Anda di halaman 1dari 24

Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Bumi merupakan planet yang memiliki beraneka ragam sumber daya alam. Hal ini sangat
menguntungkan manusia karena dengan banyaknya sumber daya alam yang ada, maka akan
banyak pula material yang dapat digunakan oleh manusia. Dengan banyaknya pilihan material
yang ada, maka manusia dapat memilih material terbaik untuk digunakan dalam memproduksi
sesuatu. Salah satu material tersebut adalah kristal.
Dalam kehidupan sehari-hari, kristal biasanya merujuk pada benda padat yang
menunjukkan bentuk geometri tertentu serta indah dipandang mata. Namun pada kenyataanya
istilah kristal memiliki makna yang sudah ditetapkan dalam ilmu material dan fisika zat
padat.
Memahami struktur kristal sangat penting untuk mengkarakterisasi suatu material yang
memiliki sifat teratur (ordered material). Banyaknya material baru yang dikembangkan
memakai istilah dan definisi yang sering dipakai dalam kristalografi ketika mendeskripsikan
sifat-sifatnya. Salah satu alat yang memakai konsep dasar kristalografi dalam
mengkarakterisasi suatu bahan adalah XRD (X-Ray Diffraction). Sehingga untuk
menginterpretasi hasil analisa dari alat tersebut memerlukan pengetahuan dasar mengenai
kristalografi.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1. Apakah pengertian kristal?
2. Apa sajakah struktur kristal logam murni?
3. Apakah yang disebut dengan indeks miller?

1.3. TUJUAN
Adapaun tujuan dari makalah ini agar pembaca dan penulis sendiri dapat memahami
pengertian kristal yang sudah ditetapkan dalam ilmu material dan fisika zat padat serta
dapat mengerti struktur-struktur dari kristal logam murni. Tidak hanya itu, tujuan lainnya
dalam penulisan makalah ini agar pembaca serta penulis juga dapat mengetahui apa yang
disebut dengan indeks miller.

1
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

BAB II
DASAR TEORI
2.1. Struktur Kristal
Kristal terbentuk dari komposisi atom-atom, ion-ion atau molekulmolekul zat
padat yang memiliki susunan berulang dan jarak yang teratur dalam tiga dimensi. Pada
hubungan lokal yang teratur, suatu kristal harus memiliki rentang yang panjang pada
koordinasi atom-atom atau ion dalam pola tiga dimensi sehingga menghasilkan rentang
yang panjang sebagai karakteristik dari bentuk kristal tersebut.
Ditinjau dari struktur atom penyusunnya, bahan padat dibedakan menjadi tiga
yaitu kristal tunggal (monocrystal), polikristal (polycrystal), dan amorf (Smallman, 2000:
13). Pada kristal tunggal, atom atau penyusunnya mempunyai struktur tetap karena
atom-atom atau molekul-molekul penyusunnya tersusun secara teratur dalam pola
tigadimensi dan pola-pola ini berulang secara periodik dalam rentang yang panjang tak
berhingga.
Polikristal dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari kristal-kristal tunggal yang
memiliki ukuran sangat kecil dan saling menumpuk yang membentuk benda padat.
Struktur amorf menyerupai pola hampir sama dengan kristal, akan tetapi pola susunan
atom-atom, ion-ion atau molekul-molekul yang dimiliki tidak teratur dengan jangka yang
pendek. Amorf terbentuk karena proses pendinginan yang terlalu cepat sehingga atom-atom
tidak dapat dengan tepat menempati lokasi kisinya. Bahan seperti gelas, nonkristalin
ataupun vitrus yaitu memiliki struktur yang identik dengan amorf. Susunan dua-dimensional
simetris dari dua jenis atom yang berbeda antara kristal dan amorf ditunjukan pada
Gambar2.1

Gambar 2.1 (a). Susunan atom kristal, (b). Susunan atom amorf. (Smallman, 1999: 13)

Walaupun tidak mudah untuk menyatakan bagaimana atom tersusun dalam padatan,

2
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

namun ada hal-hal yang diharapkan menjadi faktor penting yang menentukan terbentuknya
polihedra koordinasi susunan atom-atom. Secara ideal, susunan polihedra koordinasi paling
stabil adalah yang memungkinkan terjadinya energi per satuan volume yang minimum.
Keadaan tersebut dicapai jika:
1. Kenetralan listrik terpenuhi,
2. Ikatan kovalen yang diskrit dan terarah terpenuhi,
3. Gaya tolak ion-ion menjadi minimal,
4. Susunan atom serapat mungkin.
Ikatan logam dapat divisualisasikan secara sederhana sebagai sebaran ion positif yang
terikat satu sama lain oleh elektron yang seolah-olah berfungsi sebagai perekat. Ion-ion positif
yang saling tolak-menolak ini tertarik oleh perekat tersebut yang dikenal dengan istilah awan
elektron.
2.2. Sel Satuan
Ketika menerangkan struktur kristal, atom (atau ion) dilukiskan sebagai bola padat
dan model ini disebut dengan model bola keras atom dimana setiap bola akan menyinggung
bola terdekat. Susunan atom pada kristal padat memperlihatkan bahwa sekelompok kecil
atom membentuk pola yang berulang. Karena itu dalam menerangkan struktur kristal, lebih
mudah untuk membagi struktur ke dalam kesatuan kecil yang berulang yang disebut sel
satuan. Sel satuan pada sebagian besar struktur kristal berbentuk jajaran genjang atau prisma
yang mempunyai tiga set permukaan yang sejajar, dimana dalam hal ini sebuah kubus.

Gambar 2.2. Struktur Kristal Face Centre Cubic (FCC)


3
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

Sel satuan bisa kadang-kadang digambarkan dengan model sel satuan bola diperkecil seperti
terlihat pada gambar 2.2

2.3. SISTEM KRISTAL


Jika dilihat dari geometri sel satuan, ditemukan bahwa kristal mempunyai tujuh
kombinasi geometri yang berbeda.
Pada sebagian besar logam, struktur kristal yang dijumpai adalah: kubus pusat sisi, FCC
(face-centered cubic), kubus pusat ruang, BCC (body-centered cubic) dan tumpukan padat
heksagonal, HCP (hexagonal close-packed). Beberapa logam, dan juga non-logam, bisa
mempunyai lebih dari satu struktur kristal, fenomena ini disebut polimorfisme. Jika kondisi
ini dijumpai pada bahan padat elemental maka disebut alotropi
Tabel 2.1. Parameter lattice untuk beberapa jenis struktur Kristal atom logam

Struktur kristal yang umumnya terdapat pada logam murni adalah BCC (body centered
cubic), FCC (face centered cubic) dan HCP ( hexagonal closed packed).Namun untuk logam
4
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

paduan dan senyawa non logam struktur kristalnya sangat komplek.

2.3.1. Kubik Berpusat Badan (body centered cubic/BCC)


Struktur kristal ini mempunyai atom di setiap sudut kubus ditambah sebuah atom
didalam kubus. Contoh logam yang mempunyai struktur kristal BCC antara lain Fe , Cr, Li,
Mo, W, V. Atom pusat dikelilingi oleh 8 atom terdekat dan dikatakan mempunyai bilangan
koordinasi 8. Ada satu atom utuh terletak di tengah sel satuan dan 1/8 atom terdapat pada tiap-
tiap sudut sel satuan, sehingga dalam satu sel satuan BCC terdapat 2 atom.

2.3.2. Kubik Berpuast Muka (face centered cubic /FCC)


Struktur kristal ini termasuk kristal kubus dimana terdapat atom disetiap sudut kubus
ditambah masing-masing satu buah atom di setiap permukaan/sisi kubus. Sifat ini banyak
dijumpai pada logam seperti tembaga, aluminium, perak dan emas. Dan contoh logam yang
mempunyai struktur kristal FCC antara lain Fe , Al, Cu, Ni, Pb. Sel satuan FCC terdiri dari
satu titik lattice pada setiap sudut dan satu titik lattice pada setiap sisi kubus. Setiap atom pada
struktur kristal FCC dikelilingi oleh 12 atom, jadi bilangan koordinasinya adalah 12. Atom-
atom dalam struktur kristal FCC tersusun dalam kondisi yang cukup padat. Ini terbukti
dengan tingginya harga APF dari sel satuan FCC yaitu 74% dibandingkan denag APF sel
satuan BCC. Sel satuan FCC mempunyai 8 x 1/8 (pada sudut kubus) + 6 x ( pada pusat sisi
kubut) = 4 atom per sel satuan.
2.3.3. Hexagonal closed packed (HCP)
Sel satuan jenis ini adalah jenis sel satuan heksagonal. Permukaan atas dan bawah sel satuan
terdiri dari enam atom yang membentuk heksagonal yang teratur dan mengelilingi sebuah
atom ditengah-tengahnya. Bidang lain yang mempunyai tiga atom tambahan pada sel satuan
terletak antara bidang atas dengan bidang bawah. Enam atom ekivalen dipunyai oleh setiap
sel satuan ini. Faktor penumpukan atom untuk sel satuan HCP adalah sama dengan sel satuan
FCC. Logam yang mempunyai struktur kristal ini antara lain: cadmium, magnesium, titanium
dan seng. Dan contoh logam yang mempunyai struktur kristal HCP antara lain Cd, Co, Mg,
Ti, Zn, Zr. Setiap atom pada struktur kristal HCP dikelilingi oleh 12 atom, sama dengan FCC
mempunyai bilanga koordinasinya adalah 12. Atom-atom dalam struktur kristal HCP tersusun
dalam kondisi yang cukup padat. Ini terbukti dengan tingginya harga APF dari sel satuan HCP
yaitu 74% . Sel satuan HCP mempunyai 6 atom per sel satuan, yaitu 2 x 6 x 1/6 ( pada sudut
lapisan bawah dan atas + 2 x ( pada pusat lapisan bawah dan atas) + 3 (lapisan tengah).

5
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

2.4. Kisi Ruang Bravais Dan Susunan Atom Pada Kristal

Kisi ruang (space lattice) adalah susunan titik-titik dalam ruang tiga dimensi di mana
setiap titik memiliki lingkungan yang serupa. Titik dengan lingkungan yang serupa itu disebut
simpul kisi (lattice points). Simpul kisi dapat disusun hanya dalam 14 susunan yang berbeda,
yang disebut kisi-kisi Bravais.
Jika atom-atom dalam kristal membentuk susunan teratur yang berulang maka atom-
atom dalam kristal haruslah tersusun dalam salah satu dari 14 bentuk kisi-kisi tersebut. Perlu
dicatat bahwa setiap simpul kisi bisa ditempati oleh lebih dari satu atom, dan atom atau
kelompok atom yang menempati tiap-tiap simpul kisi haruslah identik dan memiliki orientasi
sama sesuai dengan pengertian simpul kisi.
Karena kristal yang sempurna merupakan susunan atom secara teratur dalam kisi
ruang, maka susunan atom tersebut dapat dinyatakan secara lengkap dengan menyatakan
posisi atom dalam suatu kesatuan yang berulang. Kesatuan yang berulang di dalam kisi ruang
itu disebut sel unit (unit cell). Jika posisi atom dalam padatan dapat dinyatakan dalam sel unit
ini, maka sel unit itu merupakan sel unit struktur kristal. Rusuk dari suatu sel unit dalam
struktur kristal haruslah merupakan translasi kisi, yaitu vektor yang menghubungkan dua
simpul kisi. Jika sel unit disusun bersentuhan antar bidang sisi, mereka akan mengisi ruangan
tanpa meninggalkan ruang kosong dan membentuk kisi ruang. Satu kisi ruang yang sama
mungkin bisa dibangun dari sel unit yang berbeda; akan tetapi yang disebut sel unit dipilih
yang memiliki geometri sederhana dan mengandung hanya sejumlah kecil simpul kisi. Sel
unit dari 14 kisi Bravais diperlihatkan pada Gb.7.1.

6
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

Gambar 2.3 Sel unit dari 14 kisi ruang Bravais.

2.5. Kristal Unsur


Dua keadaan telah pasti dipenuhi oleh unsur-unsur yang membentuk kristal yaitu
kenetralan listrik dan gaya tolak antar ion yang minimal. Dua keadaan lagi yang diperlukan
adalah pemenuhan persyratan ikatan kovalen dan terjadinya susunan yang rapat. Kita akan
melihat terlebih dahulu unsur metal dan gas mulia.
Unsur grup VIII dan Metal. Gas mulia, Ne dengan kofigurasi [He] 2s2 2p6, dan Ar
[Ne] 3s2 3p6, serta Kr [Ar] 3d10 4s2 4p6, memiliki delapan elektron di kulit terluarnya.
Konfigurasi ini sangat mantap. Oleh karena itu mereka tidak membentuk ikatan dengan
sesama atom atau dengan kata lain atom-atom ini merupakan atom bebas. Dalam membentuk
padatan (membeku) atom-atom gas mulia tersusun dalam susunan yang rapat. Konfigurasi
yang mantap dari gas mulia menjadi konfigurasi yang cenderung untuk dicapai oleh unsur-
unsur lain dalam membentuk ikatan atom.
Selain gas mulia, atom metal juga membentuk susunan rapat dalam padatan. Hal
disebabkan karena ikatan metal merupakan ikatan tak berarah. Syarat utama yang harus
dipenuhi dalam membentuk padatan adalah terjadinya susunan yang rapat. Tiga sel satuan
yang paling banyak dijumpai pada metal (dan gas mulia dalam keadaan beku) adalah FCC,
HCP, dan BCC yang diperlihatkan pada Gambar 2.4

FCC BCC HCP


Gambar 2.4. Sel unit FCC, BCC, dan HCP.

Unsur grup VII. Atom Cl [Ne] 3s2 3p5, Br [Ar] 4s2 4p5, J [Kr] 4d10 5s2 5p5, memuat 7
elektron di kulit terluarnya (tingkat energi terluar). Oleh karena itu pada umumnya mereka
berikatan dengan hanya 1 atom dari elemen yang sama membentuk molekul diatomik (Cl2,
Br2, J2); dengan ikatan ini masing-masing atom akan memiliki konfigurasi gas mulia, delapan
elektron di kulit terluar. Molekul-molekul diatomik tersebut berikatan satu dengan yang lain
melalui ikatan sekunder yang lemah, membentuk kristal. Karena ikatan antar molekul yang
7
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

lemah ini maka titik-leleh mereka rendah.


Unsur grup VI. Atom S [Ne] 3s2 3p4, Se [Ar] 3d10 4s2 4p4, Te [Kr] 4d10 5s2 5p4,
memiliki 6 elektron di kulit terluarnya. Setiap akan mengikat dua atom lain untuk memenuhi
konfigurasi gas mulia dengan delapan elektron di kulit terluar masing- masing. Ikatan
semacam ini dapat dipenuhi dengan membentuk molekul rantai spiral atau cincin di mana
setiap atom berikatan dengan dua atom yang lain dengan sudut ikatan tertentu. Molekul rantai
spiral atau cincin ini berikatan satu sama lain dengan ikatan sekunder yang lemah membentuk
kristal. Contoh ikatan telurium yang membentuk spiral diberikan pada Gambar 2.5. Satu
rantaian spiral ikatan Te bergabung dengan spiral Te yang lain membentuk kristal hexagonal.

Gambar 2.5 Rantai spiral Te membentuk Kristal hexagonal

Unsur Grup V. Atom P [Ne] 3s2 3p3, As [Ar] 3d10 4s2 4p3, Sb [Kr] 4d10 5s2 5p3, dan
Bi [Xe] 4f 14 5d10 6s2 6p3 memiliki 5 elektron di kulit terluarnya dan setiap atom akan
berikatan dengan tiga atom lain dengan sudut ikatan tertentu. Atom-atom berikatan
membentuk lapisan bergelombang dan lapisan-lapisan ini berikatan satu dengan lainnya
melalui ikatan yang lemah.

Gambar 2.5. Salah satu la[isan Kristal As

Unsur Grup IV. Pada Grup IV hanya unsur ringan yang membentuk krital dimana
semua ikatan yang menyatukan kristal adalah kovalen. Ikatan ini merupakan hasil dari orbital
hibrida sp3 tetrahedral yang saling terkait dan membentuk kristal kubik pada C (intan), Si,
Ge, Sn. (lihat tentang hibridisasi). Sebagian dari unsusr grup ini dapat pula membentuk

8
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

struktur dengan ikatan kristal tidak kovalen, seperti pada grafit. Atom-atom pada grafit terikat
secara kovalen heksagonal membentuk bidang datar yang terikat dengan bidang yang lain
melalui ikatan yang lemah. Dalam hal ini ikatan kovalen terjadi antar orbital sp2 sedangkan
ikatan antar bidang lebih bersifat ikatan metal. Oleh karena itu grafit lebih mudah
mengalirkan arus listrik dan panas pada arah sejajar dengan bidang ini dibandingkan dengan
arah tegak lurus.

Gambar 2.6. Kristal grait

7.1.3. Kristal Ionik


Walau sangat jarang ditemui kristal yang 100% ionik, namun beberapa kristal
memiliki ikatan ionik yang sangat dominan sehingga dapat disebut sebagai kristal ionik.
Contoh: NaCl, MgO, SiO2, LiF. Dalam kristal ionik, polihedra anion (polihedra koordinasi)
tersusun sedemikian rupa sehingga tercapai kenetralan listrik dan energi ikat per satuan
volume menjadi minimum, seimbang dengan terjadinya gaya tolak antar muatan yang sejenis.
Gaya tolak yang terbesar terjadi antar kation karena muatan listriknya terkonsentrasi dalam
volume yang kecil; oleh karena itu polihedra koordinasi harus tersusun sedemikian rupa
sehingga kation saling berjauhan. Jika polihedra koordinasi berdimensi kecil, di mana anion
mengelilingi kation bermuatan besar, maka polihedra haruslah terhubung sudut ke sudut agar
kation saling berjauhan; hubungan sisi ke sisi sulit diharapkan apalagi hubungan bidang ke
bidang.
Jika bilangan koordinasi besar dan muatan kation kecil, atom-atom bisa tersusun lebih
rapat yang berarti hubungan sisi ke sisi bahkan bidang ke bidang antar polihedron koordinasi
bisa terjadi, tanpa menyebabkan jarak antar kation terlalu dekat. Kation membentuk polihedra
koordinasi kation berbentuk oktahedron, tetrahedron tegak, ataupun tetrahedron terbalik. Pada
9
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

kristal dengan karakter ionik yang sangat dominan, posisi kation yang menempati sebagian
dari ruang sela yang tersedia adalah sedemikian rupa sehingga terjadi jarak antar kation rata-
rata menjadi maksimal. Pada kristal yang tidak murni ionik, ikatan kovalen atau metal
menentukan juga posisi-posisi ion.

7.1.4. Kristal Molekul


Jika dua atau lebih atom terikat dengan ikatan primer, baik berupa ikatan ion ataupun
ikatan kovalen, mereka membentuk molekul yang diskrit. Dalam membentuk padatan kristal,
ikatan yang terjadi antar molekul sub-unit ini berupa ikatan yang kurang kuat. Kristal yang
terbentuk pada situasi ini adalah kristal molekul, yang sangat berbeda dari kristal unsur dan
kristal ionik.
Pada es (H2O), ikatan primernya adalah ikatan kovalen dan ikatan sekunder antar sub-
unit adalah ikatan dipole yang lemah. Atom O [He] 2s2 2p4 memiliki enam elektron di kulit
terluar dan akan mengikat dua atom H 1s1 . Oleh karena itu molekul air terdiri dari satu atom
oksigen dengan dua ikatan kovalen yang dipenuhi oleh dua atom hidrogen dengan sudut
antara dua atom hidrogen adalah 104o. Dalam bentuk kristal, atom-atom hidrogen mengikat
molekul-molekul air dengan ikatan ionik atau ikatan dipole hidrogen.
Kebanyakan polimer terbentuk oleh lebih dari dua macam atom, memiliki ketidakteraturan
yang membuat ia tidak mengkristal. Walaupun demikian ada polimer yang berpenampang
simetris dan mudah mengkristal, seperti polytetrafluoroethylene (Teflon).

7.1.5. Ketidak-Sempurnaan Kristal


Dalam kenyataan, kristal tidaklah selalu merupakan susunan atom-atom identik yang
tersusun secara berulang di seluruh volumenya. Kristal biasanya mengandung ketidak-
sempurnaan, yang kebanyakan terjadi pada kisi-kisi kristalnya. Karena kisi-kisi kristal
merupakan suatu konsep geometris, maka ketidak-sempurnaan kristal juga diklasifikasikan
secara geometris. Kita mengenal ketidak-sempurnaan berdimensi nol (ketidak-sempurnaan
titik), ketidak-sempurnaan berdimensi satu (ketidak-sempurnaan garis), ketidak-sempurnaan
berdimensi dua (ketidak-sempurnaan bidang). Selain itu terjadi pula ketidak-sempurnaan
volume dan juga ketidak-sempurnaan pada struktur elektronik.

7.2. Struktur Non-Kristal


Pada temperatur rendah, energi pada susunan non-kristal tidaklah serendah energi

10
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

pada susunan kristal untuk komposisi material yang sama. Namun demikian struktur non-
kristal dapat dengan mudah terbentuk, dan ia juga stabil. Struktur non-kristal tidaklah seratus
persen tidak teratur. Atom-atom dari padatan ini masih menunjukkan keteraturan susunan
dalam skala sub-unit. Akan tetapi susunan antar sub-unit terjadi secara tak beraturan. Melihat
strukturnya, material non-kristal dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok utama, yaitu:
struktur yang terbangun dari molekul berbentuk rantai panjang; dan struktur yang terbangun
dari jaringan tiga dimensi.
Molekul berbentuk rantai panjang akan mudah saling berbelit dan membentuk
material non-kristal walaupun bagian-bagian tertentu dari rantai panjang ini dapat tersusun
sejajar membentuk susunan teratur. Pada fasa cair mobilitas sangat rendah sehingga sekali
materiaal ini menjadi dingin, strukturnya akan tetap non-kristal, sebab untuk membentuk
struktur kristal diperlukan mobilitas atom yang cukup agar penyusunan atau pengaturan
kembali dapat terjadi.
Jaringan tiga dimensi terbentuk bila sub-unit berupa polihedra koordinasi yang saling
berikatan sudut. Ikatan antar polihedron merupakan ikatan diskrit dengan karakter kovalen
yang dominan dan rantaian ini cukup fleksible sehingga mudah saling berbelit satu sama lain.
Hanya sedikit polihedra dari rantaian ini yang dapat tersusun secara teratur membentuk
kristal; kebanyakan mereka tersusun secara tidak teratur sehingga material yang terbentuk
merupakan material non-kristal.

3.3 DASAR-DASAR KRISTALOGRAFI


Sering sekali perlu mengacu ke bidang dan arah tertentu dalam suatu kisi kristal,
misalnya untuk menyatakan bahwa pengedepan (presipitasi) terjadi pada bidang-bidang
sejajar dengan sisi kubus, atau bahwa suatu logam memiliki bagian paling lunak pada arah
sejajar dengan diagonal kubus. Agar sedehana, pernyataan-prenyataan seperti di atas
diungkapkan dalm notasi yang disebut system indeks Miller. Dalam sistem itu dipilih tiga
sumbu: X, Y, dan Z, yang masing-masing sejajar dengan ketiga rusuk sel kristal. Untuk
menetapkan suatu bidang kristal kita perlu menentukan perpotongannya dengan ketiga sumbu
X, Y, dan Z, kemudian mengambil kebalikannya (reciprocal/invers) dan menyamakan
penyebutya. Bentuk kebalikan perpotongan itu aka menjadi h/n, k/n, l/n, sehigga bila bilangan
bulat hkl ditulis dalam kurung aka menyatakan indeks Miller untuk bidang bersangkutan
(h,k,l).

11
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

Gambar 2.7 Indikasi Miller mengenai bidang dalam kristal kubik, (a) (111), (b) (110), (c) (231)

Dalam system kristal lain misalnya tetragonal atau orthorombus, notasi indeks Miller
juga digunakan, namun dalam kristal heksagonal notasi itu perlu dimodifikasi. Dalam notasi
Miller-Bravais kita mengunakan empat sumbu, tiga di antaranya(X, Y, dan U) saling
o
membentuk sudut 120 sepanjang arah-arah susunan rapat pada bidang basal, sementara
sumbu keempat (Z) adalah sumbuh tegak lurus. Perpotongan sebuah bidang dengan sumbu-
sumbu itu ditentukan seperti cara terdahulu, dan notasi untuk indeks Miller-Bravais adalah
(hkil). Gambar 2.8. memperlihatkan beberapa bidang utama kristal heksagonal. Sekarang
coba jabarkan bidang yang ditampilkan pada Gambar 2.8. (c). Titik-titik potong dengan
1
sumbu-sumbu X, Y, U, dan Z di situ berturut-turut adalah 1, 1, - 2 dan 1, sehingga kebalikan
masing-masing adalah 1, 1, -2, dan 1, jadi indeks Miller-Bravais untuk menyatakan bidang ini
adalah (11 2 1). Dari contoh ini kita dapat melihat bahwa (h + k + i) sama dengan nol. Dan ini
merupakan cirri umum sistem kristal heksagonal Untuk arah-arah kristalografik dalam sistem
heksagonal boleh digunakan tiga atau empat sumbu. Arah d3 yang dijabarkan dengan sistem
tiga sumbu atau sistem Miller mempunyai indeks U, V, W .

Gambar 2.8 Indikasi Miller-Bravais mengenai bidang dalam kristal heksagonal, (a) bidang dasar {100}, (b)
bidang prisma {1010}, dan (c) bidang pyramid {1121

Sistem Miller-Bravais untuk notasi bidang-bidang dan arah-arah kristalografik


memiliki kelebihan disbanding sistem tiga indeks, karena bidang-bidang dan arah-arah yang
sma memiliki indeks-indeks yang sama pula.

4.2 X-Ray Diffraction (XRD)


Difraksi sinar-X pertama kali ditemukan oleh Max von Laue tahun 1913 dan
pengembangannya oleh Bragg, merupakan salah satu metode baku yang penting untuk

12
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

mengkarakterisasi material. Hamburan sinar-X dihasilkan jika suatu elektroda logam


ditembakkan dengan elektron-elektron dengan kecepatan tinggi dalam tabung vakum.
Suatu kristal dapat digunakan untuk mendifraksi berkas sinarX dikarenakan orde dari panjang
gelombang sinar-X hampir sama atau lebih kecil dengan orde jarak antar atom dalam
suatu Kristal. Karakterisasi XRD dapat digunakan untuk menentukan struktur kristal
menggunakan sinar-X. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan jenis struktur,
ukuran butir, konstanta kisi, dan FWHM. Sinar-X merupakan gelombang elektromagnetik
dengan panjang gelombang diantara 400-800 nm. Sinar-X merupakan gelombang
elektromagnetik bertenaga tinggi berkisar antara sekitar 200eV sampai dengan 1 MeV,
terletak antara ultra-ungu dan sinar-. Sinar ini dihasilkan ketika partikel bermuatan listrik,
misalnya elektron, yang bergerak dengan kecepatan tinggi ditumbukkan pada logam
berat. Pada peristiwa ini tenaga kinetic partikel elektron berubah menjadi radiasi
elektromagnetik. Panjang gelombang radiasi yang dipancarkan bergantung pada tenaga
kinetic elektron.
Komponen utama XRD yaitu terdiri dari tabung katoda (tempat terbentuknya sinar-
X), sampel holder dan detektor. XRD memberikan data-data difraksi dan kuantisasi
intensitas difraksi pada sudut-sudut dari suatu bahan.

Gambar 2.8. Difraksi sinar X

Berdasarkan Gambar 4.9 dapat dituliskan suatu persamaan yang disebut dengan hukum
Bragg. Persamaan tersebut adalah :
Beda lintasan () = n
= DE + EC
= 2EC
= 2EC sin ,
EC = d
13
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

= 2 d sin
sehingga beda lintasannya
n = 2 d sin
Dengan merupakan panjang gelombang, d adalah jarak antar bidang, n adalah
bilangan bulat (1,2,3,) yang menyatakan orde berkas yang dihambur, dan adalah sudut
difraksi.Suatu material jika dikenai sinar-X maka intensitas sinar yang ditransmisikan
akan lebih rendah dari intensitas sinar datang, hal ini disebabkan adanya penyerapan oleh
material dan juga penghamburan oleh atom-atom dalam material tersebut. Berkas sinar-
X yang dihamburkan ada yang saling menghilangkan karena fasenya berbeda dan ada
juga yang saling menguatkan karena fasenya yang sama. Berkas sinar-X yang menguatkan
(interferensi konstruktif) dari gelombang yang terhambur merupakan peristiwa difraksi.
SinarX yang mengenai bidang kristal akan terhambur ke segala arah, agar terjadi interferensi
konstruktif antara sinar yang terhambur dan beda jarak lintasnya maka harus memenuhi pola
n.

14
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

BAB II

PEMBAHASAN

3.1. Struktur Kristal (BCC, FCC, HCP)

Struktur kristal dibangun oleh sel satuan (unit cell) yang merupakan sekumpulan
atom yang tersusun secara khusus, secaraperiodik berulang dalam tiga dimensi dalam suatu
kisi kristal (crystal lattice). Geometri kristal dalam ruang dimensi tiga yang merupakan
karakteristik kristal memiliki pola yang berbeda-beda. Suatu kristal yang terdiri dari jutaan
atom dapat dinyatakan dengan ukuran, bentuk, dan susunan sel satuan yang berulang
dengan pola pengulangan yang menjadi ciri khas dari suatu kristal.

Gambar 3.1 Sumbu dan sudut antar sumbu kristal

Sumbu-sumbu a, b, dan c adalah sumbu-sumbu yang dikaitkan dengan parameter


kisi kristal. Untuk , , dan merupakan sudut antara sumbu-sumbu referensi kristal.
Menurut anggapan Bravais (1848), berdasarkan kisi bidang dan kisi ruang kristal
mempunyai 14 kisi dan berdasarkan perbandingan sumbu-sumbu kristal dan hubungan
sudut satu dengan sudut yang lain.
Ada tiga cara pendekatan untuk mempelajari sifat-sifat logam, yaitu :
1. Menghitung sifat-sifat seperti konstanta elastik dan konsuktifitas listrik untuk logam yang
berbeda langsung dengan menggunakan hukum-hukum yang mengatur perilaku elektron-

15
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

elektron pada pada atom-atom logam dengan menggunakan teori kuantum.


2. Menggunakan prinsip parameter termodinamika seperti koefisien aktifitas dan energi bebas
yang sangat efektif untuk mengetahui sifat-sifat kimia logam dan hubungan antar fasa pada
paduan logam.
3. Menggunakan prinsip struktur kristal dan menghubungkan sifat-sifat logam terhadap
karakteristik susunan ataom-atom penyusunnya.

3.1.1. Kubik Berpusat Badan (body centered cubic/BCC)


Gambar 3.2. di bawah menunjukkan sel satua dari BCC dan contoh logam yang
mempunyai struktur kristal BCC antara lain Fe , Cr, Li, Mo, W, V. Dari gambar atomic site
unit cell terlihat bahwa atom pusat dikelilingi oleh 8 atom terdekat dan dikatakan mempunyai
bilangan koordinasi 8. Dari gambar isolated unit cell terlihat bahwa ada satu atom utuh
terletak di tengah sel satuan dan 1/8 atom terdapat pada tiap-tiap sudut sel satuan, sehingga
dalam satu sel satuan BCC terdapat 2 atom. Berdasarkan gambar di bawah dapat ditentukan
jari-jari atomnya dengan menggunakan formula :
3 a = 4R atau a 4R
3
dari gambar hard sphere unit cell dimana sel satuan BCC digambarkan sebagai bola, faktor
penumpukan atom (atomic facking factor) dapat dihitung dengan formula :
Voleme atom - atom dalam sel satuan
Volume sel satuan

dari hasil perhitungan diperoleh harga APF untuk sel satuan BCC adalah 68%, artinya 68%
dari volume sel satuan BCC tersebut ditempati oleh atom-atom dan sisanya sebesar 32%
merupakan tempat kosong. Jadi struktur kristal BCC bukan merupakan struktur yang padat.

16
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

Gambar 3.2 Struktur Kristal Kubik berpusat Badan (BCC)

3.1.2. Kubik Berpuast Muka (face centered cubic /FCC)

Gambar di bawah menunjukkan sel satuan dari FCC dan contoh logam yang
mempunyai struktur kristal FCC antara lain Fe , Al, Cu, Ni, Pb. Dari gambar di bawah terlihat
bahwa sel satuan FCC terdiri dari satu titik lattice pada setiap sudut dan satu titik lattice pada
setiap sisi kubus. Setiap atom pada struktur kristal FCC dikelilingi oleh 12 atom, jadi bilangan
koordinasinya adalah 12. Dari gambar di bawah hard sphere unit cell terlihat bahwa atom-
atom dalam struktur kristal FCC tersusun dalam kondisi yang cukup padat. Ini terbukti
dengan tingginya harga APF dari sel satuan FCC yaitu 74% dibandingkan denag APF sel
satuan BCC. Sel satuan FCC mempunyai 8 x 1/8 (pada sudut kubus) + 6 x ( pada pusat sisi
kubut) = 4 atom per sel satuan. Hubungan antara panjang sisi kubus a, dengan jari-jari R dapat
ditentukan dengan menggunkan formula :

2 a = 4R atau a 4R
2

17
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

Gambar 3.3 Struktur Kristal Kubik berpusat Muka (FCC)

3.1.3. Hexagonal closed packed (HCP)

Gambar di bawah menunjukkan sel satuan dari HCP dan contoh logam yang
mempunyai struktur kristal HCP antara lain Cd, Co, Mg, Ti, Zn, Zr. Setiap atom pada struktur
kristal HCP dikelilingi oleh 12 atom, sama dengan FCC mempunyai bilanga koordinasinya
adalah 12. Dari gambar di bawah hard sphere unit cell terlihat bahwa atom-atom dalam
struktur kristal HCP tersusun dalam kondisi yang cukup padat. Ini terbukti dengan tingginya
harga APF dari sel satuan HCP yaitu 74% . Sel satuan HCP mempunyai 6 atom per sel satuan,
yaitu 2 x 6 x 1/6 ( pada sudut lapisan bawah dan atas + 2 x ( pada pusat lapisan bawah dan
atas) + 3 (lapisan tengah).

Gambar 3.4 Struktur Sel Satuan Hexagonal Close-Packed

3.1.4. Indeks Miller (hkl)

Melalui titik-titik kisi suatu kristal dapat dibentuk suatu bidang datar. Masing-masing bidang
datar memiliki orientasi yang berbeda kecuali pada bidang yang sejajar orientasinya adalah
identic. Untuk menentukan orientasi bidang tersebut digunakan sistem indeks yang
dinamakan indeks Miller (hkl)

18
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

Gambar 3.5. Indeks Miller

3.2. Soal

3.3. Show for the body-centered cubic crystal structure that the unit cell edge length a and the atomic
radius R are related through = 4R/ .

3.4 For the HCP crystal structure, show that the ideal ratio is 1.633.

3.7 Molybdenum has a BCC crystal structure, an atomic radius of 0.1363 nm, and an atomic weight of
95.94 g/mol. Compute and compare its theoretical density with the experimental value found inside
the front cover.

3.20 Below is a unit cell for a hypothetical metal.

(a) To which crystal system does this unit cell belong?

(b) What would this crystal structure be called?

(c) Calculate the density of the material, given that its atomic weight is 141 g/mol.

4.2. Jawaban

3.3 This problem calls for a demonstration of the relationship = 4R/ for BCC. Consider the BCC
unit cell shown below

Using the triangle NOP

= + =

And then for triangle NPQ,

19
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

= +

But = 4R, R being the atomic radius. Also, = . Therefore,

= + or = 4R/

3.4 We are asked to show that the ideal c/a ratio for HCP is 1.633. A sketch of one-third of an HCP
unit cell is shown below.

Consider the tetrahedron labeled as JKLM, which is reconstructed as

The atom at point M is midway between the top and bottom faces of the unit cell--that is = c/2.
And, since atoms at points J, K, and M, all touch one another,

= = 2R =

where R is the atomic radius. Furthermore, from triangle JHM,

= + or =

Now, we can determine the length by consideration of triangle JKL, which is an equilateral
triangle,

Cos 30 = = and =

20
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

Substituting this value for JH in the above expression yields


= + = +

and, solving for c/

= = 1,633

3.7 This problem calls for a computation of the density of molybdenum. According to Equation 3.5
=

For BCC, n = 2 atoms/unit cell, and


=

Thus,
=

= 10.21

The value given inside the front cover is 10.21 .

3.20 (a) The unit cell shown in the problem statement belongs to the tetragonal crystal system
since a = b = 0.35 nm, c = 0.45 nm, and = = = 90.

(b) The crystal structure would be called body-centered tetragonal.

(c) As with BCC, n = 2 atoms/unit cell. Also, for this unit cell
= (4.5 cm)

= 5.51 /unit cell

Thus, the density is equal to

= 8.49

21
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dari pembahasan dalam makalah ini diantaranya
adalah sebagai berikut :
1. Kristal terbentuk dari komposisi atom-atom, ion-ion atau molekulmolekul zat
padat yang memiliki susunan berulang dan jarak yang teratur dalam tiga dimensi.
2. Logam memiliki struktur kristal seperti halnya bahan adalah BCC (body centered
cubic), FCC (face centered cubic) dan HCP ( hexagonal closed packed).
3. Indeks Miller merupakan sebuah titik titik kisi yang dapat dibentuk suatu bidang datar
yang memiliki orientasi berbeda kecuali pada bidang yang sejajar orientasinya adalah
identic
4. X-Ray Diffraction (XRD) dapat digunakan untuk menentukan struktur kristal
menggunakan sinar-X.

4.2.Saran
Adapun kesimpulan yang didapatkan dari pembahasan dalam makalah ini yaitu
mahasiswa tidak hanya menguasai tentang materi mengenai struktur kristal, akan tetapi juga
dapat mengaplikasikannya dan menemukan rekayasa bahan yang paling baik.

22
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

Daftar Pustaka

1. William D. Callister, Jr. 2007. _Materials Science and Engineering An


Introduction(1). Hal 49
2. Mangonon. P.L, 1999 . The Principles of materials Selection for Engineering
Design, Printice-Hall International,Inc. Hal- 29 -81.
3. Smallman R.E. dan R.J. Bishop,1999. Metalurgi Fisik Moderen dan Rekayasa
Material Erlangga. Jakarta.
4. Vlack, Lawrence H. Van. 2001. Elemen-Elemen Ilmu dan Rekayasa Material, Edisi
ke-6. Jakarta. Erlangga.

Online :
5. http://fiqrotul.wordpress.com/2011/12/13/logam-lebih-dalam-mengenai-material-logam/
diakses pada tanggal 20 Maret 2014 pukul 13.04

6. http://www.scribd.com/doc/36253489/PENGERTIAN-SRUKTUR-KRISTAL diakses pada


tanggal 20 Maret 2014 pukul 13.16

7. http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2120326-pengertian-indeks-
miller/#ixzz2QWkjua00 diakses pada tanggal 22 Maret 2014 pukul 17.46

23
Teknik FIsika ITS [DIONISIUS ANDY KRISTANTO (2412100106)]

8. http://teeyara45.wordpress.com/2012/09/25/teori-struktur-kristal-atom-bcc-fcc-hcp/
diakses pada tanggal 22 Maret 2014 pukul 20.09

9. http://budditechnonika.blogspot.com/2010/01/teori-bcc-fcc-hcp.html diakses pada tanggal


20 Maret 2014 20.54

24