ditolong

dengan cepat dan tepat.

B. Tujuan

1. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan Cidera

Kepala

2. Tujuan Umum

a. Mengetahui definisi cidera kepala

1
b. Mengetahui klasifikasi cidera kepala

c. Mengetahui etiologi cidera kepala

d. Mengetahui manifestasi klinis dari cidera kepala

e. Mengetahui patofisiologi terjadinya cidera kepala

f. Mengetahui pathways dari cidera kepala

g. Mengetahui pemeriksaan penunjang cidera kepala

h. Mengetahui komplikasi pasien dengan cidera kepala

i. Mengetahui penatalaksanaan pasien dengan cidera kepala

j. Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien yang

mengalami cidera kepala

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. KOSEP DASAR

1. Pengertian

Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan

kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar

terjadi akibat kecelakaan lalu lintas .(Mansjoer Arif ,dkk ,2000) .

Menurut Brain Injury Assosiation of America, 2006. Cedera

kepala adalah suatu kerusakan pada kepala bukan bersifat

congenital ataupun degenerative, tetapi disebabkan

serangan/benturan fisik dari luar yang dapat mengurangi atau

mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan

kemampuan kognitif dan fungsi fisik.

Cedera kepala atau trauma kepala adalah gangguan fungsi

normal otak karena trauma baik trauma tumpul maupun trauma

tajam. Defisit neorologis terjadi karena robeknya substansia alba,

iskemia dan pengaruh massa karena hemoragig, serta edema cereblal

disekitar jaringan otak. (B.Batticaca, 2008).

2. Klasifikasi
3
Cedera kepala dapat diklasifikasikan dalam berbagai aspek

yang secara deskripsi dapat dikelompokkan berdasar mekanisme,

morfologi, dan beratnya cedera kepala. (IKABI, 2004).


a. Berdasarkan mekanismenya cedera kepala dikelompokkan

menjadi dua yaitu :


1) Cedera kepala tumpul
Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan

kecelakaan lalu lintas, jatuh/pukulan benda tumpul. Pada

cedera tumpul terjadi akselerasi 7 dan decelerasi yang

menyebabkan otak bergerak didalam rongga kranial dan

melakukan kontak pada protuberas tulang tengkorak.


2) Cedera tembus
Cedera tembus disebabkan oleh luka tembak atau tusukan.

(IKABI, 2004).

b. Berdasarkan morfologi cedera kepala


Cedera kepala menurut (Tandian, 2011). Dapat terjadi diarea

tulang tengkorak yang meliputi :


1) Laserasi kulit kepala
Laserasi kulit kepala sering didapatkan pada pasien

cedera kepala. Kulit kepala/scalp terdiri dari lima lapisan

(dengan akronim SCALP) yaitu skin, connective tissue dan

perikranii. Diantara galea aponeurosis dan periosteum

terdapat jaringan ikat longgar yang memungkinkan kulit

bergerak terhadap tulang. Pada fraktur tulang kepala,

sering terjadi robekan pada lapisan ini. Lapisan ini banyak

mengandung pembuluh darah dan jaringan ikat longgar,

maka perlukaan yang terjadi dapat mengakibatkan

perdarahan yang cukup banyak.


2) Fraktur tulang kepala
Fraktur tulang tengkorak berdasarkan pada garis fraktur

dibagi menjadi :
a) Fraktur linier
Fraktur linier merupakan fraktur dengan bentuk

garis tunggal atau stellata pada tulang tengkorak yang

mengenai seluruh ketebalan tulang kepala. Fraktur

lenier dapat terjadi jika gaya langsung yang bekerja

pada tulang kepala cukup besar tetapi tidak

4
menyebabkan tulang kepala bending dan tidak

terdapat fragmen fraktur yang masuk kedalam rongga

intrakranial.
b) Fraktur diastasis
Fraktur diastasis adalah jenis fraktur yang terjadi

pada sutura tulamg tengkorak yang mengababkan

pelebaran sutura-sutura tulang 8 kepala. Jenis fraktur

ini sering terjadi pada bayi dan balita karena sutura-

sutura belum menyatu dengan erat. Fraktur diastasis

pada usia dewasa sering terjadi pada sutura lambdoid

dan dapat mengakibatkan terjadinya hematum

epidural.

c) Fraktur kominutif
Fraktur kominutif adalah jenis fraktur tulang

kepala yang meiliki lebih dari satu fragmen dalam satu

area fraktur.
d) Fraktur impresi
Fraktur impresi tulang kepala terjadi akibat

benturan dengan tenaga besar yang langsung

mengenai tulang kepala dan pada area yang kecal.

Fraktur impresi pada tulang kepala dapat

menyebabkan penekanan atau laserasi pada

duremater dan jaringan otak, fraktur impresi

dianggap bermakna terjadi, jika tabula eksterna

segmen yang impresi masuk dibawah tabula interna

segmen tulang yang sehat.


e) Fraktur basis kranii
Fraktur basis kranii adalah suatu fraktur linier

yang terjadi pada dasar tulang tengkorak, fraktur ini

seringkali diertai dengan robekan pada durameter

yang merekat erat pada dasar tengkorak. Fraktur basis

kranii berdasarkan letak anatomi di bagi menjadi

fraktur fossa anterior, fraktur fossa media dan fraktur

fossa posterior. Secara anatomi ada perbedaan

struktur di daerah basis kranii dan tulang kalfaria.


5
Durameter daerah basis krani lebih tipis dibandingkan

daerah kalfaria dan durameter daerah basis melekat

lebih erat pada tulang dibandingkan daerah kalfaria.

Sehingga bila terjadi fraktur daerah basis dapat

menyebabkan robekan durameter. Hal ini dapat

menyebabkan kebocoran cairan cerebrospinal yang

menimbulkan resiko terjadinya infeksi selaput otak

(meningitis).
3) Cedera kepala di area intracranial
Menurut (Tobing, 2011) yang diklasifikasikan menjadi

cedera otak fokal dan cedera otak difus Cedera otak fokal

yang meliputi :
a) Perdarahan epidural atau epidural hematoma (EDH)

Epidural hematom (EDH) adalah adanya darah di

ruang epidural yitu ruang potensial antara tabula

interna tulangtengkorak dan durameter. Epidural

hematom dapat menimbulkan penurunan kesadaran

adanya interval lusid selama beberapa jam dan

kemudian terjadi defisit neorologis berupa hemiparesis

kontralateral dan gelatasi pupil itsilateral. Gejala lain

yang ditimbulkan antara lain sakit kepala, muntah,

kejang dan hemiparesis.


b) Perdarahan subdural akut atau subdural hematom

(SDH) akut. Perdarahan subdural akut adalah

terkumpulnya darah di ruang subdural yang terjadi

akut (6-3 hari). Perdarahan ini terjadi akibat robeknya

vena-vena kecil dipermukaan korteks cerebri.

Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh

hemisfir otak. Biasanya kerusakan otak dibawahnya

lebih berat dan 10 prognosisnya jauh lebih buruk

dibanding pada perdarahan epidural.


c) Perdarahan subdural kronik atau SDH kronik

Subdural hematom kronik adalah terkumpulnya darah

diruang subdural lebih dari 3 minggu setelah trauma.

Subdural hematom kronik diawali dari SDH akut

dengan jumlah darah yang sedikit. Darah di ruang


6
subdural akan memicu terjadinya inflamasi sehingga

akan terbentuk bekuan darah atau clot yang bersifat

tamponade. Dalam beberapa hari akan terjadi infasi

fibroblast ke dalam clot dan membentuk noumembran

pada lapisan dalam (korteks) dan lapisan luar

(durameter). Pembentukan neomembran tersebut akan

di ikuti dengan pembentukan kapiler baru dan terjadi

fibrinolitik sehingga terjadi proses degradasi atau

likoefaksi bekuan darah sehingga terakumulasinya

cairan hipertonis yang dilapisi membran semi

permeabel. Jika keadaan ini terjadi maka akan

menarik likuor diluar membran masuk kedalam

membran sehingga cairan subdural bertambah

banyak. Gejala klinis yang dapat ditimbulkan oleh

SDH kronis antara lain sakit kepala, bingung,

kesulitan berbahasa dan gejala yang menyerupai TIA


(transient ischemic attack).disamping itu dapat terjadi

defisit neorologi yang berfariasi seperti kelemahan

otorik dan kejang.


d) Perdarahan intra cerebral atau intracerebral hematom

(ICH). Intra cerebral hematom adalah area perdarahan

yang homogen dan konfluen yang terdapat didalam

parenkim otak. Intra cerebral hematom bukan

disebabkan oleh benturan antara parenkim otak

dengan tulang tengkorak, tetapi disebabkan oleh gaya

akselerasi dan deselerasi akibat trauma yang

menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang terletak

lebih dalam, yaitu di parenkim otak atau pembuluh

darah kortikal dan subkortikal. Gejala klinis yang

ditimbulkan oleh ICH antara lain adanya 11

penurunan kesadaran. Derajat penurunan

kesadarannya dipengaruhi oleh mekanisme dan energi

dari trauma yang dialami.


e) Perdarahan subarahnoit traumatika (SAH). Perdarahan

subarahnoit diakibatkan oleh pecahnya pembuluh


7
darah kortikal baik arteri maupun vena dalam jumlah

tertentu akibat trauma dapat memasuki ruang

subarahnoit dan disebut sebagai perdarahan

subarahnoit (PSA). Luasnya PSA menggambarkan

luasnya kerusakan pembuluh darah, juga

menggambarkan burukna prognosa. PSA yang luas

akan memicu terjadinya vasospasme pembuluh darah

dan menyebabkan iskemia akut luas dengan

manifestasi edema cerebri.


Cedera kepala berdasarkan beratnya cedera, menurut

(Mansjoer, 2000) dapat diklasifikasikan penilaiannya berdasarkan

skor GCS dan dikelompokkan menjadi :


a. Cedera kepala ringan dengan nilai GCS 14 15.
1) Pasien sadar, menuruti perintah tapi disorientasi.
2) Tidak ada kehilangan kesadaran.
3) Tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang.
4) Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing.
5) Pasien dapat menderita laserasi, hematoma kulit kepala
b. Cedera kepala sedang dengan nilai GCS 9 13
Pasien bisa atau tidak bisa menuruti perintah, namun tidak

memberi respon yang sesuai dengan pernyataan yang di berikan.


1) Amnesia paska trauma
2) Muntah
3) Tanda kemungkinan fraktur cranium (tanda Battle, mata

rabun, hemotimpanum, otorea atau rinorea cairan serebro

spinal).
4) Kejang
c. Cedera kepala berat dengan nilai GCS sama atau kurang

dari 8.
1) Penurunan kesadaran sacara progresif
2) Tanda neorologis fokal
3) Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi cranium (

3. Etiologi
Cedera kepala disebabkan oleh :
a. Kecelakaan lalu lintas
b. Jatuh
c. Trauma benda tumpul
d. Kecelakaan kerja
e. Kecelakaan rumah tangga
f. Kecelakaan olahraga
g. Trauma tembak dan pecahan bom (Ginsberg, 2007)

8
4. Manifestasi Klinis
a. Nyeri yang menetap atau setempat.
b. Bengkak pada sekitar fraktur sampai pada fraktur kubah cranial.
c. Fraktur dasar tengkorak: hemorasi dari hidung, faring atau telinga

dan darah terlihat di bawah konjungtiva, memar diatas mastoid

(tanda battle), otoreaserebro spiral ( cairan cerebros piral keluar

dari telinga ), minoreaserebrospiral (les keluar dari hidung).


d. Laserasi atau kontusio otak ditandai oleh cairan spinal berdarah.
e. Penurunan kesadaran.
f. Pusing / berkunang-kunang.Absorbsi cepat les dan penurunan

volume intravaskuler
g. Peningkatan TIK
h. Dilatasi dan fiksasi pupil atau paralysis edkstremita.
i. Peningkatan TD, penurunan frek. Nadi, peningkatan pernafasan

5. Patofisiologi
Menurut Tarwoto (2007) adanya cedera kepala dapat

mengakibatkan kerusakan struktur, misalnya kerusakan pada

paremkim otak, kerusakan pembuluh darah,perdarahan, edema dan

gangguan biokimia otak seperti penurunan adenosis

tripospat,perubahan permeabilitas faskuler. Patofisiologi cedera

kepala dapat di golongkan menjadi 2 yaitu cedera kepala primer dan

cedera kepala sekunder. Cedera kepala primer merupakan suatu

proses biomekanik yang dapat terjadi secara langsung saat kepala

terbentur dan memberi dampak cedera jaringan otak. Cedera kepala

primer adalah kerusakan yang terjadi pada masa akut, yaitu terjadi

segera saat benturan terjadi. Kerusakan primer ini dapat bersifat

( fokal ) local, maupun difus. Kerusakan fokal yaitu kerusakan

jaringan yang terjadi pada bagian tertentu saja dari kepala,

sedangkan bagian relative tidak terganggu. Kerusakan difus yaitu

kerusakan yang sifatnya berupa disfungsi menyeluruh dari otak dan

umumnya bersifat makroskopis.


Cedera kepala sekunder terjadi akibat cedera kepala primer,

misalnya akibat hipoksemia, iskemia dan perdarahan.Perdarahan

cerebral menimbulkan hematoma, misalnya Epidoral Hematom yaitu

adanya darah di ruang Epidural diantara periosteum tengkorak

dengan durameter,subdural hematoma akibat berkumpulnya darah

9
pada ruang antara durameter dengan sub arakhnoit dan intra cerebal

hematom adalah berkumpulnya darah didalam jaringan cerebral.

6. Pathway

(TERLAMPIR)

7. Pemeriksaan Diagnostik dan Hasil


a. CT-Scan Mengidentifikasi adanya hemorragic, ukuran ventrikuler,

infark pada jaringan mati.


b. Foto tengkorak atau cranium Untuk mengetahui adanya fraktur

pada tengkorak.
c. MRI (Magnetic Resonan Imaging) Gunanya sebagai penginderaan

yang mempergunakan gelombang elektomagnetik.


d. Laboratorium Kimia darah: mengetahui ketidakseimbangan

elektrolit.

8. Komplikasi
a. Koma
Penderita tidak sadar dan tidak memberikan respon disebut

koma. Pada situasi ini secara khas berlangsung hanya beberapa

hari atau minggu, setelah 16 masa ini penderita akan terbangun,

sedangkan beberapa kasus lainnya memasuki vegetatife state.

Walaupun demikian penderita masih tidak sadar dan tidak

menyadari lingkungan sekitarnya. Penderita pada vegetatife state

lebih dari satu tahun jarang sembuh.


b. Kejang/Seizure
Penderita yang mengalami cedera kepala akan mengalami

sekurang-kurangnya sekali kejang pada masa minggu pertama

setelah cedera. Meskipun demikian, keadaan ini berkembang

menjadi epilepsy.
c. Infeksi
Fraktur tulang tengkorak atau luka terbuka dapat

merobekkan membran (meningen) sehingga kuman dapat masuk

infeksi meningen ini biasanya berbahaya karena keadaan ini

memiliki potensial untuk menyebar ke system saraf yang lain.


d. Hilangnya kemampuan kognitif

10
Berfikir, akal sehat, penyelesaian masalah, proses informasi

dan memori merupakan kemampuan kognitif. Banyak penderita

dengan cedera kepala mengalami masalah kesadaran.


e. Penyakit Alzheimer dan Parkinson
Pada khasus cedera kepala resiko perkembangan terjadinya

penyakit Alzheimer tinggi dan sedikit terjadi Parkinson. Resiko

akan semakin tinggi tergantung frekuensi dan keparahan cedera.

9. Penatalaksanaan (Medis dan Keperawatan)


Pada cedera kulit kepala, suntikan prokain melalui sub kutan

membuatluka mudah dibersihkan dan diobati. Daerah luka diirigasi

untuk mengeluarkan benda asing dan miminimalkan masuknya

infeksi sebelum laserasi ditutup.


1. Menilai jalan nafas : bersihkan jalan nafas dari debris dan

muntahan;lepaskan gigi palsu,pertahankan tulang servikal segaris

dgn badan dgnmemasang collar cervikal,pasang guedel/mayo bila

dpt ditolerir. Jikacedera orofasial mengganggu jalan nafas,maka

pasien harus diintubasi.


2. Menilai pernafasan : tentukan apakah pasien bernafas

spontan/tidak. Jikatidak beri O2 melalui masker O2. Jika pasien

bernafas spontan selidiki dan atasi cedera dada berat seperti

pneumotoraks tensif, hemopneumotoraks. Pasang oksimeter nadi

untuk menjaga saturasi.


3. O2 minimum 95%. Jika jalan nafas pasien tidak terlindung

bahkan terancan/memperoleh O2 ygadekuat ( Pa O2 >95% dan Pa

CO2<40% mmHg serta saturasi O2 >95%)atau muntah maka

pasien harus diintubasi serta diventilasi oleh ahlianestesi.


4. Menilai sirkulasi : otak yg rusak tdk mentolerir hipotensi.

Hentikan semua perdarahan dengan menekan arterinya.

Perhatikan adanya cedera intraabdomen/dada.Ukur dan catat

frekuensidenyut jantung dan tekanan darah pasang EKG.Pasang

jalur intravena yg besar.Berikan larutan koloidsedangkan larutan

kristaloid menimbulkan eksaserbasi edema.


5. Obati kejang : Kejang konvulsif dpt terjadi setelah cedera kepala

dan harusdiobati mula-mula diberikan diazepam 10mg intravena

perlahan-lahan dandpt diulangi 2x jika masih kejang. Bila tidak

berhasil diberikan fenitoin15mg/kgBB.

11
B. KONSEP PROSES KEPERAWATAN

1. Penkajian
2. Diagnosa Keperawatan Utama

12
3. Intervensi Keperawatan

13
4. Implementasi
Didasarkan pada diagnosa yang muncul baik secara aktual, resiko,

atau potensial. Kemudian dilakukan tindakan keperawatan yang

sesuai berdasarkan NCP.

5. Evaluasi
Disimpulkan berdasarkan pada sejauh mana keberhasilan mencapai

kriteria hasil, sehingga dapat diputuskan apakah intervensi tetap

dilanjutkan, dihentikan, atau diganti jika tindakan yang sebelumnya

tidak berhasil.

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Cidera kepala adalah keadaan dimana struktur lapisan otak dari

lapisan kulit kepala tulang tengkorak, durameter, pembuluh darah serta

otaknya mengalami cidera baik yang trauma tertutup maupun trauma

tembus.
Cidera kepala dibagi menjadi tiga yaitu cidera kepala ringan, sedang

dan berat.
Cidera kepala ringan adalah trauma kepala dengan skala Glasgow

Coma Scale 15 (sadar penuh) tidak ada kehilangan kesadaran, mengeluh

pusing dan nyeri kepala dapat terjadi abrasi, lacerasi, haematoma kepala

dan tidak ada kriteria cidera sedang dan berat.


Sedangkan cidera berat adalah keadaan dimana struktur lapisan

otak mengalami cidera berkaitan dengan edema, hyperemia, hipoksia

dimana pasien tidak dapat mengikuti perintah, coma (GSC < 8) dan tidak

dapat membuka mata.


B. Saran
Diharapkan perawat terutama yang bertugas di unit gawat darurat

kecepatan, ketepatan dalam melakukan tindakan sangatlah penting. Untuk

itu dalam melakukan tindakan hendaknya lebih cermat dan teliti baik

dilihat dari segi pasien ataupun dari segi tempat untuk melakukan

tindakan.

DAFTAR PUSTAKA

15
Oni Ashadi, (2006). Syok Hipovolemik. (online). Http:// www. Medicastore.

Com/med/.detail-pyk. Phd?id. (diakses 12 Desember 2006).

Az Rifki, (2006). Kontrol terhadap syok hipovolemik. (online).Http://www. Kalbefarma.

Com / file/cdk/15 penatalaksanaan. (diakses 12 Desember 2006).

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. (Edisi 8, Vol.3). EGC, Jakarta.

Doenges, E, Marilynn, Mary Frances Moorhause, Alice C. Geissler. 2002. Rencana

Asuhan Keperawatan. (Edisi 3). EGC, Jakarta.

Price, A, Sylvia & Lorraine M. Willson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses

Penyakit. (Edisi 4). EGC, Jakarta

Judith M. Wilkinson. & Nancy R. Ahern,(2012), Diagnosa Keperawatan Nanda

NIC NOC, Jakarta, EGC

16